e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Jurnal Kebidanan. Keperawatan dan Kesehatan (J-BIKES) 2025. Vol. 4 (No. : Halaman : 103-108 Pencegahan Infeksi Silang Bagi Tenaga Kesehatan Gigi Dan Mulut Di Poli Gigi Cross Infection Prevention for Dental and Oral Health Workers in Dental Clinics Herry Imran1*. Niakurniawati2. Nasri3. Ratna Wilis4. Andriani5 & Cut Ratna Keumala6 1,2,3,4,5,6 Department off dental Nursing. Polytechnic of Health. Aceh. Indonesia Disubmit: 17 Maret 2025. Diproses: 17 Maret 2025. Diaccept: 30 Maret 2025. Dipublish: 31 Maret 2025 *Corresponding *Corresponding author: E-mail: herryimran64@gmail. Abstrak Masa pandemi covid-19 kebutuhan alat pelindung diri (APD) meningkatakan tetapi ketersediaan di rumah sakit/puskesmas tidak mencukupi, tenaga kesehatan menyediakan secara swadaya untuk memenuhi kebutuhan APD. Mengetahui kepatuhan tenaga kesehatan gigi dan mulut dalam pencegahan infeksi silang dengan penggunaan alat pelindung diri (APD) di Poli Gigi. Penelitian bersifat analitik, desain cross-sectional. Sampel berdasarkan pertimbangan . urposive samplin. yaitu terapi gigi 24 orang dan dokter gigi 9 orang, total sampel yaitu 33 orang. Penelitian dilaksanakan di Poli Gigi Puskesmas Kabupaten Pidie, penelitian Tanggal 25 Mei 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan tenaga kesehatan gigi dan mulut kategori tidak patuh berjumlah 60,6%. Penggunaan alat pelindung diri (APD). Tenaga Kesehatan di Poli Gigi tidak lengkap 69,7 %. Kesimpulan kepatuhan tenaga kesehatan gigi dan mulut dalam pencegahan infeksi silang dengan penggunaan alat pelindung diri (APD) di Poli Gigi kategori tidak patuh dan tidak lengkap . Disarankan kepada tenaga Kesehatan gigi dan mulut agar selalu menggunakan alat pelindung diri disetiap waktu dalamn emberikan Kata kunci: Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri. Tenaga Kesehatan. Kesehatan Gigi Abstract During the Covid-19 pandemic, the need for personal protective equipment (PPE) has increased, but availability in hospitals/health centers is insufficient, health workers provide it independently to meet the need for PPE. To determine the compliance of dental and oral health workers in preventing cross-infection by using personal protective equipment (PPE) in the Dental Polyclinic. The study is analytical, crosectional design. The sample based on considerations . urposive samplin. is 24 dental therapists and 9 dentists, the total sample is 33 people. The study was conducted at the Dental Polyclinic of the Pidie Regency Health Center, the study date is May 25, 2022. The results of the study showed that the compliance of dental and oral health workers in the non-compliant category was 60. 6%, the use of personal protective equipment (PPE). Health workers in the Dental Polyclinic are incomplete 69. The conclusion is that the compliance of dental and oral health workers in preventing cross-infection by using personal protective equipment (PPE) in the Dental Polyclinic is in the non-compliant and incomplete It is recommended that dental and oral health workers always use personal protective equipment at all times in providing services. Keywords: Compliance with the Use of Personal Protective Equipment. Health Workers. Dental Health DOI: 10. 51849/j-bikes. v%vi%i. Rekomendasi mensitasi : Imran. Niakurniawati. Nasri. Wilis. Andriani. A & Keumala. CR. Pencegahan Infeksi Silang Bagi Tenaga Kesehatan Gigi Dan Mulut Di Poli Gigi. Jurnal Kebidanan. Keperawatan dan Kesehatan (J-BIKES), 4 . : Halaman. e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes PENDAHULUAN Fasilitas pelayanan kesehatan yakni rumah sakit tidak hanya menjadi tempat pengobatan, namun juga tempat sumber penularan penyakit bagi orang lain (Setiadi. Infeksi Nosokomial. Jakarta: Nuha Medika, 2. Infeksi nosokomial pada pasien rumah sakit di Indonesia, berdasarkan data prevalensi yang dihimpun pada tahun 2011 hingga 2012 di RS Pertamina Jakarta, menunjukkan bahwa 99 dari 897 pasien merupakan kasus infeksi didapat di rumah sakit. Pneumonia ventilator (VAP) 42,43%. BSI 33,33%. Infeksi Saluran Kemih (ISK) 21,21%. Infeksi luka operasi (SSI) 3,03% (Sugiarto, 2. Para ahli sepakat penggunaan alat pelindung diri (APD) bahwa sangat penting untuk melindungi selaput lendir . ulut, hidung, dan mat. dari kontaminasi droplet dan cairan. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Berdasarkan data tim pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) rumah Sardjito Yogyakarta mencatat, pada tahun 2012 terdapat 70 kasus Hospital Acquired Pneumonia (HAP) di antara 778 pasien kelompok risiko HAP . nsiden rate 1,85%), dan total pasien dirawat sebanyak 21. 590 orang . ,32%). Jumlah ini meningkat menjadi 0,34% pada tahun 2013 (Kardi, 2. Penelitian Siburian . menemukan bahwa sebagian besar perawat memiliki sikap negatif terhadap penggunaan APD. Sikap negatif ini bisa menjadi indikasi kesadaran akan pentingnya APD dalam melindungi diri dari risiko infeksi. Penelitian Ningsih . menunjukkan bahwa mayoritas perawat tidak patuh dalam menggunakan APD. Ini adalah masalah serius karena penggunaan APD yang kurang patuh dapat meningkatkan risiko infeksi, tidak hanya bagi perawat itu sendiri, tetapi juga bagi pasien dan rekan kerja mereka. Menurut Gibson . , perilaku perawat dalam penggunaan APD dapat dipengaruhi oleh faktor pribadi, faktor organisasi, dan faktor psikologis. Faktor-faktor ini perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan kepatuhan perawat dalam menggunakan APD. Kepatuhan penggunaan APD dapat berdampak pada penularan penyakit. Upaya perbaikan memberikan pendidikan dan pelatihan yang memadai kepada perawat tentang pentingnya penggunaan APD, cara yang benar untuk menggunakannya, dan dampak positif yang dapat dihasilkan dari kepatuhan dalam menggunakan APD. Menerapkan sistem monitoring dan penegakan kebijakan yang ketat terkait dengan penggunaan APD. Ini dapat melibatkan audit kepatuhan, sanksi untuk pelanggaran, dan penghargaan bagi Menciptakan lingkungan kerja yang mendukung penggunaan APD, termasuk menyediakan APD yang memadai, tempat penyimpanan yang aman, dan dukungan psikologis kepada perawat, mengadakan program membantu perawat mengatasi sikap negatif atau ketidakpercayaan terhadap APD. Dalam kesehatan, kepatuhan dalam penggunaan APD sangat penting untuk melindungi e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting untuk terus melakukan upaya untuk meningkatkan implementasi dan kepatuhan dalam penggunaan APD di lingkungan perawatan kesehatan. Tenaga kesehatan tentunya semakin berisiko terkena penyakit jika tidak mematuhi penggunaan APD. Terjadi karena setiap hari tenaga medis bersentuhan langsung dengan pasien yang menderita berbagai Pandangan Notoatmodjo . bahwa pengetahuan yang baik akan menciptakan perilaku patuh dalam penggunaan alat pelindung diri saat Begitu seseorang memperoleh pengetahuan, sikap maka ia membentuk Selanjutnya diharapkan orang tersebut mengenali dan mempraktikkan sesuatu yang disebut perilaku (Saragih, 2. Pendapat Sri Hayulita . , faktor umur, pengalaman kerja, kesadaran, lingkungan kerja, jam kerja, shift kerja, beban kerja, kepribadian kualitas kerja, komunikasi, manajemen, sikap, motivasi dan pengetahuan yang mempengaruhi penggunaan APD. Berbagai APD yakni : pelindung, celemek, sepatu bot. Petugas tidak menggunakan APD resiko sakit dan kecelakaan kerja (Kementerian Kesehatan. Hasil penelitian Rouhani . menunjukkan bahwa kepatuhan perawat dalam mencegah infeksi di rumah sakit tergolong rendah, dibuktikan dengan tingkat ketidakpatuhan perawat yaitu sebesar 47,5%. Staf medis di tujuh Kabupaten Pidie mengatakan APD seperti masker dan Puskesmas kekurangan pasokan akibat pandemi Covid-19, kebutuhan masker sangat tinggi, sedangkan pengadaan masker untuk pelayanan kesehatan masyarakat seperti puskesmas tidak mencukupi, staf Staf medis yang bertugas di puskesmas harus menyediakan perbekalan sendiri untuk memenuhi kebutuhan APD saat merawat pasien. Merumuskan permasalahan hubungan kepatuhan petugas kesehatan gigi dalam mencegah infeksi silang pada penggunaan alat pelindung diri (APD) di klinik gigi? Tujuan mengetahui hubungan kepatuhan petugas kesehatan gigi dalam mencegah infeksi silang pada penggunaan alat pelindung diri (APD) di praktek umum kedokteran METODE PENELITIAN Jenis penelitian bersifat analitik yaitu mengetahui hubungan kepatuhan tenaga kesehatan gigi dan mulut dalam penggunaan alat pelindung diri (APD) di poli gigi kabupaten Pidie. Populasi dalam penelitian adalah 26 Puskesmas di Kabupaten Pidie jumlah tenaga terapis gigi dan mulut sebanyak 65 orang dan 18 dokter gigi. Penentuan sampel dalam penelitian menggunakan teknik purposive keterbatasan waktu dan tenaga sehingga penelitian hanya diambil diwilayah yang mudah dijangkau peneliti (Penelitian. Dari hasil penelitian terhadap kondisi diatas maka sampel dalam penelitian yaitu terapi gigi berjumlah 24 dan dokter gigi berjumlah 9 orang, jadi e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes total sampelnya yaitu 33 orang di 9 Puskesmas Kabupaten Pidie Puskesmas Kembang Tanjong. Pidie. Gelumpang Baro. Peukan Baro. Simpang Tiga. Gelumpang Tiga. Indra Jaya. Mutiara Timur dan Teupin Raya. Penelitian telah dilaksanakan dari Tanggal 21 sampai dengan 28 Mei Tahun 2022. Pengujian statistik dilakukan dengan menggunakan aplikasi komputer SPSS versi 21, derajat kepercayaan =0,05 dan Uji statistik yang digunakan Chi-square Noa Kepatuhan Patuh Tidak patuh Jumlah Kepatuhan tenaga Kesehatan gigi dan mulut menggunakan alat pelindung diri kategori tidak patuh berjumlah 60,6%. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) Tenaga Kesehatan di Poli Gigi Puskesmas Kabupaten Pidie No Pemakaian APD HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengolahan data berdasarkan yang di peroleh pada saat penelitian akan disajikan dalam bentuk tabel dan narasi sebagai berikut : Lengkap Tidak Lengkap Jumlah Pemakaian (APD) TenagaaKesehatanndi Poli Gigi tidak lengkap 69,7 %. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Kepatuhan menggunakannAlattPelindunggDiri (APD) Tenaga Kesehatan di Poli Gigi Puskesmas Kabupaten Pidie Tabel 3. Hubungan Kepatuhan dengan Pemakaian APD Tenaga Kesehatan di Tenaga Kesehatan di Poli Gigi Puskesmas Kabupaten Pidie Pemakaian APD Kepatuhan Patuh Tidak patuh Lengkap (%) Tidak Lengkap Dengan tidak patuh penggunaan alat pelindung diri menunjukkan bahwa tingginya tenaga Kesehatan di poli gigi yang tidak lengkap dalam menggunakan alat pelindung diri berjumlah . %). Penulis berpendapat bahwa dengan tidak mematuhi ketetapan dalam SOP tentang penggunaan alat pelindung diri, maka penggunaan alat pelindung diri saat melakukan tindakan penanganan pasien, (%) Total (%) p Value 0,001 hal ini disebabkan karena malas menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) secara lengkap sebagaimana telah ditetapkan dalam Standard Operating Procedure (SOP), berdasarkan hasil pengamatan, masih banyak tenaga kesehatan yang ketika melakukan penanganan pasien belum atau tidak menggunakan alat pelindung diri secara lengkap sesuai ketetapan dalam SOP di Poli Gigi Puskesmas Kabupaten Pidie. Secara deskriptif e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes menunjukkan bahwa 60,6% responden tidak patuh pada SOP yang ditetapkan hal ini disebabkan karena responden belum semuanya mengerti fungsi dan manfaat dari penggunaan, serta bahaya jika mengabaikan APD (Notoatmodjo, 2. Hal tersebut membuktikan bahwa dengan tidak patuhnya terhadap SOP maka berdampak terhadap pemakaian APD diketahui 69,7% tenaga kesehatan gigi mengabaikan pemakaian APD secara (Edyati Luluq, 2. Penulis berpendapat bahwa dengan rendahnya kesadaran terhadap prosedur yang telah ditetapkan maka tenaga kesehatan tidak semuanya menggunakan alat pelindung diri secara lengkap. Penggunaan APD masih belum tepat sehingga tidak berfungsi dengan baik, dan handscone digunakan secara bergantian saat penanganan pasien, masker yang digunakan sebagian tenaga k esehatan hanya menutupi mulut bahkan masih ada tenaga kesehatan yang menggunakan masker dengan menggantung di lehernya dan tidak menutupi mulut dan hidung, masih ditemukan ada beberapa tenaga kesehatan yang menggunakan handscone untuk penanganan pasien lebih dari satu (Annisa RA, 2. Hasil penelitian didukung oleh penelitian Muchlis . berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai p-value sebesar 0,043 yang berarti nilai tersebut < 0,05. Oleh karena itu hipotesis (H. diterima, artinya terdapat hubungan penggunaan tenaga medis. Alat pelindung diri (APD) di rumah sakit umum Meuraxa Kota Banda Aceh (Muchlis, 2. Menurut pendapat Yulita et al. , . Alat pelindung diri (APD) penting bagi perawat dalam menjalankan tugasnya, alat pelindung diri yang digunakan petugas dapat dua fungsi yaitu untuk kepentingan perawat, dan sekaligus waktunya untuk kepentingan petugas itu sendiri (Putri, 2. Hal ini didukung dengan pernyataan Kusmiyati . bahwa factor yang mempengaruhi rendahnya perilaku perawat dalam adalah pengetahuan, sikap, ketersediaan alat pelindung diri dan motivasi. Kegagalan mengikuti prosedur kehatihatian secara umum karena dianggap Menurut Riyanto . Kepatuhan penggunaan APD di rumah sakit dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain komunikasi, keterbatasan peralatan, pengawasan dan sikap petugas medis itu sendiri. Pendapat Riyadi . , kepatuhan suatu bentuk perilaku yang dipengaruhi oleh factor internal dann eksternal. faktor eksternal. Penggunaan alat pelindung diri (APD) merupakan factor lingkungann karena APD merupakan salah satu alat untuk melindungi pekerja guna mengurangi resiko terjadinya kecelakaan kerja. Oleh karena itu, kepatuhan penggunaan alat pelindung diri ialah perilaku aman khusus bagi subjek dilingkungan kerja. Kepatuhan penggunaan alat pelindung diri memegang peranan penting dalam menciptakan keselamatan ditempat kerja. (Riadi, 2. SIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan tenaga Kesehatan gigi dan mulut kategori tidak patuh berjumlah 60,6% dan Penggunaan alat pelindung diri (APD)Tenaga Kesehatan di Poli Gigi tidak lengkap 69,7 %. DAFTAR PUSTAKA