Jurnal Agrisistem Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 DOI: https://doi. org/10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 FAKTOR KARAKTERISTIK DAN RESPONS ANGGOTA KELOMPOK WANITA TANI MAWAR TERHADAP ADOPSI INOVASI HIDROPONIK SISTEM WICK DALAM PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN UNTUK BUDIDAYA SELEDRI Characteristic Factors and Responses of Mawar Women Farmers Group Members to the Adoption of the Wick System Hydroponic Innovation in Utilizing Yard Land for Celery Cultivation Rafika Dewi Pratiwi1*. Hermaya Rukka2. Kaharuddin2 Dinas Pertanian Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Jl. DR. Sam Ratulangi No. 17 Benteng. Prov. Sulawesi Selatan Program Studi Budidaya Tanaman Hortikultura. Fakultas Pertanian. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa. Jl. Malino km. 7 Romanglompoa. Kec. Bontomarannu. Kabupaten Gowa, 92171 ABSTRAK Budidaya tanaman dengan sistem hidroponik dapat menjadi pilihan dalam pemanfaatan lahan pekarangan, sebagai solusi atas menyempitnya lahan pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk: . menganalisis korelasi antara karakteristik anggota Kelompok Wanita Tani Mawar (KWTM) dengan tingkat adopsi inovasi hidroponik sistem wick dalam pemanfaatan pekarangan untuk budidaya seledri (Apium graveolens L. ), dan . menganalisis respons anggota KWTM terhadap inovasi hidroponik sistem wick pada budidaya seledri. Penelitian dilaksanakan di KWTM Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Dalam penelitian ini, semua petani yang terhimpun dalam KWTM adalah Faktor x, dengan variabel: umur petani . , tingkat pendidikan . , status dalam kelompok . , minat usaha tani . , dan tingkat adopsi inovasi petani adalah faktor y. Untuk melihat korelasi variabel x dengan variabel y digunakan analisis korelasi Rank-Spearman. Evaluasi penyuluhan dilakukan untuk mengetahui respons anggota KWT terhadap inovasi hidroponik sistem wick dalam pemanfaatan pekarangan untuk budidaya Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur berkorelasi negatif sangat nyata . = -0,677**), tingkat pendidikan . = 0,421*, dan minat usaha tani . ,460*) berkorelasi nyata, sementara status dalam kelompok berkorelasi tidak nyata . ,263t. , dengan tingkap adopsi. meningkatkan pengetahuan . ,8%), sikap . ,6%) dan keterampilan . ,6%), dengan efektivitas penyuluhan sebesar 71,87% . ategori Kata Kunci: Pekarangan. Wanita Tani. Hidroponik Sistem Wick. Adopsi Inovasi ABSTRACT Cultivating plants using a hydroponic system can be an option for utilizing yard land as a solution to the narrowing of agricultural land. This research aims to: . analyze the correlation between the characteristics of the Mawar Women Farmers Group (KWTM) members and the level of adoption of the wick system hydroponic innovation in using the yard for cultivating celery (Apium graveolens L. ), and . analyze the response of KWTM members to the wick system hydroponic innovation in celery The research was carried out at KWTM Bone Regency. South Sulawesi. In this research, all farmers collected in the KWTM are Factor x, with the variables: farmer's age . , education level . , status in the group . , interest in farming . , and the level of farmer innovation adoption is the y To see the correlation between variable x and variable y. Rank-Spearman correlation analysis is Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 DOI: https://doi. org/10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 The extension evaluation was carried out to determine the response of KWT members to the hydroponic wick system innovation in using yards for celery cultivation. The research results showed that age had a very significant negative correlation . = -0. 677**), education level . = 0. 421*), and interest in farming . = 0. 460*) had a significant correlation, while status in the group had an insignificant correlation . = 0. , with adoption rates, increasing knowledge . 8%), attitudes . 6%), and skills . 6%), with an extension effectiveness of 71. 87% . ffective categor. Keywords: Yard. Female Farmer. Hydroponic Wick System. Adoption Of Innovation @ 2025 Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Halaman Jurnal https://ejournal. polbangtan-gowa. id/index. php/J-Agr-Sosekpenyuluhan/article/view/421 Received : 22 November 2024 Accepted : 27 Juni 2025 Published Online : 30 Juni 2025 * Email Korespondensi: rafikadewipratiwi@gmail. PENDAHULUAN Hidroponik merupakan budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah, dan metode ini sangat sejalan dengan konsep pertanian hijau, khususnya dalam efektivitas penggunaan lahan. Semakin menyempitnya lahan pertanian (Lapatandau et al. , 2. adalah salah satu dari banyak masalah yang dihadapi sektor pertanian di Indonesia. Beberapa wilayah mengalihfungsikan lahan pertanian menjadi daerah pemukiman dan industri (Prabowo et al. , 2. , di sisi lain, kebutuhan akan produk pertanian meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk (Ariska et al. , 2. Pertanian konvensional juga menghadapi masalah kesuburan tanah, yang merupakan permasalahan klasik di sektor pertanian (Syawal et al. , 2. Karena pembangunan gedung-gedung tinggi dan perumahan, kehidupan di kotakota mulai semakin sesak. Lahan kosong yang tersisa di kota biasanya tidak digunakan untuk budidaya tanaman (Yusuf et al. , 2. , padahal budidaya tanaman adalah salah satu kegiatan yang menyenangkan di mana orang-orang dapat menyalurkan hobi mereka dan melakukan penghijauan secara tidak langsung, seperti menanam sayuran di pot (Sengkey et al. , 2. Untuk mengatasi hal ini, khususnya di daerah perkotaan, pemerintah mendukung program urban farming, yang mengoptimalkan potensi lahan perkotaan untuk pertanian (Widyawati, 2. , dan ini sangat sesuai dengan model budidaya dengan menggunakan hidroponik. Teknik hidroponik dapat menjadi hobi yang menyenangkan (Damayanti, 2. dan bahkan menjadi sistem budidaya tanaman yang ramah lingkungan (Purnomo, 2. Hidroponik dapat menjadi bisnis yang menguntungkan, dan orang-orang dapat mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan yang mereka tanam sendiri. Salah satu solusi untuk mempertahankan lahan hijau di perkotaan adalah budidaya tanaman dengan sistem hidroponik (Sengkey et al. , 2. Di Negara-negara maju seperti Jepang, hidroponik dikembangkan dengan menggunakan teknologi tinggi, sedangkan di Indonesia hidroponik belum banyak mendapat tempat di tingkat petani, khususnya KWT, walaupun pada dasarnya anggota KWT sangat menyukai dan berminat menerapkan budidaya tanaman dengan sistem hidroponik, khususnya tanaman semusim, seperti seledri. Seledri adalah sayuran daun yang memiliki banyak manfaat, antara lain dapat digunakan sebagai pelengkap masakan dan juga bermanfaat sebagai obat. Selain itu, tanaman seledri mengandung banyak zat gizi, termasuk vitamin A, vitamin C, dan zat besi (Permadi, 2. Sistem hidroponik untuk pemanfaatan pekarangan dinilai perlu untuk dilakukan sebagai penerapan dari urban farming. Budidaya tanaman dengan hidroponik sistem wick cenderung ditujukan untuk ibu rumah tangga atau kelompok wanita tani karena mudah untuk dilakukan dan dapat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari untuk keluarga. Oleh sebab itu, diharapkan dengan hidroponik sistem Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 DOI: https://doi. org/10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 wick dapat menumbuhkan minat dan kesadaran ibu rumah tangga atau wanita tani agar dapat memanfaatkan pekarangan sehingga mereka dapat mandiri dan mengoptimalisasi pekarangan sekitar. Kelompok Wanita Tani Mawar (KWTM) yang ada di Kelurahan Bukaka. Kecamatan Tanete Riattang. Kabupaten Bone menjadi sasaran penelitian sebagai salah satu percontohan penerapan pemanfaatan pekarangan dengan hidroponik sistem wick, karena berdasarkan hasil identifikasi potensi wilayah yang dilakukan, ditemukan masalah yang berkaitan dengan pemanfaatan pekarangan dengan sayur-sayuran yang belum optimal dengan komoditas yang belum bernilai ekonomis tinggi, selain itu anggota KWT juga memiliki karakteristik yang berbeda-beda, terutama berdasarkan umur dan tingkat Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka faktor Karakteristik dan respons Anggota KWTM terhadap adopsi hidroponik sistem Wick dalam pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya seledri menjadi menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk: . Menganalisis korelasi antara karakteristik anggota KWTM dengan tingkat adopsi inovasi hidroponik sistem wick dalam pemanfaatan pekarangan untuk budidaya seledri (Apium graveolens L. ), dan . menganalisis respons anggota KWTM terhadap inovasi hidroponik sistem wick pada budidaya seledri. METODE PELAKSANAAN Tempat dan Waktu Pelaksanaan Penelitian dilaksanakan di KWTM yang berlokasi di Jl. Cempalagi TalumaE. Kelurahan Bukaka. Kecamatan Tanete Riattang. Kabupaten Bone. Provinsi Sulawesi Selatan. Lokasi ini dipilih karena berdasarkan identifikasi wilayah. KWTM ini tergolong aktif dan berada dalam wilayah ibu kota Kabupaten Bone (Gambar . Gambar 1. Lokasi penelitian dengan posisi geografis 4A31'11. 34"LS dan 119A20'50. 84"BT, dengan elevasi 18 m di atas permukaan laut Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam budidaya tanaman seledri menggunakan hidroponik sistem Wick, yaitu pisau cutter. TDS (Total Dissolve Soli. , dan kuas, sedangkan bahan yang digunakan adalah spons, kain flannel, botol plastik bekas, nutrisi larutan A dan B, baki atau wadah, anakan seledri, dan cat Pada kegiatan penyuluhan digunakan kuesioner sebagai instrumen dalam pengambilan data tingkat adopsi inovasi anggota KWTM. Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 DOI: https://doi. org/10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 Metode Pelaksanaan Penelitian ini dilaksanakan dengan dua kegiatan yang berjalan secara bersamaan, yaitu: . implementasi budidaya seledri menggunakan hidroponik sistem Wick, dan . penyuluhan yang dilaksanakan secara berkala selama penelitian berlangsung. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara dengan menggunakan kuesioner untuk mengukur tingkat adopsi dan respons anggota KWTM. Pada penelitian ini, seluruh anggota KWTM yang berjumlah 25 orang dijadikan sebagai Data pendukung . diperoleh dari instansi terkait seperti Kantor BPP Kecamatan serta referensi yang mendukung penelitian ini. Analisis Data Untuk mengetahui tingkat adopsi inovasi anggota KWTM terhadap pemanfaatan pekarangan dengan budidaya seledri menggunakan hidroponik sistem wick, yaitu dengan menggunakan instrumen berupa kuesioner. Evaluasi yang digunakan dalam penelitian ini berupa evaluasi kognitif . , afektif . ikap/mina. , dan psikomotor . , selama penelitian berlangsung dengan menggunakan Skala Likert. Untuk menghitung korelasi karakteristik anggota KWTM . mur, pendidikan, status dalam kelompok, dan minat usahatan. terhadap tingkat adopsi inovasi dengan menggunakan Uji Korelasi Rank-Spearman dengan variabel pengukuran sebagai berikut: x1 = umur, x2 = tingkat pendidikan, x3 = status dalam kelompok, x4 = minat dalam usahatani, dan y = tingkat adopsi terhadap hidroponik sistem wick pada tanaman seledri. Skoring dilakukan untuk beberapa variabel pengamatan. Untuk variabel tingkat pendidikan, skor 5 untuk S1, 4 untuk SMA, 3 untuk SMP, 2 untuk SD, dan 1 untuk tidak Untuk variabel status dalam kelompok, skor 4 untuk ketua, 3 untuk sekretaris, 2 untuk bendahara, dan 1 untuk anggota. Variabel minat dalam usahatani diberikan skor 3 untuk berusahatani karena penghasilan/mata pencaharian, 2 untuk berusahatani karena memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan 1 untuk berusahatani karena hobi/kegemaran. Untuk mengetahui efektivitas penyuluhan (EP) tentang pemanfaatan pekarangan dengan hidroponik sistem wick, yaitu dengan menggunakan rumus (Padmowihardjo, 2. EP = Keterangan : Ps Oe Pr x 100% . Q) Oe Pr Ps = Ev. Pr = Ev. awal, n = Jumlah responden, 4 = Nilai tertinggi. Q = Jumlah pertanyaan. Ps Ae Pr = Peningkatan pengetahuan/sikap/keterampilan. Q = Nilai Nilai kriteria prosentase efektivitas penyuluhan adalah : 0 Ae 25 % = Tidak efektif, 26 Ae 50 % = Cukup efektif, 51 Ae 75% = Efektif, dan 76 Ae 100% = Sangat efektif HASIL DAN PEMBAHASAN Korelasi antara karakteristik wanita tani dengan tingkat adopsi hidroponik sistem wick Karakteristik anggota KWTM berdasarkan umur adalah 9 orang berumur 30-40 . %), 8 berumur >40-50 . %), dan >50-60 . %). Berdasarkan tingkat pendidikan, tidak sekolah 1 orang . %). SD 4 orang . %). SMP 8 orang . %). SMA 9 orang . %), dan Sarjana 1 orang . %). Hasil analisis Uji Korelasi Rank-Spearman tentang korelasi antara karakteristik wanita tani dengan tingkat adopsi inovasi hidroponik sistem wick disajikan pada Tabel 1. Tabel 1 menunjukkan bahwa dari semua karakteristik wanita tani, faktor umur memberikan hasil nilai korelasi yang sangat nyata, sedangkan faktor tingkat pendidikan dan minat usaha tani memberikan hasil nilai korelasi yang nyata, sedangkan faktor status dalam kelompok memberikan hasil korelasi yang tidak nyata terhadap tingkat adopsi hidroponik sistem wick pada tanaman seledri. Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 DOI: https://doi. org/10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 Tabel 1. Korelasi antara karakteristik wanita tani dengan tingkat adopsi hidroponik sistem wick pada tanaman seledri Tingkat Adopsi Terhadap Hidroponik Sistem Wick . Korelasi Sig. Umur . -0,677 0,000** Tingkat pendidikan . 0,421 0,036* Status dalam kelompok . 0,263 0,205tn Minat dalam usahatani . 0,460 0,021* Keterangan : ** = sangat nyata, * = nyata, tn = tidak nyata Karakteristik Wanita Tani Umur Umur memberikan pengaruh yang sangat nyata . terhadap tingkat adopsi inovasi hidroponik sistem wick pada tanaman seledri (Tabel . Nilai korelasi Rank-Spearman yang diperoleh yaitu -0,677 . ernilai negati. menunjukkan bahwa umur berbanding terbalik dengan tingkat adopsi. Semakin muda umur responden maka semakin tinggi kecenderungan untuk menerima suatu inovasi dan sebaliknya semakin tua umur responden maka penerimaan terhadap inovasi yang diberikan cenderung lebih rendah. Gambar 2 memperlihatkan penyebaran dan arah korelasi atau hubungan antara umur dan tingkat adopsi yang memiliki korelasi negatif, yang bermakna bahwa semakin muda seseorang maka semakin tinggi tingkat adopsinya. Dari Gambar 2 juga dapat dilihat bahwa nilai R yang diperoleh berdasarkan Rank-Spearman sebesar -0,677 menunjukkan bahwa tingkat keeratan hubungan yang diperoleh antara faktor umur dan tingkat adopsi inovasi termasuk dalam kriteria yang kuat (Sugiyono, 2. Tingkat Adopsi R Spearman = -0. Umur . Gambar 2. Korelasi antara umur dengan tingkat adopsi inovasi terhadap hidroponik sistem wick pada tanaman seledri Berdasarkan uraian dari Tabel 1 dan Gambar 2 menunjukkan bahwa faktor umur sangat signifikan mempengaruhi tingkat adopsi inovasi seseorang. Hal ini sesuai dengan pendapat Lubis . , bahwa semakin muda umur petani, maka akan semakin bersemangat untuk mengetahui hal-hal yang baru, sehingga dengan demikian mereka berusaha untuk lebih cepat melakukan adopsi inovasi. Hal Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 DOI: https://doi. org/10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 ini juga dibuktikan dengan nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,01 yang menunjukkan adanya korelasi yang sangat signifikan antara umur responden dengan tingkat adopsi. Hasil serupa juga diperoleh Adawiyah dan Mulyani . bahwa faktor umur berpengaruh terhadap tingkat adaptasi Lamarang et al. juga mempertegas bahwa umur adalah faktor yang berpengaruh terhadap aktivitas seseorang, hal ini memperkuat hasil temuan bahwa umur sangat berkorelasi dengan produktivitas/tingkat adopsi. Pendidikan Tingkat pendidikan memberikan pengaruh yang nyata terhadap tingkat adopsi inovasi hidroponik sistem wick pada tanaman seledri (Tabel . , yang ditunjukkan oleh nilai sig. 0,036 (> 0. dan < 0,. Dari Tabel 1 juga dapat dilihat nilai korelasi Rank-Spearman yang diperoleh yaitu 0,421 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan berbanding lurus dengan tingkat adopsi. Semakin tinggi tingkat pendidikan responden maka semakin tinggi kecenderungan untuk menerima suatu inovasi dan sebaliknya semakin rendah tingkat pendidikan responden maka penerimaan terhadap inovasi juga Gambar 3 memperlihatkan penyebaran dan arah korelasi atau hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkat adopsi yang memiliki korelasi positif, yang bermakna bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi tingkat adopsinya. Dari Gambar 3 juga dapat dilihat bahwa nilai R yang diperoleh berdasarkan Rank-Spearman sebesar 0,421 menunjukkan bahwa tingkat keeratan hubungan yang diperoleh antara faktor tingkat pendidikan dan tingkat adopsi inovasi termasuk dalam kriteria sedang (Sugiyono, 2. Tingkat Adopsi R Spearman = 0,421 Tingkat Pendidikan Gambar 3. Korelasi antara tingkat pendidikan dengan tingkat adopsi terhadap hidroponik sistem wick pada tanaman seledri Berdasarkan uraian dari Tabel 1 dan Gambar 3 menunjukkan bahwa faktor pendidikan signifikan mempengaruhi tingkat adopsi inovasi seseorang, karena tingkat pendidikan secara umum akan mempengaruhi cara berpikir seseorang yaitu cara memandang permasalahan dan cara menyelesaikan permasalahan. Tingkat pendidikan juga dapat mempengaruhi seseorang dalam mempertimbangkan suatu keputusan apakah suatu inovasi dapat diadopsi atau tidak. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lubis . bahwa pendidikan merupakan sarana belajar dimana selanjutnya akan menanamkan sikap pengertian yang menguntungkan menuju pembangunan dalam pertanian yang lebih Mereka yang berpendidikan tinggi adalah yang relatif lebih cepat dalam melaksanakan adopsi. Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 DOI: https://doi. org/10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 begitu pula sebaliknya mereka yang berpendidikan rendah lebih sulit melaksanakan adopsi inovasi dengan cepat. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Kusnadi . bahwa dengan pendidikan, akan tercipta stabilitas, kontinuitas, dan mendorong masa depan yang lebih baik. Pendidikan akan meningkatkan pengetahuan, dan pengetahuan merupakan dasar apakah adopsi dapat dilakukan dengan baik (Welson et al. , 2. Status dalam kelompok Status dalam kelompok memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap tingkat adopsi inovasi hidroponik sistem wick pada tanaman seledri (Tabel . , yang ditunjukkan oleh nilai sig. 0,205 > 0,05. Dari Tabel 1 juga dapat dilihat nilai korelasi Rank-Spearman yang diperoleh yaitu 0,263 menunjukkan bahwa status dalam kelompok berbanding lurus dengan tingkat adopsi. Semakin tinggi status dalam kelompok responden maka semakin ada kecenderungan untuk menerima suatu inovasi dan sebaliknya semakin rendah status responden maka penerimaan terhadap inovasi juga rendah. Gambar 4 memperlihatkan penyebaran dan arah korelasi atau hubungan antara status dalam kelompok dengan tingkat adopsi yang memiliki korelasi positif, yang bermakna bahwa semakin tinggi status dalam kelompok maka semakin meningkat tingkat adopsinya. Dari Gambar 4 juga dapat dilihat bahwa nilai R yang diperoleh berdasarkan Rank-Spearman sebesar 0,263 menunjukkan bahwa tingkat keeratan hubungan yang diperoleh antara faktor status dalam kelompok dengan tingkat adopsi inovasi termasuk dalam kriteria lemah (Sugiyono, 2. Status dalam kelompok seperti ketua, sekretaris dan bendahara sejatinya memberikan pengaruh yang tinggi dalam mengadopsi inovasi hidroponik, tetapi hal ini tidak menjamin, ini dibuktikan bahwa banyak anggota KWTM yang tingkat adopsinya lebih tinggi, sehingga ditengarai yang berpengaruh sebenarnya adalah tingkat keaktifan dari anggota KWTM tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Putri . dan Satmoko dan Eddy . bahwa keaktifan seorang anggota kelompok sangat menentukan tinggi atau rendahnya anggota kelompok tersebut dalam menerapkan suatu inovasi. Tingkat Adopsi R Spearman = 0,263 Status dalam Kelompok Gambar 4. Korelasi antara status dalam kelompok dengan tingkat adopsi terhadap hidroponik sistem wick pada tanaman seledri Minat dalam usahatani Minat dalam usahatani memberikan pengaruh yang nyata terhadap tingkat adopsi inovasi hidroponik sistem wick pada tanaman seledri (Tabel . , yang ditunjukkan oleh nilai sig. 0,021 (> 0. dan < 0,. Dari Tabel 1 juga dapat dilihat nilai korelasi Rank-Spearman yang diperoleh yaitu 0,460 menunjukkan bahwa minat dalam usahatani berbanding lurus dengan tingkat adopsi. Semakin tinggi minat dalam usahatani responden maka semakin tinggi kecenderungan untuk menerima suatu inovasi, dan sebaliknya semakin rendah minat dalam usahatani responden maka penerimaan terhadap inovasi Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 DOI: https://doi. org/10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 juga rendah. Tingkat Adopsi R Spearman = Minat dalam Usahatani Gambar 5. Korelasi antara minat usahatani dengan tingkat adopsi terhadap hidroponik sistem wick pada tanaman seledri Gambar 5 memperlihatkan penyebaran dan arah korelasi atau hubungan antara minat dalam usahatani dengan tingkat adopsi yang memiliki korelasi positif, yang bermakna bahwa semakin tinggi minat dalam usahatani maka semakin meningkat tingkat adopsinya. Dari Gambar 5 juga dapat dilihat bahwa nilai R yang diperoleh berdasarkan Rank-Spearman sebesar 0,460 menunjukkan bahwa tingkat keeratan hubungan yang diperoleh antara faktor minat dalam usahatani dengan tingkat adopsi inovasi termasuk dalam kriteria sedang (Sugiyono, 2. Secara umum, minat dalam usahatani, biasanya berhubungan dengan minat untuk menghasilkan pendapatan, memenuhi kebutuhan sehari-hari, atau karena hobi atau kegemaran. Mayoritas anggota KWTM memenuhi kebutuhannya sehari-hari meskipun meskipun dalam ruang lingkup yang kecil, yaitu di pekarangan. Selain itu, ada juga anggota KWTM, selain menanam sayur juga menanam tanaman hias untuk memperindah lingkungan pekarangannya. Dengan adanya inovasi hidroponik yang diberikan, mereka lebih bersemangat dalam bertani karena hidroponik sistem wick ini sangat mudah untuk diterapkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutjipto . bahwa minat merupakan aspek psikologis seseorang untuk menaruh perhatian yang tinggi terhadap kegiatan tertentu dan mendorong yang bersangkutan untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Nuhung . lebih jauh menjelaskan bahwa semakin lama pengalaman berusaha tani, maka minat akan suatu inovasi teknologi semakin Respons anggota KWTM terhadap budidaya seledri menggunakan hidroponik sistem wick Pelaksanaan evaluasi penyuluhan terhadap anggota KWTM dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat adopsi anggota terhadap materi penelitian/penyuluhan yaitu pemanfaatan pekarangan dengan budidaya seledri menggunakan hidroponik sistem wick yang disampaikan, baik sebelum penyuluhan maupun setelah melakukan penyuluhan. Aspek-aspek yang dievaluasi, yaitu pengetahun, sikap, dan keterampilan. Hasil rekapitulasi nilai evaluasi awal dan akhir, serta nilai besarnya perubahan dan persentasenya pada aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan disajikan pada Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2, anggota KWTM merespons materi penyuluhan yang ditandai dengan adanya peningkatan aspek pengetahuan sebesar 51,80%. sikap 44,60%. dan keterampilan 51,60%. Dari hasil evaluasi ini, juga diperoleh nilai efektivitas penyuluhan, yaitu sebesar 71,87% yang tergolong dalam kategori efektif. Tabel 2. Nilai evaluasi awal dan akhir, serta perubahan nilai anggota KWTM sebelum dan setelah penyuluhan Aspek Pengetahuan Nilai Max Ev. Nilai Ev. 36,10 87,90 Perubahan Nilai % EV. akhir(Ev. Akhir - Ev. % EV. 51,80 Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 21 Nomor 1. Juni 2025 DOI: https://doi. org/10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 Sikap 30,10 74,70 44,60 Keterampilan 800 30,60 80,20 51,60 Setelah wawancara dan penyuluhan dan berdasarkan pengamatan yang dilakukan, maka tingkat adopsi inovasi berada pada tahap pengambilan keputusan . Dimana, pada tahap ini anggota KWTM telah mengetahui tentang inovasi hidroponik sistem wick, telah mengumpulkan informasi, mempertimbangkan keuntungan ataupun kerugiannya, dan memutuskan untuk mengadopsi teknologi yang diberikan. Hal ini menunjukkan bahwa materi penyuluhan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan anggota KWTM, ini sejalan dengan pendapat Asta et al. bahwa materi penyuluhan yang baik jika dapat memenuhi kebutuhan petani. Tahap pengambilan keputusan yang dimaksud dimana anggota KWTM telah memutuskan untuk mengadopsi atau tidak suatu teknologi, sesuai dengan Rooger . bahwa adopsi inovasi teknologi pada suatu kelompok akan mempengaruhi kemampuan petani dalam mengelola Untuk pemanfaatan pekarangan dengan budidaya seledri menggunakan hidroponik sistem wick, anggota KWTM telah memutuskan untuk mengadopsi inovasi, dan dibuktikan dengan adanya kesepakatan anggota untuk membuat Kawasan Rumah Pangan Lestari dan akan menerapkan hidroponik sistem wick. Sebagai rekomendasi rencana tindak lanjut bagi pihak yang berwenang dan pihak terkait lainnya, . perlunya peningkatan kegiatan penyuluhan yang lebih intensif bukan saja di KWTM, tetapi juga KWT lainnya di Kab. Bone. perlunya kerjasama yang baik antara penyuluh dan anggota KWTM agar inovasi ini dapat diterapkan dengan baik dan memberikan keuntungan secara ekonomis terhadap anggota KWTM. masih terbuka peluang untuk meneliti lebih jauh dan mendalam yang berhubungan dengan pemanfaatan pekarangan dengan menggunakan budidaya hidroponik dari berbagai sudut pandang kajian, seperti ekonomi, sosial, dan lingkungan. KESIMPULAN Terdapat korelasi antara karakteristik anggota KWTM terhadap tingkat adopsi inovasi budidaya seledri dengan menggunakan hidroponik sistem wick. Parameter umur berkorelasi sangat nyata . ,677**), tingkat pendidikan berkorelasi nyata . ,421*), status dalam kelompok berkorelasi tidak nyata . ,263t. , dan minat usahatani berkorelasi nyata . ,460*) dengan tingkat adopsi inovasi. Respons anggota KWTM terhadap penyuluhan tentang budidaya seledri dengan menggunakan hidroponik sistem wick ditandai dengan adanya peningkatan pengetahuan sebesar 51,8%. 44,6%. keterampilan 49,6%. dengan efektivitas penyuluhan sebesar 71,87% . ategori efekti. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Bapak Latang Gazali. P selaku Koordinator BPP Kecamatan Tanete Riattang. Ibu Nasriani. Si. selaku Penyuluh Pertanian Kelurahan Bukaka. Kecamatan Tanete Riattang. Kabupaten Bone, dan Ketua KWT Mawar Ibu Hj. Hasriani beserta anggota, atas bantuannya selama pelaksanaan penelitian. DAFTAR PUSTAKA