PERUBAHAN DARI GEREJA MASA LAMPAU MENJADI GEREJA MASA DEPAN TANPA MENIMBULKAN PERPECAHAN Henry Efferin Pendahuluan Dalam pelayanan saya sebagai hamba Tuhan ke banyak gereja di Indonesia, maka ada satu hal yang sama yang dihadapi gereja-gereja tersebut yaitu gesekan yang terjadi antara generasi muda yang menghendaki perubahan dan generasi terdahulu yang mempertahankan status quo. Dan bila hal tersebut terjadi, biasanya hampir dapat dipastikan bahwa generasi yang muda biasanya yang tersingkirkan karena mereka tidak mempunyai pengaruh dan akar yang dalam seperti para pendahulunya. Akibatnya mereka menjadi apatis dan gereja menjadi stagnan. Tuhan mengizinkan saya memasuki tahun yang ke 20 dalam pelayanan penggembalaan di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jemaat Anugerah Bandung. Atas anugerahnya kami bisa melewati masa transisi dengan damai dari gereja tradisional menjadi gereja yang dinamis dan terbuka serta berorientasi pada masa Pengalaman inilah yang akan saya bagikan dalam artikel ini supaya bisa menjadi berkat bagi banyak gereja yang mengalami pergumulan serupa. Jurnal Amanat Agung Tantangan Situasi Kekinian Peter Wagner pernah mengatakan bahwa gereja sekarang mengalami suatu perubahan yang sangat besar dan dapat disbandingkan dengan perubahan pada zaman Reformasi di abad 17. Khususnya kemajuan teknologi informasi membuat kehidupan masyarakat sekarang berubah dengan drastis sekali dibandingkan dengan generasi Dunia sudah menjadi Auglobal villageAy di mana belahan dunia yang satu dengan lainnya begitu saling terkait secara kompleks baik dalam bidang ekonomi, sosial-politik, budaya, termasuk agama. Peta kekristenan pun mengalami pergeseran yang luar biasa karena sentra kekristenan sekarang bukan lagi di barat dan utara (Eropa, bahkan dominasi kekristenan di Amerika pun mulai memuda. , namun beralih ke timur dan selatan (Afrika. Asia. Amerika Lati. Secara AumindsetAy yang sangat memengaruhi gaya hidup manusia sekarang, boleh dikatakan adanya suatu gelombang besar yang disebut AupostmodernismeAy yang menjadi faham yang paling dominan bagi generasi ini. Apa itu Postmodernisme?1 Wikipedia memberikan definisi sebagai berikut: Postmodernist scholars argue that a global, decentralized society such as ours inevitably creates responses/perceptions that are described as postmodern, such as the rejection of what are seen as false, imposed unities of meta-narrative and hegemony. breaking of traditional frames of genre, structure and stylistic and the overthrowing of categories that are the result of logocentricism and other forms of artificially imposed order. Kontributor Wikipedia, "Postmodernism,"Wikipedia. The Free Encyclopedia, http://en. org/w/index. php?title=Postmodernism& oldid=216777553 . iakses 3 Juni 2. Perubahan dari Gereja Masa Lampau Perbandingan antara nilai-nilai tradisional . aman moder. dan Tradisional . aman moder. C Fakta, observasi, logika C Percaya adanya kebenaran C Monoteisme yang Alkitabiah C Pemikiran dan pilihan C Nilai-nilai moral berdasarkan kebenaran mutlak C Pengetahuan yang obyektif C Batasan seksual ditetapkan oleh Allah C Menekankan perspektif C Menekankan doktrin C Gereja: Umat Allah secara universal yang diselamatkan oleh iman, dipenuhi oleh RohNya, hidup oleh Firman dan kekuatan Allah Postmodern C Perasaan, imaginasi, dan C Menolak kebenaran mutlak, membangun kebenaran/ makna sendiri C Pluralisme kepercayaan C Pemikiran kelompok C Relativisme moral yang didasarkan pada perasaan C Pengetahuan yang subjektif C Berhak memilih preferensi C Terbuka pada hal yang mistik dan eksplorasi spiritual C Menekankan AuceritaAy dan pengalaman pribadi C Gereja: senantiasa berkembang dan perlu direvisi dan rekonstruksi untuk menyesuaikan diri dengan budaya Kekristenan di Era Postmodern Dengan nilai-nilai yang kita sebutkan di atas maka karakteristik jemaat di era postmodern juga mengalami perubahan yang drastis, beberapa hal yang menonjol antara lain: Jurnal Amanat Agung Short term commitment. Jemaat sekarang semakin jarang yang punya loyalitas jangka panjang terhadap gereja/ denominasinya. Sektarianisme. Mudahnya terjadi perpecahan yang disebabkan oleh masalah-masalah personal. Konsumerisme. Mentalitas jemaat sekarang seperti konsumen mencari layanan yang lebih menjanjikan dan menarik. Pragmatisme. Pertimbangan-pertimbangan pemilihan bergereja seringkali didasarkan hal yang sangat pragmatis, mis. lokasi, masalah lahan parkir. Komersialisasi. Tidak jarang terjadi gereja yang berorientasi pada uang/keuntungan. Eskapisme. Gereja atau ibadah menjadi semacam sarana pelarian dari pergumulan hidup yang nyata. Gerakan Zaman Baru . Orang sekarang mencoba mengombinasikan nilai-nilai yang dicampuradukkan berdasar-kan keinginan pribadinya. Terkadang orang menyebut dirinya Kristen tetapi dalam hal tertentu kepercayaannya lebih didasar-kan keyakinan lain atau yang dianggap baik oleh pribadinya. Dengan karakteristik jemaat seperti di atas, maka tidak heran bahwa model gereja Karismatik/kontemporer boleh dikata-kan yang paling bisa menampung aspirasi masyarakat postmodern. David Barret membagikan Kekristenan menjadi 6 kelompok besar. Yang terbesar adalah Katolik, yang lain: Anglican. Orthodox. Protestant. Marginal, dan Independen atau Postdenominational. Kelompok yang terakhir ini mengalami pertumbuhan paling cepat, dalam kurun waktu 1970-2000, pertumbuhannya 323% disbanding-kan total gereja-gereja yang lain bertumbuh 65%. Dan hanya kelompok Postdenominational inilah yang pertumbuhannya lebih cepat dari pada Islam. Dikutip oleh C. Peter Wagner. Changing Church (Ventura: Regal Books, 2. , 14-15. Perubahan dari Gereja Masa Lampau Berikut ini data perkembangan gereja-gereja Karismatik sampai dengan tahun 2000, bisa kita lihat bahwa jumlah pengikut Karismatik sudah melampaui gereja tradisional dengan rasio sekitar 55% berbanding 45%. Proyeksi Barret sampai dengan tahun 2025 perbandingannya akan menjadi 68% berbanding 32%. Fenomena Global Gerakan Karismatik Gerakan Karismatik adalah genomena global di dalam kekristenan yang merupakan aliran yang bertumbuh paling pesat dalam abad ke-20. Ref Category Totals in AD Participants in : Countries Denoms 1 Pentecostals 2 Charismatics 3 Neocharismatics 4 Global affliliated Pentecostals/ 236Charismatics/ Neocharismatics THE CONTEXT OF WORLD EVANGELIZATION 5 Global population 6 Christians ( all varieties ) Tabel 1 The Global expansion of the Pentecostal/ Charismatic/Neocharismatic Renewal in the Holy Spirit. AD 1900 -2025 Bagaimana Menyikapi Perubahan dan Memperlakukan Tradisi Alvin Toffler dalam bukunya Future Shock yang terkenal mengatakan:4 To survive, to avert what we have termed Ao future shockAo, the individual must become infinitely more adaptable and capable than ever before. He must search out totally new ways to anchor himself. For all the old routes - religion, nation, community, family or profesion - are now shaking under the hurricane impact of the accelerated Data diambil dari Vinson Synan. The Century of the Holy Spirit (Nashville: Thomas Nelson, 2. , 388-9. Alvin Toeffler. Future Shock (New York: Random House, 1. , 41. Jurnal Amanat Agung Dengan kata lain Toffler sudah memberikan peringatan dini mengenai perlunya kemampuan seseorang untuk beradaptasi dengan perubahan. Dalam konteks gereja sering kali perubahan itu terbentur pada tradisi yang dibakukan dalam suatu gereja. Apa itu tradisi? Malphurs mendefinisikan tradisi sebagai Aunonbiblical ideas and practices that church people attempt to practice, preserve, and pass on to the next generation. Ay5 Perlu dicatat bahwa yang dimak-sudkan AunonbiblicalAy di sini dalam arti netral, jadi belum tentu negatif. Kita seyogianya belajar memahami bahwa konsep terhadap tradisi yang benar seharusnya dibedakan dari kebenaran Alkitab, bahkan seharusnya kebenaran Alkitab ada di atas tradisi. Namun dalam kenyataan tidak jarang terjadi tradisi itu nyaris disamakan dengan kebenaran Alkitab, bahkan bisa terjadi otoritas tradisi di atas Alkitab . ihat contoh-contoh Alkitab: Mrk. 7:1-5. Mat. 12:1-. Jadi sebagai pimpinan gereja perlu membedakan antara yang AuessentialAy dan Aunon-essential. Ay bahkan perlu mempunyai pemahaman tentang Auprimary doctrinesAy dan Ausecondary doctrinesAy (Audoktrin primerAy dan AusekunderA. Misalnya, baptisan adalah doktrin primer, cara baptisan adalah doktrin sekunder. Tuhan akan datang kedua kali adalah doktrin primer, cara datangnya doktrin sekunder . remil, amil, postmi. , dan banyak contoh-contoh yang lain. Berkaitan dengan hal ini, satu kutipan dari Jen Samuels relevan We tend to get into a habit of doing things. Then we begin to believe these things we are doing are right, which we then, consciously or subconsciously feel that others are probably wrong. then since what we are doing is right, it must be biblical. Once we believe it is biblical. Aubrey Malphurs. A New Kind of Church (Grand Rapids: Baker, 2. , 62. Dwight Perry. Gen. Ed. Building Unity in the Church of the New Millennium (Chicago: Moody, 2. , 74. Perubahan dari Gereja Masa Lampau then we would rather fight than switch or accept that some of our church practices may be cultural with no biblical support. Memahami Tentang Hal yang Mutlak dan Relatif dalam Alkitab Ada beberapa prinsip pendekatan Alkitab yang perlu dipahami untuk membedakan antara yang mutlak dan relatif dalam Alkitab: Yang pertama, yaitu pemahaman tentang AudescriptiveAy dan AuprescriptiveAy dalam Alkitab. Ada bagian-bagian dalam Alkitab yang hanya menggambarkan praktek-praktek bergereja pada waktu itu secara deskriptif . Kis. 2:46, 3:. Bagian-bagian yang deskriptif tersebut tidak dimaksudkan untuk diikuti oleh semua gereja-gereja yang lain. Namun ada bagian-bagian yang sifatnya preskriptif atau mandatoris, yaitu yang memang jelas diperintahkan dalam Alkitab . : 1 Kor. 11:23-26. 2 Tim. Kita lihat dalam Alkitab juga ada halhal di mana satu gereja berbeda dengan gereja yang lain dalam praktek-praktek tertentu (Kis. Yang kedua, yaitu pendekatan yang AynegativeAy dan Aypositive. Ay Pendekatan yang negatif mengatakan bahwa kita tidak boleh melakukan hal/praktek yang tidak ada dalam Alkitab. Motonya ialah Auwhere the Bible speaks, we speak. where the Bible is silent, we are Ay Namun masalahnya berkaitan dengan pembuktian secara AupresenceAy dan Auabsence,Ay ternyata Auabsence of proof isnAot proof of Ay Kita tidak bisa mengatakan bahwa karena tidak adanya bukti berarti mendukung pandangan yang mau dikemukakan tersebut. Sedangkan pendekatan yang positif mengatakan bahwa praktek yang tidak ada dan tidak dilarang dalam Alkitab berarti orang percaya bisa mengembangkan kreativitas dengan cukup bebas sesuai juga dengan kebutuhan konteks. Yang ketiga, yaitu pendekatan AupatternAy dan Auprinciple. Ay Pendekatan AupatternAy . menganggap pola yang ada dalam Alkitab bersifat universal itulah yang terbaik. Siapakah kita bisa melakukan yang lebih baik dari pada pola yang ada dalam Alkitab? Padahal dalam Alkitab tidak semua gereja melakukan hal yang sama secara seragam. Jurnal Amanat Agung misalnya masalah wanita dalam ibadah . Kor. 11:1-16. juga dengan Kis. 2:46 dan 20:. Sedangkan pendekatan AuprincipleAy menganggap bahwa yang perlu diikuti oleh gereja sepanjang zaman secara normatif adalah prinsip-prinsipnya bukan polanya . : Mt. 28:19-20. 1 Kor. 11:23-26. Ibr. Membedakan Esensi. Fungsi, dan Bentuk7 Esensi gereja yang utama sebagai umat Allah . eople of Go. (Ul. 26:18-19. 1 Pet. 2:9. Rom. 9:25-26. Mt. 16:13-. Gereja juga disebut sebagai Tubuh Kristus . Kor. 12, organisme bukan Fungsi gereja adalah pengajaran, persekutuan, ibadah, misi/ penginjilan, dan pelayanan. Bentuk/pola gereja adalah dalam tatanan praktik yang dipengaruhi oleh budaya dan tradisi. Jadi yang perlu kita pahami ialah esensi dan fungsi gereja tidak boleh berubah, tetapi bentuk boleh dan seharusnya berubah. Perbedaan antara Fungsi dan Bentuk FUNGSI C Tidak terbatas oleh waktu C Tidak berubah C Tidak bisa kompromi C Berdasarkan Alkitab C Melayani tujuan gereja C Mutlak BENTUK C Ada batasan waktu C Berubah C Bisa kompromi C Berdasarkan budaya/tradisi C Melayani fungsi gereja C Relatif Malphurs. A New Kind, lihat pasal 5, halaman 75-93. Perubahan dari Gereja Masa Lampau Contoh Kongkrit: Fungsi dan Bentuk FUNGSI PENGINJILAN IBADAH BENTUK KKR Door to door PI pribadi Kesaksian hidup Persahabatan Liturgikal Non liturgical . ebih beba. Memakai band Piano Item khusus . yanyi solo, kesaksian, role play, ds. Hambatan-Hambatan Terhadap Perubahan Secara umum ada dua jenis hambatan terhadap perubahan dalam gereja, yaitu yang sifatnya institusional dan pribadi. Hambat-an secara institusional:8 Focus on institution rather than purpose. Ini adalah gejala umum yaitu lebih mementingkan sistem yang ada, jati diri, dan sebagainya, ketimbang tujuan/panggilan utama gereja itu sendiri. Socially self perpetuating. Kecenderungan untuk hanya mela-yani orang-orang yang segolongan atau dalam wilayah pelayan-an yang kita sudah terbiasa di dalamnya. Minority rule. Penguasaan/dominasi dari segelintir orang terten-tu yang menjadi pengambil keputusan dalam gereja tersebut. YesterdayAos innovator. Menjadikan pola pemimpin terdahulu yang berkarisma sebagai sesuatu yang baku sehingga menolak inovasiinovasi baru. Leith Anderson. Dying for Change (Minneapolis: Bethany, 1. Jurnal Amanat Agung Hambatan personal Problem rasa aman dan nyaman. Karena sudah begitu nyaman dan merasa aman dalam kondisi/sistem tertentu maka tidak mau ambil resiko untuk perubahan. Problem relasi. Kecenderungan untuk berpihak atau berkelom-pok dengan orang/pihak yang punya hubungan dekat baik secara relasi maupun kekeluargaan. Problem efektivitas. Terkadang orang sulit berubah karena adanya keraguan terhadap hasil yang akan dicapai. Problem emosi sang pemimpin. Keraguan dari para pemimpin ketika menghadapi penentangan, atau secara jangka pendek belum terlihat hasil yang menggembirakan. Memahami Proses Perubahan Supaya perubahan bisa berjalan dengan AusmoothAy dan lebih mudah bisa diterima, maka pemimpin gereja perlu memahami proses The goal is not to innovate the most. kita harus mengintrospeksi diri bahwa perubahan itu tidak asal timbul dari keinginan untuk berinovasi, tetapi sungguh-sungguh demi perkembangan gereja Tuhan. It is not enough to have the best ideas. Mempunyai ide yang baik saja tidak cukup, tetapi ada banyak aspek lain agar orang bisa menerima perubahan, antara lain. kepemimpinan, hubung-an dengan Aukey personsAy dan sebagainya. Appreciate the implementation dip. Sebagai penggagas peru-bahan perlu menghargai adanya AukegalauanAy dari sebagian orang yang sulit menerima hal yang baru karena mereka memang sudah bertahun-tahun dalam sistem tertentu. Lihat Michael Fullan. Leading in a Culture of Change (San Francisco: Jossey Bass, 2. , 34. Perubahan dari Gereja Masa Lampau Redefine resistance. Karena itu adanya penentangan jangan dilihat sebagai perlawanan secara pribadi, tetapi pendekatannya lebih positif, lebih dirangkul dan diterima sebagai kritik membangun yang mengoreksi dan menyempurnakan gagasan pembaruan itu Reculturing is the name of the game. Ada satu proses yang menarik dalam perubahan yang disebut rekulturisasi. Suatu gereja yang sudah mempunyai sistem baku sebelumnya biasanya menjadi Untuk berubah membentuk budaya baru itu perlu waktu dan monitoring yang terus menerus. Terkadang bisa terjadi ketika motor perubahan itu sudah tidak ada maka gereja tersebut kembali pada budaya yang lama. Never a checklist, always complexity. Ingat perubahan itu tidak pernah sederhana seperti sebuah checklist yang kalau sudah diikuti semua akan terjadi perubahan yang diinginkan. Perubah-an adalah suatu hal yang kompleks menyangkut banyak aspek yang lain. Relationships. Relationships. Relationships. Di atas semuanya itu, perlu terus menerus membangun hubungan baik dengan para pimpinan level pertama, maupun para aktivis level berikutnya. Khususnya sebagai orang baru yang masuk dalam satu ladang cenderung membentuk kelompok dengan orang-orang yang Ausepaham. Ay Hindari pengkubuan, membangun relasi dengan semua pihak adalah kunci keberhasilan dalam perubahan. Pemimpin Gereja Yang Siap Menghadapi Perubahan Menerima kenyatan bahwa perubahan adalah keniscayaan . ncreased mobility. increased diversity. increased complexit. dalam masyarakat yang semakin mobile, beragam dan semakin kompleks maka harus disadari bahwa perubahan itu tidak terhindarkan kalau kita tidak mau tergilas oleh zaman. Sikapi perubahan dengan positif. Artinya kita harus mengintrospeksi diri terhadap adanya keterancaman atau rasa tidak Jurnal Amanat Agung aman yang ditimbulkan oleh perubahan tersebut. Hindari 2 sikap penghambat kemajuan: Complacency, yaitu rasa puas diri dengan yang ada. Status quo, yaitu sikap mempertahankan kemapanan. Terapkan hal baru yang positif dengan bijaksana. Tentunya tidak berarti semua yang baru pasti baik. Namun kita perlu minta hikmat dari Tuhan untuk bisa memilah mana yang bisa diterima, mana yang tidak atau yang bisa diterapkan sebagian dalam konteks gereja kita masing-masing. Fokus berlari menuju panggilan sorgawi. Setelah jelas arah dan sasaran ke depan, maka para pemimpin gereja perlu mengesampingkan hal-hal yang sekunder dan berkonsentrasi pada panggilan Tuhan yang utama. Pemimpin yang Mau Berubah Dalam Dunia yang Berubah Ada empat kesiapan/sikap hati: Melampaui sikap sebagai penjaga warisan institusi. Sebagai seorang pemimpin gereja perlu mempunyai wawasan ke depan dan peka terhadap perubahan dan tantangan zaman. Bahwa panggilan utama kita bukan menjaga tradisi seperti orang Farisi, melainkan mengembangkan pekerjaan Tuhan yang telah dipercayakan kepada kita. Melampaui sikap yang hanya fokus ke dalam gereja. Banyak gereja yang terus berkutat pada permasalahan intern gereja, atau pelayanan mereka hanya berorientasi membesarkan Aukerajaanku. Ay Wawasan ini perlu diperluas menjadi wawasan Aukerajaan Allah. Ay Melampaui sikap sebagai pengendali hirarki gereja. Khususnya bagi para pemimpin gereja yang merasa sudah berjasa harus belajar melepaskan kendali mereka kepada generasi yang lebih muda dan Melampaui sikap eksklusif, batasan-batasan suku, ras, agama. Teladan dari perumpamaan orang Samaria yang baik hati (Lk. Perubahan dari Gereja Masa Lampau 10:25-. seharusnya menjadi pelajaran bagi para pemimpin gereja untuk keluar dari lingkaran eksklusivitasnya. Kata-kata bijak dari Melanchthon bisa menjadi tips yang baik bagi kita semua: AuIn essentials, unity. in differences, liberty. in all things, love. Ay Berbagi Pengalaman di GKI Anugerah C Penulis memulai pelayanan di GKI Anugerah Bandung pada bulan April 1992, pada waktu itu pengunjung rata-rata berjumlah sekitar 700 orang. Latar belakang gereja ini tidak ubahya seperti gereja Mandarin lain yang tradisional dan konservatif. Selama 3 tahun pertama dari tahun 1992-1995 lebih merupakan masa pengenalan dan meletakkan pondasi. Pada masa ini saya lebih banyak membangun sistem dan pola kerja yang lebih solid, khususnya membuat sistem perencanaan jangka panjang yang mempunyai sasaran yang jelas. Setelah itu kami sekeluarga pergi ke Amerika untuk melanjutkan studi doktoral. Banyak hal yang saya pelajari di negeri paman Sam ini. Setelah kembali dari Amerika pada tahun 1998, saya mulai menerapkan perubahan-perubahan untuk mempersiapkan jemaat ini menjadi gereja masa depan. Tentunya tidak semuanya berjalan dengan mulus, ada resistensi khususnya dari pemimpin dan jemaat yang sudah cukup lama dan belum siap menerima perubahan. Namun bersyukur kepada Tuhan dalam kesemuanya itu saya tetap menjaga hubungan pribadi yang cukup baik dengan semua orang/para senior gereja sehingga tidak terjadi pengkubuan antara yang pro dan kontra perubahan. Pada tahun 2000 kami memulai suatu proyek pembangunan total yang cukup besar bagi ukuran jemaat kami. Sekali lagi ada banyak penentangan terhadap proyek ini namun kerinduan jemaat dan Jurnal Amanat Agung dukungan para pemimpin yang lain menjadikan proyek ini berjalan Ini merupakan suatu Aumoment of credibilityAy di mana kepercayaan terhadap kepemimpinan kami menjadi semakin solid. Mulai tahun 2001 saya sebut sebagai masa tuaian. Menyadari PR ke depan yang masih panjang, puji Tuhan sekarang kami menjadi GKI yang dinamis dengan pengunjung rata-rata total A 2000 orang. Perubahan mencakup aspek kepemimpinan yang berorientasi masa depan. pola pembinaan . isalnya, kami termasuk perintis yang menerapkan program 40 DoP10 di Indonesi. struktur yang berdaya guna. ibadah yang inspiratif di mana kami mengembangkan beberapa pola ibadah yang berbeda untuk menampung kebutuhan yang berbeda dari masyarakat sekarang. pengembangan komsel yang sudah dilakukan secara konsisten dalam 10 tahun belakangan ini. atmosfir keterbukaan dan antusiasme. fasilitas Youth Center untuk menampung kreativitas muda-mudi dan remaja, pengembangan misi dan pos. Penutup Saya menyadari sepenuhnya bahwa pelayanan kami masih jauh dari sempurna, namun kerinduan kami agar artikel ini bisa membantu begitu banyak gereja tradisional yang sedang mengalami kebuntuan, sehingga bisa berubah dari Aygereja masa lampau menjadi gereja masa depan tanpa menimbulkan perpecahan dalam gereja. Ay Soli Deo Gloria. DoP merupakan singkatan dari Days of Purpose, suatu program pembinaan jemaat yang disusun berdasarkan panduan dari buku karya Rick Warren. The Purpose Driven Life-red.