e-ISSN: 2745-8784 Volume 06 Issue 02 Des 2025 DOI: 10. 37253/jad. PRODUKSI RUANG DALAM HOME-BASED ENTERPRISE BATIK DI KAMPUNG KAUMAN. KOTA PEKALONGAN 1Atsiruddin Priza Aufar, 2 Diananta Pramitasari 1Program Magister Program Studi Arsitektur. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta, 2Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Email: atsiruddinprizaaufar@mail. Informasi Naskah Diterima: 10/10/2025. Disetujui terbit: 19/11/2025. Diterbitkan: 04/12/2025. http://journal. id/index. php/jad ABSTRAK Fenomena home-based enterprise (HBE) muncul sebagai strategi adaptif masyarakat perkotaan dalam menghadapi keterbatasan lahan sekaligus memenuhi kebutuhan ekonomi. Kampung Kauman di Kota Pekalongan merupakan contoh penting di mana rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang produksi batik yang intensif. Pemanfaatan ruang domestik untuk aktivitas ekonomi menciptakan konfigurasi ruang multifungsi yang unik, sering kali menimbulkan negosiasi antara kebutuhan privat dan tuntutan komersial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji produksi ruang dalam HBE batik dengan menggunakan kerangka teori production of space dari (Henri Lefebvre, 1. Teori ini memandang ruang sebagai produk sosial yang terbentuk melalui tiga dimensi: conceived space . uang yang dirancang atau direncanaka. , perceived space . raktik spasial yang dialami sehari-har. , dan lived space . uang yang dimaknai secara simbolis dan kultura. Penelitian dilakukan dengan metode studi kasus kualitatif pada empat rumah produksi batik di Kampung Kauman. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan pemilik dan pekerja, serta analisis denah rumah untuk memahami transformasi ruang domestik menjadi ruang produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi ruang di HBE batik terbentuk melalui praktik adaptasi yang fleksibel, meliputi sharing space . uang dipakai bersama untuk fungsi domestik dan produks. , extending space . erluasan ruang melalui bangunan tambaha. , dan shifting space . erubahan fungsi ruang berdasarkan wakt. Temuan ini menegaskan bahwa ruang HBE batik di kawasan padat adalah hasil negosiasi sosial-ekonomi yang terus berlangsung, sekaligus mencerminkan identitas budaya masyarakat Pekalongan. Kata kunci: produksi ruang, home-based enterprise, batik. Kampung Kauman. Henri Lefebvre. ABSTRACT The phenomenon of home-based enterprise (HBE) emerges as an adaptive strategy of urban communities in response to limited land availability while fulfilling economic needs. Kampung Kauman in Pekalongan City serves as an important example where houses function not only as dwellings but also as intensive batik production spaces. The utilization of domestic space for economic activities creates unique multifunctional spatial configurations, often leading to negotiations between private needs and commercial demands. This study aims to examine the production of space within batik HBE using Henri LefebvreAos Production of Space theory. The theory views space as a social product formed through three dimensions: conceived space . pace that is designed or planne. , perceived space . patial practices experienced in daily lif. , and lived space . pace imbued with symbolic and cultural The research employs a qualitative case study method on four batik-producing houses in Kampung Kauman. Data were collected through field observations, in-depth interviews with owners and workers, as well as house plan analysis to understand the transformation of domestic space into production space. The findings show that spatial production in batik HBE is shaped by flexible adaptive practices, including sharing space . omestic and production functions coexisting within the same are. , extending space . patial expansion through additional structure. , and shifting space . emporal changes in spatial functio. These findings affirm that HBE spaces in dense urban areas are products of ongoing socio-economic negotiation, while simultaneously reflecting the cultural identity of PekalonganAos community. Keyword: production of space, home-based enterprise, batik. Kampung Kauman. Henri Lefebvre. -Vol. 06/No. Desember 2025 Produksi Ruang dalam Home-based Enterprise Batik2 A/ 1Atsiruddin Priza Aufar. Diananta Pramitasari Pendahuluan Dalam konteks urbanisasi yang pesat di Indonesia, keterbatasan lahan dan tekanan ekonomi menjadi faktor utama yang mendorong terjadinya multifungsi ruang Salah satu bentuk adaptasi terhadap kondisi tersebut adalah munculnya fenomena home-based enterprise (HBE), yaitu kegiatan ekonomi berskala kecil yang dijalankan dari rumah tinggal. HBE merupakan bagian dari sektor informal yang banyak ditemukan di kawasan padat penduduk, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah. Menurut (Marsoyo, 2. HBE tidak hanya mencerminkan strategi bertahan hidup, tetapi juga mencerminkan dinamika sosial-ekonomi masyarakat Fenomena HBE menimbulkan transformasi ruang hunian, baik secara fisik maupun sosial. Rumah tidak lagi sekadar tempat tinggal, melainkan juga tempat produksi dan interaksi ekonomi. Akibatnya, terjadi tumpang tindih fungsi antara aktivitas domestik dan komersial, yang menimbulkan tantangan terhadap kenyamanan, privasi, dan fleksibilitas ruang (Atika. Ramadhani, & Fortuna, 2. Sejalan dengan itu, studi mengenai setting teritori pedagang kaki lima di ruang luar Pasar Godean menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi informal cenderung mengokupasi ruang secara gradual melalui pengaturan elemen fix, semi-fix, dan non-fix, sehingga membentuk pola teritori baru yang menggeser fungsi awal ruang terbuka dan memunculkan tarik-menarik antara kebutuhan ekonomi dan kualitas lingkungan (Rahma & Marcillia, 2. Temuan serupa juga muncul pada kajian transformasi lorong di Kampung Tua Tanjung Gundap, di mana perubahan sederhana dari lorong kayu menjadi lorong beton memicu perubahan pola perilaku, tingkat kepadatan, serta persepsi keamanan pengguna, sehingga menegaskan bahwa perubahan spasial kecil sekalipun dapat mengolah ulang cara ruang digunakan dan dimaknai (Suwarlan et al. , 2. Dalam konteks ini, teori produksi ruang dari Henri Lefebvre menjadi kerangka teoretis yang relevan. (Lefebvre, 1. menyatakan bahwa ruang adalah hasil konstruksi sosial, ekonomi, dan politik yang diwujudkan melalui tiga dimensi: perceived space . uang yang dialam. , conceived space . uang yang dirancan. , dan lived space . uang yang dimakna. Kampung Kauman di Kota Pekalongan merupakan contoh konkret dari praktik HBE dalam industri batik rumahan. Kampung ini tidak hanya berfungsi sebagai lingkungan permukiman, tetapi juga sebagai pusat produksi batik sekaligus destinasi wisata budaya. (Data Badan Pusat Statistika, 2. mencatat bahwa Kauman memiliki kepadatan penduduk tinggi, yaitu 7. 706 jiwa/kmA dengan 74 unit industri batik rumahan yang memanfaatkan rumah sebagai ruang produksi dan penjualan. Produksi batik dalam ruang domestik sering menimbulkan persoalan kesehatan dan lingkungan. (Puspo, 2. menemukan bahwa kadar debu pada industri batik rumahan melampaui ambang batas aman, sedangkan (Anindyajati, 2. mencatat 50% pekerja batik mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap lilin. Fakta ini menunjukkan bahwa selain aspek spasial. HBE batik juga berimplikasi pada kualitas hunian. Situasi ini menyebabkan ruang domestik mengalami transformasi intensif yang menuntut terjadinya negosiasi fungsi dan adaptasi spasial yang berkesinambungan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa produksi ruang pada home based enterprise dibentuk oleh negosiasi antara fungsi domestik dan ekonomi. (Lirenzsa et al. membaca perubahan ruang industri garmen rumahan di Kampung Tambora melalui kerangka production of space Lefebvre, sementara (Farmaki et al. , 2020. Wang et al. , 2. menggunakan triad spasial untuk menjelaskan bagaimana ruang akomodasi dan ruang hunian dimaknai melalui interaksi sosial dan pengalaman penggunanya. Studi studi tersebut menegaskan bahwa teori Lefebvre efektif untuk membaca produksi ruang, tetapi belum secara khusus diarahkan pada konteks HBE batik di kampung padat. Kajian HBE di Indonesia lebih banyak menyoroti strategi adaptasi ruang. (Ramadhani et al. , 2. mengidentifikasi pola sharing dan extending space pada HBE batik di Trusmi, sedangkan (Ernawati et al. , 2022. Rivandi & Rahayu, 2. menunjukkan kombinasi sharing, shifting, dan pemanfaatan ruang publik untuk menyeimbangkan aktivitas domestik dan usaha. Namun, penelitian yang secara eksplisit menganalisis produksi ruang HBE batik di permukiman padat dengan kerangka spatial -Vol. 06/No. Desember 2025 Produksi Ruang dalam Home-based Enterprise Batik2 A/ 1Atsiruddin Priza Aufar. Diananta Pramitasari triad Lefebvre belum ditemukan. Dalam konteks kekosongan tersebut, artikel ini berfokus pada produksi ruang dalam HBE batik di Kampung Kauman sebagai hasil negosiasi sosial antara penghuni, pekerja, dan aktivitas produksi. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana ruang dalam HBE batik di Kampung Kauman diproduksi secara sosial. Fokus analisis mencakup proses produksi ruang melalui pendekatan spasial triad Lefebvre. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dalam studi ruang domestik serta menawarkan pemahaman praktis bagi perencanaan kawasan padat yang adaptif terhadap fungsi ganda ruang Kajian Pustaka Produksi Ruang (Henri Lefebvre, 1. memperkenalkan gagasan bahwa ruang bukanlah sesuatu yang statis ataupun netral, melainkan hasil dari proses sosial yang diproduksi terusmenerus. Ruang diciptakan melalui interaksi antara kekuatan ekonomi, sosial, politik, serta kultural yang hadir dalam masyarakat. Produksi ruang, sebagaimana ditegaskan oleh Lefebvre, merupakan proses dinamis yang terus dibentuk oleh kekuatan sosial, baik dari pihak berwenang seperti pemerintah, pemilik, maupun pengembang, hingga komunitas lokal dan individu. Namun, proses ini tidak selalu berlangsung seimbang karena pihak yang memiliki otoritas lebih besar cenderung mendominasi arah penggunaan dan tujuan ruang (Sugiyono, 2. Penelitian (Wapshott & Mallett, 2. menunjukkan bahwa ketika rumah difungsikan ganda sebagai ruang domestik sekaligus ruang kerja, rumah kehilangan sifat netralnya dan berubah menjadi arena kontestasi antara kebutuhan ekonomi dan kebutuhan privat. Kondisi ini seringkali memunculkan dominasi fungsi kerja, di mana nilai dan aturan kerja mendesak fungsi domestik. Misalnya, ruang tamu yang semula identik dengan aktivitas relaksasi dapat mengalami pergeseran makna menjadi ruang kerja yang kaku, sehingga fungsi simbolik dan emosional rumah pun berubah. Lefebvre menguraikan konsep spatial triad yang terdiri Conceived space (Representations of Spac. Ruang yang dirancang, dibayangkan, atau dirumuskan secara konseptual oleh perencana, arsitek, maupun pemilik rumah. Dalam konteks HBE, conceived space terlihat dari keputusan tata letak ruang, zoning, serta adaptasi arsitektural yang direncanakan untuk menampung aktivitas produksi. Perceived space (Spatial Practic. Ruang sebagaimana digunakan dan dialami dalam praktik sehari-hari. Perceived space terwujud dalam aktivitas fisik, alur sirkulasi, dan cara penghuni mengatur penggunaan ruang. Pada HBE batik, hal ini mencakup pemanfaatan ruang tamu untuk menjamu sekaligus menyimpan batik, atau penggunaan dapur sebagai tempat pewarnaan kain Lived space (Representational Spac. Ruang yang dialami secara simbolik dan emosional. Pada dimensi ini, ruang dipenuhi makna kultural, sejarah, dan identitas. Dalam HBE batik, lived space tidak hanya berfungsi untuk produksi, tetapi juga menjadi simbol keberlanjutan tradisi batik sebagai warisan budaya keluarga maupun komunitas. Beberapa studi kontemporer menegaskan bahwa teori Lefebvre dapat digunakan untuk membaca dinamika ruang pada konteks HBE. (Farmaki. Christou, & Saveriades, 2. menunjukkan bahwa ruang Airbnb dihasilkan melalui interaksi sosial antara penyewa, pemilik, dan platform digital. (Wang. Dubois, & Lu, 2. menegaskan bahwa lived space memiliki peran penting dalam menjaga identitas rumah bagi penderita dementia. Dalam konteks batik Kauman, ruang domestik tidak hanya diproduksi untuk fungsi ekonomi, tetapi juga sebagai simbol warisan budaya. Hal ini selaras dengan pandangan (Wahyudi. Buchori, & Sjahbana, 2. bahwa ruang sosial dalam perspektif Lefebvre selalu mencerminkan relasi kekuasaan, identitas, serta memori kolektif. -Vol. 06/No. Desember 2025 Produksi Ruang dalam Home-based Enterprise Batik2 A/ 1Atsiruddin Priza Aufar. Diananta Pramitasari Home-based Enterprise Home-based enterprise (HBE) adalah aktivitas ekonomi yang dilakukan di dalam rumah dengan memanfaatkan ruang domestik untuk kegiatan usaha (Marsoyo, 2. Bentuk ini umumnya muncul pada komunitas dengan keterbatasan modal dan lahan, serta berkembang pesat di kawasan padat perkotaan. HBE dapat berbentuk industri kreatif, kuliner, maupun kerajinan tradisional seperti batik. Studi (Marsoyo, 2. mengenai HBE di Yogyakarta memperlihatkan berbagai strategi adaptasi ruang yang dilakukan di antaranya: Sharing space: fungsi domestik dan komersial berbagi ruang secara bersamaan. Extending space: perluasan ruang dengan menambah bangunan semi-permanen atau memanfaatkan halaman. Shifting space: ruang digunakan berbeda sesuai waktu, misalnya ruang keluarga dipakai untuk mencanting siang hari dan kembali menjadi ruang domestik di malam hari. Penelitian (Lirenzsa. Ellisa, & Paramitha, 2. mengenai HBE garmen di Kampung Tambora. Jakarta, menunjukkan bagaimana negosiasi ruang terjadi melalui adaptasi lantai bangunan dengan memisahkan fungsi domestik dan produksi secara (Ramadhani. Sulistiani, & Kusuma, 2. menemukan bahwa di Trusmi. Cirebon, adaptasi ruang lebih memungkinkan karena ketersediaan lahan sehingga extending space dapat diterapkan dengan lebih leluasa. Penelitian (Ernawati. Syariah. Widiastuti, & Ratodi, 2. di Surabaya menekankan adanya penggunaan ruang publik secara kolektif dalam HBE menunjukkan bahwa keterbatasan ruang domestik dapat diatasi dengan berbagi fasilitas komunitas. Hal ini menegaskan bahwa HBE tidak hanya mengubah rumah, tetapi juga dapat memengaruhi struktur ruang sosial di tingkat Tipologi Ruang Produksi Batik Dalam produksi batik, ruang dibedakan menjadi ruang kering dan ruang basah sesuai kebutuhan teknis pada proses produksi (Budi, 2. Ruang kering digunakan untuk aktivitas awal seperti menggambar pola dan mencanting. Ruang ini menuntut kondisi bersih, datar, pencahayaan memadai, serta ventilasi baik untuk mengurangi paparan uap lilin. Pada praktiknya, teras atau ruang keluarga sering difungsikan sebagai ruang kering, memperlihatkan fleksibilitas dan tumpang tindih dengan fungsi domestik. Ruang basah diperuntukkan bagi proses pewarnaan, nglorod, dan penjemuran. Ruang ini membutuhkan akses terhadap sumber air, saluran pembuangan limbah, serta sirkulasi udara yang baik. Halaman belakang atau area servis kerap dijadikan lokasi aktivitas ini, menegaskan adanya perencanaan sadar sekaligus adaptasi praktis oleh penghuni maupun pekerja. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Lokasi penelitian adalah Kampung Kauman. Kota Pekalongan. Objek penelitian dipilih menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria: . rumah tinggal yang juga difungsikan sebagai rumah produksi batik, . berlokasi di wilayah administrasi Kauman, dan . pemilik rumah bersedia diwawancarai serta rumahnya diobservasi. -Vol. 06/No. Desember 2025 Produksi Ruang dalam Home-based Enterprise Batik2 A/ 1Atsiruddin Priza Aufar. Diananta Pramitasari Gambar 1. Peta Sebaran Objek Amatan Sumber: Disunting dari https://w. org diakses pada 2 Desember 2024 Berdasarkan data Balai Besar Kerajinan dan Batik terdapat 74 unit usaha batik, namun hasil observasi dan wawancara dengan paguyuban pengusaha batik kampung kauman hanya ada 35 unit berada di Kauman, dengan 12 unit berupa rumah produksi. Dari jumlah ini, 6 rumah memenuhi kriteria penelitian. Setelah survei lebih lanjut, 2 rumah dieliminasi karena memindahkan produksi dan tidak memberi izin observasi. Dengan demikian, total sampel penelitian adalah 4 rumah tinggal yang juga berfungsi sebagai rumah produksi batik. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung terhadap penggunaan dan konfigurasi ruang di dalam rumah, wawancara mendalam dengan pelaku usaha atau penghuni rumah, serta dokumentasi visual berupa foto dan denah bangunan. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif dengan pendekatan tematik berdasarkan konsep spatial triad Lefebvre. Perceived space dianalisis dari aktivitas sehari-hari penghuni dan pemanfaatan ruang. Conceived space dikaji melalui bentuk dan struktur ruang yang dirancang untuk mendukung aktivitas HBE. Sementara lived space digali dari narasi, simbolisme, dan pengalaman subjektif penghuni terhadap ruang yang mereka tempati. Triangulasi data dilakukan untuk meningkatkan validitas hasil penelitian, dengan membandingkan data dari hasil observasi, wawancara, dan Hasil akhir diharapkan dapat menggambarkan bagaimana proses produksi ruang berlangsung dalam konteks HBE batik di lingkungan padat seperti Kampung Kauman. Hasil dan Pembahasan Dalam kerangka pemikiran Henri Lefebvre, ruang dipahami sebagai hasil konstruksi sosial yang terbentuk melalui interaksi antara dimensi teknis, praksis, dan Tiga dimensi utama yang dikenal sebagai spatial triad meliputi conceived space, perceived space, dan lived space. Pemahaman atas ketiganya penting sebagai landasan untuk membaca dinamika ruang, khususnya dalam konteks rumah produksi batik yang berfungsi ganda sebagai hunian dan tempat usaha. Conceived space merujuk pada ruang yang dirancang atau dibayangkan secara konseptual oleh arsitek, perencana, maupun pemilik rumah. Dimensi ini mencakup keputusan teknis dan formal, seperti tata letak, zonasi, maupun strategi adaptasi arsitektural yang dirancang untuk menampung aktivitas tertentu. Sebaliknya, perceived space menunjuk pada praktik spasial sehari-hari yang lahir dari aktivitas fisik dan pengalaman langsung pengguna Dimensi ini tercermin dalam bagaimana alur sirkulasi, penggunaan furnitur, maupun pemanfaatan ruang sering kali menyimpang atau menyesuaikan dari rancangan -Vol. 06/No. Desember 2025 Produksi Ruang dalam Home-based Enterprise Batik2 A/ 1Atsiruddin Priza Aufar. Diananta Pramitasari Sementara itu, lived space merepresentasikan ruang yang dimaknai secara simbolis, emosional, dan kultural. Pada tahap ini, ruang tidak lagi sekadar wadah fungsi, melainkan sarat dengan identitas, memori, serta nilai-nilai yang diinternalisasi oleh penghuni maupun komunitas. Rumah 1 Conceived Space Gambar 2. Conceived Space Rumah 1 Rumah 1 merupakan hunian dua lantai yang berkembang secara organik mengikuti kebutuhan harian. Fungsi domestik dan produksi beririsan pada sejumlah ruang. ruang tamu, misalnya, digunakan untuk menerima tamu keluarga sekaligus pelanggan serta menyimpan hasil produksi. Ketiadaan perencanaan teknis yang formal menjadikan perceived space dan lived space lebih dominan, sedangkan conceived space hadir dalam keputusan spontan terkait penempatan Tidak terdapat zoning terencana atau batas struktural yang tegas antara ruang kerja dan domestik. konfigurasi ruang terutama dibentuk oleh adaptasi dan kebiasaan sehari-hari. Perceived Space -Vol. 06/No. Desember 2025 Produksi Ruang dalam Home-based Enterprise Batik2 A/ 1Atsiruddin Priza Aufar. Diananta Pramitasari Gambar 3. Perceived Space Rumah 1 Penggunaan ruang pada Rumah 1 ditentukan oleh pola aktivitas harian yang terus Pada jam produksi, ruang tamu dan koridor depan berfungsi sebagai area penerimaan pelanggan, lipat dan sortir batik, sedangkan di luar jam kerja ruang yang sama kembali dipakai sebagai ruang keluarga. Walaupun tersedia ruang istirahat pekerja, sebagian pekerja memilih area penjemuran batik di lantai dua untuk beristirahat dan beribadah, ditandai dengan alat salat yang digantung. Area penjemuran yang semula diposisikan sebagai ruang servis menjadi ruang berbagi antara fungsi kerja dan kebutuhan personal pekerja. Pemanfaatan ini lahir dari kebutuhan praktis dan pengalaman harian, sehingga mencerminkan tumbuhnya perceived space secara organik di luar rencana tata ruang. Lived Space Pada Rumah 1, lived space sangat kuat karena membatik dipahami sebagai warisan keluarga yang membentuk identitas rumah batik lintas generasi. Area basah sengaja dipertahankan di tengah rumah sehingga aroma pelelehan malam . ilin bati. berfungsi sebagai penanda identitas dan kehadiran batik di jantung domestik, sejalan dengan pengakuan pemilik. AuSaya merasa nyaman dengan adanya bau malam atau batik karena itu sudah bagian dari kehidupan saya sejak Ay Keputusan ini menegaskan produksi sebagai bagian keseharian domestik yang mengarahkan pola penggunaan ruang depan, koridor, dan area komunal. Rumah 2 Conceived Space -Vol. 06/No. Desember 2025 Produksi Ruang dalam Home-based Enterprise Batik2 A/ 1Atsiruddin Priza Aufar. Diananta Pramitasari Gambar 4. Conceived Space Rumah 2 Rumah 2 merupakan rumah yang telah mengalami renovasi. Sebelum renovasi, sebagian aktivitas produksi lebih dekat dengan zona depan rumah, sehingga interaksi pekerja dan penghuni lebih sering terjadi di area yang juga berfungsi sebagai ruang tamu dan sirkulasi keluarga. Keputusan renovasi memperlihatkan peran conceived space yang kuat. Area produksi dipindahkan ke bagian belakang, sementara akses pekerja dipisahkan melalui garasi dan lorong. Penataan ini menegaskan pemisahan antara ranah domestik . dan produksi . , serta menjaga privasi keluarga. Gambar 5. Denah Rumah 2 Sebelum dan Setelah Renovasi Konsekuensinya, intensitas perjumpaan informal penghuni dan pekerja berkurang sehingga jarak sosial meningkat. Dibandingkan Rumah 1, zonasi di Rumah 2 lebih tegas dan efisien, namun berdampak pada melemahnya dimensi keterikatan Perceived Space Meskipun zoning formal diterapkan, praktik harian tetap menampilkan irisan fungsi. -Vol. 06/No. Desember 2025 Produksi Ruang dalam Home-based Enterprise Batik2 A/ 1Atsiruddin Priza Aufar. Diananta Pramitasari Ruang penyimpanan batik di bagian depan bersinggungan dengan zona privat demi efisiensi logistik. sebagian area penjemuran dipakai untuk istirahat/ibadah Hal ini menandakan perceived space terus bekerja menyesuaikan kebutuhan aktual. Lived Space Lived space cenderung lemah. Pemisahan ruang yang kaku membuat ruang produksi terasa sebagai entitas fungsional yang berada Audi luarAy kehidupan Tanpa penopang pengalaman simbolik yang kuat, ruang lebih dipersepsi sebagai tempat kerja semata. Rumah 3 Conceived Space Gambar 6. Conceived Space Rumah 3 Rumah 3 menggabungkan perencanaan sadar dengan adaptasi bertahap. Renovasi pada bagian belakang diarahkan untuk aktivitas pelorotan . elunturan lilin pada kain bati. , pewarnaan, dan penjemuran, disertai akses pekerja yang terpisah dari pintu utama penghuni. Taman kecil diletakkan di tengah rumah, di antara zona domestik depan dan massa bangunan belakang yang pada gambar 6 ditandai sebagai area transisi. Taman ini berperan sebagai ruang transisi visual dan fungsional yang memediasi hubungan antara hunian dan produksi. Zoning dirancang untuk efisiensi alur kerja sekaligus menjaga privasi. Perceived Space Fleksibilitas pemakaian ruang menonjol. Ruang tamu berfungsi ganda sebagai ruang keluarga dan showroom menerima pelanggan. Pada periode permintaan tinggi, ruang domestik tertentu . ontoh: ruang tengah/dapur keluarg. diaktifkan sementara guna mendukung produksi. Pekerja memanfaatkan beberapa sudut ruang produksi untuk ibadah/istirahat. Pola ini menegaskan dinamika perceived -Vol. 06/No. Desember 2025 Produksi Ruang dalam Home-based Enterprise Batik2 A/ 1Atsiruddin Priza Aufar. Diananta Pramitasari space dalam merespons beban kerja. Lived Space Lived space hadir seimbang. Ruang produksi menjadi arena interaksi yang hangat antara pemilik dan pekerja. showroom domestik memperkuat representasi identitas rumah batik di hadapan pelanggan. Dengan mediasi taman sebagai ruang transisi, rumah mempertahankan kenyamanan domestik tanpa mengorbankan fungsi ekonomi. Rumah 4 Conceived Space Gambar 7. Conceived Space Rumah 4 Rumah 4 menunjukkan dominasi conceived space. Zonasi ketat memisahkan area domestik . dan produksi . elakang/sampin. Jalur sirkulasi pekerja fasilitas pendukung . apur, kamar mandi, ruang istiraha. mezanine dimanfaatkan untuk penjemuran. Kantor/gudang mori berada di depan, sehingga mempermudah administrasi dan penerimaan bahan. Aspek teknis, seperti tungku kayu dengan cerobong horizontal dan penggunaan kayu kering, dirancang untuk mengurangi emisi asap. Solusi ini menegaskan orientasi efisiensi dan kontrol dampak. Perceived Space Pada periode pesanan tinggi, dapur/servis dan area semi-terbuka . anopi tera. diapropriasi sebagai ruang kerja tambahan. Sebagian pekerja memilih beristirahat di luar bangunan karena pertimbangan kenyamanan termal. Mobilitas mandor lintas zona . engambil bahan di gudang depa. menciptakan poros interaksi yang menjaga konektivitas produksi. Lived Space Meskipun didominasi oleh perencanaan formal yang memisahkan tegas area kerja -Vol. 06/No. Desember 2025 Produksi Ruang dalam Home-based Enterprise Batik2 A/ 1Atsiruddin Priza Aufar. Diananta Pramitasari dan domestik, lived space di Rumah 4 justru tampak melalui relasi sosial yang terinternalisasi dalam ruang. Contoh utamanya adalah peran mandor sebagai figur kepercayaan yang diberi keleluasaan akses ke area privat pemilik. Praktik ini menunjukkan bahwa ruang tidak hanya diproduksi oleh desain fisik, tetapi juga oleh hubungan personal dan negosiasi batas-batas sosial. Analisis Produksi Ruang pada Home-Based Enterprise Batik di Kampung Kauman Produksi ruang pada home-Based Enterprise (HBE) batik di Kampung Kauman menunjukkan bahwa rumah tidak sekadar menjadi wadah statis, tetapi merupakan hasil dari proses sosial yang berlangsung terus-menerus. Dengan menggunakan kerangka Henri Lefebvre, ruang terbaca melalui interaksi antara conceived space . uang yang direncanaka. , perceived space . raktik spasial sehari-har. , dan lived space . uang yang dimaknai secara simboli. Ketiga dimensi ini tidak hadir secara terpisah, melainkan saling bertaut dan membentuk konfigurasi unik pada setiap rumah studi Rumah 1 Tabel 1. Komparasi Produksi Ruang Rumah 2 Rumah 3 Rumah 4 Conceived Perceived Lived Sangat membatik dianggap yang membentuk Area tengah rumah, dan dimaknai sebagai penanda identitas rumah batik. Cenderung lemah. pemisahan ruang fungsional dan "di Keterikatan emosional terhadap ruang tidak kuat. Seimbang, ruang pemilik dan pekerja. Showroom di area Rumah domestik dan fungsi Hadir melalui relasi peran mandor yang akses ke area privat Ini menunjukkan ruang juga diproduksi oleh hubungan personal dan negosiasi batas sosial, tidak hanya oleh desain fisik. Pada Rumah 1, absennya perencanaan teknis formal membuat conceived space Ruang berkembang melalui kebiasaan dan adaptasi harian, sehingga perceived space dan lived space menjadi dominan. Posisi area basah merupakan indikator kunci cara negosiasi ruang bekerja berbeda antar rumah. Pada Rumah 2, 3, dan 4, area basah dipisah ke sisi belakang untuk mengendalikan risiko pencemaran. sebaliknya, pada Rumah 1 area basah justru berada di tengah rumah dan sengaja dipertahankan demikian karena pemilik menyukai aroma pelelehan malam . ilin bati. sebagai bagian -Vol. 06/No. Desember 2025 Produksi Ruang dalam Home-based Enterprise Batik2 A/ 1Atsiruddin Priza Aufar. Diananta Pramitasari dari identitas rumah batik. Berbeda dengan itu. Rumah 2 memperlihatkan dominasi conceived space. Renovasi tata ruang menunjukkan intervensi sadar pemilik rumah dalam menciptakan pemisahan tegas antara domestik dan produksi. Konfigurasi ini meningkatkan efisiensi dan menjaga privasi, tetapi sekaligus mengurangi keterhubungan sosial. Perceived space tetap muncul melalui adaptasi pekerja yang menggunakan area penjemuran sebagai ruang istirahat, namun intensitas lived space melemah karena ruang produksi diperlakukan sebagai entitas fungsional yang asing dari kehidupan domestik. Rumah 3 menghadirkan keseimbangan antara ketiga dimensi ruang. Conceived space tampak pada penambahan bangunan belakang dan pemisahan akses pekerja, sementara perceived space muncul dari fleksibilitas penggunaan ruang domestik ketika permintaan produksi meningkat. Kehadiran taman tengah sebagai ruang transisi menegaskan peran ruang transisi dalam menyaring aktivitas. Pada saat yang sama, lived space tumbuh melalui interaksi hangat antara pemilik, pekerja, dan pelanggan, yang menjadikan rumah tidak hanya efisien secara teknis tetapi juga bermakna secara sosial-kultural. Rumah 4 menampilkan konfigurasi yang paling didominasi oleh conceived space. Zonasi ketat, fasilitas khusus, dan solusi teknis seperti cerobong asap memperlihatkan logika fungsional dan rasionalitas produksi. Namun, perceived space tetap hadir melalui apropriasi pekerja yang menggunakan area servis untuk produksi tambahan dan memilih beristirahat di luar ruang. Lived space tidak muncul dari praktik produksi, melainkan dari relasi sosial di mana mandor sebagai figur kepercayaan diberi akses khusus ke area privat pemilik yang mencairkan batas-batas spasial kaku dan menunjukkan bahwa ruang juga diproduksi oleh makna kepercayaan. Secara komparatif, empat rumah ini memperlihatkan spektrum produksi ruang yang berbeda: Rumah 1 menekankan lived space. Rumah 2 dan 4 memperlihatkan dominasi conceived space, sedangkan Rumah 3 menampilkan keseimbangan antara Hal ini menegaskan bahwa ruang dalam HBE batik di Kauman diproduksi melalui negosiasi antara desain, praktik, dan pemaknaan. Ruang bukan hanya hasil rancangan arsitektural, tetapi juga hasil apropriasi, adaptasi, serta simbolisasi yang terus diperbarui dalam keseharian. Dengan demikian, produksi ruang pada HBE batik di Kauman memperlihatkan bahwa rumah tidak hanya berfungsi sebagai hunian dan tempat kerja, tetapi juga sebagai arena sosial di mana relasi antara domestik, ekonomi dan budaya dinegosiasikan. Analisis dengan kerangka Lefebvre menegaskan bahwa ruang dalam HBE tidak pernah netral, melainkan menjadi produk sosial yang menggabungkan dimensi teknis, praksis, dan simbolis dalam satu kesatuan yang cair dan adaptif. Diskusi Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produksi ruang pada home-based enterprise batik di Kampung Kauman terbentuk melalui negosiasi dinamis antara conceived space, perceived space, dan lived space. Analisis komparatif empat rumah studi kasus membentuk sebuah spektrum. Pada satu ujung. Rumah 1 menonjolkan dominasi lived space yang berakar pada tradisi dan identitas keluarga sehingga ruang berkembang secara organik. Pada ujung lain. Rumah 2 dan Rumah 4 memperlihatkan dominasi conceived space melalui zoning formal dan intervensi teknis berorientasi Di antara keduanya. Rumah 3 menampilkan keseimbangan yang operasional antara perencanaan sadar, adaptasi praktik, dan pemaknaan sosial. Temuan ini memperkaya pemahaman tentang strategi adaptasi di lingkungan Penelitian (Lirenzsa. Ellisa, & Paramitha, 2. di industri garmen Tambora menyoroti adaptasi vertikal sebagai wujud conceived space yang struktural. Studi (Ramadhani. Sulistiani, & Kusuma, 2. di Trusmi menekankan extending space yang dimungkinkan oleh ketersediaan lahan, sehingga ekspansi formal tetap didominasi conceived space. Dalam konteks Kauman yang padat, keterbatasan lahan mendorong adaptasi yang lebih cair melalui sharing space dan shifting space berbasis waktu. Negosiasi ruang karenanya berlangsung secara temporal dan internal, tidak semata -Vol. 06/No. Desember 2025 Produksi Ruang dalam Home-based Enterprise Batik2 A/ 1Atsiruddin Priza Aufar. Diananta Pramitasari melalui pemisahan fisik. Dibandingkan penelitian (Ernawati. Syariah. Widiastuti, & Ratodi, 2. di Surabaya yang menunjukkan perluasan perceived space ke ranah publik komunal. HBE di Kauman mempertahankan lived space terutama pada ranah domestik untuk menjaga kesinambungan tradisi batik lintas generasi. Pola ini sejalan dengan (Wapshott & Mallett, 2. tentang rumah multifungsi sebagai arena kontestasi. Dominasi conceived space pada Rumah 2 dan Rumah 4 yang mengorbankan kenyamanan sosial mencerminkan kontestasi tersebut dan berimplikasi pada pelemahan lived space. Sebaliknya, showroom pada Rumah 3 menjadi medium interaksi sosial pemilik dan pelanggan yang memperkuat identitas rumah batik, selaras dengan (Farmaki. Christou, & Saveriades, 2. tentang produksi lived space melalui interaksi hostAeguest pada Airbnb. Kekhasan Kauman, dibaca melalui kerangka Lefebvre, terletak pada pengelolaan ruang transisi dan pola penggunaan ruang yang temporal sebagai mekanisme negosiasi utama di lingkungan padat. Conceived space hadir melalui perancangan sadar zona transisi seperti teras, lorong, dan taman tengah yang memediasi domestik dan produksi untuk menjaga privasi serta efisiensi sirkulasi. Perceived space tampak pada praktik harian sharing space dan shifting space ketika ruang tamu diaktifkan sebagai showroom atau area servis diapropriasi saat lonjakan produksi, menunjukkan bagaimana rancangan formal terus dinegosiasikan oleh praktik aktual. Lived space dipertahankan kuat terutama di zona depan melalui interaksi pemilik, pekerja, dan pelanggan yang merepresentasikan identitas rumah batik. Dalam konfigurasi ini, negosiasi ruang berlangsung melalui pengelolaan fungsi dan waktu daripada menggunakan pemisahan fisik yang kaku, memungkinkan HBE di Kauman tetap produktif dan mempertahankan karakter sosial budaya yang ada. Kesimpulan Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana produksi ruang dalam home based enterprise batik di Kampung Kauman dipahami melalui kerangka spatial triad Henri Lefebvre, yakni conceived space, perceived space, dan lived space, dalam konteks permukiman padat perkotaan dengan keterbatasan lahan. Temuan menunjukkan bahwa produksi ruang pada HBE batik merupakan proses terpadu yang dimediasi terutama oleh dua mekanisme kunci, yaitu pengelolaan ruang transisi secara sadar dan pengaturan fungsi ruang berdasarkan waktu. Melalui mekanisme tersebut, muncul pola adaptasi dominan berupa sharing space dan shifting space yang memungkinkan fungsi domestik, ekonomi, dan budaya berjalan berdampingan tanpa meniadakan identitas rumah batik sebagai ruang keluarga sekaligus ruang usaha. Secara teoretis, penelitian ini mengoperasionalkan teori produksi ruang Lefebvre pada konteks permukiman produksi yang padat dan memperkaya literatur tentang HBE dengan menunjukkan bahwa negosiasi spasial yang cair tetap dimungkinkan, meskipun ekspansi fisik sangat terbatas. Selama terdapat rekayasa ruang transisi dan pengaturan waktu pakai ruang yang adaptif. Secara praktis, hasil penelitian menegaskan pentingnya perancangan zona transisi yang jelas, keberadaan area semi terbuka yang lentur terhadap fluktuasi produksi, serta pengaturan sirkulasi yang menjaga keterbacaan batas antara ranah hunian dan kerja. Rumah dalam HBE batik di Kauman terbukti bukan sekadar wadah tinggal dan bekerja, melainkan arena sosial yang dinamis di mana lived space berperan krusial dalam menopang kenyamanan psikologis di tengah tekanan fungsi ekonomi dan menjaga keberlanjutan identitas batik sebagai warisan keluarga lintas generasi. Namun demikian, penelitian ini masih terbatas pada empat kasus rumah dan observasi dalam satu kawasan, sehingga variasi pola produksi ruang pada tipe HBE lain dan dinamika jangka panjang belum sepenuhnya terjangkau. Penelitian lanjutan dapat memperluas cakupan kasus, mengombinasikan pendekatan spasial dengan pengukuran lingkungan yang lebih kuantitatif, serta mengeksplorasi dimensi sosial seperti relasi gender, jaringan kerja, dan regulasi lokal agar rekomendasi penataan HBE di kawasan padat dapat drumskin scare lebih komprehensif. -Vol. 06/No. Desember 2025 Produksi Ruang dalam Home-based Enterprise Batik2 A/ 1Atsiruddin Priza Aufar. Diananta Pramitasari Daftar Pustaka