PETA DAAoWAH KAWASAN PEDESAAN (STUDI KASUS ANALISIS TANTANGAN DAN PROBLEMATIKA DAAoWAH DI DESA JURANGJERO KAPANEWON NGAWEN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA) https://doi. org/10. 38214/jurnalbinaummatstidnatsir. Submitted: 03-10-2025 Reviewed: 10-11-2025 Published: 13-12-2025 Madeni madeni@stidnatsir. STID Mohammad Natsir Hafidzoh QoniAoah elhafidzohh@gmail. STID Mohammad Natsir Agusman agusmancz@gmail. STID Mohammad Natsir ABSTRACT The purpose of this study is to determine the map of da'wah in rural areas, a case study of the analysis of challenges and problems of da'wah in Jurangjero Village. Ngawen Subdistrict. Yogyakarta Special Region in 2025. The methodology of this study is descriptive qualitative. The results of this study, based on a SWOT analysis of the implementation of da'wah in Jurangjero Village, reveal a number of strengths, weaknesses, opportunities, and threats that influence each other. The main strength lies in the Islamic spirit of the community and the presence of influential local religious figures. However, the implementation of da'wah is still hampered by the limited number of da'i, the unequal distribution of activities across all hamlets, and the approach that tends to be verbal. On the other hand, opportunities open up through the openness of the community to more systematic religious guidance and the support of external institutions. Threats arise from the strong influence of local culture that can trigger syncretistic practices, as well as the lack of regeneration of young da'i. These findings indicate that internal strengths have not been fully able to overcome weaknesses and optimally respond to external challenges. For this reason, efforts are needed to develop da'i human resources, improve supporting facilities, and establish a more coordinated organizational structure. A contextual, cultural, and polite approach to da'wah is considered crucial to strengthen the effectiveness of da'wah in a sustainable and harmonious manner amidst local socio-cultural realities. Keywords: Map. DaAowah. Jurangjero Village. Ngawen Subdistrict. SWOT Analysis. Challenges and Problems. ABSTRAK Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui peta daAowah kawasan pedesaan studi kasus analisis tantangan dan problematika daAowah di Desa Jurangjero Kapanewon Ngawen Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2025. Adapun Metodologi Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil Penelitian ini, berdasarkan Analisis SWOT terhadap pelaksanaan daAowah di Desa Jurangjero mengungkapkan sejumlah kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang saling mempengaruhi. Kekuatan utama terletak pada semangat keislaman masyarakat serta keberadaan tokoh agama lokal yang berpengaruh. Namun, pelaksanaan daAowah masih terhambat oleh keterbatasan jumlah daAoi, belum meratanya kegiatan ke seluruh dusun, dan pendekatan yang cenderung verbal. Di sisi lain, peluang terbuka melalui keterbukaan masyarakat terhadap pembinaan keagamaan yang lebih sistematis dan adanya dukungan dari lembaga eksternal. Ancaman muncul dari kuatnya pengaruh budaya lokal yang dapat memicu praktik sinkretisme, serta minimnya regenerasi daAoi muda. Temuan ini menunjukkan bahwa kekuatan internal belum sepenuhnya mampu mengatasi kelemahan dan menjawab tantangan eksternal secara optimal. Untuk itu, dibutuhkan upaya pengembangan sumber Jurnal Bina Ummat: Membina dan Membentengi Ummat is licensed under a Creative Commons Attribution 4. International License 115 | Bina Ummat | Vol 8 | No. 2 | 2025 daya manusia daAoi, peningkatan fasilitas pendukung, serta pembentukan struktur organisasi yang lebih terkoordinasi. Pendekatan daAowah yang kontekstual, kultural, dan santun dinilai krusial guna memperkuat efektivitas dakwah secara berkelanjutan dan harmonis di tengah realitas sosial budaya Kata Kunci: Peta. DaAowah. Desa Jurangjero Kapanewon Ngawen. Analisis SWOT. Tantangan dan Problematika. PENDAHULUAN Islam adalah agama risalah dan daAowah yang memiliki kebenaran mutlak. Maka, esensi ajarannya wajib disebarkan ke seluruh makhluk Allah Subhanahu wa TaAoala sebagai Rahmatan Lil Alamin. 1 Islam juga merupakan agama yang menyeluruh, yang mana setiap aspek kehidupan diatur oleh norma-norma yang diturunkan langsung oleh Allah Subhanahu wa TaAoala melalui wahyu-Nya, serta petunjuk yang diberikan melalui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam risalahNya yang diajarkan kepada makhluk-Nya secara lengkap dan menyeluruh. 2 Oleh karena itu berdaAowah bukan hanya tugas seorang daAoi atau ulama saja akan tetapi daAowah adalah kewajiban seluruh umat muslim sebagaimana firman Allah Subhanahu wa TaAoala: a aa AE aN aI Ee aI eAEa a eO aIA a AaOEea aE eI aIeI aE eI aacIU Oac ea eO aI aE ea aeO aO aaOe aI aeO aI aEe aI e aeOA aOOaeI aN eO aI a aI Ee aIeI aE a aOaOE aiOA AuHendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh . yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntungAy. (Ali-Imran . Kebenaran mutlak ajaran Islam wajib dikomunikasikan serta didemokratiskan dalam kehidupan sosial, sebab Islam harus menjadi nilai hidup, sikap hidup dan perilaku sosial masyarakat. Maka dari itu dalam mensyiarkan Islam, daAowah mempunyai peran penting untuk rekonstruksi masyarakat melalui sosialisasi pengajaran dengan cara lisan . il lisa. , tulisan . il qola. , dan perbuatan . il ha. , sehingga terwujudnya Islamisasi kehidupan di masyarakat. 3 DaAowah adalah menyampaikan dan memanggil serta mengajak manusia untuk ke jalan Allah Subhanahu wa TaAoala, untuk berbuat kebaikan dan mencegah dari kemungkaran . l amru bil maAoruf wan nahyu Aoanil munka. Untuk mewujudkan tujuan daAowah, daAoi atau lembaga daAowah perlu melakukan riset untuk merumuskan atau menyusun peta daAowah agar kegiatan daAowah lebih teratur dan sistematis. Para daAoi perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang kondisi sosial dan budaya masyarakat, serta bagaimana pendekatan yang tepat agar daAowah dapat diterima dan dilaksanakan dengan baik untuk Dengan riset yang matang, strategi daAowah yang diterapkan dapat lebih efektif, mencapai sasaran, dan membawa perubahan positif dalam kehidupan umat Islam. 5 Peta daAowah adalah gambaran menyeluruh tentang potensi daAowah yang dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan keberhasilan daAowah di suatu tempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan data secara komprehensif terkait dengan objek daAowah, termasuk aktivitas dan perkembangannya, menggunakan analisis SWOT (Strengths. Weakness. Opportunities, dan Threat. untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dihadapi dalam pelaksanaan daAowah di Desa Jurangjero. Perlu dicatat bahwa daerah yang dijadikan objek adalah sebuah Desa Jurangjero yang dimana ada salah satu dusun yang belum 1 M. Natsir. Fiqhud DaAowah Jejak Risalah dan Dasar-Dasar DaAowah. Jakarta: Yayasan Capita Selecta, 2008. Cet. 13, hal. 2 Imam Zamroji. Studi Dasar Islam (SDI) Membangun Pola Berpikir dan Beramal Sholih. Tambun Selatan: STID Mohammad Natsir,2022. Cet. I, hal. 3 Ida Parida. AuPeta Dakwah Di Desa Cintaratu Kecamatan Lakbok,Ay Skripsi. Purwokerto: IAIN Purwokerto, 2020, hal 41-45. 4 Mahmud Yunus. Kamus Arab-Indonesia. Jakarta: Hida Karya Agung, 1990. Cet. Vi, hal. 5 M. Bahri Ghazali dan Faisal. Filsafat Dakwah. Bogor: Samudra Biru, 2024. Cet I, hal. 6 Nawari Ismail. Tantangan-Tantangan Dakwah di Era Kontemporer. Yogyakarta: Samudra Biru, 2022. Cet. I, hal. PETA DAAoWAH KAWASAN PEDESAAN | 116 memiliki daAoi tetap atau belum terjangkau oleh organisasi daAowah manapun. Strategi dalam daAowah kelembagaan memerlukan perencanaan yang matang. Dalam hal ini, analisis SWOT merupakan langkah penting yang mencakup kekuatan . , kelemahan . , peluang . , dan ancaman . yang dimiliki atau dihadapi oleh organisasi daAowah. Kekuatan dan kelemahan bersifat internal dan terkait dengan strategi yang sudah ditetapkan. Ketika strategi ini dikaitkan dengan pendaAowah dan mitra daAowah . aktor eksterna. , maka akan muncul peluang dan ancaman. Kelebihannya relevan dengan ajaran Islam yang rasional, namun kekurangannya adalah ketidakmampuannya untuk menjangkau aspekaspek yang berada di luar logika. Sebagian ajaran Islam memang harus diterima secara dogmatis berdasarkan iman, tanpa bisa dijelaskan secara rasional. Ancaman muncul dari pendaAowah yang tidak sepenuhnya menerima pemikiran rasional atau tidak terbiasa berpikir filosofis. Namun, adanya mitra daAowah yang terpelajar dapat dilihat sebagai peluang. Desa Jurangjero merupakan sebuah desa yang terletak di Kapanewon Ngawen. Kabupaten Gunungkidul. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini memiliki luas wilayah 234,51 hektar dan memiliki batas wilayah bagian utara Desa Tancep, bagian selatan Desa Kampung, bagian barat Kapanewon Nglipar dan Gedangsari serta sebelah timur Desa Sambireja dan Desa Kampung. Dakwah di kawasan pedesaan memiliki karakteristik unik karena berakar pada tradisi, nilainilai lokal, dan struktur sosial yang kuat. Berbeda dengan dakwah di perkotaan yang cenderung modern dan digital, dakwah di pedesaan lebih menekankan pendekatan kultural, personal, dan sosial berbasis komunitas. Berdasarkan gagasan, pendekatan dakwah di pedalaman menuntut kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat serta sinergi antara pendidikan agama, pemberdayaan sosial, dan ekonomi. Dengan demikian, peta dakwah pedesaan harus dibangun atas pemahaman terhadap struktur sosial, kearifan lokal, dan potensi masyarakat setempat. Tercatat dalam tabel data kependudukan berdasarkan per wilayah Kabupaten Gunungkidul bahwa Desa Jurangjero merupakan wilayah yang berada di daerah dataran tinggi. Data penduduk Desa Jurangjero11 berjumlah 4. 728 jiwa dengan 2. 352 laki-laki dan 2. 376 perempuan. Masyarakat diharapkan dapat memahami bahwa keistimewaan agama Islam terletak pada kesederhanaan dan kemurnian ibadah yang tidak tercampur dengan praktik yang bertentangan dengan ajaran agama. Masalah semakin kompleks ketika ditemui ketimpangan akses pembinaan keagamaan antar Beberapa dusun aktif dalam majelis taAolim dan kegiatan keislaman, namun sebagian lainnya justru tidak memiliki daAoi tetap, bahkan tidak tersentuh oleh program daAowah dari lembaga manapun. Rendahnya partisipasi generasi muda dalam kegiatan agama, serta minimnya regenerasi daAoi, menjadi persoalan serius dalam keberlanjutan daAowah di desa ini. 13 Masalah lain juga muncul dari segi internal, seperti keterbatasan jumlah daAoi, sarana dan prasarana yang belum memadai, serta koordinasi lembaga yang belum optimal. Sementara dari sisi eksternal, pengaruh budaya lokal, resistensi terhadap perubahan, dan pemahaman masyarakat yang masih bercampur antara syariat dan tradisi, menjadi ancaman tersendiri terhadap keberhasilan daAowah. Berdasarkan uraian permasalahan yang ada, peneliti merasa penting untuk meningkatkan kembali keoptimalan kinerja daAowah dengan mengatur ulang strategi daAowah. Dalam rangka ini, 7 Sahroni. Strategi pemberdayaan Yayasan Islah Bina Umat terhadap yatim dan dhuafa. Jurnal Bina Ummat: Membina dan Membentengi Ummat, 7. , 17-38. 8 Moh. Ali Aziz. Ilmu DaAowah. Jakarta: Kecana, 2004. Cet. VI, hal. 9 Data langsung didapat dari buku dokumen pihak Kelurahan Desa Jurangjero pada Selasa, 11 Maret 2025. 10 Agung. , & Madeni. STRATEGI KOMUNIKASI KOMUNITAS MUSLIM BIKERS DALAM DAAoWAH TERHADAP MASYARAKAT SUBANG. Jurnal Da'wah: Risalah Merintis. Da'wah Melanjutkan, 2. , 93-106. 11 Ibid. 12 Wawancara dengan Imam Zamroni. Biro DaAowah Pedesaan dan Khusus Dewan DaAowah Islamiyah Indonesia PD Kabupaten Gunung Kidul. Wawancara. Whatsapp, 20 Januari 2025. 13 Observasi lapangan yang penulis laksanakan pada bulan Mei 2025. 14 Observasi lapangan yang penulis laksanakan pada bulan Mei 2025. 117 | Bina Ummat | Vol 8 | No. 2 | 2025 peneliti berusaha memberikan gambaran objek daAowah sebagai acuan dasar untuk mengenali unsurunsur yang terlibat secara lebih mendetail melalui penelitian peta daAowah. Oleh karena itu, peneliti mengambil judul penelitian AuPETA DAAoWAH KAWASAN PEDESAAN (Studi Kasus Analisis Tantangan dan Problematika DaAowah di Desa Jurangjero Kapanewon Ngawen. Kabupaten Gunungkidul. Daerah Istimewa Yogyakart. Ay. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk memetakan tantangan dan problematika pelaksanaan daAowah di wilayah pedesaan, khususnya di Desa Jurangjero. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teori Albert S. Humphrey yang terdiri dari 4 tahap. Keempat tahap tersebut dikenal dengan analisis SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. , yang digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pelaksanaan daAowah, sehingga dapat diperoleh gambaran strategis yang menyeluruh dalam menghadapi dinamika sosial keagamaan di Desa Jurangjero. Penelitian ini juga telah melibatkan telaah atas penelitian terdahulu diantaranya. penelitian dengan judul Peta Dakwah Dalam Pembinaan Keagamaan du Kabupaten Solok yang ditulis oleh Alzikri STAI Hubbulwathan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Bentuk kekuatan dakwah yang dimiliki nagari-nagari di Kabupaten Solok sangatlah luar biasa, hanya saja belum digerakkan secara maksimal oleh pemangku kebijakan. Perlu ada hal baru yang membuat potensi ini bergerak lebih kuat agar terjadinya perubahan signifikan. Bentuk dari potensi tersebut. Penelitian lainnya berjudul Peta Dakwah Di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas oleh Nawawi di Jurnal penelitian agama. pada Penelitian ini menemukan 180 dai yang berdakwah di Kecamatan Sumbang. dengan demikian bahwa setiap dai harus melayani 410 orang. Melihat perbandingan tersebut dirasa masih perlu untuk diusahakan penambahan jumlah dai. Lembaga dakwah yang ada di Kecamatan Sumbang telah mencapai jumlah 62 institusi. Hanya saja penyebarannya sangat tidak merata. Demikian pula jurnal ilmiah dengan judul peta dakwah Islam di kabupaten tapanuli selatan yang ditulis oleh Kamaluddin Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi IAIN Padangsidimpuan, dalam penelitian tersebut menyimpulkan Manajemen dakwah di Kecamatan Batangtoru. Muara Batangtoru dan Angkola Sangkunur Kabupaten Tapanuli Selatan belum terlaksanan secara efektif dan efisien. Pada umumnya dakwah Islam hanya diaksanakan pada harihari besar agama saja, sedangkan pengajian rutin hanya dilaksanakan di beberapa desa. HASIL DAN DISKUSI Profil Desa Jurangjero Desa Jurangjero merupakan salah satu desa yang terletak di Kapanewon Ngawen. Kabupaten Gunungkidul. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang dipimpin oleh Bapak Suparno. Desa ini terdiri dari delapan dusun dan memiliki potensi alam yang sangat kaya, dengan kondisi geografis yang khas, yaitu perbukitan dan lahan pertanian yang subur. Mayoritas mata pencarian masyarakat adalah petani, sehingga Desa Jurangjero termasuk sebagai salah satu pusat penghasil padi, jagung, ubi kayu, kedelai dan kacang tanah terbanyak. Selain itu. Desa Jurangjero juga dikenal memiliki berbagai keunikan budaya dan tradisi dari identitas masyarakat setempat. Keragaman budaya ini tercermin dalam adat-istiadat, kesenian, serta kearifan lokal yang masih dijaga oleh penduduk desa, yang menjadikan Desa Jurangjero sebagai salah satu tempat yang 15 Alzikri dan Hanif Gunawan. AuPeta Dakwah Dalam Pembinaan Keagamaan Di Kabupaten Solok,Ay Jurnal Alqolam 4, no. : 118. 16 Nawawi Nawawi. AuPeta Dakwah Di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas,Ay Jurnal Penelitian Agama IAIN Purwokerto 9, no. : 18. 17 Kamaluddin Kamaluddin. AuPETA DAKWAH ISLAM DI KABUPATEN TAPANULI SELATAN,Ay FITRAH: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Keislaman 3, no. : 18 PETA DAAoWAH KAWASAN PEDESAAN | 118 menarik untuk diteliti. Desa Jurangjero terletak pada titik koordinat 7058Ao0Ay LS dan 110 36Ao0Ay BT. Desa Jurangjero terletak di bagian utara Kabupaten Gunungkidul berbatasan dengan Desa Tancep di sebelah utara. Desa Kampung dan Sambirejo di sebelah timur. Desa Kampung di sebelah selatan, dan Desa Gedangsari dan Nglipar di sebelah barat. Luas wilayah Desa Jurangjero adalah 234,51 hektar, desa yang memiliki ketinggian 200-300 meter di atas permukaan laut, adapun jarak desa ke kapanewon ialah 3,5 km dan jarak desa ke kabupaten kurang lebih 27 Penduduk Desa Jurangjero mayoritas memiliki profesi petani yang dimana memiliki hasil tani yang cukup besar diantaranya padi, ubi kayu, jagung dan kacang tanah. Hal ini dikarenakan desa ini memiliki lahan sawah dan ladang yang sangat luas. Selain itu. Desa Jurangjero memiliki topografi yang berbukit-bukit dengan kemiringan yang curam dan memiliki beberapa sungai kecil yang mengalir di wilayahnya. Berdasarkan data dari pemerintahan Desa, jumlah penduduk Desa Jurangjero mencapai 728 jiwa dengan 2. 352 laki-laki dan 2. 376 perempuan Desa ini merupakan wilayah yang luas namun memiliki jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak. Kelurahan ini terdiri dari 8 dusun 8 RW dan 40 RT. Dengan demikian. Desa Jurangjero dibagi 8 dusun diantaranya: Jambu. Purwareja. Nologaten. Kranggan. Jurangjero. Kaliwuluh. Wonosari dan Gambarsari. 21 Adapun sarana daAowah meliputi tempat ibadah dan lembaga pendidikan. Di Desa Jurangjero, meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam, desa ini memiliki tiga jenis tempat ibadah, terdiri atas 15 masjid, 6 musholla dan 4 gereja. 22 Berdasarkan hasil observasi lapangan yang peneliti peroleh, terdapat 15 masjid 6 musholla dengan penyebarannya. Kemudian terkait sarana daAowah lainnya, terdapat tempat pendidikan yang berperan penting dalam pembelajaran formal strata pendidikan kemasyarakatan. Dalam observasi peneliti, terdapat 7 PAUD/TK, 6 SD/MI, dan 3 SMP. Selain sekolah formal, berdasarkan data resmi dari Kementrian Agama Kapanewon Ngawen, terdapat sebanyak 5 TPQ di Desa Jurangjero yang telah terdaftar secara resmi, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut24: Aktivitas DaAowah di Desa Jurangjero Kegiatan daAowah di Desa Jurangjero dilaksanakan di setiap dusun, kegiatan daAowah di desa ini tidak dilaksanakan secara serentak dalam satu desa. Setiap dusun di desa ini memiliki kegiatan daAowah masing-masing, kegiatan daAowah yang paling banyak dan hampir di setiap dusun ada yaitu pengajian ibu-ibu yang biasanya kegiatannya bergilir dari rumah ke-rumah, masjid ke-masjid atau musholla ke-musholla. Kegiatan ini memiliki hari yang berbeda-beda di setiap dusunnya ada yang melaksanakan di hari Selasa. Kamis, dan lain-lain. Kegiatan pengajian ibu-ibu ini bermacam-macam jenisnya, dimulai dari Tahlilan, pembacaan surat Yasin, pembacaan Al-Barzanji, dan kajian Selain itu ada juga kegiatan yang serupa yaitu kegiatan yang disebut oleh warga sekitar dengan kata AuYasinanAy. Tradisi yang Masih Berjalan di Masyarakat. Tradisi yang masih berjalan di Masyarakat hingga saat ini sangatlah banyak, sehingga mengakibatkan banyaknya problematika untuk aktivitas daAowah yang terhalang disebabkan minimnya ilmu agama. Diantara tradisi yang masih berjalan hingga saat ini:25 18 Observasi lapangan yang penulis laksanakan pada bulan Mei 2025. 19 Data langsung didapat dari buku dokumen pihak Kelurahan Desa Jurangjero pada Selasa, 11 Maret 2025. 20 Ibid 21Ibid 22 Data diperoleh dari kantor kelurahan desa Jurangjero dan kantor urusan agama kapanewon Ngawen bulan Maret 2025 23 Observasi lapangan yang penulis laksanakan pada bulan Maret 2025 24 Data Diperoleh Dari Kantor Urusan Agama (Data MASMUS) Kapanewon Ngawen pada 13 Maret 2025. 25 Wawancara dengan Priyanto Zamroni Selaku Biro DaAowah Pedesaan Dan Khusus DaAowah Dewan DaAowah Islamiyah Indonesia PD Kabupaten Gunungkidul. Yogyakarta. Wawancara. Dusun Jambu, 21 Mei 2025 119 | Bina Ummat | Vol 8 | No. 2 | 2025 Rasulan atau Bersih Desa Rasulan, atau yang lebih dikenal dengan sebutan bersih dusun/desa, merupakan tradisi masyarakat agraris yang dilaksanakan setiap selesai musim panen sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bumi yang melimpah. Tradisi ini dilaksanakan setahun sekali dan menjadi salah satu wujud nyata kearifan lokal yang masih lestari hingga kini. Di Desa Jurangjero, kegiatan rasulan dilaksanakan di tingkat dusun, di mana setiap dusun memiliki cara dan bentuk kegiatan yang berbeda-beda sesuai dengan kebiasaan dan tradisi yang diwariskan secara turuntemurun. Rangkaian kegiatan rasulan umumnya terdiri dari malam tirakatan dan puncak acara berupa panggung hiburan rakyat. Namun, tidak semua dusun di Desa Jurangjero melaksanakan panggung hiburan. beberapa hanya mengadakan kegiatan tirakatan sebagai bentuk kesederhanaan dalam melestarikan tradisi. Sadranan Sadranan merupakan sebuah ritual tahunan yang dilakukan setiap tahun pasca panen padi. Tradisi sadranan ini berlangsung di Puncak Gunung Gambar. Biasanya kegiatan ini dilakukan bersama dengan pemerintah Desa Kampung, dikarenakan Gunung Gambar secara administrasi berada di wilayah Desa Kampung. Tradisi Sadranan di Desa Jurangjero selalu menjadi momen Kegiatan ini selain tradisi untuk mengucapkan rasa syukur juga untuk mengenang perjuangan para leluhur, khususnya Pangeran Samber Nyowo dalam melawan Penjajah Belanda. Pangeran Samber Nyowo adalah nama lain Raden Mas Said yang kemudian bergelar Mangkunegara Acara Sadranan ini dilaksanakan setiap tahun sekali, pada hari Senin Legi atau Kamis Legi, dan diisi kenduri dan napak tilas. Ruwahan Ruwahan diambil dari kata ruwah atau nama bulan dalam kalender Jawa, ruwahan ini adalah tradisi menjelang bulan Ramadhan, dengan tujuan untuk mengirimkan do'a kepada arwah leluhur, menunjukkan rasa syukur atas rezeki dan keselamatan yang telah diberikan. Tradisi ruwahan ini biasanya meliputi ziarah kubur, do'a bersama,dan kenduri . akan bersam. Ruwahan ini biasanya digelar pada pertengahan bulan Ruwah . atau SyaAoban, di dusun masing-masing. Suran Suran adalah kegiatan tradisi berbalut keislaman yang dilaksanakan setiap bulan Suro atau bulan Muharram. Kegiatan berupa kenduri dan doa bersama modin balai dusun. Tidak semua dusun di Desa Jurangjero melaksanakan kegiatan ini. Kegiatan Suran dilakukan pada pertengahan bulan Suro atau Muharam. Selamatan Tradisi selamatan di setiap padukuhan memiliki keunikan tersendiri, meskipun secara umum pelaksanaannya hampir serupa. Selamatan merupakan tradisi doAoa bersama yang biasanya dipimpin oleh seorang modin . ak modi. dan diaminkan oleh tamu undangan atau masyarakat. Tujuan utama dari tradisi ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas berbagai peristiwa penting, seperti kelahiran, pindah rumah, kelahiran hewan ternak, hingga panen yang melimpah. Acara ini biasanya dilaksanakan dengan menyajikan makanan khas berupa nasi ambeng, peyek, dan kerupuk. Tradisi ini masih dilestarikan oleh sebagian besar masyarakat. Prosesi doAoa dipimpin oleh Mbah Modin, dengan harapan sebagai bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan Tuhan, serta memohon keselamatan, kesehatan, dan panjang umur di masa mendatang. Setelah doa bersama selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama nasi ambeng. Selamatan Kematian PETA DAAoWAH KAWASAN PEDESAAN | 120 Tradisi selamatan kematian atau yang sering disebut peringatan kematian merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak dahulu. Selamatan ini biasanya dilakukan pada hari ke 3 . iga haria. , ke 7 . ujuh harina. , ke 40 . mpat puluh haria. , ke 100 . eratus hariny. , 1 tahun . endak pisa. , 2 tahun . endak pind. , dan hari ke 1. eribu harinya/nyew. Kegiatan yang biasa berlangsung adalah pembacaan surat Yasin, tahlil dan doAoa dilanjutkan makan bersama. Pelaksanaan secara berjamaah . amaAoah Yasi. dan ketika pulang jamaAoah mendapat bingkisan dari tuan rumah. Bentuk kegiatan yang juga terjadi dalam kematian adalah kegiatan doa bersama, berupa pembacaan Surat Yasin dan Tahlil selama 3 atau 7 hari dari mulai meninggal dunia. Kegiatan dilakukan secara berjamaah oleh jamaAoah/kelompok Yasin. Khataman Khataman adalah kegiatan yang dilakukan setelah seseorang atau kelompok menyelesaikan bacaan atau biasa dikenal tadarusan 30 juz. Kegiatan ini biasa dilakukan di bulan SyaAoban akhir menyambut Ramadhan dan di bulan Ramadhan. Kegiatan khataman sebelum Ramadhan, biasanya sebelumnya dilakukan membaca Kitab Al Quran bergantian sehari full sebanyak 30 Juz. Malam harinya dilakukan khataman berupa kenduri dan pembacaan doAoa. Bentuk penyimpangan yang terjadi adalah pengiriman doAoa ditujukan kepada arwah dengan tanpa memandang agama dari mayat yang dilakukan dalam doAoa. Bentuk sajian ada tumpeng ingkung dan dipimpin oleh seorang bapak modin yang menjadi pimpinan khataman. Khataman di bulan Ramadhan dilakukan setelah selesai tadarusan 30 juz selama Ramadhan. Kegiatan berupa pembacaan doAoa dan makan bersama. Sajian Ingkung dan tumpeng. Biasanya dilaksanakan di akhir Ramadhan. Analisis SWOT Analisis SWOT terhadap peta daAowah di Desa Jurangjero menunjukkan bahwa faktor eksternal masyarakat dapat menimbulkan peluang . maupun ancaman . bagi kegiatan daAowah. Di sisi lain, faktor-faktor eksternal tersebut juga turut mempengaruhi kondisi internal lembaga daAowah, sehingga menghasilkan kekuatan . maupun kelemahan . dalam pelaksanaan daAowah itu sendiri. Maka dari itu, peneliti akan memaparkan analisis SWOT berdasarkan klasifikasi peta daAowah sebagai berikut:26 Faktor Kekuatan (Strength. DaAowah Dapat Dilakukan Secara Terbuka dan Komprehensif Kekuatan penggerak dakwah di masyarakat Desa Jurangjero memiliki potensi yang sangat besar untuk dijalankan secara terbuka dan komprehensif. Hal ini terlihat dari besarnya peluang dan kesiapan masyarakat dalam menerima ajaran Islam serta semangat gotong royong yang masih kuat di tengah kehidupan sosial mereka. Potensi tersebut menjadi modal utama bagi lembaga atau organisasi yang bergerak di bidang dakwah, maupun bagi para daAoi, dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya untuk menumbuhkan kesadaran keagamaan di tengah masyarakat. Keberadaan kegiatan keagamaan seperti yasinan, tahlilan, hingga perayaan tradisi rasulan menunjukkan bahwa masyarakat memiliki landasan spiritual yang kuat dan terbuka terhadap berbagai bentuk dakwah yang membangun. Mengoptimalkan kekuatan dakwah ini merupakan langkah penting agar pesan-pesan Islam dapat tersampaikan dengan efektif dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa 27 Lembaga dan organisasi dakwah perlu berperan aktif sebagai penggerak utama dengan mengembangkan strategi yang sesuai dengan karakter masyarakat setempat. Pendekatan dakwah 26 Observasi lapangan yang penulis laksanakan pada bulan Mei 2025. 27 Samsuddin. Idharudin. , & Agusman. Dasar-dasar Pendidikan Islam Perspektif Hasan Langgulung dan Relevansinya di Era Disrupsi: The Fundamentals of Islamic Education from Hasan Langgulung's Perspective and Its Relevance in the Era of Disruption. Dirasah: Jurnal Kajian Islam, 2. , 202-223. 121 | Bina Ummat | Vol 8 | No. 2 | 2025 yang bersifat humanis, dialogis, dan partisipatif akan lebih mudah diterima karena sejalan dengan nilai-nilai sosial yang hidup di tengah masyarakat Desa Jurangjero. Selain itu, kolaborasi antara tokoh agama, tokoh masyarakat, serta generasi muda menjadi kunci penting dalam memperluas jangkauan dan dampak dakwah di era modern ini. Dengan demikian, dakwah di Desa Jurangjero tidak seharusnya dipahami hanya sebagai kegiatan ritual keagamaan semata, tetapi juga sebagai gerakan sosial yang mampu membawa perubahan positif secara menyeluruh. Dakwah yang efektif dapat memperkuat moralitas masyarakat, meningkatkan solidaritas sosial, dan melestarikan nilai-nilai budaya yang bernuansa Islami. Melalui pengelolaan yang baik dan strategi yang tepat, kegiatan dakwah di Desa Jurangjero berpotensi menjadi model pengembangan dakwah berbasis masyarakat yang harmonis antara nilainilai agama, budaya lokal, dan kebutuhan zaman. Selain itu, para daAoi sebagai pelaksana daAowah di lapangan memiliki peran strategis dalam menggerakkan kegiatan keagamaan dan kedekatan pada penciptanya. Melalui pendekatan yang santun, komunikatif, dan sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat Desa Jurangjero, para daAoi dapat membangun hubungan yang harmonis. Hal ini akan memperkuat posisi daAowah sebagai pembinaan umat yang berkelanjutan. Dengan memaksimalkan kekuatan daAowah secara terbuka dan komprehensif, diharapkan dapat tercipta suasana masyarakat yang lebih religius, toleran, dan bersatu dalam menjalankan nilainilai keagamaan. Pada akhirnya, daAowah yang berjalan efektif akan membawa perubahan positif tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Desa Jurangjero secara keseluruhan. Mayoritas Masyarakat Beragama Islam Mayoritas penduduk Desa Jurangjero memeluk agama Islam, yang merupakan pengembangan daAowah yang sangat penting. Dengan kondisi ini membuka peluang besar untuk melaksanakan daAowah secara lebih intensif dan komprehensif. Penyampaian ajaran Islam dengan metode yang bertahap dan strategi yang bagus maka, daAowah dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Desa Jurangjero. Hal ini dapat meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan umat secara keseluruhan. Masyarakat Bersifat Setara Masyarakat Desa Jurangjero memiliki sifat yang setara, sehingga penyebaran informasi daAowah dapat dilakukan secara terbuka dan tanpa adanya diskriminasi. Kesetaraan ini memudahkan lembaga daAowah maupun individu untuk menyampaikan pesan agama kepada semua kalangan tanpa hambatan sosial. Untuk itu, daAowah dapat berjalan secara lebih efektif dalam menjangkau seluruh masyarakat Desa Jurangjero. Sikap Terbuka Masyarakat Terhadap DaAowah Islam Sikap masyarakat Desa Jurangjero yang terbuka terhadap ajaran Islam merupakan faktor pendukung kuat dalam proses penyebaran daAowah. Masyarakat yang terbuka ini memudahkan para daAoi untuk menyampaikan pesan daAowah ke berbagai kelompok umur dan status sosial, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Pendekatan yang ramah dan komunikatif akan sangat efektif dalam menjaga keterbukaan ini agar terus berkembang. Maka dari itu sejatinya seorang daAoi mampu menjaga tata krama karena masyarakat tidak hanya melihat dari apa yang disampaikan akan tetapi masyarakat juga melihat keseharian para daAoi. Masjid dan Musholla sebagai Pusat DaAowah dan Peradaban Sosial Keberadaan 15 masjid dan 6 musholla di Desa Jurangjero yang tersebar di lokasi strategis membuka peluang besar untuk mengembangkan fungsi daAowah secara lebih efektif dan sistematis. Masjid dan musholla tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga dapat dijadikan pusat peradaban yang memfasilitasi kegiatan keagamaan, pendidikan, dan sosial masyarakat. Pengoptimalan peran ini dapat dilakukan dengan mengimplementasikan model daAowah sesuai dengan teladan Rasulullah Shallallahu AoAlaihi wa Sallam, sehingga masjid dan musholla mampu membentuk masyarakat yang religius, toleran, dan produktif. Sarana Pendidikan sebagai Media DaAowah di Desa Jurangjero PETA DAAoWAH KAWASAN PEDESAAN | 122 Desa Jurangjero memiliki 16 lembaga pendidikan formal dan 5 Taman Pendidikan AlQur'an (TPQ) yang berfungsi sebagai media penting dalam penyebaran nilai-nilai keagamaan dan pembentukan karakter masyarakat. Namun, mutu pendidikan yang berperan sebagai sarana daAowah ini masih dipengaruhi oleh kualitas pengajaran dan kurikulum yang belum sepenuhnya mengikuti perkembangan zaman. Selain itu, para guru dan pengajar TPQ juga belum mendapatkan pelatihan yang memadai, sehingga kemampuan mereka dalam menyampaikan materi daAowah masih terbatas. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kualitas pendidikan melalui revisi kurikulum yang lebih relevan serta pelatihan guru secara berkala. Dengan langkah ini, sarana pendidikan dapat dioptimalkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang tidak hanya fokus pada pengetahuan keagamaan . , tetapi juga pembentukan kepribadian yang baik . Sintesis Konseptual: Integrasi Kultural. Struktural, dan Edukatif Dari keseluruhan faktor kekuatan di atas, tampak bahwa dakwah di Desa Jurangjero memiliki karakter integratif, yaitu perpaduan antara nilai-nilai kultural, struktural, dan edukatif. Dakwah masa kini harus mampu memadukan pendekatan tradisional berbasis komunitas dengan strategi modern yang solutif. Dakwah di Desa Jurangjero tidak hanya berorientasi pada peningkatan religiusitas, tetapi juga membangun ketahanan sosial, memperkuat lembaga pendidikan, dan melestarikan budaya lokal yang bernuansa Islam. Dengan dukungan struktur sosial yang terbuka, lembaga keagamaan yang kuat, serta masyarakat yang egaliter. Desa Jurangjero memiliki potensi besar untuk menjadi model pengembangan peta dakwah pedesaan yang harmonis antara agama, budaya, dan kemajuan zaman. Faktor Kelemahan (Weaknesse. Kurangnya SDM atau Da'i sebagai Pendukung Da'wah Salah satu kelemahan yang dihadapi dalam pelaksanaan daAowah di Desa Jurangjero adalah kurangnya sumber daya manusia, terutama da'i yang dapat menjadi ujung tombak kegiatan daAowah di lapangan. Jumlah da'i yang tersedia di masyarakat sangat terbatas, sehingga pendampingan dalam proses belajar agama belum berjalan secara optimal. Kondisi ini dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pengetahuan agama di kalangan masyarakat, yang menyebabkan kurangnya minat untuk menjadi seorang da'i. Selain itu, masih sedikit kader da'i yang memiliki kemampuan dan kesiapan untuk terjun langsung dalam mendampingi masyarakat. oleh karena itu, lembaga atau organisasi daAowah perlu berkomitmen mencetak da'i yang tidak hanya memiliki integritas, tetapi juga memahami fiqih daAowah dan memahami kondisi masyarakat setempat dengan baik. Di samping itu, diperlukan program kaderisasi yang terstruktur dan berkelanjutan agar mampu melahirkan da'i yang benarbenar siap mendampingi masyarakat secara efektif dalam proses pembinaan keagamaan. Kurangnya Organisasi DaAowah yang Bergerak Langsung di Desa Jurangjero Selain kekurangan SDM, keberadaan organisasi daAowah yang aktif bergerak di Desa Jurangjero juga masih sangat minim. Desa Jurangjero belum memiliki lembaga atau organisasi Islam yang kuat dan konsisten menjalankan aktivitas daAowah secara berkelanjutan. Ketiadaan lembaga semacam ini menyebabkan daAowah di desa Jurangjero kurang terorganisir dan kurang mendapatkan perhatian yang cukup dari komunitas Islam itu sendiri. Oleh sebab itu, dibutuhkan pembentukan dan penguatan lembaga daAowah yang dapat bertanggung jawab secara terus-menerus dalam melahirkan para daAoi dan menjalankan program-program daAowah yang sesuai kebutuhan masyarakat desa untuk memajukan Desa Jurangjero. Kurangnya Kualitas DaAoi yang Benar-Benar Menguasai dan Memahami Ajaran Agama Secara Mendalam. 28 Madeni. STRATEGI DAAoWAH IKATAN DAAoI KABUPATEN LOMBOK UTARA IKAD KLU DALAM MENINGKATKAN NILAI-NILAI KEISLAMAN DI PEDALAMAN LOMBOK UTARA NTB. Jurnal Bina Ummat: Membina dan Membentengi Ummat, 3. , 54-65. 123 | Bina Ummat | Vol 8 | No. 2 | 2025 Selain jumlah, kualitas daAoi juga menjadi faktor kelemahan penting. DaAoi yang ada saat ini belum sepenuhnya menguasai ilmu agama secara mendalam bahkan masih sangat dasar, sehingga penyampaian ajaran Islam kurang maksimal. Yang dimana masyarakat Jawa sendiri dikenal memiliki karakteristik mudah menerima ajaran baru asalkan dianggap baik, sehingga sangat penting bagi para daAoi untuk menguasai ilmu-ilmu agama dan hukum Islam secara jelas dan tepat agar daAowah yang disampaikan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Untuk itu, para daAoi juga harus berkomitmen untuk terus belajar dan memperdalam ilmu agama mereka, mengingat ilmu agama adalah hal yang luas dan terus berkembang sehingga tidak akan pernah habis untuk dipelajari. Kurangnya Pemahaman DaAoi terhadap Problematika DaAowah yang Ada di Masyarakat. Salah satu kendala utama dalam keberhasilan daAowah adalah kurangnya pemahaman seorang daAoi terhadap problematika yang dihadapi masyarakat tempat ia berdakwah. Banyak daAoi yang meskipun memiliki niat baik, seringkali kesulitan dalam memberikan solusi yang relevan dan aplikatif karena tidak memahami secara mendalam kondisi sosial dan kultural masyarakat. Masyarakat, pada dasarnya, mampu menangkap nilai-nilai daAowah berupa perintah dan larangan Namun dalam praktiknya, mereka terkadang melakukan pelanggaran terhadap syariat Islam, terutama dalam situasi yang dianggap mendesak atau karena alasan tertentu yang dianggap baik menurut perspektif mereka sendiri. Kurangnya Pemaksimalan Peluang dan Kekuatan DaAowah di Masyarakat Kurang optimalnya pemanfaatan berbagai peluang dan sarana yang ada untuk kegiatan daAowah. Desa Jurangjero memiliki potensi berupa fasilitas umum seperti masjid, mushola, dan lainlain yang sebenarnya bisa dimaksimalkan sebagai media daAowah. Namun, keterbatasan jumlah daAoi dan lembaga daAowah membuat pemanfaatan sarana tersebut menjadi kurang optimal. Untuk mengatasi hal ini, perlu ada peningkatan jumlah daAoi yang bisa mendampingi dan menggerakkan masyarakat agar berbagai fasilitas tersebut benar-benar menjadi pusat aktivitas daAowah yang produktif dan berkelanjutan. Faktor Peluang (Opportunit. Masyarakat Membutuhkan Pendidikan Agama yang Gratis dan Mudah Diakses Masyarakat Desa Jurangjero menunjukkan kebutuhan yang cukup besar terhadap akses pendidikan agama yang bersifat gratis dan mudah dijangkau. Faktor utama yang menjadi kendala adalah keterbatasan biaya yang menyebabkan sebagian masyarakat kesulitan mengikuti pendidikan agama secara formal khususnya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk pendidikan agama yang lebih intensif sangat dibutuhkan karena Desa Jurangjero sangat minim untuk pemahaman tentang agama bahkan ada di beberapa dusun untuk kegiatan pendidikan agama belum Oleh karena itu, penyediaan layanan pendidikan agama gratis yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat menjadi solusi strategis yang dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman agama secara merata, tanpa memandang latar belakang ekonomi. Masyarakat yang Masih Sangat Mempercayai Ajaran Nenek Moyangnya. Masyarakat Desa Jurangjero masih memegang teguh ajaran dan nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang mereka. Kepercayaan ini memiliki pengaruh kuat dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat. Oleh karena itu, peluang besar untuk daAowah Islam disampaikan secara menyeluruh dan sesuai dengan prinsip AlQurAoan dan As-Sunnah, dengan memperhatikan sensitivitas budaya agar tidak menimbulkan Pendekatan yang bijaksana dan kontekstual sangat diperlukan untuk menjembatani antara tradisi lama dan ajaran Islam yang murni. Masyarakat yang Bersikap Terbuka Terhadap DaAowah Islam. Sikap masyarakat Desa Jurangjero mayoritas yang mudah terbuka terhadap ajaran Islam maka ini merupakan peluang besar dalam proses penyebaran daAowah. Masyarakat yang terbuka ini memudahkan para daAoi untuk menyampaikan pesan daAowah ke berbagai kelompok umur dan status sosial, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Pendekatan yang ramah dan komunikatif akan sangat efektif dalam menjaga keterbukaan ini agar terus berkembang. PETA DAAoWAH KAWASAN PEDESAAN | 124 . Masyarakat Sangat Antusiasme dalam Belajar Ajaran Islam Dukungan dan antusiasme masyarakat Desa Jurangjero terhadap pembelajaran agama Islam sangat tinggi. Hal ini merupakan peluang yang sangat berharga dalam pelaksanaan daAowah. Dengan adanya dukungan ini, aktivitas daAowah perlu dijalankan secara maksimal, konsisten, dan para daAoi harus mampu berperan sebagai pelindung, pembimbing, pendengar, dan motivator bagi masyarakat dalam menjalankan ajaran Islam secara benar dan konsisten. Faktor Ancaman (Threat. Sinkretisme agama dan budaya lokal (Kejawe. Salah satu tantangan utama dalam daAowah di Desa Jurangjero adalah adanya pengaruh sinkretisme antara agama Islam dengan budaya lokal Kejawen, yang merupakan perpaduan antara unsur animisme. Hindu, dan Islam. Pengaruh tradisi Kejawen sangat kuat dan telah membentuk praktik keagamaan lokal yang khas. Masyarakat cenderung mempertahankan warisan budaya dan nilai-nilai leluhur secara turun-temurun. Oleh karena itu, pendekatan daAowah harus dilakukan secara kultural dan kontekstual, misalnya dengan melibatkan tokoh adat dan sesepuh desa sebagai perantara, serta memanfaatkan budaya lokal sebagai sarana daAowah yang relevan dan diterima . Resistensi Budaya Lokal Terhadapan Ajaran Baru Masyarakat Desa Jurangjero menunjukkan resistensi terhadap ajaran baru atau metode daAowah modern yang dianggap kurang sesuai dengan nilai dan budaya lokal. Kurangnya adaptasi metode daAowah dengan perkembangan baru yang menimbulkan penolakan dan hambatan dalam penerimaan daAowah. Solusi efektif adalah menggunakan pendekatan daAowah kultural melalui budaya lokal, misalnya dengan memanfaatkan kesenian tradisional atau ritual budaya yang sudah dikenal . Masyarakat Desa Jurangjero masih sangat mempercayai ajaran nenek moyang Dalam peta daAowah di kawasan pedesaan seperti Desa Jurangjero, tantangan utama yang dihadapi adalah kentalnya pengaruh budaya dan ajaran nenek moyang yang sangat melekat di Hal ini menjadi salah satu kelemahan yang menghambat efektivitas daAowah karena masyarakat cenderung mempertahankan tradisi yang telah lama hidup. Oleh karena itu, para daAoi perlu mengembangkan strategi daAowah dengan menyesuaikan kondisi lingkungannya. Pendekatan daAowah berdasarkan situasi dengan budaya setempat menjadi kunci agar pesanpesan keagamaan tidak hanya diterima secara kognitif tapi juga menyentuh hati masyarakat. DaAowah harus mampu menghubungkan antara nilai-nilai agama dengan tradisi yang sudah mengakar, sehingga daAowah tidak dipersepsikan sebagai ancaman tetapi sebagai pelengkap dan penyempurna nilai-nilai lama. KESIMPULAN Berdasarkan hasil observasi, wawancara, serta dokumentasi lapangan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan daAowah di Desa Jurangjero memiliki karakteristik dan dinamika yang cukup kompleks. Kondisi ini menciptakan tantangan tersendiri bagi pelaksanaan daAowah karena masyarakat masih sangat melekat pada nilai-nilai budaya tersebut sehingga diperlukan pendekatan daAowah yang tidak hanya berlandaskan aspek keagamaan semata, melainkan juga mempertimbangkan konteks kultural dan sosial yang ada. Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa kekuatan internal belum mampu mengatasi kelemahan yang ada, dan peluang eksternal belum dimanfaatkan secara optimal untuk menghadapi ancaman yang muncul. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi daAowah yang kontekstual dan kultural, disampaikan dengan pendekatan yang santun dan bijaksana. Upaya pembinaan sumber daya manusia daAoi, peningkatan fasilitas daAowah, dan penguatan koordinasi kelembagaan menjadi langkah strategis yang perlu diambil untuk mewujudkan daAowah yang efektif, merata, dan berkelanjutan di kawasan pedesaan seperti Desa Jurangjero. 125 | Bina Ummat | Vol 8 | No. 2 | 2025 DAFTAR PUSTAKA