Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 8. Nomor 2. Desember 2023 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 Kajian Visual Lambang Keraton Yogyakarta Dwi Haryanto Program Studi Desain Komunikasi Visual. Jurusan Desain. ASRD MSD Yogyakarta Jalan Tamansiswa No. Yogyakarta mr_d210@yahoo. Abstrak Lambang Keraton Yogyakarta dalam ranah ilmu desain komunikasi visual merupakan bentuk karya identitas visual logo untuk merepresentasikan hal ideal dari entitas institusi yang mencerminkan citra budaya, cara pandang, dan tujuan tertentu, di dalamnya sarat dengan muatan tanda dan serangkaian makna. Tujuan penelitian adalah untuk menggali makna dan pola visual yang terdapat pada lambang keraton Yogyakarta dalam penelitian ini menggunakan pendekatan ikonografi dan ikonologi yang menitikberatkan pada telaah makna dalam elemen visual dari objek visual lambang keraton Yogyakarta, diuraikan dengan metode kualitatif Hasil kajian menemukan konsep budaya Jawa yang khas pada aspek makna Konsep Manunggaling Kawula Gusti dimaknai sebagai kesatuan, semangat kebangsaan, yaitu Loro-loroning Atunggal yang kemudian diwujudkan dalam dua perlambang, yaitu Praja Cihna Cihnaning Nagari dan Praja Cihna Cihnaning Salira Pribadi. Elemen visual di dalamnya memperlihatkan pengaruh budaya Jawa klasik . asa Hindhu dan Budh. , konsep estetika Eropa era kolonial yang diselaraskan dengan nilai-nilai Islam, dimana dalam upaya menunjukkan jati dirinya yang khas, telah mengalami perubahan ke dalam unsur ikonografi khas Jawa, menggambarkan konsep nasionalisme, selain sebagai bentuk aktualisasi pribadi, tetapi lebih jauh untuk menjunjukkan jati diri sebagai bangsa. Kata kunciAi Lambang. Identitas Visual. Kebudayaan Jawa. Keraton Yogyakarta Abstract The emblem of the Yogyakarta Palace in the field of visual communication design is a form of visual identity logo that represents the ideal of an institutional entity that reflects the cultural image, perspective, and specific goals, which is rich in sign and meaning. The purpose of the research is to explore the meaning and visual patterns contained in the emblem of the Yogyakarta Palace in this study using an iconography and iconology approach that emphasizes the study of meaning in the visual elements of the visual object of the emblem of the Yogyakarta Palace, described by descriptive qualitative methods. The results of the study found the concept of Javanese culture that is typical in the aspect of its visual meaning. The concept of Manunggaling Kawula Gusti is interpreted as unity, national spirit, namely Loro-loroning Atunggal which is then realized in two symbols, namely Praja Cihna Cihnaning Nagari and Praja Cihna Cihnaning Salira Pribadi. The visual elements in it show the influence of classical Javanese culture (Hindu and Buddhist er. , and European aesthetic concepts of the colonial era that are aligned with Islamic values, where to show their distinctive identity, they have changed into the elements of Javanese iconography, describing the concept of nationalism, besides as a form of personal actualization, but further to show their identity as a nation. KeywordsAi Emblem. Visual Identity. Javanese Culture. Yogyakarta Palace Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 8. Nomor 2. Desember 2023 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 PENDAHULUAN Lambang merupakan bagian identitas yang merepresentasikan sifat, ciri, ataupun visi dan misi dari seseorang atau entitas kelompok atau organisasi tertentu. Dengan perwujudan lambang, maka masyarakat lebih percaya pada keagungan atau karakter kuat yang diwujudkan pada bentuk rupa suatu lambang, di dalamnya memuat beberapa simbol yang ditampilkan melalui beragam jenis gambar tertentu yang memiliki makna bahkan falsafah tersendiri. Lambang dalam pengertian umum merupakan bentuk tertentu yang menyatakan sesuatu dan mengandung maksud yang mewakili pengertiannya. Lambang berfungsi sebagai tanda pengenal yang tetap atau menyatakan sesuatu hal keadaan, misalnya singa dilambangkan sebagai keberanian, bulan sabit dan bintang sebagai lambang umat Islam. Manusia dengan kemampuannya dalam menciptakan simbol, secara sadar atau tidak telah mengubah objek atau bentuk menjadi simbol dan mengekspresikan diri mereka dalam dua hal, yakni dalam segi keagamaan maupun dalam karya visual. Topik penelitian tentang lambang keraton Yogyakarta ini berangkat dari adanya pemberitaan di media online twitter yang sempat menyita perhatian publik tentang persoalan pengunaan lambang keraton oleh masyarakat ternyata menuai kritik dari pemangku keraton Yogyakarta dan juga masyarakat itu sendiri. Gambar 1 menampilkan penggunaan ilustrasi dalam pada produk kaos yang mirip dengan lambang keraton Yogyakarta dalam publikasi di media luar ruang. Gambar 1. Penggunaan ilustrasi dalam pada produk kaos yang mirip dengan lambang keraton Yogyakarta dalam publikasi di media luar ruang Sumber: https://twitter. com/GKRHayu/status/1013689296102948865 Kajian dan penelitian yang terfokus pada topik lambang kraton Yogyakarta berdasarkan data yang ditemukan di antaranya adalah penentian tesis yang dilakukan oleh Wira Harri Tama . dengan judul AuPerlindungan Hukum Atas Simbol Tradisional Keraton Yogyakarta dari Perspektif Hukum MerekAy, penelitian ini mengkaji Lambang Keraton Yogyakarta dan perspektif hukum normatif, yaitu tentang kontek Hak Kekayaan Intelektual Lambang sebgai sebuah merek. Kemudian kajian yang dilakukan Mikhael Resi Tripamungkas berjudul AuPenggunaan Tato Lambang Keraton Yogyakarta (Hob. Sebagai Dukungan Status Keistimewaan Yogyakarta (Studi Eksploratori Tato Lambang Keraton Yogyakarta Pada Festival Tato Istimewa 2. Ay, dimana tujuan penelitian ini adalah untuk mengupas sejauh mana efektifitas penggunaan tato lambang menjadi media komunikasi sebagai bentuk ekspresi penolakan pencabutan status keistimewaan Yogyakarta (Mikhael Resi Tripamungkas, 2. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif eksploratory. Berdasarkan referensi penelitian sebelumnya maka, topik kajian lambang dengan pendekatan ikonografi dan ikonologi merupakan topik pembahasan yang baru. Sebagai sebuah Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 8. Nomor 2. Desember 2023 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 perangkat komunikasi, lambang keraton Yogyakarta merupakan bentuk identitas visual yang sarat dengan muatan tanda dan serangkaian makna. Aspek kesejarahan digunakan karena lambang keraton menjadi bagian dan produk kebudayaan masa lalu sehingga pendekatan ikonografi dan ikonologi menjadi relevan untuk penelitian ini. METODE PENELITIAN Penelitian ini diuraikan secara deskriptif kualitatif untuk menganalisis makna lambang Keraton Kesultanan Yogyakarta, berdasarkan teori ikonografi dan analisis ikonologis Erwin Panofsky. Pandangan Panofsky menjelaskan, bahwa untuk mengungkap makna suatu karya dilakukan melalui tahapan yaitu deskripsi pra-ikonografi, analisis ikonografi, dan interpretasi Pengungkapan pada tahapan ikonografi merupakan tahap mengidentifikasi aspekaspek pokok yang berupa aspek visual suatu karya seni melalui makna faktual maupun Elemen-elemen yang diidentifikasi pada makna faktual adalah bentuk-bentuk visual yang nyata dan tampak dalam objek penelitian berupa elemen garis, bentuk, warna, benda, pola, dan contoh dari alam atau benda buatan seperti tumbuhan, hewan, manusia, dan benda lainnya. Sedangkan pada makna ekspresional merupakan empati atau reaksi dari proses pengamatan peneliti pada objek yang diamati. Proses identifikasi untuk menemukan hubungan antara berbagai bentuk dan aktivitas yang dapat memberikan karakter, suasana hati, bahasa tubuh, atau gerak tubuh pada suatu objek. Tahap analisis ikonografi melibatkan pengenalan makna sekunder dengan cara memeriksa hubungan antara elemen visual dan cara ekspresinya . asil pra analisi. dengan tema dan konsep yang ada dalam penciptaan karyanya. Prinsip yang menjadi fokus dalam tahap ini adalah interpretasi yang mencerminkan berbagai konteks sejarah, budaya, atau ideologi, objek, dan peristiwa, yang kemudian diungkapkan melalui bentuk visual. Pemahaaman dalam kontek ini dapat memperkaya atau mengoreksi pemahaman berdasarkan sumber-sumber literatur yang mencerminkan berbagai kondisi sejarah, tema, atau konsep khusus yang tercermin melalui aspek-aspek visual dalam suatu karya. Tahap interpretasi ikonologi terdiri dari pemahaman interpretasi pra-ikonografi dan analisis ikonografi. Langkah ini memerlukan koneksi mental yang disebut intuisi sintesis untuk memahami tanda-tandanya. Perspektif sintetik berkaitan dengan aspek psikologis dan perspektif kehidupan pencipta karya (Panofsky, 1. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan observasi dan wawancara kepada sumber dari keraton Yogyakarta melalui pihak Kawedanan Hageng Kridomardowo ataupun masyarakat umum, untuk mendapatkan informasi sejauh mana tanggapan responden terhadap nilai filosofi dan makna dari lambang keraton Yogyakarta. Observasi dilakukan untuk mendapatkan sumber literasi baik visual maupun pustaka berupa arsip keraton yang berhubungan dengan lambang keraton dan artefak keraton yang ada di lingkungan istana sebagai informasi dalam aspek Studi dokumentasi juga didapatkan melalui dokumen-dokumen yang relevan dengan topik penelitian, berupa dokumen tertulis maupun dokumen elektronik baik dari berbagai jurnal maupun sumber lain di internet. Data dari observasi dan wawancara kemudian dianalisis dengan menggunakan tahapan dalam teori ikonografi dan ikonologi. Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 8. Nomor 2. Desember 2023 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Deskripsi Tahap Pra Ikonografi Secara visual, lambang Keraton yang kemudian disebut Praja Cihna ini tersusun oleh dua elemen utama yaitu elemen verbal dan elemen visual. Gambar 2 menampilkan elemen-elemen visual yang menjadi unsur pembentuk lambang Keraton Yogyakarta. Elemen verbal diperlihatkan dengan penggunaan huruf Jawa. Sementara elemen visual yang muncul pada lambang Praja Cihna antara lain unsur bentuk ilustrasi yang cenderung menggunakan garisgaris lengkung. Lambang ini jika diamati dari aspek visual pembentuknya merupakan gambaran dari bentuk mahkota di bagian atas sebagai ageman penutup kepala seorang Sultan, kemudian pada bagian bawah mahkota dihiasi dengan sumping di kanan dan kirinya. Bentuk sayap burung mengembang juga berada pada posisi di samping kanan dan kiri secara seimbang dan simetris. Elemen visual sayap tersebut terlihat dominan, seolah menjadi bentuk dasar logo tersebut. Pada masing-masing sayap terdapat bulu sayap berukuran kecil dan pada bagian bawah bulu terdapat sepuluh helai bulu yang lebih besar, melengkung ke arah atas dengan bentuk meruncing. Bagian tengah lambang terdapat bidang berwarna merah. Sementara pada bagian tengah bidang warna merah terdapat huruf/aksara Jawa Murda atau kapital. Aksara tersebut berbunyi ha-ba . ibaca: ho-b. yang merupakan singkatan dari Hamengku Buwana, mengacu pada gelar dari Sultan Keraton Yogyakarta. Sulur yang terjuntai ke bawah dari aksara ha-ba adalah aksara pasangan ma dalam aksara Jawa. Gambar 2. Elemen-elemen visual yang menjadi unsur pembentuk lambang Keraton Yogyakarta Sumber: olahan penulis Gaya visual lambang Keraton Yogyakarta ini jika dilihat dari wujudnya mempunyai komposisi bentuk yang simetris dan kecenderungan gaya susunan formal . he style of formal Gaya visual ini sejalan dengan teori Edmund Burke Feldman yang membagi tampilan karya seni dalam empat kategori, yaitu: . gaya ketepatan obyektif . he style of objective . gaya susunan formal . he style of formal orde. gaya emosi . he style of dan . gaya fantasi . he style of fantas. (Feldman, 1. Gaya susunan formal dalam seni adalah penciptaan harmoni melalui penggunaan metode yang sistematis dalam menetapkan proporsi dan ukuran. Tujuannya adalah mencapai keseimbangan, stabilitas, dan keindahan. Prinsip utamanya adalah menggunakan parameter matematik untuk menentukan proporsi, bukan berfokus pada kesamaan visual dengan objekobjek dalam kenyataan empirik. Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 8. Nomor 2. Desember 2023 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 2 Tahap Analisis Ikonografi Secara visual lambang Praja Cihna memiliki karakteristik bentuk umum meskipun tidak tampak secara langsung. Gambar 3 menampilkan bentuk lambang secara utuh mengacu pada bentuk dasar lingkaran . aris merah putus-putu. Sekalipun tampak kabur/tidak jelas, lambang ini memiliki bentuk dasar lingkaran semu. Bentuk dasar yang tercipta baik secara kasat mata maupun sebagai ilusi optik justru menjadi obyek yang paling cepat dikenali. Di samping itu juga karakteristik bentuk baik lingkaran, segi empat, segitiga dan lainnya memiliki pemakanaan yang berbeda-beda. Gambar 3. Bentuk lambang secara utuh mengacu pada bentuk dasar lingkaran . aris merah putus-putu. Sumber: olahan penulis Bentuk dasar seperti lingkaran, digunakan untuk melambangkan sifat alam semesta yang tak terbatas dan mewakili nilai keabadian. Bentuk lingkaran telah lama menjadi sebuah simbol peradaban masa lalu dalam tulisan ideografik kuno yang ditemukan di gua-gua prasejarah seperti yang ditampilkan pada gambar 4. Terdapat lukisan lingkaran yang menggambarkan lingkaran kosong dan ada yang diberi titik di tengahnya. Lingkaran yang kosong menggambarkan mata atau mulut yang terbuka, sementara lingkaran dengan titik di tengahnya melambangkan matahari atau "mata" dari Penguasa Alam. Simbol lingkaran ini digunakan oleh hampir setiap peradaban budaya di seluruh dunia. Gambar 4. Elemen lingkaran di sebuah gua prasejarah di Santa Cruz. Argentina Sumber: wikipedia. Cooper mengatakan bahwa lingkaran dalam kepercayaan Budha adalah AuRound of existenceAy, suatu ingkaran eksistensi yang mencakup segala hal unik di dunia ini. Dalam Zen, lingkaran kosong menggambarkan pencerahan. Sedangkan bentuk lingkaran dengan titik di tengahnya melambangkan siklus yang sempurna. Lingkaran dalam astrologi melambangkan matahari dan dewa matahari. Kemudian bentuk segitiga menggambarkan konsep tri-tunggal, meliputi kelahiran, kehidupan dan kematian. Pitagoras seorang filsuf Yunani pada abad ke 6 sebelum masehi menjadikan segitiga ini sebagai simbol kearifan. Segitiga menurut Cooper dimaknai sebagai sorga, bumi dan manusia atau ayah, ibu dan anak. Masih banyak lagi Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 8. Nomor 2. Desember 2023 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 kepercayaan-kepercayaan di muka bumi ini yang menggunakan bentuk segitiga sebagai simbol yang memiliki arti religius. Bentuk segitiga banyak diartikan religius pada berbagai kepercyaan yang ada di dunia. Bentuk lainnya adalah segi empat, yang justru memiliki arti yang bertentangan dengan lingkaran. Ketika lingkaran merupakan representasi keabadian dan penguasa alam semesta, maka sebaliknya segi empat justru menandakan pembatasan, kebendaan dan tanah. Jadi, lingkaran berarti dinamis dan kehidupan, sebaliknya segi empat berarti statis dan kematian. (Cooper, 1998:). Gambaran berbagai bentuk sederhana tersebut merupakan upaya manusia pada peradaban awal untuk berkomunikasi, tidak bicara secara lisan, melainkan menggunakan gambar atau citra. Sebelumnya, tampilan visual dari lambang Keraton Yogyakarta sebenarnya sangat dipengaruhi oleh bentuk mahkota dari kerajaan Belanda, dan ini tetap berlaku hingga masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII, di mana lambang Keraton Yogyakarta tersebut masih digunakan sebagai elemen dekoratif pada perlengkapan kerajaan yang dimiliki oleh Sultan. Disamping penggunaan mahkota gaya Belanda, pada salah satu property istana juga perwujudan singa di bagian kiri dan kanan yang ditampilkan pada gambar 5. Citra visual tersebut menunjukkan kentalnya pengaruh Eropa pada produk estetik Keraton Yogyakarta. Gambar 5. Tandu Pengantin Sultan HB VII. Penggunaan huruf Romawi dan binatang singa Sumber: dokumentasi penulis Pada tahun 1921, semenjak pemerintahan HB Vi muncul keinginan untuk membuat lambang baru yang didasari atas cita rasa estetik budaya sendiri. Dalam hal ini Sri Sultan HB Vi dapat disebut sebagai pencipta Ha Ba baru yang masih digunakan sampai saat ini. Sri Sultan HB Vi melibatkan seniman serba bisa K. Yosodipuro yang juga merupakan menantu Sultan Hamengkubuwana VII untuk menciptakan lambang baru tersebut (Alinda dan Rizal, 2. Adapun anatomi lambang dari segi bentuk dapat dibagi ke dalam 3 . bagian pokok yang ditampilkan pada gambar 6, antara lain sebagai berikut: Bagian kepala . rah-iraha. yang diwujudkan dalam bentuk Songkok atau Makutha dengan pelengkap asesoris berupa sumping makara, berupa daun Kluwih, dan anting. Bagian dada merupakan perwujudan dari bentuk perisai yang di dalamnya terdapat aksara Jawa murda Ha-Ba dan sayap burung garuda yang mengembang. Perisai menjadi Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 8. Nomor 2. Desember 2023 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 perlambang untuk pertahanan diri dari bahaya. Sementara warna merah yang terdapat pada bentuk bidang ini melambangkan keberanian karena membela kebenaran, namun tetap didasari dengan sikap kewaspadaan dan penuh perhitungan dalam menghadapi keburukan. Warna emas pada pada aksara menggambarkan sifat Agung Binathara. Bagian dasar adalah wilayah kaki dengan elemen berupa tulisan angka Jawa, tangkai daun merambat dan bunga teratai. Gambar 6. Pembagian logo menjadi 3 . bagian dalam simbolisasi konsep Tri Mandala Jawa. Personifikasi struktur anatomis manusia. Sumber: olahan penulis Dalam pemahaman tradisi Jawa, ketiga struktur bagian tersebut merupakan represetasi simbolik budaya Jawa berupa konsep Tri Mandala, yaitu adanya purwa-madya-wasana, lahirdewasa-pralaya . , dan utpathi-sthiti-pralina. Hal itu merupakan penggambaran dari siklus kehidupan manusia di dunia. Untuk menghadapi kondisi tersebut, menurut para winasis bahwa dalam kehidupan bermasyarakat harus selalu menjaga kerukunan, saling menghormati, dan saling tolong menolong. Manusia jangan hanya ingin menang sendiri, tidak semaunya sendiri, dan jangan hanya mementingkan diri sendiri. (Wasesowinoto, 2005: . Menurut KRT. Wasesowinoto, dalam Serat Parentang Hageng Karaton Ngayogyakarta 2005 tentang Praja Cihna: Cihnaning Nagari-Cihnaning Saliro Pribadi disebutkan bahwa lambang Praja Cihna keraton Kasultanan Yogyakarta memuat elemen-elemen visual yang secara terperinci terdiri dari sebagai berikut: Songkok atau mahkota Songkok merupakan ageman . untuk kepala para raja atau panglima tentara. Pada masa kepemimpinan Sultan Hamengku Buwana Vi, beliau sering menggunakan ageman songkok tersebut setiap kali berada di alun-alun. Dalam lakon pewayangan, songkok merupakan atribut yang digunakan oleh pemimpin pasukan seperti Bima, dan Baladewa yang menggambarkan watak seorang ksatria. Simbol tersebut merepresentasikan Sultan sebagai Gung Binathara, yang mengayomi, dan memimpin negara dan rakyatnya. Sumping Sumping dikenakan di bagian kuping yang merupakan stilasi dari daun kluwih, wujud perhiasan yang digunakan oleh para raja, bangsawan, atau panglima perang yang dinilai memiliki kaluwihan . elebihan atau karism. Bentuk ini mengandung makna bahwa para pepundhen . aja, bangsawan, ksatri. harus selalu mendengarkan segala keluh kesah rakyatnya dengan penuh perhatian, memiliki kewaspadaan tinggi, bijaksana dan Pada bagian ini juga terdapat asesoris berbentuk ceplik . yang melambangkan hidup yang bersinar layaknya bunga matahari. Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 8. Nomor 2. Desember 2023 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 Praba atau cahaya Perumpamaan dari Nur, atau sinar cahaya sang Maha Kuasa. Di samping juga melambangkan kedudukan sultan yang suci, luhur, dan berwibawa, memiliki keluhuran, kemuliaan rohani dan budi pekerti. Sebuah gambaran tentang seorang yang terhormat dan menjadi pemelihara kebudayaan Mataram Jawa. Lar atau Sayap Sayap mengembang dari burung Garuda merupakan representasi dari kebesaran, keagungan dan kewibawaan negara serta raja . yang sedang bertahta. Sayap mengembang tersebut merupakan simbol keagungan dan kewibawaan kerajaan dan raja yang tegas, mantap, kuat, total, dinamis, optimis, memiliki jiwa patriotik, yang merupakan sifat dan sikap wajib dari pemimpin, pengayom, dan pelindung. Bentuk sayap menggambarkan cita-cita yang tinggi, seperti tingginya angkasa. Perwujudan burung Garuda merupakan bagian dari ciri khas karya seni visual di era dinasti kerajaan Islam di Jawa, dimana dalam Islam tidak diperkenankan pelukisan makhluk hidup secara apa adanya. Hal ini yang justru memicu gagaan seni visual ornamentasi seni dekoratif dan non-figuratif yang tidak ada bandingannya di dunia (Read, 1970: . Penggambaran bentuk Gurda menurut Wasesowinoto, menjadi salah satu bentuk metafor burung yang relevan dengan stilasi sayap burung pada lambang Praja Cihna . ebutan lambang Keraton Yogyakart. Kata Gurda sendiri berasal dari kata Garuda, yaitu sejenis burung besar yang menurut pandangan hidup orang Jawa telah menjadi simbol keagungan sejak jaman Mataram Kuno. Bentuk visual Gurda terlihat lebih sederhana dan tidak banyak variasi visual sehingga menjadi mudah dimengerti (Wasesowinoto, 2005: . Dalam suatu cerita. Bathara Wisnu naik ke nirwana dengan menggunakan burung Garuda sebagai tunggangannya. Garuda ini dianggap sebagai makhluk berwujud burung yang teguh timbul tanpa maguru, kuat dan tak terkalahkan, menunjukkan bahwa burung ini memiliki kekuatan alami tanpa berguru pada siapapun. Kisah tentang Garuda dimulai dengan perang antara burung Garuda dan para dewa. Setelah para dewa dikalahkan, mereka meminta bantuan kepada Sang Hyang Wisnu. Dewa Wisnu akhirnya bertemu dengan Garuda, dan terjadi perdebatan di antara mereka. Namun, yang menarik adalah bahwa Garuda, sebagai pemenang, justru menawarkan untuk memenuhi satu permintaan apa pun yang diajukan oleh Sang Hyang Wisnu. Akhirnya. Wisnu mengajukan permintaan agar Garuda bersedia menjadi kendaraannya untuk kembali ke Sorga Loka , tempat tinggal para dewa. Oleh karena itu. Garuda kemudian menjadi kendaraan dan simbol dari dewa Wisnu (Soedarsono, 1997: 117-. Aksara Jawa Ha-Ba Aksara Jawa memiliki makna sebagai representasi budaya asli Jawa yang mencerminkan identitas bangsa. Frasa "Ha-Ba" merupakan singkatan dari "Hamengku Buwana," yang menggambarkan bahwa seorang Sultan adalah pemangku alam semesta. Prinsip dasar pemerintahan raja Mataram adalah "hamemayu hayuning bawana," yang bermakna "menciptakan dunia yang indah" dalam arti luas, termasuk baik secara fisik maupun spiritual. Gelar "Hamengku Buwono" menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus lebih banyak memberi daripada menerima . , melindungi dan mengayomi rakyatnya . , serta berlaku adil dan bijaksana dalam kebijakan dan tindakan. Seorang pemimpin yang memegang gelar tersebut harus bersikap rela dan ikhlas melayani masyarakat, menjadi abdi rakyat, dan suka memberi kepada yang membutuhkan. Raja juga diharapkan memberikan bantuan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti makanan, pakaian, perlindungan dari cuaca, dan alat transportasi kepada yang membutuhkan. Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 8. Nomor 2. Desember 2023 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 Angka Jawa Angka Jawa merupakan simbolisasi dari setiap Sultan yang berkuasa di Keraton Yogyakarta. Aksara Jawa ini menjadi wujud kebudayaan asli dan diri, serta kepribadian Lambang Keraton Yogyakarta memiliki dua versi yaitu lambang untuk nagari . dengan sebutan Praja Cihna dan lambang untuk tanda gelar sultan yang sedang berkuasa dengan sebutan Praja Cihna-Cihnaning Pribadi. Lambang Praja Cihna-Cihnaning Salira Pribadi ditampilkan pada gambar 7. Gambar 7. Lambang Praja Cihna-Cihnaning Salira Pribadi dalam angka Jawa . ingkaran mera. yang menjadi gelar pribadi Sultan yang berkuasa. Sumber: olahan penulis Gambar 8. Beberapa lambang yang digunakan oleh masing-masing Sultan Yogyakarta saat memerintah Keraton. Sumber: dokumentasi penulis Kembang Padma atau bunga Teratai Bunga teratai, dengan karakteristik batang, tangkai, dan bunga yang mengapung di atas permukaan air, melambangkan kemampuan seorang Sultan dalam menempatkan diri sesuai dengan kedudukannya secara proporsional. Hal ini mencerminkan representasi dari kemampuan seorang Sultan dalam menjalankan tugasnya dengan seimbang dan sesuai dengan perannya. Sulur Sulur merupakan bagian tumbuhan yang tumbuh merambat, yang merepresentasikan bersinar dan adi luhungnya kebudayaan Nusantara yang lestari dan terus bergerak maju, berguna bagi bangsa dan setiap manusia di dunia. Lambang keraton tidak hanya digunakan untuk ornamentasi dalam arsitektur keraton, tetapi juga diterapkan dalam kop surat dan medali penghargaan. Secara keseluruhan, lambang keraton ini terdiri dari sengkalan yang berbunyi "Kaluwihaning-Yaksa-Salira-Aji," yang menunjukkan tahun 1851 Saka atau sama dengan tahun 1921 Masehi. Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 8. Nomor 2. Desember 2023 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 Bagi orang Jawa, 'budaya' adalah pengejawantahan manusia sebagai makhluk sosial yang dipahami sebagai hal yang nyata, bukan hanya sebagai konsep antropologis yang abstrak. Gaya hidup yang dianggap benar di masyarakat Jawa adalah memahami dan mempraktikkan etika, menjaga kata-kata yang sopan, memelihara ketertiban, serta meyakini bahwa manusia dan objek-objeknya berada pada tempat dan urutan yang teratur, dapat diprediksi, dan tanpa Dalam Cultural Studies, budaya menggambarkan sudut pandang kritis terhadap definisi budaya sebagai Authe complex everyday world we all encounter and through which all moveAy (Edgar, 1999: . Dalam arti yang lebih umum, budaya merujuk pada kehidupan sehari-hari manusia, termasuk perilaku dan pemikirannya. Islam memasuki Jawa melalui proses sosio-kultural, dan agar syariat Islam lebih mudah diterima, disesuaikan dengan budaya masyarakat Jawa. Islam, yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai budaya Jawa, menjadi subkultur yang dengan mudah diterima oleh masyarakat. Lambang Keraton Yogyakarta merupakan penanda bagi suatu benda, obyek, pemikiran, kelompok, maupun pribadi. Atas dasar peran dan fungsinya, maka lambang dapat dimaknai sebagai produk hasil budaya, yaitu kebudayaan Jawa. Hal ini selaras dengan teori tentang wujud kebudayaan Kuntjaraningrat, sehingga lambang Keraton dapat dilihat sebagai: Serangkaian ide, gagasan, dan kearifan berpikir dalam perspektif budaya Jawa . Merupakan representasi dari berbagai macam aktifitas kehidupan sosial, politik, ekonomi yang terdapat dalam lingkungan Kasultanan Yogyakarta . Merupakan wujud karya seni perlambangan yang memuat makna dan nilai-nilai kehidupan berupa artefak simbol visual yang merepresentasikan ketinggian pemikiran dan peradaban masyarakat Jawa dalam bidang desain komunikasi visual khususnya dan seni rupa pada umumnya . Simbol ini, sebagai representasi budaya Jawa, mencerminkan konsep hubungan antara atas dan bawah yang merupakan bagian dari mitos kekuasaan. Kekuasaan tidak dapat ada tanpa hubungan setidaknya antara Tuhan (Gust. yang mengendalikan makhluk . Untuk memahami hubungan antara Gusti dan kawula, seperti raja dan rakyat, ada konsep KawulaGusti, yang menggambarkan kesatuan dalam konsep manunggaling kawula gusti dan menjadi pemahaman tentang monisme dualistik, yaitu Loro-loroning Atunggal. Warangka Curiga Manjing. Konsep ini tercermin dalam dua simbol, yaitu Praja Cihna Cihnaning Nagari dan Praja Cihna Cihnaning Salira Pribadi. Penggabungan kedua entitas ini menghasilkan yang disebut sebagai wiji, bibit, atau tunas yang harus dijaga dan dilindungi. Istilah ini terkait dengan unsur visual Lar . Garuda, yang bermakna sebagai "Pengayom. " Sultan seperti pohon yang tumbuh di bumi . sebagai pelindung dan penjaga keluarga . egara dan rakyat jelat. Lambang keraton ini merupakan sebuah konsep yang menandai era baru dalam kebudayaan Jawa, yaitu era Kesultanan Yogyakarta yang memilki karakter dan identitas unik, sebagai pusat dari kerajaan Jawa sekaligus berperan dalam pengembangan budaya dan Indonesia modern (Chamamah Soeratno, 2008: . 3 Tahap Intepretasi Ikonologi Tahap ini adalah pendekatan interpretatif yang melibatkan sintesis intuisi, bukan analisis Seperti halnya mengenali motif artistik yang benar adalah langkah awal yang penting untuk analisis ikonografis yang tepat, begitu juga analisis gambar, cerita, dan alegori yang benar adalah prasyarat bagi interpretasi ikonologis yang tepat. Dalam interpretasi ikonologis, intuisi diperlukan untuk menggali aspek-aspek bermakna di balik gambar, mengikuti pendapat Panofski bahwa penggunaan intuisi tidak lagi terbatas pada sumber literal. Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 8. Nomor 2. Desember 2023 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 Lambang Praja Cihna pada hakekatnya merupakan bentuk visual yang menjadi wujud legitimasi dan hegemoni sebuah kekuasaan. Lambang ini hadir sebagai penanda sebuah entitas yang memiliki kekuatan dan kekuasaan dalam lingkungan kebudayaan Jawa. Hal menarik dari lambang ini, sebagian unsur visualnya selalu berubah dari waktu ke waktu, sesuai dengan nama dan masa Sultan yang bertahta. Pada awalnya, jumlah bulu pada gambar sayap di masingmasing sisi berjumlah delapan buah, sebagai identitas dari Sri Sultan Hamengku Buwono Vi sebagai sultan yang ke-8. Nama ketika Sri Sultan HB X yang sekarang berkuasa maka jumlah bulu sayap juga menjasi 10 lembar bulu sayap. Proses perubahan dari penggunaan mahkota berbentuk Crown khas Eropa menjadi mahkota yang menampilkan unsur lokal menjadi Songkok, dapat dimaknai sebagai bentuk dan upaya membangun semangat kemandirian budaya yang telah ditunjukkan oleh Sultan Hamengku Buwana Vi. Beliau berhasil dalam mengadopsi unsur-unsur estetik dari kebudayaan Barat (Beland. yang disinergikan dengan nilai budaya Jawa Klasik . engaruh Hindhu dan Budh. serta sentuhan nafas Islam sebagai ideologi yang dianut oleh masyarakat Yogyakarta dan kehidupan istana. Suharson . 9: . mengatakan bahwa kebudayaan masyarakat Yogayakarta dalam perkembangannya selalu dipertentangkan dengan budaya Keraton yang bersifat halus dan budaya rakyat yang bersifat kasar. Hingga pada masyarakat luas, satu sisi kebudayaan sering disebut sebagai hasil budaya tinggi . dan di sisi lain disebut sebagai budaya rendah . Budaya keraton sering dikonotasikan sebagai budaya elit sarat filosofi, penuh nilai renungan spiritual. Sementara untuk budaya rakyat dikonotasikan sebagai budaya rendah dan tidak serius. Pandangan itu akhirnya menjadi dalih jika sebuah hasil budaya rendah dapat dinilai tinggi, maka perlu mengadopsi nilai budaya keraton tinggi yang lebih tinggi. Perkembangan kebudayaan telah membawa perubahan mendasar pada budaya Jawa, terutama selama masa kolonialisme Belanda. Pengaruh budaya kolonial tersebut terutama dirasakan di lingkungan istana dan kalangan priyayi. Berkembangnya ilmu pengetahuan seiring waktu telah menggeser lambang-lambang mistis dan magis dalam budaya Jawa, menggantikannya dengan simbol ilmu pengetahuan yang lebih rasional dan fungsional. Ini juga menyebabkan masyarakat menjadi lebih rasional dalam pandangan dan sikap mereka terhadap lambang, baik yang bersifat religius maupun tradisional. Lambang Praja Cihna bukan hanya sebagai tanda fisik, tetapi juga sebagai simbol budaya dan ideologi masyarakat Yogyakarta. Ini mencerminkan keselarasan dan keterpaduan antara Sultan sebagai pelindung kebudayaan dan masyarakatnya. Hingga saat ini. Praja Cihna masih digunakan dalam kegiatan administratif resmi Kesultanan Yogyakarta dan tetap menjadi elemen kunci dalam berbagai peralatan dan sarana di lingkungan keraton. Meskipun begitu, tren saat ini menunjukkan bahwa penggunaan lambang keraton ini tidak lagi terbatas pada keperluan formal keraton Yogyakarta semata, melainkan semakin meluas dan seringkali dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan kelompok masyarakat penggunanya. Meskipun tidak langsung terkait dengan kepentingan keraton, selama penggunaan ini tidak menyimpang dan tetap etis, hal ini bisa dianggap sebagai ekspresi cinta dan kebanggaan masyarakat Yogyakarta terhadap identitas Kesultanan Yogyakarta. KESIMPULAN Logo lembaga atau institusi mencerminkan ideologi yang berlaku pada suatu periode Penelitian mengenai pola visual dalam lambang Praja Cihna menggunakan pendekatan ikonografis dan ikonologis, dengan fokus pada interpretasi makna dalam elemen visual secara menyeluruh. Selain menganalisis elemen visual, penelitian ini juga menggali pemikiran Sultan HB Vi, terutama dalam konteks ideologi kebangsaan, sosial, dan aspek psikologis yang memengaruhi pengambilan keputusan terkait representasi visual. Jurnal Ilmu Komputer dan Desain Komunikasi Visual Volume 8. Nomor 2. Desember 2023 ISSN (Ceta. : 2541-4550 ISSN (Onlin. : 2541-4585 Dalam penelitian ini, penekanan utamanya adalah pada aspek formal yang membahas kualitas visual dengan lebih mendalam. Diharapkan bahwa melalui analisis ikonografi dan ikonologis ini, hasil yang komprehensif akan mengungkap hubungan antara pola visual dan makna yang terkandung dalam lambang tersebut. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa lambang keraton Yogyakarta mencakup nilai-nilai filosofi dan konsep budaya khas Jawa dalam interpretasi visualnya. Lambang Praja Cihna adalah manifestasi dari konsep Manunggaling Kawula Gusti, yang kemudian diinterpretasikan sebagai kesatuan dan semangat kebangsaan, yaitu Loro-loroning Atunggal. Curiga Manjing Warangka. Dalam praktiknya, hal ini tercermin dalam dua lambang, yaitu Praja Cihna Cihnaning Nagari . ebagai identitas visual negar. dan Praja Cihna Cihnaning Salira Pribadi . ebagai identitas visual individ. Lambang Praja Cihna menggambarkan simbol-simbol visual yang mencerminkan adanya akulturasi unsur budaya luar, termasuk pengaruh budaya Jawa klasik . ra Hindu dan Buddh. dan pengaruh kuat dari konsep estetik Eropa pada masa kolonial, yang diselaraskan dengan nilai-nilai Islam. Upaya ini bertujuan untuk menunjukkan identitas khasnya sambil mengalami perubahan dalam unsur ikonografi khas Jawa. Hal ini menjadi contoh bagaimana kebudayaan lokal dapat tetap relevan di tengah pengaruh budaya asing, menunjukkan kebijaksanaan lokal yang patut diinspirasi. Tindakan ini bukan hanya tentang eksistensi seorang penguasa atau pemimpin, tetapi juga mencerminkan pemikiran yang jauh ke depan untuk menjaga kewibawaan sebagai entitas bangsa yang mandiri. DAFTAR PUSTAKA