Simposium Nasional Kepemimpinan Perguruan Tinggi Indonesia DOI: https://doi. org/10. 15294/snkpti. EFEKTIVITAS MODEL DISCOVERY LEARNING DALAM MENGAPRESIASI PUISI SISWA KELAS X SMA NEGERI 16 BONE KABUPATEN BONE Muh. Safar Universitas Muhammadiyah Bone safarmuhammad785@gmail. Abstract This research aims to describe the ability to appreciate poetry of class. The type of research used is an experiment using two classes as research subjects. There is a control class and an experimental class. Class X IPA 1 is the control class with a total of 30 students and the experimental class is X IPA 2 with a total of 30 students. Data collection techniques are tests and observations. Learning activities begin with initial activities in the form of a pretest and treatment activities and posttests are carried out to find out the final results. The data analysis used to find out in detail is descriptive statistics and inferential statistics. The results of research using the discovery learning model show that the experimental class's understanding is better than the control class in appreciating poetry. This means that the discovery learning model is effectively used in learning to appreciate poetry among students. Keywords: Effectiveness, discovery learning, appreciating poetry PENDAHULUAN Perubahan kurikulum pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di tingkat SMA/MA, yang telah beralih dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ke Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM). Tujuan dari perubahan ini adalah menyederhanakan kurikulum sebelumnya yang dianggap rumit dan tidak memadai untuk mencapai kompetensi peserta didik. Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar semakin meluas, dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) sebagai panduan untuk Kurikulum 2013, kurikulum darurat, dan Kurikulum Merdeka. SKL menjadi acuan yang menentukan kriteria minimal untuk kesatuan sikap, keterampilan, dan pengetahuan, mencerminkan capaian kemampuan peserta didik pada akhir jenjang pendidikan (Permendikbudristek. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk membentuk siswa yang memiliki kepribadian sosial, menghargai budaya, serta mampu menyalurkan gagasan, berimajinasi, dan berekspresi secara kreatif baik lisan maupun tulisan. Pembelajaran sastra di SMA/MA memiliki fokus pada pengembangan imajinasi siswa dalam memahami dan menikmati karya sastra. Tujuannya adalah meningkatkan keterampilan berbahasa secara tepat dan kreatif, memperbaiki kemampuan berpikir logis dan bernalar, serta meningkatkan kepekaan perasaan siswa. Pemerintah telah mengambil langkah-langkah, termasuk menetapkan standar kompetensi dalam KTSP, yang menuntut siswa dapat mengapresiasi karya sastra, baik itu dalam bentuk prosa, puisi, maupun drama (Depdiknas, 2. Pembelajaran sastra memiliki tujuan yang beragam, namun melibatkan proses yang serupa. Tujuan yang berbeda mencakup peningkatan apresiasi sastra siswa sesuai dengan sasaran pembelajaran. Proses yang serupa melibatkan implementasi metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Materi pembelajaran sastra seharusnya mandiri dan tidak tergabung dalam pengajaran bahasa. Diperlukan optimalisasi proses pembelajaran. Jika pembelajaran sastra dioptimalkan, akan terbentuk hubungan yang lebih erat antara guru dan siswa. Menurut Slameto . , dalam proses belajar-mengajar, guru memiliki tanggung jawab untuk mendorong, membimbing, dan menyediakan fasilitas pembelajaran bagi siswa agar mencapai tujuan. Guru juga bertanggung jawab mengawasi semua yang terjadi di kelas untuk mendukung perkembangan siswa. Penyampaian materi pembelajaran hanya satu aspek dari berbagai kegiatan belajar yang merupakan proses dinamis dalam perkembangan siswa. Keberhasilan pembelajaran di sekolah bergantung pada peran guru dan siswa. Pengajaran sastra dalam proses belajar-mengajar di sekolah memiliki kepentingan khusus karena berkaitan dengan masalah kehidupan sehari-hari manusia, termasuk isu etika (Murni, 2. Sikap yang ingin dibentuk melalui pengajaran sastra/pengalaman sastra, segala sikap yang ideal. Hal ini sejalan dengan salah satu fungsi sastra yaitu pendidikan nilai. Oemarjati . menguraikan tujuan pengajaran sastra untuk mengembangkan aspek afektif siswa dan bukan kognitif. Menurut Oemarjati, tujuan akhir pengajaran sastra, memperkaya pengalaman siswa dan menjadikannya lebih tanggap terhadap peristiwa manusiawi, pengenalan dan rasa hormat terhadap tata nilai, baik dalam konteks individu maupun sosial. Pembelajaran apresiasi puisi memerlukan perhatian khusus dari guru (Fadhila. Pembelajaran apresiasi puisi harus mencapai tujuan serta arah pembelajaran sastra . Hal ini disebabkan karena pembelajaran puisi termasuk pembelajaraan yang sulit diajarkan oleh guru. Sehingga guru perlu menerapkan model pembelajaran yang tepat dan inovatif (Setyowati, 2. Pengembangan metode dan model pembelajaran tidak dapat dilakukan oleh guru dengan mudah. Kegiatan yang dilakukan oleh pengajar dari awal masuk kelas hingga selesai pembelajaran merupakan bagian integral dari penerapan model pembelajaran (Andayani, 2. Peran guru sangat signifikan, sebagai pengelola pembelajaran (Rohmadi, 2. Dengan demikian, perkembangan pembelajaran bergantung pada keterampilan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di dalam kelas (Mulyaningsih, 2. Guru kesulitan dalam mengajarkan apresiasi pusi diantaranya keberadaan pembelajaran puisi di sekolah harus diakui masih minim dan kurang menyenangkan bagi Kemampuan siswa dalam mengapresiasi puisi masih terasa dangkal dan kurangnya pemahaman akan makna setiap larik pada puisi. Di sisi lain lemahnya pembelajaran puisi, karena peran guru yang kurang maksimal dalam mendemonstrasikan apresiasi puisi yang Selain itu, guru yang kurang pandai dalam mendemonstrasikan pembacaan dan apresiasi puisi (Marlinton dalam Elfia et. Berdasarkan hasil observasi dengan guru bahasa Indonesia SMA Negeri 16 Bone menunjukkan bahwa pembelajaran apresiasi puisi kurang meningkatkan kreativitas siswa. Masih ada beberapa tenaga pendidik yang menggunakan metode konvensional. Selain itu, pembelajaran dilakukan secara monoton. Selanjutnya guru melakukan pembelajaran cenderung pada target kurikulum, lebih terpusat pada penghafalan konsep dari proses dan Hal ini dapat diamati pada saat pembelajaran di kelas yang selalu didominasi oleh Pada saat penyampaian materi guru cenderung menggunakan metode ceramah yang menyebabkan siswa hanya aktif menyimak dan mencatat sehingga peluang bagi siswa untuk tidak dapat menemukan atau mengapresiasi apa yang terdapat pada puisi. Dengan demikian suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif. Pembelajaran bahasa Indonesia di SMA Negeri 16 Bone terdapat indikasi bahwa adanya fluktuasi daya serap siswa pada aspek apresiasi puisi. Demikian halnya ketuntasan materi pelajaran. Pada sisi lain siswa kurang termotivasi dalam belajar puisi. Siswa merasa bahwa pembelajaran puisi kurang bermanfaat dalam kehidupan masa yang akan Fenomena tersebut diketahui berdasarkan hasil wawancara dengan siswa. Selain itu, siswa memiliki kemampuan yang rendah dalam mengapresiasi puisi. Hal ini tampak pada hasil pembelajaran pada semester ganjil tahun pelajaran 2021/2022. Banyak siswa yang mendapatkan nilai di bawah ketuntasan minimal yaitu 75. Masih ada beberapa siswa yang dinyatakan belum tuntas sehingga perlu adanya remedial. Data-data tersebut menuntut guru untuk melakukan inovasi dan kreativitas dalam pembelajaran mengapresiasi puisi. Guru dituntut untuk menggunakan model yang tepat dalam pembelajaran. Salah satu model belajar yang digunakan dalam pembelajaran mengapresiasi puisi adalah discovery learning. Penerapan model discovery learning pada pembelajaran merupakan upaya dalam meningkatkan kemampuan mengapresiasi puisi. Hal ini sesuai dengan pendapat Hosnan . menyebutkan bahwa discovery learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki, maka hasil yang diperoleh akan tahan lama dalam ingatan. Model discovery learning adalah model pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk aktif dalam mengemukakan beberapa pendapat yang dapat ditarik kesimpulannya berdasarkan prinsip-prinsip umum dari pengalamannya secara langsung. Penerapan model discovery learning dalam pembelajaran mengapresiasi puisi dapat dilakukan dengan cara siswa belajar aktif, berorientasi pada proses pembelajaran, untuk mencari pengetahuan sendiri, mengarahkan sendiri dan reflektif. Hal ini sesuai dengan penelitian dilakukan oleh Nichen Irma Cintia, dkk yang dimuat dalam jurnal PERSPEKTIF Ilmu Pendidikan - Vol. 32 No. 1 April 2018 tanggal 9-21 Maret 2018 Dengan DOI: https://doi. org/10. 21009/ PIP. mendeskripsikan hasil bahwa penerapan model Discovery Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar pembelajaran tematik siswa kelas V SDN Sidorejo Kidul 02 Tingkir. Adanya penerapan model discovery learning diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengapresiasi puisi pada siswa kelas XI SMA Negeri 16 Bone Kabupaten Bone. METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian eksprimen. Penelitian eksperimen adalah metode yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiyono, 2. Kendali kondisi atau kontrol yang dimaksud biasanya dilakukan melalui bandingan langsung terhadap sesuatu yang tidak diberi perlakuan. Dengan demikian, dapat dilakukan komparasi secara langsung antara subjek yang diberi perlakuan dan subjek yang tidak diberi perlakuan. Dengan begitu, kita dapat benar-benar memastikan dan mencermati lebih dalam bahwa tindakan hanya benarbenar akan memberikan dampak atau pengaruh apabila dilakukan pada subjek. Begitu pula pendapat Latipun . bahwa penelitian eksprimen merupakan penelitian yang bersifat prediktif, yaitu meramalkan akibat dari suatu manipulasi terhadap variabel Desain penelitian yang digunakan adalah desain eksprimen semu. Menurut Sugiyono . eksperimen semu merupakan penelitian yang mendekati eksperimen Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara langsung pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain dan menguji hipotesis hubungan sebab-akibat. Terdiri dari dua yaitu pembelajaran model discovery learning sebagai variabel (X) dan kemampuan apresiasi puisi sebagai variabel terikat (Y). Desain eksperimen semu mempunyai kelas eksperimen dan kelas kontrol, namun kelas kontrol tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Desain penelitian dilakukan dengan pola berikut ini. Tabel 3. Desain Penelitian Kelompok Tes Awal Treatmen Tes Akhir Eksprimen Kontrol Keterangan Y1 : Pretes : Postes : Treatmen (Sukardi, 2. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 16 Bone yang berjumlah 200 orang siswa. Untuk lebih jelasnya populasi dapat dilihat pada tabel 2 Tabel 3. Populasi Penelitian No. Kelas Jenis kelamin Jumlah XI IPA 1 XI IPA 2 XI IPA 3 XI IPS 1 XI IPS 2 XI IPS 3 Jumlah Sumber: Data siswa kelas XI SMAN 16 Bone Tahun pelajaran 2021/2022 Berdasarkan populasi tersebut yang terdiri dari 6 . kelas dan memiliki jumlah siswa yang banyak maka perlu dilakukan sampel penelitian. Penarikan sampel dalam penelitian ini dilakukan menggunakan sampling sistematis. Systematic sampling adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari angka populasi yang telah diberi nomor urut (Sugiyono, 2. Hal ini sesuai dengan pendapat Arikunto . , menurutnya sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang akan diteliti. Mengenai penentuan besarnya sampel menurut Arikunto . , bahwa di dalam pengambilan sampel apabila subjeknya kurang dari 100 diambil semua sehingga penelitian merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10%. 15% atau 20%, 25% atau lebih. Besarnya jumlah populasi dalam penelitian ini terdiri dari 200 orang. Berdasarkan keterangan di atas, maka adapun sampel di ambil 30% dari populasi dalam penelitian ini yaitu 60 orang. Untuk memperoleh data dalam penelitian digunakan instrumen, observasi dan tes. Teknik analisis data dilakukan dengan cara: . analisis statistik deskriptif dengan langkah-langkah yaitu membuat tabulasi skor siswa, menghitung persentase kemampuan tiap siswa, dan menghitung nilai rata-rata yang diperoleh siswa dan . analisis statistic inferensial dengan rumus berikut ini. ycu Keterangan: = kemampuamn siswa = jumlah jawaban benar X= jumlah item . ubjek penelitia. Setelah itu menghitung nilai rata-rata yang diperoleh siswa dengan menggunakan rumus ycU= Ocycu Keterangan = Nilai rata-rata ycu = Jumlah jawaban keseluruhan = Banyaknya subjek Data yang diperoleh dengan menggunakan teknik statistik inferensial kemudian data yang ditemukan dianalisis secara mendalam untuk menarik kesimpulan akhir dari penelitian. yc= ya Oe ya yca2 Oo ( Oe . = Mean dari kelompok kontrol = Mean dari kelompok eksprimen Ocyca = Jumlah deviasi dari mean perbedaan = Pasangan subjek/sampel = Bilangan tetap = Nilai perbandingan kelas eksprimen dengan kelas kontrol (Sukardi, 2. PEMBAHASAN Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif jenis uji t dan statistik inferensial yang terdiri dari: penyajian data tes awal kelas eksprimen dan kelas kontrol, penyajian data nilai tes akhir kelas ekprimen dan kelas kontrol dan penyajian data perbedaan kemampuan siswa dalam pembelajaran apresiasi puisi dengan menerapkan model discovery learning dan siswa yang tidak menggunakan discovery learning. Adapun penyajian data dapat dilihat berikut ini. Tabel 4. Nilai Tes Awal . Kelas Eksprimen dan Kelas Kontrol Nilai Pretes Kelompok Kelas Total Kelas Kontrol Kelas Eksprimen Total Nilai-nilai tersebut diperoleh dengan melihat hasil kemampuan siswa dalam menjawab soal mengenai apresiasi puisi yaitu: unsur instrinsik puisi dan unsur ekstrinsik puisi pada kelas kontrol dan kelas eksprimen. Deskripsi Nilai Tes Awal (Prete. pada Kelas Eksprimen Berdasarkan hasil analisis struktur fisik puisi dan struktur batin puisi pada tes awal . kelas eksprimen dapat diseksripsin bahwa dari 30 siswa hanya memeperoleh 60 ke bawah dengan rata-rata nilai yaitu 37,7. Hal ini berarti kemampuan mengapresiasi puisi sangat rendah. Data tersebut dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Nilai Tes Awal pada Kelas Eksprimen No. Frekuensi (F) Persentase (%) Kemampuan (P) Tingkat Penggunaan Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah 60 ke bawah Sangat Rendah Jumlah Deskripsi Nilai Tes Awal (Prete. Kelas Kontrol Hasil kemampuan siswa pada pembelajaran apresiasi puisi siswa kelas XI SMA Negeri 16 Bone pada kelas kontrol dapat dilihat pada tabel 5 berikut. Tabel 4. Kemampuan Nilai Tes Awal Kelas kontrol No. Frekuensi (F) Persentase (%) Kemampuan (P) Tingkat Penggunaan Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah 60 ke bawah Sangat Rendah Jumlah Paparan Nilai Tes Akhir (Poste. Kelas Eksprimen dan Kelas Kontrol Berdasarkan hasil analisis data postes dari 30 siswa pada kelas eksprimen diperoleh nilai rata-rata siswa 76,58. Hal ini berarti kemampuan siswa dalam pembelajaran mengapresiasi puisi dengan model discovery learning dikategorikan Nilai postes kelas kontrol diperoleh nilai rata-rata siswa adalah 55,66 yang berarti kemampuan menganalisis puisi dikategorikan rendah. Nilai rata-rata siswa kelas eksprimen dengan jumlah sampel (N) = 2297,5/30=76,58 sedangkan nilai rata-rata kelas kontrol 55,66 diperoleh dari hasil bagi seluruh nilai dengan jumlah siswa sampel (N) = 1670/30 =55,66. Data tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 4. Nilai Postes pada kedua Kelompok Nilai Postes Kelompok Kelas Total Kelas Kontrol Kelas Eksprimen Total Berdasarkan tabel 6 diperoleh dengan melihat hasil kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis puisi pada kelas eksprimen dan kelas kontrol. Deskripsi Nilai Tes Akhir (Poste. pada Kelas Eksprimen Deskripsi kemapuan menganalisis unsur intrinsik dan struktur batin puisi dengan jumlah siswa sebanyak 30 tampak pada tabel 7. Tabel 4. Kemampuan Nilai Akhir Kelas Eksprimen No. Frekuensi (F) Persentase (%) Kemampuan (P) Tingkat Penggunaan Sangat Tinggi 26,67 Tinggi Sedang 23,33 Rendah 60 ke bawah Sangat Rendah Jumlah Deskripsi Nilai Tes Akhir (Poste. Kelas Kontrol Berdasarkan nilai dari kemapuan menganalisis unsur untirnsik dan unsur batin pada kelas kontrol SMA Negeri 16 Bone sebanyak 30 siswa dikategorikan masih rendah. Nilai kemampuan tersebut dapat dilihat pada tabel 8. Tabel 4. Kemapuan Nilai Akhir (Poste. Kelas Kontrol No. Frekuensi (F) Persentase (%) Kemampuan (P) Tingkat Penggunaan Sangat Tinggi Tinggi Sedang 16,67 Rendah 60 ke bawah 83,33 Sangat Rendah Jumlah Berdasarkan tabel 8 dapat diuraikan bahwa dari 30 siswa sampel diperoleh nilai kategori sangat tinggi, tinggi, dan sedang tidak ada taua 0%. Siswa yang memperoleh kategori rendah sebanyak 5 orang atau 16,67% dan siswa yang memeproleh kategori sangat rendah sebanyak 25 orang atau 83,33%. Sesuai data-data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa dalam mengapresiasi puisi yang tidak menerapkan model discovery learning dikategorikan sangat rendah. Analisis Perbedaan Kemapuan dalam Pembelajaran Apresiasi Puisi dengan Menggunakan Model Discovery Learning Siswa Kelas XI SMA Negeri 16 BonE Kabupaten Bone Pada bagian ini dipaparkan perbedaan kemampuan dalam mengapresiasi puisi dengan menggunakan model discovery learning pada siswa kelas XI SMA Negeri 16 Bone Kabupaten Bone diukur berdasarkan perolehan nilai kelas eksprimen dan kelas kontrol. Berdasarkan perolehan nilai kelas eksprimen dan kelas kontrol dilakukan perhitungan dalam bentuk tabel kerja berikut. Tabel 4. Tabel Kerja Perbedaan Kemampuan Siswa dalam Pembelajaran Apresiasi dengan Penerapan Model Discovery Learning Kelas XI SMA Negeri 16 Bone Pasangan Subjek Nilai KE-KK -(B MB) -28,66 821,39 -43,66 1906,19 -21,16 447,74 -26,16 684,34 -46,16 2130,74 -41,16 169,14 -36,16 1307,54 -53,66 2879,39 -48,66 2367,79 -41,16 1694,14 -51,16 2617,34 -48,66 2367,79 -43,66 1906,19 -38,66 1494,59 JUMLAH MEAN 76,58 55,66 21,16 -38,66 -58,66 -43,66 -33,66 -48,66 -28,66 -33,66 -48,66 -46,16 -33,66 -36,16 -51,16 -51,16 -43,66 -46,16 -51,16 1494,59 3440,99 1906,19 1132,99 2367,79 821,39 1132,99 2367,79 2130,74 1132,99 1307,54 2617,34 2617,34 1906,19 2130,74 2617,34 55444,25 Keterangan: : Subjek pada kelas eksprimen : Subjek pada kelas kontrol : Hasil deviasi dari KE dan KK : Mean dari KE : Mean dari KK : Mean dari B Berdasarkan tabel kerja tersebut diperoleh nilai sebagi berikut. Mk = 55,66 ME = 76,58 Ocb2 = 55444,25 N = 30 Angka-angka diatas selanjutnya dimasukkan kedalam rumus untuk mengetahui koefesien t dari perhitungan t Ae test ya Oe ya Ocb2 ( Oe . t= 76,58 Oe 55,66 55444 , 25 Oe . 20,92 Oo 25 20,92 Oo 55444 30 ycU 29 20,92 Oo 55444 20,92 Oo63,72 20,92 7,98 t = 2,62 Berdasarkan hasil analisis data yang diuraikan diatas, terlihat bahwa nilai perbedaan kemampuan siswa dalam pembelajaran puisi dengan penerapan model discovery learning siswa kelas XI SMA Negeri 16 Bone sebesar 2,62. Berdasarkan nilai t-hitung tersebut dapat dibandingkan nilai t- tabel db = 30 Ae 1 = 29 dan t = 0,5 sementara t- hitung = 2,62 dan t- tabel = 2,04 . ignifikan 5%) dengan demikian t-hitung> t- tabel. t-tabel = . 1/2 =n-. = 1. 1/2. 0,5:30-1 = 0,25 : 29 = 2,04 Hipotesis yang diuji dengan statistic uji t, yaitu penerapan model discovery learning pada siswa kelas XI SMA Negeri 16 Bone diperoleh data bahwa nilai hasil kemmpuan siswa lebih tinggi daripada siswa yang tidak menggunakan model discovery learning. Setelah diadakan perhitungan berdasarkan hasil satistik inferensial jenis uji t diperoleh nilai thitung 2,62. Kriteria pengujianya adalah HO diterima jika t hitung > ttabel, artinya ada perbedaan yang signifikan dan HO ditolak apabila nilai t hitung < ttabel, artinya tidak ada perbedaan yang signifikan. Nilai t tabel =db=1=30-1=29 . ngka 29 inilah yang dilihat dalam tabe. Pada taraf signifikan 5% diperoleh 2,04, ternyata thitung > ttabel dan hipotesis kerja diterima. Dengan demikian ditemukan adanya perbedaan kemampuan siswa dalam pembelajaran apresiasi puisi yang menerapkan model discovery learning dan tidak menggunakan discovery learning. KESIMPULAN Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa dalam pembelajaran apresiasi puisi siswa kelas XI SMA Negeri 16 Bone sebelum mendapat perlakuan baik kelas kontrol maupun kelas eksprimen berada pada kategori sangat rendah dengan nilai rata-rata 36,5 dan nilai rat-rata kelas eksprimen 37,7. Kemampuan siswa dalam pembelajaran apresisasi puisi siswa kelas XI SMA Negeri 16 Bone setelah menerima perlakuan penenepan model discovery learning pada kelas eksprimen mengalami perubahan hasi kategori sangat rendah menjadi sedang dengan nilai rata-rata 76,58. Berdasarkan perhitungan nilai dengan uji t diperoleh hasil nilai t-hitung sebanyak sebanyak 2,62 > nilai t-tabel 2,04. Hal tersebut menunjukkan bahwa hipotesis penelitian yang diajukan diterima karena nilai t-hitung lebih besar dari t-tabel. Jadi penerapan model pembelajaran discovery learning dalam pembelajaran apresiasi puisi siswa kelas eksprimen lebih efektif daripada kelas kontrol yang tidak menggunakan model discovery DAFTAR PUSTAKA