PERBEDAAN KADAR ZAT BESI SERUM BERDASARKAN STATUS KADAR TIMBAL DARAH PADA PEROKOK AKTIF Hesti Dwi Utami1 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional Surakarta Email : hestidwiutami030893@gmail. Wimpy*2 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional Surakarta Email: wimpy@stikesnas. orresponding autho. *Corresponding author ABSTRAK Paparan timbal (P. dari asap rokok dapat mengganggu metabolisme zat besi (F. dalam tubuh. Timbal yang terhirup melalui paru-paru masuk ke dalam sirkulasi darah dan berikatan dengan eritrosit, yang kemudian dapat memengaruhi penyerapan dan distribusi zat besi. Perokok aktif berisiko mengalami akumulasi logam berat seperti timbal, yang dalam jangka panjang dapat mengganggu keseimbangan mikronutrien esensial seperti zat besi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar timbal dalam darah dengan kadar besi dalam serum pada perokok aktif. Penelitian dilakukan dengan pendekatan observasional analitik dan desain potong lintang . ross-sectiona. Jumlah sampel sebanyak 20 orang perokok aktif yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Pemeriksaan kadar timbal darah dilakukan dengan Inductively Coupled Plasma-Optical Emission Spectroscopy (ICP-OES)dan kadar besi serum menggunakan metode Fotometry dengan alat Cobas C111. Hasil kadar timbal darah menunjukkan 25 % responden memiliki kadar timbal darah melebihi ambang batas menurut National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) yaitu > 5 AAg/dL) dan 15 % responden memiliki kadar besi serum kurang dari ambang batas normal, serta 10 % responden memiliki kadar besi serum melebihi ambang batas normal menurut World Health Organization. Berdasarkan uji Mann Whitney U, diperoleh nilai signifikansi sebesar p = 0,417 . > 0,. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan kadar besi serum antara kelompok perokok aktif dengan kadar timbal darah normal (<5 AAg/dL) dan tidak normal (> 5 AAg/dL). Selisih rerata kadar besi serum antar kelompok hanya sebesar 14,43 AAg/dL, dengan rentang kepercayaan 95% yang sangat lebar dan mencakup nol. Kata Kunci : perokok aktif, timbal darah, zat besi serum ABSTRACT Exposure to lead (P. from cigarette smoke can interfere with iron (F. metabolism in the human body. Inhaled lead enters the bloodstream through the lungs and binds to erythrocytes, potentially affecting the absorption and distribution of iron. Active smokers are at risk of accumulating heavy metals such as lead, which over time may disrupt the balance of essential micronutrients, including iron. This study aims to analyze the difference in serum iron levels based on blood lead status among active This research used an analytical observational approach with a cross-sectional design. total of 20 active smokers were selected using purposive sampling. Blood lead levels were measured using Inductively Coupled Plasma-Optical Emission Spectroscopy (ICP-OES), while serum iron levels were analyzed using the photometric method on a Cobas C111 device. The results showed that 25 % of respondents had blood lead levels exceeding the National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) threshold of > 5 AAg/dL. Additionally, 15% of respondents had serum iron levels below the normal range, and 10% had levels above the normal reference according to the World Health Organization (WHO). The Mann-Whitney U Test revealed a p-value of 0,417 . > 0,. , indicating no significant difference in serum iron levels between groups with normal and elevated blood lead levels. The mean difference in serum iron between groups was only 14,43 AAg/dL, with a 95% confidence interval that was wide and included zero Keywords: active smokers, blood lead, serum iron ISSN : 2502-1524 Page | 116 Hesti Dwi Utami dkk perbedaan kadar zat besi serum berdasarkan status kadar timbal darah pada perokok aktif PENDAHULUAN Paparan logam berat timbal (P. yang berasal dari asap rokok merupakan salah satu isu signifikan dalam bidang kesehatan lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan gangguan metabolisme dan fungsi sistem hematologis. Rokok mengandung ribuan zat kimia berbahaya, termasuk unsur toksik seperti timbal, kadmium, dan arsenik (Sari & Wimpy. Timbal memiliki sifat toksisitas tinggi yang dapat masuk ke dalam tubuh melalui proses inhalasi, kemudian berikatan kuat dengan eritrosit dalam sirkulasi darah. Sebagian besar timbal dalam darah, yakni sekitar 99%, ditemukan melekat pada sel darah merah, yang berpotensi mengganggu metabolisme zat besi (F. melalui gangguan proses penyerapan, transportasi, dan distribusinya di dalam tubuh (Ray. Zat besi merupakan salah satu mikronutrien penting yang berfungsi dalam pembentukan hemoglobin, pengangkutan oksigen, serta sebagai kofaktor berbagai enzim vital dalam sistem biologis manusia. Gangguan pada proses metabolisme zat besi dapat mengakibatkan penurunan kadar besi dalam serum, yang pada akhirnya menyebabkan anemia defisiensi besi dan penurunan kapasitas darah dalam mengangkut oksigen. Perokok aktif menjadi kelompok yang rentan terhadap gangguan ini karena paparan toksin kronis dari asap rokok (Reraska & Wimpy, 2. Mekanisme gangguan ini diduga terjadi melalui hambatan terhadap fungsi transporter logam seperti Divalent Metal Transporter 1 (DMT. di saluran cerna, yang merupakan jalur utama penyerapan besi non-heme (Okazaki, 2. Berdasarkan pedoman dari National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH), kadar timbal dalam darah sebesar Ou 5 AAg/dL dianggap sebagai ambang batas intervensi medis (National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH), 2. Namun, (World Health Organization, 2. menyatakan bahwa tidak ada tingkat paparan timbal yang benar-benar aman, mengingat paparan kronis pada kadar rendah pun dapat menyebabkan perubahan fisiologis subklinis, termasuk pada sistem darah, saraf pusat, dan ginjal (Wimpy, 2. Sejumlah studi menunjukkan bahwa paparan timbal berkaitan dengan penurunan kadar hemoglobin, ferritin, serta memengaruhi parameter darah lainnya seperti retikulosit, yang merupakan indikator produksi eritrosit oleh sumsum tulang (World Health Organization, 2. Perokok aktif memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami paparan timbal dibandingkan dengan individu non-perokok (Nakhaee et al. Hal ini disebabkan oleh kandungan logam berat, termasuk timbal, dalam asap rokok yang dapat terhirup secara kronis dan terakumulasi dalam tubuh. Paparan timbal kronis diketahui dapat memengaruhi ISSN : 2502-1524 metabolisme zat besi dan proses hematopoiesis (Zhang et al. , 2. Meskipun hubungan antara paparan timbal dan gangguan kadar hemoglobin telah banyak diteliti, kajian yang secara khusus menghubungkan kadar timbal dalam darah dengan kadar zat besi serum pada kelompok perokok aktif, terutama di wilayah Indonesia, masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memperjelas mekanisme interaksi antara kadar timbal darah dengan kadar zat besi serum pada populasi dengan risiko tinggi seperti perokok aktif. Berdasarkan uraian tersebut, fokus utama penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan kadar zat besi serum pada kelompok perokok aktif berdasarkan status kadar timbal dalam Penelitian ini mengarahkan perhatian pada dua variabel utama, yaitu kadar timbal darah sebagai faktor pembeda, dan kadar besi serum sebagai indikator status mikronutrien. Penelitian ini penting dilakukan untuk memperluas pemahaman mengenai potensi gangguan hematologis akibat paparan logam berat, khususnya pada populasi perokok aktif. Tujuan utama dari studi ini adalah untuk menganalisis perbedaan kadar zat besi serum antara perokok aktif yang memiliki kadar timbal dalam darah yang normal dan yang melebihi ambang batas TEKNIK PENELITIAN Penelitian observasional analitik dengan desain studi potong Desain ini memungkinkan peneliti untuk mengukur variabel independen dan dependen secara bersamaan pada satu titik waktu. Penelitian ini dilakukan pada 20 perokok aktif yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yakni metode pemilihan subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi tertentu. Sampel dipilih dari populasi yang memenuhi syarat sebagai perokok aktif dan bersedia mengikuti seluruh rangkaian pemeriksaan Kriteria Inklusi: Laki-laki perokok aktif yang berusia di atas 20 tahun. Telah memiliki kebiasaan merokok selama minimal 10 tahun secara terus-menerus. Rata-rata konsumsi rokok harian Ou10 batang per hari selama enam bulan terakhir. Menyetujui informed consent dan mengikuti seluruh rangkaian pemeriksaan laboratorium. Kriteria Eksklusi: Mengonsumsi obat-obatan tertentu, vitamin, dan mineral yang dapat meningkatkan kadar besi serum. Memiliki riwayat penyakit kronis . eperti penyakit ginjal kronik, penyakit hati, atau kanke. yang dapat memengaruhi status Page | 117 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :116-121 Menunjukkan tanda-tanda anemia secara klinis berdasarkan anamnesis atau hasil pemeriksaan awal. Pemeriksaan kadar timbal dalam darah dilakukan di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesd. DKI Jakarta dengan menggunakan metode Inductively Coupled Plasma-Optical Emission Spectroscopy (ICP-OES), yang merupakan metode akurat untuk mendeteksi logam berat dalam sampel biologis. Cara kerja : Persiapan sampel : Informed consent diisi oleh responden yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Tabung diberi label identitas. Pengambilan darah vena Pengambilan darah vena dilakukan dengan mengikuti prosedur yang sistematis dan sesuai standar biosafety. Langkah pertama adalah memastikan penggunaan alat pelindung diri (APD) yang lengkap serta menyiapkan seluruh alat dan bahan yang diperlukan sebelum tindakan Setelah itu, dipilih lokasi pengambilan darah yang tepat, umumnya vena di daerah lipatan siku. Area tersebut kemudian didesinfeksi Pemasangan torniquet dilakukan sekitar tiga jari di atas lipatan siku guna mempermudah visualisasi pembuluh darah. Setelah vena terlihat jelas, dilakukan penusukan menggunakan jarum steril untuk mengakses pembuluh darah. Sampel darah diambil dengan volume yang sesuai, yaitu 3 mL ke dalam tabung vakum EDTA dan 2 mL ke dalam tabung Serum Separator Tube (SST). Setelah pengambilan darah selesai, torniquet dilepaskan dan sampel dihomogenisasi dengan cara membalik tabung beberapa kali secara perlahan untuk menghindari Bekas tusukan kemudian ditutup dengan kapas bersih, jarum ditarik dengan hatihati, area ditekan beberapa saat, lalu diberi plester untuk mencegah perdarahan lebih lanjut. Jarum bekas pakai segera dibuang ke dalam kontainer khusus benda tajam sesuai prosedur keselamatan kerja. Pemeriksaan kadar timbal Mempersiapkan deret standar Siapkan larutan standar timbal dengan konsentrasi masing-masing sebesar 0,01 ppm, 0,02 ppm, 0,05 ppm, 0,08 ppm, 0,10 ppm, dan 0,120 ppm. Selanjutnya, ukur nilai absorbansi dari setiap larutan standar tersebut menggunakan instrumen ICP-OES pada panjang gelombang 283,3 nm. Mempersiapkan kurva kalibrasi Kurva kalibrasi disusun berdasarkan hasil pengukuran absorbansi dari larutan standar kemudian dianalsis menjadi sebuah bentuk grafik yang memplot hubungan antara konsentrasi ISSN : 2502-1524 timbal dan nilai absorbansi yang digunakan untuk memperoleh persamaan garis regresi linier, yaitu dalam bentuk y = bx a Pembacaan kadar timbal Pembacaan kadar timbal dalam darah diawali dengan pengambilan sampel darah sebanyak 0,5 mL menggunakan pipet ukur, yang kemudian dimasukkan ke dalam beaker glass. Selanjutnya, ke dalam sampel tersebut ditambahkan sebanyak 2Ae3 mL asam nitrat (HNOCE) pekat untuk proses pelarutan logam. Campuran ini kemudian dipanaskan menggunakan hotplate pada suhu 80Ae menandakan bahwa proses pelarutan telah selesai. Sampel yang telah jernih kemudian dimasukkan ke dalam nebulizer alat ICP-OES (Inductively Coupled Plasma Ae Optical Emission Spectroscop. Pengukuran kadar dilakukan dengan mendeteksi intensitas sinyal emisi pada panjang gelombang 283,3 nm. Intensitas sinyal yang diperoleh dicatat dan dibandingkan dengan kurva kalibrasi untuk menentukan konsentrasi timbal dalam darah secara kuantitatif Pemeriksaan kadar zat besi serum dilakukan menggunakan prinsip kolorimetri berbasis reaksi kompleksasi, yaitu ferrozine method dengan alat Cobas C111 dan di Laboratorium Rumah Sakit TK II Dr. Hardjanto Balikpapan dengan prosedur sebagai berikut : Sampel pada tabung SST didiamkan selama 15 menit kemudian tabung SST di sentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit. Serum yang telah terpisah dengan sel darah, kemudian diambil sebanyak 500 Al dan di pindahkan ke cup sampel. Serum pada cup sampel kemudian di periksa kadar serum iron menggunakan alat Cobas C111 pada panjang gelombang 552 nm. Sumber data yang digunakan adalah data primer, yang diperoleh langsung dari hasil pemeriksaan darah para responden. Setelah data dikumpulkan, dilakukan uji normalitas terlebih dahulu untuk menentukan distribusi data menggunakan Shapiro-Wilk Test, mengingat jumlah sampel yang digunakan berjumlah di bawah 50. Karena data berdistribusi normal, maka analisis dilanjutkan dengan uji parametrik menggunakan Mann-Whitney U untuk melihat perbedaan rerata kadar zat besi serum antara kelompok dengan kadar timbal darah normal dan tidak normal. Seluruh proses analisis statistik dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini telah melalui uji kelayakan etik juga dan disetujui oleh Komisi Etik Penelitian Kesehatan Universitas Muhammadiyah Page | 118 Hesti Dwi Utami dkk perbedaan kadar zat besi serum berdasarkan status kadar timbal darah pada perokok aktif Purwokerto KEPK/UMP/47/2025. Table 1 Distribusi Data Primer Hasil Penelitian Kode Sampel Kadar Timbal Darah Kadar Besi Serum Kadar (AAg/dL) Keterangan 6,726 <0,228 Melebihi Normal Kadar (AAg /dL) 5,654 <0,228 4,654 5,696 Keterang salah satu kelompok memiliki ukuran sampel sangat kecil . , maka uji beda ditempuh dengan menggunakan uji non-parametrik MannWhitney U Tabel 2. Hasil Uji Normalitas (Shapiro-Wil. Timbal_Darah Statistik df Sig. Besi_Serum Normal 0,943 15 0,417 Normal Melebihi Ambang 0,835 Batas Tinggi Normal Normal Normal Normal <0,228 Normal Melebihi Normal Normal <0,228 Normal Normal Sumber: Output IBM SPSS 25, 2024 Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan kadar zat besi serum antara kelompok dengan kadar timbal normal dan di atas ambang batas, dilakukan uji beda Mann-Whitney U Tabel 3. Hasil Uji Mann-Whitney U Test Mean Sum of Timbal_Darah N Rank Rank <0,228 Normal Rendah P10 4,776 Normal Normal P11 <0,228 Normal Normal P12 <0,228 Normal Normal P13 <0,228 Normal Rendah P14 <0,228 Normal Normal P15 <0,228 Normal Tinggi P16 <0,228 Normal Normal P17 <0,228 Normal Normal P18 6,468 Normal P19 5,426 Normal P20 <0,228 Melebihi Melebihi Normal Rendah Melebihi Normal Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa sebanyak 5 dari 20 responden . %) memiliki kadar timbal darah yang berada di atas ambang batas yang ditetapkan oleh National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) yaitu Ou 5 AAg/dL. (National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH), 2. Kadar zat besi serum mayoritas berada dalam rentang normal, meskipun ditemukan 3 responden . %) dengan kadar rendah dan 2 responden . %) dengan kadar tinggi berdasarkan nilai rujukan dari WHO, yaitu 75-150 AAg/dL (World Health Organization. Hasil uji normalitas yang dilakukan dengan Shapiro-Wilk karena jumlah sampel <50, menunjukkan bahwa distribusi kadar besi serum pada kedua kelompok . adar timbal darah menunjukkan distribusi normal. Namun karena ISSN : 2502-1524 Besi_Serum Normal Melebihi Ambang Batas Total 5 0,152 11,13 167,00 8,60 43,00 Test Statisticsa Besi_Serum Mann-Whitney U 28,000 Wilcoxon W 43,000 -,829 Asymp. Sig. -taile. ,407 Exact Sig. -tailed Sig. ,445b Grouping Variable: Timbal_Darah Not corrected for ties. Hasil uji Mann-Whitney U menunjukkan nilai signifikansi p = 0,407 . > 0. , yang berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar zat besi serum pada kelompok dengan kadar timbal darah normal dan kelompok yang berada di atas ambang batas. Selisih rerata sebesar 0,42 AAg/dL dan rentang kepercayaan yang luas menunjukkan bahwa perbedaan tersebut bersifat sangat kecil/ tidak bermakna. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar zat besi serum pada perokok aktif dengan kadar timbal darah normal dan yang melebihi ambang Temuan ini memberikan wawasan baru bahwa hubungan antara paparan timbal dan kadar zat besi serum bersifat kompleks dan tidak selalu bersifat linear. Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah bahwa paparan timbal tidak hanya ditentukan oleh kebiasaan merokok, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal yang saling berkaitan. Page | 119 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :116-121 Faktor lingkungan tempat tinggal dan lingkungan kerja merupakan determinan penting dalam menentukan kadar timbal dalam tubuh. Individu yang menetap di wilayah dengan tingkat polusi tinggiAiseperti kawasan industri atau daerah dengan kepadatan lalu lintas yang tinggiAiserta mereka yang masih menggunakan air dari instalasi pipa tua, memiliki risiko paparan timbal yang lebih besar (Wimpy, 2. Selain itu, status gizi, khususnya kadar zat besi, kalsium, dan seng, turut memengaruhi tingkat absorpsi timbal. kekurangan mikronutrien tersebut dapat meningkatkan penyerapan logam berat di saluran pencernaan. Pola konsumsi makanan yang tidak sehat dan paparan bahan pangan yang terkontaminasi pestisida juga memperburuk akumulasi logam berat dalam tubuh (Samsulaga & Wimpy, 2. Rokok tembakau sendiri merupakan salah satu media utama paparan timbal. Tanaman tembakau dapat menyerap logam berat, termasuk timbal (P. , dari lingkungan tumbuhnya. Faktor-faktor seperti penggunaan pestisida berbasis logam, pencemaran tanah dan udara, serta lokasi penanaman memengaruhi kandungan logam dalam daun tembakau. Kandungan timbal dalam rokok juga sangat bervariasi tergantung pada pengolahannya (Armijos et al. , 2021. Janaydeh et al. , 2. Proses pengeringan dan fermentasi daun tembakau bahkan dapat meningkatkan konsentrasi logam berat karena penguapan air menyebabkan peningkatan densitas senyawa (Regassa Chandravanshi, 2016. Wardhono et al. , 2. Setelah dikonsumsi, timbal dari asap rokok masuk ke dalam tubuh melalui inhalasi, dan secara kronis dapat meningkatkan kadar timbal dalam darah. Timbal memiliki efek toksik terhadap metabolisme zat besi. Logam ini dapat menghambat aktivitas enzim penting dalam sintesis heme, seperti delta-aminolevulinic acid dehydratase (ALAD) dan ferrochelatase, serta mengganggu penyerapan zat besi di usus. Selain itu, timbal memicu stres oksidatif yang mempercepat kerusakan eritrosit (Mus et al. SCota et al. , 2. Dampaknya terhadap kadar zat besi tidak selalu langsung terlihat, karena sifatnya yang kumulatif dan bergantung pada lama serta intensitas paparan, disertai dengan faktor-faktor individual seperti status gizi dan fungsi ginjal(Okazaki, 2. Namun demikian, hasil studi ini menunjukkan bahwa tidak semua perokok dengan kadar timbal tinggi mengalami penurunan kadar zat besi Hal ini menegaskan bahwa hubungan antara paparan timbal dan status zat besi bersifat Selain intensitas merokok dan durasi kebiasaan tersebut, jumlah batang yang ISSN : 2502-1524 dihisap per hari juga turut memengaruhi akumulasi timbal (Gallucci et al. , 2. Di sisi lain, tubuh memiliki mekanisme homeostasis yang mampu menjaga kestabilan kadar zat besi serum, terutama jika asupan nutrisi harian Dalam konteks ini, peran antioksidan sangat penting. Vitamin C, vitamin E, dan glutation dapat menetralkan radikal bebas akibat stres oksidatif yang disebabkan oleh paparan timbal, sehingga kerusakan sel darah merah dan gangguan metabolisme zat besi dapat ditekan (Wimpy et al. , 2. Dengan demikian, meskipun tidak ditemukan perbedaan kadar zat besi serum yang signifikan antara kelompok perokok dengan kadar timbal normal dan yang melebihi ambang batas, studi ini tetap menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap kandungan logam berat dalam rokok. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa paparan timbal merupakan masalah kesehatan yang tidak hanya ditentukan oleh satu faktor, melainkan oleh akumulasi berbagai aspek gaya hidup, lingkungan, dan kondisi biologis individu. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis statistik, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar zat besi serum pada perokok aktif dengan kadar timbal darah yang normal dan yang melebihi ambang Hasil uji Mann-Whitney U menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,417 . > 0,. , yang berarti tidak terdapat perbedaan bermakna secara Selisih rerata kadar zat besi serum antar kelompok sangat kecil, yaitu sebesar 43 AAg/dL. Hal ini menunjukkan bahwa paparan timbal dari konsumsi rokok belum terbukti secara statistik berdampak terhadap perubahan kadar zat besi serum pada subjek perokok aktif dalam penelitian ini. SARAN Studi lanjutan sangat disarankan untuk menganalisis secara lebih detail kandungan logam berat dalam berbagai merek rokok serta mengaitkannya dengan parameter hematologis lain seperti ferritin. TIBC, dan indikator Selain itu, pemetaan geografis terhadap sumber bahan baku tembakau juga dapat memberikan gambaran pola cemaran lingkungan terhadap produk rokok yang beredar di pasaran. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti hendak mengucapkan terima kasih Laboratorium Rumah Sakit TK II Dr. Hardjanto Balikpapan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional Page | 120 Hesti Dwi Utami dkk perbedaan kadar zat besi serum berdasarkan status kadar timbal darah pada perokok aktif Laboratorium Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesd. DKI Jakarta. Para responden yang bersedia terlibat di dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA