Tri Kuryani, dkk HUBUNGAN POSISI MENYUSUI. FREKUENSI MENYUSUI, KEADAAN PUTING SUSU DENGAN BENDUNGAN ASI PADA IBU NIFAS DI PUSKESMAS SUNGAI PINANG KABUPATEN OGAN ILIR TAHUN 2024 Tri Kuryani1. Eka Afrika2. Erma Puspita Sari3. Arie Anggraini4 1,2,3 Program studi strata 1 kebidananfakultas kebidanan dan keperawatan Universitas Kader Bangsa Palembang email: yiyikburlian05@gmail. ABSTRAK Bendungan ASI adalah kondisi penyumbatan aliran air susu akibat penyempitan duktus laktiferi, kelenjar susu yang tidak dikosongkan sempurna, atau kelainan pada puting susu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan posisi menyusui, frekuensi menyusu, dan keadaan puting susu secara simultan dengan kejadian bendungan ASI pada ibu nifas di Puskesmas Sungai Pinang. Kabupaten Ogan Ilir, tahun 2024. Data diperoleh dari 64 ibu nifas selama JanuariAeFebruari 2024, dengan 8 ibu mengalami bendungan ASI. Penelitian ini menggunakan desain survei analitik dengan pendekatan cross sectional untuk menjelaskan hubungan variabel posisi menyusui, frekuensi menyusu, dan keadaan puting . terhadap kejadian bendungan ASI . Hasil analisis bivariat menunjukkan posisi menyusui kurang baik sebesar 23,4% . = 0,. , frekuensi menyusu tidak optimal sebesar 25,0% . = 0,. , dan keadaan puting tidak normal sebesar 18,8% . = 0,. Terdapat hubungan yang signifikan antara ketiga variabel tersebut dengan kejadian bendungan ASI. Disarankan agar Puskesmas aktif memberikan edukasi, penyuluhan, dan konseling tentang teknik menyusui yang benar, pentingnya menyusui segera setelah melahirkan, serta pemahaman mengenai penyebab dan dampak bendungan ASI pada ibu post partum. Kata Kunci :Posisi Menyusui. Frekuensi Menyusui. Bendungan ASI ABSTRACT Breast engorgement is a condition of blocked milk flow due to narrowing of the lactiferous ducts, incompletely emptied mammary glands, or abnormalities in the nipples. This study aims to determine the relationship between breastfeeding position, breastfeeding frequency, and nipple condition simultaneously with the occurrence of breast engorgement in postpartum mothers at the Sungai Pinang Community Health Center. Ogan Ilir Regency. Data were obtained from 64 postpartum mothers during JanuaryAeFebruary 2024, with 8 mothers experiencing breast engorgement. This study used an analytical survey design with a cross-sectional approach to explain the relationship between breastfeeding position, breastfeeding frequency, and nipple condition . with the occurrence of breast engorgement . The results of the bivariate analysis showed that the breastfeeding position was less than optimal at 23. 4% . = 0. , the frequency of breastfeeding was not optimal at 25. 0% . = 0. , and the nipple condition was abnormal at 18. 8% . = 0. There is a significant relationship between these three variables and the incidence of breast milk engorgement. It is recommended that community health centers actively provide education, counseling, and counseling on proper breastfeeding techniques, the importance of breastfeeding immediately after delivery, and an understanding of the causes and impacts of breast milk engorgement in postpartum Keywords: Breastfeeding Position. Breastfeeding Frequency. Breast Milk Entrance Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Tri Kuryani, dkk PENDAHULUAN Masa nifas . adalah waktu yang dimulai setelah placenta lahir dan berakhir kira-kira 6 minggu. Akan tetapi seluruh alat kandungan kembali seperti semula . ebelum hami. dalam waktu kurang lebih 3 bulan. Pasca melahirkan . asa nifa. merupakan masa atau keadaan selama enam minggu atau 40 hari. Pada masa ini, ibu mengalami perubahan fisik dan alat-alat reproduksi yang kembali ke keadaan sebelum hamil. Masa nifas atau puerperium merupakan masa pulih kembali mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti prahamil (Walyani, 2. Bendungan ASI adalah bendungan air susu karena penyempitan duktus laktiferi atau kelenjar yang yang tidak di kosongkan dengan sempurna atau karena kelainan puting susu. Payudara terjadi karena hambatan aliran darah vena atau saluran kelenjar getah bening akibat ASI terkumpul dalam payudara. Kejadian ini timbul karena produksi yang berlebihan sementara kebutuhan bayi pada hari pertama hanya sedikit (Patiran, 2. Berdasarkan informasi United Nations International ChildrenAos Education Found (UNICEF) mengungkapkan bahwa 142 juta ibu yang mengalami masalah menyusui di dunia, terdiri dari 56,4% puting lecet, 21,12% payudara yang membesar, 15% payudara tersumbat dan mastitis 7,5% (Andriani et al. , 2. Berdasarkan data World Health Orgnization (WHO) pada tahun 2020 sebanyak 66,34% dari 9,862 ibu nifas. Persentase kasus bendungan ASI pada ibu nifas menurut data Association of Southeast Asian Nation (ASEAN) pada tahun 2020 ibu nifas yang mengalami bendungan ASI sebanyak 66,87% ibu nifas serta pada tahun 2021 ibu yang mengalami bendungan ASI sebanyak 71,1% dengan angka tertinggi terjadi di negara Indonesia yaitu sebanyak 37,12% (WHO, 2. Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2022, jumlah ibu nifas yang menyusui bayinya adalah 17,3% dan ibu yang tidak menyusui bayinya sama sekali 20,7% dan ibu yang berhenti menyusui bayinya adalah Berdasarkan informasi tersebut, angka yang paling tinggi adalah ibu nifas yang berhenti menyusui bayinya sebelum selesainya masa nifas dengan bukti bahwa 79,3% mengalami puting lecet, 5,8% mengalami pembendungan ASI dan 12,5% ASI tidak lancar dan 2,4% mengalami masalah payudara atau mastitis lagi (SDKI. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia . menyatakan bahwa sebagian besar wilayah memiliki tingkat pemberian ASI di bawah normal. Ibu yang lalai memberikan ASI secara selektif kepada bayinya merupakan akibat dari prosedur menyusui yang tidak tepat, sehingga sering mengalami efek buruk berupa nyeri puting dan mastitis (Kemenkes RI, 2. Berdasarkan Data profil Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir pada tahun 2023 terdapat satu kabupaten/kota dengan cakupan ASI Eksklusif yang belum mencapai target yaitu Kabupaten Ogan Ilir yakni 2021 sebesar 31,4 %, 2022 sebesar 55,0 % dan terdapat peningkatan pemberian ASI Eksklusif Tahun 2023 yaitu sebesar 61,03 %. (Data Profil Dinkes OI, 2. Pada fase menyusui tidak selamanya dapat berjalan dengan baik dan tidak sedikit seorang ibu mengeluh karena adanya pembengkakan pada payudara akibat bendungan ASI, pengeluaran ASI yang tidak lancar atau pengisapan bayi yang kurang baik sehingga akan mengganggu pada proses pemberian ASI kepada bayi (Aulya, 2. Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Tri Kuryani, dkk Banyak merangsang pengeluaran hormon prolaktin dan oksitosin yang menjadi pilihan bagi ibu menyusui, seperti pijat oksitosin, pijat prolaktin, pijat marmet, perawatan payudara dan lain sebagainya. Salah satu teknik yang sering dilakukan oleh tenaga kesehatan yaitu perawatan payudara. Perawatan payudara dapat dilakukan dengan melakukan suatu tindakan oleh ibu post partum sendiri maupun di bantu oleh orang lain yang dilaksanakan mulai hari pertama atau kedua setelah melahirkan. Gerakan perawatan merupakan cara efektif untuk meningkatkan volume ASI dan melancarkan refleks pengeluaran ASI (Junaida Rahmi dkk, 2. Faktor-faktor yang menyebabkan bendungan ASI yaitu karena ASI banyak dan tidak melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD), frekuensi menyusui, keadaan puting susu, perawatan payudara dan tidak menyusui yang akan mengakibatkan aliran vena dan limfik tersumbat, aliran susu terhambat dan terjadi tekanan pada saluran ASI dan aleoveri. Inisisasi menyusui dini dilakukan setelah bayi lahir hal ini dilakukan untuk memudahkan bayi mencari pengeluaran hormone oksitosin sehingga produksi ASI dapat tersalurkan dengan baik dan mencegah terjadinya pembengkakan pada payudara selama proses menyusui (Ramdinah, 2. Berdasarkan Anggorowati dkk ( 2020 ) Posisi menyusui . iological nurturin. bayi yang tidak tepat. Metode atau teknik menyusui bayi yang tidak tepat atau salah dalam menyusui dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet dan menimbulkan rasa nyeri pada payudara ibu saat menyusui. Hal tersebut mengakibatkan ibu tidak mau menyusui bayinya dan terjadi breast engorgement. Biological nurturing yang efektif saat laktasi adalah posisi duduk bersandar dan kaki tidak menggantung sesuai dengan gaya gravitasi sehingga aliran susu ke mulut bayi Berdasarkan penelitian Pemiliana dkk . yang berjudul Hubungan frekuensi menyusui dan teknik menyusui dengan bendungan asi pada ibu nifas di klinik Alisha Clinic medan dikemukakan bahwa dari 34 orang 24 orang yang posisi menyusui tidak benar. Hal ini menunjukkan bahwa posisi menyusui mempengaruhi terhadap kejadian bendungan ASI. Hal ini diperkuat dengan hasil uji Chi square p =. < ( 0,05 ) Frekuensi menyusui yang baik sekitar 10 sampai 12 kali perhari atau minimal 8 kali per hari dan dengan waktu 10-20 menit untuk masing-masing payudara. Jarak menyusui satu setengah jam atau 2 jam ( Sulistiyah, 2. Keadaan yang menyebabkan bendungan ASI jika frekuensi menyusui kurang dari 8 kali per hari dan dengan jarak waktu lebih dari 2 Berdasarkan Penelitian Ariandini dkk ( 2023 ) yang berjudul Faktor-faktor yang mempengaruhi bendungan ASI pada ibu nifas dikemukakan bahwa dari 37 ibu nifas terdapat 20 orang yang mengalami bendungan ASI karena frekuensi menyusui tidak teratur. Hal ini menunjukkan bahwa frekuensi menyusui sangat berpengaruh terhadap kejadian bendungan ASI. Hal ini diperkuat dengan hasil uji Chi Square dengan p value 0,0000 < 0,04. Keadaan puting susu datar atau terbenam merupakan keadaan yang seharusnya menonjol tetapi tampak datar atau terbalik kearah dalam. Ibu yang mengalami puting susu datar masih bisa menyusui bayinya dengan menarik-narik puting( (Tim pokja SDKI DPP PPNI,2. Keadaan Puting susu yang terbenam dan tidak menonjol menyebabkan kesulitan untuk menyusui Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Tri Kuryani, dkk bayi dengan baik dan menyebabkan bendungan ASI. Berdasarkan hasil penelitian Rini dkk. yang berjudul hubungan peran bidan, posisi menyusui ,kondisi puting dengan kejadian bendungan asi ibu post partum dikemukakan bahwa dari 39 ibu nifas ada 5 orang yang yang kondisi puting tidak normal mengalami bendungan asi dengan nilai p value 0,009 yang dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara keadaan puting ibu dengan kejadian bendungan ASI pada ibu nifas. Berdasarkan survey awal pada tanggal 05 Maret 2024 di Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir Cakupan pemberian ASI Eksklusif. Bayi Baru lahir tahun 2021 yang mendapatkan ASI Eksklusif sebesar 24,85%, dan pada tahun 2022 yang mendapatkan ASI Eksklusif sebesar 100 % dan pada tahun 2023 yang diberi ASI Eksklusif kurang dari 6 bulan dilaporkan sasaran 448 bayi dilaporkan 30,6 Dan berdasarkan data pada bulan Januari sampai bulan Februari 2024 didapatkan data dari 65 ibu masa nifas dan terdapat 12 ibu masa nifas mengalami kejadian bendungan ASI. Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk mengambil penelitian tentang AuHubungan Posisi Menyusui. Frekuensi Menyusui. Keadaan Puting Susu Bendungan ASI pada ibu Nifas di Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2024Ay. METODE PENELITIAN Desain penelitian yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah survei analitik yaitu penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena itu terjadi, dengan pendekatan cross sectional yang bertujuan untuk menjelaskan hubungan posisi menyusui, frekuensi menyusui dan keadaan puting sebagai variabel independen kejadian bendungan asi pada ibu nifas sebagai variabel dependen dalam waktu yang bersamaan. (Notoatmodjo, 2018 ) Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan MeiAeJuli di Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir tahun 2024. Populasi sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan (Sugiyono ,2. mengartikan Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang masa nifas di wilayah kerja Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir bulan Mei-Juli 2024 berjumlah 64 responden. Sampel adalah sebagian dari populasi yang memiliki sifat dan karakteristik yang sama bersifat representatif dan menggambarkan populasi sehingga dianggap dapat mewakili semua populasi yang diteliti. Sampel dalam penelitian ini akan ditentukan dengan tehnik accidental sampling yaitu cara pengambilan sampel secara aksidental . dengan mengambil kasus atau responden secara random yang kebetulan ada atau tersedia di suatu tempat sesuai dengan konteks penelitian. Besaran sampel disini diambil apabila subjeknya kurang dari 100 maka seluruh populasi dijadikan Jika subjeknya besar atau lebih dari 100 maka diambil 10-15 % atau 20-25 %. Disini peneliti mengambil besar sampel total dari populasi karena besarnya kurang dari 100, berjumlah 64 orang. (Arikunto. HASIL PENELITIAN Analisis Univariat Analisis ini bertujuan untuk melihat distribusi frekuensi dan persentase dari tiaptiap variabel, baik variabel independen (Posisi menyusui, frekuensi menyusui dan keadaan putting susu ib. dan dependen (Bendungan ASI pada ibu Nifa. Sampel yang diambil dalam penelitian berjumlah 64 Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Tri Kuryani, dkk responden di Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2024. Bendungan ASI pada ibu Nifas Kejadian bendungan ASI pada ibu masa nifas pada penelitian ini di bagi menjadi 2 kategori yaitu ya jika ibu mengalami bendungan ASI dan tidak jika ibu tidak mengalami bendungan ASI, lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini. Tabel 1 Distribusi Responden Berdasarkan Kejadian Bendungan ASI pada ibu Nifas di Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2024 Bendungan Jumlah Persentase ASI (N) (%) Tidak Total Berdasarkan hasil pada tabel 1 dapat diketahui bahwa dari 64 yang diteliti dengan kejadian bendungan ASI sebanyak 14 responden . ,9%), sedangkan tidak mengalami bendungan ASI sebanyak 50 responden . ,1%). Hal ini menunjukkan bahwa yang tidak bendungan ASI lebih besar dibandingkan dari pada bendungan ASI pada ibu masa nifas di Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir Tahun Posisi Menyusui Jumlah berjumlah 64 responden dengan variabel posisi menyusui yang dikelompokan menjadi 2 kategori yaitu kurang baik jika ibu memberikan ASI dalam keadaan tidak nyaman dan mulut bayi tidak terbuka lebar dan baik jika ibu memberikan ASI dengan nyaman dan mulut bayi terbuka lebar di Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2024, dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini. Tabel 2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Berdasarkan Posisi Menyusui pada ibu Nifas di Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2024 Posisi Persentase Jumlah (N) Menyusui (%) Kurang Baik Baik Total Berdasarkan tabel 2 di atas, diketahui bahwa dari 64 responden yang posisi menyusui kurang baik sebanyak 15 responden . ,4%), sedangkan posisi menyusui baik sebanyak 49 responden . ,6%). Hal ini menunjukkan bahwa posisi menyusui baik lebih besar dibandingkan dari posisi menyusui kurang baik di Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2024. Frekuensi Menyusui Frekuensi menyusui ibu nifas dibagi menjadi dua kategori yaitu, tidak optimal jika waktu pemberian ASI > 2 jam dan 8 kali/hari dan optimal jika waktu pemberian ASI < 2 Jam dan 8-12 kali/hari. Agar lebih jelasnya hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini. Tabel 3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Berdasarkan Frekuensi Menyusui pada ibu Nifas di Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir Tahun Berdasarkan pada tabel 3 di atas, diketahui bahwa dari 64 responden yang frekuensi menyusui tidak optimal sebanyak Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Tri Kuryani, dkk 16 responden . ,0%), sedangkan frekuensi menyusui optimal sebanyak 48 responden . ,0%). Hal ini menunjukkan bahwa frekuensi menyusui yang optimal lebih menyusui yang tidak optimal di Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir Tahun Keadaan Putting Susu Keadaan puting susu pada penelitian ini di bagi menjadi 2 kategori yaitu tidak normal jika puting susu ibu terbenam dan normal jika puting susu ibu menonjol dan sempurna, lebih jelasnya dapat di lihat pada Tabel 4 di bawah ini. Tabel 4 Distribusi Frekuensi dan Persentase Berdasarkan Keadaan Puting Susu pada Ibu Nifas di Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2024 Keadaan Putting Susu Tidak Normal Normal Total Jumlah (N) Persentase (%) Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4 di atas, diketahui bahwa dari 64 responden yang keadaan puting susu tidak normal sebanyak 12 responden . ,8%), sedangkan keadaan puting susu normal sebanyak 52 responden . ,2%). Hal ini menunjukkan bahwa keadaan puting susu normal lebih besar dibandingkan dari keadaan puting susu tidak normal di Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2024. Analisis Bivariat Analisa ini bertujuan melihat hubungan kemaknaan antara variabel dependen dengan variabel independen, menggunakan uji chi-square dengan batas kemaknaan nilai . Hubungan Posisi Menyusui dengan Bendungan ASI pada ibu Nifas Penelitian ini dilakukan terhadap 64 responden yang mana variabel posisi menyusui berkaitan dengan bendungan ASI pada ibu masa nifas menjadi dua kategori yaitu kurang baik jika ibu memberikan ASI dalam keadaan tidak nyaman dan mulut bayi tidak terbuka lebar dan baik jika ibu memberikan ASI dengan nyaman dan mulut bayi terbuka lebar sedangkan variabel bendungan ASI juga dibagi menjadi dua kategori yaitu ya dan tidak, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5 di bawah Tabel 5 Hubungan Posisi Menyusui dengan Kejadian Bendungan ASI pada Ibu Nifas di Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2024 Bendungan ASI Posisi Menyusui Kurang Baik Baik Jumlah Tidak Jumlah Berdasarkan tabel 5 di atas dapat dilihat bahwa dari 15 responden yang posisi menyusui kurang baik ternyata ada 12 responden . ,0%) yang mengalami bendungan ASI, dan ada 3 responden . ,0%) yang tidak mengalami bendungan ASI, sedangkan dari 49 responden yang menyatakan posisi menyusui baik hanya 2 responden . ,1%) yang mengalami bendungan ASI, dan 47 responden . ,9%) yang tidak bendungan ASI pada ibu masa Berdasarkan hasil uji statistik ChiSquare diperoleh p-value = 0,004 O 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara posisi menyusui dengan kejadian bendungan ASI pada ibu masa nifas. Sehingga hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara posisi Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 0,004 Tri Kuryani, dkk menyusui dengan kejadian bendungan ASI pada ibu masa nifas dan terbukti secara Hasil analisis diatas diperoleh juga Odd Ratio (OR) sebesar 6,875. Artinya posisi menyusui yang kurang baik memiliki peluang sebanyak 6,875 kali mengalami kejadian bendungan ASI pada ibu masa nifas dibandingkan yang posisi meyusui Hubungan Frekuensi Menyusui dengan Bendungan ASI pada ibu Nifas Penelitian ini dilakukan terhadap 64 responden yang mana variabel frekuensi menyusui berkaitan dengan bendungan ASI pada ibu masa nifas menjadi dua kategori yaitu optimal jika waktu pemberian ASI > 2 jam dan 8 kali/hari dan optimal jika waktu pemberian ASI < 2 Jam dan 8-12 kali/hari, sedangkan variabel bendungan ASI juga dibagi menjadi dua kategori yaitu ya dan tidak, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 6 di bawah ini. Tabel 6 Hubungan Frekuensi Menyusui dengan Kejadian Bendungan ASI pada ibu Nifas di Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2024 Frekuensi Menyusui Tidak Optimal Optimal Jumlah Bendungan ASI Tidak Jumlah 18,7 16 97,9 48 Hasil analisis penelitian pada tabel 6 di atas dapat dilihat bahwa dari 16 responden yang frekuensi menyusui tidak optimal ternyata ada 13 responden . ,3%) mengalami bendungan ASI, dan 3 responden . ,7%) yang tidak mengalami bendungan ASI, sedangkan dari 48 responden frekuensi menyusui optimal, sebanyak 1 responden . ,1%) mengalami bendungan ASI dan ada 47 responden . ,9%) yang tidak mengalami bendungan ASI pada ibu masa nifas. Berdasarkan hasil uji statistik ChiSquare untuk melihat hubungan antara frekuensi menyusui dengan bendungan ASI, diperoleh nilai p-value = 0,000 O 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara frekuensi menyusui dengan bendungan ASI. Jadi, hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara frekuensi menyusui dengan bendungan ASI pada ibu masa nifas terbukti secara statistik. Hasil analisis diperoleh juga Odd Ratio (OR) 42,633. Artinya frekuensi menyusui tidak optimal memiliki peluang sebanyak 42,633 kali yang mengalami bendungan ASI pada ibu masa nifas dibandingan frekuensi menyusui optimalas. Hubungan Keadaan Puting Susu dengan Bendungan ASI pada ibu Nifas Penelitian ini dilakukan terhadap 64 responden yang mana variabel keadaan puting susu berkaitan dengan bendungan ASI pada ibu masa nifas menjadi dua kategori yaitu tidak normal jika puting susu ibu terbenam dan normal jika puting susu ibu menonjol dan sempurna , sedangkan variabel bendungan ASI juga dibagi p- menjadi dua kategori yaitu ya dan tidak, valueuntuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 7 di bawah ini. 0,000 Tabel 7 Hubungan Keadaan Puting Susu dengan Bendungan ASI pada ibu Nifas di Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2024 Keadaan Putting Susu Tidak Normal Normal Jumlah Bendungan ASI Tidak 94,2 52 Jumlah Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 0,001 Tri Kuryani, dkk Berdasarkan tabel 7 di atas dapat dilihat bahwa dari 12 responden yang menyatakan keadaan puting susu tidak normal berjumlah 11 responden . ,7%) yang mengalami bendungan ASI dan sebanyak 1 responden . ,3%) yang tidak mengalami bendungan ASI. Sedangkan dari 52 responden yang keadaan puting susu normal sebanyak 3 responden . ,8%) dengan kejadian bendungan ASI, dan yang tidak bendungan ASI sebanyak 49 responden . ,2%). Hasil uji statistik ChiSquare diperoleh p-value = 0,001 O 0,05. Hal ini menunjukan bahwa ada hubungan yang bermakna antara keadaan puting susu dengan kejadian bendungan ASI. Hal ini berarti hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara keadaan puting susu ibu dengan kejadian bendungan ASI pada ibu masa nifas, terbukti secara statistik. Berdasarkan hasil analisis diperoleh juga Odd Ratio (OR) diperoleh nilai 11,600. Artinya keadaan puting susu tidak normal memiliki peluang sebanyak 11,600 kali dengan kejadian bendungan ASI pada ibu nifas dibandingkan dengan keadaan puting susu normal. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan secara univariat dan bivariat dengan variabel dependen ( Bendungan ASI pada Ibu nifa. dan variabel independen ( posisi menyusui, frekuensi menyusui, keadaan puting susu ) dan penelitiannya dilakukan di Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2024 dari tanggal 17 Mei 2024 ada 4 responden/ibu nifas, tanggal 23 mei 2024 ada 4 responden / ibu nifas, tanggal 25 mei 2024 ada 3 responden/ibu nifas , tanggal 27 mei 2024 ada 3 responden /ibu nifas, tanggal 29 mei 2024 ada 3 responden / ibu nifas, tanggal 30 mei 2024 ada 5 responden / ibu nifas , tanggal 04 juni 2024 ada 3 responden /ibu nifas, tanggal 07 juni 2024 ada 4 responden / ibu nifas, tanggal 11 juni 2024 ada 4 responden/ibu nifas, tanggal 13 juni 2024 ada 2 responden/ ibu nifas, tanggal 19 juni 2024 ada 3 responden /ibu nifas , tanggal 20 juni 2024 ada 5 responden /ibu nifas , tanggal 21 juni 2024 ada 3 responden/ibu nifas, tanggal 25 juni 2024 ada 5 responden / ibu nifas, tanggal 27 juni 2024 ada 4 responden / ibu nifas, tanggal 02 juli 2024 ada 3 responden / ibu nifas, tanggal 03 juli 2024 ada 2 responden / ibu nifas, dan tanggal 04 juli 2024 ada 4 responden / ibu nifas, sehingga di dapatkan 64 responden dan telah dilakukan analisa bivariat dan analisa univariat Hubungan Posisi Menyusui dengan Bendungan ASI Penelitian ini dilakukan terhadap 64 responden yang mana variabel posisi menyusui berkaitan dengan bendungan ASI pada ibu nifas menjadi dua kategori yaitu kurang baik jika ibu memberikan ASI dalam keadaan tidak nyaman dan mulut bayi tidak terbuka lebar dan baik jika ibu memberikan ASI dengan nyaman dan mulut bayi terbuka lebar, sedangkan variabel bendungan ASI juga dibagi menjadi dua kategori yaitu ya dan tidak, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1 Berdasarkan Analisa bivariat hasil penelitian dapat dilihat dari 15 responden yang posisi menyusui kurang baik ternyata ada 12 responden . ,0%) yang kejadian bendunga ASI, dan ada 3 responden . ,0%) yang tidak terjadi bendungan ASI, sedangkan dari 49 responden yang menyatakan posisi menyusui baik hanya 2 responden . ,1%) yang bendungan ASI, dan 47 responden . ,9%) yang tidak bendungan ASI pada ibu nifas. Berdasarkan hasil uji statistik ChiSquare diperoleh p-value = 0,004 O 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara posisi menyusui dengan kejadian bendungan ASI pada ibu Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Tri Kuryani, dkk Dengan demikian, maka hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara bendungan ASI pada ibu nifas dan terbukti secara statistik. Hasil analisis diatas diperoleh juga Odd Ratio (OR) sebesar 6,875. Ini artinya posisi menyusui kurang baik memiliki peluang sebanyak 6,875 kali dengan kejadian bendungan ASI pada ibu Berdasarkan penelitian Rini dkk . , yang berjudul hubungan peran bidan, posisi menyusui, kondisi puting dengan kejadian bendungan ASI Ibu post partum dikemukakan bahwa di PMB Bidan A Jakarta Tahun 2022, diperoleh nilai Hasil uji statistik Chi-square diperoleh nilai Pvalue = 0,040 dimana nilai P-value < . sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara Posisi Menyusui Bendungan ASI pada ibu nifas . Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan bahwa ada hubungan bermakna antara posisi menyusui kurang baik ternyata ada 12 responden . ,0%) yang kejadian bendungan ASI, dan ada 3 responden . ,0%) yang tidak terjadi bendungan ASI. Di lihat dari hasil penelitian bahwa posisi menyusui yang kurang tepat mengakibatkan ASI Berdasarkan teori Selvianti & Rismayani . Teknik menyusui adalah cara memberikan ASI pada bayi dalam posisi dan perlekatan yang tepat. Dimana apabila cara menyusui yang dilakukan secara salah akan menyebabkan puting lecet sehingga ibu ragu-ragu dan enggan untuk menyusui yang membuat bayi jarang menyusui dan bayi akan kekurangan ASI. Hal ini dapat dipahami dengan keadaan ibu yang siap menyusui, sehingga menyusui dapat dilakukan dengan baik dan berusaha untuk tidak terjadi masalah selama Asumsi peneliti mengenai posisi menyusui dengan kejadian bendungan ASI adalah bahwa memang ada hubungan bermakna posisi menyusui baik pada ibu nifas tetapi masih ada 4,1% mengalami bendungan ASI, hal ini disebabkan oleh ibu yang hanya menyusui bayinya sekedarnya saja tanpa memenuhi kebutuhan ASI untuk bayinya , dan bisa disebabkan perawatan payudara yang tidak tepat. ASI tidak keluar dengan optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI dan bayi juga tidak mau menyusu. Hubungan Frekuensi Menyusui dengan Bendungan ASI. Penelitian ini dilakukan terhadap 64 responden yang mana variabel frekuensi menyusui berkaitan dengan bendungan ASI pada ibu nifas menjadi dua kategori yaitu tidak optimal dan optimal, sedangkan variabel bendungan ASI juga dibagi menjadi dua kategori yaitu ya dan tidak, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel Berdasarkan Analisa bivariat hasil analisis penelitian dapat dilihat dari 16 responden yang frekuensi menyusui tidak optimal ternyata ada 13 responden . ,3%) kejadian bendungan ASI, dan 3 responden ,7%) yang tidak bendungan ASI, sedangkan dari 48 responden frekuensi menyusui optimal, sebanyak 1 responden . ,1%) kejadian bendungan ASI dan ada 47 responden . ,9%) yang tidak bendungan ASI pada ibu nifas. Berdasarkan hasil uji statistik ChiSquare untuk melihat hubungan antara frekuensi menyusui dengan bendungan ASI, diperoleh nilai p-value = 0,000 O 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara frekuensi menyusui dengan bendungan ASI. Jadi, hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara frekuensi menyusui dengan bendungan ASI pada ibu nifas terbukti Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Tri Kuryani, dkk secara statistik. Hasil analisis diperoleh juga Odd Ratio (OR) 42,633. Artinya frekuensi kesempatan sebanyak 42,633 kali dengan kejadian bendungan ASI pada ibu nifas. Berdasarkan penelitian Sonda dkk ( 2. yang berjudul studi tentang kejadian bendungan asi pada ibu nifas di puskesmas jumpandang baru makkasar menunjukkan bahwa dari 30 ibu nifas terdapat 8 orang yang mengalami bendungan ASI. Dari 8 orang yang mengalami bendungan ASI terdapat 7 orang dengan frekuensi menyusui tiap > 2 jam dan 1 orang dengan frekuensi menyusui tiap O 2 jam. Hal ini menunjukkan bahwa frekuensi menyusui sangat berpengaruh terhadap kejadian bendungan ASI. Hal ini diperkuat dengan hasil uji Chi Square dengan p value 0,000 < 0,05. Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan bahwa ada hubungan bermakna antara frekuensi menyusui kurang baik dengan ternyata ada 13 responden . ,3%) yang mengalami bendungan ASI, dan 3 responden . ,7%) yang tidak mengalami bendungan ASI. Sejalan dengan teori Nur Anita . ASI diproduksi atas hasil kerja gabungan antara hormon dan refleks. Selama periode menyusui ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi produksi ASI salah satu nya adalah frekuensi menyusui, dalam konsep frekuensi pemberian ASI sebaiknya bayi disusui tanpa di jadwal . n deman. , karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Karena menyusui yang dijadwalkan akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui tanpa dijadwal, sesuai kebutuhan bayi, akan dapat mencegah timbulnya masalah menyusui Asumsi frekuensi menyusui dengan kejadian bendungan ASI adalah bahwa memang ada hubungan bermakna menyusui pada ibu nifas tetapi masih ada 2,1% ibu nifas yang mengalami bendungan ASI yang memberikan ASI secara optimal. Faktor yang mungkin berkaitan dengan kejadian bendungan ASI adalah durasi atau lamanya ibu menyusui bayinya , terkadang ada ibu yang hanya sekedar saja dalam menyusui bayinya, ada juga ibu yang menyusui bayinya tapi ASI tidak sampai habis atau kosong, pengosongan yang tidak sempurna ini bisa saja menjadi faktor pembengkakan menghasilkan ASI yang baru setiap Adapun faktor lain jika hisapan bayi yang tidak aktif yaitu ibu tidak memberikan ASI sesering mungkin dan bayi tidak sering atau tidak aktif menghisap, maka akan menimbulkan bendungan ASI. Hubungan Keadaan Putting Susu dengan Bendungan ASI Penelitian ini dilakukan terhadap 64 responden yang mana variabel keadaan puting susu berkaitan dengan bendungan ASI pada ibu nifas menjadi dua kategori yaitu tidak normal dan normal, sedangkan variabel bendungan ASI juga dibagi menjadi dua kategori yaitu ya dan tidak, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel Berdasarkan Analisa bivariat hasil penelitian dapat dilihat dari 12 responden yang menyatakan keadaan puting susu tidak normal berjumlah 11 responden . ,7%) dengan kejadian bendungan ASI dan sebanyak 1 responden . ,3%) yang tidak bendungan ASI. Sedangkan dari 52 responden yang keadaan puting susu normal sebanyak 3 responden . ,8%) dengan kejadian bendungan ASI, dan yang tidak bendungan ASI sebanyak 49 responden . ,2%). Hasil uji statistik Chi-Square diperoleh p-value = 0,001 O 0,05. Hal ini Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Tri Kuryani, dkk menunjukan bahwa ada hubungan yang bermakna antara keadaan puting susu dengan kejadian bendungan ASI. Hal ini berarti hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara keadaan puting susu ibu dengan kejadian bendungan ASI pada ibu nifas, terbukti secara statistik. Berdasarkan hasil analisis diperoleh juga Odd Ratio (OR) diperoleh nilai 11,600. Artinya keadaan puting susu tidak normal memiliki kesempatan sebanyak 11,600 kali dengan kejadian bendungan ASI pada ibu nifas. Sejalan dengan penelitian Rini dkk, . yang berjudul hubungan peran bidan, posisi menyusui ,kondisi puting dengan kejadian bendungan ASI ibu post partum dikemukakan bahwa dari 39 ibu nifas ada 5 orang yang kondisi puting tidak normal mengalami bendungan ASI dengan nilai p value 0,009, diperoleh nilai Hasil uji statistik Chi-square diperoleh nilai P-value = 0,009 dimana nilai P-value O . sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kondisi puting ibu dengan kejadian Bendungan ASI pada ibu nifas . Sejalan dengan penelitian yang dilakukan bahwa memang ada hubungan yang bermakna antara keadaan puting susu dengan kejadian bendungan ASI pada ibu nifas yang keadaan puting susu yang tidak normal sebanyak 11 responden sebesar 91,7% dan hanya 1 responden ( 8,3% ) yang tidak mengalami bendungan ASI Sejalan dengan teori dari Yati Nurhayati . Payudara merupakan salah satu bagian yang harus diperhatikan oleh ibu nifas dikarenakan payudara merupakan organ essensial sebagai penghasil ASI yaitu makanan utama bayi bayi baru lahir sehingga perawatan nya harus sedini mungkin. (Gustirini,2. Banyak ibu yang mengeluh bayinya tidak mau menyusui secara langsung biasanya disebabkan oleh tidak lancarnya ASI, faktor teknik seperti bendungan ASI ,Puting susu yang masuk dan posisi menyusui yg salah. Asumsi peneliti mengenai keadaan puting susu dengan kejadian bendungan ASI adalah bahwa memang ada hubungan bermakna keadaan puting susu pada ibu nifas tetapi masih ada 5,8% ibu dengan keadaan puting susu normal mengalami bendungan ASI, . Hal yang mungkin mempengaruhi hal tersebut adalah ibu yang terkadang hanya menyusui sekedar saja kepada bayinya dan pengosongan pada payudara menjadi tidak sempurna yang mungkin walaupun keadaan puting susu ibu normal bisa saja dalam keadaan tidak bersih karena kurang perawatan payudara. Bendungan ASI yang terjadi pada ibu nifas dapat terjadi karena pengaruh oleh berbagai hal yang saling berkaitan termasuk kondisi ibu dan bayi nya. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian bendungan ASI pada ibu nifas di Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir tahun 2024, maka peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut : Ada hubungan posisi menyusui, frekuensi menyusui dan keadaan puting susu secara simultan dengan kejadian bendungan ASI pada ibu nifas di puskesmas sungai pinang kabupaten ogan ilir tahun 2024. 2 Ada hubungan posisi menyusui secara parsial dengan kejadian bendungan ASI pada ibu nifas di puskesmas sungai pinang kabupaten ogan ilir tahun 2024 dengan nilai probabilitas ( p-value ) = 0,004 p O 0,05. 3 Ada hubungan frekuensi menyusui secara parsial dengan kejadian bendungan ASI pada ibu nifas di puskesmas sungai pinang kabupaten ogan ilir tahun 2024 Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Tri Kuryani, dkk dengan nilai probabilitas ( p-value ) = 0,000 O 0,05. 4 Ada hubungan keadaan puting susu bendungan ASI pada ibu nifas di puskesmas sungai pinang kabupaten ogan ilir tahun 2024 dengan nilai probabilitas ( p-value ) = 0,001 O 0,05. SARAN Bagi Rektor Universitas Kader Bangsa, diharapkan dapat memberi dorongan memperbanyak kepustakaan tentang halhal yang berkaitan dengan kebidanan. Khusus pada program studi agar masyarakat melalui praktik belajar lapangan atau latihan kerja praktik dengan pendekatan terhadap ibu hamil dan post partum ASI Bagi Pimpinan Puskesmas Sungai Pinang, diharapkan tenaga kesehatan berperan aktif dalam memberikan informasi seperti penyuluhan dan konseling mengajarkan ibu post partum cara atau teknik menyusui yang benar, menyarankan ibu agar memberi ASI segera setelah melahirkan, dan menjelaskan kepada ibu post partum penyebab serta akibat dari bendungan ASI Bagi penelitian selanjutnya, diharapkan untuk lebih mengembangkan penelitian agar melakukan penelitian yang lebih bendungan ASI dengan variabel yang lebih banyak serta melakukan intervensi seperti manfaat perawatan payudara dengan kejadian bendungan ASI Bagi Masyarakat terutama kepada ibu post partum agar menyusui bayinya dengan frekuensi minimal 8 kali dalam sehari sampai bayi merasa puas menyusu, segera setelah melahirkan agar memberi ASI kepada bayi dengan waktu 1 jam, belajar teknik menyusui dan memperhatikan keadaan puting susu ibu agar tidak terjadi bendungan ASI, perlu juga dilakukan perawatan payudara untuk mengurangi dan mencegah terjadinya bendungan ASI. DAFTAR PUSTAKA Ambarwati dan Wulandari. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Cendekia Press Adriani, . Gizi dan Kesehatan Balita Peranan Mikro Zinc Pertumbuhan Balita. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group. Anita. Irmayanti, & Khafifah. Faktor-Faktor Berhubungan dengan Kejadian Bendungan ASI pada Ibu Post Partum di Puskesmas Totoli. Jurnal Kesehatan Marendeng, 1. Anggrowati. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Masa Nifas Dan Menyusui. Umsida Press. Ariandini, . Faktor-faktor yang mempengaruhi bendungan ASI pada ibu nifas di BPM Muthia. Amd. Keb. Kota Bogor. Arikunto. Metodologi Penelitian Kesehatan. Aulya. , & Supriaten. Pengaruh Perawatan Payudara Terhadap Bendungan Asi Pada Ibu Nifas. Menara Medika. Elisabeth Siwi. Asuhan Kebidanan Masa Nifas dan Menyusui. Yogyakarta: PUSTAKABARUPRESS Eka Puspita. Asuhan Kebidanan Masa Nifas. Jakarta Timur: Trans Info Media Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Tri Kuryani, dkk Hidayat. Alimul. Metode Penelitian Keperawatan Dan Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika Juliani Sri dan Nurrahmaton. Faktor Yang Memengaruhi Bendungan ASI Pada Ibu Nifas Di Wilayah Kerja Puskesmas Rambung Merah Kabupaten Simalungun. Jurnal Bidan Komunitas (JBK). Vol. i No. 1 Hal,16-29 1 E-issn 2614-7874. http://ejournal. id/index. php/jbk Junaeda R & Hadijah. Hubungan Pengetahuan Sikap Ibu Menyusui Tentang Bendungan ASI di PMB Hj. Mariani Kota Makassar Tahun 2021. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan, 1. , 77Ae87. https://doi. org/10. 55606/jurrikes. Kumalasari . Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Yogyakarta: Manuaba. I G B. Ilmu Kebidanan. Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakrta : EGC Mochtar. Rustam. Sinopsis Obsetri. Obstetri Fisiologi. Obsetri Patologi. Jakarta: Info Media Notoatmodjo, . Promosi Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta Notoatmodjo. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Patiran. Maryati. Perbedaan efektivitas pemberian kompres lidah buaya (Aloe ver. dan kompres daun kubis dingin terhadap intensitas nyeri pada payudara ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Klasaman Kota Sorong. " Jurnal Kebidanan Sorong. Pemelianan. PD . Hubungan Frekuensi Menyusui Dan Teknik Menyusui Dengan Bendungan ASI Pada Ibu Nifas Di Klinik Bersalin Alisha Tahun 2023 Ramdinah. Asuhan Kebidanan Terintegrasi Pada Kehamilan. Bersalin. Nifas Dengan Perawatan Payudara Dalam Pengeluaran Asi Dan Asuhan Neonatus Di Praktek Mandiri Bidan (PMB) Kecamatan Cileunyi Wetan Kabupaten Bandung Ridarineni. Pembengkakan Payudara Saat Menyusui Hambat Pemberian ASI. Yogyakarta: Republika Rini dkk . , yang berjudul hubungan peran bidan, posisi menyusui, kondisi putting dengan kejadian bendungan ASI Ibu post partum dikemukakan bahwa di PMB Bidan A Jakarta Saryono. Perawatan Payudara. Yogyakarta: Nuha Medika Septina. , & Rulianti. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Dengan Pemberian Asi Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Banjar Kabupaten Pandeglang. Journal of Health Research Science, 2. , 47Ae56. https://doi. org/10. 34305/jhrs. Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Tri Kuryani, dkk Solehah dkk, . Hubungan IMD. Frekuensi Menyusui dan Perawatan Payudara Kejadian Bendungan ASI pada Ibu Nifas di Puskesmas Cikalong Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2023 Sonda, dkk . Hubungan kejadian bendungan ASI di Puskesmas Jumpandang Baru Kota Makassar. Tuti Meihartati . Pengaruh Masase Payudara Terhadap Bendungan ASI Pada Ibu Post Partum Wahyuningsih. Perawatan Ibu Nifas. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka