TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 123-137 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals Menghidupkan Nilai Sosial dalam Pembelajaran IPAS: Peran Guru dan Dinamika Kelas di SD Negeri Mantren Agoes Hendriyanto1*. Halima Wahyu Pratama2. Salsa Bila NabilaA 1STKIP PGRI Pacitan *Email Korespondensi: rafid. musyffa@gmail. Info Artikel Abstrak Diterima : 19 Mei 2025 Direvisi : 13 Juni 2025 Diterbitkan : 29 Juni 2025 Kata Kunci: Pembelajaran. Nilai Sosial. SDN 1 Mantren Cara merujuk artikel Hendrianto. Pratama. H W & Nabila. S B. Menghidupkan Nilai Sosial Dalam Pembelajaran IPS: Peran Guru Dan Dinamika Kelas Di SD Negeri 1 Mantren. TaAodiban: Journal of Islamic Education, 5 . , h. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi nilai-nilai sosial dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS). Melalui pendekatan kualitatif, sumber data berjumlah 6 guru, 1 tenaga pendidik dan 30 siswa. Pembelajaran IPAS di SD Negeri Mantren menunjukkan kesiapan guru yang cukup baik dalam merancang dan menyampaikan materi, namun terkendala pada ketersediaan media pembelajaran yang Proses pembelajaran kurang variatif dan belum sepenuhnya mampu menjangkau karakter siswa yang beragam. Pembelajaran IPAS di SD Negeri Mantren telah berhasil menanamkan nilai-nilai sosial seperti kerjasama, toleransi, tanggung jawab, dan empati. Guru menunjukkan kesiapan dengan penyusunan modul dan penguasaan materi meskipun terkendala sarana. Umpan balik positif mendorong antusiasme siswa dalam diskusi. Kegiatan kelompok turut meningkatkan kesadaran sosial dan penerapan nilai dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pendekatan individual dan dukungan emosional masih dibutuhkan untuk siswa yang kurang percaya diri. Pembelajaran IPAS mampu membentuk karakter sosial siswa melalui pengaitan materi dengan konteks nyata yang relevan dengan kehidupan mereka. Temuan memberikan implikasi pengembangan praktik pembelajaran yang lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan siswa. Abstract This study aims to analyze the implementation of social values in the teaching of Natural and Social Sciences (IPAS) at SD Negeri 1 Mantren. Using a qualitative approach, the data sources consist of 6 teachers, 1 educator, and 30 students. The IPAS learning process at SD Negeri 1 Mantren shows that teachers are quite well-prepared in designing and delivering material, although hindered by the limited availability of adequate learning media. The learning process remains less varied and has not fully accommodated the diverse characteristics of students. IPAS learning at SD Negeri 1 Mantren has successfully instilled social values such as cooperation, tolerance, responsibility, and empathy. Teachers demonstrate preparedness through the development of lesson plans and mastery of the material, despite the limitations in facilities. Positive feedback encourages student enthusiasm during discussions. Group activities contribute to increased social awareness and the application of values in everyday life. However, individual approaches and emotional support are still needed for students who lack confidence. Overall, the IPAS learning process is capable of shaping studentsAo social character by linking the material to real-life contexts relevant to them. These findings imply the need for developing more effective and student-centered teaching practices. Keywords: Learning. Social Values. SDN 1 Mantren This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam membentuk karakter dan kecerdasan generasi penerus bangsa. Dalam konteks ini, pembelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosia. memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai sosial, seperti toleransi, kerja sama, empati, dan tanggung jawab. Nilai-nilai ini menjadi landasan dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan beradab. Namun, tantangan yang dihadapi dalam pembelajaran IPAS adalah bagaimana nilainilai diimplementasikan secara efektif dalam proses belajar mengajar, sehingga tidak hanya menjadi teori, tetapi juga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh peserta didik. Guru memiliki peran strategis sebagai fasilitator dan teladan dalam proses pembelajaran IPAS. Peran guru tidak hanya terbatas pada transfer pengetahuan, tetapi juga mencakup upaya membangun karakter siswa melalui pengelolaan kelas yang efektif dan pendekatan pembelajaran yang relevan. Di sinilah guru dituntut untuk mampu merancang metode pembelajaran yang kreatif dan interaktif, yang dapat memotivasi mengaplikasikan nilai-nilai sosial dalam lingkungan sekolah maupun masyarakat. Pendidikan dasar memiliki peran strategis dalam membangun fondasi karakter, pengetahuan, dan keterampilan siswa (Purba et al. , 2. Pada tahap ini, sekitarnya, memahami nilai-nilai sosial dan mengembangkan keterampilan dasar yang diperlukan untuk kehidupan bermasyarakat. SD Negeri Mantren, sebagai salah satu lembaga pendidikan dasar di Kabupaten Pacitan, berkomitmen untuk mendukung pengembangan holistik siswa melalui penerapan Kurikulum Merdeka. SD Negeri 1 Mantren terletak di Jl. Pacitan-Solo. Krajan Kulon. Mantren. Kec. Punung. Kabupaten Pacitan. Jawa Timur Profil sekolah SD Negeri Mantren tenaga guru laki-laki ada 2, tenaga guru Volume 6 No 1 Juli-Desember 2025 perempuan berjumlah 4, sedangkan tenaga pendidikan 1 orang. Ruang kelas ada 6 ruangan, ruang guru 1 ruang, 1 ruang laboratorium, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang ibadah, dan 3 ruang toilet. Peserta didik lakilaki berjumlah 43 dan perempuan berjumlah 28 total terdapat 71 peserta didik. Pembelajaran di SD Negeri 1 Mantren menunjukkan variasi pendekatan yang disesuaikan dengan jenjang kelas. Kelas 4, kelompok kecil untuk mendorong siswa lebih aktif. Tantangan utama di kelas ini adalah menjaga fokus siswa selama proses Kelas 5, pembelajaran lebih bervariasi dengan pemanfaatan media visual seperti peta dan globe, yang membantu siswa memahami konsep-konsep abstrak. Sedangkan di kelas 6, fokus pembelajaran diarahkan pada persiapan ujian akhir dengan struktur yang lebih terorganisasi. Guru di SD Negeri Mantren menunjukkan kesiapan yang cukup baik dalam melaksanakan pembelajaran. Mereka telah menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kurikulum Merdeka memahami materi secara mendalam (Ningrum & Sofwan, 2. Namun, keterbatasan fasilitas seperti peta, globe, dan proyektor yang sudah usang menjadi hambatan dalam menerapkan metode pengajaran yang lebih inovatif. Meskipun memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menarik. Pengelolaan kelas menjadi salah satu aspek penting dalam pembelajaran di SD Negeri Mantren. Guru menciptakan lingkungan belajar yang kondusif melalui pendekatan yang inklusif dan interaktif. Partisipasi siswa dalam pembelajaran cukup tinggi, terutama dalam diskusi kelompok. Guru memberikan umpan balik positif untuk mendorong kepercayaan diri siswa dan menanamkan nilai-nilai sosial seperti kerja sama, toleransi, dan tanggung jawab melalui kegiatan kelompok yang This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 relevan dengan kehidupan sehari-hari (RYANS, 1. Penanaman nilai-nilai IPAS di SD Negeri 1 Mantren menjadi fokus penting dalam pembelajaran. Guru berusaha mengintegrasikan nilai-nilai sosial ke dalam setiap kegiatan pembelajaran, baik melalui materi maupun praktik langsung di kelas. Meski demikian, siswa yang pendiam sering kali memerlukan pendekatan lebih personal agar dapat ikut aktif dalam pembelajaran (Nurul Hidayah, 2. Guru juga menanamkan sikap saling menghormati dan kerja sama melalui evaluasi yang melibatkan diskusi kelompok dan kegiatan kolaboratif (Rubi Babullah et al. , 2. Evaluasi pembelajaran dilakukan secara berkala melalui kuis, tugas individu, dan proyek kelompok. Evaluasi ini tidak hanya mengukur pemahaman siswa, tetapi juga menjadi alat untuk mendorong pembelajaran berkelanjutan Arikunto . Guru memberikan umpan balik konstruktif yang membantu siswa memahami kekuatan dan kelemahan mereka. Namun, beberapa siswa masih memerlukan pendampingan tambahan untuk memahami konsep-konsep yang sulit. Penelitian Dewi . menekankan perlunya media pembelajaran yang relevan untuk menarik perhatian siswa. Wijaya . mengungkapkan bahwa pendekatan personal oleh guru, seperti pemberian umpan balik positif, terbukti efektif meningkatkan keterlibatan siswa. Meskipun ada kesamaan dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini berbeda dalam hal fokus dan konteksnya. Penelitian ini berfokus pada implementasi (Sucipto. Sukri. Patras. , & Novita, 2. Kurikulum Merdeka di SD Negeri Mantren, dengan menyoroti tantangan dan strategi dalam menanamkan nilai-nilai sosial melalui pembelajaran IPAS. Penelitian ini juga menganalisis bagaimana pengelolaan kelas yang kondusif dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap nilai-nilai sosial, terutama dengan kondisi fasilitas yang Volume 6 No 1 Juli-Desember 2025 Dengan memahami faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan implementasi nilai-nilai sosial, penelitian ini bertujuan pengembangan model pembelajaran IPAS yang relevan dan efektif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi sekolah dasar lainnya dalam menghadapi tantangan serupa, sehingga pembelajaran nilai-nilai sosial dapat diterapkan dengan optimal dalam berbagai konteks Pendidikan. Kontek Kurikulum Merdeka (Kemendikbudristek, 2. SD Negeri Mantren memiliki peluang untuk lebih pembelajaran yang adaptif dan berfokus pada siswa. Namun, keterbatasan fasilitas dan sumber daya menjadi kendala utama yang memerlukan strategi inovatif dari para Penelitian ini mencoba mengkaji secara mendalam bagaimana tantangan ini dapat diatasi melalui pengelolaan kelas yang kondusif dan pendekatan pembelajaran yang Penanaman nilai-nilai sosial melalui IPS bukan hanya memberikan pemahaman konseptual kepada siswa, tetapi juga membentuk karakter yang siap menghadapi tantangan sosial di masa depan. Dengan pendekatan yang tepat, siswa dapat belajar untuk lebih menghargai keberagaman, bekerja sama, dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini juga mencoba menggali bagaimana pendekatan berbasis pengalaman dapat diterapkan dalam pembelajaran IPAS. Dengan melibatkan siswa secara langsung dalam aktivitas yang relevan, nilai-nilai sosial dapat tertanam lebih mendalam dan memberikan dampak jangka panjang pada pembentukan karakter siswa. SD Negeri Mantren memberikan contoh konkret bagaimana tantangan pendidikan dasar di wilayah pedesaan dapat dikelola dengan pendekatan yang adaptif dan inovatif. Analisis yang mendalam, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengembangan pendidikan dasar yang This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 inklusif dan berorientasi pada pembentukan karakter siswa (Ahmad Fauzi, 2. METODE PENELITIAN Penelitian pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus (L. J Moleong, 2. Tujuan penelitian adalah menganalisis implementasi nilai-nilai sosial dalam pembelajaran IPS di SD Negeri 1 Mantren, dengan fokus pada peran guru, pengelolaan kelas, tantangan yang dihadapi, dan strategi yang diterapkan. Penelitian ini berusaha memahami fenomena secara mendalam melalui studi terhadap satu objek, yakni SD Negeri 1 Mantren. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi secara rinci berbagai aspek pembelajaran IPS di sekolah tersebut. Kegiatan penelitian yang kami lakukan pada tanggal 07 November 2024 tepatnya pukul 00 sampai dengan selesai. Lokasi penelitian adalah SD Negeri 1 Mantren, yang beralamat di Jl. Pacitan-Solo. Krajan Kulon. Mantren. Kecamatan Punung. Kabupaten Pacitan. Jawa Timur. Penelitian dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2024/2025. SD Negeri Mantren mempunyai tenaga guru laki-laki ada 2, tenaga guru perempuan berjumlah 4, sedangkan tenaga pendidikan 1 Guru yang sekaligus sebagai sebagai informan tambahan untuk memberikan perspektif terkait pengelolaan sekolah dan tantangan yang dihadapi. Penentuan lokasi dan subjek penelitian ini didasarkan pada relevansi konteks pendidikan dasar dalam pengembangan nilai sosial. Penelitian ini menggunakan instrumen Wawancara dilakukan dengan guru, siswa, dan kepala sekolah untuk mengumpulkan data terkait implementasi nilai sosial, pengelolaan kelas, dan tantangan Observasi dilakukan untuk melihat langsung proses pembelajaran di mencakup RPP, catatan kelas, dan hasil evaluasi untuk mendukung validitas data. Data dikumpulkan secara sistematis melalui partisipatif, dan analisis dokumen. Proses ini Volume 6 No 1 Juli-Desember 2025 dirancang untuk memastikan temuan penelitian akurat dan mendalam. Analisis data menggunakan model (Schwandt, 1. , yang meliputi pengumpulan, reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Validitas data diperkuat melalui triangulasi sumber dan memberchecking, sehingga hasil penelitian lebih objektif dan sesuai dengan HASIL DAN PEMBAHASAN Data peneliti dihimpun melalui proses observasi serta wawancara kepada Guru kelas 4, kelas 5 dan kelas 6. Tabel Hasil Observasi Kesiapan Guru dalam Pembelajaran IPS Tabel 1 Aspek Kondis Keterangan o Diobservasi Guru 1 mempersiapka Ada n RPP Guru RPP IPAS. Guru Baik Guru siswa dengan Guru 3 media dan alat Ada Media lengkap dan Guru 4 tujuan dengan jelas Guru n tujuan di Guru 5 motivasi dan Ya kepada siswa Guru materi dengan Kesiapan guru dalam pembelajaran IPAS di SDN Mantren sudah cukup baik This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Guru telah mempersiapkan RPP sesuai kurikulum IPAS dan menguasai materi dengan baik, terbukti mampu menjawab pertanyaan siswa dengan tepat. Tujuan pembelajaran disampaikan di awal, dan motivasi diberikan dengan mengaitkan materi pada pengalaman siswa untuk meningkatkan semangat belajar. Namun, media pembelajaran yang digunakan masih kurang lengkap dan sebagian usang. Proses Pembelajaran IPAS Tabel 2 Aspek Observasi Kondi Keterangan Metode Guru Kuran yang bervariasi fasilitas dan Guru aplikasi nyata Contoh dengan alat Guru dalam Aktif tanya jawab Siswa yang kurang Siswa terlibat kelompok atau tugas individu Siswa aktif, meski ada yang kurang Pembelajaran media visual Guru Volume 6 No 1 Juli-Desember 2025 Aspek Observasi Kondi Keterangan laptop, dan Guru memantau dan Guru siswa saat n dan tugas. Proses pembelajaran IPAS di SDN 1 Mantren, terlihat bahwa guru sudah menerapkan berbagai strategi Guru memberikan contoh dan aplikasi nyata membantu siswa memahami konsep lebih Diskusi dan kerja kelompok dilakukan secara aktif, meskipun partisipasi siswa dalam kelompok masih perlu Media visual seperti peta, globe, laptop, dan proyektor digunakan Namun, metode pembelajaran meningkatkan keterlibatan siswa secara menyeluruh, terutama dengan mengatasi keterbatasan fasilitas dan waktu. Pengelolaan Kelas Tabel 3. Pengelolaan Kelas Aspek Observasi Kondis Keterangan Beberapa Guru menjaga siswa sulit Kurang n, meski ada dalam kelas aturan kelas Guru Guru semua siswa This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Aspek Observasi Kondis Keterangan merata untuk Guru Guru lkan fasilitas Kurang suasana belajar yang interaktif Guru umpan balik Ada positif kepada Guru pujian dan saran untuk an motivasi Guru penghargaan Ada kepada siswa Penghargaa stiker, atau Pengelolaan kelas, guru di SDN 1 Mantren telah berupaya menjaga keteraturan dan memberikan kesempatan yang merata kepada siswa untuk berpartisipasi. Umpan balik positif dan penghargaan diberikan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Namun, disiplin kelas masih perlu ditingkatkan, karena beberapa siswa sulit dikendalikan meskipun sudah ada aturan Guru juga perlu lebih maksimal dalam menciptakan suasana belajar yang interaktif dan nyaman, termasuk memanfaatkan fasilitas yang ada secara optimal. Perbaikan pada aspek ini, pengelolaan kelas dapat mendukung pembelajaran yang lebih efektif dan menyenangkan. Volume 6 No 1 Juli-Desember 2025 Partisipasi dan Perilaku Siswa Tabel 4. Partisipasi dan perilaku Siswa Aspek Observasi Kondisi Keterangan Siswa 1 menunjukkan Kurang Sebagian siswa antusias, meski ada yang kurang Siswa 2 bertanya dan Ya Mayoritas siswa Siswa Siswa dan mendukung pendapat teman dengan baik. Siswa 4 menunjukkan Kurang sikap disiplin Ada siswa yang atau berbicara Siswa IPS Sebagian besar dari kehidupan sehari-hari. Partisipasi dan perilaku siswa, sebagian besar siswa di SDN Mantren menunjukkan antusiasme dan keaktifan menghargai pendapat teman. Meskipun demikian, sikap disiplin dan fokus siswa menciptakan suasana belajar yang lebih Hal positif lainnya adalah kemampuan siswa dalam mengaitkan materi IPAS dengan kehidupan sehari-hari, yang menunjukkan pemahaman mereka terhadap This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Penanaman Nilai-Nilai Sosial Tabel 5. Penanaman Nilai-nilai Sosial Aspek Observasi Kondisi Keterangan Guru menanamkan Baik nilai sosial Guru Guru Guru dengan isu sosial dan Guru Guru sehari-hari Siswa Baik nilai sosial Sebagian siswa sudah Pembelajaran Diskusi dan Guru di SDN Mantren berhasil menanamkan nilai-nilai sosial seperti kerjasama, toleransi, dan tanggung jawab Volume 6 No 1 Juli-Desember 2025 melalui pengajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Siswa juga mulai menunjukkan penerapan nilai sosial dalam interaksi mereka, seperti bekerja sama dan menghargai teman. Pembelajaran yang melibatkan diskusi dan proyek telah membantu siswa menjadi lebih peka terhadap isu-isu sosial di sekitar mereka, memperkuat pemahaman mereka tentang hidup bermasyarakat. Evaluasi Pembelajaran Tabel 6. Evaluasi Pembelajaran Aspek Observasi Guru sesuai materi Evaluasi 2 secara Kondisi Keterangan Evaluasi relevan dengan materi Guru Guru Baik hasil evaluasi Penjelasan ada, untuk beberapa Guru Ada saran untuk Guru Evaluas i dilakukan berkala dan Evaluasi rutin dilakukan tugas, dan ujian. Evaluasi pembelajaran di SDN 1 Mantren sudah dilakukan dengan relevan, objektif, dan terstruktur, melalui berbagai metode seperti kuis, tugas, dan ujian. Guru juga memberikan penjelasan hasil evaluasi This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 serta saran untuk perbaikan, meskipun penjelasannya masih perlu lebih mendalam bagi beberapa siswa. Dengan bimbingan yang lebih intensif, evaluasi ini dapat lebih efektif dalam membantu siswa memahami materi dan meningkatkan hasil belajar Pembahasan Pembelajaran IPAS di tingkat sekolah dasar, termasuk di SD Negeri 1 Mantren, menghadapi berbagai tantangan yang memengaruhi efektivitas proses belajar Berikut adalah pembahasan terkait problematika yang telah diidentifikasi berdasarkan aspek-aspek utama. Kesiapan Guru dalam Pembelajaran IPAS Berdasarkan tabel 1 pada aspek ke-1. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru di SD Negeri 1 Mantren telah menunjukkan kesiapan yang baik dalam beberapa aspek. Guru mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan RPP IPAS, yang menunjukkan adanya perencanaan yang matang. Selain itu, guru juga menguasai materi yang diajarkan dengan baik, terbukti dengan kemampuan menjawab pertanyaan siswa secara tepat. Tujuan pembelajaran disampaikan dengan jelas di awal sesi, sehingga memberikan arah yang jelas bagi siswa. Guru juga memberikan motivasi dan apersepsi dengan mengaitkan materi pembelajaran dengan pengalaman siswa untuk meningkatkan semangat belajar Meskipun kekurangan dalam aspek penyediaan media dan alat bantu pembelajaran. Media yang tersedia kurang lengkap dan sebagian sudah usang, sehingga dapat mempengaruhi efektivitas proses pembelajaran. Kesiapan guru dalam mempersiapkan memastikan kualitas pembelajaran yang Penemuan lapangan menunjukkan bahwa guru telah mempersiapkan RPP dengan baik dan menguasai materi, namun tantangan utama terletak pada keterbatasan media dan alat bantu pembelajaran yang relevan dan memadai. Hal ini sejalan dengan Volume 6 No 1 Juli-Desember 2025 temuan Lestari & Widodo, . yang menyatakan bahwa kurangnya media pembelajaran yang sesuai, seperti peta, globe, atau alat peraga modern, menjadi masalah utama dalam pendidikan. Media yang kurang lengkap dan usang dapat menghambat pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan, serta mengurangi efektivitas pembelajaran yang seharusnya lebih interaktif dan menarik. Oleh karena itu, meskipun guru memiliki kesiapan yang baik dalam aspek lain, kekurangan media pembelajaran yang relevan bisa berdampak pada ketercapaian tujuan pembelajaran yang Gambar 1. Ruang Guru SD Negeri 1 Mantren Proses Pembelajaran IPAS Berdasarkan tabel 2 pada aspek ke-2, dalam pelaksanaan pembelajaran IPAS di SD Negeri 1 Mantren, guru menunjukkan beberapa kekurangan dalam variasi metode Metode yang digunakan disebabkan oleh keterbatasan fasilitas dan waktu yang ada. Meskipun demikian, guru tetap berusaha memberikan contoh dan menggunakan alat-alat sederhana, yang dapat membantu siswa memahami materi lebih mudah. Guru juga melibatkan siswa dalam diskusi atau tanya jawab yang berlangsung Meskipun sebagian besar siswa terlibat, beberapa di antaranya kurang fokus dalam Selain itu, siswa aktif terlibat dalam kerja kelompok atau tugas individu, meskipun ada beberapa siswa yang kurang This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Pembelajaran juga memanfaatkan media visual, seperti peta, globe, laptop, dan proyektor, yang membantu menjelaskan materi dengan lebih jelas dan konkrit. Berikut media visual berupa globe ditunjukan dalam gambar 2. Gambar 2. Media pembelajaran globe Penemuan ini relevan dengan temuan pembelajaran sering menghadapi tantangan dalam menjaga fokus dan partisipasi siswa, terutama dalam diskusi kelompok. Siswa yang cenderung pendiam atau kurang percaya diri sering kali tidak memberikan kontribusi yang signifikan, yang sejalan dengan hasil pengamatan bahwa beberapa berkontribusi dalam diskusi dan kerja Hal ini disebabkan oleh keragaman karakter siswa yang tidak selalu diimbangi dengan pendekatan pembelajaran yang Keterbatasan dalam variasi metode pembelajaran, seperti yang ditemukan dalam penelitian ini, berpotensi memperburuk masalah ini, karena tidak ada pendekatan yang cukup beragam untuk menanggapi Ketidakmampuan keragaman ini dapat mengurangi efektivitas pembelajaran dan pengalaman belajar siswa, sesuai dengan analisis yang diajukan oleh (Sarah et al. , 2. Pengelolaan Kelas Berdasarkan tabel 3 pada aspek ke-3, pengamatan yang dilakukan di SD Negeri 1 Volume 6 No 1 Juli-Desember 2025 Mantren, ditemukan beberapa aspek yang berhubungan dengan pengelolaan kelas dan penerapan pembelajaran yang memengaruhi suasana belajar. Pertama, guru mengalami kesulitan dalam menjaga disiplin dan keteraturan di kelas. Meskipun sudah ada aturan kelas sederhana, beberapa siswa masih sulit untuk dikendalikan. Hal ini menunjukkan adanya tantangan dalam mengelola perbedaan karakteristik siswa. Kedua, kesempatan merata kepada semua siswa untuk berpartisipasi. Guru mendorong setiap siswa untuk berpartisipasi sesuai kemampuan mereka, yang menunjukkan upaya inklusif dalam melibatkan semua siswa dalam pembelajaran. Namun, dalam hal menciptakan suasana belajar yang interaktif, guru masih kurang memaksimalkan fasilitas yang tersedia dan belum menciptakan suasana yang nyaman. Hal ini dapat mempengaruhi Guru memberikan umpan balik positif berupa pujian dan saran yang berguna untuk meningkatkan motivasi siswa. Guru juga memberikan penghargaan kepada siswa yang aktif, baik dalam bentuk pujian, stiker, atau pengakuan di depan kelas, yang dapat mendorong siswa untuk lebih bersemangat dalam belajar dan berpartisipasi dalam Penelitian terdahulu oleh Tim Peneliti, . menghadapi tantangan dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan Tantangan ini disebabkan oleh perbedaan karakteristik siswa di setiap jenjang kelas yang membuat pengelolaan kelas menjadi lebih sulit. Penemuan lapangan ini sejalan dengan temuan tersebut, di mana meskipun ada aturan sederhana. Hal ini mencerminkan adanya perbedaan karakteristik siswa yang tidak mudah disesuaikan dengan pendekatan pengelolaan kelas yang satu untuk semua. Selain itu, penelitian terdahulu juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 yang kurang relevan dengan kebutuhan individu siswa sering kali menjadi Hal ini tercermin dalam temuan lapangan mengenai kurangnya suasana belajar yang interaktif dan nyaman. Meskipun guru memberikan kesempatan merata untuk berpartisipasi, namun belum memaksimalkan penggunaan fasilitas dan menciptakan suasana yang mendukung. Keberagaman memerlukan pendekatan pembelajaran yang lebih adaptif, yang dapat menanggapi kebutuhan masing-masing siswa untuk menciptakan suasana kelas yang lebih inklusif dan kondusif. Meski demikian, guru telah memberikan umpan balik positif dan penghargaan yang bisa meningkatkan motivasi, namun masih ada ruang untuk mengoptimalkan pengelolaan kelas dan penerapan strategi yang lebih relevan untuk mendukung suasana belajar yang lebih baik. Partisipasi dan Perilaku Siswa Berdasarkan tabel 4 terkait partisipasi dan perilaku siswa dalam pembelajaran IPAS. Pertama, meskipun sebagian siswa menunjukkan antusiasme dalam belajar, terdapat juga beberapa siswa yang kurang fokus, sehingga tingkat antusiasme di kelas dapat dianggap kurang merata. Kedua, mayoritas siswa aktif bertanya dan menjawab selama diskusi berlangsung, menunjukkan bahwa mereka terlibat dalam pembelajaran dengan baik. Ketiga, siswa saling menghargai pendapat teman dengan mendengarkan dan mendukung apa yang disampaikan oleh teman-teman mereka, menciptakan suasana yang positif dan Namun, pada aspek sikap disiplin, terdapat beberapa siswa yang kurang fokus dan cenderung berbicara sendiri, yang menunjukkan adanya tantangan dalam menjaga kedisiplinan di kelas. Di sisi lain, sebagian besar siswa mampu mengaitkan materi IPAS dengan kehidupan sehari-hari, memberikan contoh nyata yang relevan dari pengalaman mereka. Hal ini menunjukkan bahwa siswa dapat menghubungkan pembelajaran dengan situasi yang mereka Volume 6 No 1 Juli-Desember 2025 alami dalam kehidupan, yang merupakan tujuan utama dari pembelajaran IPAS (Nugroho, 2. Penelitian terdahulu oleh Resnawati, . pembelajaran IPAS, partisipasi aktif siswa sangat diperlukan untuk menanamkan nilainilai sosial seperti kerja sama dan toleransi. Namun, siswa yang pendiam atau kurang percaya diri sering kali enggan untuk berkontribusi, yang dapat menghambat pemahaman mereka terhadap nilai-nilai sosial tersebut. Konteks temuan lapangan ini, meskipun mayoritas siswa aktif dalam bertanya dan menjawab, beberapa siswa yang kurang fokus menunjukkan adanya tantangan serupa yang diungkapkan dalam penelitian terdahulu, yakni kurangnya partisipasi dari siswa yang lebih pendiam atau kurang percaya diri. Selain itu, meskipun siswa mampu mengaitkan materi IPAS dengan kehidupan nyata, yang menunjukkan penerapan nilai sosial dalam konteks kehidupan mereka, kurangnya kedisiplinan yang ditunjukkan oleh beberapa siswa mengindikasikan bahwa pengelolaan kelas dan pendekatan personal dari guru mungkin perlu lebih ditingkatkan untuk membantu membangun rasa percaya diri siswa. Siswa yang kurang fokus dan berbicara sendiri mungkin merasa tidak cukup didorong atau diperhatikan oleh guru dalam upaya untuk lebih aktif berpartisipasi. Sejalan dengan temuan dalam penelitian Resnawati yang menyebutkan bahwa kurangnya pendekatan personal untuk membangun kepercayaan diri siswa bisa menghambat mereka untuk berpartisipasi lebih aktif dan memahami nilai-nilai sosial dalam pembelajaran IPAS. Penanaman Nilai-Nilai Sosial Berdasarkan tabel 5 pada aspek ke-5, hasil pengamatan di SD Negeri Mantren. Punung terdapat beberapa temuan yang berkaitan dengan upaya guru dalam menanamkan nilai sosial dan relevansi materi pembelajaran IPAS dalam kehidupan Pertama, guru menunjukkan upaya yang baik dalam menanamkan nilai sosial. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 seperti kerjasama, toleransi, dan tanggung jawab kepada siswa. Guru secara aktif mengaitkan materi dengan isu sosial yang relevan, serta mendorong diskusi kelompok untuk memperdalam pemahaman siswa tentang kehidupan bermasyarakat. Selain itu, guru memberikan contoh konkret pembelajaran dengan aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh siswa. Sebagian menerapkan nilai sosial dalam kehidupan menghargai teman, yang menunjukkan penerapan nilai-nilai yang telah diajarkan. Pembelajaran yang dilakukan juga membuat siswa lebih peka terhadap isu sosial yang ada di sekitar mereka. Diskusi dan proyek yang diadakan membantu siswa mengenali masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat dan mengembangkan empati serta pemahaman terhadap situasi tersebut. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran di kelas berhasil mencapai tujuannya dalam meningkatkan kesadaran sosial siswa. Penelitian Tohri et al. menyoroti tantangan dalam menanamkan nilai-nilai sosial seperti kerja sama, tanggung jawab, dan keadilan dalam pembelajaran IPAS. Salah satu hambatan utama yang disebutkan adalah ketidakmampuan siswa untuk menghubungkan pembelajaran dengan konteks kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini dapat menyebabkan siswa tidak memahami atau menerapkan nilai-nilai sosial tersebut dalam kehidupan mereka, sehingga pembelajaran menjadi kurang Berdasarkan hasil penemuan lapangan, dapat dilihat bahwa guru mengaitkan materi dengan isu sosial yang relevan dan berhubungan dengan aktivitas sehari-hari Hal ini membantu siswa untuk lebih mudah memahami dan menerapkan nilainilai sosial dalam kehidupan mereka. Diskusi kelompok dan proyek juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengenali dan memahami isu sosial yang Volume 6 No 1 Juli-Desember 2025 pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata mereka. Dengan demikian, temuan ini menunjukkan dihubungkan dengan pengalaman hidup siswa, nilai-nilai sosial yang diajarkan lebih mudah diterima dan diterapkan, sesuai dengan pandangan yang dikemukakan oleh Tohri et al. Terlihat siswa SD Negeri Mantren terkait penanaman nilai nilai sosial, diskusi sangat aktif. Hal ini terlihat dari hasil pengamatan peneliti di serambi ruang Gambar 3. Setia kawan Evaluasi Pembelajaran Berdasarkan tabel 6 pada aspek ke-6, ditemukan bahwa evaluasi pembelajaran dilakukan dengan cara yang terstruktur dan relevan dengan materi yang telah diajarkan. Guru memberikan evaluasi yang sesuai menunjukkan bahwa penilaian yang dilakukan berfokus pada pemahaman materi oleh siswa. Evaluasi juga dilakukan secara objektif, di mana guru menilai dengan adil sesuai kemampuan masing-masing siswa. Hal ini memberikan gambaran bahwa guru berusaha untuk memberikan penilaian yang adil dan sesuai dengan pencapaian siswa. Guru penjelasan tersebut kurang mendalam untuk beberapa siswa. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya untuk memberikan klarifikasi, beberapa siswa mungkin belum mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam terkait hasil evaluasi mereka. Guru juga memberikan saran dan bimbingan This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 untuk perbaikan kepada siswa yang membutuhkan, meskipun mungkin masih ada ruang untuk meningkatkan kualitas bimbingan tersebut. Evaluasi dilakukan secara berkala dan terstruktur, dengan menggunakan kuis, tugas, dan ujian, yang menunjukkan bahwa guru menjaga rutinitas evaluasi untuk memantau perkembangan Penelitian yang dilakukan oleh Viona et al. menunjukkan bahwa evaluasi pembelajaran sering kali menunjukkan kesulitan siswa dalam memahami konsepkonsep yang dianggap kompleks. Salah satu penyebab utama dari permasalahan ini adalah kurangnya pendampingan tambahan bagi siswa yang membutuhkan perhatian Hal ini menyebabkan hasil evaluasi kemampuan siswa, dan guru kesulitan merancang strategi pembelajaran lanjutan yang sesuai. Hal ini menunjukkan bahwa beberapa memahami evaluasi yang diberikan, yang sejalan dengan temuan dalam penelitian terdahulu mengenai kesulitan siswa dalam Penyebabnya bisa jadi adalah kurangnya pendampingan tambahan atau perhatian khusus bagi siswa yang mengalami Meskipun guru memberikan saran dan bimbingan, kualitas bimbingan yang diberikan mungkin belum cukup untuk memastikan bahwa semua siswa memahami dengan baik dan dapat meningkatkan kemampuan mereka. Kesulitan yang dihadapi dalam sebagaimana dijelaskan dalam penelitian Viona et al. , tampaknya juga tercermin dalam praktik di lapangan, di mana penjelasan hasil evaluasi masih belum cukup mendalam bagi sebagian siswa. Ini pendekatan individu dalam evaluasi dan pendampingan untuk memastikan bahwa semua siswa dapat memahami hasil evaluasi mereka dengan jelas dan mendapatkan Volume 6 No 1 Juli-Desember 2025 perkembangan lebih lanjut. Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPAS di SD Negeri Mantren Punung menghadapi beberapa tantangan, khususnya pada aspek pengelolaan kelas dan partisipasi serta perilaku siswa. Pengelolaan kelas, guru mengalami kesulitan dalam menjaga disiplin dan menciptakan suasana belajar yang interaktif serta kondusif. Beberapa siswa masih sulit dikendalikan, dan fasilitas yang kurang maksimal memengaruhi proses Selain itu, partisipasi siswa dalam pembelajaran IPAS juga belum Meskipun sebagian siswa aktif dan antusias, ada beberapa siswa yang kurang percaya diri atau kurang fokus, sehingga menghambat pemahaman nilai-nilai sosial yang diajarkan. Tantangan ini menunjukkan perlunya pendekatan pembelajaran yang lebih adaptif untuk memenuhi kebutuhan semua siswa. Namun, meski ada tantangan tersebut. SD Negeri 1 Mantren meraih juara di berbagai lomba mata pelajaran tingkat Kecamatan dan Kabupaten, terutama di bidang IPAS. Salah menanamkan nilai social terlihat dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, seni tari, dan olahraga, di mana siswa kerap menjadi juara di tingkat lokal dan regional. Siswa menunjukkan kepedulian sosial yang tinggi, dengan seringnya mereka terlibat dalam kegiatan bakti sosial. Dengan upaya yang konsisten dalam mengatasi tantangan. SD Negeri 1 Mantren dapat terus meningkatkan kualitas pembelajaran dan menjadi teladan bagi sekolah lain di This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 Gambar 4. Piala penghargaan Piala menggambarkan penanaman nilai social dalam pembelajaran IPAS menjadi motivasi bagi siswa SD Mentren untuk terus menorehkan prestasi baik akademik maupun non akademik. Nilai kedisiplinan, keuletan, ketekunan, kerukunan dan kebersamaan terjalin anatara siswa dan guru. Sinergisitas dan saling mendukung akan menghasilkan prestasi yang membanggakan bagi siswa sendiri, sekolah, dan lingkungan. KESIMPULAN Nilai-nilai sosial sudah berhasil ditanamkan oleh pihak sekolah melalui pembelajaran IPAS materi IPS. Berikut simpulan dari hasil pembahsan sebagai berikut: Pertama, guru di SD Negeri 1 Mantren menunjukkan kesiapan yang cukup baik, ditandai dengan penyusunan Modul IPAS dan penguasaan materi yang memadai. Walaupun masih terbatas waktu dan sarana dengan alat sederhana serta memanfaatkan media seperti globe dan proyektor. Siswa masih terlihat kurang interaktif dalam diskusi kelompok. Kedua guru sudah memberikan umpan balik positif dan penghargaan, siswa menunjukkan antusiasme dan aktif dalam Ketiga guru SDN Mantren Punung telah melakukan upaya positif dalam menanamkan nilai-nilai seperti kerjasama, toleransi, tanggung jawab, dan empati melalui pengaitan materi dengan isu sosial sehari-hari. Keempat, diskusi dan proyek kelompok memberikan kontribusi dalam meningkatkan kesadaran sosial siswa. Volume 6 No 1 Juli-Desember 2025 Sebagian besar siswa juga mampu menunjukkan penerapan nilai-nilai tersebut Namun pendekatan individual dan dukungan emosional dari guru, khususnya untuk membangun kepercayaan diri siswa yang Selain itu, kemampuan siswa dalam mengaitkan materi dengan kehidupan nyata sudah cukup baik, yang menunjukkan pemahaman terhadap nilai-nilai sosial yang diajarkan dalam interaksi sosial mereka. Hal ini menunjukkan keberhasilan dalam aspek afektif pembelajaran IPAS, meskipun tantangan dalam kedisiplinan dan partisipasi tetap perlu diperhatikan. Adapun beberapa saran untuk ke depannya: Sekolah dan dinas pendidikan perlu optimal untuk menyediakan alat peraga dan media pembelajaran yang memadai guna mendukung proses pembelajaran yang lebih efektif. Guru perlu mengikuti pelatihan rutin yang fokus pada penerapan metode pembelajaran modern dan pengelolaan kelas secara adaptif. Guru disarankan mengadopsi strategi pembelajaran adaptif yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa, baik melalui Pendampingan intensif perlu diberikan kepada siswa yang kesulitan memahami materi agar mereka dapat mengejar Orang tua perlu dilibatkan secara aktif untuk membantu menerapkan nilai-nilai IPAS di lingkungan keluarga. Guru disarankan menggunakan metode evaluasi yang lebih beragam dan kebutuhan siswa secara akurat, sehingga strategi pembelajaran dapat terus Dengan langkah-langkah pembelajaran IPAS di SD Negeri Mantren Punung diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan menghasilkan capaian belajar yang optimal bagi siswa. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education e issn 2797-5886 DAFTAR PUSTAKA