Jurnal Akta Trimedika (JAT) Hubungan antara Konsumsi Kopi dan Kejadian Refluks Gastroesofageal (GERD) pada Dewasa Muda Denizar. Tan e-ISSN. Volume 3. Nomor 1, halaman 1066-1078. Januari, 2026 DOI: https://doi. org/10. 25105/aktatrimedika. Diterima 11 November 2025 Revisi 15 November 2025 Disetujui 20 Desember 2025 Terbit Online 10 Januari 2026 HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI KOPI DAN KEJADIAN REFLUKS GASTROESOFAGEAL (GERD) PADA DEWASA MUDA The Relationship between Coffee Consumption and the Incidence of Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) among Young Adults Putri Aliyah Denizar1. Suriyani Tan2* *Penulis Koresponden: suriyani@trisakti. Program Studi Sarjana Kedokteran. Fakultas Kedokteran. Universitas Trisakti. Jakarta. Indonesia Departemen Parasitologi. Fakultas Kedokteran. Universitas Trisakti. Jakarta. Indonesia Abstract Coffee consumption was a common lifestyle habit among young adults, including those belonging to Generation Z, who frequently consumed coffee as part of their daily routines. The caffeine content in coffee was known to increase gastric acid production and potentially trigger symptoms of gastroesophageal reflux, raising concerns regarding its impact on digestive health. This study aimed to analyze the relationship between coffee consumption and reflux incidence among individuals aged 18Ae24 years in North Jakarta. An analytical observational design with a cross-sectional approach was employed, involving 177 respondents selected through consecutive non-random sampling. Data were obtained using structured questionnaires assessing coffee consumption patterns and the GERD-Q instrument to evaluate the presence of reflux symptoms. The collected data were analyzed using Chisquare and KolmogorovAeSmirnov tests to determine the association between coffee intake and reflux The results indicated that most respondents were female . 6%), and 27. 7% were identified as being at risk of reflux. Despite the relatively high prevalence of coffee consumption among this age group, no significant relationship was found between the frequency of coffee consumption, the volume consumed, or the timing of intake and the likelihood of having reflux . > These findings suggest that, within the studied population, coffee intake does not demonstrate a measurable association with reflux occurrence. The study concludes that coffee consumption is not significantly linked to the incidence of gastroesophageal reflux among young adults aged 18Ae24 years in North Jakarta. Keywords: caffeine, coffee consumption, gastroesophageal reflux, young adults Abstrak Konsumsi kopi merupakan kebiasaan gaya hidup yang umum di kalangan dewasa muda, termasuk Generasi Z, yang sering menjadikan kopi sebagai bagian dari rutinitas harian. Kandungan kafein dalam kopi diketahui dapat meningkatkan produksi asam lambung dan berpotensi memicu gejala refluks gastroesofageal, sehingga menimbulkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap kesehatan pencernaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konsumsi kopi dan kejadian refluks pada individu berusia 18Ae24 tahun di Jakarta Utara. Desain penelitian menggunakan pendekatan observasional analitik dengan metode potong lintang, melibatkan 177 responden yang dipilih melalui consecutive non-random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner konsumsi kopi serta instrumen GERD-Q untuk menilai adanya gejala refluks. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Chi-square dan KolmogorovAeSmirnov untuk menentukan hubungan antara konsumsi kopi dan kejadian refluks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan . ,6%), dan 27,7% di antaranya berada pada kategori berisiko refluks. Meskipun prevalensi konsumsi kopi cukup tinggi dalam kelompok usia ini, tidak ditemukan hubungan bermakna antara frekuensi konsumsi kopi, volume kopi yang diminum, maupun waktu konsumsi dengan kemungkinan mengalami refluks . > 0,. Temuan ini menunjukkan bahwa pada populasi yang diteliti, konsumsi kopi tidak memiliki asosiasi yang terukur terhadap kejadian refluks. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsumsi kopi tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian refluks gastroesofageal pada dewasa muda berusia 18Ae24 tahun di Jakarta Utara. Kata kunci: dewasa muda. GERD, kafein, konsumsi kopi Hubungan antara Konsumsi Kopi dan Kejadian Refluks Gastroesofageal (GERD) pada Dewasa Muda Denizar. Tan e-ISSN. Volume 3. Nomor 1, halaman 1066-1078. Januari, 2026 DOI: https://doi. org/10. 25105/aktatrimedika. PENDAHULUAN Persentase penduduk usia produktif dengan rentang usia 15-64 tahun di Indonesia kian hari kian bertambah, hasil sensus penduduk 2020 menyatakan persentase penduduk usia produktif di Indonesia mencapai angka 70,72%. Generasi Z yang lahir pada tahun 1997 hingga tahun 2012 merupakan generasi dengan prevalensi terbanyak di Indonesia, yaitu sebesar 27,94% dengan penduduk golongan remaja dan dewasa muda yang termasuk dalam generasi tersebut. Menurut Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemendagri RI), jumlah penduduk Indonesia pada rentang usia 15-19 tahun sebanyak 21,56 juta jiwa dan pada usia 20-24 tahun sebesar 22,98 juta jiwa pada tahun 2021. Pada masa dewasa muda banyak masalah baru yang timbul akibat dari penyesuaian diri terhadap pola hidup baru, salah satunya adalah masalah yang berkaitan dengan kebiasaan dan gaya Masalah-masalah yang dapat terjadi, seperti: obesitas, diet, aktivitas fisik, stres, tidur, merokok, penggunaan alkohol, dan konsumsi kopi. Konsumsi kopi di Indonesia sudah dilakukan secara turun temurun. Menurut data dari International Coffee Organization (ICO) pada tahun 2018 hingga tahun 2019, jumlah konsumsi kopi domestik di Indonesia dengan kapasitas 60 kg mencapai 4. 800 kantong atau sekitar 50,97% dari produksinya. Kementerian Pertanian menyatakan bahwa konsumsi kopi domestik pada tahun 2020 mencapai 294. 000 ton atau naik 13,9% dibandingkan pada tahun sebelumnya. Kopi sendiri merupakan suatu jenis biji-bijian yang diolah menjadi minuman yang dapat dikonsumsi dengan kandungan kafein di dalamnya. Pada kalangan dewasa muda konsumsi kopi diyakini dapat meningkatkan konsentrasi dan fokus seseorang serta dapat mengatasi rasa kantuk. Dalam penelitian yang dilakukan Raden,. pada tahun 2017 diperoleh data prevalensi sebesar 33% masyarakat di Kota Depok dengan rentang usia 18-26 tahun mengonsumsi kopi. Kafein dalam kopi dapat menimbulkan berbagai macam efek bagi tubuh, baik efek positif maupun efek negatif. Efek positif kafein dalam tubuh adalah dapat mencegah penurunan fungsi otak, meredakan sakit kepala, sebagai antioksidan, dan efektif dalam menghilangkan stres. Namun, kopi juga memiliki efek negatif, seperti peningkatan detak jantung, gangguan pada pencernaan, dan berefek buruk pada gigi, serta bagi janin dan bayi. Kandungan kafein pada kopi membuat terjadinya peningkatan produksi asam lambung yang dapat naik hingga ke esofagus dan merupakan gejala mendasar pada penderita penyakit gastroesophageal reflux disease (GERD). Gastroesophageal reflux disease (GERD) adalah salah satu penyakit yang paling umum dari saluran pencernaan bagian atas akibat dari refluks asam lambung ke esofagus dan mungkin menyebabkan peradangan pada mukosa esofagus dengan gejala yang tidak . Kejadian GERD dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling Hubungan antara Konsumsi Kopi dan Kejadian Refluks Gastroesofageal (GERD) pada Dewasa Muda Denizar. Tan e-ISSN. Volume 3. Nomor 1, halaman 1066-1078. Januari, 2026 DOI: https://doi. org/10. 25105/aktatrimedika. berinteraksi, termasuk gaya hidup seperti merokok, konsumsi alkohol, stres, serta kebiasaan berbaring setelah makan. pola makan yang meliputi konsumsi makanan berlemak, pedas, asam, serta minuman berkafein. dan kondisi obesitas yang meningkatkan tekanan intra-abdomen. Faktor fisiologis seperti kelemahan atau relaksasi tidak normal pada Lower Esophageal Sphincter (LES), hiatal hernia, dan gangguan motilitas esofagus turut berperan, begitu pula penggunaan obat-obatan tertentu dan kondisi kehamilan. Selain itu, usia dan faktor genetik juga dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap GERD. Gejala khas berupa rasa panas yang menjalar di dada disertai rasa nyeri dan perih . dan kondisi refluks post-prandial, ditandai dengan rasa asam dan pahit di rongga mulut . Prevalensi GERD berdasarkan penelitian yang dilakukan di rumah sakit rujukan primer di daerah Jakarta adalah sebesar 49% dengan prevalensi wanita lebih tinggi daripada prevalensi pada pria. Konsumsi kopi dipercaya dapat menstimulasi sekresi asam lambung yang dapat menyebabkan GERD. Penelitian yang dilakukan Ramachandran et al. di India pada mahasiswa sarjana kedokteran menyatakan bahwa sering mengonsumsi minuman berkarbonasi ataupun kopi berhubungan dengan kejadian GERD. Namun, berbeda dengan penelitian yang dilakukan Ali et al. yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara konsumsi kopi dengan gejala GERD. Melihat keadaan ini, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis hubungan antara konsumsi kopi dengan kejadian GERD pada usia 18-24 tahun. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional analitik dengan pendekatan pengambilan data cross-sectional pada bulan bulan September hingga November 2022 dan bertempat di kafe di daerah Jakarta Utara. Kriteria inklusi menetapkan responden dengan IMT normal dan rutin mengonsumsi kopi untuk mengendalikan pengaruh obesitas terhadap GERD, sedangkan eksklusi mencakup teofilin, beta adrenergik, antikolinergik, calcium-channel blocker, dan nitrat. konsumsi minuman beralkohol dan merokok dalam tujuh hari terakhir sebelum wawancara karena faktor tersebut dapat menurunkan tekanan sfingter esofagus bawah dan memicu GERD sehingga berpotensi mengganggu validitas penelitian. Kriteria inklusi dan eksklusi diterapkan dengan cara melakukan wawancara terhadap responden penelitian. Teknik pengambilan sampel adalah dengan consecutive non-random sampling. Kuesioner GERD-Q adalah alat penilaian klinis yang dirancang untuk membantu mengidentifikasi kemungkinan GERD berdasarkan gejala yang dialami pasien dalam tujuh hari terakhir. Disusun secara sistematis, kuesioner ini terdiri dari enam pertanyaan yang DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Hubungan antara Konsumsi Kopi dan Kejadian Refluks Gastroesofageal (GERD) pada Dewasa Muda Denizar. Tan e-ISSN. Volume 3. Nomor 1, halaman 1066-1078. Januari, 2026 DOI: https://doi. org/10. 25105/aktatrimedika. mencakup gejala khas GERD seperti rasa terbakar di dada . , regurgitasi . aiknya isi lambung ke tenggorokan atau mulu. , serta gejala yang dapat menyertai seperti nyeri ulu hati, mual, gangguan tidur akibat gejala tersebut, dan penggunaan obat bebas untuk meredakan keluhan. Setiap pertanyaan dinilai berdasarkan frekuensi kejadian, dengan sistem skoring yang membedakan antara gejala yang mendukung diagnosis GERD dan gejala yang justru mengarah ke diagnosis alternatif. Skor total berkisar antara 0 hingga 18 dengan nilai poin O 7 dengan kemungkinan tidak menderita GERD dan nilai poin 8-18 sebagai beresiko menderita GERD. Kuesioner untuk konsumsi kopi dibangun sendiri oleh peneliti dan dibagi berdasarkan kategori frekuensi konsumsi kopi, volume kopi, jenis kopi, waktu konsumsi kopi, dan jika konsumsi kopi Ou2x/hari. Namun, dalam penelitian ini tidak dilakukan pengumpulan data mengenai waktu konsumsi kopi, seperti apakah kopi diminum dalam keadaan perut kosong, bersamaan dengan makanan ringan . , atau setelah makan. Semua kuesioner yang dipakai telah dilakukan validasi kuesioner dengan nilai CronbachAos Alpha > 0,67 . Penelitian ini sudah mendapat persetujuan dari Komisi Etik Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti dengan no 116/KER-FK/VII/2022. HASIL Total responden pada penelitian ini adalah 177 orang dengan rentang usia 18-24 tahun, dan mayoritas subjek berjenis kelamin perempuan sebanyak 125 responden . ,6%). Frekuensi konsumsi kopi terbanyak adalah 1-2 kali perminggu, yaitu 57 responden . 9%), volume kopi adalah jenis Tall, yaitu 77 responden . 5%), dan waktu konsumsi kopi adalah terbanyak pada siang hari, yaitu 41 responden . 2%). Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin, pola konsumsi kopi dan kemungkinan menderita GERD disajikan pada Tabel 1. DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Hubungan antara Konsumsi Kopi dan Kejadian Refluks Gastroesofageal (GERD) pada Dewasa Muda Denizar. Tan e-ISSN. Volume 3. Nomor 1, halaman 1066-1078. Januari, 2026 DOI: https://doi. org/10. 25105/aktatrimedika. Tabel Distribusi Persentase (%) kemungkinan menderita GERD Variabel Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Frekuensi konsumsi kopi 1-2 kali per minggu 3-6 kali per minggu 1 kali per hari Ou2 kali per hari Volume kopi Short . mL) Tall . mL) Grande . mL) Venti . mL) Waktu konsumsi kopi Pagi hari Siang hari Sore hari Malam hari Kemungkinan menderita GERD Kemungkinan tidak menderita GERD Berisiko menderita GERD Berdasarkan Tabel 2 tentang frekuensi konsumsi kopi, diperoleh bahwa responden yang mengonsumsi kopi 3-6 kali per minggu lebih banyak yang kemungkinan tidak menderita GERD dengan jumlah responden sebesar 47 responden . ,5%). Meskipun kelompok dengan konsumsi kopi 1Ae2 kali/minggu merupakan kelompok terbesar secara jumlah, kelompok dengan konsumsi 3Ae6 kali/minggu ditonjolkan karena menunjukkan pola yang berbeda secara klinis. Pada kelompok ini, proporsi responden yang tidak mengalami GERD lebih tinggi dibandingkan kelompok lain, sehingga memberikan indikasi adanya hubungan protektif yang tidak sesuai dengan ekspektasi awal. Dengan demikian, penekanan bukan semata pada ukuran sampel terbesar, melainkan pada temuan yang paling relevan secara analitis dan potensial untuk menjelaskan variasi risiko. Dari hasil analisis menggunakan uji Chi-square pada responden sesuai dengan frekuensi konsumsi kopi didapatkan p=0,145 berarti tidak terdapat hubungan bermakna antara frekuensi konsumsi kopi dengan kemungkinan menderita GERD. DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Hubungan antara Konsumsi Kopi dan Kejadian Refluks Gastroesofageal (GERD) pada Dewasa Muda Denizar. Tan e-ISSN. Volume 3. Nomor 1, halaman 1066-1078. Januari, 2026 DOI: https://doi. org/10. 25105/aktatrimedika. Tabel 2. Hubungan frekuensi konsumsi kopi dan kemungkinan menderita GERD Variabel Kemungkinan Menderita GERD Tidak Frekuensi konsumsi kopi 1-2x/minggu 3-6x/minggu 1x/hari Ou2x/hari Total Total Pearson Chisquare Asymptotic Significance . 5,400 0,145 Berdasarkan Tabel 3 diperoleh bahwa responden yang mengonsumsi kopi dengan volume cangkir berukuran Tall . mL) lebih banyak yang kemungkinan tidak menderita GERD dengan jumlah responden sebesar 55 responden. Dari hasil analisis menggunakan uji Chi-square pada responden sesuai dengan volume kopi didapatkan p=0,836 berarti tidak terdapat hubungan bermakna antara volume kopi dengan kemungkinan menderita GERD. Tabel 3. Hubungan volume kopi dan kemungkinan menderita GERD Variabel Volume kopi Short . mL) Tall . mL) Grande . mL) Venti . mL) Total Kemungkinan Menderita GERD Tidak Total Pearson Chisquare Asymptotic Significance . 0,856 0,836 Berdasarkan Tabel 4 diperoleh bahwa responden yang mengonsumsi kopi pada malam hari lebih banyak dengan kemungkinan tidak menderita GERD dengan jumlah responden sebesar 48 responden. Dari hasil analisis menggunakan uji Chi-square pada responden sesuai dengan waktu konsumsi kopi didapatkan p=0,467 berarti tidak terdapat hubungan bermakna antara waktu konsumsi kopi dengan kemungkinan menderita GERD. Tabel 4. Hubungan waktu konsumsi kopi dan kemungkinan menderita GERD Variabel Kemungkinan Menderita GERD Tidak Waktu konsumsi Pagi hari Siang hari Sore hari Malam hari Total DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Total Pearson Chisquare Asymptotic Significance . 2,546 0,467 Hubungan antara Konsumsi Kopi dan Kejadian Refluks Gastroesofageal (GERD) pada Dewasa Muda Denizar. Tan e-ISSN. Volume 3. Nomor 1, halaman 1066-1078. Januari, 2026 DOI: https://doi. org/10. 25105/aktatrimedika. DISKUSI Berdasarkan hasil analisa bivariat antara frekuensi konsumsi kopi dan kemungkinan menderita GERD pada usia 18-24 tahun dengan menggunakan uji Chi-square didapatkan pvalue sebesar 0,145 . >0,. yang berarti tidak terdapat hubungan antara frekuensi konsumsi kopi dan kemungkinan menderita GERD. Hasil ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan Ramachandran et al. di India yang menyatakan bahwa frekuensi konsumsi minum minuman berkarbonasi ataupun kopi berhubungan dengan kejadian GERD. Beberapa studi epidemiologis besar menunjukkan bahwa konsumsi kopi tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian GERD maupun reflux esophagitis. Konsentrasi kafein akan maksimal di dalam tubuh setelah enam jam konsumsi dan efek puncak kafein terjadi selama 15- 45 menit setelah konsumsi. Kafein di dalam kopi dapat mempercepat proses terbentuknya asam lambung. Hal ini membuat produksi gas dalam lambung berlebih sehingga sering mengeluhkan sensasi kembung di perut. Konsumsi kopi secara reguler dapat menyebabkan reflux gastroesophageal dan meningkatkan paparan esofagus bagian bawah terhadap asam lambung. Kafein juga dapat mempengaruhi fungsi esofageal, menyebabkan penurunan tekanan lower esophageal sphincter basal dan kontraksi esofagus distal, yang diketahui dapat berkontribusi pada refluks, sehingga isi gaster naik ke esophagus. Kebiasaan mengkonsumsi kopi dalam jangka waktu yang sering dan dalam jumlah yang tidak wajar seperti lebih dari dua gelas dalam sehari ini dapat mempercepat peningkatan asam lambung yang dapat mengiritasi mukosa atau dinding lambung dan jika dibiarkan secara terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama maka akan mengakibatkan peradangan pada lambung. Berdasarkan hasil analisa bivariat antara hubungan frekuensi konsumsi kopi dan kemungkinan menderita GERD, didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara frekuensi konsumsi kopi dengan kemungkinan menderita GERD. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Alika et al. dengan nilai signifikansi p=0,428 yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara frekuensi konsumsi kopi dengan gejala GERD. Penelitian yang dilakukan oleh Nikko et al. juga menyatakan tidak ada hubungan yang signifikan antara konsumsi kopi dengan kejadian GERD. Zat dalam kopi, terutama kafein dapat menyebabkan penurunan tekanan atau hipotensi sfingter esofagus bagian bawah dengan mengendurkan otot-otot LES. Mekanisme kafein dapat meningkatkan sekresi asam lambung diduga karena sifat kafein sebagai alkaloid yang pahit. Rasa pahit ini akan menginduksi pengikatan reseptor pahit di dalam tubuh yaitu Type 2 Bitter Receptor (TAS2R) yang terletak di rongga mulut dan di Aktivasi TAS2R di rongga mulut akan merangsang fase sefalik yang berlebihan sehingga meningkatkan produksi asam lambung, sedangkan pengikatan TAS2R dengan DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Hubungan antara Konsumsi Kopi dan Kejadian Refluks Gastroesofageal (GERD) pada Dewasa Muda Denizar. Tan e-ISSN. Volume 3. Nomor 1, halaman 1066-1078. Januari, 2026 DOI: https://doi. org/10. 25105/aktatrimedika. kafein yang terjadi di lambung akan merangsang sel G enteroendokrin secara berlebihan. Hal ini akan menyebabkan sel-G memproduksi hormon gastrin secara berlebihan yang mengakibatkan sekresi asam lambung berlebih akibat pengikatan gastrin dan sel parietal Efek zat pahit dan peningkatan sekresi asam lambung tidak hanya terjadi pada Ditemukan bahwa zat pahit lainnya termasuk zat pahit pada bir dan procyanidins yang merupakan zat pewarna pada beberapa buah juga dapat menyebabkan peningkatan sekresi asam lambung. Menambahkan susu ke dalam kopi dapat memperlambat penyerapan kafein dan mengurangi iritasi lambung, sehingga berpotensi menurunkan risiko timbulnya gejala GERD dibandingkan konsumsi kopi tanpa susu. Dalam penelitian ini dilakukan analisis hubungan antara volume kopi yang dikonsumsi dengan kemungkinan menderita GERD. Responden dibagi berdasarkan ukuran kopi yang diminum, yaitu Short . mL). Tall . mL). Grande . mL), dan Venti . mL). Dari total 177 responden, sebanyak 128 orang tidak menunjukkan gejala GERD, sementara 49 orang berada dalam kategori berisiko. Jika dilihat lebih rinci, pada kelompok peminum kopi ukuran Short, terdapat 23 responden dengan lima di antaranya berisiko GERD . ekitar 21,7%). Pada kelompok Grande, dari 66 responden, 18 orang berisiko . ekitar 27,3%). Pola ini tidak menunjukkan adanya peningkatan risiko yang konsisten seiring bertambahnya volume kopi. Dengan kata lain, baik konsumsi kopi dalam ukuran kecil maupun besar tidak memperlihatkan perbedaan yang berarti terhadap kemungkinan timbulnya GERD. Hasil uji statistik menggunakan Pearson Chi-square menghasilkan nilai 0,856 dengan signifikansi nilai p sebesar 0,836. Nilai p yang jauh di atas 0,05 menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara volume kopi dan risiko GERD pada populasi yang diteliti. Artinya, dalam konteks penelitian ini, jumlah kopi yang diminum tidak terbukti sebagai faktor penentu utama munculnya GERD. Konsumsi kafein yang berlebihan membuat produksi asam lambung naik serta masalah masalah saluran gastrointestinal disebabkan oleh kelebihan konsumsi kafein, termasuk ulcer . di lambung dan kerongkongan dan memperbesar risiko seseorang terkena penyakit lambung, tukak lambung, dan tukak usus halus. Konsumsi kafein dalam dosis rendah memang terbukti memberikan manfaat. dikatakan bahwa 12,5Ae100 mg kafein dapat memberikan efek positif dan jarang menimbulkan efek samping. Konsumsi kafein secara berlebih (>400 mg/har. dapat menimbulkan beberapa efek negatif, diantaranya adalah timbulnya anxiety atau rasa cemas, rasa lelah saat terbangun dari tidur di pagi hari, gangguan tidur, dan peningkatan asam lambung berlebih. Selain itu, karena efek kafein di dalam kopi dapat menyerap mineral dan vitamin yang diperlukan oleh tubuh, sehingga dapat berdampak negatif bila dikonsumsi dalam dosis tinggi yang membuat peningkatan tekanan darah, detak jantung lebih cepat, melemahkan daya tahan tubuh, dan dapat mempercepat proses terbentuknya asam lambung, yang kemudian akan DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Hubungan antara Konsumsi Kopi dan Kejadian Refluks Gastroesofageal (GERD) pada Dewasa Muda Denizar. Tan e-ISSN. Volume 3. Nomor 1, halaman 1066-1078. Januari, 2026 DOI: https://doi. org/10. 25105/aktatrimedika. mempengaruhi pergerakan otot sfingter, otot sfingter yang lemah, asam lambung dapat naik menuju esofagus dan berpotensi terjadinya GERD. Mengkonsumsi kopi secara berlebihan juga dapat menimbulkan insomnia atau susah tidur karena kandungan kopi dapat menghambat reseptor adenosin, sehingga orang yang mengkonsumsi kopi berlebihan cenderung memiliki kebiasaan tidur yang tidak sehat yang berdampak buruk bagi kesehatan. Hasil penelitian ini sejalan dengan meta-analisis yang dilakukan oleh Kim et ,. yang menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara risiko GERD dan asupan Hal ini bisa dijelaskan bahwa kadar kafein dipengaruhi jenis biji, cara sangrai, dan metode penyeduhan, sementara faktor individu seperti sensitivitas, kondisi LES, pola makan, stres, serta gaya hidup lebih dominan, ditambah kemungkinan adaptasi fisiologis pada responden yang rutin mengonsumsi kopi sehingga efek kafein tidak berbeda signifikan antar volume. Berdasarkan hasil analisa bivariat antara waktu konsumsi kopi dan kemungkinan menderita GERD dengan menggunakan uji Chi-square didapatkan nilai p sebesar 0,467 . <0,. yang berarti tidak terdapat hubungan antara waktu konsumsi kopi dan kemungkinan menderita GERD. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Raaj et al. asupan kopi, teh, dan soda yang lebih banyak dikaitkan dengan peningkatan terjadi GERD. Tidak ada hubungan antara waktu minum kopi dan GERD karena efek kafein lebih dipengaruhi jumlah konsumsi, sensitivitas individu, serta faktor gaya hidup dan kondisi medis, sehingga jam minum kopi tidak menentukan munculnya gejala GERD. Konsumsi kopi nampaknya menjadi tren di kalangan dewasa muda yang merupakan usia produktif untuk memberikan stimulasi, menambah energi dan menghilangkan kantuk saat menjelang ujian. Pengaruh dari padatnya kegiatan di usia produktif mengakibatkan mereka kesulitan mengatur waktu untuk makan dan beristirahat serta cenderung makan sembarangan asalkan perut kenyang, bahkan di malam hari dewasa muda ini cenderung banyak mengonsumsi cemilan dan kopi untuk menemani waktu belajar malam. Seringnya mereka mengonsumsi kopi pada malam hari dengan tujuan untuk membuat mereka tetap terjaga dan tetap terbangun saat mengulang materi kuliah, serta banyak dikonsumsi menjelang masa ujian untuk tujuan belajar. Konsumsi kopi berbeda dengan konsumsi minuman lainnya, karena faktor ketenangan dan kefokusan yang diperoleh tanpa efek samping seperti minuman beralkohol. Kopi adalah minuman yang terdiri dari berbagai jenis bahan dan senyawa kimia. termasuk lemak, karbohidrat, asam amino, asam nabati yang disebut dengan fenol, vitamin 9 dan mineral. Kandungan kafein dalam kopi diketahui merangsang lambung untuk mempercepat proses terbentuknya asam lambung, sehingga produksi gas dalam lambung berlebih dan membuat perut terasa kembung, dan menyebabkan asam lambung mengalami refluks ke atas, serta menciptakan lingkungan yang lebih asam dan apabila lambung sering terpapar akan mengiritasi lambung lebih DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Hubungan antara Konsumsi Kopi dan Kejadian Refluks Gastroesofageal (GERD) pada Dewasa Muda Denizar. Tan e-ISSN. Volume 3. Nomor 1, halaman 1066-1078. Januari, 2026 DOI: https://doi. org/10. 25105/aktatrimedika. Tidak ada hubungan antara waktu minum kopi dan GERD karena efek kafein lebih dipengaruhi jumlah konsumsi, sensitivitas individu, serta faktor gaya hidup dan kondisi medis, sehingga jam minum kopi tidak menentukan munculnya gejala GERD. Beberapa hal tersebut dapat meningkatkan kejadian GERD sehingga menyebabkan timbulnya berbagai gejala, seperti adanya rasa terbakar di dada, nyeri ulu hati, mual, insomnia karena heartburn atau regurgitasi. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa frekuensi, volume, dan waktu konsumsi kopi tidak memiliki hubungan bermakna dengan kemungkinan terjadinya GERD pada dewasa muda usia 18Ae24 tahun. Meskipun kopi dikenal dapat memengaruhi tekanan LES dan meningkatkan sekresi asam lambung, hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa studi sebelumnya yang menyatakan bahwa asupan kopi bukan merupakan faktor penentu utama munculnya GERD. Variasi jenis kopi, kadar kafein, sensitivitas individu, serta faktor gaya hidup dan pola makan tampaknya lebih berperan dalam memengaruhi risiko GERD dibandingkan parameter konsumsi kopi itu sendiri. Dengan demikian, konsumsi kopi pada populasi ini tidak terbukti sebagai faktor risiko langsung terhadap kejadian GERD. KETERBATASAN PENELITIAN Penelitian ini memiliki keterbatasan karena tidak mengukur kadar kafein yang dikonsumsi serta tidak menetapkan durasi pasti jangka waktu konsumsi kopi dan tidak mengeksklusi faktor lain seperti kebiasaan konsumsi makanan pedas dan asam yang dapat memengaruhi kejadian GERD. KONFLIK KEPENTINGAN Penulis tidak memiliki konflik kepentingan saat penyusunan artikel ini. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah terlibat dan membantu secara signifikan dalam pelaksanaan penelitian ini dari awal sampai selesai. DAFTAR PUSTAKA