JOURNAL OF ISLAMIC STUDIES Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia https://journals. iai-alzaytun. id/index. php/jis E-ISSN: 2988-0947 Vol. 2 No. : 552-562 DOI: https://doi. org/10. 61341/jis/v2i5. PERAN KOMUNIKASI VERBAL DALAM PENANAMAN AKHLAK PADA TEMAN SEBAYA SANTRI KELAS 9 MAAoHAD AL-ZAYTUN Fitri Nurjanah1A. Imang Maulana2. Muhammad N. Abdurrazaq3 Komunikasi dan Penyiaran Islam. Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia E-mail:fitrinurjanah1921@gmail. com1A,imang. 63@gmail. com2, kholis@iai-alzaytun. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk komunikasi verbal yang terjadi antar santri dalam proses pembinaan akhlak terhadap teman sebaya di kelas 9 MaAohad Al-Zaytun Indramayu, serta untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat efektivitas komunikasi verbal dalam penanaman akhlak tersebut. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 619 santri, dengan sampel yang diambil sebanyak 6 orang santri. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi verbal memiliki peran yang signifikan dalam penanaman akhlak di kalangan teman sebaya santri kelas 9. Proses komunikasi ini melibatkan interaksi antara santri sebagai pihak yang memberikan pembinaan akhlak dan santri lainnya sebagai penerima. Elemen-elemen penting yang teridentifikasi dalam komunikasi tersebut meliputi empati, pemberian umpan balik, komunikasi terbuka dan tertutup, kerendahan hati, motivasi, konsistensi dalam penyampaian nilai-nilai akhlak, kemampuan menangani konflik, serta kesinambungan dalam proses pembinaan. Kata Kunci: komunikasi, verbal, akhlak Abstract This study aims to examine the forms of verbal communication that occur among students in the process of character development toward their peers in Grade 9 at MaAohad Al-Zaytun Indramayu, as well as to identify the supporting and inhibiting factors influencing the effectiveness of verbal communication in instilling moral values. The population of this study consists of 619 students, with a sample of 6 selected participants. The research employs a qualitative approach with a descriptive research design. Based on the results of the study, verbal communication was found to play a significant role in the internalization of moral values among Grade 9 students. This communication involves interactions between students who provide moral guidance and those who receive it. Key elements identified in this process include empathy, feedback provision, both open and closed communication, humility, motivation, consistency in conveying moral values, conflict resolution, and continuity in the guidance process. Keywords: communication, verbal, morals 552 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Fitri Nurjanah. Imang Maulana. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 552-562 PENDAHULUAN Anak-anak muda berada dalam fase perkembangan yang sangat dinamis, di mana mereka membutuhkan berbagai stimulus untuk mengoptimalkan proses kognitif dan emosional dalam menyerap serta memahami informasi. Proses ini tidak hanya bergantung pada faktor internal seperti kemampuan intelektual dan kesiapan mental, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial serta kualitas komunikasi yang mereka terima. Dalam konteks ini, komunikasi menjadi aspek fundamental yang menentukan bagaimana individu, terutama generasi muda, menginterpretasikan, mengolah, dan merespons informasi yang mereka terima. Liliweri . , dalam bukunya Komunikasi Serba Ada Serba Makna, menegaskan bahwa komunikasi memiliki beberapa tujuan utama yang bersifat esensial dalam kehidupan manusia. Pertama, komunikasi merupakan suatu proses di mana elemenelemen fundamental yang mendasari pemahaman terhadap manusia dan kemanusiaan dapat terbentuk dan berkembang. Artinya, komunikasi bukan sekadar alat untuk bertukar informasi, tetapi juga merupakan sarana untuk membentuk identitas, memahami nilainilai sosial, serta membangun relasi yang bermakna. Kedua, komunikasi memiliki peran yang sangat signifikan dalam interaksi sosial, baik dalam lingkup individu, kelompok, maupun organisasi. Dalam konteks sosial, komunikasi menjadi instrumen utama dalam membangun hubungan interpersonal, menyampaikan gagasan, serta menciptakan kesepahaman dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat. Ketiga, komunikasi berkaitan erat dengan cara manusia merespons stimulus pesan yang berasal dari lingkungan eksternal. Proses ini terjadi ketika individu tidak hanya menerima dan memahami pesan, tetapi juga menafsirkannya sesuai dengan latar belakang pengalaman, perspektif, serta kondisi psikologis yang dimiliki. Dengan demikian, komunikasi bukan sekadar aktivitas pertukaran informasi, tetapi juga merupakan mekanisme yang berperan dalam membentuk pola pikir, sikap, serta perilaku individu, terutama bagi anak muda yang masih berada dalam tahap eksplorasi dan pembentukan identitas diri. Oleh karena itu, memahami komunikasi secara mendalam menjadi aspek yang sangat penting dalam mengembangkan pola interaksi yang lebih efektif dan konstruktif dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini dilakukan di MaAohad Al-Zaytun karena lembaga tersebut memiliki potensi besar sebagai objek kajian akademik, khususnya dalam konteks pendidikan, komunikasi, dan pembinaan karakter. Sebagai salah satu institusi pendidikan berbasis pesantren yang memiliki sistem pembelajaran komprehensif. MaAohad Al-Zaytun menyediakan lingkungan yang kaya akan interaksi sosial serta pola komunikasi yang menarik untuk dianalisis, terutama dalam konteks pembinaan akhlak dan penguatan 553 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Fitri Nurjanah. Imang Maulana. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 552-562 nilai-nilai keislaman di kalangan santri. Selain itu, pemilihan lokasi penelitian ini juga didasarkan pada pengalaman pribadi peneliti yang sebelumnya telah memiliki keterlibatan dengan institusi tersebut, sehingga mempermudah dalam proses observasi, wawancara, serta pengumpulan data secara lebih mendalam dan objektif. Fokus penelitian ini pada santri kelas 9 memiliki alasan yang kuat, mengingat kelompok usia ini berada dalam fase transisi dari remaja awal menuju remaja Perubahan tahap perkembangan ini berimplikasi pada dinamika psikologis, sosial, dan emosional yang cukup signifikan, terutama dalam aspek interaksi sosial dan pembentukan identitas diri. Berdasarkan teori perkembangan remaja, anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP), khususnya mereka yang berusia 13-15 tahun, dikategorikan sebagai remaja awal. Pada tahap ini, individu mulai mengalami perubahan biologis yang mempengaruhi aspek emosional dan sosial mereka, termasuk dalam hal penerimaan dan pemberian nilai-nilai moral dalam lingkungan pergaulan. Masa remaja dapat diklasifikasikan ke dalam tiga tahap utama, yaitu remaja awal . Ae15 tahu. , remaja pertengahan . Ae18 tahu. , dan remaja akhir . Ae22 tahu. Setiap tahap menunjukkan karakteristik perkembangan yang berbeda. Pada tahap remaja awal, individu cenderung mulai mencari identitas diri, mengalami peningkatan kesadaran sosial, serta mulai membentuk nilai dan norma yang diinternalisasi dari lingkungan Adapun pada tahap remaja pertengahan, mulai berkembang kemandirian berpikir serta kemampuan memahami konsep-konsep abstrak, termasuk nilai moral dan etika yang diperoleh melalui pendidikan formal maupun nonformal (Saputra et al. , 2. Dengan demikian, penelitian ini menjadi relevan karena menyoroti bagaimana komunikasi verbal dalam lingkungan pesantren dapat berperan dalam pembentukan akhlak pada santri kelas 9 yang tengah berada dalam fase perkembangan penting. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan lebih dalam mengenai efektivitas komunikasi dalam membentuk karakter remaja, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam proses penanaman nilai moral di lingkungan pesantren. Kelas 9 atau usia 15-18 tahun mengalami penyusaian dengan dirinya sendiri, lingkungannya seperti teman-teman, sekolah maupun keluarga. Masa remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa kanakkanak menuju masa dewasa. Yang mana pada masa ini, remaja mengalami berbagai perubahan, baik fisik . aid pada anak perempuan dan mimpi basah pada anak laki-lak. maupun psikis . Akibat dari banyaknya perubahan yang terjadi pada remaja, maka remaja mulai memasuki masa penuh guncangan dan tantangan (Wendari, 2. 554 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Fitri Nurjanah. Imang Maulana. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 552-562 Penelitian dilakukan terpusat pada komunikasi verbal dikarenakan agar peneliti fokus akan hal yang ingin diteliti seperti komunikasi sehari-hari yang dilakukan oleh sample yaitu santri kelas 9 MaAohad Al-Zaytun. Anak-anak pada usia remaja sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan mereka. Oleh karena itu, pengenalan dan penanaman akhlak pada anak-anak usia remaja sangat penting karena mereka harus memperoleh pengetahuan moral yang baik untuk membentuk pribadinya di kemudian hari. Roswitha (Ndraha, 2. mengemukakan bercerita merupakan metode komunikasi bangsa indonesia yang sudah berlangsung dari generasi ke generasi, namun makin dilupakan masyarakat. Akhlak juga merupakan bagian dari identitas seseorang, jika menunjukkan perilaku yang baik, orang akan memberikan penilaian yang positif tentang dirinya, begitu pula sebaliknya (Rahmantasari, 2. Akhlak juga akan menuntun seseorang dalam hidupnya di masyarakat, dengan akhlak yang baik akan menuntunnya dalam kehidupan Di dalam Al-Quran dijelaskan ayat-ayat yang berkaitan dengan komunikasi yang baik ialah: QS. Thaha Ayat 43-4 AaN eN aN aN eO aN E O aN eN aN eN aN O aN acI aNO aN E oA AaNCaN eN aNaEO aN aNOCaN eN aEO acIOaNcNI O acIaNEacI aNOOaNaNaN acIE aN O aN eNoaN eN E OA AuPergilah kamu berdua kepada Firaun, karena dia benar-benar telah melampaui batas. Ay AuMaka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Firau. dengan kata-kata yang lemah lembut,mudah-mudahan dia sadar atau takut. Ay QS. Al-Baqarah Ayat 83 AOOCaN aN O aNEIacI aNOA AOO eN aNI aNA AOOaN eN aN aN aNO aNeNIOuaNeN aNA A aNE aNA AOI aNA AOO eNOaN aN aNI E aNA AOO aNOO eNCaN eN aN E aNA A aNA AaNaEO aN eN aNaNO aN OuaN acIaEO EacIA aN aNA AaN eNIA AuJanganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia,Ay (QS Al-Baqarah: . Pada ayat di atas kita diminta agar menjaga akhlak kita. Ketika menemukan fenomena remaja yang kesehariannya sering sekali kita dengar mengucapkan ungkapanungkapan yang tidak sesuai dengan akhlak. Hal ini bertentangan dengar ajaran Islam serta ilmu yang dimiliki oleh remaja itu sendiri mengingat, bahwa mahasiswa adalah kelompok yang belum memiliki banyak pengetahuan untuk memilah banyaknya informasi yang masuk. Mereka sangat diharapkan menjadi generasi penerus bangsa. Namun, apabila terdapat remaja yang sering berperilakuan buruk, hal tersebut merupakan salah satu tugas dari Pembina atau peserta didik untuk lebih menjaga perilaku 555 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Fitri Nurjanah. Imang Maulana. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 552-562 Aspek afeksi dalam penanamannya memerlukan praktek langsung, mereka perlu dibiasakan . tentang nilai-nilai tertentu yang akan ditanamkan. Peneliti ingin meneliti peran komunikasi dalam akhlak tidak akan pernah lepas dari makna sosial sehari-hari dengan siapa, kapan, dan di mana kita menerapkanakhlak Komunikasi verbal terjadi ketika orang yang mengirim pesan . dan orang yang menerima pesan . berbicara satu sama lain. Isyarat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi disebut kata-kata yang kita ucapkan. Seringkali, komunikasi verbal adalah komponen utama dari komunikasi. Sebagian besar komunikasi verbal terjadi secara langsung, tetapi komunikasi semakin luas dengan instrumen atau perangkat elektronik seperti telepon dan surat elektronik. Simbol verbal, seperti penggunaan bahasa melalui rangkaian kata atau kalimat, merupakan komponen paling penting dalam komunikasi verbal. Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk memahami aklak yang baik dan cara menggunakannya dengan benar agar dapat memanfaatkannya sebagai alat yang efektif dalam komunikasi sehari-hari. Meneliti dari orang yang menerapkan langsung atau mengalami langsung. Perubahan makna pada aklak yang disebabkan maka jika digunakan kepada teman dekat/komunitas. METODE Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deksriptif. Populasi dalam penelitian ini yaitu santri kelas 9 pada MaAohad Al-Zaytun yaitu berjumlah 619 santri. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling. Menurut Prof. Dr. Sugiyono metode penelitian kualitatif dinamakan sebagai metode baru, karena popularitasnya belum lama, metode ini juga disebut dengan metode postpositivistik karena berlandaskan pada filsafat postpositivistik(Sugiyono, 2. Teknik ini sangat berguna untuk memahami bagaimana santri kelas 9 memahami dan menerapkan akhlak yang telah ditanamkan dalam komunikasi sehari-hari mereka. Dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan jenis penelitian deskriptif, peneliti dapat memperoleh pemahaman yang menyeluruh dan mendalam tentang peran komunikasi verbal dalam penanaman akhlak pada kalangan HASIL DAN PEMBAHASAN 556 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Fitri Nurjanah. Imang Maulana. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 552-562 Pembelajaran bagi santri Tsanawiyah kelas 9 di MaAohad Al-Zaytun telah dimulai sejak pembukaan pada tanggal 1 Juli 1999. Salah satu tujuan utama pendirian MaAohad AlZaytun adalah untuk meningkatkan kualitas peserta didik di Indonesia dengan membentuk karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Al-QurAoan dan sunnah Nabi Muhammad Saw. Dalam keseharian, kegiatan pembelajaran berlangsung secara intensif, memungkinkan terjadinya interaksi dan komunikasi verbal yang cukup tinggi di antara para santri. Kegiatan para santri dimulai sejak pukul 04. 00 hingga 21. 00 WIB. Rentang waktu tersebut memberikan ruang yang luas untuk terjadinya komunikasi verbal, yang sekaligus menjadi sarana efektif dalam proses penanaman akhlak. Komunikasi verbal merupakan salah satu bentuk komunikasi yang paling umum digunakan dalam kehidupan seharihari, termasuk dalam konteks pendidikan pesantren. Untuk memahami lebih jauh peran komunikasi verbal dalam penanaman akhlak di lingkungan MaAohad Al-Zaytun, khususnya di kalangan santri kelas 9 Tsanawiyah, peneliti menyajikan beberapa temuan dan pandangan terkait. Dalam interaksi antarsantri, komunikasi verbal terbukti memainkan peran penting dalam membantu proses penyampaian dan penerimaan nilai-nilai akhlak. Penerimaan yang baik dari santri terhadap nasihat dan bimbingan yang disampaikan oleh teman sebaya, memungkinkan proses penanaman akhlak berlangsung dengan lebih efektif dan alami. Menariknya, dalam proses penanaman akhlak tersebut, guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi atau figur sentral. Sebaliknya, santri memiliki kesempatan untuk belajar secara mandiri, mencari serta memecahkan masalah secara aktif dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar. Sebagaimana dikemukakan oleh Gusmaneli . , hal ini mendorong lahirnya sistem belajar yang lebih partisipatif dan reflektif. Berdasarkan hasil observasi di lapangan, peneliti menemukan bahwa komunikasi verbal dalam penanaman akhlak terjadi secara spontan saat para santri berinteraksi di sela-sela kegiatan harian, seperti saat berbincang atau bercengkerama. Meskipun santri berasal dari latar belakang budaya yang beragam, hal tersebut tidak menjadi hambatan dalam proses saling memberi dan menerima nilai-nilai akhlak. Justru, keberagaman ini memperkaya proses pembelajaran dan membentuk pemahaman yang tinggi mengenai toleransi dan penerimaan terhadap perbedaan. Pentingnya peran komunikasi verbal dalam penanaman akhlak antar santri kelas 9 terlihat dari kemampuan mereka dalam memahami dan menerapkan nilai-nilai akhlak yang disampaikan oleh teman sebaya secara baik dan efektif. Proses ini menunjukkan bahwa komunikasi verbal menjadi sarana utama dalam menyampaikan pesan-pesan moral secara jelas dan dapat diterima oleh sesama santri. Selain itu, hambatan yang 557 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Fitri Nurjanah. Imang Maulana. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 552-562 muncul dalam proses komunikasi ini umumnya dapat diatasi dengan baik. Hal ini didukung oleh kemampuan masing-masing santri untuk memahami karakteristik pribadi . isi individuali. teman mereka serta menentukan sikap yang tepat dalam merespons berbagai situasi. Sebagai bentuk konkret dari komunikasi yang positif, para santri melakukan pendekatan yang mendukung penanaman akhlak, antara lain melalui forum berbagi atau sharing session. Forum ini menjadi wadah untuk menyampaikan keluh kesah, berbagi ide, dan mencari solusi bersama, yang pada akhirnya memperkuat hubungan antar santri serta menciptakan lingkungan yang saling mendukung secara emosional dan sosial. Selanjutnya, aspek kesetaraan dan kesadaran kolektif di antara santri kelas 9 MaAohad Al-Zaytun juga memegang peran penting dalam menciptakan iklim sosial yang adil. Tidak adanya diskriminasi serta terciptanya perhatian yang merata di antara para santri mencerminkan keberhasilan penanaman akhlak melalui komunikasi yang setara dan saling menghargai. Komunikasi verbal pun tidak hanya terjadi di lingkungan kelas, tetapi juga berlangsung aktif di asrama, yang menjadikannya bagian integral dalam kehidupan sehari-hari santri. Lebih lanjut, komunikasi verbal memiliki keterkaitan erat dengan komunikasi Komunikasi interpersonal, atau yang sering disebut sebagai komunikasi antarpribadi, terjadi ketika seseorang berinteraksi langsung dengan orang lain untuk berbagi perasaan, gagasan, informasi, atau emosi (Al-Haritsyah et al. , 2. Komunikasi ini tidak hanya berlangsung secara verbal, tetapi juga secara nonverbal melalui bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan intonasi suara. Oleh karena itu, pemahaman yang baik terhadap komunikasi interpersonal dapat memperkaya efektivitas komunikasi verbal dalam proses penanaman akhlak di kalangan santri. Berikut beberapa poin penting komunikasi interpersonal di peran komunikasi verbal dalam penanaman akhlak antar teman sebaya santri kelas 9 MaAohad Al-Zaytun: Keterbukaan Keterbukaan adalah sikap dan kemampuan seseorang untuk bersikap transparan, jujur, dan menerima informasi, pendapat, atau perasaan dari orang lain tanpa prasangka. Peneliti melihat adanya keterbukaan antar sesama santri sehingga penanaman akhlak mudah di lakukan seperti yang dikatakan oleh Nisrina Amalia selaku wakil ketua MPK Empati Empati adalah kemampuan untuk memahami dan menghargai perasaan orang lain. Peneliti melihat adanya empati antar santri kelas 9 dikarenakan rasa yang didapat saat 558 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Fitri Nurjanah. Imang Maulana. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 552-562 melakukan banyak kegiatan bersama-sama setiap harinya, tinggal bersama akan tetapi masih ada santri yang kurang berempati dan menyepelekan santri lainnya. Sikap mendukung Sikap mendukung adalah tindakan memberikan dorongan, bantuan, atau dukungan emosional kepada orang lain. Terdapat sikap mendukung yang dapat dilihat dari hasil wawancara dengan Chiesawa yang mengatakan bahwa ia didukung untuk memberi penanaman akhlak dan belajar untuk lebih percaya diri lagi berbicara didepan umum. Sikap Positif Sikap positif adalah cara pandang dan respons yang optimis dan konstruktif terhadap berbagai situasi. Sikap positif bisa didorong dari pertemuan seperti Ijtima. Musyawarah, forum sharing-sharing dan juga perkumpulan khusus seperti di kelas oleh ketua kelas dan santri. Mendorong, menciptakan sikap positif serta kedekatan antar santri kelas 9 MaAohad Al-Zaytun. Kesetaraan Kesetaraan adalah prinsip bahwa setiap individu harus diperlakukan sama dan memiliki hak, kesempatan, dan perlakuan yang setara tanpa diskriminasi. Adanya kesetaraan dari hasil wawancara dengan Chiesawa sebagai tim disiplin dan juga ketua kelas 9N bahwa ia tidak membeda-bedakan berkomunikasi dengan santri lainnya walau mungkin ada beberapa yang diberi pemahaman khusus untuk pemberian penanaman akhlak itu sendiri. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Komunikasi Verbal Antar Teman Sebaya Santri Kelas 9 MaAohad Al-Zaytun Faktor Pendukung Dalam faktor pendukung yang dihadapi oleh santri nisa dan santri rijal kelas 9 MaAohad Al-Zaytun, terlihat bahwa keduanya memiliki pendekatan yang berbeda namun saling melengkapi dalam konteks interaksi sosial dan komunikasi. Santri nisa, dengan banyaknya teman yang memiliki pola pikir berbeda namun pemahaman yang sama, mendapatkan keuntungan dari keberagaman ide yang ada di sekelilingnya. Hal ini membuat interaksi menjadi dinamis dan menarik karena adanya perbedaan sudut pandang yang memperkaya diskusi. Selain itu, dukungan antar santri juga menjadi faktor penting yang memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas di antara mereka, sehingga santri nisa merasakan kenyamanan dalam berbagi pemikiran dan pengalaman. Sifat asik atau seru dalam obrolan juga menambah nilai positif dalam interaksinya, karena menciptakan suasana yang menyenangkan dan tidak membosankan. 559 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Fitri Nurjanah. Imang Maulana. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 552-562 Di sisi lain, santri rijal lebih menekankan pentingnya lingkungan yang kondusif, di mana tidak ada jarak dalam komunikasi, sehingga interaksi bisa dilakukan secara langsung dan lebih intensif. Keterbukaan dan pemahaman antar budaya menjadi pilar utama dalam membangun hubungan yang harmonis. Dengan tidak ada yang ditutupi, komunikasi menjadi lebih transparan dan jujur, yang pada akhirnya memperkuat kepercayaan di antara para santri. Selain itu, santri rijal juga menekankan pentingnya penghargaan terhadap perbedaan pendapat dan kebudayaan yang ada. Dengan memahami kebudayaan yang berbeda dan menghargai perbedaan tersebut, santri rijal menciptakan lingkungan yang inklusif, di mana setiap individu merasa dihargai dan Secara keseluruhan, meskipun pendekatan yang diambil oleh santri nisa dan santri rijal kelas 9 MaAohad Al-Zaytun berbeda, keduanya menunjukkan bahwa interaksi sosial yang efektif membutuhkan kombinasi dari dukungan, keterbukaan, dan penghargaan terhadap perbedaan. Santri nisa lebih menekankan pada aspek keseruan dan dinamika dalam obrolan, sementara santri rijal lebih fokus pada pentingnya lingkungan yang kondusif dan keterbukaan antar budaya. Keduanya memiliki peran yang krusial dalam menciptakan komunikasi yang sehat dan produktif di antara para santri. Faktor Penghambat Dalam menghadapi faktor penghambat, santri rijal dan santri nisa kelas9 MaAohad AlZaytun menemui berbagai tantangan yang mempengaruhi efektivitas komunikasi verbal di antara para santri. Santri rijal menghadapi kendala yang muncul dari perbedaan pendapat dan karakteristik antar santri, yang membuat penanaman akhlak menjadi sulit. Selain itu, komunikasi yang kurang efektif dan perbedaan pemahaman di antara santri memperburuk situasi, menyebabkan beberapa di antara mereka meremehkan upaya kata-kata Hal mengakibatkan komunikasi yang berantakan dan tidak terarah. Sementara itu, santri nisa menghadapi tantangan berbeda, seperti penggunaan katakata kasar yang membuat komunikasi terasa tidak nyaman. Mereka juga harus mengatasi kecanggungan dan kurangnya rasa percaya diri saat berkomunikasi dengan kelompok yang lebih besar. Keberagaman pola pikir yang berasal dari latar belakang yang berbeda semakin memperumit komunikasi verbal, karena pengertian dan kesepakatan menjadi sulit dicapai. Meskipun keduanya dihadapkan pada tantangan yang berbeda, baik santri rijal maupun santri nisa kelas 9 MaAohad Al-Zaytun perlu menemukan cara untuk mengatasi hambatan-hambatan ini agar komunikasi verbal dapat berjalan lebih efektif dan akhlak dapat ditanamkan dengan lebih baik di antara para santri (Hamidah, 2. 560 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Fitri Nurjanah. Imang Maulana. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 552-562 Untuk memperkuat efektivitas komunikasi verbal dalam penanaman akhlak antar teman sebaya di MaAohad Al-Zaytun, penting kiranya dilakukan pembinaan rutin yang menekankan pada pengembangan keterampilan komunikasi interpersonal, seperti pelatihan empati, cara menyampaikan pesan dengan santun, serta membangun kepercayaan antar santri. Selain itu, lembaga dapat memfasilitasi lebih banyak ruang dialog melalui forum terbuka, kelompok diskusi kecil, atau kegiatan mentoring yang melibatkan santri senior sebagai teladan akhlak. Penguatan nilai-nilai toleransi dan penerimaan terhadap keberagaman budaya juga perlu terus digalakkan melalui pendekatan yang kontekstual dan dialogis. Pendampingan emosional secara berkala oleh guru atau pembimbing asrama juga menjadi langkah penting untuk membantu santri yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi atau menyampaikan perasaan. Dengan demikian, iklim sosial yang mendukung tumbuhnya akhlak mulia dapat terus terpelihara dan berkembang di lingkungan pesantren. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai peran komunikasi verbal dalam penanaman akhlak pada teman sebaya santri kelas 9 di MaAohad Al-Zaytun, dapat disimpulkan bahwa komunikasi verbal memiliki kontribusi yang signifikan dalam membentuk nilai-nilai akhlak di kalangan santri. Analisis terhadap peran komunikasi verbal menunjukkan adanya perbedaan pendekatan antara santri nisa dan santri rijal. Santri nisa cenderung mengedepankan aspek internal dan interpersonal dengan pendekatan persuasif serta kolaboratif, sedangkan santri rijal lebih menitikberatkan pada pendidikan formal dengan metode struktural dan edukatif. Meskipun terdapat perbedaan dalam pendekatan tersebut, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni menanamkan akhlak yang baik di lingkungan teman sebaya. Sinergi antara pendekatan santri nisa dan santri rijal berpotensi mengoptimalkan proses penanaman akhlak melalui komunikasi yang lebih efektif, jelas, dan mendukung perkembangan individu secara holistik. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam proses komunikasi verbal terkait penanaman akhlak di kalangan santri kelas 9 MaAohad Al-Zaytun. Santri nisa dan santri rijal menghadapi tantangan dalam menerapkan komunikasi verbal secara efektif, namun mereka mengatasinya dengan pendekatan yang saling melengkapi. Santri nisa lebih mengandalkan keberagaman ide dan dukungan sosial, meskipun dihadapkan pada kendala seperti penggunaan bahasa yang kurang tepat dan kecanggungan dalam berkomunikasi. Sebaliknya, santri rijal menekankan pada pembentukan lingkungan yang kondusif dan transparan, meskipun sering kali harus menghadapi perbedaan karakteristik individu yang memengaruhi efektivitas komunikasi. 561 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Fitri Nurjanah. Imang Maulana. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 552-562 Melalui konsistensi dalam menanamkan nilai-nilai akhlak serta upaya perbaikan dalam ekspresi verbal, kedua kelompok santri berkontribusi dalam menciptakan komunikasi yang lebih harmonis dan membangun hubungan sosial yang positif di lingkungan MaAohad Al-Zaytun. DAFTAR PUSTAKA