LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 2 (Juni, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. STUDI KOMPARATIF KONSEP SUNAT DALAM PERJANJIAN LAMA DAN PERJANJIAN BARU Wiranto Bongga Paillin Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Toraja windabonggapatandean@gmail. Abstrak Tulisan ini membahas tentang perbandingan antara konsep Sunat menurut teks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dalam hal ini, konsep sunat dalam kedua teks yang ada akan diperbandingkan, kemudian memberikan sebuah pemahaman mengenai implikasi sunat dalam kehidupan Kristen masa kini. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan deskriptif serta studi kepustakaan. Dengan metode tersebut, penulis menemukan bahwa sunat memiliki makna yang dalam bagi orang-orang Kristen. Dalam hal ini, sunat tidak hanya dipahami sebagai yang lahiriah saja, namun batiniah juga yang menolong setiap orang Kristen untuk menilik kehidupannya sebagai seorang yang percaya kepada Kristus. Terlebih lagi, sunat memberikan pemahaman dan pemaknaan yang mendalam mengenai setiap karya Allah bagi umat manusia. Semuanya memiliki keterkaitan dan hubungan yang erat tentang bagaimana Allah menyatakan kasih karunia-Nya bagi umat manusia. Hal inilah yang seharusnya masih dipertahankan dan diajarkan bagi setiap umat Kristen, mengenai sebuah topik dalam kekristenan yang dianggap kecil, atau bahkan tabuh untuk dibicarakan, namun memiliki pemahaman dan pemaknaan yang mendalam mengenai karya Allah bagi manusia, yakni sunat. Kata Kunci: sunat, perjanjian, lama, baru Abstract This paper compares the concept of Circumcision to the Old Testament and New Testament texts. In this case, the concept of circumcision in the two existing texts will be compared, and then an understanding of the implications of circumcision in contemporary Christian life will be provided. The author uses a qualitative research method and a descriptive approach as well as a literature study. With this method, the author found that circumcision has a deep meaning for Christians. In this case, circumcision is not only understood as the external, but also the internal which helps every Christian to look at his life as a believer in Christ. Moreover, circumcision provides a deep understanding and meaning of every work of God for mankind. Everything has a close relationship and connection to how God shows His grace for mankind. This is what should still be maintained and taught to every Christian, regarding a topic in Christianity that is considered small, or even taboo to talk about, but has a deep understanding and meaning of God's work for mankind, namely circumcision. Keywords: circumcision. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 2 (Juni, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. PENDAHULUAN Sunat atau khitan atau juga Sirkumsisi . adalah sebuah proses pembuangan kulit khitan pada alat kelamin atau kulup laki-laki. Secara medis, hal tersebut menjadikan sunat sangat dianjurkan bagi laki-laki dengan alasan kebersihan. Kerutan-kerutan pada kulup biasanya menjadi tempat berkumpulnya kotoran yang mengendap, sehingga apabila kotoran tidak dibersihkan akan menyebabkan bau yang tidak sedap bahkan infeksi1. Melalui hal tersebut, sunat menjadi suatu hal yang lazim bagi kaum laki-laki untuk dilakukan dengan alasan kesehatan. Selain itu, sunat juga menjadi sebuah keharusan atau kewajiban dalam beberapa kebudayaan atau agama Salah satunya dalam kekristenan, terdapat beberapa pemahaman teologis mengenai Dalam hal ini, pemahaman mengenai sunat terbagi atas dua konsep yang besar, yakni konsep sunat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kedua konsep tersebut memiliki pemahaman dan penafsiran yang berbeda, sehingga seringkali menimbulkan pertentangan dan perdebatan teologis mengenai konsep sunat dari kedua perspektif. Perdebatan itulah yang menimbulkan persoalan mengenai apakah sunat itu sebuah kewajiban atau ketidakwajiban? Sunat dalam konteks Perjanjian Lama merupakan sebuah bentuk perjanjian Allah kepada umat-Nya yang telah diselamatkan2. Dalam hal ini, apabila bangsa Israel tidak melakukan sunat, maka akan mendatangkan hukuman baginya (Kej. 17:14. Kel. 4:24, . Bahkan, bangsa Israel tidak diperkenankan oleh Allah untuk melakukan kawin campur dengan orang-orang yang tidak bersunat (Kej. 34:14. Hak. , dan tidak boleh bergaul dengan orang-orang yang tidak bersunat (Kis. 10:28. 11:3. Gal. Teks Kejadian 17 telah menjadi sebuah catatan sejarah bagi bangsa Israel mengenai praktik sunat di dalam tradisinya. Penulis dari kitab Kejadian menuliskan hal tersebut sebagai sebuah ikhtiar penyunatan wajib4, sehingga praktik sunat dilakukan secara turuntemurun di dalam budaya Yahudi (Kel. 4:24-26 dan Yos. 5:2-. Meskipun begitu, praktik sunat menjadi sebuah tanda yang utama bagi bangsa Israel setelah masa pembuangan ke Babel, dimana sunat dianggap sebagai syarat mutlak bagi kehidupan orang-orang Yahudi pada masa itu5. Para imam Israel, pada masa itu . esudah atau sebelum pembuanga. hendak mengesahkan praktik sunat sebagai perintah Allah yang telah diberikan kepada Abraham sebagai nenek moyang bangsa Israel. Bahkan, ketika perjanjian tersebut disampaikan untuk pertama kalinya. Abraham dan A Firmansyah et al. AuPendidikan Kesehatan Kepada Keluarga AoPerawatan Luka Pasca Khitan Metode Konvensional Yang OptimalAoAy. ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat 1, no. : 54. Jason Derouchie. AuCircumcision in the Hebrew Bible and Targums: Theology. Rhetoric, and the Handling of Metaphor,Ay Bulletin for Biblical Research 4, no. : 177. Suroso. Sunat Sebagai Tanda Perjanjian (Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2. , 01. Firman Panjaitan. AuMemaknai Penyelamatan Zipora Terhadap Rencana Pembunuhan Musa Oleh Tuhan,Ay BIAAo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual 2, no. : 265. Walter Lempp. Kitab Kejadian 12:4-25:18 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. , 05. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 2 (Juni, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. seluruh orang yang ada dirumahnya ikut disunat6. Melalui hal tersebut, sunat menjadi sebuah kewajiban dan keharusan bagi bangsa Israel untuk dilakukan. Hal demikian terus berlanjut dalam kehidupan bangsa Israel pada konteks Perjanjian Baru. Dalam teks Perjanjian Baru, sunat mengalami pergeseran makna dan fungsi. Dalam hal ini, sunat lebih dipahami tidak secara harafiah saja, dimana sunat terdapat dua pemahaman besar mengenai sunat dalam teks-teks PB, yakni sunat secara lahiriah dan batiniah. Hal tersebut dapat ditemukan melalui teks-teks dalam PB yang dituliskan oleh rasul Paulus. Paulus merupakan pelopor dari Ausunat hatiAy yang mengidentifikansikan sunat dalam konteks PB sebagai suatu bentuk penyucian hati, penanggalan akan tubuh . yang berdosa dan mau hidup dalam pertobatan, yakni meninggalkan tabiat lama . dan menuju penyunatan hati bagi Kristus7. Melalui uraian tersebut, terdapat perbedaan pemahaman yang nampak dari kedua teks Alkitab yang ada. Dalam hal ini, penulis bertujuan untuk membahas perbedaan perspektif mengenai konsep sunat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Meskipun sunat cukup hangat dibicarakan dalam kekristenan, namun sunat masih belum dipahami dalam kedua perspektif yang ada, yakni PL dan PB. Sunat sering dipahami secara salah dan terpisah, dimana konsep sunat dalam PL sering dianggap sebagai sebuah belenggu pada Perjanjian Baru. Sunat PL dianggap salah dan tidak sempurna, sedangkan sunat dalam PB adalah yang tepat dan benar. Pandangan tersebut telah berkembang dalam kehidupan orang-orang Kristen saat ini yang rentan akan penafsiran dan pemahaman yang salah. Selain itu, seiring berkembangnya sains dan teknologi, para teolog menjadikan sunat sebagai sebuah konsep kebenaran yang tak perlu Hal ini dikarenakan sunat dianggap sebagai sebuah ketetapan yang sudah usang dan hal tersebut hanya berlaku dalam konteks pemenuhan hukum Taurat saja. Sedangkan zaman telah mengalami perubahan dan Ausunat atau tidak sunatAy sama sekali tidak berpengaruh dalam iman Kristen8. Melalui hal tersebut, penulis akan membahas tentang konsep sunat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dalam hal ini, penulis akan berupaya menyajikan sebuah perbandingan antara konsep sunat dalam perspektif PL dan PB, serta memberikan implikasinya pada kehidupan orang-orang Kristen masa kini. Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang telah membahas tentang sunat dalam PL dan PB. Salah satunya tulisan dari Brian Marpay dan Simon Alexander Taringan yang berjudul AuStudi Alkitab Terhadap Sunat Dalam Roma 2:25-29. 3:1 Dan Implikasinya Bagi Kehidupan Kristen Masa KiniAy9. Tulisan tersebut membahas tentang konsep sunat yang ditinjau dalam teks kitab Roma 2:25-29, 3:1 dan implikasinya bagi kehidupan Kristen masa kini. Kemudian, tulisan dari Hendra Geptha dan Firman Panjaitan yang berjudul AuKonsep Serta Makna Sunat Menurut Bruce D. Friedman. AuNoah: A Story of Peacebuilding. Nonviolence. Reconciliation, and Healing,Ay Journal of Religion and Spirituality in Social Work 38, no. : 405. Brian Marpay and Simon Alexander Tarigan. AuStudi Alkitab Terhadap Sunat Dalam Roma 2:25-29. Dan Implikasinya Bagi Kehidupan Kristen Masa Kini,Ay Jurnal Jaffray 9, no. : 165. Ibid, 165. Ibid, 164-187. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 2 (Juni, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Perjanjian Lama dan Kaitannya dengan Kesehatan secara MedisAy10. Tulisan tersebut membahas tentang konsep sunat dalam konteks Perjanjian Lama dan kaitannya dengan kesehatan secara Begitu juga dengan tulisan dari Stevan Anugerah Jaya Ndruru dan Firman Panjaitan yang berjudul AuKorelasi Konsep Sunat dalam Perjanjian Lama dengan Budaya Sunat dalam Masyarakat NiasAy11. Tulisan tersebut juga membahas tentang konsep sunat dalam Perjanjian Lama, tetapi dikaitkan dengan konsep sunat dalam kebudayaan masyarakat Nias. Untuk itu, penulis juga akan mengkaji topik seputar konsep sunat dalam perspektif Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Namun, kajian ini akan berfokus pada studi komparatif atau perbandingan pemahaman antara konsep sunat dalam perspektif Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Dalam hal ini, penulis akan menyajikan uraian dan penjelasan mengenai konsep sunat dari kedua perspektif dan makna dari kedua konsep tersebut. Kemudian, penulis akan menyajikan implikasi dari konsep sunat dalam perspektif PL dan PB bagi kehidupan Kristen masa kini. Dengan demikian, tulisan ini diharapakan mampu memberikan sumbangsih pemikiran mengenai konsep sunat dalam perspektif PL dan PB. METODE PENELITIAN Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode penelitian kualitatif merupakan metode yang berusaha untuk memahami subjek penelitian dari setiap fenomena yang dialami pada suatu konteks tertentu secara holistik, dengan cara deskriptif dan memanfaatkan beragam metode alamiah. 12 Penulis menggunakan pendekatan deskriptif untuk menjelaskan secara detail mengenai konsep sunat dari kedua konteks yang ada. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kemudian, penulis juga menggunakan pendekatan studi kepustakaan untuk mencari sumber-sumber yang bekaitan dan mendukung tulisan ini berupa bukubuku, artikel-artikel, dan dokumen-dokumen lainnya. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis akan berupaya menyajikan tulisan ini dalam beberapa bagian. Pertama, penulis akan menguraikan penjelasan mengenai konsep sunat dalam perspektif Perjanjian Lama. Kedua, penulis juga akan menguraikan penjelasan mengenai konsep sunat dalam perspektif Perjanjian Baru. Ketiga, penulis akan menyajikan sebuah analisis mengenai implikasi dari kedua konsep sunat tersebut, bagi kehidupan Kristen masa kini. Hendra Gephta and Firman Panjaitan. AuKonsep Serta Makna Sunat Menurut Perjanjian Lama Dan Kaitannya Dengan Kesehatan Secara Medis,Ay Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 4, no. : 63Ae72. Steven Anugerah Jaya Ndruru and Firman Panjaitan. AuKorelasi Konsep Sunat Dalam Perjanjian Lama Dengan Budaya Sunat Di Masyarakat Nias,Ay Jurnal Misioner 1, no. : 140Ae160. Lexy J Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2. , 06. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 2 (Juni, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. HASIL DAN PEMBAHASAN Sunat Dalam Pesrspektif Perjanjian Lama Menurut konteks kehidupan Perjanjian Lama, mengungkapkan bahwa sunat telah dilakukan oleh bangsa kuno, termasuk bangsa Israel. Mulai dari bangsa Afrika. Australia. Amerika, dan Astronesia pun melakukan hal yang sama, terlebih bangsa-bangsa di Timur Tengah, kecuali bangsa Asyur. Filistin, dan Babel (Tes. 9:25-. Hak. 14:3. 15:18. 1 Sam. 14:6, 36, 2 Sam. 1:20, dl. Kemudian, menurut PL, sunat pertama-tama merupakan sebuah tanda rohani, kemudian memiliki makna kebangsaan yang mencirikan keanggotaan bangsa Israel. Sunat juga merupakan tanda perjanjian yang dibuat oleh Allah kepada Abraham (Kej. 17:10, 11, 13, . Sunat juga merupakan tanda kasih karunia Allah untuk umat manusia yang menandai penyerahan manusia kepada Allah. Perjanjian antara Allah dengan manusia bekerja atas dasar kesatuan rohani antaranggota rumah tangga dan kepalanya. Dalam hal ini, perjanjian itu diadakan Auantara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurunAy (Kej. Sunat merupakan salah satu bukti perjanjian Allah kepada Abraham. Kata AoperjanjianAo di dalam bahasa Ibrani di tulis sebagai berit. Kata ini dalam PL dituliskan sebanyak 400 kali15. Dalam bahasa Inggris, kata tersebut dapat dibedakan menjadi dua, yakni covenant dan testament16. Meskipun kedua istilah tersebut berbeda, tetapi memiliki banyak kesamaan, karena Auperjanjian anugerah itu acap kali dikemukakan dalam Alkitab dengan nama wasiat. Nama tersebut mengacu pada kematian Yesus Kristus, yang adalah pembuat wasiat, dan pada warisan kekal serta segala hal yang termasuk padanya, yang diwariskan di dalam wasiat ituAy17. Melalui hal tersebut, perbedaannya dapat dipahami bahwa covenant mengacu pada peletakan suatu fakta janji keselamatan, sedangkan AowasiatAo mengacu pada pemenuhan janji keselamatan tersebut. Istilah AuperjanjianAy juga memiliki arti ikatan antara dua pihak yang saling memberikan janji dan menuntut setia. Kitab Kejadian 17 mencatat bahwa perjanjian itu dilakukan antara Allah dan Hal ini memiliki kaitan yang erat dengan upacara penumpahan darah 18, dimana penumpahan darah dianggap sebagai tanda ikatan yang kuat dan tak terputus antara kedua belah pihak yang membuat perjanjian. Demikian juga dengan praktik sunat itu sendiri yang menjadi bentuk perjanjian keturunan Abraham kepada Allah. Untuk itu, setiap kali orang Yahudi melaksanakan praktik sunat, maka terdapat makna teologis yang terlihat mengenai janji Allah kepada keturunan Abraham, agar mereka dapat hidup selayaknya dengan perjanjian yang ditawarkan Allah. Melalui hal tersebut, maka muncullah sebuah konsep perjanjian yang baru. Wahono Wismoyoadi. Sunat Dalam Alkitab (Yogyakarta: Buletin LPK No 97 GKI dan GKJ Jawa Tengah, 1. , 03. Suroso. Sunat Sebagai Tanda Perjanjian, 04. Samuel Umbu Pingge. Baptisan Anak Orang Percaya Adalah Tanggung Jawab Yang Tidak Dapat Diabaikan (Jakarta: Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA), 2. , 10. Gary. Crampton. Verbum Dei (Alkitab: Firman Alla. (Surabaya: Momentum, 2. Van den End. Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Pingge. Baptisan Anak Orang Percaya Adalah Tanggung Jawab Yang Tidak Dapat Diabaikan. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 2 (Juni, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. yakni sunat kulup bagi orang Yahudi di dalam teks-teks PL. Sehingga, membuat sunat fisik . menjadi suatu tanda bagi keturunan Abraham sebagai umat pilihan yang telah dikhususkan bagi Allah. Teks Perjanjian Lama juga, seperti kitab Yeremia dan kitab Yehezkiel, menyatakan perihal sunat hati dan sunat telinga. Hal ini menjadi suatu pergumulan bagi kaum bangsa Israel pada akhir zaman pembuangan19. Sewaktu masa pemerintahan Manasye, menjadi suatu masa yang penuh dengan kemerosotan dan kehancuran moral bangsa Israel. Pemerintahan yang berjalan hampir setengah abad itu diwarnai dengan maraknya kembali praktik penyembahan dewa-dewa Kanaan dan Asyur, praktik kuasa gelap, peengorbanan manusia dan sistem peradilan yang bobrok20. Untuk itu, menjadi suatu alasan bagi Yeremia untuk menyinggung bangsa Israel dengan mengingatkan mengenai praktik sunat yang semestinya membuatnya tetap hidup selayaknya umat Allah (Yer. Melalui hal tersebut. Allah melalui nabi Yeremia mengingatkan kembali bangsa Israel perihal sunat yang semestinya membuatnya tetap hidup selayaknya umat Allah. Dalam Yeremia 4:4. Allah mengingatkan bangsa Israel agar melakukan Ausunat hatiAy, dimana hal tersebut merupakan sebuah panggilan untuk melepaskan diri dari segala pemberontakan, ketidaktaatan, dan sifat keras hati agar mereka dapat sepenuhnya taat dan setia kepada-Nya. Konsep ini menekankan tentang sunat sejati yang membawa pada perubahan batin, bukan sekedar tindakan lahiriah saja. Kemudian, perihal sunat telinga. Yeremia 6:10 menegaskan tentang Allah yang menegur bangsa Israel dengan mengatakan Autelinga yang tak bersunatAy. Hal tersebut menggambarkan hati dan telinga bangsa Israel yang tidak mau mendengar dan mentaati firman Tuhan. Dalam artian, sunat telinga menekankan tentang telinga yang peka dan siap mendengar, serta menanggapi firman Tuhan dengan ketaatan. Untuk itu, kedua konsep ini merupakan sebuah ajakan bagi umat Allah untuk kembali pada jalan yang dikehendaki-Nya. Sunat yang adalah bentuk perjanjian Allah dengan keturunan Abraham secara fisik membuktikan bahwa keturunan Abraham adalah orang-orang pilihan. Dalam hal ini, bangsa Israel harus hidup berbeda dengan bangsa-bangsa lain . ang tidak bersuna. Dalam perkembangannya, sunat dimaknai dalam bentuk rohani yang tegas ketika bangsa Israel mengalami masa pembuangan di Babel, pada abad ke 5 dan 621. Kondisi bangsa Israel pada masa itu yang melatarbelakangi munculnya teks Yeremia 4:4, dengan tujuan menyinggung bangsa Israel yang telah bersunat, namun hidup dengan keinginannya sendiri. Melalui hal tersebut, sunat dapat dipahami tidak hanya berupa praktik fisik, melainkan juga memiliki makna rohani. Harun Hadiwijono mengungkapkan bahwa sunat memiliki makna, keturunan Abraham dimasukkan ke dalam perjanjian Allah. Allah berkenan bukan hanya menjadi Allah Abraham melainkan juga menjadi Allah para keturunannya dengan cara yang tampak yaitu dalam bentuk Suroso. Sunat Sebagai Tanda Perjanjian, 03. Derek Kidner. Yeremia (The Massage of Jeremia. (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF. Suroso. Sunat Sebagai Tanda Perjanjian, 04. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 2 (Juni, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Suatu hal yang penting adalah terdapat sebuah perbedaan antara umat Allah dan bukan umat Allah, sebagaimana ditekankan dalam kejadian 17:14, bahwa barangsiapa dari keturunan Abraham tidak disunat orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya. Bagi Fox yang dalam tulisan Jason S. Derouchie menyatakan bahwa praktik sunat merupakan sebuah simbol yang mangandung makna rohani. Dalam hal ini, darah yang dikeluarkan saat bersunat menjadi sebuah analogi bagi darah domba paskah yang mengidentifikasi rumahrumah orang Israel saat berada di Mesir (Kel. Begitu juga dengan tongkat Harun yang mekar merupakan suatu tanda yang mengingatkan bahwa bangsa Israel adalah umat yang Allah Sementara, bagi Pingge berpandangan bahwa sunat melambangkan pembersihan dosa umat Israel yang dilakukan Allah sendiri. Apabila bangsa Israel pada masa itu memandang sunat sebagai pembersihan lahiriah, maka Allah berupaya menunjukkan sesuatu yang lebih bermakna. Dalam hal ini, bangsa di sekitar Abraham melakukan sunat pada usia remaja, maka Allah mengubah tanda itu dengan menyunatkan bayi yang berumur 8 hari. Hal tersebut mengartikan bahwasannya Allah bertujuan membersihkan bayi itu secara menyeluruh di dalam batin atau hatinya. Allah mengasingkan dan menguduskannya agar mampu menerima janji kebenaran Allah24. Melalui uraian tersebut, dapat dipahami bahwa sunat dalam konteks PL memiliki makna teologis. Makna tersebut adalah suatu perjanjian antara keturunan Abraham dan Allah yang membenarkan kehidupannya sebagai bangsa terpilih dan dikuduskan. Untuk itu, sunat tidak hanya menjadi bentuk perjanjian Allah secara fisik kepada umat-Nya bangsa Israel, tetapi juga mengandung makna batiniah. Berdasarkan hal tersebut, sunat merupakan tradisi Israel yang mewajibkannya untuk menaati hukum Allah dengan melakukan sunat sesuai dengan perintah Allah agar Abraham AuHidup di hadapan Allah dengan tidak bercelaAy (Kej. Hubungan antara sunat dan ketaatan ditekankan di sepanjang Alkitab (Yer. 4:4. Rm. 2:25-29. Sunat sendiri secara substansi tidak mengandung pengertian sebagai gagasa penyerahan diri pada Allah. Sunat menjelmakan, menerapkan janji, dan menghimbau orang untuk hidup dalam ketaatan sesuai dengan perjanjian. Darah yang tumpah dalam sunat tidak menyatakan batas penyerahan diri itu, tetapi pengungkapan tuntutan yang mahal yang dibuat Allah bagi umat-Nya yang dipanggil-Nya, yang dicirikan dengan tanda perjanjian25. Sunat Dalam Perspektif Perjanjian Baru Dalam teks-teks Perjanjian Baru, sunat dapat ditemui dalam beberapa kitab-kitab atau lebih tepatnya surat-surat yang dituliskan oleh rasul Paulus. Dalam hal ini, pandangan-pandangan Paulus memiliki kotribusi yang banyak dalam merumuskan masalah-masalah praktis, termasuk tentang Harun Hadiwijono. Iman Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 265. Derouchie. AuCircumcision in the Hebrew Bible and Targums: Theology. Rhetoric, and the Handling of Metaphor", 184. Pingge. Baptisan Anak Orang Percaya Adalah Tanggung Jawab Yang Tidak Dapat Diabaikan, 85. Suroso. Sunat Sebagai Tanda Perjanjian, 05. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 2 (Juni, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Dalam konteks PB sendiri, sunat menjadi sebuah masalah yang dipertentangkan dalam kepercayaan Yahudi. Beberapa jemaat dalam Perjanjian Baru, seperti Galatia. Efesus. Filipi, dan Kolose, menghadapi problem ini dimana mengalami kebingungan akan permasalahan yang terjadi. Kehadiran Paulus di tengah-tengah jemaat memberikan angin yang segar terhadap pemahaman iman kepada Kristus. Sesuai dengan penjelasan Yesus, bahwa AuJanganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinyaAy (Mat. Sunat dalam konteks PB masih dipahami sebagai sebuah tanda Perjanjian yang diteguhkan Allah kepada Abraham dan keturunannya (Kej. 17:9-. Hal itu merupakan sebuah ikatan yang dibuat Allah dengan Abraham dengan sifat turun-temurun, dimana sunat itu masih diwariskan kepada keturunan atau generasi selanjutnya. Melalui hal tersebut, sunat ditemukan dalam tradisi Yahudi yang sampai saat ini masih dijalankan sebagai sebuah aturan yang penting dalam kebudayaan Yahudi. Seorang anak laki-laki Yahudi perlu dikuduskan bagi Allah, tepat pada usia 8 hari, melalui sunat sesuai dengan hukum Taurat Musa27. Dalam PB sendiri, setiap orang dari kalangan non-Yahudi yang takut akan Allah (Kis. 10:2, 22, 13:16, . atau lebih dikenal dengan proselit ingin mengintegrasikan diri ke dalam kebudayaan dan agama Yahudi. Hal itulah yang menyebabkan orang-orang Yahudi menyunatkan dirinya untuk mengesahkan keyahudiannya28. Dalam hal ini, peraturan mengenai sunat sendiri dimulai dari penyunatan Ishak ketika berumur 8 hari. Dalam peristiwa sunat, apabila memperhatikan pada Kejadian 17, maka terdapat tanda . penting, yaitu bahwa seseorang secara rohani sebagai umat Allah, dan secara kebangsaan sebagai bagian orang Israel. Namun, dalam hal ini secara rohani bahwa Allah memperhitungkan iman Abraham sebagai kebenaran29. Dalam naskah-naskah rabbinik, sunat merupakan suatu keharusan bagi bangsa non-Yahudi yang ingin menjadi proselit Yahudi dan bergabung sebagai umat Allah. Seseorang yang ingin menjadi proselit Yahudi maka kepadanya akan diajukan beberapa pertanyaan. Pertama, mengenai alasa mengapa ingin menjadi proselit Yahudi, kemudian apakah mengetahui bahwa Israel adalah bangsa yang dianiaya, ditindas, dan dibenci. Calon proselit juga dilarang untuk makan daging binatang yang haram dan merayakan hari sabat. Apabila calon tersebut menerimanya, maka dirinya diterima dan disunat. Apabila sunat tersebut tidak lengkap, maka akan disunat untuk kedua kalinya segera setelah sunat yang pertama itu sembuh. Setelah itu, dirinya dibaptis30. Tindakan tersebut memperlihatkan dengan sangat jelas bahwa sunat merupakan lambang perjanjian yang perlahan-lahan berubah menjadi sebuah simbolis tanpa makna. Istilah Ausunat Marpay and Tarigan. AuStudi Alkitab Terhadap Sunat Dalam Roma 2:25-29. 3:1 Dan Implikasinya Bagi Kehidupan Kristen Masa Kini", 170. Ibid, 182. Ibid, 183. Van Den End. Tafsiran Akitab: Surat Roma (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 224. Samuel Benyamin Hakh. AuPersoalan Status Sebagai Anak-Anak Abraham Dalam Surat Galatia,Ay Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian 1, no. : 13. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 2 (Juni, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. lahiriahAy merupakan kalimat yang tepat dalam menggambarkan keadaan orang Yahudi yang memahami sunat hanya sebagai sebuah tradisi. Sunat lahiriah memberikan gambaran akan keadaan seorang yang hidup dalam dosa. Itulah sebabnya Yeremia berkata, bahwa AuTelinga mereka tidak bersunat dan tidak mendengarAy. Firman Tuhan menjadi cemooh bagi merekaAy (Yer. 4:4. Dalam hal ini, bangsa Israel lebih menyukai hidup dalam dosa, daripada mempraktekkan dan menghidupi Firman Tuhan itu sendiri31. Melihat kondisi dan situasi yang terjadi. Paulus dalam tulisannya mengatakan bahwa Ausunat memang ada gunanya, jika engkau menaati hukum Taurat, tetapi jika engkau melanggar hukum Taurat, maka sunatmu tidak ada lagi gunanyaAy (Roma 2:. Paulus berupaya membuktikan bahwa peraturan sunat yang merupakan materai itu tidak berguna apabila diikuti oleh kehendak pribadi. Dalam hal ini, sunat yang sejati adalah sunat yang di dalam hati. Sunat memiliki makna yang dalam, saat seorang mau taat pada hukum Taurat. Itulah sebabnya muncul istilah Ausunat hatiAy, dimana sebagian besar teologi Paulus menekankan tentang sunat hati, yakni mengerat kulit khatan hati32. Dalam pemberitaan Injil. Paulus membela dengan kuat berita Injil dan menentang pemberitaan tradisi sunat yang dilakukan oleh orang Yahudi, sampai ia dipenjara (Kis. 21:27-. Alkitab sendiri dengan jelas mengatakan bahwa keselamatan juga mengandung makna universal . mum, untuk semua oran. bukan hanya bersifat partikularistik. Dalam hal ini. Injil tidak mungkin menyebar ke lingkungan yang lebih luas daripada kekristenan Yahudi, yang membatasi keselamatan dalam Kristus hanya pada keyahudianya saja. Paulus dalam tulisannya digambarkan menghantam pembatas itu dengan serangannya terhadap praktik sunat yang diterapkan oleh orang Kristen Yahudi terhadap orang Kristen non-Yahudi33. Paulus menolak pandangan tersebut dengan mengatakan bahwa orang non-Yahudi yang hendak masuk Kristen tidak perlu disunat, karena sunat itu adalah suatu tindakan keagamaan yang bersifat lahiriah. Bahkan, menurut Paulus. PL mengatakan bahwa Abraham dibenarkan oleh imannya jauh sebelum hukum Musa diberikan. Oleh sebab itu, jemaat di Anthiokia menunjuk Paulus. Barnabas dan beberapa orang Kristen lainnya untuk pergi ke Yerusalem agar bertemu para rasul dalam rangka memecahkan masalah tersebut (Kis. Gal. 2:1-. Dalam siding itu. Petrus berdiri di pihak utusan dari jemaat Anthiokia dan mengingatkan bahwa ketika dirinya memberitakan Injil di rumah Kornelius, seorang perwira pasukan Romawi. Roh Kudus turun ke atas semua orang dalam rumah itu yang semuanya adalah orang bukan Yahudi. Lalu mereka dibaptis tanpa melakukan ritual penyunatan (Kis. 10:44-. Marpay and Tarigan. AuStudi Alkitab Terhadap Sunat Dalam Roma 2:25-29. 3:1 Dan Implikasinya Bagi Kehidupan Kristen Masa Kini", 183. Ibid, 183. Emmanuel Gerrit Singgih. Berteologi Dalam Konteks: Pemikiran-Pemikiran Mengenai Kontekstualisasi Teologi Di Indonesia (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 250. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 2 (Juni, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Yakobus saudara Yesus, juga memberikan pendapat bahwa nabi-nabi PL juga telah menubuatkan tentang orang-orang bukan Yahudi ini (Yes. 45:21. Yer. 12:15. Am. 9:11-. Sidang itu kemudian menyusun sebuah surat yang isinya mengakui bahwa orang Kristen non-Yahudi adalah AusaudaraAy dan menolak tutunan orang Kristen Yahudi di Yerusalem . Sidang itu menegaskan bahwa masuknya orang bukan Yahudi karena pekerjaan Roh Kudus, sehingga tidak perlu diletakan beban di atas Pundak mereka dengan melakukan ritual sunat. Akan tetapi, ada beberapa larangan yang harus mereka pauhi untuk memelihara hubungan yang harmonis antar kedua gereja. Larangan itu berkaitan dengan pratik kekafiran yang menjijinkan orang Yahudi. Larangan itu adalah orang Kristen non-Yahudi dilarang: Pertama, makan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala. Kedua, makan darah dan daging binatang, yang darahnya tidak dikeluarkan waktu disembelih. Ketiga, melakukan percabulan (Kis. Sidang itu sangatlah bijaksana dalam mengatasi persoalan yang sedang dihadapi oleh Kristen non-Yahudi35. Gunawan juga melihat masalah yang sama, sehingga dia melakukan penelitian tentang adanya pertentangan antara agama Yahudi dengan non-Yahudi khususnya di Galatia. mengatakan bahwa tuntunan sunat dlam jemaat di Galatia adalah isu yang nampak dari permukaan, namun sebenarnya ada permasalahan yang utama itu ketidakmauan kelompokdalam komunitas umat allah, karena untuk masuk dalam komunitas Allah, karena untuk masuk dalam komunitas umat Allah maka harus di sunat36. Dengan demikian, hubungan antara Yudaisme. Kristen Yahudi dan Kristen non-Yahudi, adalah hubungan tidak baik khususnya pada masa kekristenan awal. Yudaisme membenci orang Kristen Yahudi karena memiliki ajaran yang berbeda khususnya tentang Kristus. Sedangkan. Kristen Yahudi tidak bisa menerima Kristen non-Yahudi harus disunatkan terlebih dahulu untuk masuk dalam komunitas umat Allah. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa hanya orang Yahudi Kristen yang disebut sebagai umat Allah. Steven Christian berpendapat bahwa setiap orang beriman harus mengerat kulit khatan hatinya untuk menjalin intimasi dengan Allah yang kudus. Hati yang tidak bersunat dianggap sebagai kejahatan yang akan menyulut murka Allah. Dalam hal ini. Allah menolak orang-orang yang tidak memotong kulit khatan hatinya37. Berbeda dengan David Ibrahim, mengatakan bahwa sunat hati adalah penanggalan hidup yang lama serta menurit hukum-hukum Allah. Hal ini merupakan tugas dan tanggung jawab sebagai pelaku firman Allah, bukanlah hal-hal jasmani yang ditonjolkan, melainkan perkara-perkara rohani38. Robi Prianto. Kezia Lawira, and Novianto. AuMakna AoInjil Yang LainAo Dalam Galatia 1:6-7,Ay TE DEUM: Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan 10, no. : 212. Samuel Benyamin Hakh. Perjanjian Baru: Sejarah Pengantar Dan Pokok-Pokok Teologisnya (Bandung: Bina Media Informasi, 2. , 91. Chandra Gunawan. AuKetegangan Hubungan Yahudi Dan Bukan Yahudi Dalam Yudaisme Bait Allah Kedua Dan Dalam Surat Galatia,Ay Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2011, 84. Steven Christian. Kulit Khatan (Yogyakarta: Andi, 2. , 77. 38 David Ibrahim. Pelajaran Surat 1 Korintus (Jakarta: Mimery Press, 1. , 109. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 2 (Juni, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Perjanjian Baru dengan tegas menyatakan bahwa tanpa ketaatan, sunat adalah omong kosong (Rm. 2:25-. Tanda lahiriah dalam sunat akan pudar tanpa menaati perintah-perintah Tuhan . Kor. 7:18,. , beriman (Gal. dan ciptaan baru (Gal 6:. Meskipun begitu, orangorang Kristen tidak boleh memandang rendah tanda tersebut. Dalam hal ini, sunat mengungkapkan keselamatan karena perbuatan-perbuatan hukum, dan orang Kristen harus menghindarinya (Gal. Justru yang diperlukan adalah Ausunat hatiAy berupa penanggalan akan tubuh yang lama, suatu perbuatan rohani yang dilakukan untuk menerima perjanjian yang baru (Kol. 2:11, . Sehingga, orang-orang Kristen adalah orang yang telah bersunat. Melalui uraian tersebut, maka sunat dalam konteks PB dipahami dalam dua bentuk, yakni sunat lahiriah . dan sunat batiniah . ohani/hat. Dalam hal ini, sunat hati merupakan sebuah keadaan seseorang yang sebelumnya hidup dalam dosa, kemudian sadar dan menyambut Allah untuk masuk dalam kehidupannya, membersihkan hatinya dari semua tindakan-tindakan yang berdosa atau mengerat kulit khatan hatinya . enyunatkan hatiny. serta menanggalkan kehidupannya yang lama, sehingga dapat menjalin hubungan yang intim dengan Allah. Sesuai dengan yang ungkapan. AuKuduslah kamu, sebab Aku KudusAy . Ptr. , dimana hidup yang ditranformasi Allah adalah hidup yang ingin dibersihkan hatinya dari dosa atau disunat hatinya39. Implikasi Konsep Sunat Dalam Kehidupan Kristen Masa Kini Berdasarkan uraian di atas, maka penulis akan memaparkan implikasi konsep sunat bagi kehidupan Kristen masa sekarang ini dalam uraian berikut. Pertama, sunat memberikan pemahaman untuk menaati setiap perintah Allah. Hal ini merujuk pada konteks Perjanjian Lama, dimana sunat pada masa itu merupakan sebuah keharusan atau kewajiban bagi bangsa Israel. Keharusan atau kewajiban itu dibalut dalam sebuah perjanjian yang terjadi antara Allah dengan Abraham, nenek moyang bangsa Israel. Untuk itu, sunat merupakan sebuah perintah Allah bagi bangsa Israel pada konteks tersebut. Meskipun begitu, sunat dalam konteks sekarang bukanlah suatu hal yang harus dan diwajibkan bagi orang-orang Kristen sekarang ini. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa peristiwa sunat itu telah tergenapi dalam diri Yesus Kristus, yang menjadi tanda dan materai dalam diri setiap orang percaya. Yesus Kristus menjadi tanda dari pemenuhan janji Allah kepada Abraham . enek moyang bangsa Israe. dan keturunannya, dimana melalui keturunan bangsa Israel akan lahir seorang Hamba Tuhan yang akan menyelematkan dan menebus seluruh umat manusia dari kutuk dosa. Pengorbanan Yesus Kristus juga di kayu salib berkaitan dengan penumpahan darah yang terjadi dalam sunat, dimana darah itu yang mengukuhkan perjanjian dan hubungan antara Allah dengan umat-Nya. Kedua, sunat merupakan sebuah upaya membangun keintiman dengan Allah. Hal ini didasarkan pada konteks PL, dimana Allah memberikan perintah itu agar Abraham serta keturunannya menjadi sadar dan tahu bahwa mereka adalah bangsa pilihan Allah. Dalam masa Marpay and Tarigan. AuStudi Alkitab Terhadap Sunat Dalam Roma 2:25-29. 3:1 Dan Implikasinya Bagi Kehidupan Kristen Masa Kini", 184. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 2 (Juni, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. sekarang ini, upaya itu terlihat dalam karya Yesus Kristus yang telah datang ke dunia. Karya Yesus Kristus melalui pengorbanannya di kayu salib, telah menebus dosa manusia dan menyelamatkan manusia dari kutuk dosa. Selain itu, hubungan Allah dengan manusia kembali dipulihkan dalam Yesus Kristus, bahkan karya Roh Kudus semakin mengokohkan hubungan itu sehingga setiap orang mampu membangun relasi yang intim dengan Allah. Melalui hal itu, hubungan keintiman orang-orang percaya sekarang ini dengan Allah hanya terdapat dalam pribadi Yesus Kristus dengan penyertaan Roh Kudus. Ketiga, sunat mengindikasikan penanggalan kehidupan lama menuju kehidupan bersama Kristus. Hal ini berdasarkan pemahaman tentang Ausunat batiniahAy atau Ausunat hatiAy. Dalam hal ini, orang-orang yang percaya diwajibkan untuk menyunatkan hatinya, dalam artian meninggalkan kehidupan lama dengan segala perbuatan yang berdosa dan melanggar kehendak Allah, menuju kehidupan yang baru sesuai dengan kehendak-Nya. Sunat hati atau sunat batiniah menekankan tentang perubahan hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang selalu menyatakan kehendak Allah. Umat Kristen masa sekarang, harus kembali melihat dan merefleksikan kehidupannya dengan mempertanyakan apakah hidupnya telah sesuai dengan kehendak Allah. Kemudian, menguliti atau mengerat . elepaskan atau meninggalka. setiap hal dari hidupnya yang tidak berkenan kepada Allah, menuju pertobatan. Melalui pertobatan itu, kehidupan Kristiani yang diharapkan adalah sebuah kehidupan yang menyatakan sikap, perkataan, tindakan, dan hati yang sesuai dengan kehendak Allah. Keempat, sunat menjadi sebuah tanda akan pemenuhan janji Allah kepada umat-Nya. Hal ini merupakan tindakan Allah untuk memenuhi setiap janji-Nya kepada umat-Nya. Melalui hal tersebut, dapat dipahami bahwa Allah yang tidak ingkar janji dan selalu menggenapi setiap janjiNya. Apabila melihat dari awal konteks PL sampai konteks PB. Allah selalu memberikan janji bagi setiap umat-Nya dan pasti akan memenuhi atau menggenapi setiap janji-Nya itu. Bahkan, sebagai seorang Kristen yang hidup pada masa sekarang ini, tengah menanti pemenuhan janji Allah selanjutnya melalui kedatangan Kristus kembali. Penyaksian Allah dalam Alkitab mengenai pemenuhan janji-Nya, seharusnya menjadi sebuah pegangan yang teguh bagi iman dan pengharapan setiap umat Kristun dalam menanti penggenapan janji kedatangan-Nya kembali. Untuk itulah. Allah disebut sebagai Allah yang Mahaesa dan Mahakuasa, sebab apa yang mustahil bagi manusia, semuanya dapat dilakukan-Nya. Melalui uraian diatas, maka penulis menemukan bahwa sunat memiliki makna yang dalam bagi orang-orang Kristen. Dalam hal ini, sunat tidak hanya dipahami sebagai yang lahiriah saja, namun batiniah juga yang menolong setiap orang Kristen untuk menilik kehidupannya sebagai seorang yang percaya kepada Kristus. Terlebih lagi, sunat memberikan pemahaman dan pemaknaan yang mendalam mengenai setiap karya Allah bagi umat manusia. Semuanya memiliki keterkaitan dan hubungan yang erat tentang bagaimana Allah menyatakan kasih karunia-Nya bagi umat manusia. Hal inilah yang seharusnya masih dipertahankan dan diajarkan bagi setiap umat Kristen, mengenai sebuah topik dalam kekristenan yang dianggap kecil, atau bahkan tabuh untuk LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 2 (Juni, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. dibicarakan, namun memiliki pemahaman dan pemaknaan yang mendalam mengenai karya Allah bagi manusia, yakni sunat. KESIMPULAN Berdasarkan uraian di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa sunat bermakna 2 hal, yakni Ausunat lahiriahAy dan Ausunat batiniah". Dalam hal ini. Ausunat lahiriahAy adalah sunat yang menekankan tentang praktik sunat secara harafiah, dimana mengerat kulit khatan kaum laki-laki. Praktik ini menekankan tentang pengajaran mengenai ketaatan dan ketekunan umat akan setiap perintah Allah. Kemudian. Ausunat batiniahAy adalah sunat yang menekankan tentang Aumenyunatkan hatiAy, dimana mengerat kulit khatan hati. Dalam hal ini. Ausunat hatiAy bermakna menanggalkan kehidupan yang lama dengan perbuatan-perbuatan yang tidak menaati kehendak Allah, dan menuju kehidupan yang baru dengan perbuatan yang sesuai dengan kehendak Allah. Melalui hal tersebut, sunat memiliki makna yang sangat mendalam bagi kehidupan orang Kristen masa kini, agar dapat menilik kehidupannya menuju pertobatan yang sesungguhnya. Bahkan, sunat memiliki keterkaitan dan hubungan yang erat tentang bagaimana Allah menyatakan kasih karunia-Nya bagi umat manusia melaluii karya-Nya. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 2 (Juni, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. DAFTAR PUSTAKA