Action Research Literate Vol. No. Februari 2025 ISSN: 2808-6988 HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PERILAKU ALTRUISTIC PADA GEN Z YANG DONOR DARAH Abraham Matthews1. Rahmah Hastuti2 Universitas Tarumanegara. Indonesia Email: abraham. 705180108@stu. id, rahmahh@fpsi. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kecerdasan emosional dan perilaku altruistik pada Generasi Z yang telah mendonorkan darah di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Kecerdasan emosional, yang mencakup kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri dan orang lain, dianggap sebagai faktor penting dalam memotivasi perilaku Perilaku altruistik didefinisikan sebagai tindakan prososial tanpa mengharapkan imbalan, seperti donor darah, yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan orang lain. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Sampel penelitian terdiri dari 176 responden berusia 22Ae27 tahun yang telah mendonorkan darah. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berbasis Wong and Law Emotional Intelligence Scale (WLEIS) untuk mengukur kecerdasan emosional, dan Self-Report Altruism Scale (SRA) untuk mengukur perilaku altruistik. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi untuk mengidentifikasi hubungan antara kedua Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan emosional dan perilaku altruistik. Dimensi kecerdasan emosional, seperti kemampuan mengatur emosi dan penilaian emosional diri, memberikan kontribusi signifikan terhadap tindakan altruistik pada responden. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam bidang psikologi sosial serta kontribusi praktis sebagai panduan untuk pengembangan program kesadaran sosial di kalangan Generasi Z. Kata Kunci: Kecerdasan Emosional. Perilaku Altruistik. Generasi Z Abstract This study aims to examine the relationship between emotional intelligence and altruistic behavior in Generation Z who have donated blood in the Special Capital Region of Jakarta. Emotional intelligence, which includes the ability to recognize, understand, and manage one's own and others' emotions, is considered an important factor in motivating altruistic behavior. Altruistic behavior is defined as a prosocial action without expecting a reward, such as blood donation, which aims to improve the welfare of others. This study used a quantitative design with a correlational approach. The research sample consisted of 176 respondents aged 22Ae27 years who had donated blood. Data were collected using a questionnaire based on the Wong and Law Emotional Intelligence Scale (WLEIS) to measure emotional intelligence, and the Self-Report Altruism Scale (SRA) to measure altruistic behavior. Data analysis was carried out using a correlation test to identify the relationship between the two variables. The results showed a significant positive relationship between emotional intelligence and altruistic behavior. Dimensions of emotional intelligence, such as the ability to regulate emotions and self-emotional assessment, contributed significantly to altruistic actions in This study provides theoretical contributions in the field of social psychology and practical as a guide for the development of social awareness programs among Generation Z. Keywords: Emotional intelligence, altruistic behavior, generation z ISSN: 2808-6988 PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi, terutama internet, telah membawa dampak besar dalam kehidupan sosial manusia. Salah satu generasi yang sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi ini adalah Gen Z, yaitu mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Gen Z dikenal sebagai generasi digital pertama yang tumbuh dengan kemudahan akses terhadap teknologi dan internet. Sebagai akibatnya. Gen Z memiliki keahlian tinggi dalam teknologi, sangat terhubung dengan dunia maya, serta lebih sadar terhadap isu-isu sosial dan lingkungan (Hidayat, 2. Namun, meskipun memiliki kemampuan teknologi yang sangat canggih. Gen Z juga dihadapkan pada tantangan perilaku sosial. Salah satu karakteristik yang mencolok pada Gen Z adalah individualisme yang tinggi, di mana mereka lebih sering terfokus pada diri sendiri dan penggunaan teknologi untuk kepentingan pribadi (Sladek & Grabinger, 2. Fenomena ini menciptakan suatu kontradiksi dalam perilaku sosial. Manusia secara alamiah adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dan hubungan dengan orang lain, sedangkan perilaku individualistik sering kali mengarah pada penurunan keinginan untuk membantu orang lain secara sukarela (Mustafidah, 2. Sisi lain. Gen Z juga menunjukkan kepedulian sosial yang cukup tinggi, yang salah satunya dapat dilihat dari keterlibatan mereka dalam kegiatan perilaku altruistik seperti donor darah. Perilaku altruistik adalah tindakan yang dilakukan seseorang dengan tujuan membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan apa pun (NiAomah, 2. Salah satu faktor yang berperan dalam perilaku altruistik adalah kemampuan untuk memahami perasaan orang lain atau yang dikenal dengan istilah empati (Mailian & Soetikno, 2. Dalam hal ini. Gen Z yang terlibat dalam donor darah menggambarkan empati yang mendalam, mereka sadar akan pentingnya memberikan bantuan langsung kepada mereka yang membutuhkan (Bajovic, 2. Ada fenomena bystander effect yang dapat mempengaruhi perilaku altruistik seseorang, yaitu kecenderungan untuk menunda atau tidak bertindak ketika ada orang lain yang juga bisa membantu (Widiyastuti, 2. Ini menunjukkan bahwa meskipun Gen Z tampak sangat terhubung secara sosial melalui dunia maya, dalam situasi nyata, mereka bisa terpengaruh oleh 2 faktor-faktor sosial lain yang mengurangi dorongan untuk bertindak. Hal ini menunjukkan relevansi antara emosi dan tindakan sosial (Yulianti, 2. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku altruistik adalah kecerdasan emosional (Naufal. Kecerdasan emosional, seperti yang dijelaskan oleh Salovey dan Mayer . , adalah kemampuan untuk memantau, mengendalikan, dan menggunakan perasaan diri sendiri dan orang lain untuk membimbing pikiran dan tindakan. Individu dengan kecerdasan emosional tinggi cenderung lebih empatik dan lebih terbuka untuk membantu orang lain (Goleman, 2016. Ayooluwa & Olubanjo, 2. Dalam konteks ini, kecerdasan emosional dapat menjelaskan mengapa Gen Z yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mungkin lebih terdorong untuk terlibat dalam kegiatan sosial seperti donor darah. Kecerdasan emosional memfasilitasi individu untuk lebih paham terhadap kebutuhan orang lain dan mendorong mereka untuk bertindak sesuai dengan perasaan empati yang muncul. Penelitian sebelumnya di Cina dan Indonesia menunjukkan adanya hubungan positif antara kecerdasan emosional dengan perilaku altruistik (Zhou, 2024. Hussy, 2. Dalam konteks ini, dukungan emosional yang diberikan oleh orang tua dan lingkungan sekitar dapat meningkatkan kecerdasan emosional seseorang, yang pada gilirannya akan memperkuat kecenderungan mereka untuk terlibat Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Perilaku Altruistic Pada Gen Z Yang Donor Darah ISSN: 2808-6988 dalam perilaku altruistik. Namun, penelitian-penelitian tersebut belum memfokuskan pada Gen Z di Jakarta dan belum meneliti hubungan tersebut dalam konteks donor darah. Berdasarkan hasil penelitian yang ada, meskipun terdapat pemahaman yang cukup tentang hubungan antara kecerdasan emosional dan perilaku altruistik, masih terdapat kesenjangan yang cukup signifikan dalam literatur, terutama mengenai perilaku altruistik di kalangan Gen Z dalam konteks donor darah. Penelitian yang dilakukan oleh Zhou . di Cina dan Hussy . di Batam lebih fokus di luar Jakarta. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengeksplorasi fenomena yang sama di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, yang memiliki karakteristik sosial dan budaya yang berbeda, serta memeriksa apakah ada perbedaan dalam perilaku altruistik Gen Z yang terlibat dalam donor darah di Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan penelitian dengan mengkaji hubungan antara kecerdasan emosional dan perilaku altruistik pada Gen Z di Jakarta, khususnya dalam konteks kegiatan sosial seperti donor darah. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan lebih dalam tentang bagaimana faktor emosional berperan dalam mendorong perilaku altruistik, serta memberikan gambaran tentang seberapa besar kecerdasan emosional mempengaruhi partisipasi dalam kegiatan sosial di kalangan generasi muda di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah kecerdasan emosional berhubungan dengan perilaku altruistik pada gen Z yang pernah mendonor darah di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Tujuan penelitian merujuk pada apa yang ingin diperoleh dari suatu penelitian. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dan perilaku altruistik pada gen Z yang pernah donor darah di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Manfaat teoritis dari penelitian ini dapat menambah data kajian empiris pada bidang psikologi pendidikan dan psikologi klinis mengenai kecerdasan emosional dan perilaku altruistik berdasarkan teori yang ada bagi Selain, itu penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya yang akan datang mengenai kecerdasan emotional dan perilaku altruistik pada gen Z. Manfaat praktis penelitian ini, sebagai referensi atau masukan bagi pihak terkait yang membutuhkan informasi data gen Z, yang melakukan aktivitas mendonorkan darah tentang hubungan kecerdasan emosional dengan perilaku altruistik bagi penelitian selanjutnya di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Serta meningkatkan kesadaran sosial terhadap dampak dari kecerdasan emosional dan perilaku altruistik kepada pembaca. Lalu, dapat juga untuk memberikan saran praktis mengenai pengembangan kecerdasan emosional dan perilaku altruistik kepada pembaca, terutama gen Z yang pernah donor darah. METODE PENELITIAN Karakteristik Partisipan Kriteria partisipan dalam penelitian ini adalah individu berusia 22 Ae 27 tahun yang tinggal di Daerah Khusus Jakarta tergolong gen Z. Sampel yang digunakan pada penelitian ini merupakan gen Z yang mendonor darah. Penelitian ini dilakukan di daerah Khusus Jakarta, sehingga semua berdomisili di Jakarta. Pada penelitian ini, tidak ada ketentuan dalam ras, suku, budaya, dan agama. Teknik Sampling Pada penelitian ini digunakan teknik convenience sampling. Teknik ini merupakan teknik pengambilan conveniece sampling yang digunakan oleh peneliti karena pengambilan sampel diambil secara bebas dan sesuai kebutuhan peneliti. Teknik convencience sampling Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Perilaku Altruistic Pada Gen Z Yang Donor Darah ISSN: 2808-6988 dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner dengan sasaran penelitiannya yaitu gen Z yang mendonor darah. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif korelasi. Jenis penelitian ini merupakan jenis dari penelitian kuantitatif yang digunakan dalam menemukan keterkaitan suatu variabel dengan variabel lainnya. Penelitian ini dilakukan untuk mencari hubungan antara kecerdasan emosional dan perilaku altruistik pada gen Z. Berdasarkan keterangan di atas, maka penelitian ini melibatkan dua variabel, yaitu kecerdasan emosional dan perilaku Penelitian dilaksanakan pada tanggal 11 November sampai dengan tanggal 15 November 2024. Penelitian dilakukan dengan melakukan uji coba alat ukur yang sudah diadaptasi dengan menyebarkan kuesioner melalui WhatsApp kepada gen Z di kota Daerah Khusus Jakarta, di kota Jakarta. Pengambilan data dilaksanakan pada tanggal 11 November Peneliti juga menjelaskan secara singkat mengenai kecerdasan emosional dan perilaku altruistik kepada gen Z. Selanjutnya, peneliti menyebarkan gform yang di dalamnya terdapat instruksi terkait cara pengerjaan kuesioner kepada gen Z tersebut dan informed consent. Pengambilan data dilakukan pada 78 pria dan 98 wanita yang berbeda. Setelah peneliti menyebarkan kuesioner pada para partisipan, peneliti melakukan pengecekan berkala pada Setelah data cukup, peneliti langsung mengolah serta melakukan analisis dari data Pengolahan dan Teknik Analisis Data Pada penelitian ini, pengolahan dan teknik analisis data menggunakan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 25 untuk OS Windows. Peneliti juga menggunakan software Microsoft Excel untuk penginputan data. Data yang diinput berupa data dari kuesioner atau gform gen Z berupa alat ukur kecerdasan emosional dan perilaku Dari hasil data tersebut, peneliti melakukan uji normalitas menggunakan one sample Kolmogorov-smirnov, uji homogenitas, uji korelasi Spearman Correlation dan juga uji linearitas. Pada data tersebut. Selanjutnya, peneliti memberikan gambaran variabel, yaitu: jumlah partisipan, . angka minimum variabel, . angka maksimum variabel, . nilai mean, dan . standar deviasi. Setelah semua data yang dibutuhkan di dalam penelitian ini sudah terkumpul, langkah selanjutnya yang akan peneliti lakukan adalah mengolah dan melakukan analisis data secara kuantitatif dengan menggunakan SPSS versi 25. 00 for Windows. Pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan untuk mencari tahu hubungan kecerdasan emosional dengan perilaku altruistik pada gen Z yang pernah mendonor darah di kota DKI Jakarta. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji hubungan atau korelasional antara kecerdasan emosional dengan perilaku altruistik. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Gambaran Variabel Kecerdasan Emosional Kecerdasan emosional memiliki 5 poin skala Likert menjelaskan mengenai gambaran variabel penelitian. Alat ukur kecerdasan emosional terdiri atas empat dimensi dan masingmasing dimensi mempunyai empat butir, sehingga jumlah butir secara keseluruhan adalah 16 butir. Berdasarkan data yang didapatkan, skor terendah yang diperoleh adalah sebesar 38 dan skor tertinggi yang diperoleh adalah 4. 75 dan nilai mean hipotetik untuk variabel kecerdasan emosional adalah 3 dan nilai mean empirik yang didapatkan variabel ini adalah Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Perilaku Altruistic Pada Gen Z Yang Donor Darah ISSN: 2808-6988 Hasil dari perbandingan mean empirik lebih besar daripada nilai mean hipotetik . ,98>. Hasil temuan ini mengindikasikan tingkat kecerdasan emosional pada penelitian ini tinggi. Nilai mean hipotetik pada hasil uji statistik pada dimensi self-emotional appraisal Nilai mean empirik untuk dimensi self-emotional appraisal sebesar 4,09. Perbandingan antara mean empirik dengan mean hipotetik menunjukkan bahwa nilai mean empirik lebih besar daripada nilai mean hipotetik . ,09>. Hasil temuan ini mengindikasikan tingkat dimensi self-emotional appraisal pada penelitian ini tinggi. Nilai mean hipotetik pada hasil uji statistik pada dimensi otherAos emotional appraisal Nilai mean empirik untuk dimensi otherAos emotional appraisal sebesar 3,90. Perbandingan antara mean empirik dengan mean hipotetik menunjukkan bahwa nilai mean empirik lebih besar daripada nilai mean hipotetik . ,90>. Hasil temuan ini mengindikasikan tingkat dimensi otherAos emotional appraisal pada penelitian ini tinggi. Nilai mean hipotetik pada hasil uji statistik pada dimensi use of emotion sebesar 3. Nilai mean empirik untuk use of emotion sebesar 4. Perbandingan antara mean empirik dengan mean hipotetik menunjukkan bahwa nilai mean empirik lebih besar daripada nilai mean hipotetik . 06 >. Hasil temuan ini mengindikasikan tingkat dimensi use of emotion pada penelitian ini tinggi. Nilai mean hipotetik pada hasil uji statistik pada dimensi regulation of emotion Nilai mean empirik untuk regulation of emotion sebesar 3,88. Perbandingan antara mean empirik dengan mean hipotetik menunjukkan bahwa nilai mean empirik lebih besar daripada nilai mean hipotetik . ,88>. Hasil temuan ini mengindikasikan tingkat dimensi regulation of emotion pada penelitian ini tinggi. Untuk hasil yang lebih lengkap dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Gambaran Variabel Kecerdasan Emosional Dimensi dan Total Minimum Maximum Mean Std. Deviation Ket Self-emotional appraisal Tinggi OthersAo emotional appraisal Tinggi Use of emotion Tinggi Regulation of emotion Tinggi Kecerdasan emotional Tinggi Sumber: data diperoleh Gambaran Variabel Perilaku Altruistik Perilaku altruistik memiliki 5 poin skala Likert menjelaskan mengenai gambaran variabel Alat ukur perilaku altruistik terdiri atas tiga dimensi sehingga jumlah butir secara keseluruhan adalah 20 butir. Berdasarkan data yang didapatkan, skor terendah yang diperoleh adalah sebesar 2,15 dan skor tertinggi yang diperoleh adalah 4,65 dan nilai mean hipotetik untuk variabel perilaku altruistik adalah 3 dan nilai mean empirik yang didapatkan variabel ini adalah 3,74. Hasil dari perbandingan mean empirik lebih besar daripada nilai mean hipotetik . ,74>. Hasil temuan ini mengindikasikan tingkat perilaku altruistik pada penelitian ini tinggi. Nilai mean hipotetik pada hasil uji statistik pada dimensi intentions and motives sebesar 3. Nilai mean empirik untuk dimensi intentions and motives sebesar 3,85. Perbandingan antara mean empirik dengan mean hipotetik menunjukkan bahwa nilai mean empirik lebih besar daripada nilai mean hipotetik . ,85>. Hasil temuan ini mengindikasikan tingkat dimensi intentions and motives pada penelitian ini tinggi. Nilai mean hipotetik pada hasil uji statistik pada dimensi costs and benefits sebesar 3. Nilai mean empirik untuk dimensi costs and benefits sebesar 3,27. Perbandingan antara mean empirik dengan mean hipotetik menunjukkan bahwa nilai mean empirik lebih besar daripada Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Perilaku Altruistic Pada Gen Z Yang Donor Darah ISSN: 2808-6988 nilai mean hipotetik . ,27>. Hasil temuan ini mengindikasikan tingkat dimensi costs and benefits pada penelitian ini tinggi. Nilai mean hipotetik pada hasil uji statistik pada dimensi sociental context sebesar 3. Nilai mean empirik untuk sociental context sebesar 3,72. Perbandingan antara mean empirik dengan mean hipotetik menunjukkan bahwa nilai mean empirik lebih besar daripada nilai mean hipotetik . ,72>. Hasil temuan ini mengindikasikan tingkat dimensi sociental context pada penelitian ini tinggi. Untuk hasil yang lebih lengkap dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Gambaran Variabel Perilaku Altruistik Dimensi dan Total Minimum Maximum Mean Std. Deviation Ket Intentions and Motives Tinggi Costs and Benefits Tinggi Sociental Context Tinggi Perilaku Altruistik Tinggi Sumber: data diperoleh Analisis Data Utama Pada penelitian ini, dilakukan analisis data utama berupa uji korelasi dengan menggunakan teknik Spearman Correlation pada variabel kecerdasan emosional dengan variabel perilaku altruistik. Sebelum analisis data utama, peneliti melakukan uji asumsi yang berupa uji normalitas, dengan menggunakan teknik one sample Kolmogorov-smirnov, uji homogenitas dan juga uji linearitas. Pada uji normalitas, peneliti mendapatkan hasil bahwa pada variabel kecerdasan emosional terdapat nilai p = 0. 000 yang menunjukkan bahwa data pada variabel kecerdasan emosional terdistribusi tidak normal. Hal yang sama juga terlihat pada variabel perilaku altruistik yang memiliki nilai p = 0,000. Pada uji homogenitas, peneliti mendapatkan hasil bahwa terdapat nilai p = 0,000 yang menunjukkan bahwa data pada variabel kecerdasan emosional tidak normal. Pada uji linearitas diketahui bahwa terdapat hubungan yang linear antara variabel kecerdasan emosional dengan variabel perilaku altruistik dengan nilai r = Uji Asumsi Normalitas Variabel Kecerdasan Emosional dan Perilaku Altruistik Berdasarkan uji one sample kolmogorov-smirnov yang dilakukan oleh peneliti, terlihat bahwa variabel kecerdasan emosional dan perilaku altruistik seluruhnya terdistribusi tidak Hal tersebut dapat terlihat dari bagaimana variabel penelitian variabel kecerdasan emosional memiliki nilai p yang lebih kecil dari 0,05 dengan p sebesar 0,000 dan variabel penelitian perilaku altruistik memiliki nilai p yang lebih kecil dari 0,05 dengan nilai p sebesar 0,000. Untuk hasil yang lebih lengkap dapat di lihat pada tabel 3. Tabel 3 Hasil Uji Asumsi Normarlitas Variabel Kecerdasan Emosional dan Variabel Perilaku Altruistik Variabel Keterangan Kecerdasan emosional 0. 000 Tidak Normal Perilaku Altruistik 000 Tidak Normal Sumber: data diperoleh Selanjutnya, dilakukan uji asumsi antara variabel kecerdasan emosional dengan dimensi-dimensi yang terdapat variabel perilaku altruistik. Berdasarkan hasil uji asumsi menggunakan metode one Sample Kolmpgorov-Smirnov, diketahui bahwa variabel kecerdasan emosional dengan dimensi self-emotional appraisal, othersAo emotional appraisal, use of emotion dan regulation of emotion seluruhnya terdistribusi normal. Dimensi selfemotional appraisal memiliki nilai p sebesar 0,000, dimensi othersAo emotional appraisal Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Perilaku Altruistic Pada Gen Z Yang Donor Darah ISSN: 2808-6988 memiliki nilai p sebesar 0,000, use of emotion memiliki nilai p sebesar 0,000 dan regulation of emotion memiliki nilai p sebesar 0,000. Untuk hasil yang lebih lengkap dapat di lihat pada Tabel 4. Hasil Uji Asumsi Normalitas Dimensi Variabel Kecerdasan Emosional Variabel Self-emotional appraisal OthersAo emotional appraisal Use of emotion Regulation of emotion Keterangan 0,000 Tidak Normal 0,000 Tidak Normal 0,000 Tidak Normal 0,000 Tidak Normal Sumber: data diperoleh Berdasarkan hasil pengujian yang sudah dilakukan, dapat terlihat bahwa seluruh dimensi kecerdasan emosional memiliki sebaran data yang tidak normal. Pengujian antara variabel kecerdasan emosional dan seluruh dimensi tersebut akan menggunakan teknik uji korelasi Spearman Correlation. Uji Homogenitas Variabel Kecerdasan Emosional dengan Perilaku Altruistik Pada uji homogen ini mendapatkan hasil berupa nilai p = 0. 000<0. 05, artinya berdasarkan uji homogen tersebut tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara variabel kecerdasan emosional dengan perilaku altruistik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Variabel Kecerdasan Emosional dan Variabel Perilaku Altruistik Variabel Keterangan Hubungan kecerdasan emosional dengan perilaku altruistik 0. 000 Tidak Homogen Sumber: data diperoleh Uji Linearitas Variabel Kecerdasan Emosional dengan Perilaku Altruistik Pada penelitian ini telah melakukan uji linearitas yang mendapatkan hasil p = 000<0. 05 artinya bahwa ada hubungan linear antara kecerdasan emosional dengan perilaku untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 6 Hasil Uji Asumsi Linearitas Variabel Kecerdasan Emosional dan Variabel Perilaku Altruistik Variabel Keterangan Hubungan kecerdasan emosional dengan perilaku altruistik 0. 000 Linear Sumber: data diperoleh Analisis Hipotesis Variabel Kecerdasan Emosional dengan Variabel Perilaku Altruistik Berdasarkan hasil uji korelasi dengan menggunakan teknik Spearman Correlation, diperoleh hasil bahwa variabel kecerdasan emosional memiliki hubungan positif yang signifikan dengan variabel perilaku altruistik dengan nilai r sebesar = 0. 617 dan nilai p = 000<0. 005 yang artinya adalah bahwa hipotesis diterima. Dari hasil ini, dapat dikatakan pula bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional, maka semakin tinggi pula perilaku Untuk hasil yang lebih lengkap dapat dilihat pada tabel 7. Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Perilaku Altruistic Pada Gen Z Yang Donor Darah ISSN: 2808-6988 Tabel 7 Uji Korelasi Variabel Kecerdasan Emosional dengan Variabel Perilaku Altruistik Hubungan Variabel Keterangan Kecerdasan emosional dengan perilaku alturistik 0,617 0. 000 Korelasi positif dan signifikan Sumber: data diperoleh Analisis Hipotesis Perilaku Altruistik dengan Dimensi dari Variabel Kecerdasan Emosional Berdasarkan hasil uji korelasi dengan menggunakan teknik Spearman Correlation, diperoleh hasil bahwa dimensi-dimensi self-emotional appraisal, othersAo emotional appraisal, use of emotion dan regulation of emotion yang ada pada variabel kecerdasan emosional memiliki hubungan yang signifikan dan positif dengan variabel perilaku Pada dimensi self-emotional appraisal diketahui bahwa terdapat hasil yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan dengan variabel perilaku altuistik dengan nilai r = 0. 534 dan nilai p = 0. 000<0. 05 yang menunjukkan bahwa hipotesis di terima. Pada dimensi otherAos emotional appraisal, diketahui juga bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan terhadap variabel perilaku altruistik dengan nilai r = 0. 781 dan nilai p = 0. 000<0. 05 yang menunjukkan bahwa hipotesis diterima. Dimensi use of emotion juga dapat diketahui bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara dimensi use of emotion dengan variabel perilaku altruistik dengan hasil nilai r = 0. 609 dan nilai p = 000<0. kemudian dimensi regulation of emotion didapat hasil yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signfikan antara dimensi regulation of emotion dengan variabel perilaku altruistik dengan nilai r = 0. 512 dan nilai p = 0. 000<0. Untuk hasil yang lebih lengkap dapat dilihat pada tabel 8. Tabel 8. Uji Korelasi Variabel Perilaku Altruistik dengan Dimensi dari Variabel Kecerdasan Emosional Hubungan Variabel Keterangan Self-emotional appraisal dengan perilaku altruistik 0. 000 Korelasi OtherAos emotional appraisal dengan perilaku 0. 000 Korelasi Use of emotion dengan perilaku altruistik 000 Korelasi Regulation of emotion dengan perilaku altruistik 000 Korelasi Sumber: data diperoleh Analisis Tambahan Uji Beda Mean Variabel Kecerdasan Emosional dengan Data Jenis Kelamin Penelitian ini melakukan uji beda pada variabel kecerdasan emosional di lihat berdasarkan jenis kelamin. Uji beda berdasarkan jenis kelamin dilakukan menggunakan Mann-Whitney Test dikarenakan kelompok pembeda terdiri dari dua kelompok. Hasil uji beda kecerdasan emosional berdasarkan jenis kelamin menunjukkan mean rank untuk partisipan laki-laki sebesar 88. 17 dan mean rank untuk partisipan perempuan sebesar 88. Hasil uji Mann-Whitney Test memperoleh nilai p= 0. 938 > 0. 05, artinya berdasarkan nilai tersebut tidak terdapat perbedaan antara variabel kecerdasan emosional dengan jenis kelamin dari partisipan. Untuk melihat lebih jelasnya dapat dilihat pada 38 tabel 9. Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Perilaku Altruistic Pada Gen Z Yang Donor Darah ISSN: 2808-6988 Tabel 9. Uji Beda Mean Variabel Kecerdasan Emosional dengan Data Jenis Kelamin Variabel Kecerdasan emosional dengan jenis kelamin partisipan Jenis Kelamin Laki-laki Mean Rank Perempuan Keterangan Tidak terdapat Sumber: data diperoleh Uji Beda Mean Variabel Perilaku Altruistik dengan Data Jenis Kelamin Penelitian ini melakukan uji beda pada variabel perilaku altruistik di lihat berdasarkan jenis kelamin. Uji beda berdasarkan jenis kelamin dilakukan menggunakan Mann-Whitney Test dikarenakan kelompok pembeda terdiri dari dua kelompok. Hasil uji beda perilaku altruistik berdasarkan jenis kelamin menunjukkan mean rank untuk partisipan laki-laki 16 dan mean rank untuk partisipan perempuan sebesar 87. Hasil uji MannWhitney Test memperoleh nilai p= 0. 878 > 0. 05, artinya berdasarkan nilai tersebut tidak terdapat perbedaan antara variabel perilaku altruistik dengan jenis kelamin dari partisipan. Untuk melihat lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 10. Tabel 10. Uji Beda Mean Variabel Perilaku Altruistik dengan Data Jenis Kelamin Variabel Perilaku Jenis Kelamin Laki-laki Mean Rank Keterangan Perempuan Tidak Sumber: data diperoleh Pembahasan penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mencari tahu adanya hubungan antara kecerdasan emosional dan perilaku altruistik pada gen Z yang mendonor darah. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, terdapat hubungan positif yang signifikan antara variabel kecerdasan emosional dan variabel perilaku altruistik. Hasil uji korelasi sebesar r = 0,617, p = 0. 000 < 0,005 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara variabel kecerdasan emosional dan perilaku altruistik. Peneliti juga melalukan uji korelasi pada dimensi kecerdasan emosional dan variabel perilaku altruistik. Terdapat empat dimensi pada kecerdasan emosional, yaitu: . penilaian dan ekspresi emosi dalam diri, . penilaian dan pengenalan emosi pada orang lain, . penggunaan emosi dalam memfasilitasi kinerja, dan . pengaturan emosi dalam diri. Hasil uji korelasi pada masingmasing dimensi terhadap variabel perilaku altruistik secara berurutan sebesar 0,534, 0,781, 0,609, dan 0,512. Hal ini membuktikan bahwa semua dimensi pada kecerdasan emosional memiliki hubungan yang positif dan signifikan dengan variabel perilaku altruistik. Hasil dari penelitian ini sejalan dengan penelitian Zhou . yang membuktikan bahwa individu yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi cenderung terlibat berperilaku altruistik. Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Perilaku Altruistic Pada Gen Z Yang Donor Darah ISSN: 2808-6988 Selain itu, peneliti juga melakukan uji beda mean variabel kecerdasan emosional dengan data Jenis kelamin. Berdasarkan hasil yang diperoleh, kecerdasan emosional tidap dapat dibedakan dari jenis kelamin. Hal ini sendiri dari nilai p sebesar 0,938 yang berarti tidak terdapat perbedaan antara kecerdasan emosional jenis kelamin. Selanjutnya, uji beda mean antara variabel kecerdasan emosional dengan jenis kelamin responden. Berdasarkan hasil diperoleh tidak terdapat perbedaan kecerdasan emosional dari jenis kelamin, dari nilai p sebesar 0. 856 > 0. 05 yang berarti tidak terdapat perbedaan kecerdasan emosional dari jenis kelamin partisipan. Selanjutnya, uji beda mean variabel kecerdasan emosional dari domisili Berdasarkan hasil diperoleh, kecerdasan emosional tidak dapat dibedakan dari domisili partisipan yang terlihat dari nilai p sebesar 0. 057 > 0. 05 yang berarti tidak dapat perbedaan kecerdasan emosional dari domisili partisipan. Selanjutnya, dilakukan uji mean variabel kecerdasan emosional dari golongan darah. Berdasarkan hasil diperoleh, tidak dapat dibedakan dari golongan darah yang terlihat dari nilai p sebesar 0. 084 > 0. 05 yang berarti tidak terdapat perbedaan kecerdasan emosional dari golongan darah partisipan. Selanjutnya, dilakukan uji mean variabel kecerdasan emosional dari berapa kali donor darah. Berdasarkan hasil diperoleh, dapat dibedakan dari berapa kali donor darah yang terlihat dari nilai p sebesar 004> 0. 05 yang berarti terdapat perbedaan kecerdasan emosional dari golongan darah Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa semua dimensi pada variabel kecerdasan emosional memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap variabel perilaku Artinya, dimensi pada variabel kecerdasan emosional berbanding lurus dengan variabel perilaku altruistik. Sebagai contoh, apabila gen Z mempunyai kemampuan dalam mengenali emosi yang rendah, maka gen Z tersebut akan sukar dalam berperilaku altruistik. Apabila gen Z tersebut memiliki kemampuan dalam meregulasi emosi yang baik, gen Z tersebut akan cenderung melakukan perilaku altruistik. Cikes & Humer . menyampaikan bahwa individu yang memiliki kecerdasan emosional yang lebih tinggi akan lebih sering berperilaku altruistik karena mereka mampu memahami dan merasakan emosi orang lain, baik secara intelektual maupun emosional. Salah satu keunggulan dari penelitian ini adalah penelitian mengenai variabel kecerdasan emosional dan variabel perilaku altruistik pada gen Z masih relatif terbatas. Hal tersebut dapat menjadikan penelitian ini sebagai referensi dan menambah data kajian Namun, hal tersebut juga menjadi keterbasan bagi peneliti dikarenakan masih sedikit yang membahas mengenai keterkaitan perilaku altruistik dan kecerdasan emosional pada gen Z. Selain itu, pengambilan data penelitian dilakukan pada gen Z yang didomisili kota Daerah Khusus Jakarta, sehingga kurang dapat digeneralisasikan. KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara kecerdasan emosional dan perilaku altruistik pada gen Z yang mendonor darah. Berdasarkan hasil pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa hubungan yang positif yang signifikan antara kecerdasan emosional dan perilaku altruistik pada gen Z yang mendonor darah di Jakarta. Selanjutnya, hubungan variabel kecerdasan emosional dan perilaku altruistik menunjukkan bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional, maka semakin tinggi pula perilaku altruistik. Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Perilaku Altruistic Pada Gen Z Yang Donor Darah ISSN: 2808-6988 REFERENSI Afolabi. , & Olusa. Personality variables and emotional intelligence predicting pro-social behavior. Nigerian Journal of Social Psychology, 2. Bano. , & Pervaiz. The relationship between resilience, emotional intelligence and their influence on psychological wellbeing: A study with medical students. Pakistan Armed Forces Medical Journal, 70. , 390Ae394. Batson. Altruism and prosocial behavior. In T. Gi (Ed. Handbook of Social Psychology. Oxford University Press. Bouchet. Olatoye. Marla. Perumal. Tesso. Yu. , & Morris, . Increased power to dissect adaptive traits in global sorghum diversity using a nested association mapping population. Genetics, 206. , 573Ae585. Bressler. , & Bressler. New tactics for the rapidly changing business environment: How cognitive flexibility can help small business withstand the next American Journal of Management, 23. Bru-Luna. Mativilar. Merino-Soto. , & L. Emotional intelligence measures: A systematic review. Healthcare (Switzerlan. , 9. , 1Ae36. Caviola. Schubert. , & Greene. The psychology of . effective altruism. Trends in Cognitive Sciences, 25. , 596Ae607. Chamizo-Nieto. The role of emotional intelligence, the teacher-student relationship, and flourishing on academic performance in adolescents: A moderated mediation study. Frontiers in Psychology, 12, 1Ae8. Chen. Peng. , & Fang. Emotional intelligence mediates the relationship between age and subjective well-being. Journal of Aging and Human Development, 38. , 91Ae107. Dhiu. , & Fono. Pola asuh orang tua terhadap perkembangan sosial emosional anak usia dini. EDUKIDS: Jurnal Inovasi Pendidikan Anak Usia Dini, 2. , 56Ae61. Djafarova. , & Foots. Menjelajahi konsumsi etis generasi Z: Teori perilaku Young Consumers, 23. , 413Ae431. Domynguez-Garcya. , & Fernyndez-Berrocal. The association between emotional intelligence and suicidal behavior: A systematic review. Frontiers in Psychology, 9(NOV), 1Ae12. https://doi. org/10. 3389/fpsyg. Dwidienawati. Syahchari. , & Tjahjana. Effective leadership style for generation Z. Proceedings of the 4th European International Conference on Industrial Engineering and Operations Management. Rome. Italy, 2Ae5. Goleman. Emotional intelligence. Gramedia Pustaka Utama. Goleman. Social intelligence: Ilmu baru tentang hubungan antar manusia. Gramedia Pusaka Utama. Goleman. Kecerdasan emosi: Mengapa emotional intelligence lebih tinggi daripada IQ (A. Hermay. Ed. PT Gramedia Pustaka Utama. Goleman. Emotional intelligence: Kecerdasan emosional (T. Hermaya. Trans. PT Gramedia Pustaka Utama. Grewal. , & Salovey. Feeling smart: The science of emotional intelligence. American Scientist Online, 93, 197Ae339. Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Perilaku Altruistic Pada Gen Z Yang Donor Darah ISSN: 2808-6988 Hidayat. Tjandra. , & Herawati. Gen Z digital leadership through social Widyakala Journal: Journal of Pembangunan Jaya University, 10. , 62. https://doi. org/10. 36262/widyakala. Wang. Ahmad. Al-Jubari. Seong. Zhang. OAoBrien. Riggs. , & Dwyer. Compassion training alters altruism and neural responses to suffering. Psychological Science, 24. Kandiawan. An analysis of code-switching and slang used by Indonesians Gen Z on social media. In Undergraduate Conference (UC). Kurzban. Burton-Chellew. , & West. The evolution of altruism in Annual Review of Psychology, 66, 575Ae599. Law. Wong. , & Song. The construct and criterion validity of emotional intelligence and its potential utility for management studies. Journal of Applied Psychology, 89. , 483Ae496. Leokuna. , & Tambunan. Gambaran perilaku altruistik dan empati mahasiswa keperawatan dalam pembelajaran daring di era pandemi Covid-19. Jurnal Kesehatan Primer, 7. , 37Ae46. Li. Li. Wei. Dong. Wang. Fu. Li. , & Peng. Critical thinking, emotional intelligence, and conflict management styles of medical students: A cross-sectional study. Thinking Skills and Creativity, 40, 1Ae9. Mallian. , & Soetikno. Pengaruh empati terhadap pengambilan keputusan altruistik individu dewasa madya. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6. Marsh. Understanding anxiety panic attacks. Mind National Association for Mental Health. Mayer. , & Salovey. Emotional intelligence: The intelligence of emotional Yale University. Mayer. , & Salovey. What is emotional intelligence? In P. Salovey & Sluyter (Eds. Emotional development and emotional intelligence: Implications for educators . 3Ae. Basic Books. Mayer. Salovey. , & Caruso. Emotional intelligence: New ability or eclectic trait? American Psychologist, 63. , 503Ae517. Meinarno. , & Sarwono. Psikologi sosial. Salemba Humanika. Myrida-Lypez. Extremera. , & Rey. Emotion-regulation ability, role stress and teachersAo mental health. Occupational Medicine, 67. , 40-46. Murphy. The social and educational outcomes of homeschooling. Sociological Spectrum, 34. , 244Ae272. NiAomah. Hubungan empati dengan perilaku altruistik. At-Tuhfah: Jurnal Keislaman, 6. Parzonko. BaliEska. , & Sieczko. Pro-environmental behaviors of generation Z in the context of the concept of homo socio-oeconomicus. Energies, 14. Pesiuliauskien. Emotional intelligence and transformational leadership of gymnasium teachers. Society. Integration. Education, 2, 457Ae467. Pfattheicher. Nielsen. , & Thielmann. Prosocial behavior and altruism: A review of concepts and definitions. Current Opinion in Psychology, 44, 124Ae129. Rushton. The altruistic personality and the self-report altruism scale. Journal of Personality and Social Psychology, 40. , 471-482. Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Perilaku Altruistic Pada Gen Z Yang Donor Darah ISSN: 2808-6988 Sarwono. Psikologi lintas budaya. PT Raja Grafindo Persada. Seager. Social psychology: A complete introduction. Hodder & Stoughton. Shapiro. Mengajarkan emotional intelligence pada anak (A. Kantjono. Trans. Gramedia Pustaka Utama. Sladek. , & Grabinger. Gen Z: The first generation of the 21st century has https://w. com/wpcontent/uploads/2018/08/GenZ_FinaldI1. Sternberg. Psikologi kognitif edisi keempat (Y. Santoso. Trans. Pustaka