ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 Perilaku Ghasab Bagi Para Santri Dalam Memenuhi Gairah Fashion Style Lilian Salsa Adistya1. Endah Wahyuningsih2. Abu Tazid3 Prodi Ilmu Sosiatri. Fisipol. Universitas Darul Ulum Salsaadistya8@gmail. Abstract Ghasab behavior is the act of taking/using someone elseAos property without the knowledge of the owner of the property. For Islamic students, ghasab is one of the efforts made to fulfill their passion for fashion style. This research aims to determine female studentsAo knowledge about ghasab behavior, to find out what things influence the persistence of ghasab behavior, and to find out how the monitoring system is implemented in handling ghasab behavior at the Roudlotun NasyiAoin Mojokerto Islamic Boarding School. This research uses Michel FoucaultAos theory of power, knowledge and discipline. This research uses qualitative methods with a critical paradigm Data collection was carried out using interviews, observations and documents, while determining informants was carried out using the snowball technique. Meanwhile, data analysis uses the Miles and Huberman model. The results of the research found: . Ghasab behavior for students is the act of taking property rights from other students without the knowledge of the owner of the goods. The power of santri in perpetuating ghasab is as follows: Ghasab to fulfill the passionate desires of the santriAos fashion style, carrying out ghasab for the personal needs of female santri, as an act of retaliation for being a victim of ghasab, due to the interaction patterns of santri being too close, and ghasab behavior as a result of their existence. Senior . The system of supervision and regulations in dealing with ghasab behavior is as follows: limiting the number and type of clothing brought to the boarding school, naming all items brought by students at the boarding school, applying points for each violation and giving warning letters to students who have points. Violation exceeds the limit. Keywords: ghasab, santri, fashion style. Islamic boarding school. Abstrak Perilaku ghasab adalah tindakan mengambil/menggunakan hak milik orang lain tanpa sepengetahuan pemilik barang. Bagi para santri ghasab adalah salah satu upaya yang dilakukan untuk memenuhi gairah fashion style. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan santri putri tentang perilaku ghasab, untuk mengetahui hal apa saja yang mempengaruhi kelanggengan perilaku ghasab, dan untuk mengetahui bagaimana sistem pengawasan dijalankan dalam menangani perilaku ghasab di Pondok Pesantren Roudlotun NasyiAoin Mojokerto. Penelitian ini menggunakan teori kekuasaan, pengetahuan, dan disiplin dari Michel Foucault. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan paradigma kritis. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumen, sedangkan penentuan informan dilakukan JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 dengan teknik snowball. Sedangkan analisa data dengan menggunakan model Miles and Huberman. Hasil penelitian ditemukan : . Perilaku ghasab bagi santri merupakan tindakan mengambil hak milik santri lain tanpa sepengetahuan pemilik barang. Kuasa santri dalam melanggengkan ghasab yaitu sebagai berikut: Ghasab untuk pemenuhan hasrat gairah Fashion style santri, melakukan ghasab untuk kebutuhan personal santri putri, sebagai tindakan pembalasan karena menjadi korban ghasab, dikarenakan pola interaksi santri yang terlalu dekat, dan perilaku ghasab akibat adanya dominasi senior. Sistem pengawasan dan peraturan dalam menangani perilaku ghasab yaitu sebagai berikut : pembatasan jumlah dan jenis busana yang dibawa ke pondok, penamaan pada semua barang yang dibawa oleh santri di pondok, pemberlakuan poin dalam setiap pelanggaran dan pemberian surat peringatan pada santri yang mempunyai poin pelanggaran melebihi batas. Kata kunci : ghasab, santri, fashion style, pondok pesantren PENDAHULUAN Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan yang berbasis keagamaan yang berkembang dan bergerak hingga saat ini. Pondok pesantren muncul dan berkembang pada awal masa penyebaran agama Islam di Indonesia. Pondok pesantren telah berkembang jauh sebelum Indonesia merdeka dan terus menyebar hingga saat ini (Herningrum et al. , 2. Pondok pesantren tumbuh di tengah-tengah masyarakat, dikelola oleh masyarakat, dan dipersembahkan kepada masyarakat. Pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan yang berbasis islam yang tumbuh dan berkembang serta diakui oleh masyarakat sekitar, dengan sistem asrama dimana santri menerima pendidikan agama melalui sistem pengajian atau madrasah yang sepenuhnya berada dibawah kepemimpinan seorang kyai dengan ciri yang khas-nya (Sabiq, 2. Pondok Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang tentu mempunyai tujuan untuk membentuk diri para santri, yaitu dengan menanamkan nilainilai agama islam sebagai langkah-langkah membentuk karakter yang ber-akhlaqul Di dalam aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh para santri pada saat mondok terdapat suatu budaya yang telah menjadi aktivitas rutin bahkan telah menjadi sebuah kebiasaan pada santri. Para santri memiliki budaya atau kebiasaan yang positif, bahkan tidak menutup kemungkinan juga terdapat budaya atau kebiasaan-kebiasaan negatif, seperti perilaku-perilaku menyimpang yang sering dilakukan oleh para santri. Kehidupan di dalam Pondok Pesantren tidak lepas dari permasalahan yang berhubungan dengan para santri. Kondisi-kondisi yang tidak diinginkan seringkali terjadi di lingkungan pesantren, seperti perilaku santri yang menyimpang sering terjadi dalam kehidupan sosial di Pondok Pesantren. Salah satu perilaku menyimpang yang dilakukan oleh santri yaitu perilaku ghasab yang sering terjadi di kalangan santri Pondok Pesantren (Razzaq Bulatanias, 2. Ghasab merupakan suatu istilah yang digunakan dalam penyebutan perilaku seorang santri yang dengan tanpa izin memfungsikan atau menggunakan barang yang merupakan barang milik santri lain (Ramadhan et al. , 2. Ditetapkannya sebuah peraturan di dalam pondok pesantren tidak dapat secara langsung membentuk perilaku santri dalam mematuhi norma-norma dan peraturan yang Masih terdapat banyak bentuk perilaku santri yang menyimpang dalam JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 kehidupan sosial di pesantren seringkali menimbulkan masalah-masalah bagi pesantren Perilaku santri yang dinilai sebagai permasalahan dalam lingkungan Pondok Pesantren salah satunya adalah perilaku ghasab (Sholihatin & Nyoman Suarsana, n. Secara umum, kata ghasab merupakan istilah dari bentuk tindakan menggunakan atau memfungsikan suatu barang milik santri lain tanpa meminta izin terebih dahulu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata AughasabAy memiliki arti Aumenggunakan barang milik orang lain secara tidak sah untuk kepentingan diri sendiriAy(Muhakamurrohman A. Di lingkungan pesantren, ghasab digambarkan sebagai perilaku santri saat memanfaatkan barang milik orang lain . engan sesama santri maupun tida. , dan tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik barang tersebut. Penggunaan barang yang dighasab tidak bertujuan untuk dilakukan secara tetap atau terus-menerus, namun hanya pada waktu tertentu yang disesuaikan dengan kebutuhannya (Manda, 2. Belum adanya aturan tertulis baik dalam undang-undang maupun hukum normatif dalam kasus perilaku ghasab ini. Meskipun demikian, perilaku ghasab telah diatur dalam hukum islam serta telah termuat dalam peraturan-peraturan yang ada di pesantren. Melalui pemahaman ini, terbentuklah suatu penilaian yang berhubungan dengan perilaku ghasab, dimana ghasab diartikan sebagai sebuah perilaku menyimpang dan melanggar norma dan peraturan yang berlaku di pesantren. Di lain sisi, meskipun telah diterapkan dalam peraturan pesantren, perilaku ghasab diantara para santri masih terjadi hingga saat ini. Perilaku ghasab tidak berkurang, tetapi berkembang menjadi kebiasaan dan Dikarenakan adanya budaya ghasab yang muncul diantara para santri, pondok pesantren bergerak untuk memberikan himbauan agar para santri berhenti melakukan perilaku ghasab. Namun upaya yang telah dilakukan dalam menurunkan kebiasaan ghasab santri masih belum bias tercapai hingga saat ini (Yuana et al. , 2. Adapun faktor yang sering menjadi pendorong terjadinya ghasab adalah adanya kebutuhan terhadap sesuatu secara mendesak, namun saat berniat untuk meminta izin meminjam barang tersebut, terkadang pemilik barang sedang tidak berada di lokasi Oleh karena itu, santri melakukan ghasab tanpa sepengetahuan pemilik Selain itu, agar santri dapat terhindar dari penolakan dari pemilik barang pada saat santri tersebut meminjam barang, sehingga terjadilah perilaku ghasab, yakni mengambil dan menggunakan barang tanpa seizin pemilik barang. Selain disebabkan oleh faktor kebutuhan yang mendesak, perilaku ghasab di Pondok Pesantren juga kerap dilakukan karena faktor lain yaitu untuk pemenuhan gairah fashion style yang sedang marak dilakukan pada saat ini, yang didukung dengan kubu senioritas dalam kehidupan di Pondok Pesantren. Dalam kehidupan di Pondok Pesantren, meskipun serba terbatas dalam hal fashion, santri sendiri masih tetap menerapkan metode mencampur dan mencocokkan baju . ix and matc. sehingga terlihat lebih rapi saat melakukan kegiatan di Pondok Pesantren. Hal ini menyebabkan santri berlomba-lomba untuk memadupadankan mulai dari setelan atasan dan bawahan, warna atasan dengan bawahan, dan lain sebagainya. Hal tersebut membuat santri menjadi lebih ambisius dalam hal fashion style, sehingga santri menjadi lebih pemilih dalam mengenakan pakaian. Keadaan ini memicu santri untuk mengikuti trend yang sedang berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren, sehingga para santri melakukan cara apa saja untuk memenuhi gairah fashion style tersebut, salah satunya yaitu dengan cara meng-ghasab barang milik santri lain apabila mereka sedang JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 menginginkan suatu barang. Karena takut terjadi penolakan saat meminjam barang pada santri lain, santri tersebut lebih memilih cara ghasab untuk memenuhi kebutuhan fashion style. Perilaku ghasab pada santri yang dilakukan karena faktor untuk memenuhi gairah fashion style diPondok Pesantren didukung dengan unsur senioritas dalam kehidupan di Pondok Pesantren, hal ini dikarenakan kebanyakan junior di Pondok Pesantren masih mempunyai rasa takut untuk melakukan perilaku buruk atau menyimpang seperti ghasab, para santri junior lebih fokus untuk adaptasi di Pondok Pesantren dibandingkan memenuhi kebutuhan fashion style di Pondok Pesantren. Sedangkan para santri senior lebih mempunyai keberanian untuk melakukan perilaku ghasab dikarenakan mereka lebih mengetahui keadaan dan sudah lebih lama berada di Pondok Pesantren. Seperti yang telah terjadi di Pondok Pesantren Roudlotun NasyiAoin Kabupaten Mojokerto, hampir semua santri di Pondok Pesantren tersebut mengetahui dan paham akan perilaku ghasab dan juga tidak sedikit santri yang melakukan perilaku Hal tersebut telah dianggap sebagai budaya turun temurun di Pondok Pesantren Roudlotun NasyiAoin Kabupaten Mojokerto. Hal ini menyebabkan banyak santri yang resah apabila kehilangan barang yang dimiliki disebabkan oleh perilaku ghasab yang sering terjadi. Di Pondok Pesantren Roudlotun NasyiAoin para santri khususnya santri putri seringkali mengikuti tren memadu padankan style yang mereka anggap sedang tren di masa kini. Saat libur panjang, para santri putri sering melihat referensi gaya berpakaian yang sedang tren di sosial media, hal ini menyebabkan santri putri lebih selektif terhadap pemilihan fashion setelah kembali ke Pondok Pesantren. Namun, hal tersebut mendorong santri putri untuk melakukan perilaku ghasab dikarenakan ingin mengikuti tren fashion style yang sedang terjadi. Di Pondok Pesantren, santri putri cenderung lebih hemat daripada saat libur panjang di rumah masing-masing, dikarenakan kehidupan di Pondok Pesantren yang serba terbatas, saat ingin melakukan pemenuhan gairah fashion style tetapi tetap menghemat pengeluaran uang, santri putri lebih memilih melakukan perilaku ghasab. Di Pondok Pesantren Roudlotun NasyiAoin Mojokerto, santri putri yang mempunyai jabatan sebagai pengurus pondok dianggap sebagai senior yang lebih berkuasa daripada santri putri yang belum mempunyai atau tidak mempunyai jabatan sebagai pengurus pondok. Hal ini menyebabkan adanya tingkatan antara santri putri senior dengan santri putri junior. Perilaku ghasab di Pondok Pesantren Roudlotun NasyiAoin juga dipengaruhi oleh faktor senioritas di kalangan santri putri, hal ini akan mempermudah seorang santri putri senior untuk mengghasab barang milik juniornya, dikarenakan adanya dominasi dari santri senior. Sehingga dari penulisan ini terfokus untuk mengetahui pengetahuan santri tentang perilaku ghasab, kuasa santri dalam melanggengkan perilaku ghasab, dan sistem pengawasan dan peraturan di pondok pesantren dalam menangani perilaku ghasab pada santri putri pondok pesantren Roudlotun NasyiAoin. Dari tulisan ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan kajian terkait pengaplikasian teori kekuasaan, pengetahuan dan disiplin pada kasus perilaku ghasab bagi para santri sebagai pemenuhan gairah fashion style dan peran santri dalam melanggengkan perilaku JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 Penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi dalam mengambil kebijakan terkait dengan perilaku ghasab yang terjadi di pondok pesantren Roudlotun NasyiAoin Mojokerto. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kritis untuk mengungkap jawaban dalam sebuah permasalahan yang tengah terjadi. Teknik pengumpulan data dalam penulisan ini menggunakan observasi, dokumentasi, dan wawancara. Wawancara dilakukan kepada santri putri pondok pesantren Roudlotun NasyiAoin Mojokerto. Dari data yang diperoleh selanjutnya dilakukan analisis dengan metode yang diterapkan oleh Miles dan Huberman yang terdiri dari: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Perilaku ghasab merupakan suatu tindakan yang dilakukan seseorang saat menggunakan barang milik orang lain tanpa izin dari pemilik barang tersebut. Fenomena ini seringkali terjadi di kalangan santri Pondok Pesantren. Seperti pada salah satu pondok pesantren di Mojokerto yaitu pondok pesantren Roudlotun NasyiAoin. Ghasab bagi santri putri Pondok Pesantren Roudlotun NasyiAoin menjadi hal yang biasa dan sudah diketahui hampir semua kalangan santri putri. Perilaku ghasab bagi santri putri telah menjadi hal umum yang ada di tengah-tengah kehidupan santri putri. Kebanyakan santri putri di Pondok Pesantren Roudlotun NasyiAoin telah mengetahui dan paham akan tindakan ghasab, bahwa ghasab merupakan tindakan meminjam, mengambil dan mencuri barang milik santri lain tanpa sepengetahuan santri pemilik barang tersebut. Meskipun mengetahui bahwa perilaku ghasab merupakan perilaku yang tidak baik dilakukan oleh santri, perilaku ghasab tetap menjadi kebiasaan pada kalangan santri putri. Hal ini menjadi hambatan pondok pesantren dalam mengajarkan santri untuk menerapkan perilaku yang baik. Ghasab pada santri putri terjadi dikarenakan banyak faktor dan penyebab yang memengaruhi tindakan seorang santri, dimana faktorfaktor dan penyebab yang ada menjadi pendorong dalam langgengnya perilaku ghasab di lingkungan pondok pesantren. Sehingga perilaku ghasab terus menerus dilakukan oleh santri secara turun temurun. Pengetahuan Santri Pada Perilaku Ghasab Bagi santri putri pondok pesantren Roudlotun NasyiAoin, ghasab merupakan tindakan seorang santri ketika dirinya sedang membutuhkan suatu barang namun tidak meminjamnya dengan cara yang sah, dengan kata lain seorang santri yang memakai barang milik santri lain tanpa meminta izin terlebih dahulu. Perilaku ghasab yang terjadi di lingkungan pondok pesantren Roudlotun NasyiAoin telah dianggap menjadi suatu perilaku yang sudah biasa dilakukan oleh santri khususnya santri putri di pondok Perilaku ghasab telah menjadi suatu pilihan disaat seorang santri membutuhkan suatu barang yang dibutuhkan namun tidak dapat mendapatkannya dengan cara yang baik. JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 Ghasab dianggap sebagai suatu perilaku yang sudah terjadi turun temurun dari santri generasi terdahulu. Tidak diketahui siapapun yang telah memulai perilaku ghasab ini namun perilaku ghasab telah menjadi kebiasaan yang sudah umum ketika dilakukan oleh para santri di lingkungan pondok. Sebagian santri beranggapan bahwa perilaku ghasab dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mereka untuk sementara, maksud dari kata sementara yaitu ketika seorang santri sedang membutuhkan suatu barang, santri tersebut akan mengambil barang milik santri yang lain dan memakainya untuk keperluan di pondok, setelah selesai dengan keperluan yang harus dilakukan, santri tersebut akan mengembalikan barang tersebut pada atau tidak pada tempatnya. Selain beranggapan seperti diatas, santri juga kerap melakukan perilaku ghasab yang dapat dikategorikan sebagai tindakan mencuri ketika santri menginginkan suatu barang milik santri yang lain, dimana santri tersebut akan melakukan perilaku ghasab namun tidak mengembalikan barang yang diambil dan memakai barang tersebut secara terus menerus. Hal ini menjadikan santri merasa waspada akan barang-barang yang mereka simpan. Barang yang sering menjadi target dalam perilaku ghasab adalah barang-barang pokok yang bersifat penting dalam kehidupan sehari-hari santri di pondok, seperti sandal, kerudung, seragam sekolah, dan lain lain. Kuasa Santri Dalam Melanggengkan Perilaku Ghasab Meskipun para santri putri mengetahui bahwa perilaku ghasab merupakan tindakan yang tidak baik, namun masih banyak santri yang melakukan perilaku tersebut. Perilaku ghasab terus terjadi dikarenakan adanya situasi lingkungan yang membuat para santri berada dalam kondisi yang mengharuskan santri melakukan hal tersebut. Kondisi lingkungan yang terbentuk akibat perilaku ghasab membuat setiap santri yang masuk ke lingkungan pesantren akan mengalami kontak secara langsung dengan perilaku ghasab, baik menjadi posisi korban maupun menjadi posisi pelaku ghasab. Ghasab Untuk Pemenuhan Hasrat Gairah Fashion style Santri Seiring perkembangan zaman, santri juga tetap mengikuti arus fashion style yang telah menjadi trend pada saat ini. Selain disebabkan oleh faktor kebutuhan yang mendesak, perilaku ghasab di Pondok Pesantren juga kerap dilakukan karena faktor lain yaitu untuk pemenuhan gairah fashion style yang sedang marak dilakukan pada saat ini, yang didukung dengan kubu senioritas dalam kehidupan di Pondok Pesantren. Dalam kehidupan di Pondok Pesantren, meskipun serba terbatas dalam hal fashion, santri sendiri masih tetap menerapkan metode mencampur dan mencocokkan baju . ix and matc. sehingga terlihat lebih rapi saat melakukan kegiatan di Pondok Pesantren. Hal ini menyebabkan santri berlomba-lomba untuk memadupadankan mulai dari setelan atasan dan bawahan, warna atasan dengan bawahan, dan lain sebagainya. Hal tersebut membuat santri menjadi lebih ambisius dalam hal fashion style, sehingga santri menjadi lebih pemilih dalam mengenakan pakaian. Keadaan ini memicu santri untuk mengikuti trend yang sedang berlangsung di lingkungan pondok pesantren, sehingga para santri melakukan cara apa saja untuk memenuhi gairah fashion style tersebut, salah satunya yaitu dengan cara mengghasab JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 barang milik santri lain apabila mereka sedang menginginkan suatu barang. Karena takut terjadi penolakan saat meminjam barang pada santri lain, santri tersebut lebih memilih cara ghasab untuk memenuhi kebutuhan fashion style. Selain mengetahui tren-tren fashion style dari handphone dan sosial media, santri putri ponpes Roudlotun NasyiAoin juga mengetahui tren fashion style dari lingkungan sekitarnya seperti saat sedang melihat lingkungan kehidupan anak anak muda yang ada diluar Pondok Pesantren. Hal ini juga berpengaruh terhadap pemahaman santri tentang tren fashion yang sedang ramai digunakan oleh banyak orang. Trend fashion style tidak hanya terjadi di kalangan luar Pondok Pesantren saja, tetapi juga terjadi di dalam lingkungan Pondok Pesantren. Setelah diketahui bahwa di lingkungan Pondok Pesantren santri juga menerapkan trend fashion style, peneliti juga mengetahui bahwa suasana hati dan kemauan santri dalam memilih fashion style juga mempengaruhi santri dalam melakukan tindakan ghasab. Santri putri bisa saja melakukan ghasab apabila ada hasrat dalam dirinya saat ingin memenuhi gairah fashion style-nya, apabila sedang tidak ingin memenuhi gairah fashion style, maka santri tidak mungkin melakukan tindakan ghasab. Selain suasana hati dan perasaan santri dalam pemilihan fashion style yang dapat mempengaruhi santri dalam melakukan tindakan ghasab, keterkaitan antara ghasab dan pemilihan warna, jenis pakaian dan aksesoris juga menjadi salah satu alasan santri dalam melakukan tindakan ghasab. Perilaku ghasab sering terjadi dan sering dijumpai saat santri akan menghadiri acara yang mengharuskan santri putri memakai kerudung pondok. Kerudung pondok sendiri menjadi kebutuhan khusus atau wajib dimiliki oleh setiap santri putri saat akan menghadiri sebuah acara, kegiatan belajar di area pondok, maupun digunakan saat keluar area pondok. Ketika dihadapkan dengan peraturan bahwa setiap santri putri diharuskan mempunyai kerudung pondok sebagai atribut yang harus digunakan saat melaksanakan kegiatan di Pondok Pesantren membuat santri putri lebih waspada apabila telah merasa kehilangan barang tersebut. Apabila santri telah kehilangan atribut tersebut maka besar kemungkinan santri akan melakukan tindakan ghasab pada barang milik santri putri lainnya untuk memenuhi kebutuhan fashion-nya. Selain meng-ghasab barang untuk digunakan di area pondok, santri juga melakukan ghasab untuk memakai barang yang telah dighasab disaat waktu liburan di rumah masing-masing. Santri putri yang melakukan ghasab untuk memenuhi gairah fashion style-nya tidak hanya dilakukan untuk dipakai diarea pondok pesantren saja, tetapi juga dipakai pada saat libur pondok atau ketika berada dirumah masing-masing untuk menghindari adanya kemungkinan ketahuan oleh pemilik barang yang asli. Salah satu ciri khas santri setelah melaksanakan liburan yaitu selalu membawa baju baru yang membuat santri lain ingin memakai baju tersebut. Karena takut meminjam, santri menjadikan ghasab sebagai salah satu cara agar dapat memakai baju tersebut meskipun harus menunggu hingga jadwal libur pondok selanjutnya. Ghasab Karena Kebutuhan Personal Yang Mendesak Ada beberapa alasan santri dalam melakukan perilaku ghasab, seperti keadaan dan lingkungan santri yang mengharuskan santri untuk melakukan ghasab. Ketika santri JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 tidak mempunyai barang dan sedang dalam keadaan sangat mebutuhkan barang tersebut, maka santri dapat melakukan ghasab di lingkungan pondok. Dapat diketahui bahwa alasan santri dalam melakukan perilaku ghasab dikarenakan kebutuhan dan hasrat dari dalam diri santri tersebut. Lemahnya kesadaran santri terhadap pengetahuan buruk tentang perilaku ghasab sangat mempengaruhi tindakan ghasab pada santri putri Pondok Pesantren Roudlotun NasyiAoin. Adanya kebutuhan personal dalam kehidupan santri putri juga menjadi alasan santri untuk melakukan tindakan ghasab untuk memenuhi kebutuhan personal. Tindakan Pembalasan Karena Menjadi Korban Ghasab Alasan santri melakukan perilaku ghasab juga dipengaruhi oleh niat membalas santri karena barang yang mereka miliki telah dighasab oleh santri lain, sehingga perilaku ghasab terus menerus terjadi di lingkungan Pondok Pesantren Putri Roudlotun NasyiAoin. Alasan santri putri melakukan ghasab kerap terjadi dikarenakan aksi pembalasan setelah menjadi korban ghasab oleh santri lain. Hal tersebut pada akhirnya menjadikan perilaku ghasab terus terjadi di lingkungan Pondok Pesantren. Tidak adanya kontrol dari diri individu santri membuat perilaku ghasab terus menerus terjadi. Pola Interaksi dan Hubungan Antar Santri Yang Terlalu Dekat Selain dikarenakan aksi pembalasan yang menjadi alasan santri untuk melakukan ghasab, pola interaksi antar santri juga menjadi alasan santri untuk melakukan ghasab. Santri putri juga kerap membangun hubungan baik dengan sesama santri lainnya sehingga membuat interaksi antar santri tersebut menjadi sangat terbuka. Pola interaksi yang terlalu dekat ini menimbulkan sisi positif dan juga menimbulkan sisi Sisi positif pola interaksi antar santri yang sangat dekat membuat santri mempunyai ikatan hubungan yang baik sehingga saling terbuka satu sama lain. Sedangkan sisi negatif pola interaksi antar santri yang sangat dekat yaitu kerap menjadi alasan ghasab kepada teman sendiri. Tidak adanya sekat hubungan membuat santri merasa sangat dekat dan menjadikan santri lebih leluasa dalam mengakses barang milik temannya sendiri. Hal ini menjadikan perilaku ghasab sering terjadi di lingkungan Pondok Pesantren. Langgengnya Perilaku Ghasab Akibat Adanya Dominasi Senior Dalam kehidupan di lingkungan Pondok Pesantren, pastinya memiliki sebuah struktur atau tingkatan dalam sebuah perkumpulan, sehingga dapat melaksanakan peraturan dan kewajiban secara tertib dan teratur. Bagi santri putri Pondok Pesantren Roudlotun NasyiAoin, senior dan pengurus memiliki tingkatan yang hampir sama namun Santri putri dapat dijuluki sebagai senior apabila telah berada di jenjang SMA atau MA, sedangkan santri junior berada di jenjang SMP atau Mts. Santri yang mendapat julukan sebagai pengurus merupakan santri senior yang menjabat sebagai pengurus keorganisasian di dalam Pondok Pesantren Putri Roudlotun NasyiAoin. Pengurus pondok melakukan kewajiban dan bertanggung jawab atas tugas-tugas yang diberikan oleh pengasuh Pondok Pesantren Roudlotun NasyiAoin. JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 Dalam kasus ghasab yang terjadi di kalangan santri di Pondok Pesantren, peran pengurus pondok dan senior juga berpotensi dalam melanggengkan perilaku ghasab yang terjadi di lingkungan Pondok Pesantren. Hal ini dapat terjadi dikarenakan ada tingkatan tertentu dalam relasi santri senior dan juga santri junior, dimana santri junior akan lebih menjaga sikap saat berhadapan dengan santri yang lebih senior di lingkungan Pondok Pesantren. Sikap yang ditunjukkan santri junior terhadap santri senior sematamata untuk menerapkan sikap tata krama kepada yang lebih tua. Namun, akibat adanya tingkatan tersebut, perilaku ghasab juga kerap terjadi dikarenakan adanya sekat terhadap hubungan antara santri junior dengan santri yang lebih senior. Santri senior dalam lingkungan pondok mempunyai kebebasan tersendiri di dalam lingkungan pondok, perilaku ghasab yang dilakukan santri senior juga kerap terjadi dikarenakan hal tersebut. Santri putri junior mempunyai batasan tersendiri untuk berinteraksi dengan santri yang lebih senior, dalam kasus ghasab yang terjadi di lingkungan Pondok Pesantren, santri junior yang mendapati barangnya telah dighasab oleh santri senior akan merasa takut apabila ingin memberitahu santri senior yang telah meng-ghasab barang miliknya. Selain menyebabkan ketakutan tersendiri terhadap santri putri yang lebih junior, perilaku ghasab yang terjadi dikarenakan adanya dominasi senior menjadikan santri junior tidak mudah beradaptasi di lingkungan Pondok Pesantren Putri Roudlotun NasyiAoin. Perasaan tidak nyaman akan muncul secara terus menerus apabila perilaku ghasab yang terjadi dalam konteks senioritas terus terjadi. Selain membuat santri menjadi tidak nyaman apabila menjadi korban ghasab oleh santri yang lebih senior, perilaku ghasab yang terjadi dikarenakan santri yang lebih senior juga membuat para wali santri junior merasa khawatir apabila perilaku ini membuat anaknya menjadi tidak betah beradaptasi di lingkungan pondok. Selain membuat para santri junior merasa tidak betah dan tidak nyaman saat beradaptasi di lingkungan pondok, perilaku ghasab yang terjadi dikarenakan adanya senioritas di lingkungan pondok juga membuat khawatir para wali santri junior. Dikarenakan proses adaptasi santri baru sangat penting agar dapat mempermudah santri dalam menyesuaikan diri di lingkungan Pondok Pesantren. Sistem Pengawasan atau Peraturan di Pondok Pesantren Putri Roudlotun NasyiAoin Untuk menekan perilaku ghasab yang sedang terjadi di lingkungan pesantren, pengasuh dan pengurus Pondok Pesantren membuat beberapa peraturan untuk mencegah perilaku ghasab yang terjadi di Pondok Pesantren Putri Roudlotun NasyiAoin. Hal ini digunakan untuk menciptakan kenyamanan bagi para santri dan dapat membuat santri menghilangkan kebiasaan ghasab yang telah menjadi kebiasaan santri di lingkungan Pondok Pesantren. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan di Pondok Pesantren Roudlotun NasyiAoin dengan pengurus pondok, terdapat beberapa peraturan yang diciptakan untuk menekan perilaku ghasab dan juga sebagai pendisiplinan santri putri Roudlotun NasyiAoin. Peraturan Dalam Pemilihan Dan Jumlah Busana Yang Dipakai Oleh Santri Putri Roudlotun NasyiAoin Dalam peraturan ini telah ditetapkan bahwa santri putri tidak diperbolehkan membawa baju terlalu banyak untuk menghindari kehilangan dikarenakan perilaku Disisi lain, santri akan belajar lebih teliti dalam memperhatikan barang-barang JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 miliknya sendiri seperti setelan baju. Santri Putri Pondok Roudlotun NasyiAoin dianjurkan membawa tidak lebih dari tiga setelan baju untuk beraktivitas formal, dan tiga setelan baju santai lengan panjang yang biasa berbahan kaos untuk beraktivitas di dalam pondok. Bahwa dalam pemilihan dan jumlah busana yang dipakai oleh santri putri Roudlotun NasyiAoin mempunyai batasan tertentu. Santri putri tidak diperbolehkan memakai baju ketat dan apabila ingin keluar pondok, maka santri putri wajib mengenakan baju formal yang tidak berbahan kaos agar tidak membentuk lekuk tubuh seorang santri putri. Hal ini dapat dijadikan strategi dalam menekan kelanggengan perilaku ghasab dikarenakan setiap santri hanya diperbolehkan mempunyai setelan baju tidak lebih dari tiga setelan. Tetapi terkadang seiring dengan lamanya seorang santri putri berada di Pondok Pesantren membuat jumlah baju yang dibawa sering melebihi batas peraturan yang telah ditetapkan. Pemberian Nama Pada Setiap Barang Yang Dimiliki Santri Kehidupan di asrama pondok tentu berbeda dengan kehidupan seperti di rumah seperti pada umumnya. Konsep asrama pondok sendiri yang dalam satu ruangannya terdiri dari beberapa santri tentu menyatrukan santri dalam beraktivitas di dalam Dalam satu ruangan asrama tentunya tidak menutup kemungkinan bahwa santri memiliki barang yang sama dengan santri lainnya, baik dalam segi bentuk, warna, maupun mereknya. Sehingga hal tersebut dapat menjadi salah satu pemicu timbulnya tindakan ghasab di Pondok Pesantren Putri Roudlotun NasyiAoin. Untuk menekan perilaku ghasab yang dapat timbul dikarenakan hal tersebut, maka pengurus pondok memberlakukan penamaan setiap barang yang dibawa oleh setiap santri di Pondok Pesantren Roudlotun NasyiAoin. Selain memberikan nama, setiap santri juga diharuskan mencantumkan kamar yang telah ditentukan sebagai tempat tinggal santri agar mudah dikenali oleh santri lain di setiap barang yang dimiliki oleh santri. Hal ini ditujukan agar mempermudah santri dalam menemukan barang yang telah dighasab dan juga untuk memberikan rasa malu apabila terdapat santri yang ingin melakukan tindakan ghasab. Pemberlakuan Sistem Point Dan Pemberian Surat Peringatan Dalam lingkungan Pondok Pesantren, sebuah peraturan dapat dijadikan acuan beradaptasi oleh para santri. Peraturan akan sangat penting apabila terdapat perilaku menyimpang yang dilakukan oleh santri. Salah satunya yaitu perilaku ghasab, dimana perilaku ghasab merupakan tindakan mengambil hak milik orang lain tanpa sepengetahuan pemilik barang. Untuk menekan perilaku menyimpang yang terjadi di kalangan santri putri Roudlotun NasyiAoin, maka pengurus pondok memberlakukan sistem point untuk menekan perilaku menyimpang santri putri seperti perilaku ghasab. Apabila terdapat santri yang sering melakukan pelanggaran dan point pelanggaran yang di dapat telah melebihi 100 point, maka akan diberi surat peringatan secara langsung oleh pengasuh pondok. Tidak hanya itu, selain diberikan surat peringatan secara langsung oleh pengasuh, apabila poin pelanggaran santri melebihi batas, maka santri bisa saja terkena sanksi Drop Out dari Pondok Pesantren. Perilaku Ghasab Berdasarkan Teori Kekuasaan. Pengetahuan, dan Disiplin Michel Foucault Kuasa Santri Terhadap Perilaku Ghasab JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 Di lingkungan Pondok Pesantren terdapat sebuah fenomena yang sudah menjadi hal yang wajar yaitu perilaku ghasab pada santri. Perilaku ghasab dapat terjadi dikarenakan adanya hasrat atau keinginan seorang santri untuk memenuhi gairah kebutuhan fashion style-nya. Dalam kehidupan di Pondok Pesantren, meskipun serba terbatas dalam hal fashion, santri sendiri masih tetap menerapkan metode mencampur dan mencocokkan baju . ix and matc. sehingga terlihat lebih rapi saat melakukan kegiatan di Pondok Pesantren. Hal ini menyebabkan santri berlomba-lomba untuk memadu padankan mulai dari setelan atasan dan bawahan, warna atasan dengan bawahan, dan lain sebagainya. Hal tersebut membuat santri menjadi lebih ambisius dalam hal fashion style, sehingga santri menjadi lebih pemilih dalam mengenakan pakaian. Keadaan ini memicu santri untuk mengikuti trend yang sedang berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren, sehingga para santri melakukan cara apa saja untuk memenuhi gairah fashion style tersebut, salah satunya yaitu dengan cara mengghasab barang milik santri lain apabila mereka sedang menginginkan suatu barang. Pernyataan diatas sesuai dengan konsep teori kekuasaan yang diperkenalkan oleh Michel Foucault. Menurut Foucault, kekuasaan bukan merupakan sesuatu yang terstruktur, dan juga bukan kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang. Kekuasaan yang dimaksud oleh Foucault adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyebutkan situasi atau hubungan rumit yang terjadi pada masyarakat (Umar Kamahi: . Konsep kekuasaan yang dimaksud oleh Foucault adalah sesuatu yang dapat tersebar dengan tidak disadari cara beroperasinya, dengan kata lain sebagai bentuk dominasi terhadap pemikiran dan kesadaran setiap manusia terhadap suatu hal yang terjadi pada suatu Kekuasaan yang dimaksud oleh Foucault dilihat dari sisi yang berbeda. Kebanyakan masyarakat mengartikan kekuasaan sebagai puncak kelas atau tingkatan di tengah-tengah masyarakat, yang pada akhirnya membuat orang-orang berkompetisi memperebutkan tempat yang menjadikannya bisa berkuasa. Foucault mengartikan kekuasaan sebagai bentuk dominasi pengetahuan (Mudhoffir, 2. Menurut Foucault, kekuasaan berasal dari dalam diri manusia dan mempengaruhi pikiran manusia secara tidak langsung. Foucault menyatakan kekuasaan yang dimaksud memiliki kekuatan yang lebih kuat dibandingkan dengan kekuasaan yang bersifat atau berbentuk, dikarenakan kekuasaan ini menghasilkan pengaruh pada tingkat hasrat dan dorongan, sehingga manusia tidak akan sadar bahwa alam bawah sadarnya telah dipengaruhi. Hal ini sesuai dengan hasil diatas bahwa santri putri dikendalikan oleh hasrat pemenuhan gairah fashion style dalam dirinya sehingga terdorong untuk melakukan perilaku ghasab. Pengetahuan Santri Pada Perilaku Ghasab Ghasab adalah tindakan merebut atau merampas barang milik santri lain secara tidak sah. Seperti yang telah terjadi di Pondok Pesantren Roudlotun NasyiAoin, diketahui bahwa perilaku ghasab telah menjadi suatu hal yang biasa dan sudah tidak asing bagi santri putri disana. Hal ini dikarenakan sering terjadinya perilaku ghasab secara berulang kali di lingkungan Pondok Pesantren putri Roudlotun NasyiAoin sehingga membuat santri terbiasa saat dihadapkan dengan perilaku ghasab. JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 Selain karena telah menjadi hal yang wajar, perilaku ghasab juga sudah berulang kali terjadi sejak dahulu hingga sekarang. Santri melakukan melakukan perilaku ghasab dikarenakan munculnya niat pembalasan yang terjadi karena telah menjadi korban ghasab oleh santri putri yang lain. Ketika dihadapkan dengan lingkungan Pondok Pesantren, seorang santri akan melakukan kontak langsung dengan perilaku ghasab, dimana hal tersebut bisa mengakibatkan seorang santri melakukan perilaku ghasab karena dorongan dari kebutuhan personalnya. Di lingkungan Pondok Pesantren, santri akan dihadapkan dengan dua pilihan, yaitu menjadi korban ghasab atau menjadi pelaku ghasab. Pernyataan diatas sesuai dengan konsep Pengetahuan menurut Foucault. Foucault menyatakan bahwa pengetahuan merupakan hal yang berkaitan dengan kesadaran dan pikiran manusia. Dengan kata lain, manusia dapat secara tidak sadar telah dikuasai oleh suatu pengetahuan yang ia pelajari dan mereka dapatkan dengan Pengetahuan-pengetahuan tersebut akan diserap oleh hasrat dalam diri manusia dan akan menimbulkan suatu bentuk tanggapan terhadap pengetahuan tersebut. Pengetahuan tersebut akan secara alami diterima oleh masyarakat, sedikit demi sedikit dengan tidak disadari oleh manusia. Suatu pengetahuan hanya dapat dikuasai dan menguasai pengetahuan itu sendiri dalam diri setiap manusia. Dapat berpengaruh atau tidaknya suatu pengetahuan tersebut tergantung pada keyakinan dan sifat dari masingmasing manusia (Syafiuddin, 2. Disiplin dan pengawasan Dari hasil yang didapat, terdapat beberapa peraturan yang dibuat agar santri dapat beradaptasi dan tidak menormalisasikan pelanggaran seperti kegiatan ghasab. Dimana peraturan seperti ini dapat melatih seorang santri putri dalam menguasai diri agar tidak melakukan pelanggaran di lingkungan pondok. Di Pondok Pesantren, disiplin dan pengawasan diterapkan melalui berbagai praktik seperti jadwal harian yang ketat, pemantauan yang ketat terhadap perilaku santri, serta hukuman atau sanksi bagi mereka yang melanggar aturan. Hal ini menciptakan sebuah pengetahuan tentang apa yang diterima dan dianggap benar di dalam Pondok Pesantren. Ada beberapa peraturan yang dibuat untuk santri agar dapat menekan perilaku ghasab di Pondok Pesantren Putri Roudlotun NasyiAoin Mojokerto yakni, . Pembatasan Jumlah dan Jenis Busana yang dibawa Ke Pondok Pesantren. Penamaan pada semua barang yang dibawa oleh santri di Pondok Pesantren. Pemberlakuan poin dalam setiap pelanggaran dan pemberian surat peringatan pada santri yang mempunyai poin pelanggaran melebihi batas. Foucault menjelaskan bahwa disciplinary power merupakan sebuah mekanisme kekuasaan yang dijalankan untuk mendisiplinkan tubuh dan membuatnya menjadi tubuh yang mudah diatur (Mudhoffir, 2. Foucault memperkenalkan cara dalam membentuk perilaku tubuh yang dapat dikendalikan dengan teknologi pendisiplinan terhadap masyarakat modern yaitu dengan melalui pengamatan dan pengawasan Foucault memperkenalkan model panoptikon, yaitu keadaan dimana seorang pengawas dapat mengamati gerak-gerik orang lain melalui sebuah menara pengawas JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 tanpa diketahui oleh orang-orang yang sedang diawasi. Individu-individu yang ada dalam pengawasan ini menjadi sadar bahwa dirinya terus menerus diawasi. Mereka tidak bisa mengetahui siapa yang sedang mengawasinya. Dapat diketahui bahwa bangunan pondok merupakan salah satu dari konsep pendisiplinan pada santri, dimana santri akan terus menerus dipantau oleh santri lain yang mempunyai tanggung jawab dalam mengamankan setiap aktivitas santri. Pengasuh pondok membentuk peraturan dan dijalankan oleh para pengurus pondok, salah satunya adalah seksi keamanan pondok. Seksi keamanan pondok yang terdiri dari beberapa santri dan diberikan tanggung jawab untuk mengawasi santri yang melakukan Dalam lingkungan pondok, santri tidak diperbolehkan untuk keluar dari batas lingkungan pondok agar tetap dapat dipantau oleh para pengurus pondok. Pondok merupakan penjara suci yang dikhususkan untuk mendidik santri menjadi pribadi yang jujur dan disiplin. Diberlakukannya sistem poin, penamaan barang, dan pembatasan jumlah barang juga dibentuk untuk melatih santri dalam mengontrol tubuh mereka agar menjadi tubuh yang patuh. Dalam sistem poin, santri yang bertugas menjadi seksi keamanan akan bekerja sama dengan santri lainnya untuk mengawasi gerak-gerik santri di dalam lingkungan pondok pesantren, sehingga apabila ada santri yang melakukan pelanggaran dan diketahui oleh santri lain, santri yang mengetahui hal tersebut akan langsung melaporkan kepada seksi keamanan untuk dilakukan pencatatan poin sesuai pelanggaran yang dilakukan. KESIMPULAN Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti menyimpulkan beberapa poin yang sesuai dengan rumusan masalah dalam tulisan ini sebagai berikut: Pengetahuan santri tentang perilaku ghasab, bagi santri ghasab adalah tindakan mengambil hak milik santri lain tanpa sepengetahuan pemilik barang. Adapun peran santri dalam melanggengkan perilaku ghasab yaitu sebagai berikut : . Ghasab Untuk Pemenuhan Hasrat Gairah Fashion style Santri. Untuk kebutuhan personal santri putri. Tindakan pembalasan karena menjadi korban ghasab. Pola interaksi santri yang terlalu dekat. Langgengnya Perilaku Ghasab Akibat Adanya Dominasi Senior . Hal ini yang menjadi penyebab langgengnya perilaku ghasab di Pondok Pesantren. Sistem pengawasan dan peraturan dalam menangani perilaku ghasab di Pondok Pesantren putri Roudlotun NasyiAoin yaitu sebagai berikut : . Pembatasan Jumlah dan Jenis Busana yang dibawa Ke Pondok Pesantren . Penamaan pada semua barang yang dibawa oleh santri di Pondok Pesantren . Pemberlakuan poin dalam setiap pelanggaran dan pemberian surat peringatan pada santri yang mempunyai poin pelanggaran melebihi batas. JOURNAL OF PUBLIC POWER ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 DAFTAR PUSTAKA