Devy Oktarina1. Sonata Danietik2 UJI DAYA HAMBAT TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS DARI EKSTRAK KULIT BUAH PISANG AMBON (MUSA PARADISIACA VAR. SAPIENTUM L. KUNT. Devy Oktarina1. Sonata Danietik2 Prodi S1 Farmasi. STIKES Abdurahman Palembang Prodi S1 Farmasi. STIKES Abdurahman Palembang Alamat email: devyoktarina12@gmail. ABSTRACT Staphylococcus aureus bacteria is one of the pathogens that cause skin diseases in children and adults. One alternative therapy is using natural ingredients, namely ambon banana peel (Musa paradisiaca L. Kunt. Efficacy of Ambon banana peel can treat skin diseases such as eczema. This study aims to determine the inhibition of Staphylococcus aureus bacteria based on the influence of plant conditions, extract methods and extract This research is an experimental research using disc method. Then tested the inhibition of bacteria by incubation for 24 hours at 37oC. The results showed that the inhibitory power of fresh Ambon banana peels was more effective than dry ones. The maceration method was more effective than the infusion method, while the concentration of the extract showed that the higher the concentration, the greater the inhibition, but this was not comparable to the positive control . With this research it is hoped that the skin of the Ambon banana fruit can be used as a traditional medicine for skin diseases and as an antibacterial. Keywords: Staphylococcus aureus Bacteria. Ambon Banana Peel Extract ABSTRAK Bakteri Staphylococcus aureus adalah salah satu patogen penyebab Penyakit kulit pada anak maupun orang dewasa. Salah satu alternatif terapi adalah dengan bahan alami, yaitu kulit buah pisang ambon (Musa paradisiacaL. Kunt. Khasiat kulit buah pisang ambon dapat mengobati penyakit kulit seperti eksim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus berdasarkan pengaruh kondisi tanaman, metode ekstrak dan konsentrasi ekstrak. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan metode cakram. Kemudian dilakukan uji daya hambat bakteri dengan di inkubasi selama 24 jam pada suhu 37 oC. Hasil penelitian didapat daya hambat kulit buah pisang ambon yang segar lebih efektif dari pada yang kering. Metode maserasi lebih efektif dari pada metode infusa, sedangkan konsentrasi ekstrak menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi, maka semakin besar daya hambatnya, tetapi hal ini tidak sebanding dengan kontrol positif . Dengan adanya penelitian ini diharapkan agar menggunakan kulit buah pisang ambon sebagai obat tradisional untuk penyakit kulit dan sebagai antibakteri. Kata Kunci: Bakteri Staphylococcus aureus. Ekstrak Kulit Buah Pisang Ambon Jurnal Farmasi Abdurahman Vol. 1 No. 1 Februari 2023 Devy Oktarina1. Sonata Danietik2 PENDAHULUAN Staphylococcus aureus adalah jenis bakteri patogen yang dapat menyebabkan berbagai infeksi pada kulit, antara lain infeksi endokarditis, pneumonia, meningitis, infeksi pada folikel rambut, infeksi kulit (Impetig. yang menimbulkan binti-bintil berisi nanah atau bisul, infeksi pada saluran pernapasan, bisa juga karena keracunan Bakteri Staphylococcus aureus dapat menetap di mukosa hidung manusia, mulut, kulit, mata, jari, usus dan hati (Radji, 2. Bakteri ini dapat menyebar melalui tangan, bersin dan lesi Bakteri Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri potensial patogen yang ada pada tubuh manusia. Pengobatan dalam antibiotik, tetapi memanfaatkan bahan aktif yang terkandung dalam tanaman . ahan ala. Beberapa tanaman memiliki sifat antibiotik alami terhadap bakteri, salah satu tanaman yang dapat digunakan adalah kulit buah pisang ambon (Musa paradisiaca var. sapientum L. Kunt. ) yang dipercaya berbagai penyakit seperti penyembuhan pada luka, bercak hitam bekas cacar, penyakit kulit seperti eksem dan juga dapat digunakan sebagai obat herbal dalam mengatasi depresi, menurunkan kolesterol dan mengatasi pencegahan darah tinggi atau hipertensi (Wardhany. Ekstrak kulit buah pisang ambon dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus mempercepat penyembuhan luka, karena adanya senyawa aktif yang terkandung didalam getah tanaman pisang yaitu asam hydroxycinnamik, flavanones. N-Acetylserotonin. Isoflavon merupakan turunan flavonoid yang diketahui mempunyai efektifitas sebagai antibakteri. Oleh karena itu, aktivitas antioksidan dari ekstrak kulit buah pisang ambon lebih efektif dalam menghambat bakteri, dari pada ekstrak daging pisangnya (Wardhany, 2. Pisang Ambon (Musa paradisiaca var. sapientum L. Kunt. ) banyak ditemukan di Indonesia, karena sifat khas tumbuhan ini adalah menyukai daerah alam terbuka yang cukup sinar matahari. Tumbuhan ini sangat cocok tumbuh di dataran rendah sampai pada ketinggian 1000 meter lebih di atas permukaan laut. Pada merupakan tumbuhan yang tidak memiliki batang sejati. Pisang Ambon dikenal dengan nama internasional Gras Michael. Sejak penanaman pohon pisang sampai dapat dipetik buahnya memakan waktu antara 13-15 bulan, sedangkan masa panen berikutnya sekitar 3-4 bulan Semua itu sebenarnya tergantung dari umur anak pohon pisang sampai bisa berbuah. Informasi penggunaan bagian lain tanaman pisang seperti kulit buah pisang ambon sebagai antibakteri masih sangat Maka dari itu dilakukan penelitian yang berjudul AuUji Daya Hambat Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus dari Ekstrak Kulit Buah Pisang Ambon (Musa paradisiaca var. sapientum L. Kunt. )Ay. METODE Penelitian metode penelitian eksperimen atau percobaan di Laboratorium, untuk mengetahui pengaruh kondisi tanaman, metode ekstraksi dan konsentrasi ekstrak terhadap uji daya hambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dari ekstrak kulit buah pisang ambon (Musa paradisiaca var. sapientum L. Kunt. yang diletakkan pada media yang telah ditanami bakteri Staphylococcus aureus. Populasi menggunakan kulit buah pisang ambon (Musa paradisiaca var. sapientum L. Kunt. ) yang segar dan kulit buah pisang Jurnal Farmasi Abdurahman Vol. 1 No. 1 Februari 2023 Devy Oktarina1. Sonata Danietik2 ambon yang dikeringkan. Sampel yang diambil secara acak, dipilih contoh kulit buah pisang ambon yang segar dan Penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu 6 bulan atau 1 Penelitian ini dilakukan di Laboratorium di kota Palembang. HASIL Hasil ekstrak kulit buah pisang ambon sebagai berikut: Ekstraksi Hasil Rendemen 1 Maserasi Segar Bentuk kental, bau 27,82 ml aromatik, warna hijau 2 Maserasi Kering Bentuk kental, bau 11,55 ml aromatik warna hijau tua 3 Infusa Segar Bentuk cair, aromatik, warna hijau kekuning-kuningan Bentuk cair, aromatik, warna hijau kekuning- kuningan 4 Infusa Kering 10 ml 10 ml Berdasarkan menunjukkan bahwa sedikit perbedaan dari hasil ekstrak proses maserasi dan infusa dari segi bentuk, warna dan Pengaruh Kondisi Tanaman terhadap Uji Daya Hambat Bakteri Untuk mengetahui pengaruh kondisi tanaman terhadap pertumbuhan dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu kulit buah pisang ambon dalam kondisi segar diambil yang berwarna hijau terletak dipangkal tumbuhnya. Sedangkan yang kering diambil dari kulit pisang yang segar kemudian dikeringkan terlebih dahulu. Adapun hasil yang didapat sebagai berikut : No. Uraian Kondisi Tanaman Segar Kering Maserasi 3,90 mm 4,17 mm 5,01 mm 7,71 mm 2,95 mm 4,02 mm 4,27 mm 5,72 mm Infusa 2,59 mm 4,46 mm 4,74 mm 6,18 mm 2,05 mm 3,09 mm 4,15 mm 6,04 mm Berdasarkan Tabel diatas terlihat bahwa kondisi kulit buah pisang ambon yang segar lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri dari pada yang kering. Pengaruh Metode Ekstrak terhadap Uji Daya Hambat Bakteri Untuk mengetahui pengaruh metode ekstrak terhadap pertumbuhan bakteri, maka metode ekstrak yang dilakukan dengan 2 metode yaitu maserasi dan infusa. Maserasi dilakukan dengan merendam menggunakan pelarut etanol selama 5 hari, dan metode infusa dengan cara memanaskan kulit buah pisang ambon di atas penangas air selama 15 menit. Adapun hasil yang didapat sebagai berikut: Uraian Metode Ekstrak Maserasi Infusa 1 Segar 25% 3,90 mm 2,59 mm 4,17 mm 4,46 mm 5,01 mm 4,74 mm 7,71 mm 6,18 mm 2 Kering 25% 2,95 mm 2,05 mm 4,02 mm 3,09 mm 4,27 mm 4,15 mm 5,72 mm 6,04 mm Berdasarkan Tabel terlihat bahwa ekstrak metode maserasi mempunyai daya hambat yang lebih efektif terhadap pertumbuhan bakteri dari pada metode Jurnal Farmasi Abdurahman Vol. 1 No. 1 Februari 2023 Devy Oktarina1. Sonata Danietik2 Pengaruh Konsentrasi Ekstrak terhadap Uji Daya Hambat Bakteri PEMBAHASAN Proses Kerja Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak terhadap bakteri, maka konsentrasi ekstrak terbagi menjadi 4 konsentrasi yaitu 25%, 50%, 75% dan 100%. Setiap konsentrasi menghasilkan daya hambat yang berbeda- beda. Adapun hasil yang didapat sebagai berikut: Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit buah pisang ambon dikelompokkan menjadi 2 kulit buah pisang ambon yang segar langsung diproses dan kulit buah pisang ambon yang kering Pengelompokkan kulit buah pisang ambon ini dengan tujuan untuk membandingkan efek daya hambat Staphylococcus Tujuan menghilangkan kadar air. Setelah itu kulit buah pisang ambon dirubah bentuk menjadi lebih kecil-kecil atau dirajang dengan tujuan untuk memperkecil ukuran partikel. Kemudian kulit buah pisang ambon dilakukan dengan penyarian menggunakan pelarut etanol 96%, karena diduga sebagai antibakteri dalam kulit buah pisang ambon adalah Flavonoid larut dalam alkohol, sehingga pelarut yang lebih efektif digunakan adalah pelarut etanol Penyarian dilakukkan dengan 2 cara, yaitu secara maserasi . membandingkan hasil uji efek daya hambat dalam keadaan dingin dan Selanjutnya ekstrak dikentalkan dengan rotary evaporator atau di Hal ini bertujuan untuk memisahkan alkohol dari ekstraknya, karena alkohol mempunyai efek Lalu ekstrak maserasi diencerkan dengan aquadest. Sedangkan ekstrak infusa langsung diproses, dibuat masingmasing konsentrasi 100%, 75%, 50%. Tujuannya untuk membandingkan efek dari berbagai macam-macam konsentrasi dan untuk mengetahui ekuivalensi dengan kontrol positif . Antibiotik digunakan karena antibiotik ini banyak Uraian Konsentrasi Maserasi Segar Kering 3,90 mm 4,17 mm 5,01 mm 7,71 mm 2,95 mm 4,02 mm 4,27 mm 5,72 mm Infusa Segar Kering 2,59 mm 4,46 mm 4,74 mm 6,18 mm 2,05 mm 3,09 mm 4,15 mm 6,04 mm Berdasarkan Tabel menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi maka semakin efektif daya hambat bakteri. Hasil Uji Daya Hambat Kontrol Positif dan Kontrol Negatif Untuk mengetahui hasil uji daya hambat kontrol positif terhadap bakteri, maka kontrol positif menggunakan antibiotik tetrasiklin, sedangkan kontrol negatif menggunakan aquadest. Hal ini hanya untuk sebagai pembanding. Adapun hasil yang didapat sebagai No. Uraian Tetrasiklin Aquadest Daya Hambat 14,37 mm 0 mm Berdasarkan tabel menunjukkan bahwa kontrol positif memiliki efek daya hambat sedangkan kontrol negatif tidak mempunyai efek daya hambat. Jurnal Farmasi Abdurahman Vol. 1 No. 1 Februari 2023 Devy Oktarina1. Sonata Danietik2 digunakan untuk pengobatan infeksi pada kulit. Sedangkan ekstrak kulit buah pisang ambon dibuat untuk mengobati Staphylococcus menyebabkan infeksi pada kulit. Jadi digunakan antibiotik tetrasiklin yang berperan sama dengan flavonoid untuk antibiotik golongan makrolida yang menghambat sintesa protein sel bakteri golongan gram positif. Setelah itu, masukkan media agar kedalam petridist diamkan sampai agarnya membeku, lalu masukkan suspensi bakteri Staphylococcus aureus Celupkan kertas cakram masing-masingkonsentrasi ekstrak maserasi dan infusa, letakkan kertas cakram tersebut di atas petridist yang sudah dibuat masing-masing Tujuannya mengetahui uji daya hambat terhadap bakteri tersebut. Tahap terakhir, secara analisis dilakukan inkubasi dengan suhu 37oC selama 24 jam. Karena bakteri hidup dan berkembang pada suhu 37 oC. Selanjutnya, uji daya hambat terhadap bakteri dan diukur dengan menggunakan alat jangka sorong. Daswi et al. , . bahwa ekstrak Kulit Buah pisang ambon (Musa Savientum menghasilkan masing-masing diameter zona hambatan yang signifikan terhadap bakteri Escherichia coli, dimana ratarata zona hambat yang diperoleh yaitu berbeda, untuk konsentrasi 2% sebesar 12 mm, konsentrasi 4% sebesar 16 mm, konsentrasi 8% sebesar 19,33 mm dan sedangkan pembanding kontrol negatif aquadest steril tidak memperlihatkan adanya zona hambatan. Uji Daya Hambat Bakteri Berdasarkan Kondisi Tanaman Hasil penelitian berdasarkan kondisi tanaman yang segar: . %) 3,90 mm, . %) 4,17 mm, . %) 5,01 mm, . %) 7,71 mm. Lebih efektif menghambat bakteri dari pada yang kering: . %) 2,95 mm, . %) 4,02 m, . %) 4,27 mm, . %) 5,72 mm. Efek antibakteri kulit buah pisang ambon yang segar dalam keadaan dingin dan yang kering dalam keadaan panas. Sehingga flavonoid lebih banyak terdapat pada kulit buah pisang ambon yang segar. Sedangkan yang kering karena proses pengeringan dengan pemanasan akan menyebabkan reaksi oksidasi dipercepat. Uji Daya Hambat Bakteri Berdasarkan Metode Ekstrak Metode maserasi lebih efektif dari pada metode infusa karena proses maserasi dengan cara dingin, yang menyebabkan semakin lama prosesnya, maka semakin banyak zat sebagai antibakteri tertarik. Sedangkan metode infusa, karena dengan suhu panas yang menyebabkan zatnya menjadi terurai atau berubah, sehingga kurang efektif. Uji Daya Hambat Bakteri Berdasarkan Konsentrasi Ekstrak Zona daya hambat yang terbentuk berbeda-beda Jurnal Farmasi Abdurahman Vol. 1 No. 1 Februari 2023 Devy Oktarina1. Sonata Danietik2 Sehingga semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang dibuat, maka semakin besar daya hambatannya, begitupun sebaliknya semakin rendah konsentrasi ekstrak semakin kecil daya hambatnya. Untuk mengetahui ekuivalensi dengan kontrol positif . dapat dihitung dengan persamaan regresi dan disimpulkan bahwa tetrasiklin 2% setara dengan kulit buah pisang ambon maserasi segar 250%, maserasi kering 358%, infusa segar 285%, infusa kering Saran PENUTUP Kesimpulan Ariani. Diketahui bahwa dari kondisi kulit buah pisang ambon yang segar lebih efektif dari pada yang kering. Karena pada kulit buah pisang ambon yang kandungan flavonoidnya, sedangkan yang kering flavonoid mudah teroksidasi menjadi flavon dan Diketahui bahwa dari metode ekstrak, metode maserasi lebih pertumbuhan bakteri dari pada metode infusa. Karena proses Maserasi dalam keadaan dingin dan prosesnya yang lama sehingga flavonoid terikat. Sedangkan metode infusa dalam keadaan panas yang dipercepat, sehingga kurang efektif. Diketahui dari hasil konsentrasi konsentrasi yang paling besar . %) 7,71 mm dan daya hambat yang paling minimum terdapat pada konsentrasi ekstrak . %) 2,05 mm. Sedangkan daya hambat pada kontrol positif yaitu 14,37 mm. Memanfaatkan tentang pengembangan obat alternatif yang menggunakan ekstrak kulit buah pisang ambon khususnya sebagai obat penyakit kulit yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional bagi masyarakat. DAFTAR PUSTAKA