Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM UNSERA Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 Launching Bank Sampah dan Penimbangan Perdana: Strategi Pemberdayaan Siswa SMAN 3 Kota Serang Muhammad Oka Mahendra1*. Mohamad Syafiq2. Muhammad Khalid Alghifari3. Riswanda Himawan4 1Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Serang Raya. Kota Serang. Indonesia 2Program Studi Informatika. Fakultas Teknologi Informasi. Universitas Serang Raya. Kota Serang. Indonesia 3Program Studi Industri. Fakultas Teknik. Universitas Serang Raya. Kota Serang. Indonesia 4Program Studi Industri. Fakultas Teknik. Universitas Serang Raya. Kota Serang. Indonesia Email penulis korespondensi: muhammadoka81@gmail. ABSTRAK Sampah anorganik menjadi tantangan kronis di lingkungan pendidikan, termasuk SMAN 3 Kota Serang. Observasi menunjukkan 70% sampah sekolah berupa plastik, kertas, dan logam yang belum termanfaatkan, dengan kecenderungan pembuangan langsung ke tempat pembuangan akhir. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan kolaboratif berbasis ekonomi sirkular melalui pendirian bank sampah sekolah. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mewujudkan sistem pengelolaan sampah terpadu via kolaborasi KKM 34 Universitas Serang Raya. DLH Kota Serang, dan Bank Sampah Induk Poliran Polda Banten. Kegiatan dilaksanakan selama Mei-Juni 2025 di SMAN 3 Kota Serang, dengan sasaran utama siswa . hususnya pengurus OSIS), guru, dan tim kebersihan sekolah. Tahapan pelaksanaan meliputi: . koordinasi dengan pihak sekolah dan mitra, . sosialisasi konsep bank sampah, . launching ceremony disertai penandatanganan MoU, . pendampingan operasional penimbangan perdana, dan . pelatihan administrasi mingguan. Hasil menunjukkan: 92% peserta . terlibat aktif dalam penimbangan perdana dengan akumulasi 78 kg sampah terpilah, 85% sampah terjual ke Bank Sampah Poliran, dan terbentuknya 30 kader lingkungan dari tiap kelas. Kendala utama berupa keterbatasan kesiapan siswa dalam manajemen keuangan bank sampah . anya 15% bersedia menjadi pengurus teta. Oleh karena itu, direkomendasikan pendampingan lanjutan untuk penguatan kapasitas administrasi dan pengembangan produk daur ulang. Kata kunci: Bank Sampah Sekolah, penimbangan sampah, kolaborasi multipihak, ekonomi sirkular. SMAN 3 Kota Serang. ABSTRACT norganic waste poses a chronic challenge in educational environments, including SMAN 3 Serang City. Observations indicate that 70% of school waste consists of underutilized plastic, paper, and metal, with direct disposal to landfills as common practice. Therefore, a collaborative circular economy approach through school-based waste bank establishment is essential. This community service initiative aims to implement an integrated waste management system via collaboration between KKM 34 Serang Raya University. DLH Serang City, and Poliran Polda Banten Central Waste Bank. Activities were conducted from May to June 2025 at SMAN 3 Serang City, targeting students . articularly OSIS member. , teachers, and school cleaning staff. Implementation stages included: . coordination with school and partners, . waste bank concept socialization, . launching ceremony with MoU signing, . operational mentoring for initial weighing, and . weekly administrative training. Results showed: 92% participation . in the inaugural weighing (May 25, 2. with 78 kg of sorted waste collected, 85% waste sold to Poliran Waste Bank, and establishment of 30 environmental cadets formed . epresenting all classroom. The primary constraint was students' limited readiness for waste bank financial management . nly 15% committed to permanent managerial role. Thus, follow-up mentoring for administrative capacity building and recycled product development is recommended. Keywords: School Waste Bank, waste weighing, multi-stakeholder collaboration, circular SMAN 3 Serang City SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN MASYARAKAT LPPM UNIVERSITAS SERANG RAYA Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM UNSERA Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 PENDAHULUAN Lingkungan tantangan signifikan dalam pengelolaan sampah anorganik yang bersifat kronis. Fenomena ini tidak terkecuali dialami oleh SMAN 3 Kota Serang, di mana observasi mendalam mengungkapkan bahwa sekitar 70% komposisi sampah sekolah terdiri dari plastik, kertas, dan logam yang belum termanfaatkan secara optimal. Dominasi sampah bernilai ekonomi ini justru berakhir dengan pembuangan langsung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), mencerminkan pola linier "ambil-pakaibuang" yang tidak berkelanjutan (Van Fan et al. , 2. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan beban lingkungan dan estetika di lingkungan sekolah, tetapi juga mencerminkan hilangnya potensi sumber daya yang seharusnya dapat dikembalikan ke dalam siklus produksi. Minimnya infrastruktur dan sistem pemilahan di kesadaran dan keterampilan pengelolaan sampah berdaya guna, menjadi akar permasalahan yang mendesak untuk diatasi (Septianto, 2. Permasalahan sampah anorganik di SMAN 3 Kota Serang ini merupakan cerminan dari tantangan pengelolaan sampah perkotaan yang lebih luas di Indonesia. Kecenderungan pembuangan langsung ke TPA, seperti yang terjadi di sekolah ini, memperburuk tekanan pada kapasitas landfill yang terbatas dan lingkungan, termasuk potensi lindi dan emisi gas rumah kaca (Kurniawan et al. Penelitian oleh Kaswanto & Arifin . menegaskan bahwa lembaga pendidikan merupakan lokus strategis nilai-nilai pengelolaan sampah, namun seringkali implementasi yang praktis, partisipatif. Model mengandalkan petugas kebersihan tanpa melibatkan warga sekolah secara aktif, khususnya siswa, terbukti kurang efektif dalam menciptakan perubahan perilaku jangka panjang (Suryani & Wahyono. Konsep menawarkan paradigma alternatif yang relevan untuk mengatasi persoalan ini, dengan menekankan pada penutupan aliran material melalui pengurangan, penggunaan ulang, dan pendaurulangan sampah menjadi sumber daya baru (Ellen MacArthur Foundation, 2. Dalam konteks pengelolaan sampah sekolah, komunitas telah diakui sebagai instrumen efektif untuk menerapkan prinsip ekonomi partisipasi dan kesadaran lingkungan (Wibowo & Fujiwara, 2. Bank sampah berfungsi sebagai simpul pengumpulan sampah terpilah, menciptakan nilai ekonomi dari sampah yang dikelola, serta menjadi sarana edukasi lingkungan yang nyata (Zurbrygg et al. , 2. Studi oleh Septianto . menunjukkan bahwa bank sampah sekolah yang dikelola secara kolaboratif antara siswa, guru, petugas, meningkatkan tingkat pemilahan sampah dan mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA secara signifikan, sekaligus membentuk kader lingkungan. Berdasarkan analisis situasi dan tinjauan literatur tersebut, pendekatan kolaboratif berbasis ekonomi sirkular diidentifikasi sebagai solusi potensial untuk permasalahan sampah anorganik di SMAN 3 Kota Serang. Pentingnya kolaborasi multi-pihak ditekankan untuk memastikan keberlanjutan model ini. Sinergi antara lembaga pendidikan . ekolah dan universitas melalui program Kuliah Kerja Mahasiswa/KKM), pemerintah daerah . alam hal ini Dinas Lingkungan Hidup/DLH Kota Seran. , dan pelaku industri daur ulang (Bank Sampah Indu. menjadi kunci dalam menyediakan dukungan teknis, kebijakan, pemasaran, dan pembinaan (Ardianto & Hadi, 2. Model kolaborasi semacam keterbatasan sumber daya internal sekolah dan menciptakan ekosistem pendukung yang kuat bagi operasional bank sampah. Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM UNSERA Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 sebagaimana diuji dalam konteks serupa oleh Pratama et al. Oleh karena itu, program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan utama untuk mewujudkan sistem pengelolaan sampah anorganik terpadu di SMAN 3 Kota Serang melalui pendirian dan pengoperasian bank sampah sekolah berbasis kolaborasi antara KKM 34 Universitas Serang Raya. DLH Kota Serang, dan Bank Sampah Induk Poliran Polda Banten. Program ini bertujuan untuk: . Meningkatkan pemahaman dan partisipasi aktif warga sekolah . iswa, guru, petuga. dalam pemilahan dan pengelolaan sampah anorganik. Membentuk dan mengoperasionalkan bank sampah sekolah sebagai institusi Menciptakan aliran ekonomi sirkular dengan menjual sampah terpilah ke mitra daur ulang. Membentuk kader lingkungan sekolah yang berkapasitas. Mengurangi volume sampah anorganik sekolah yang berakhir di TPA. Manfaat yang diharapkan mencakup terciptanya lingkungan sekolah yang lebih bersih dan lestari, peningkatan kesadaran dan perilaku ramah lingkungan warga sekolah, pemanfaatan nilai ekonomis sampah, penguatan jejaring kolaborasi antar terbentuknya model pengelolaan sampah sekolah yang dapat direplikasi. METODE PELAKSANAAN Pelaksanaan program pengabdian partisipatifkolaboratif dengan tahapan terstruktur yang melibatkan seluruh pemangku Tahap persiapan dimulai dengan koordinasi intensif selama dua minggu (Mei 2. antara tim KKM 34 Universitas Serang Raya, perwakilan SMAN 3 Kota Serang . epala sekolah, guru. OSIS). DLH Kota Serang, dan Bank Sampah Induk Poliran Polda Banten. Pertemuan koordinasi difokuskan pada: analisis kebutuhan dan pemetaan eksisting, . penyusunan SOP bank sampah sekolah, dan . penetapan jadwal masing-masing Instrumen yang digunakan meliputi focus (FGD), lapangan, dan penyusunan memorandum of understanding (MoU) yang mengikat secara operasional. Pada tahap implementasi, dilakukan tiga kegiatan inti berurutan: sosialisasi konsep, launching bank sampah, dan pendampingan operasional. Sosialisasi dilaksanakan secara hybrid . uring dan darin. menggunakan modul interaktif berbasis studi kasus bank sampah sekolah sukses (Wibowo & Fujiwara, 2. Launching penandatanganan MoU simbolis dan workshop pemilahan sampah dengan metode hands-on training. Pendampingan penimbangan perdana dengan pendekatan learning by doing: tim KKM dan Bank Sampah Poliran teknik penimbangan, pencatatan data, dan penyimpanan sampah terpilah sesuai standar SNI 19-3964-1995. Seluruh proses mengacu pada prinsip circular economy (Ellen MacArthur Foundation, 2. LogBook pencatatan real-time. Tahap pascaimplementasi meliputi penguatan kapasitas dan pemantauan Pelatihan administrasi mingguan dilaksanakan selama empat sesi menggunakan modul adaptif berbasis masalah . roblem-based learnin. untuk mengatasi kendala manajemen keuangan. Pembentukan kader lingkungan . melibatkan pelatihan khusus: . teknik daur ulang sampah plastik/kertas, . sederhana, dan . strategi edukasi sebaya . eer Pemantauan menggunakan dashboard kolaboratif yang menghubungkan sekolah. DLH, dan Bank Sampah Poliran penjualan sampah dan evaluasi bulanan. Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM UNSERA Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 Standar Operasional Prosedur (SOP) bank berbasis kelas, jadwal penimbangan mingguan, dan sistem insentif poin bagi serta Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani oleh empat pihak mitra (SMAN 3 Kota Serang. KKM 34 Universitas Serang Raya. DLH Kota Serang, dan Bank Sampah Induk Poliran Polda Bante. Observasi lapangan mengidentifikasi lima titik pengumpulan strategis di area kantin, perpustakaan, laboratorium, lapangan olahraga, dan ruang administrasi, yang kemudian dilengkapi dengan dropbox sampah terpilah berwarna sesuai jenis material. Tahap ini menjadi fondasi operasional berkelanjutan dari seluruh pihak, sesuai prinsip multi-level governance yang diusung Ardianto & Hadi . Gambar 1. Diagram Alir HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Tahapan Kegiatan Tahap Persiapan membangun kerangka kolaboratif melalui Focus Group Discussion (FGD) intensif dengan seluruh pemangku kepentingan Gambar 1. Focus Group Discussion (FGD) Proses koordinasi selama dua minggu ini menghasilkan dua dokumen kunci: Gambar 2. Sosialisasi Bank Sampah Tahap Implementasi mencakup tiga momentum kritis yang dilaksanakan secara berurutan. Sosialisasi konsep gamification, di mana 350 peserta terlibat dalam simulasi interaktif pemilahan sampah menggunakan aplikasi kuis realtime. Launching ceremony tidak hanya menjadi ajang penandatanganan MoU, tetapi juga melibatkan workshop praktis dimana peserta memilah sampah aktual di bawah bimbingan tim ahli Bank Sampah Poliran. Pada penimbangan perdana, diterapkan sistem buddy system dimana 10 siswa didampingi satu mahasiswa KKM dan satu petugas bank sampah, menghasilkan akumulasi 78 kg sampah terpilah dengan komposisi 35 kg plastik . %), 23 kg kertas . %), dan 20 kg logam . %). Proses ini mengadopsi Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM UNSERA Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 model learning by doing Wibowo & Fujiwara . yang terbukti efektif Gambar 5. Perwakilan siswa terpilih melakukan penimbangan Gambar 3. Penandatanganan MoU (Gambar 4. Penimbangan perdan. Tahap Penguatan & Pemantauan difokuskan pada transformasi kuantitas menjadi kualitas melalui pelatihan Sebanyak 30 kader lingkungan terpilih menjalani pelatihan intensif selama 2 sesi mingguan yang mencakup: teknik dasar daur ulang sampah plastik dan kertas, . sistem pembukuan sederhana menggunakan spreadsheet terotomasi, dan . strategi edukasi sebaya . eer educato. melalui role-play simulasi. Evaluasi bulanan mengungkap bahwa 85% sampah terjual ke mitra daur ulang, sementara 15% residu diolah menjadi produk bernilai tambah, menciptakan aliran ekonomi sirkular tertutup. Luaran dan Capaian Program Pertama, transformasi sistem. Selama periode implementasi Mei-Juni 2025, bank sampah sekolah berhasil mengakumulasi 78 kg sampah anorganik terpilah melalui dengan komposisi 45% plastik . , 30% kertas . , dan 25% logam . Sebanyak 85% dari total sampah . berhasil dijual ke Bank Sampah Induk Poliran Polda Banten melalui mekanisme offtake agreement dalam MoU, sementara 15% residu diolah menjadi produk daur ulang oleh kader lingkungan. Capaian ini merepresentasikan pengurangan 40% aliran sampah anorganik ke TPA dibanding baseline observasi awal, sekaligus menciptakan aliran pendapatan awal sebesar Rp 356. 000 yang dikelola secara transparan melalui rekening sekolah khusus. Kedua, kapasitas sumber daya manusia tercermin dari terbentuknya 30 kader lingkungan terlatih (Gambar . Pelatihan intensif kompetensi teknis berupa: . teknik dasar daur ulang sampah plastik dan kertas, . menggunakan spreadsheet terotomasi, dan . strategi edukasi sebaya . eer educato. melalui role-play simulasi. pendamping eksternal. Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM UNSERA Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 Ketiga, capaian transformasi perilaku dan keberlanjutan sistem terukur melalui lingkungan warga sekolah. Keberlanjutan sistem dijamin melalui integrasi tiga pilar: dukungan kebijakan dari DLH Kota Serang berupa insentif pengurangan retribusi sampah . komitmen pembelian jangka panjang dari Bank Sampah Poliran, dan . internalisasi program melalui kurikulum sekolah dengan alokasi 2 jam bulanan untuk pendidikan lingkungan. Perubahan Kondisi Mitra Pada aspek sistem pengelolaan sampah, terjadi transformasi fundamental dari model linier menuju ekonomi Sebelum intervensi, 100% sampah anorganik sekolah berakhir di TPA melalui pola single-destination disposal dengan fasilitas terbatasAihanya tersedia 3 tempat sampah tercampur di area publik. Pasca-implementasi, tercipta sistem terstruktur berbasis resource recovery: 5 titik pengumpulan terpilah . antin, perpustakaan, lab, lapangan, administras. terintegrasi dengan jadwal terdokumentasi dalam Logbook. Capaian reduksi 40% sampah TPA . ari baseline 120 kg/bulan menjadi 72 kg/bula. merealisasikan model closed-loop system sebagaimana diadvokasi Ellen MacArthur Foundation . , di mana 85% material dikembalikan ke rantai produksi melalui penjualan ke Bank Sampah Poliran. Dalam dimensi partisipasi dan perilaku, terjadi peningkatan signifikan environmental agency warga sekolah. Data partisipasi aktif dari hanya 5 petugas kebersihan menjadi 350 siswa . % populas. yang terlibat dalam pemilahan . Indeks kesadaran lingkungan meningkat 86% . kor 42Ie. , dimanifestasikan bottom-up "Plastic-Free Friday" oleh OSIS. Temuan ini selaras dengan penelitian Wibowo & Fujiwara . tentang efektivitas peereducator approach, di mana 30 kader lingkungan berperan sebagai change agent dengan menyelenggarakan 12 sesi edukasi Namun, rendahnya minat pengurus tetap . %) mengkonfirmasi studi Ardianto & Hadi . bahwa motivasi jangka panjang memerlukan embedded incentive system. Aspek ekonomi dan keberlanjutan operasional menjadi sumber pendapatan. Dari kondisi awal tanpa nilai ekonomi sampah, tercipta aliran pendapatan Rp 000/bulan dari penjualan 66. 3 kg material daur ulang. Mekanisme insentif berbasis poin . kg sampah = 100 poin = Rp 1. yang ditukar dengan uang, meningkatkan partisipasi berkelanjutan. Dukungan kelembagaan melalui MoU menjamin stabilitas. Keberlanjutan Sistem Pertama, keberlanjutan kelembagaan dijamin melalui kerangka kolaborasi multi-pihak yang tertuang dalam MoU dan Implementasi dashboard menghubungkan sekolah. DLH Kota Serang, dan Bank Sampah Poliran dalam satu platform pemantauan real-time, memungkinkan respons cepat terhadap dinamika lapangan. Komitmen mitra termanifestasi dalam: . DLH menyediakan insentif retribusi sampah berbasis kinerja . engurangan 20% untuk volume terkelola >50 kg/bula. , . Bank Sampah Poliran menjamin penyerapan 100% sampah terpilah dengan harga premium, dan . Universitas Serang Raya menetapkan program pendampingan rutin melalui KKM tematik setiap semester. Model governance triangle ini mengadopsi kerangka Ardianto & Hadi . tentang sinergi negara-pasar-masyarakat, di mana operasional dengan dukungan ekosistem Kedua, dibangun melalui dual-revenue stream yang mengubah beban operasional menjadi sumber pendapatan mandiri. Aliran utama berasal dari penjualan sampah terpilah . ata-rata Rp 5. 400/k. yang dikelola melalui rekening khusus sekolah, dengan 70% dialokasikan untuk insentif warga sekolah dan 30% untuk pengembangan fasilitas bank sampah. Ketiga, keberlanjutan sumber daya Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat | LPPM UNSERA Website: https://ejournal. id/index. php/senama E-ISSN : 3063-4849 regenerasi terstruktur model peer-to-peer knowledge transfer diimplementasikan melalui tiga strategi: . pelatihan pelatih . raining of trainer. untuk 30 kader angkatan pertama, . integrasi modul ekstrakurikuler OSIS dan Pramuka, dan . pembentukan Green Ambassador per angkatan dengan sistem reward point Untuk mengatasi kendala rendahnya minat menjadi pengurus tetap . %), dikembangkan insentif nonmaterial berupa sertifikat kompetensi yang terintegrasi dengan portofolio masuk perguruan tinggi. Mekanisme ini selaras dengan temuan Kaswanto & Arifin . tentang pentingnya value internalization dalam pendidikan lingkungan, di mana 78% kader menyatakan motivasi utama adalah pengakuan sosial bukan insentif real-time, alokasi 2 jam/bulan dalam kurikulum, dan mekanisme regenerasi peer-educator, menciptakan model replikabel ekonomi sirkular di lingkungan pendidikan. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada SMAN 3 Kota Serang selaku mitra utama. Dinas Lingkungan Hidup Kota Serang, dan Bank Sampah Induk Poliran Polda Banten atas komitmen kolaboratif dalam implementasi Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Rektor Universitas Serang Raya beserta jajaran, tim KKM 34, serta seluruh siswa, guru, dan staf SMAN 3 Kota Serang yang telah berpartisipasi aktif lingkungan pendidikan. DAFTAR PUSTAKA