JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Pembinaan Karakter Religius pada Peserta Didik di MIN 10 Kota Banda Aceh *Muhammad Alief Al Mukhlisin1. Saifullah Idris2. Mumtazul Fikri3. Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Banda Aceh. Aceh. Indonesia Email: alifmukhlisin51@gmail. Abstract This study aims to analyze the forms of religious character, development strategies, and the obstacles and solutions in the internalization of religious values among students at MIN 10 Kota Banda Aceh. A qualitative descriptive approach was employed, with data collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation. The participants included the principal, teachers, and students selected through purposive sampling. Data analysis followed the Miles. Huberman, and Saldaya interactive model. The findings indicate that studentsAo religious character is reflected in habitual worship, respectful behavior, and social empathy. Character development is implemented through five main strategies: role modeling, spiritual storytelling, religious advice, habituation of religious practices, and thematic discussions, supported by QURMA programs and extended diniyah hours. Major challenges include limited human resources, time constraints, funding, and inconsistent family support. These challenges are addressed through managerial innovations, stakeholder collaboration, and strengthened communication. This study recommends a collaborative and culturally grounded model of religious character education for Islamic elementary schools. Keywords: Religious Character. Character Development. Islamic Elementary School. Islamic Education. Educational Innovation Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk karakter religius, strategi pembinaan, serta hambatan dan solusi dalam proses internalisasi nilai-nilai religius pada peserta didik di MIN 10 Kota Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri atas kepala madrasah, guru, dan siswa yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan dengan model Miles. Huberman, dan Saldaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter religius peserta didik terwujud melalui kebiasaan ibadah, sikap sopan santun, dan kepedulian sosial. Pembinaan dilakukan melalui lima strategi utama: keteladanan, kisah spiritual, nasihat agama, pembiasaan praktik keagamaan, dan diskusi tematik, yang diperkuat oleh program QURMA dan tambahan jam diniyah. Hambatan utama mencakup keterbatasan sumber daya manusia, waktu, dana, serta variasi dukungan keluarga. Namun, hambatan tersebut dapat diatasi melalui inovasi manajerial, sinergi antar pemangku kepentingan, dan penguatan komunikasi. Penelitian ini merekomendasikan model pembinaan karakter religius berbasis kolaboratif dan kearifan lokal untuk madrasah ibtidaiyah. Kata Kunci: Karakter Religius. Pembinaan. Madrasah Ibtidaiyah. Pendidikan Islam. Inovasi Pendidikan *** JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. PENDAHULUAN Pendidikan karakter merupakan salah satu aspek fundamental dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan spiritual yang kuat. Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, karakter religius menjadi fondasi utama dalam menjaga identitas keislaman peserta didik, khususnya di madrasah ibtidaiyah yang secara kelembagaan berorientasi pada nilai-nilai agama. Karakter religius mencakup aspek vertikal dalam hubungan manusia dengan Tuhannya, serta dimensi horizontal dalam berinteraksi dengan sesama berdasarkan nilai-nilai toleransi, kedamaian, dan kesantunan sosial (Abdullah, 2007. Suwarni, 2. Namun demikian, berbagai indikator empiris menunjukkan adanya jurang antara idealitas tujuan pembinaan karakter religius dan realitas implementatif di Misalnya, data Kementerian Kesehatan (Kemkes, 2. mencatat bahwa prevalensi perokok usia 10Ae18 tahun di Indonesia mencapai 7,4% pada tahun 2023. Selain itu, terdapat lebih dari 19% remaja yang mengalami kecanduan gawai, serta 33,44% anak usia dini telah terekspos pada penggunaan perangkat digital secara intensif (Kemdikbud, 2. Fenomena ini mengindikasikan adanya degradasi perhatian terhadap pembinaan karakter spiritual sejak dini, termasuk di lingkungan pendidikan dasar. Temuan lain dari Kementerian Agama (Kemenag, 2. menunjukkan bahwa sebagian siswa madrasah belum mampu membaca Al-QurAoan dengan baik dan masih kurang disiplin dalam menjalankan ibadah wajib seperti salat. Gejala ini memperkuat dugaan bahwa pembinaan karakter religius belum sepenuhnya membumi dalam keseharian peserta didik, meskipun telah tercantum dalam kurikulum nasional. Dalam konteks pendidikan Islam, hal ini bertentangan dengan perintah Allah dalam Q. An-Nisa: 59 tentang pentingnya ketaatan terhadap Allah. Rasul, dan pemimpin, serta sabda Nabi Muhammad SAW yang menekankan pentingnya membiasakan salat sejak usia tujuh tahun (Abu Dawud, 2. Observasi awal peneliti di MIN 10 Kota Banda Aceh memperkuat urgensi Masih dijumpai peserta didik yang menunjukkan sikap kurang serius dalam mengikuti salat dhuha dan tadarus, serta perilaku yang belum sepenuhnya mencerminkan adab Islami, seperti berbicara kasar, kurang menghargai guru, dan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. kurang peduli terhadap teman. Temuan ini menuntut adanya program pembinaan karakter religius yang tidak hanya bersifat simbolik atau seremoni, tetapi dirancang secara sistematis, kontekstual, dan menyentuh aspek afektif serta sosial peserta Kajian-kajian sebelumnya cenderung memfokuskan perhatian pada pembinaan karakter religius di jenjang pendidikan menengah atau pada konteks pendidikan umum, tanpa mengelaborasi strategi, tantangan, serta kolaborasi antar aktor pendidikan di tingkat madrasah ibtidaiyah. Khususnya di Aceh, sebuah wilayah dengan kekhasan budaya Islam yang kuat masih minim kajian lokal yang mengeksplorasi praktik pembinaan karakter religius berbasis budaya madrasah (Defi Yufarika, 2. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk menutup celah literatur tersebut melalui kajian mendalam dan kontekstual. Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: . bentuk karakter religius peserta didik di MIN 10 Kota Banda Aceh, . strategi pembinaan karakter religius yang diterapkan, dan . hambatan serta solusi yang ditempuh dalam proses internalisasi karakter tersebut. Kebaruan . penelitian ini terletak pada eksplorasi menyeluruh terhadap praktik pembinaan karakter religius di madrasah ibtidaiyah berbasis pendekatan partisipatif dan kolaboratif, serta pemetaan hambatan dan solusi berbasis realitas lokal Aceh yang belum banyak disentuh dalam studi-studi sebelumnya. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif untuk memahami secara mendalam praktik pembinaan karakter religius di MIN 10 Kota Banda Aceh. Pemilihan pendekatan ini didasarkan pada kebutuhan untuk mengeksplorasi realitas sosial, nilai, dan strategi yang digunakan madrasah dalam pembinaan karakter religius melalui perspektif para pelaku pendidikan (Creswell & Poth, 2. Subjek penelitian terdiri atas kepala madrasah, empat guru, dan dua puluh lima peserta didik yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria partisipan mencakup keterlibatan aktif dalam kegiatan keagamaan di madrasah, pengalaman minimal satu tahun di lingkungan MIN 10 Kota Banda Aceh, serta kesediaan untuk diwawancarai secara mendalam. Teknik ini digunakan agar data JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. yang diperoleh relevan dengan tujuan penelitian dan berasal dari informan yang memahami fenomena yang diteliti. Pengumpulan data dilakukan selama tiga bulan, mulai dari Maret hingga Mei 2025, melalui tiga teknik utama: observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi dilakukan secara intensif terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan seperti salat dhuha berjamaah, tadarus Al-QurAoan, pembacaan doa harian, serta kegiatan rutin QURMA dan pembiasaan adab Islami. Peneliti mencatat interaksi, ekspresi, dan kebiasaan peserta didik serta keterlibatan guru secara langsung di lapangan. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur dengan pertanyaan terbuka yang disesuaikan dengan peran informan masing-masing. Fokus wawancara meliputi persepsi, pengalaman, serta tantangan dalam pelaksanaan pembinaan karakter religius. Wawancara direkam dan ditranskrip untuk dianalisis lebih lanjut. Dokumentasi yang dikumpulkan mencakup kurikulum, program kegiatan, jadwal diniyah, notulen rapat guru, serta kebijakan sekolah terkait penguatan karakter. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles. Huberman, dan Saldaya . , yang mencakup tiga langkah utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Reduksi data dilakukan secara berkelanjutan sejak proses pengumpulan, dengan menyeleksi informasi yang relevan terhadap fokus penelitian. Penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi tematik dan matriks analisis, sedangkan kesimpulan ditarik melalui identifikasi pola, tema dominan, dan hubungan antarkategori. Untuk menjaga keabsahan data, peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Selain itu, dilakukan validasi melalui member check kepada informan utama, diskusi rekan sejawat, serta pencatatan jejak audit . udit trai. guna menjamin transparansi proses penelitian. Seluruh prosedur dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip etika penelitian, termasuk memperoleh izin resmi dari madrasah dan informed consent dari seluruh partisipan. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. HASIL DAN PEMBAHASAN Representasi Karakter Religius Peserta Didik Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi, ditemukan bahwa karakter religius peserta didik di MIN 10 Kota Banda Aceh tercermin dalam perilaku ibadah harian dan interaksi sosial di lingkungan madrasah. Sebagian besar siswa secara aktif mengikuti kegiatan shalat dhuha dan dzuhur berjamaah, rutin membaca Al-QurAoan, serta membiasakan doa sebelum dan sesudah aktivitas belajar. Selain itu, terdapat pembiasaan penggunaan salam, sopan santun dalam berbicara, serta kepedulian terhadap teman sebaya yang menunjukkan dimensi spiritualitas dan moralitas secara bersamaan. Karakter religius tidak hanya diekspresikan dalam bentuk ritual keagamaan, tetapi juga melalui penghayatan nilai-nilai keimanan seperti tanggung jawab, kedisiplinan waktu, dan keberanian untuk menegur teman yang lalai menjalankan Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai religius telah terinternalisasi menjadi budaya kolektif di lingkungan madrasah, bukan sekadar kewajiban formal atau simbolik. Temuan ini sejalan dengan pandangan Suwarni . bahwa karakter religius yang kuat dibentuk melalui proses pengulangan perilaku positif dalam konteks yang mendukung. MIN 10 Kota Banda Aceh telah membentuk lingkungan yang memungkinkan peserta didik mengembangkan sikap religius melalui kebiasaan yang terstruktur dan berkesinambungan. Strategi Pembinaan Karakter Religius Pembinaan karakter religius di MIN 10 diterapkan melalui pendekatan holistik yang memadukan keteladanan, pengajaran, pembiasaan, serta regulasi Terdapat lima strategi utama yang diterapkan secara simultan: Keteladanan . swah hasana. : Guru dan kepala madrasah secara konsisten menampilkan perilaku religius dalam keseharian, seperti melaksanakan shalat tepat waktu, memberi salam, dan menunjukkan sikap santun, sehingga menjadi contoh konkret bagi siswa. Penyampaian kisah-kisah spiritual dan nasihat agama: Cerita-cerita dari sejarah Nabi dan tokoh Islam disampaikan pada momen tertentu . ebelum JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. belajar atau saat peringatan hari besar Isla. , yang mengandung pesan moral dan nilai-nilai akhlak. Pembiasaan melalui praktik langsung: Kegiatan rutin seperti shalat berjamaah, tadarus pagi, dan hafalan doa harian menjadi bagian dari kurikulum tersembunyi . idden curriculu. Diskusi tematik: Siswa dilibatkan dalam diskusi sederhana mengenai nilai ibadah, pentingnya salat, atau akhlak terhadap sesama, yang dilakukan dalam forum kelas maupun kegiatan kokurikuler. Penguatan kelembagaan melalui program inovatif: Program QURMA (QurAoan dan Madrasa. dan tambahan jam diniyah menjadi instrumen kelembagaan dalam menguatkan sistem pembinaan karakter religius secara Penerapan strategi ini menunjukkan pendekatan sistemik yang melibatkan berbagai elemen madrasah, mulai dari guru, siswa, orang tua, hingga komite Guru juga melakukan supervisi informal terhadap perkembangan perilaku religius siswa, sehingga memungkinkan adanya umpan balik dan perbaikan yang bersifat berkelanjutan. Model ini mendukung temuan Akhmad Muhaimin . yang menyatakan bahwa pembentukan karakter religius memerlukan integrasi antara nilai, keteladanan, serta penguatan regulatif dari lembaga pendidikan. Strategi yang adaptif terhadap kebutuhan lokal terbukti lebih efektif dibandingkan pendekatan formalistik semata. Selain data yang diperoleh melalui observasi dan wawancara, peneliti juga mengakses sejumlah dokumen kelembagaan sebagai bagian dari sumber data Dokumentasi yang ditelaah meliputi jadwal pelaksanaan program diniyah, buku agenda kegiatan keagamaan siswa, serta lembar program QURMA (QurAoan dan Madrasa. Berdasarkan dokumen tersebut, diketahui bahwa kegiatan salat dhuha berjamaah dan tadarus Al-QurAoan telah terjadwal secara rutin setiap pagi pukul 07. 00, sebelum pembelajaran dimulai. Program QURMA tercantum sebagai kegiatan pembiasaan religius berbasis kurikulum madrasah yang menyatu dengan agenda pembelajaran karakter. Bukti-bukti dokumenter ini JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. mendukung hasil observasi dan memperkuat keabsahan temuan mengenai strategi pembinaan religius yang terstruktur dan berkelanjutan. Hambatan dan Solusi dalam Pembinaan Karakter Religius Dalam praktiknya, pembinaan karakter religius tidak terlepas dari berbagai tantangan, baik struktural maupun kultural. Temuan penelitian menunjukkan beberapa hambatan utama: Keterbatasan sumber daya manusia, khususnya dalam hal jumlah guru pendamping kegiatan keagamaan. Waktu yang terbatas, karena padatnya kurikulum akademik dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Keterbatasan dana operasional, terutama untuk pengadaan sarana ibadah dan kegiatan religi berkala. Variasi dukungan dari keluarga dan masyarakat, di mana sebagian siswa berasal dari lingkungan rumah yang kurang mendukung pembiasaan Namun, pihak madrasah tidak pasif dalam menghadapi tantangan ini. Sejumlah solusi strategis telah dilakukan, antara lain: Menggalang dana dari sponsor dan komite sekolah, untuk menunjang keberlangsungan program keagamaan. Membangun komunikasi intensif dengan orang tua siswa, melalui forum silaturrahim dan penguatan peran wali kelas. Melakukan penataan ulang jadwal pembelajaran, agar kegiatan keagamaan tidak tumpang tindih dengan mata pelajaran inti. Menerapkan sistem evaluasi perilaku berbasis observasi guru, yang dilaporkan secara berkala melalui forum madrasah. Kondisi ini menunjukkan bahwa kendala dalam pembinaan karakter religius dapat dikelola melalui inovasi manajerial dan sinergi multipihak. Pembelajaran dari MIN 10 menunjukkan pentingnya kepemimpinan visioner dan pendekatan adaptif dalam menghadirkan pendidikan karakter yang kontekstual dan berdampak. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa pembinaan karakter religius di MIN 10 Kota Banda Aceh telah dilaksanakan secara sistematis dan menyeluruh. Karakter religius peserta didik terwujud melalui pembiasaan ibadah seperti salat dhuha, tadarus Al-QurAoan, dan doa harian, serta tercermin dalam sikap sopan santun dan kepedulian sosial. Strategi pembinaan dilakukan melalui pendekatan holistik yang mencakup keteladanan guru, penyampaian kisah dan nasihat keagamaan, pembiasaan praktik religius, serta diskusi tematik keislaman, yang diperkuat oleh program QURMA dan jam diniyah tambahan. Hambatan dalam pelaksanaan pembinaan meliputi keterbatasan sumber daya manusia, waktu, dan dukungan keluarga, namun berhasil diatasi melalui inovasi manajerial, penguatan komunikasi, dan kolaborasi antar pemangku kepentingan madrasah. Berdasarkan temuan ini, penelitian merekomendasikan model pembinaan karakter religius berbasis partisipasi dan kearifan lokal sebagai pendekatan yang relevan untuk diterapkan di madrasah ibtidaiyah lainnya. *** DAFTAR PUSTAKA