Abdi Wisata. Volume 2. Nomor 1. Halaman 40-52. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 Green Tourism Bonjeruk: Pengabdian Kepada Masyarakat dalam Meningkatkan Kesadaran Mahasiswa terhadap Pariwisata Berkelanjutan Ida Ayu Yadnya Sari Dewi Utami Pidada1*. Surayyal Hizmi2. Komang Mahawira3. Sirajudin4. Achlan Fahlevi Royanow5. Jumraidin6. Lalu Ratmaja7. Isdar Wahim8. Anas Pattaray9. Rumba10. Abdul Hadi11. Lalu Wisnu Dio Wirayuda12. Alvin Ariesta Arilangga13 Prodi Usaha Perjalanan Wisata. Politeknik Pariwisata Lombok *Email korespondensi: dayu. utami@ppl. Abstrak Kegiatan pengabdian masyarakat berupa aksi bersih wisata di Desa Wisata Bonjeruk dilaksanakan sebagai respon terhadap meningkatnya tantangan dalam pengelolaan kebersihan dan keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata berbasis desa. Urgensi kegiatan ini muncul dari kebutuhan mendesak untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat dan pelaku pariwisata lokal terhadap pentingnya menjaga kualitas lingkungan sebagai aset utama dalam pengembangan desa wisata. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta masyarakat setempat, termasuk POKDARWIS dan Karang Taruna, dalam suatu kolaborasi yang bertujuan tidak hanya untuk membersihkan lingkungan fisik, tetapi juga memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa mayoritas peserta menilai kegiatan ini sangat penting dan bermanfaat, terutama dalam meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan serta pemahaman terhadap konsep keberlanjutan dalam konteks pariwisata. Sebagian besar peserta juga merasa termotivasi untuk berpartisipasi dalam kegiatan serupa di masa mendatang. Namun demikian, penerapan pariwisata berkelanjutan di Desa Wisata Bonjeruk masih menghadapi tantangan seperti kurangnya kesadaran masyarakat dan minimnya fasilitas pendukung. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis, termasuk peningkatan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan wisata, penguatan program edukasi lingkungan, serta institusionalisasi kegiatan bersih wisata sebagai agenda rutin. Dengan sinergi antara akademisi, pemerintah desa, dan komunitas lokal. Desa Wisata Bonjeruk diharapkan dapat berkembang menjadi destinasi yang tidak hanya menarik, tetapi juga berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Kata kunci: Pengabdian masyarakat, kebersihan lingkungan, pariwisata berkelanjutan, desa wisata Bonjeruk Riwayat artikel Diajukan Diterima Dipublikasikan : 9 Maret 2025 : 26 April 2025 : 31 Mei 2025 Abstract The community service initiative in the form of a clean-up campaign at Bonjeruk Tourism Village was carried out in response to the growing challenges in maintaining environmental cleanliness and sustainability in rural-based tourism destinations. The urgency of this activity lies in the critical need to foster collective awareness among the local community and tourism stakeholders regarding the importance of preserving environmental quality as a fundamental asset in tourism development. This program involved students, lecturers, academic staff, and local community members, including the Tourism Awareness Group (POKDARWIS) and Karang Taruna, in a collaborative effort aimed not only at improving physical cleanliness but also at strengthening the community's understanding of sustainable tourism principles. Evaluation results indicated that the majority of participants perceived the activity as highly important and beneficial, particularly in enhancing https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 2. Nomor 1. Halaman 40-52. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 environmental awareness and knowledge of sustainability concepts within the tourism context. Most participants also expressed a strong motivation to engage in similar activities in the future. Nevertheless, the implementation of sustainable tourism in Bonjeruk Tourism Village continues to face several challenges, such as low community awareness and the lack of adequate supporting infrastructure. Therefore, strategic measures are needed, including increased community involvement in tourism management, the enhancement of environmental education programs, and the institutionalization of clean-up campaigns as regular, ongoing activities. Through synergy among academic institutions, local government, and the community. Bonjeruk Tourism Village is expected to evolve into a destination that is not only attractive to visitors but also environmentally responsible and sustainable. Keywords: Community service, environmental cleanliness, sustainable tourism, tourism village. Bonjeruk Pendahuluan Pariwisata berkelanjutan mengambil peran penting dalam menjaga keseimbangan yang harmonis antara kemajuan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan perlindungan warisan budaya lokal. Sebuah studi komprehensif yang dilakukan di Desa Pariwisata Nonongan oleh Puspitasari et al. menjelaskan bahwa implementasi kearifan lokal dalam pengelolaan pariwisata secara efektif mempertahankan identitas budaya daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat secara keseluruhan. Lebih lanjut, penelitian yang dilakukan oleh Wijaya . menggarisbawahi bahwa konservasi cagar budaya melalui pariwisata berkelanjutan tidak hanya memprioritaskan peningkatan kedatangan wisatawan, tetapi juga secara signifikan berkontribusi pada peningkatan kualitas lingkungan dan kesejahteraan sosial. Di Bali, penerapan filosofi Tri Hita Karana, yang menonjolkan keseimbangan antara dimensi spiritual, sosial, dan lingkungan, telah terbukti meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pariwisata yang bertanggung jawab yang berakar pada nilai-nilai budaya lokal (G. Putra, 2020. Putra et al. , 2. Strategi mendasar untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan adalah konsep Pariwisata Hijau (Green Touris. , di mana konsep ini berorientasi pada praktik ramah lingkungan serta pemanfaatan sumber daya yang bijaksana. Menurut Prabawa . , konsep Green Tourism mempromosikan praktik pariwisata yang lebih bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan dalam rangka melestarikan keberlanjutan ekosistem lokal dan warisan budaya. Darmayanti . menggarisbawahi penerapan paradigma ini dalam pengembangan desa wisata tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ekonomi penduduk setempat tetapi juga menopang keseimbangan ekologis dan sosial budaya. Misalnya, penerapan strategi bisnis digital dalam konteks Pariwisata Hijau, sebagaimana dibuktikan di Desa Jengglungharjo, telah menunjukkan ekspansi aksesibilitas pasar Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal, sekaligus memperkuat keberlanjutan sektor pariwisata daerah (Arbainah, 2014. Putra et al. , 2024. Ummasyroh. Astarina. Riana. Muharramah, & Africano, 2. Kebersihan dan kelestarian lingkungan merupakan faktor penentu penting dalam menarik wisatawan dan meningkatkan keunggulan kompetitif tujuan wisata. Penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati et al. menunjukkan bahwa standar kebersihan lingkungan, yang mencakup fasilitas umum yang terawat dengan baik, secara signifikan meningkatkan kenyamanan dan pengalaman wisatawan, sebagaimana dibuktikan dalam penelitian yang dilakukan di Pantai Sanur Kaja . Selain itu, inisiatif AuGerakan Pariwisata BersihAy, yang diluncurkan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia, bertujuan untuk menumbuhkan destinasi wisata berkualitas tinggi dengan menggarisbawahi pentingnya fasilitas sanitasi dan kebersihan yang memadai, yang menurut Santoso . , dapat menambah daya tarik dan loyalitas wisatawan terhadap suatu tujuan . Lebih lanjut, temuan oleh Nugroho et al. mengungkapkan bahwa wisatawan menunjukkan preferensi untuk destinasi yang memiliki lingkungan yang aman dan terjaga secara ekologis, karena ini menunjukkan kualitas manajemen pariwisata yang bertanggung jawab. Dengan https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 2. Nomor 1. Halaman 40-52. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 demikian, pemeliharaan kebersihan dan kelestarian lingkungan tidak hanya mendukung integritas ekosistem tetapi juga berfungsi sebagai elemen strategis dalam menarik dan mempertahankan kunjungan wisatawan di suatu destinasi wisata (Achmad, 2023. Prasetyo. Filep, & Carr, 2021. Susilo & Dharmawan, 2. Desa Wisata Bonjeruk, yang terletak di Kabupaten Jonggat Kabupaten Lombok Tengah di Nusa Tenggara Barat, memiliki potensi yang signifikan sebagai tujuan wisata yang berorientasi alam dan Penelitian oleh Nasri dan Sahedul . mengkaji perkembangan budaya wayang kulit sebagai daya tarik wisata di desa tersebut, menekankan pada pentingnya pelestarian seni tradisional tersebut untuk menarik pengunjung. Selain itu. Pribadi dan Setiawan . menggambarkan atribut ekowisata Desa Wisata Bonjeruk, yang mencakup keterlibatan masyarakat lokal dalam kegiatan pariwisata, pendidikan lingkungan untuk peserta, dan pemanfaatan sumber daya berkelanjutan. Meskipun demikian, hambatan seperti keterlibatan pemerintah yang tidak memadai dalam memberikan bimbingan dan kurangnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan situs wisata menghambat optimalisasi penuh potensi ini. Oleh karena itu, kolaborasi antara unsur pemerintah, anggota masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya sangat penting untuk pengembangan Desa Wisata Bonjeruk sebagai detinasi yang menonjolkan aspek lingkungan alam dan budaya setempat (Efendi, 2. Meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang paradigma Green Tourism melalui kegiatan nyata sangat penting untuk menumbuhkan perilaku sadar lingkungan dan memperkuat inisiatif pariwisata Penelitian yang dilakukan oleh Phoochinda . mengungkapkan bahwa mahasiswa pendidikan tinggi menunjukkan kesadaran substansif tentang ekonomi hijau. Namun, penerapan praktisnya memerlukan pemahaman yang lebih mendalam. Terlibat dalam inisiatif praktis, seperti acara pembersihan pantai yang melibatkan mahasiswa, fakultas, dan alumni, telah terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran lingkungan dan melestarikan keberlanjutan destinasi wisata (Darmayanti. Putra et al. , 2024. Ummasyroh et al. , 2. Oleh karena itu, integrasi antara pendidikan teoritis dan keterlibatan aktif dalam inisiatif lingkungan nyata sangat penting dalam menanamkan prinsip-prinsip Green Tourism di kalangan mahasiswa. Oleh karena itu, melalui program bersih Desa Wisata Bonjeruk. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Studi (Prod. Usaha Perjalanan Wisata (UPW) di Politeknik Pariwisata Lombok ingin mendorong mahasiswa untuk secara aktif terlibat dalam menjaga kelestarian lingkungan desa wisata sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial terhadap pariwisata yang berorientasi Selain itu, diharapkan bahwa inisiatif ini akan memperkuat kemitraan antara akademisi, mahasiswa, dan masyarakat desa dalam upaya menciptakan lingkungan wisata yang bersih dan Metode Kegiatan PKM bersih wisata di Desa Wisata Bonjeruk ini dilakukan dalam serangkaian tahapan antara lain: Tahapan Persiapan dan Perencanaan Kegiatan PKM ini dimulai dengan persiapan dan perencanaan dengan tujuan untuk memastikan efektivitas pelaksanaan kegiatan bersih wisata di Desa Wisata Bonjeruk. Langkah pertama yang dilakukan adalah koordinasi dengan pihak desa wisata serta masyarakat setempat guna memperoleh dukungan dan partisipasi aktif dari berbagai pemangku kepentingan. Dalam tahap ini, dilakukan pertemuan dengan perangkat desa, pengelola wisata, serta tokoh masyarakat untuk membahas rencana kegiatan, menentukan area prioritas pembersihan, dan menyusun strategi pelaksanaan yang sesuai dengan kebutuhan desa. Selain itu, pembentukan tim mahasiswa menjadi langkah krusial dalam perencanaan kegiatan. Tim ini terdiri dari beberapa kelompok kerja yang memiliki tugas spesifik, seperti dokumentasi, logistik, pelaksanaan aksi bersih, serta edukasi dan sosialisasi. Dengan adanya pembagian tugas yang jelas, setiap anggota tim dapat berkontribusi secara optimal dalam menjalankan kegiatan pengabdian masyarakat. https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 2. Nomor 1. Halaman 40-52. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 Setelah tahap persiapan, dilakukan sosialisasi kepada masyarakat setempat mengenai pentingnya kebersihan dan keberlanjutan lingkungan. Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait dampak positif dari lingkungan yang bersih terhadap daya tarik wisata serta kesehatan masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk diskusi interaktif dan penyuluhan, di mana masyarakat diberikan pemahaman mengenai caracara menjaga kebersihan desa wisata secara berkelanjutan, seperti pengelolaan sampah yang baik dan penggunaan bahan ramah lingkungan. Dengan pendekatan partisipatif, diharapkan masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat dari kegiatan ini, tetapi juga turut aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan desa wisata secara berkelanjutan. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan bersih wisata di Desa Wisata Bonjeruk melibatkan total 90 mahasiswa yang berasal dari tiga kelas, didampingi oleh tujuh dosen, tiga staf akademik, serta 11 perwakilan dari Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) maupun karang taruna desa wisata Bonjeruk. Kegiatan ini diawali dengan seremoni pembukaan yang dipimpin oleh Kepala Desa Bonjeruk, yang memberikan sambutan mengenai pentingnya kebersihan dalam mendukung keberlanjutan desa wisata. Setelah itu. Ketua Program Studi memberikan arahan kepada seluruh peserta terkait tujuan dan teknis pelaksanaan kegiatan bersih wisata. Setelah sesi pembukaan, peserta dibagi menjadi 10 kelompok, dengan masing-masing kelompok bertanggung jawab atas pembersihan area tertentu di desa wisata. Setiap kelompok terdiri dari mahasiswa dan dosen yang didampingi serta dikoordinasikan oleh POKDARWIS dan Karang Taruna Desa Wisata Bonjeruk. Pembagian titik bersih-bersih dilakukan berdasarkan lokasi-lokasi utama yang menjadi daya tarik wisata di desa ini. Kelompok 1 dan 2 bertugas di Pawon 21, dengan fokus pada area gerbang masuk serta bagian dalam bangunan. Kelompok 3 membersihkan Pasar Bambu, yang merupakan salah satu pusat ekonomi kreatif desa wisata. Kelompok 4 bertugas di Warung Bambu, yang menjadi titik kuliner dan interaksi wisatawan. Kelompok 5 menangani Bale Bangket, sebuah area pertemuan penting di desa. Kelompok 6 dan 7 fokus pada Jalur Tour, baik pada bagian awal maupun akhir jalur wisata yang sering dilalui oleh pengunjung. Kelompok 8 dan 9 melakukan kegiatan bersih wisata di area sekitar kantor kepala desa, yang merupakan pusat administratif desa wisata. Sementara itu. Kelompok 10 bertugas di Tebing Purba, salah satu ikon wisata alam di Bonjeruk. Setelah kegiatan selesai, seluruh kelompok kembali ke titik awal berkumpul untuk mendapatkan pengarahan dan refleksi dari dosen mengenai evaluasi kegiatan yang telah dilakukan. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kebersihan lingkungan, tetapi juga memperkuat kesadaran mahasiswa dan masyarakat akan pentingnya kebersihan dalam mendukung keberlanjutan pariwisata di Desa Wisata Bonjeruk. Dampak dan evaluasi Peningkatan kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya pelestarian lingkungan wisata menjadi salah satu hasil utama dari kegiatan ini. Melalui partisipasi aktif dalam program Green Tourism, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoretis tetapi juga mengalami langsung pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan di destinasi wisata. Kesadaran ini diukur melalui form evaluasi berupa kuesioner dengan pertanyaan terbuka yang diberikan kepada seluruh mahasiswa peserta. Adapun pertanyaan terdiri dari empat kategori antara lain padangan terhadap kegiatan, manfaat yang dirasakan bagi mahasiswa. Langkah ke depan dan implementasi pariwisata berkelanjutan. Dalam kuesioner ini, mahasiswa diminta memberikan pandangan mereka secara jujur mengenai pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan, termasuk manfaat yang dirasakan dan tantangan yang dihadapi. Seluruh informasi yang diberikan bersifat rahasia dan akan digunakan sebagai bahan evaluasi untuk pengembangan program di masa Selain mahasiswa, evaluasi juga dilakukan melalui testimoni dari pihak Desa Wisata Bonjeruk, yang melibatkan Kepala Desa, perwakilan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS), serta https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 2. Nomor 1. Halaman 40-52. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 perwakilan Karang Taruna. Respon positif dari masyarakat menjadi indikator keberhasilan program ini, terutama dalam melihat dampak langsung terhadap kebersihan dan kelestarian desa Masyarakat setempat menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan lingkungan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kebersihan dan kesadaran wisatawan untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Agar program ini dapat berjalan secara berkelanjutan, perlu adanya rencana strategis yang mencakup integrasi kegiatan Green Tourism dalam agenda tahunan perguruan tinggi serta memperkuat kemitraan dengan pihak desa wisata. Keberlanjutan program dapat diwujudkan dengan membangun sistem monitoring dan evaluasi jangka panjang, sehingga dampak positif yang telah dihasilkan dapat terus berkembang. Selain itu, perlu adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk akademisi, pemerintah daerah, dan komunitas wisata, guna memastikan bahwa program ini tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan, mahasiswa, dan masyarakat desa wisata. Gambar 1. Alur kegiatan pengabdian kepada masyarakat di desa wisata Bonjeruk Hasil dan Pembahasan 1 Hasil Kegiatan Partisipasi dalam kegiatan bersih Desa Wisata Bonjeruk melibatkan berbagai elemen, termasuk mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta masyarakat setempat. Dari total 90 mahasiswa semester 4 yang terdaftar, sebanyak 63 mahasiswa . %) berusia 19Ae23 tahun turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini, dengan persentase perempuan lebih banyak . 1 %) dibandingkan dengan laki-laki . ,9%) yang ditunjukkan oleh Gambar 2. Data ini menunjukkan hasil yang Aucukup baikAy untuk partisipasi aktif dari mahasiswa. Dari 63 mahasiswa tersebut, terdapat 42 mahasiswa . ,7%) yang telah mengikuti kegiatan PKM sebelumnya sedangkan 21 orang . ,3%) sisanya belum pernah mengikuti kegiatan pengabdian (Gambar 2 dan . Selain itu, dari 15 dosen dan tenaga kependidikan yang direncanakan hadir, 13 orang . ,67%) ikut serta dalam kegiatan. Nilai ini dianggap Ausangat baikAy dalam hal partisipasi aktif dari pihak https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 2. Nomor 1. Halaman 40-52. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 Dari pihak desa, keterlibatan masyarakat cukup signifikan dengan kehadiran 11 anggota dari Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) dan Karang Taruna Desa Wisata Bonjeruk yang berperan dalam mengoordinasikan kegiatan di berbagai titik pembersihan. Gambar 2. Persentase peserta kegiatan bersih wisata berdasarkan jenis kelamin (Sumber: Hasil Olahan Tim PKM, 2. Gambar 3. Persentase respon mahasiswa dalam keterlibatan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (Sumber: Hasil olahan Tim PKM, 2. Bentuk kerja sama ini mencerminkan kolaborasi yang erat antara Program Studi Usaha Perjalanan Wisata dengan POKDARWIS Desa Wisata Bonjeruk, yang bertujuan untuk memperkuat kesadaran akan kebersihan lingkungan sebagai faktor penting dalam pengembangan pariwisata. Selain partisipasi resmi dari pengurus desa, beberapa warga yang bukan bagian dari POKDARWIS atau Karang Taruna juga secara sukarela ikut serta dalam kegiatan bersih wisata di beberapa lokasi. Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kebersihan desa wisata telah menjadi tanggung jawab bersama dan mendapat dukungan luas dari berbagai pihak, baik dari akademisi maupun masyarakat lokal. 2 Pelaksanaan kegiatah bersih di desa wisata Kegiatan bersih wisata di Desa Wisata Bonjeruk difokuskan pada beberapa lokasi utama yang menjadi daya tarik wisata serta area publik yang sering digunakan oleh masyarakat dan wisatawan. Lokasi pembersihan mencakup area wisata utama, seperti Pawon 21. Pasar Bambu. Warung Bambu. Bale Bangket. Jalur Tour. Area Kantor Kepala Desa, dan Tebing Purba (Gambar . Selain itu, kegiatan juga dilakukan di beberapa jalan desa yang menjadi akses utama wisatawan serta area sekitar sungai https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 2. Nomor 1. Halaman 40-52. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 yang berpotensi menjadi tempat pembuangan sampah ilegal. Setiap kelompok yang terdiri dari mahasiswa, dosen, serta anggota POKDARWIS dan Karang Taruna bertugas di titik yang telah ditentukan guna memastikan seluruh area desa tetap bersih dan nyaman bagi pengunjung. Gambar 4. Lokasi kegiatan bersih wisata (Sumber: Dokumentasi Tim PKM, 2. Dalam aksi ini, peserta berhasil mengumpulkan berbagai jenis sampah dengan total sekitar 125 Jenis sampah yang terkumpul terdiri dari sampah plastik . , seperti botol air mineral dan kemasan makanan, sampah organik . yang meliputi dedaunan dan ranting pohon, serta sampah anorganik lainnya . , seperti kaleng, kaca, dan styrofoam. Sampah-sampah yang telah dikumpulkan kemudian dipilah dan dikelola sesuai dengan jenisnya. sampah organik diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik didaur ulang atau dibuang ke tempat pembuangan akhir sesuai prosedur yang berlaku. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk membersihkan lingkungan, tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan guna menjaga daya tarik Desa Wisata Bonjeruk dalam jangka panjang. https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 2. Nomor 1. Halaman 40-52. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 Gambar 5. Peserta kegiatan bersih wisata (Sumber: Dokumentasi Tim PKM, 2. 3 Dampak kegiatan Kegiatan pengabdian masyarakat berupa kegiatan bersih wisata di Desa Wisata Bonjeruk mendapatkan respons yang sangat positif dari peserta. Mayoritas responden menilai bahwa kegiatan ini sangat penting . %) untuk dilakukan, dengan tujuan utama meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat serta menjaga keberlanjutan pariwisata desa (Gambar 6 dan . Kegiatan ini juga dinilai sangat bermanfaat bagi peserta secara pribadi, dengan manfaat yang paling banyak dirasakan adalah menambah wawasan tentang pariwisata berkelanjutan, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, serta membangun kesadaran akan pentingnya kebersihan di destinasi wisata. Gambar 6. Hasil Respon mahasiswa terkait pentingnya kegiatan bersih wisata (Sumber: Hasil Olahan Tim PKM, 2. https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 2. Nomor 1. Halaman 40-52. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 Gambar 7. Respon mahasiswa terhadap tujuan dari kegiatan PKM (Hasil Olahan Tim PKM, 2. Setelah mengikuti kegiatan ini, mayoritas peserta merasa senang dan termotivasi untuk ikut lagi di masa mendatang, yang menunjukkan dampak positif kegiatan dalam meningkatkan partisipasi dan kesadaran lingkungan (Gambar . Dalam upaya meningkatkan efektivitas kegiatan pengabdian masyarakat selanjutnya, responden mengusulkan beberapa langkah konkret, seperti melibatkan lebih banyak mahasiswa dan masyarakat, mengadakan kegiatan edukasi terkait lingkungan dan keberlanjutan, memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, serta menjadikan kegiatan serupa sebagai program rutin yang berkelanjutan (Gambar . Mayoritas peserta juga menyatakan ketertarikan untuk berpartisipasi dalam kegiatan serupa di masa depan, meskipun hanya sebagian dari mereka yang bersedia menjadi relawan tetap dalam program keberlanjutan Desa Wisata Bonjeruk (Gambar . Gambar 8. Persentase perasaan mahasiswa mengikuti kegiatan PKM (Hasil Olahan Tim PKM, 2. https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 2. Nomor 1. Halaman 40-52. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 Gambar 9. Persentase pendapat mahasiswa dalam meningkatkan efektivitas kegiatan PKM (Hasil Olahan Tim PKM, 2. Gambar 10. Kesediaan mahasiswa menjadi relawan kegiatan berkelanjutan di Desa Wisata Bonjeruk (Hasil Olahan Tim PKM, 2. Secara langsung, kegiatan engabdian masyarakat berupa aksi bersih-bersih dan edukasi lingkungan di Desa Wisata Bonjeruk berkontribusi terhadap perbaikan kondisi kebersihan di sejumlah titik destinasi utama Desa Wisata Bonjeruk, seperti Pawon 21. Pasar Bambu. Warung Bambu. Bale Bangket. Jalur Tour. Area Kantor Kepala Desa, dan Tebing Purba. Aktivitas ini tidak hanya memberikan dampak visual dan kebersihan secara langsung, tetapi juga meningkatkan kualitas pengalaman wisata, mengurangi risiko pencemaran, serta menciptakan citra destinasi yang lebih tertib, sehat, dan ramah Kegiatan ini juga memberikan efek edukatif dan sosial yang cukup signifikan terhadap masyarakat Desa Wisata Bonjeruk. Melalui interaksi langsung dengan mahasiswa dan dosen, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pasif tetapi juga turut serta sebagai agen dalam menjaga kebersihan dan kelestarian desa wisata mereka. Hal ini terlihat dari partisipasi aktif POKDARWIS. Karang Taruna, serta beberapa warga yang secara sukarela bergabung dalam kegiatan meskipun bukan bagian dari struktur formal. Tingkat keterlibatan ini mencerminkan meningkatnya https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 2. Nomor 1. Halaman 40-52. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya kebersihan sebagai salah satu pilar utama pariwisata Lebih lanjut, kegiatan ini memperkuat kerja sama antara institusi pendidikan tinggi (Politeknik Pariwisata Lombo. dan komunitas lokal dalam semangat pentahelix, di mana masyarakat didorong untuk menjadi subjek aktif dalam pembangunan desa wisata, bukan hanya sebagai objek wisata. Masyarakat mulai melihat kebersihan bukan semata-mata sebagai tanggung jawab pemerintah desa, tetapi sebagai bagian dari strategi bersama untuk meningkatkan daya tarik dan keberlanjutan ekonomi dari sektor pariwisata. Simpulan Kegiatan pengabdian masyarakat berupa kegiatan bersih wisata di Desa Wisata Bonjeruk telah memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat serta mendukung konsep pariwisata berkelanjutan. Mayoritas peserta menilai kegiatan ini sangat penting dan bermanfaat, terutama dalam hal meningkatkan wawasan mengenai keberlanjutan, kepedulian terhadap lingkungan, serta memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan desa wisata. Kolaborasi antara mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta masyarakat setempat, termasuk POKDARWIS dan Karang Taruna, menunjukkan bahwa kerja sama lintas sektor menjadi faktor kunci dalam keberhasilan program ini. Namun, meskipun kegiatan ini mendapatkan respons positif, terdapat beberapa tantangan utama dalam penerapan pariwisata berkelanjutan di Desa Wisata Bonjeruk, yaitu kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keberlanjutan serta minimnya fasilitas penunjang wisata yang mendukung praktik wisata ramah lingkungan. Untuk meningkatkan efektivitas kegiatan di masa mendatang, perlu adanya upaya yang lebih sistematis, seperti meningkatkan keterlibatan lebih banyak pihak, mengadakan edukasi lingkungan secara berkelanjutan, memperkuat fasilitas pendukung, serta menjadikan kegiatan bersih wisata ini sebagai program rutin. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan Desa Wisata Bonjeruk dapat terus berkembang sebagai destinasi wisata yang tidak hanya menarik bagi wisatawan, tetapi juga berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat setempat. Referensi Achmad. Peran Inovasi dalam Meningkatkan Kinerja Industri Pariwisata Berkelanjutan di Indonesia. Jurnal Multidisiplin West Science, 2. , doi:https://doi. org/10. 58812/jmws. Akter. , & Hasan. The moderating role of perceived behavioral control in predicting Muslim touristsAo halal tourism intention: a developing country perspective. Journal of Islamic Marketing, 14. , 1744-1767. doi:10. 1108/JIMA-10-2021-0336 Arbainah. Pemasaran bersama berbasis ICT sebagai media promosi alternatif bagi UMKM desa wisata. Jurnal Akuntansi Bisnis dan Perbankan Indonesia, 22. Darmayanti. Pengembangan Desa Wisata Biaung Berbasis Green Tourism. Jurnal Ilmiah Hospitality Management, 14, 237-258. doi:10. 22334/jihm. Efendi. Pengembangan desa wisata bonjeruk berbasis partisipasi masyarakat di Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah. UIN Mataram. Nugroho. Eldina. Novanda. , & Ginting. The Assessment of Community Participation in The Development of Marine Tourism in the Spermonde Islands. Retrieved https://w. net/profile/Fajar-Nugroho14/publication/364744277_The_Assessment_of_Community_Participation_in_The_Develop ment_of_Marine_Tourism_in_the_Spermonde_Islands/links/63b63d65c3c99660ebccd1a0/Th e-Assessment-of-Community-Participation-in-The-Development-of-Marine-Tourism-in-theSpermonde- https://ejournal. id/index. php/abdiwisata Abdi Wisata. Volume 2. Nomor 1. Halaman 40-52. Tahun 2025 e-ISSN 3063-1777 Islands. pdf?_sg. =started_experiment_milestone&origin=journalDetail&_rtd=e30% Phoochinda. Development of Community Network for Sustainable Tourism based on the Green Economy Concept. Prabawa. Konsep Green Tourism dan Trend Green Tourism Marketing . tudi literatur kajian green tourism dan implementasiny. Jurnal Kepariwisataan, 16. , 47-53. Prasetyo. Filep. , & Carr. Towards culturally sustainable scuba diving tourism: an integration of Indigenous knowledge. Pribadi. , & Setiawan. Peran Pentahelix dalam Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat di Desa Wisata Bonjeruk. Kabupaten Lombok Tengah. CENDEKIA: Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Ilmiah, 1. , 305-316. Puspitasari. , & Yuliani. Community Participation In Mangrove Forest Management In Mojo Village. Ulujami District. Pemalang Regency. A on Coastal and Delta Areas. Retrieved from http://jurnal. id/index. php/ICCDA/article/view/585 https://jurnal. id/index. php/ICCDA/article/download/585/516 Putra. Building Banyuasin Village. Bangka Regency as green and agro-tourism village that sustainable using information technology. Paper presented at the IOP Conference Series: Earth Environmental Science. https://api. com/content/abstract/scopus_id/85097559698 Putra. Pramuki. Purwaningrat. Diputra. Apsaridewi. , & Arthadana. Harmoni Alam Dan Budaya: Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan Melalui Tri Hita Karana Di Desa Adat Bali. Jurnal Pengabdian Masyarakat Akademisi, 3. Rahmawati. Soedarso. Suryani. Wibowo. Muklason. , & Endarko. Sustainable tourism development based on local participation: Case study on Dalegan District for the East Java tourism industry. Santoso. Kurniawan. , & Syifauddin. The Development Of Eco-Edutourism Village In Mangrove Tapak Forest Area. Tugurejo. Tugu Sub-District As A Community-Based Tourism. Susilo. , & Dharmawan. Paradigma pariwisata berkelanjutan di Indonesia dalam perspektif sosiologi lingkungan. Jurnal Indonesia Maju, 1. , 49-64. Ummasyroh. Astarina. Riana. Muharramah. , & Africano. Business Development Through The Application Of Financial Technology (Digital Paymen. In MSMEs. Asean International Journal of Business, 3. , 169-181. Wijaya. Implementation of Community-Based Ecotourism Concept in Paksebali Tourism Village. Bali Indonesia. Ucapan Terima Kasih