Vol. 4 No. : Oktober-Desember Hal. DOI: doi. org/10. 47233/jpst. Analisis Kesulitan Dan Permasalahan Belajar Siswa Sd Dari Berbagai Faktor Internal. Eksternal Putri Ghani Sukoco a. Azahra Syaharani Sukamto b. Elina Dewi Oktaviani c. Agne Prasska Maharani d Sri Suwartini e PGSD. FKIP. Universitas Widya Dharma Klaten, ghaniputri554@gmail. PGSD. FKIP. Universitas Widya Dharma Klate, zhracmll29@gmail. PGSD. FKIP. Universitas Widya Dharma Klaten, elinadewi979@gmail. PGSD. FKIP. Universitas Widya Dharma Klaten, agneprasiska@gmail. PGSD. FKIP. Universitas Widya Dharma Klaten, sswartini66@gmail. Abstract This research aims to comprehensively analyze the learning difficulties and problems experienced by primary school students, taking into account a range of internal and external factors, and to propose effective strategies for teachers to overcome them. A library research method was employed by reviewing national journals, articles, and other scientific publications issued between 2018Ae2024. The results reveal that learning difficulties particularly in mathematics and other core subjects stem from cognitive limitations, underdeveloped fine motor skills, low learning interest and motivation, and mismatched learning styles, as well as external factors such as ineffective teaching methods, less supportive learning environments, unstructured teaching materials, and limited use of learning media. To address these challenges, teachers are encouraged to apply innovative and contextual learning approaches, utilize co ncrete and interactive media, provide scaffolding and individualized support, and create engaging classroom environments that link learning to studentsAo real-life experiences. These strategies are expected to enhance studentsAo motivation, comprehension, and academic achievement at the primary school level. Keywords: Learning difficulties, internal factors, external factors, primary school, teaching strategies, mathematics Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif kesulitan dan permasalahan belajar yang dialami siswa sekolah dasar dengan mempertimbangkan berbagai faktor internal dan eksternal serta mengusulkan strategi efektif bagi guru untuk mengatasinya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan mengkaji jurnal nasional, artikel, dan publikasi ilmiah lain yang terbit antara tahun 2018Ae2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan belajar terutama pada mata pelajaran matematika dan mata pelajaran inti lainnya bersumber dari keterbatasan kognitif, keterampilan motorik halus yang belum berkembang, rendahnya minat dan motivasi belajar, serta ketidaksesuaian gaya belajar. Faktor eksternal mencakup metode pengajaran yang kurang efektif, lingkungan belajar yang kurang mendukung, materi pembelajaran yang tidak terstruktur, dan minimnya penggunaan media pembelajaran. Untuk mengatasi tantangan tersebut, guru dianjurkan untuk menerapkan pendekatan pembelajaran inovatif dan kontekstual, memanfaatkan media pembelajaran konkret dan interaktif, memberikan bimbingan bertahap . serta dukungan individual, dan menciptakan suasana kelas yang menyenangkan serta mengaitkan materi dengan pengalaman nyata siswa. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi, pemahaman, dan prestasi akademik siswa di tingkat sekolah dasar. Keywords: Kesulitan belajar, faktor internal, faktor eksternal, sekolah dasar, strategi pembelajaran, pembelajaran This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4. 0 CC-BY International license PENDAHULUAN Sekolah dasar adalah jenjang pendidikan pertama yang paling menentukan. Di sinilah anak-anak mulai belajar membaca, menulis, berhitung, sekaligus menanamkan sikap dan keterampilan sosial. Di tahap ini mereka masih berada pada masa perkembangan kognitif yang disebut Auoperasional konkretAy oleh Piaget. Artinya, cara berpikir mereka masih sangat terkait dengan hal-hal nyata yang dapat mereka lihat, sentuh, dan Karena itu pembelajaran di sekolah dasar, termasuk matematika, perlu disajikan secara kontekstual dan menggunakan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 4 No. : Oktober-Desember Vol. 4 No. : Oktober-Desember Hal. DOI: doi. org/10. 47233/jpst. Sayangnya, kenyataan di lapangan sering berbeda. Banyak siswa sekolah dasar merasa matematika adalah pelajaran yang menakutkan, sulit, bahkan membosankan. Mereka kesulitan memahami konsep abstrak seperti pecahan, sudut, atau operasi hitung berurutan. Ada pula yang tidak mampu mengerjakan soal cerita karena kemampuan membaca belum lancar. Di sisi lain, guru pun menghadapi tantangan besar: jumlah siswa yang banyak, latar belakang yang beragam, dan keterbatasan media pembelajaran membuat mereka sulit menyesuaikan metode mengajar dengan karakteristik masing-masing anak. Kesulitan belajar ini tidak muncul begitu saja. Ada faktor yang datang dari dalam diri siswa seperti kemampuan kognitif yang berbeda-beda, keterampilan motorik halus yang belum matang, rendahnya minat dan motivasi belajar, serta gaya belajar yang unik. Ada pula faktor luar seperti metode mengajar guru yang kurang bervariasi, lingkungan belajar yang kurang kondusif, materi pelajaran yang terlalu kompleks, dan minimnya penggunaan media pembelajaran yang menarik. Semua faktor tersebut saling berinteraksi sehingga memengaruhi cara anak belajar. Karena itu, guru tidak cukup hanya menyampaikan materi. Mereka perlu mengenali kesulitan yang dialami siswanya satu per satu, memahami latar belakangnya, lalu merancang strategi pembelajaran yang lebih inovatif, menyenangkan, dan sesuai dengan gaya belajar anak. Guru juga harus mampu menghubungkan pelajaran dengan pengalaman nyata siswa agar konsep yang abstrak terasa lebih mudah dimengerti. Dengan cara ini, siswa bukan hanya menerima informasi, tetapi membangun pengetahuan mereka sendiri secara bertahap dan bermakna. Selain sebagai tempat berlangsungnya proses transfer pengetahuan, sekolah dasar juga berfungsi sebagai ruang pembentukan sikap belajar dan karakter siswa. Pengalaman belajar yang dialami siswa pada jenjang ini akan sangat memengaruhi pandangan mereka terhadap kegiatan belajar di masa depan. Apabila sejak dini siswa sering mengalami kegagalan, kesulitan memahami materi, atau merasa tertekan dalam pembelajaran, maka sikap negatif terhadap sekolah dan pelajaran tertentu, khususnya matematika, akan semakin menguat. Oleh karena itu, kesulitan belajar di sekolah dasar perlu mendapat perhatian serius agar tidak berdampak jangka panjang terhadap perkembangan akademik dan psikologis anak. Kesulitan belajar sering kali tidak terlihat secara langsung dan kerap disalahartikan sebagai kurangnya usaha atau kemalasan siswa. Padahal, dalam banyak kasus, siswa telah berusaha mengikuti pembelajaran namun terhambat oleh faktor perkembangan kognitif, keterbatasan kemampuan dasar, atau kondisi lingkungan yang kurang mendukung. Tanpa pemahaman yang tepat, guru berisiko memberikan perlakuan yang kurang sesuai, seperti menuntut siswa untuk mengikuti kecepatan belajar yang sama atau menggunakan satu metode pembelajaran untuk semua siswa. Kondisi ini justru dapat memperparah kesulitan belajar yang dialami anak. Berdasarkan kondisi tersebut, analisis terhadap kesulitan dan permasalahan belajar siswa sekolah dasar menjadi sangat penting. Analisis ini tidak hanya bertujuan untuk mengidentifikasi jenis kesulitan yang dialami siswa, tetapi juga untuk memahami faktor penyebabnya secara menyeluruh, baik dari dalam diri siswa maupun dari lingkungan belajar. Dengan pemahaman yang komprehensif, guru diharapkan mampu merancang strategi pembelajaran yang lebih tepat, adaptif, dan berpihak pada kebutuhan siswa, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara optimal dan bermakna. Pendahuluan ini menunjukkan betapa pentingnya memahami faktor internal dan eksternal penyebab kesulitan belajar di sekolah dasar. Dengan pemahaman tersebut, guru dapat memilih pendekatan yang tepat untuk mengatasi masalah belajar dan meningkatkan hasil belajar siswa. Pada akhirnya, keberhasilan pembelajaran di tingkat dasar akan menjadi pondasi bagi keberhasilan anak di jenjang pendidikan berikutnya. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi literatur . ibrary researc. Peneliti mengumpulkan berbagai jurnal, artikel nasional, dan skripsi yang relevan terbit antara tahun 2018Ae2024, mengelompokkan berdasarkan topik . esulitan belajar matematika, faktor internal-eksternal, strategi pembelajara. , kemudian dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola faktor penyebab dan strategi pemecahan masalah. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelusuran literatur, ditemukan bahwa kesulitan belajar yang dialami siswa sekolah dasar, khususnya pada mata pelajaran matematika dan mata pelajaran inti lainnya, memiliki pola yang Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 4 No. : Oktober-Desember Vol. 4 No. : Oktober-Desember Hal. DOI: doi. org/10. 47233/jpst. relatif sama. Kesulitan paling menonjol adalah memahami konsep yang bersifat abstrak. Anak-anak SD masih berada pada tahap berpikir konkret, sehingga ketika mereka dihadapkan pada materi seperti pecahan, sudut, operasi hitung berurutan, atau konsep lain tanpa contoh nyata, mereka sering tidak memahami maknanya. Kesulitan ini diperparah oleh keterbatasan kemampuan visualisasi dan spasial. Banyak siswa belum mampu menggambar sudut dengan benar, mengukur sudut dengan busur derajat, atau memahami hubungan antarobjek geometri karena keterampilan visual-spasialnya belum matang. Selain itu, sebagian siswa juga mengalami hambatan membaca soal cerita sehingga kesulitan menerjemahkan kalimat soal ke dalam kalimat matematika. Rendahnya penguasaan operasi dasar seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian juga menjadi penghalang dalam menyelesaikan soal yang lebih kompleks. Akibatnya, motivasi belajar anak pun turun dan mereka semakin menganggap matematika pelajaran yang membosankan dan menakutkan. Kesulitan belajar tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor saja, tetapi merupakan interaksi dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi kemampuan kognitif yang belum matang, keterampilan motorik halus yang kurang berkembang, rendahnya minat dan motivasi, serta perbedaan gaya belajar masing-masing anak. Misalnya, ada siswa yang lebih mudah memahami materi secara visual, sementara yang lain lebih responsif pada penjelasan verbal atau aktivitas kinestetik. Apabila guru menggunakan metode yang tidak sesuai dengan gaya belajar siswa, maka pemahaman anak akan terbatas dan berpotensi menimbulkan kesulitan belajar yang berlarut-larut. Sementara itu, faktor eksternal yang ikut memengaruhi antara lain metode pengajaran guru, lingkungan belajar, materi pembelajaran, dan media yang digunakan. Guru yang hanya mengandalkan metode ceramah satu arah, jarang memberikan variasi kegiatan, atau menyampaikan materi terlalu cepat akan membuat siswa kesulitan mengikuti pembelajaran. Lingkungan belajar yang kurang kondusif, bising, dan minim fasilitas juga menurunkan konsentrasi anak. Materi yang disajikan sekaligus dan tidak bertahap membuat anak sulit membangun pemahaman dari yang sederhana ke yang kompleks. Minimnya penggunaan alat peraga konkret, seperti blok pecahan, penggaris sudut, atau media interaktif berbasis teknologi, juga menghambat anak mengaitkan konsep abstrak dengan benda nyata. Untuk mengatasi berbagai masalah tersebut, beberapa strategi dapat diterapkan oleh guru. Pendekatan pembelajaran yang inovatif dan kontekstual seperti Problem-Based Learning dan Project-Based Learning dapat membantu siswa mengaitkan materi dengan situasi nyata mereka, misalnya mengukur sudut di lapangan sekolah atau menghitung pecahan saat membagi makanan. Pemanfaatan media pembelajaran konkret dan interaktif, baik berupa benda nyata maupun teknologi sederhana, juga penting untuk menjembatani konsep Selain itu, guru perlu memberikan bimbingan bertahap atau scaffolding dengan memulai dari contoh yang mudah menuju yang lebih sulit, disertai petunjuk dan umpan balik yang konstruktif agar siswa merasa Identifikasi kesulitan individual juga harus dilakukan karena setiap anak memiliki kebutuhan Dengan intervensi yang tepat, siswa yang kesulitan membaca soal bisa dibantu dengan latihan membaca pemahaman, sedangkan yang kesulitan berhitung bisa mendapat latihan operasi dasar secara Peningkatan motivasi juga tidak kalah penting. suasana belajar yang menyenangkan, penguatan positif, dan pengaitan materi dengan pengalaman sehari-hari anak akan menumbuhkan minat belajar yang lebih kuat. Dengan menerapkan strategi-strategi tersebut secara konsisten, guru bukan hanya membantu siswa mengatasi kesulitan belajar, tetapi juga membentuk sikap positif terhadap pembelajaran. Jika hambatan di tingkat dasar dapat diatasi dengan baik, anak akan lebih siap menghadapi materi yang lebih kompleks di jenjang berikutnya dan memiliki fondasi yang lebih kokoh untuk keberhasilan akademik jangka panjang . Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa kesulitan belajar yang dialami siswa sering bersifat kumulatif dan berkelanjutan. Kesulitan yang tidak ditangani sejak awal akan berdampak pada materi berikutnya, karena sebagian besar pembelajaran di sekolah dasar bersifat hierarkis dan saling berkaitan. Misalnya, siswa yang belum menguasai konsep penjumlahan dan pengurangan akan mengalami hambatan serius saat mempelajari perkalian, pembagian, hingga soal cerita yang membutuhkan penalaran lebih Hal ini menyebabkan kesenjangan kemampuan antar siswa semakin lebar seiring bertambahnya jenjang kelas. Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 4 No. : Oktober-Desember Vol. 4 No. : Oktober-Desember Hal. DOI: doi. org/10. 47233/jpst. Selain aspek akademik, kesulitan belajar juga berdampak pada kondisi emosional dan sosial siswa. Beberapa penelitian yang dikaji menunjukkan bahwa siswa yang sering mengalami kegagalan cenderung memiliki rasa percaya diri rendah, enggan bertanya, dan pasif dalam pembelajaran. Bahkan, tidak sedikit siswa yang memilih menghindari pelajaran tertentu karena merasa takut melakukan kesalahan. Situasi ini menunjukkan bahwa kesulitan belajar bukan hanya persoalan kognitif, tetapi juga berkaitan erat dengan aspek afektif siswa yang perlu mendapat perhatian guru. Peran guru menjadi sangat krusial dalam memutus rantai kesulitan belajar tersebut. Guru tidak hanya bertindak sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator dan pendamping belajar. Guru perlu melakukan diagnosis awal terhadap kesulitan yang dialami siswa melalui observasi, penilaian formatif, dan komunikasi yang intensif. Dengan demikian, strategi pembelajaran yang diterapkan tidak bersifat umum, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Lebih lanjut, hasil kajian literatur menegaskan bahwa keberhasilan mengatasi kesulitan belajar sangat dipengaruhi oleh konsistensi penerapan strategi pembelajaran. Penggunaan media konkret, pembelajaran berbasis pengalaman, serta pemberian penguatan positif harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya Kolaborasi antara guru, siswa, dan orang tua juga menjadi faktor pendukung penting agar proses pembelajaran di sekolah sejalan dengan pembiasaan belajar di rumah. Dengan sinergi tersebut, upaya mengatasi kesulitan belajar dapat memberikan hasil yang lebih optimal dan berkelanjutan. Selain strategi teknis, penciptaan iklim kelas yang aman dan inklusif juga memegang peranan vital dalam memulihkan semangat belajar siswa. Guru harus mampu membangun budaya kelas yang memandang kesalahan bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian alami dari proses belajar. Ketika siswa merasa dihargai dan tidak dihakimi saat mengalami kesulitan, hambatan psikologis mereka akan perlahan terkikis. Lingkungan yang suportif ini memungkinkan interaksi antarteman sejawat berjalan positif, di mana siswa yang lebih mahir dapat membantu temannya, sehingga tercipta ekosistem belajar yang saling menguatkan. Di sisi lain, integrasi teknologi dalam pembelajaran dapat menjadi solusi alternatif yang efektif untuk menjembatani kesenjangan pemahaman siswa. Penggunaan perangkat lunak edukatif, video pembelajaran interaktif, atau platform gamification dapat menyajikan materi yang kompleks dengan cara yang lebih menarik dan mudah dicerna. Teknologi memungkinkan adanya pembelajaran mandiri yang dapat diulang sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing siswa . elf-paced learnin. Dengan memanfaatkan inovasi digital, guru dapat menyediakan sumber daya yang lebih variatif sehingga siswa yang memiliki gaya belajar berbeda dapat menemukan cara yang paling nyaman bagi mereka untuk memahami suatu konsep. Dalam konteks pembelajaran di sekolah dasar, keberagaman kemampuan siswa merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Setiap siswa datang ke kelas dengan latar belakang keluarga, pengalaman belajar, serta kesiapan akademik yang berbeda-beda. Perbedaan ini memengaruhi kecepatan dan cara siswa dalam menerima serta mengolah informasi. Apabila proses pembelajaran tidak dirancang secara fleksibel dan adaptif, siswa yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata berpotensi mengalami kesulitan belajar yang semakin kompleks dan berkelanjutan. Selain perbedaan kemampuan, faktor emosional juga memegang peranan penting dalam keberhasilan belajar siswa sekolah dasar. Anak-anak pada usia ini masih sangat sensitif terhadap lingkungan sekitar, termasuk sikap guru dan suasana kelas. Pembelajaran yang terlalu menekan, minim apresiasi, dan kurang memberi ruang bagi siswa untuk berekspresi dapat menurunkan rasa percaya diri dan motivasi belajar. Sebaliknya, lingkungan belajar yang aman, menyenangkan, dan suportif akan membantu siswa merasa nyaman sehingga lebih berani mencoba, bertanya, dan mengemukakan pendapat. Perkembangan teknologi juga membawa tantangan sekaligus peluang dalam pembelajaran di sekolah Di satu sisi, penggunaan teknologi yang tidak terkontrol dapat mengalihkan perhatian siswa dan menurunkan konsentrasi belajar. Namun di sisi lain, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang menarik dan interaktif untuk membantu siswa memahami konsep yang sulit. Oleh karena itu, guru dituntut untuk mampu memanfaatkan teknologi secara bijak sebagai sarana pendukung pembelajaran, bukan sekadar pelengkap. Berdasarkan kondisi tersebut, analisis kesulitan dan permasalahan belajar siswa sekolah dasar menjadi langkah awal yang penting dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran. Pemahaman yang mendalam terhadap faktor penyebab kesulitan belajar diharapkan dapat menjadi dasar bagi guru dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif dan sesuai dengan karakteristik siswa. Dengan demikian. Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 4 No. : Oktober-Desember Vol. 4 No. : Oktober-Desember Hal. DOI: doi. org/10. 47233/jpst. pembelajaran di sekolah dasar tidak hanya berorientasi pada pencapaian hasil akademik, tetapi juga pada pengembangan potensi, sikap positif, dan kesiapan belajar siswa untuk jenjang pendidikan selanjutnya. Sebagai penutup, proses evaluasi secara berkala menjadi kunci untuk mengukur efektivitas dari setiap intervensi yang telah diberikan. Guru perlu bersikap fleksibel dalam menyesuaikan metode jika hasil yang dicapai belum menunjukkan kemajuan signifikan pada aspek emosional maupun akademik siswa. Penanganan yang tepat dan responsif tidak hanya membantu siswa mengejar ketertinggalan materi, tetapi juga membangun resiliensi mental yang kuat. Dengan rasa percaya diri yang pulih, siswa akan kembali memiliki motivasi intrinsik untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan tanpa rasa takut, yang menjadi fondasi utama bagi keberhasilan mereka di masa depan. KESIMPULAN Hasil kajian menunjukkan bahwa kesulitan belajar di sekolah dasar bukanlah fenomena tunggal, melainkan hasil interaksi antara faktor internal . ognitif, motorik halus, minat, motivasi, gaya belaja. dan faktor eksternal . etode pengajaran, lingkungan belajar, materi, media pembelajara. Kesulitan ini paling banyak muncul pada mata pelajaran matematika dan pelajaran inti lain yang menuntut kemampuan berpikir Kesulitan dan permasalahan belajar siswa sekolah dasar merupakan kondisi yang kompleks karena dipengaruhi oleh keterkaitan antara faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi kemampuan kognitif, perkembangan motorik halus, minat, motivasi, serta perbedaan gaya belajar siswa. Sementara itu, faktor eksternal mencakup metode pengajaran guru, lingkungan belajar, penyusunan materi pembelajaran, serta pemanfaatan media pembelajaran. Apabila kedua faktor tersebut tidak dikelola dengan baik, proses pembelajaran menjadi kurang optimal dan siswa berpotensi mengalami hambatan belajar secara berkelanjutan. Dengan demikian, identifikasi dini terhadap hambatan internal dan eksternal menjadi kunci utama. Melalui pendekatan yang berpusat pada siswa . tudent-centere. serta penggunaan media yang konkret, hambatan belajar yang bersifat abstrak dapat dijembatani, sehingga siswa tidak hanya mampu menguasai materi, tetapi juga memiliki kepercayaan diri untuk terus berkembang. Secara keseluruhan, kesulitan belajar di sekolah dasar adalah tantangan multifaktor yang memerlukan penanganan komprehensif. Melalui integrasi antara metode pengajaran yang kreatif, media yang tepat, serta dukungan penuh dari lingkungan keluarga, hambatan-hambatan tersebut dapat diminimalisir demi mewujudkan pengalaman belajar yang bermakna dan berkelanjutan bagi siswa. Guru harus memiliki pemahaman mendalam tentang karakteristik siswanya dan mampu merancang pembelajaran yang sesuai tahap perkembangan anak. Guru perlu memanfaatkan media pembelajaran konkret dan interaktif, menyajikan materi secara bertahap, dan mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman nyata Peran keluarga dan lingkungan juga tidak kalah penting. dukungan orang tua dalam menyediakan waktu belajar yang kondusif, serta komunikasi guruAeorang tua dapat memperkuat keberhasilan pembelajaran. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesulitan belajar siswa sekolah dasar tidak dapat dipahami secara parsial, melainkan perlu dilihat sebagai hasil dari keterkaitan berbagai aspek perkembangan anak dan lingkungan belajar. Setiap siswa memiliki karakteristik dan kebutuhan belajar yang berbeda, sehingga pendekatan pembelajaran yang bersifat seragam cenderung kurang efektif dalam mengakomodasi perbedaan Oleh karena itu, pemahaman guru terhadap kondisi siswa menjadi dasar penting dalam merancang proses pembelajaran yang lebih adaptif. Selain itu, ketidaksesuaian antara tahap perkembangan berpikir siswa dan penyajian materi pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran matematika, menjadi salah satu penyebab utama munculnya hambatan belajar. Materi yang disampaikan tanpa dukungan contoh konkret dan pengalaman nyata menyulitkan siswa untuk membangun pemahaman konsep secara utuh. Dampaknya tidak hanya terlihat pada rendahnya hasil belajar, tetapi juga pada menurunnya motivasi, rasa percaya diri, serta keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, upaya mengatasi kesulitan belajar perlu dilakukan melalui penerapan strategi pembelajaran yang variatif, kontekstual, dan berorientasi pada kebutuhan siswa. Guru diharapkan mampu memanfaatkan media pembelajaran konkret dan interaktif, menyajikan materi secara bertahap, serta memberikan bimbingan dan penguatan positif secara berkelanjutan. Dukungan lingkungan belajar yang Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 4 No. : Oktober-Desember Vol. 4 No. : Oktober-Desember Hal. DOI: doi. org/10. 47233/jpst. kondusif serta kerja sama antara guru, sekolah, dan orang tua juga menjadi faktor pendukung penting dalam menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan bermakna bagi siswa sekolah dasar. UCAPAN TERIMAKASIH Saya mengucapkan penghargaan yang tulus kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam pelaksanaan penelitian ini. Terima kasih saya sampaikan pula kepada para ahli dan peneliti terdahulu, yang pemikirannya menjadi fondasi penting bagi perkembangan kajian ini. Saya juga sangat berterima kasih kepada teman-teman yang tak henti memberikan dorongan, baik berupa semangat maupun perhatian, selama proses penelitian berlangsung. Setiap dukungan yang saya terima sangat berarti dan membantu kelancaran seluruh rangkaian kegiatan penelitian. Tanpa bantuan dan keterlibatan dari berbagai pihak, penelitian ini tidak mungkin terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, saya menyampaikan rasa terima kasih yang sedalamdalamnya. DAFTAR PUSTAKA