KAMBOTI / Volume 4 Nomor 1. Oktober 2023 P-ISSN: 2746-4768 E-ISSN: 2746-475X KAMBOTI Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Analisis Recovery Orang Dengan Gangguan Jiwa di Kepulauan Maluku Fandro Armando Tasijawa1*. Suryani2. Tanwey Gerson Ratumanan3. Ricardo Freedom Nanuru4. Hennie Tuhuteru5. Alfian Reymon Makaruku6. Goldy Valendria Nivaan7. Valensya Yeslin Tomasoa8. Vanny Leutualy9. Devita Madiuw10. Joan Herly Herwawan11. Emma Khumairah Hentihu12 Fakultas Kesehatan. Universitas Kristen Indonesia Maluku. fandrotasidjawa@gmail. Fakultas Keperawatan. Universitas Padjadjaran. suryani@unpad. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Pattimura. gratumanan@yahoo. Fakultas Teologi. Universitas Kristen Indonesia Maluku. ricardonanuru632@gmail. Fakultas Ilmu Komputer. Universitas Kristen Indonesia Maluku. hannytuhuteru@gmail. Fakultas Hukum. Universitas Kristen Indonesia Maluku. alfinreym234@gmail. Fakultas Ilmu Komputer. Universitas Kristen Indonesia Maluku. valendria17@gmail. Fakultas Kesehatan. Universitas Kristen Indonesia Maluku. valensyayeslintomasoa@yahoo. Fakultas Kesehatan. Universitas Kristen Indonesia Maluku. vannyleutualy@gmail. Fakultas Kesehatan. Universitas Kristen Indonesia Maluku. imasulydevita@gmail. Fakultas Kesehatan. Universitas Kristen Indonesia Maluku. nerzjoan@gmail. Dinas Kesehatan Provinsi Maluku. irhahentihu19@gmail. *Correspondence: fandrotasidjawa@gmail. Abstract: Mental health is still an issue that has not received optimal attention from various It is because there is a large treatment gap with most mental illness disorders not yet detected, there are still many health workers who have not been trained in mental health screening and management programs, and the treatment gap means that many People With Mental Illness (ODGJ) have not treated. This requires an analysis of recovery in the Maluku Islands region to give meaning to the lives of ODGJ even though they experience relapse. The research aims to analyze the recovery of ODGJ in the Maluku Islands region. This research used a cross-sectional approach with 268 respondents spread across five districts/cities of the Maluku Islands. The data analysis used in this research is univariate, bivariate, and The research results show that most respondents live in Central Maluku . 5%). In the bivariate analysis, it was found that the variables gender, religion, marital status, education level, duration of suffering from schizophrenia, living in the same house, drug consumption, and visits to the health center were significantly related to ODGJ recovery . <0. Meanwhile, the variables' age and distance from home to the health center showed a statistically insignificant relationship with ODGJ recovery . >0. Meanwhile, multivariate analysis shows that ODGJ living at home is the strongest predictor (OR=8. 95% CI=4. among other variables that influence the recovery of ODGJ in the Maluku Islands. The findings of this research are crucial for developing interventions and policies to promote institutional recovery in the Maluku Islands. Keywords: mental health. maluku islands. people with mental illness. Abstrak: Kesehatan jiwa masih menjadi salah satu isu yang belum mendapat perhatian optimal dari berbagai pihak. Hal ini karena terdapat treatment gap yang besar dengan sebagian besar gangguan jiwa berat yang belum terdeteksi, masih banyak petugas kesehatan yang belum terlatih dalam program skrining dan tata laksana kesehatan jiwa, kesenjangan pengobatan sehingga banyak ODGJ yang belum diobati. Hal ini membutuhkan analisis recovery di wilayah kepulauan Maluku untuk memberi arti dalam hidup ODGJ meskipun mengalami KAMBOTI / Volume 4 Nomor 1. Oktober 2023 P-ISSN: 2746-4768 E-ISSN: 2746-475X Tujuan penelitian untuk menganalisis recovery ODGJ di wilayah kepulauan Maluku. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional terhadap 268 responden yang tersebar di lima kabupaten/kota Kepulauan Maluku. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan responden terbanyak berdomisili di Maluku Tengah . 5%). Pada analisis bivariat ditemukan variabel jenis kelamin, agama, status pernikahan, tingkat pendidikan, lama menderita skizofrenia, tinggal serumah, konsumsi obat, dan kunjungan puskesmas secara signifikan berhubungan dengan recovery ODGJ . <0. Sedangkan, variabel umur, dan jarak rumah ke puskesmas secara statistik menunjukkan hubungan yang tidak signifikan dengan recovery ODGJ . >0. Sedangkan analisis multivariat menunjukkan ODGJ yang tinggal serumah sebagai prediktor terkuat (OR=8. 295, 95% CI=4. diantara variabel lainnya yang mempengaruhi recovery ODGJ di Kepulauan Maluku. Temuan penelitian ini penting untuk menyusun intervensi dan kebijakan dalam mempromosikan recovery secara institusional di kepulauan Maluku. Kata Kunci: kesehatan jiwa. kepulauan maluku. orang dengan gangguan jiwa. Pendahuluan Latar Belakang Secara global, orientasi konsep recovery telah menjadi kebijakan kesehatan jiwa nasional di sebagian besar negara maju seperti Inggris. Wales dan Uni Eropa serta membawa perubahan besar pada sistem kesehatan jiwa (Jacob et al. , 2. Konsep recovery telah dikemukakan oleh Anthony tahun 1993 sebagai sebuah visi baru untuk praktik pelayanan kesehatan jiwa. Visi ini mengharuskan kolaborasi antara penyedia layanan kesehatan jiwa dan pengguna layanan (Frost et al. , 2. Namun relatif baru dan masih terbatas bagi tenaga kesehatan di negara berkembang, misalnya pelayanan kesehatan jiwa di Thailand dan Indonesia. Padahal pelayanan kesehatan jiwa pada kedua negara telah terintegrasi ke dalam sistem kesehatan nasional, namun layanan tersebut tidak terkoordinasi dengan baik (Kemenkumham, 2. Hal ini karena pelayanan kesehatan jiwa masih dianggap sebagai prioritas yang rendah oleh pemerintah dan tenaga kesehatan. Beberapa program kesehatan jiwa yang telah dilakukan di Indonesia seperti pengendalian masalah pasung, pemerataan sumber daya kesehatan jiwa, layanan online melalui aplikasi sehat jiwa dan penguatan upaya promotif, preventif, kuratif, serta rehabilitatif di tingkat puskesmas (Kementerian Kesehatan RI, 2. Namun, kebijakan dan pelaksanaannya masih mengalami banyak permasalahan. Permasalahan seperti kurangnya anggaran, program kesehatan fisik lebih diprioritaskan, kurangnya kampanye kesehatan jiwa . erupa iklan,poster dan leafle. , kurangnya pelatihan kesehatan jiwa dan belum tersedianya sumber daya tenaga kesehatan jiwa . sikiater, psikolog dan perawat jiw. di puskesmas (Marchira, 2. Sklar et al. mengungkapkan bahwa proses recovery dapat terjadi pada setiap klien skizofrenia, meskipun gejala akibat penyakitnya masih ada. Misalnya pada klien skizofrenia, walaupun klien masih mendengar suara-suara tapi klien dapat mengabaikan suara tersebut dan tidak mengganggu aktivitas sehari-harinya. Hal ini sejalan dengan beragam penelitian yang telah dilakukan sebelumnya untuk mengumpulkan informasi terkait recovery skizofrenia (Bobes et al. , 2009. Harrow et al. , 2005. Robinson et al. , 2. Harrow et al. mengungkapkan bahwa klien skizofrenia dapat pulih . dari penyakitnya. Penelitian yang di follow up setelah 15 tahun ini melaporkan bahwa 40% responden yang didiagnosis skizofrenia dapat pulih . Penelitian observasional yang di follow up setelah 1 tahun oleh Bobes et al. juga melaporkan dari 452 orang yang didiagnosis skizofrenia, 89,9% atau 376 orang menunjukkan tidak ada gejala kambuh dan memiliki fungsi 14 | P a g e KAMBOTI / Volume 4 Nomor 1. Oktober 2023 P-ISSN: 2746-4768 E-ISSN: 2746-475X sosial yang adekuat. Sejalan dengan penelitian Bobes et al. Robinson et al. melaporkan bahwa 47,2% menunjukkan tidak ada gejala kambuh dan 25,5% memiliki fungsi sosial yang memadai dari 118 orang yang didiagnosis skizofrenia. Beberapa penelitian ini menunjukkan bahwa orang dengan skizofrenia dapat pulih . jika pelayanan kesehatan jiwa terintegrasi dan dioptimalkan oleh tenaga kesehatan (Chettha Kaewprom, 2. Perspektif baru tentang pelayanan kesehatan jiwa yaitu recovery harus dimiliki oleh semua tenaga kesehatan jiwa di Indonesia. Hal ini penting untuk mendorong keterlibatan dan tanggung jawab tenaga kesehatan di puskesmas tentang recovery pada klien gangguan jiwa. Akan tetapi, masih adanya kebingungan tentang konsep recovery di antara penyedia layanan dan pengguna layanan (Bejerholm et al. , 2022. Walsh et al. , 2. Yang mengkhawatirkan bahwa masih terbatas penelitian yang dilakukan untuk membangun pemahaman penanggung jawab program jiwa di tingkat puskesmas, kabupaten/kota tentang recovery skizofrenia di Indonesia. Beberapa penelitian sebelumnya tentang perspektif recovery skizofrenia telah dilakukan di luar negeri dan Indonesia. Di luar negeri, jumlah penelitian terkait recovery meningkat, terutama penelitian yang menggunakan metode kualitatif untuk mengeksplorasi pemahaman tentang recovery dan pengalaman subjektif klien gangguan jiwa (Donald et al. , 2017. Noh. Choe, & Yang, 2008. Petersen et al. , 2015. Rice, 2006. Sanseeha et al. , 2009. Saunders, 2013. Teferra et al, 2013. Tunner & Salzer, 2. Sebaliknya, penelitian terkait perspektif perawat yang berorientasi recovery relatif jarang (Jacob et al. , 2015. Kaewprom et al. , 2011. Nurjannah et al. , 2. Dari beberapa penelitian terkait recovery skizofrenia, sebagian besar penelitian berasal dari negara maju seperti Amerika. Inggris. Australia dan Kanada, sedangkan dari negara-negara berkembang relatif masih sedikit. Sehingga penelitian ini bertujuan menganalisis recovery ODGJ di wilayah Kepulauan Maluku. Metode Penelitian 1 Design penelitian dan sampel Penelitian cross-sectional dilakukan dari bulan September dan Oktober 2023 di Kepulauan Maluku. Populasi pada penelitian ini berjumlah 810 responden dan perhitungan sampel menggunakan rumus Slovin dengan taraf signifikan =0,05. Sampel penelitian terdiri dari 268 responden dari lima kabupaten/kota: Maluku Tengah. Maluku Barat Daya. Buru. Ambon, dan Tual. Responden dipilih menggunakan purposive sampling dengan kriteria responden yang mampu berkomunikasi, tidak melakukan perilaku kekerasan, dan bersedia menjadi 2 Variabel dan instrumen Variabel independen penelitian ini meliputi faktor demografi . mur, jenis kelamin, agama, status pernikahan, tingkat pendidikan, lama menderita skizofrenia, tinggal serumah, konsumsi obat, jarak rumah ke fasilitas kesehatan, dan berapa kali menerima kunjunga. , faktor prodromal, dan recovery. Instrumen untuk mengukur prodromal menggunakan Prodromal Questionnaire (PQ-. dengan uji validitas pada tingkat signifikansi p<. dan uji reliabilitas Cronbach- sebesar Sedangkan recovery diukur menggunakan Recovery Assessment Scale (RAS) dengan uji validitas pada tingkat signifikansi p<. dan uji reliabilitas Cronbach- sebesar . 3 Analisis data SPSS versi 22. 0 menggunakan statistik inferensial chi-square dan regresi logistik. Statistik deskriptif digunakan untuk merangkum karakteristik demografi responden. 15 | P a g e KAMBOTI / Volume 4 Nomor 1. Oktober 2023 P-ISSN: 2746-4768 E-ISSN: 2746-475X Analisis bivariat menggunakan uji chi-square non-parametrik untuk menguji signifikan hubungan antara karakteristik sampel dan recovery. Hasil Penelitian Hasil demografi memberikan wawasan tentang berbagai karakteristik responden. Sebagian besar sampel, yaitu 79 responden . 5%) berdomisili di Maluku Tengah . ambar Selanjutnya 105 responden . 2%) beragama muslim dengan mayoritas berusia 15-24 tahun . 5%). Selain itu, 150 responden . %) berjenis kelamin laki-laki, 136 responden . 7%) belum menikah, dan 107 responden . 9%) berpendidikan SMA. Mayoritas responden . 7%) melaporkan lama menderita skizofrenia 5-10 tahun, dan 221 responden . 5%) tinggal serumah bersama keluarga. Terkait status mengkonsumsi obat, 143 responden . 4%) telah mengkonsumsi obat dengan gejala distress sebanyak 172 responden . 2%). Sementara 122 responden . 5%) memiliki jarak rumah ke puskesmas >5 km dengan kunjungan pihak puskesmas 1-3x sebulan . 2%). Terakhir, 149 responden . 6%) telah melaporkan recovery. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Sosio-Demografi Responden Variabel Kategori Kelompok umur <15 tahun 15-24 tahun 25-50 tahun >50 tahun Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Agama Kristen Protestan Katolik Islam Konghucu Status Pernikahan Menikah Belum menikah Bercerai Tingkat pendidikan Tidak bersekolah SMP SMA Lama menderita skizofrenia < 5 tahun 5-10 tahun 11-20 tahun > 20 tahun Tinggal serumah Sendiri Bersama Keluarga Bersama saudara Konsumsi obat Mengkonsumsi obat Tidak mengkonsumsi obat Jarak rumah ke puskesmas <1 km 1-5 km >5 km Kunjungan ke puskesmas 1-3x sebulan >3x sebulan Belum pernah berkunjung Prodromal Belum muncul gejala Distress Recovery Belum recovery Sudah recovery Sumber: Data primer, 2023 16 | P a g e KAMBOTI / Volume 4 Nomor 1. Oktober 2023 P-ISSN: 2746-4768 E-ISSN: 2746-475X Gambar 1. Pembagian responden berdasarkan wilayah Pada analisis bivariat . , masing-masing variabel jenis kelamin, agama, status pernikahan, tingkat pendidikan, lama menderita skizofrenia, tinggal serumah, konsumsi obat, dan kunjungan puskesmas secara signifikan berhubungan dengan recovery ODGJ . <0. Sedangkan, variabel umur, dan jarak rumah ke puskesmas secara statistik menunjukkan hubungan yang tidak signifikan dengan recovery ODGJ . >0. Tabel 2. Distribusi Presentasi Berdasarkan Karakteristik Demografi dan Recovery ODGJ Recovery ODGJ Variabel Kategori Belum recovery Sudah recovery Total p-value Kelompok umur <15 tahun 15-24 tahun 25-50 tahun >50 tahun Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Agama Kristen Protestan Katolik Islam Konghucu Status Pernikahan Menikah Belum menikah Bercerai Tingkat pendidikan Tidak bersekolah SMP SMA Lama menderita < 5 tahun 5-10 tahun 11-20 tahun > 20 tahun Tinggal serumah Sendiri Bersama Keluarga Konsumsi obat Bersama saudara Mengkonsumsi 17 | P a g e KAMBOTI / Volume 4 Nomor 1. Oktober 2023 P-ISSN: 2746-4768 E-ISSN: 2746-475X Variabel Kategori Tidak Jarak ke <1 km 1-5 km >5 km Kunjungan ke 1-3x sebulan >3x sebulan Belum Sumber: Data primer, 2023 Recovery ODGJ Belum recovery Sudah recovery Total p-value Jenis kelamin, agama, status pernikahan, dan tinggal serumah dilakukan permodelan dari analisis bivariat dengan regresi logistik. Sehingga uji multivariat menunjukkan bahwa variabel tinggal serumah adalah predictor terkuat (OR=8. 295, 95% CI=4. diantara variabel lainnya yang mempengaruhi recovery ODGJ di Kepulauan Maluku. Tabel 3. Variabel Dominan Recovery ODGJ Variabel Jenis kelamin Agama Status pernikahan Tinggal serumah Sumber: Data primer, 2023 p-value 3,220 95% CI Lower Upper Pembahasan Temuan pada penelitian ini mengindikasikan prevalensi ODGJ yang sudah recovery lebih tinggi, namun memiliki gejala distress yang juga tinggi. Hal ini sesuai dengan konsep recovery bahwa ODGJ mampu beradaptasi, menyadari terkait dirinya dan telah berdaya untuk memaknai tujuan hidup, meskipun mengalami keterbatasan karena gejala yang dialami (OAoKeeffe et al. , 2. Sehingga. ODGJ meskipun masih distress, sering relapse, tetapi telah menjalani kehidupan yang bermakna dalam masyarakat maka ODGJ tersebut telah recover. Perjalanan menuju recover bisa menjadi proses yang panjang dan sulit, dipengaruhi oleh banyak faktor baik aspek biologis, fungsional, sosiologis, dan psikologis (Synchez, 2. Ditemukan pada penelitian ini bahwa variabel jenis kelamin, agama, status pernikahan, tingkat pendidikan, lama menderita skizofrenia, tinggal serumah, konsumsi obat, dan kunjungan puskesmas secara signifikan berhubungan dengan recovery ODGJ . <0. Sebuah penelitian oleh Tuffour et al. mengungkapkan bahwa kepercayaan terhadap Tuhan membantu memberikan harapan untuk recover. Selain itu, obat memainkan peran penting dalam proses recovery terutama dalam mengurangi gejala dan membuat survivor dapat berpikir positif. Namun efek obat dapat memberi efek buruk seperti kenaikan berat badan, kelelahan, kehilangan minat secara seksual, hilang ingatan, kesulitan bicara, dan mengganggu kesuburan bagi perempuan (Tuffour et al. , 2. Survivor dalam menemukan kebahagiaan dan kepuasan hidup bisa melalui pekerjaan, memiliki tempat tinggal yang nyaman, memiliki pasangan dan anak, dapat diterima oleh lingkungan dan layanan kesehatan. Hal ini sejalan dengan Castelein. Bruggeman. Davidson, & Gaag . bahwa lingkungan yang mendukung survivor, akan sangat membantu mereka merasakan sense of belonging dan rasa aman. Survivor ketika merasa diterima, maka mereka dapat menjalin hubungan yang berarti, merasa didukung, dan dapat berkontribusi di lingkungan tempat tinggal. Rasa saling memiliki ini dapat membantu survivor meningkatkan 18 | P a g e KAMBOTI / Volume 4 Nomor 1. Oktober 2023 P-ISSN: 2746-4768 E-ISSN: 2746-475X kualitas hidup, menurunkan kemunculan gejala, dan menurunkan kemungkinan dikembalikan ke rumah sakit (Castelein et al. , 2. Sejalan dengan Castelein et al. , penelitian Picton et al. menyatakan bahwa klien skizofrenia yang memiliki tingkat dukungan sosial yang tinggi juga memiliki tingkat kualitas hidup yang tinggi pula. Namun, beberapa lingkungan juga masih menunjukkan sikap negatif kepada ODGJ. ODGJ yang mengalami sikap negatif karena stigma masyarakat seringkali menghindari pengobatan, dan berhenti mengkonsumsi antipsikotik. Hal ini sejalan dengan penelitian bahwa klien skizofrenia akan mengalami tingkat rawat inap yang tinggi jika anggota keluarga mereka menunjukkan sikap mengkritisi dan bermusuhan. Sikap mengkritisi dan bermusuhan akan membuat recovery menjadi lama (Aguilera et al. , 2. Expressed Emotion (EE) memiliki dampak negatif bagi klien skizofrenia seperti more critical comments . anyak mengkriti. , less warmth . urangnya kehangata. , less emotional over-involvement . anyak ikut campu. , and criticism/hostility . enunjukkan permusuhan/kebencia. (Aguilera et al. Lypez et al. , 2. Di Indonesia EE telah diteliti oleh Subandi . Penelitian etnografi selama 12 bulan di Yogyakarta oleh Subandi . menunjukan bahwa orang Jawa sangat memegang prinsip ngemong sehingga baik untuk proses recovery gangguan jiwa. Prinsip ngemong dalam penelitian Subandi . yaitu tidak mengkritisi atau mencela atau menyalahkan, menunjukkan sikap toleran, tidak menuntut, penuh perhatian dan kasih sayang kepada klien gangguan jiwa dalam keluarga Jawa. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian ini bahwa ODGJ yang tinggal serumah dengan keluarga/saudara sebagai prediktor terkuat ODGJ bisa recover. Temuan ini didukung oleh penelitian Tasijawa et al. bahwa Kepulauan Maluku memiliki budaya Aohidop orang basudaraAo yang dapat dijadikan sebagai penguat recovery ODGJ. Penutup Temuan penelitian ini bahwa dari 268 responden di lima kabupaten/kota, 79 responden . 5%) berdomisili di Maluku Tengah, 105 responden . 2%) beragama muslim dengan mayoritas berusia 15-24 tahun . 5%). Penelitian juga melaporkan bahwa 149 responden . 6%) telah melaporkan recovery. Secara statistik menunjukkan variabel jenis kelamin, agama, status pernikahan, tingkat pendidikan, lama menderita skizofrenia, tinggal serumah, konsumsi obat, dan kunjungan puskesmas secara signifikan berhubungan dengan recovery ODGJ . <0. Hasil penelitian juga menunjukkan variabel tinggal serumah sebagai predictor terkuat (OR=8. 295, 95% CI=4. diantara variabel lainnya yang mempengaruhi recovery ODGJ di Kepulauan Maluku. Penelitian ini menghasilkan data yang penting untuk menyusun intervensi dan kebijakan dalam mempromosikan recovery secara institusional di kepulauan Maluku. Hal ini karena tenaga kesehatan belum memiliki pemahaman yang sama terkait orientasi recovery sehingga penyusunan modul dan pelatihan sangat diperlukan guna peningkatan layanan kesehatan jiwa di Kepulauan Maluku. Konflik Kepentingan: Para penulis dapat mendeklarasikan bahwa tidak ada potensi konflik kepentingan sehubungan dengan penelitian, penulisan, dan/atau publikasi artikel ini. Ucapan terima kasih: Para penulis mengucapkan terima kasih kepada Kemendikbud-Ristek yang mendanai riset ini. Dinas Kesehatan Provinsi Maluku selaku mitra. Universitas Kristen Indonesia Maluku. Universitas Padjadjaran. Universitas Pattimura. Pemerintah daerah (Kabupaten Buru. Kabupaten Maluku Barat Daya. Kabupaten Maluku Tengah. Kota Tual, dan Kota Ambo. Dinas Sosial. Puskesmas di wilayah riset, keluarga pasien dan ODGJ, serta Mahasiswa yang 19 | P a g e KAMBOTI / Volume 4 Nomor 1. Oktober 2023 P-ISSN: 2746-4768 E-ISSN: 2746-475X Pendanaan: Riset ini didanai oleh Kemendikbud-Ristek melalui program Matching Fund Kedaireka Tahun 2023 bermitra dengan Dinas Kesehatan Provinsi Maluku . 9/E/KS. 00/2023. 23/E1/PPK/KS. 00/2. Perguruan tinggi yang terlibat Universitas Kristen Indonesia Maluku. Universitas Padjadjaran, dan Universitas Pattimura. Referensi