Jurnal Magistra Vol. 2 No. 1 Maret 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 79-86 DOI : https://doi. org/10. 62200/magistra. Kearifan Lokal Marsiadapari: Refleksi Ekologis Dalam Marhobas Pada Pesta Batak Trivena Br Nadeak Institut Agama Kristen Negeri Tarutung Email: tbrnadeak@gmail. Abstract. Mutual cooperation is also a local wisdom of the Toba Batak community, which is often referred to as Marsiadapari, a mutual cooperation activity carried out by the Toba Batak community in providing labor assistance without giving wages to the people who help them. Marsiadapari is carried out voluntarily to help each other in the community around their rice fields who need help. The aim of the research is to find out the local wisdom of Marsiadapari carried out in Marhobas at Batak Feasts and to find out the Modernization of Marsiadapari: Ecological Reflections in Marhobas at Batak Feasts. The method used in this research is a qualitative method based on case studies and literature studies and uses reliable and accurate sources such as journals, books and the Bible. Marsiadapari: ecological reflection in marhobas at Batak festivals is local wisdom that has long existed, but with the rapid modernization that is creating many changes. Toba Batak people need to be more critical in responding to current modernization, not to turn a blind eye to the modernization of local wisdom of the Batak community Toba, and can also maintain the ecology of Marhobas at the Toba Batak party. Keywords: Mutual Cooperation. Ecological Reflection. Marhobas at the Batak Festival Abstrak. Gotong royong juga menjadi kearifan lokal masyarakat batak toba yang sering disebut sebagai Marsiadapari merupakan kegiatan gotong royong yang dilakukan masyarakat batak toba dalam memberikan bantuan tenaga tanpa memberikan upah kepada orang yang membantunya. Marsiadapari dilakukan secara suka rela saling tolong menolong masyarakat di sekitar sawah mereka yang membutuhkan bantuan. Adapun tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Kearifan Lokal Marsiadapari Dilakukan Dalam Marhobas Pada Pesta Batak dan Untuk mengetahui Modernisasi Marsiadapari: Refleksi Ekologis Dalam Marhobas Pada Pesta Batak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif berdasarkan studi kasus dan studi literatur dan memakai sumber-sumber terpercaya dan akurat seperti jurnal, buku-buku, dan Alkitab. Marsiadapari: refleksi ekologis dalam marhobas pada pesta batak merupakan kearifan lokal yang telah lama ada, namun dengan pesatnya modernisasi yang menciptakan banyak perubahan, orang batak toba perlu untuk lebih kritis lagi dalam menanggapi modernisasi saat ini, untuk tidak menutup mata akan modernisasi kearifan lokal masyarakat batak toba, dan juga dapat menjaga ekologis dalam marhobas pada pesta batak toba. Kata Kunci: Marsiadapari. Refleksi Ekologis. Marhobas Pada Pesta Batak PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Keanekaragaman suku bangsa dengan budayanya di seluruh Indonesia merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang patut di syukuri dan perlu mendapat perhatian khusus. Kekayaan ini mencakup berbagai wujud kebudayaan yang didukung oleh masing-masing 1 Setiap suku bangsa memiliki nilai-nilai kebudayaan yang khas, yang tentu di ciptakan oleh masyarakat itu sendiri. Salah satu contohnya adalah masyarakat suku batak. Suku batak sendiri, terbagi menjadi beberapa bagian sub-kultur yang dapat dilihat dari perbedaan tutur bahasa, aksara, seni bangunan, pakaian, hingga ke sistem marga yang berlaku, yaitu batak toba, batak mandailing, batak karo, batak simalungun, batak angkola dan batak pakpak. Drs. Tito Adonis et al. Perkawinan Adat Batak Di Kota Besar (Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Received: Desember 26, 2023. Accepted: Januari 10, 2024. Published: Maret 31, 2024 * Trivena Br Nadeak tbrnadeak@gmail. Kearifan Lokal Marsiadapari: Refleksi Ekologis Dalam Marhobas Pada Pesta Batak Kebudayaan sangat berguna bagi kehidupan bermasyarakat suku batak bahkan di tiap kegiatan baik yang dilakukan secara masal atau individu, keluarga masyarakat suku batak selalu mengandalkan nilai atau tetuah dalam adat istiadat yang dimiliki dan dijunjung secara turun temurun sehingga terjalin ikatan keluarga yang erat, dipenuhi dengan rasa perduli antara warga masyarakat, seperti kegiatan gotong royong yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat batak, khususnya batak toba 2. Gotong royong yang dikenal oleh masyarakat Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu. pertama, kegiatan gotong royong tolong menolong secara sukarela yang biasa terjadi pada aktivitas pertanian, kegiatan sekitar rumah tangga, kegiatan pesta, kegiatan perayaan, dan pada peristiwa bencana atau kematian. Dan kedua, kegiatan gotong royong kerja bakti biasanya dilakukan untuk mengerjakan sesuatu hal yang sifatnya untuk kepentingan umum, yang dibedakan antara gotong royong atas inisiatif warga dengan gotong royong yang dipaksakan. Gotong royong juga menjadi kearifan lokal masyarakat batak toba yang sering disebut sebagai Marsiadapari merupakan kegiatan gotong royong yang dilakukan masyarakat batak toba dalam memberikan bantuan tenaga tanpa memberikan upah kepada orang yang Marsiadapari dilakukan secara suka rela saling tolong menolong/ membantu masyarakat di sekitar sawah mereka yang membutuhkan bantuan. Menurut penulis, marsiadapari bukan hanya dilakukan pada pekerjaan seperti: makkali aek . emperbaiki saluran ai. , mangarambas . , mangombak . , marsuan . enanam pad. , marbabo . , dan tahap gotilon . emanen pad. melainkan juga marsiadapari dilakukan dalam marhobas pada pesta batak. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, berdasarkan studi kasus dan studi literatur dan memakai sumber-sumber terpercaya dan akurat seperti jurnal, bukubuku, dan Alkitab mengenai Marsiadapari: Refleksi Ekologis Dalam Marhobas Pada Pesta Batak. Peneliti mengumpulkan dan menyusun data dari sumber-sumber tersebut, lalu menganalisis data dan menyimpulkan Marsiadapari: Refleksi Ekologis Dalam Marhobas Pada Pesta Batak. Adapun tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan peneliti adalah menemukan judul penelitian, menemukan yang menjadi latar belakang, rumusan masalah dan tujuan penelitian, menemukan metode penelitian, menulis penelitian dengan kaidah yang ditetapkan, dan menuliskan kesimpulan dan saran serta daftar pustaka. Miranti. Campursari Penguat Budaya (Jawa Barat: Penerbit Langit Arbitter, 2. Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. (Jakarta: Rineka Cipta, 1. MAGISTRA Ae VOL. 2 NO. 1 MARET 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 79-86 HASIL DAN PEMBAHASAN Kearifan Lokal Marsiadapari Dilakukan Dalam Marhobas Pada Pesta Batak Berbicara Kearifan lokal biasanya dicipta dan dipraktekkan suatu masyarakat yang menggunakannya. Kearifan lokal juga tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan juga biasanya mencakup. sistem religi, bahasa, ekonomi, teknologi, ekologis, pendidikan, sosial dan lain sebagainya. Konsep marsiadapari juga adalah salah satu kearifan . ocal wisdo. masyarakat batak toba yang diturunkan sejak dahulu dari generasi ke generasi dan bahkan sudah dijalankan sejak dahulu kala yang diturunkan dari nenek moyang, bahkan sudah menjadi bagian dari kehidupan yang tidak terpisahkan dari masyarakat Batak Toba. Marsiadapari berarti kegiatan masyarakat batak yang dilakukan secara bergotong-royong, salah satunya yaitu secara bergantian bekerja di sawah kawan, dimana sekelompok masyarakat bersepakat untuk bekerja sama dengan bergantian di sawah masing-masing. Lahirnya konsep marsiadapari bersamaan dengan lahirnya masyarakat Batak Toba dan itu berarti sudah berlangsung dalam jangka waktu yang begitu lama. Dengan kata lain, adalah tepat bila dikatakan bahwa konsep marsiadapari sudah mendarah daging bahkan sudah menjati jati diri bagi masyarakat Batak Toba. 6 Kearifan Lokal marsiadapari telah diberlakukan sejak dahulu dalam berbagai aspek, seperti: mangula . , pajojong jabu . endirikan ruma. , ulaon dok ni roha . , ulaon adat . esta ada. , dan sebagainya. Marhobas pada pesta batak toba sebenarnya ketika diperhatikan secara jelas merupakan termasuk kedalam marsiadapari, yang dengan tidak sengaja masyarakat batak toba ternyata sudah melakukan nilai kemanusiaan yaitu gotong royong dalam pesta adat batak yang sejak lama sehingga menimbulkan keyakinan yang baik jika melakukan marsiadapari maka masyarakat batak toba pada hakikatnya sudah memiliki spritualitas. Kegiatan marsiadapari ini memiliki keunikan, terlihat ketika masyarakat batak melakukan kegiatan gotong royong ini dengan penuh tanggungjawab dan merasa bahwa pekerjaan itu dianggap sebagai miliknya, seperti ketika ada satu keluarga yang melakukan pesta batak lalu berbondong-bondong masyarakat datang untuk bergotong royong membantu pesta tersebut, dan mereka yang membantu merasa bahwa itu pesta mereka juga sehingga dilakukan dengan baik dan dengan sukarela berjuang sehingga hasilnya akan lebih baik. Keunikan ini Kausar Faisal Azmi. Eri Sayamar. AuAnalisis Kearifan Lokal Tanaman Karet Di Kecamatan Gunung Toar Kabupaten Kuantan Singingi. ,Ay Jurnal Online Mahasiswa 2 . Sophar Simanjuntak Ompu Manuturi. Folklor Batak Toba, 1st ed. (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Bungaran Antonius Simanjuntak. TRADISI. AGAMA. DAN AKSEPTASI MODERNISASI PADA MASYARAKAT PEDESAAN JAWA (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2. Kearifan Lokal Marsiadapari: Refleksi Ekologis Dalam Marhobas Pada Pesta Batak menjadikan kegiatan marsiadapari menjadi catatan penting untuk diwariskan bagi kaum muda saat ini. Orang batak yang rajin marhobas akan dibalas oleh orang lain ketika orang tersebut mengadakan pesta adat, akan tetapi orang batak yang malas marhobas walaupun orangnya berpangkat tinggi dan hartanya banyak, pestanya akan sepi karna tidak ada parhobas yang datang, kalau dalam bahasa batak dikatakan marsoring-soring do di parngoluan artinya tarik ulur kehidupan, dimana hukum tabur tuai juga terjadi. Lain halnya kalau ada kemalangan misalnya rumah terbakar, anak meninggal, pada saat seperti ini orang lain akan berusaha untuk Menjadi suatu kebanggan bagi orang batak toba ketika orang yang menghadiri pestanya ramai. Marhobas adalah saling tolong menolong yang dikerjakan secara bersama-sama dalam aspek paradaton pada suku Batak Toba. Pada acara pesta adat Batak, maka tentunya pelaksanaan tradisi ini juga berkaitan serta diatur oleh falsafah adat budaya dalihan na tolu. Didalam nilai adat budaya dalihan na tolu terdapat tiga unsur hubungan kekerabatan. Setiap kerabat itu mempunyai peranan dan kegiatan sendiri-sendiri dalam suatu pesta. Kehadiran hula-hula, boru, maupun dongan tubu dalam acara adat tersebut untuk melaksanakan segala kewajiban dan menerima segala hak yang telah ditentukan oleh adat. Oleh karena itu dalihan na tolu dapat didefinisikan sebagai struktur kemasyarakatan atas dasar hubungan kekerabatan, juga dapat diartikan bahwa salah satu pernyataan dari prinsip daihan na tolu adalah gotongroyong. Berlandaskan pada nilai budaya yang terkandung dalam dalihan na tolu, maka idealnya yang berperan dan berkewajiban melaksanakan tugas dalam kegiatan marhobas adalah pihak yang berkedudukan sebagai boru serta dongan sahuta dalam sebuah pesta adat. Setiap orang yang hadir dalam upacara adat harus menjalankan perannya sesuai statusnya. Pada sebuah acara pesta, boru/gelleng beserta dongan sahuta/saulaon bekerja untuk melayani atau membantu dalam berbagai hal untuk keberlangsungan pesta, seperti mengupas bawang, cabe, menumbuk andaliman, lengkuas, daun sereh, jahe, menggongseng kelapa lalu ditumbuk, lalu dimasak, begitu juga untuk sayur yang akan dihidangkan. Setelah itu marhobas juga dapat dilakukan oleh laki-laki, seperti memotong-motong daging, mengangkat piring, cangkir, nasi, air minum, lauk, lalu perempuan bertugas membagi makanan, minuman, mencuci piring, bersih-bersih maupun menyiapkan berbagai kebutuhan supaya pesta dapat bejalan lancar. Umumnya Marhobas ini dilakukan secara gratis atau tanpa adanya bayaran apapun itulah yang disebut kebersamaan, kebersatuan antar hubungan sanak saudara dan tetangga inilah yang Adonis et al. Perkawinan Adat Batak Di Kota Besar. MAGISTRA Ae VOL. 2 NO. 1 MARET 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 79-86 menjadi titik balik dari marsiadapari telah mempertemukan dan mempersatukan masyarakat batak yang terlibat di dalamnya, dan menghendaki partisipasi dari setiap orang tanpa mempersoalkan latar belakangnya baik kaya atau miskin, kuat atau lemah, dan seterusnya, serta telah merobohkan sistem kelas-kelas ekonomi yang ada. Modernisasi Marsiadapari: Refleksi Ekologis Dalam Marhobas Pada Pesta Batak Modernisasi telah ikut mentranformasi secara total dan merombak cara-cara kehidupan lama menuju bentuk atau model cara-cara kehidupan yang baru dan mempengaruhi kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Batak Toba. Nilai-nilai budaya modern yang bersifat universal dan tanpa batas itu telah mempengaruhi pelaksanaan pesta adat Batak terkait dengan fungsi atau peranan boru dalam kegiatan pesta. Maksud penulis dalam konsep ini adalah bahwa ketika masyarakat Batak menyelenggarakan pesta adat, orang batak tetap menganut dan melaksanakan pesta sesuai dengan esensi adat Batak yang berlaku seturut dengan adat dalihan na tolu. Akan tetapi pengaruh modernisasi itu telah mengaburkan batasan-batasan yang mengatur posisi dan peranan serta dongan sahuta dalam acara pesta adat Batak Toba. Seharusnya menurut esensi nilai budaya dalihan na tolu, boru dan dongan sahuta yang berperan sebagai parhobas atau yang bertanggung jawab sepenuhnya dalam hal persiapan maupun pelayanan dalam pesta adat. Tetapi karena modernisasi telah mempengaruhi struktur dalihan natolu maka struktur itu tidak lagi harus sepenuhnya dijalankan. Meski demikian dalam acara pesta adat atau dalam acara adat lainnya hula-hula, boru dan dongan sabutuha tetap menduduki posisi sesuai jabatan masing-masing. Jadi dengan adanya modernisasi yang mempengaruhi budaya lokal orang Batak Toba, maka fungsi boru yang seharusnya berperan dalam kegitan marhobas tugasnya tergeserkan oleh adanya jasa katering atau di perkotaan posisi ini disebut dengan istilah EO . vent organize. Dari kondisi ini dapat dilihat bahwa hal yang modern tersebut telah mengaburkan batas-batas yang diatur dalam hal yang lokal yaitu dalihan natolu. Sehingga modernisasi dan budaya lokal akan saling mempengaruhi di dalam acara pesta adat Batak. Keadaan ini tentu saja akan menimbulkan terjadinya perubahan dalam budaya lokal orang Batak pada konteks pesta adat. Pesta batak toba dulu h-beberapa hari dengan antusias sudah berbondong-bondong datang ke rumah orang yang mengadakan pesta untuk marhobas. Membagikan tugas masingmasing apa yang bisa dikerjakan dengan sesuai dan adil. Tetapi zaman sekarang, pesta batak toba sudah sepi orang yang membantu marhobas, banyak orang batak yang lebih memilih bersantai dan cenderung mau di layani bukan melayani. Vergouwen. Masyarakat Dan Hukum Adat Batak Toba. LKiS. (Yogyakarta, 2. Kearifan Lokal Marsiadapari: Refleksi Ekologis Dalam Marhobas Pada Pesta Batak Modernisme mengakibatkan banyak orang batak yang kerja dikantor, di perantauan yang jauh sehingga itu mempengaruhi banyak orang batak tidak dapat marhobas. Orang batak yang sibuk bekerja di kantor mengakibatkan orang batak tidak dapat mengahadiri pesta orang batak untuk marhobas. Orang batak yang dengan kesibukannya tidak dapat marhobas biasanya menggantikan tenaganya dengan tuppaknya dibanyakin. Tidak jarang ditemukan orang batak tidak mau capek marhobas Modernisasi juga mengakibatkan orang batak tidak ekologis lagi. Ini dilihat dari wadah makanan orang yang pesta. Pesta batak toba dulu alas makannya menggunakan daun pisang, atau dedaunan sebagai alas yang setelah pakai, di buang, di biarkan lama akan membusuk dan tidak mencemarkan lingkungan, pesta orang batak saat ini menggunakan daun, sekarang menggunakan piring, memang penggunaan piring ini tidak sekali pakai, tapi apabila semakin bertambah orang pesta menggunakan piring tentu akan banyak menghasilkan piringpiring plastik lagi. Pada zaman modern sekarang pesta batak juga ada yang menggunakan kotak nasi dan yang lebih bahaya untuk ekologis adalah menggunakan styrofoam. Apabila pesta batak itu memesan 1000 porsi nasi, maka akan ada 1000 sampah Styrofoam, dan itu untuk satu pasangan, apabila dalam satu bulan ada 10 pasangan yang akan menikah dan pesta, bayangkan dalam satu tahun, bahkan setiap tahun, tentu jumlah sampah Styrofoam dari pesta batak perlu menjadi perhatian khusus dalam perspektif ekologis. Dan perlu di ingat itu hanya wadah makan, bagaimana dengan wadah minum? Wadah minum pada pesta batak sekarang yaitu Aqua gelas, dimana kita mengetahui bahwa aqua gelas tersebut berasal dari cup gelas yang terbuat dari bahan plastic. Bahan plastik merupakan bahan yang sulit untuk di daur memerlukan banyak waktu untuk mendaur ulang plastik. Jika kalau untuk satu pasangan menggunakan 1000 cup gelas maka bisa kita banyangkan jika dalam satu tahun banyak pasangan menikah maka itu akan dapat merusak ekologi kita. Bukan hanya itu saja zaman sekarang dan dari dulu orang batak saat marhobas menggunakan kayu yang terkadang orang batak menebang pohon dan juga bambu. Jika kita bayangkan untuk satu pasangan menggunakan beberapa kayu maka bisa kita pastikan jika tiap tahunnya banyak terjadi pesta batak maka akan banyak pohon yang akan ditebang dan bukan itu saja kegiatan pesta batak juga menyumbang sampah plastik yang mereka gunakan dengan sembarang dan hal itu dapat merusak ekologi. Modernisasi marhobas juga di lihat pada pesta batak zaman ini menggunakan terpal plastik yang dulunya menggunakan bambu atau daun pisang sebagai penutup tenda. Selain itu orang batak zaman dulu mencincang daging pakai daun salam juga dan tidak sembarang membuang sampah dan langsung dibakar. MAGISTRA Ae VOL. 2 NO. 1 MARET 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 79-86 Melihat dan mengetahui telah terjadinya modernisasi pada marsiadapari dalam marhobas konsep atau tradisi marsiadapari harus dihidupkan kembali pada masa ini, sebab tradisi marsiadapari merupakan konsep gotong-royong yang mengedepankan kerja sama untuk meringankan beban pekerjaan. Hal ini tercermin pada peribahasa Batak Toba AuDokdok rap manuhuk, neang rap manea . erat sama dipikul, ringan sama dijinjin. , begitulah prinsip KESIMPULAN Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan marsiadapari yang dianggap merupakan warisan nenek moyang leluhur. Tradisi marsiadapari dalam marhobas pada pesta batak masih dilakukan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, walaupun dalam proses dan cara kerja marsiadapari dalam marhobas pada pesta batak di zaman sekarang tidak sepenuhnya tradisional lagi karna sudah ada jenis pekerjaan yang dibantu dengan teknologi di bidang pertanian dan sudah dipadukan dengan sistem upah. Marhobas pada pesta batak toba merupakan termasuk kedalam marsiadapari, masyarakat batak toba ternyata sudah melakukan nilai kemanusiaan yaitu gotong royong dalam pesta batak sejak lama sehingga menimbulkan keyakinan yang baik bagi masyarakat batak toba sehingga menumbuhkan spritualitas masyarakat batak toba. Marsiadapari: refleksi ekologis dalam marhobas pada pesta batak merupakan kearifan lokal yang telah lama ada, namun dengan pesatnya modernisasi yang menciptakan banyak perubahan dari cara yang lama ke cara yang baru, yang cenderung melupakan ekologis, sehingga orang batak perlu untuk lebih kritis lagi dalam menanggapi modernisasi saat ini, untuk tidak menutup mata akan kearifan lokal masyarakat batak, dan juga dapat menjaga ekologis dalam marhobas pada pesta batak. DAFTAR PUSTAKA