Teologi Kerbau dan Tanggapannya (Telaah Atas Model Teologi Kontekstual Ala Kosuke Koyam. Theofilus Acai Ndorang1 theondorang@gmail. Abstrak Dalam perkembangannya, teologi bukan hanya sekedar berbicara tentang Tuhan dengan segala seluk beluknya, melainkan juga bagaimana seseorang mendengarkan Tuhan berbicara dalam situasi dan pengalaman hidup harianya. Inilah suatu bentuk perkembangan baru berkaitan dengan teologi yang sesungguhnya dalam kehidupan Gereja. Dengan demikian muncul beberapa teolog yang mulai merefleksikan teologi secara baru sesuai dengan konteks dimana ia berteologi. Kozuke Koyama, salah seorang teolog dari Thailand memunculkan sebuah model teologi kontekstual yang dikenal dengan sebutan teologi kerbau (Water Buffalo Theolog. Kerbau-kerbau itu mengsiyaratkan kepadanya tentang bentuk pewartaan yang sederhana, menggunakan bahasa dan cara berpikir yang sederhana. Selain itu kerbau-kerbau itu mengisyaratkan ia untuk menghindarkan segala pikiran yang abstrak dan menggunakan hal-hal nyata. Namun keabsahan model teologi kontekstual perlu dikritisi melalui lima kriteria Dan berdasarkan lima kriteria tersebut, secara umum teologi kerbau sejalan dengan kriteria-kriteria tersebut. Pendahuluan Berbicara tentang teologi pastinya mengarahkan seseorang untuk berbicara tentang Tuhan sebagaimana diisyaratkan oleh akar kata itu sendiri. Theologi (Theos dan logo. , yang secara harafiah berarti pengetahuan/ilmu tentang Tuhan. Dalam sejarah perkembangannya sebagai suatu cabang ilmu, teologi mengalami perkembangan yang Dalam perkembangan itu, orang Kristen melihat teologi bukan hanya sekedar ilmu tertutup dalam dirinya, tetapi menjadi ilmu terbuka terhadap situasi apapun. Dalam arti tertentu teologi bukan sekedar teori yang diperoleh di ruang kuliah tetapi ia menjadi sebuah bentuk refleksi atas pengalaman iman dalam kehidupan harian. Dengan kata lain teologi bukan hanya sekedar berbicara tentang Tuhan dengan segala seluk beluknya, melainkan juga bagaimana seseorang mendengarkan Tuhan berbicara dalam situasi dan pengalaman hidup harianya. Inilah suatu bentuk perkembangan baru berkaitan dengan teologi yang sesungguhnya dalam kehidupan Gereja. Dengan demikian muncul beberapa teolog yang mulai merefleksikan teologi secara baru sesuai dengan konteks dimana ia berteologi. Mereka menafsir teologi dari pengalaman hidup bersama orang-orang di sekitarnya. Mereka mulai beralih dari cara tafsir teologi ala rasionalisme barat menuju tafsiran teologi masyarakat/konteks budaya tempat mereka berteologi. Oleh karena itu, akhirakhir ini teologi kontekstual berkembang pesat di luar Eropa, misalnya Asia. Amerika (Lati. Afrika. Dengan itu pula muncul teolog-teolog baru dari luar Eropa yang merefleksikan teologi di wilayahnya. Awal-awalnnya teolog-teolog ini tampil sporadis Dosen tetap pada Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKe. St. Paulus Ruteng. Flores NTT JURNAL JUMPA Vol. VII. No. April 2. 67 merefleksikan situasi yang terjadi sebelum mendapat pengakuan dan dukungan resmi dari pusat Gereja Katolik dalam hal ini Roma. Misalnya munculnya teologi pembebasan di Amerika latin, teologi hitam di Afrika dll. Dalam konteks Asia, arah baru refleksi teologi memunculkan teolog-teolog baru dengan model pemikirannya masing-masing. Dalam tulisan ini penulis mau mengulas salah seorang teolog Asia bernama Kosuke Koyama, dengan gaya teologi kontekstualnya yang menarik tentang Teologi Kerbau (Water Buffalo Theolog. Kozuke Koyama termasuk salah seorang teolog yang kontekstual. Ia boleh dikatakan pandai membaca situasi tempat dimana ia berteologi. Sebagai seorang Jepang, ia tidak hanya berteologi di Jepang tetapi juga di tempat tugasnya di Muangthai. Di sanalah ia mengembangkan model teologi Kerbaunya itu. Namun, alih-alih mengatakan bahwa perkembangan teologi sudah merebak dalam konteks masing-masing benua, negara, suku dan bangsa tetapi perlu ada suatu arahan bersama yang menjadi starting point dalam mengembangkan model teologi Kontekstual itu sendiri. Hal ini amat perlu agar inti ajaran teologi, semisal Kitab Suci, ajaran dan tradisi Gereja tetap dipertahankan dan tidak melenceng jauh dari model-odel teologi kontekstual tersebut. Oleh Sebab itu. Stephen Bevans yang menjadi teolog pengampuh dari teologi kontekstual membeberkan kriteria-kriteria ortodoksi bagi pembentukan model/gaya teologi kontekstual di mana pun. Atas dasar itu pula, dalam tulisan ini penulis hanya mau membandingkan dan menelaah secara kritis tentang Teologi Kerbau karya Kozuke Koyama berdasarkan 5 kriteria ortodoksi Steven Bevans. II. Riwayat Hidup dan Karya2 Kozuke Koyama lahir di Tokyo pada tahun 1929. Masa kecil dan mudanya ia habiskan di Jepang. Pada tahun 1924 Koyama beralih ke ke New Jersey. Amerika Serikat untuk menyelesaikan gelar Ph. di Princeton Theological Seminary. Pada tahun 1959 ia menamatkan pendidikan Doktoralnya. Setalah menamatkan pendidikan di Amerika ia mengajar di Seminari Teologi di Thailand . Di sana ia diangkat menjadi direktur eksekutif Asosiasi Sekolah-Sekolah Teologi di Asia Tenggara yang berlokasi di Singapura . Koyama juga pernah menjadi editor dalam Jurnal Teologi Asia Tenggara, dan Dekan Sekolah Teologi Pascasarjana Asia Tenggara. Setelah itu ia bekerja sebagai dosen senior studi agama di University of Otago di Dunedin. Selandia Baru pada tahun 1974-1979. Mulai tahun 1980 Koyama bekerja di Union Theological Seminary di New York sampai pensiun pada tahun 1996. Untuk teman dekat dan keluarganya, ia dikenal dengan sebutan "Ko". Bersama dengan Toyohiko Kagawa . Kanzo Uchimura . , dan Kazoh Kitamori . , mereka dianggap sebagai tokoh dan teolog Jepang yang terkemuka pada abad ke-20. Koyama meninggal di sebuah Rumah Sakit di Springfield, karena kanker Oesophagal, pada tanggal 25 Maret 2009. meninggalkan seorang istri, dua orang anak . utra dan putr. dan lima orang cucu. Ada beberapa karyanya yang popular, diataranya. Water Bufallo Theology 1974 (Teologi Kerba. No Handle on The Cross 1977 . alib dapat dianggap simbol dari Riwayat Hidup Karya Kosuke http://id. org/wiki/Kosuke_Koyama, diakses tgl 27 Maret. Koyama. JURNAL JUMPA Vol. VII. No. April 2. 68 penderitaan Kristen. Dalam bukunya terdapat hubungan antara sejarah dan teologi. Koyama menggunakan salib tanpa gagang untuk menggambarkan bahwa pemikirannya telah bangkit sama seperti Yesus yang sudah bangkit dan tidak lagi membutuhkan gagang pada salib-Ny. Three Mile an Hour God 1980 (Tuhan dengan kecepatan tiga mil per jam dalam membimbing refleksi yang mendalam untuk mengatasi jarak dan waktu. Dalam buku ini Koyama menampilkan sebuah harapan dari refleksi dengan menganalogikan tanah perjanjia. , dan Mount Fuji and Mount Sinai 1985. Teologi Kerbau sebagai Model Teologi Kontekstual Kosuke Koyama menggemakan teologi kerbaunya melalui buku yang berjudul AuWater Buffalo TheologyAy yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1974, kemudian direvisi lagi tahun 1999. Pemikiran Koyama pada buku Water Buffalo Theology adalah mengenai Teologi Ekologi . ersatuan dengan universum-konteks budhis di Muangtha. Teologi Pembebasan . embebasan dari keterkungkungan budaya tradisional dan arus laju budaya kolonialism. , dan kontribusi terhadap dialog Kristen-Budha di Muangthai. Water Buffalo Theology muncul karena kesadaran Teologi Kristen di Asia terhadap dunia dalam hal ziarah dan misi. Dalam buku Water Buffalo Theology. Koyama mendorong pembaca untuk mematuhi panggilan kekristenan dari kasih Allah. Konsep tentang Teologi Kerbau bersumber dari pengalaman hidup harian Kosuke bersama orang-orang yang dijumpainya di Muangthai utara. Hampir setiap saat, dia selalu menyaksikan kawanan kerbau yang yang asik memakan rumput di sawah yang penuh lumpur. Hal ini merupakan sebuah inspirasi bagi Kosuke karena mengingatkan ia akan orang-orang yang menjadi lokus pewartanya di mana mereka menghabiskan sebagian besar waktunya bersama kerbau-kerbau itu di sawah. Kerbau-kerbau itu mengsiyaratkan kepadanya tentang bentuk pewartaan yang sederhana, menggunakan bahasa dan cara berpikir yang sederhana. Selain itu kerbau-kerbau itu mengisyarakan ia untuk menghindarkan segala pikiran yang abstrak dan menggunakan hal-hal nyata. Oleh Karena itu. Kosuke merefleksikan teologi dari arah bawah. Ia mengambil dan menempatkan pikiran-pikiran teolog besar seperti Thomas Aquinas (Summa Theologi. dan Karl Barth (Kirchliche Dogmati. dalam kepentingan kebutuhan intelektual dan rohaniah dari para petani. Menurutnya kebesaran karya-karya teologia tersebut harus diukur dengan pernyataan seberapa jauhnya karya-karya itu dapat berguna bagi para Dengan demikian Kosuke memulai teologinya dari kesulitan-kesulitan para petani dan tidak melalui pelukisan yang besar dari Summa Theologia dan Kirchilche Dogmatik. Kurang lebih ada empat hal pokok yang menjadi kata kunci dalam teologi kerbau Kosuke Koyama. Ibid. Kosuke Koyama. Injil Dalam Pandangan Asia (Berteologi Dalam Konteks Sejarah dan Kebudayaan Asi. (Jakarta: Yayasan Satya Karya, 1. , p. Kata Pengantar. JURNAL JUMPA Vol. VII. No. April 2. 69 Mengakarkan Teologi dalam sejarah Muangthai/ Thailand5 Koyama mengatakan tidak hanya ada satu Muangthai. Muangthai terdiri atas dua elemen masyarakat. Muangthai satu berarti masyarakat yang memegang nilai-nilai tradisional yang dibentuk oleh berbagai pengaruh nilai-nilai agama Budha Teravada yang berasal dari India dan Sri Lanka. Hal ini dicirikan oleh Antropologi dan sejarah yang apatis, suatu pandangan hidup yang dingin yang muncul dari pengamatan yang jujur terhadap kehancuran manusia sebagaimana yang menyebabkan Gautama menarik diri menuju kesunyian hidup. Muangthai dua adalah masyarakat yang dihasilkan oleh kolonialisme Barat dengan senjata dan obatnya. Kekuasaan kolonial menyebabkan luka, namun juga membawa modernitas dan kekristenan. Antropologi barat akhirnya ditelusuri kepada keprihatinan Allah pribadi dengan kasih dan keterlibatanNya membuat sejarah Israel menjadi unik di antara sejarah para bangsa di dunia ini. Sifat antropologi ini adalah sebagai hasil teologi kekristenan, modernisasi dan sekulerisasi. Koyama mengatakan bahwa Muangthai satu dan dua saling berkonfrontasi. Satu sisi yaitu Augesekan teologis yang terjadi pada perjumpaan Muangthai dan Israel. Muangthai satu memperbesar modernisasi. Ketepatan muangthai kedua membawa unsur teologis karena melibatkan perubahan sistem-sistem sosial termasuk religius. Dengan demikian. Muangtahai sesungguhnya dapat dipahami dan ditembus oleh iman Kristen hanya apabila ia dapat dilihat sebagai gabungan antara Muangtai satu dan Muangthai dua, antara modernitas dan tradisional, antara hotel dan kuil, mobil dan kerbau. Menurutnya, keadaan ini merupakan panggung perjumpaan antara penafsiran sejarah yang khas Mungthai dan teologi sejarah Israel. Perjumpaan ini mempersiapkan Muangthai untuk perjumpaan puncak dengan Kristus. Mengakarkan Teologi dalam Pemikiran Budaya di Muangthai6 Kosuke menjelaskan bahwa orang-orang Muangthai dipengaruhi oleh dua model kebudayaan yakni kebudayaan tradional pada ajaran-ajaran Budha dan kebudayaan kolonialisme barat. Hal ini kemudian menjadi sulit untuk mengakarkan teologi dalam kehidupan orang Muangthai. Namun. Kosuke coba mencari titik temu dan ia berhasil menciptakan benang merah itu melalui beberapa pemikiran. pertama sebuah analogi tentang bumbu penyedap makanan, antara lada dan pala. Gereja Barat membumbui makanan teologisnya dengan lada Aristoteles berupa rasionalisme dan hubungan sebabakibat. Gereja Muangthai mengambilnya dan memperbincangkan argument kosmologis mengenai keberadaan Allah yang berasal dari lada filsafat Aristoteles, namun menaburi dengan garam Budhist berupa ajaran Auasal-mula tergantungAy. Baik lada Arsistoteles maupun garam Budhist membawa kepada Kristus yang samar-samar dan Injil yang Namun pemecahannya bukanlah menolak lada dan garam. Hal-hal itu digunakan untuk membuat Kristus menjadi AusedapAy. Di Muangthai kita tidak berbicara semata-mata tentang keselamatan melalui darah Kristus melalui berita Budhis tentang dharma, malah Teologi Kerbau Kosuke Koyama, http://alterpernando. com/2010/10/teologi-kerbau-oleh-kosuke-koyama. html, diakses tgl 27 Maret. Ibid. JURNAL JUMPA Vol. VII. No. April 2. 70 kita berkata bahwa isi dharma itu adalah kematian Kristus sebagai Kurban. Pemikiran kedua adalah konsep tentang Ausesama logiAy. Hal ini bertolak dari pandangan bahwa orang Muangthai tidak tertarik akan Kristologi, tetapi mereka prihatin tentang sesama logi. Jadi berita Kristus harus diungkapkan dalam bahasa sesama logi-praktisnya, dalam mengenal sesama orang Muangthai secara langsung dan jujur. Memang bagi orang asing merupakan disiplin. Pemikiran ketiga berkaitan dengan masalah-masalah Asia dan Teologi Kristen. Bila para teolog di Asia ingin mengakarkan teologi Kristen dalam budaya-budaya mereka masing-masing, maka mereka harus menghadapi sepuluh masalah yaitu: . Dunia saling tergantung . Alkitab . Pemberitaan. Akomodasi . Orang-orang yang berkepercayaan lain . Dunia barat . Cina . Masalah kaya dan miskin . Dunia agama suku . Spiritualitas . Kejelasan agama Kristen. Mengakarkan Teologi dalam Kehidupan Budhis di Muangthai7 Kosuke menjelaskan bahwa Teologi Kerbau memusatkan perhatian pada orangorang Budhis dan bukan pada agama Budhis. Teologinya diarahkan pada orang yang diciptakan menurut gambar Allah dan bukan pada pranata-pranata buatan manusia. Kosuke memandang melalui Aumata yang berinkarnasiAy dan bukan melalui Aumata yang pintar berteologiAy. Oleh karena itu teologi tersebut adalah AumelihatAy dengan cara yang Misalnya teologi ini melihat orang Muangthai yang dingin dan Allah yang Allah bersifat panas karena Ia terlibat dalam sejarah manusia. Ia tidak menolak manusia dingin melainkan ingin menghangatkannya. Karena itu kepribadian Allah harus dijadikan bermakna bagi orang Muangthai. Teologi Kerbau melihat bahwa surat Yakobus ternyata cocok untuk bangsa Muangthai. Surat Yakobus bersifat dingin dalam isi, tetapi hangat dalam praktek. Benda bersifat sementara dan berubah, tetapi iman terhadap Allah yang tidak berubah diungkapkan dengan melibatkan diri dalam dunia orang marginal. Mengakarkan Teologi dalam Gaya Hidup Kristen8 Koyama menyatakan bahwa pusat teologi Kristen adalah Kristus yang tersalib dan misi orang-orang percaya di dunia. Misteri Salib itulah yang membuat semua orang tertarik kepada Yesus Kristus. Identifikasi dengan Kristus terungkap bila orang Kristen terlibat dalam dunia yang menderita. Lebih dari itu Koyama mendasarkan teologinya pada Injil Yohanes 14:26. Adapun pendasarnya adalah bahwa setiap orang yang berteologi berarti berpikir. Berpikir tentang sejarah dalam terang Firman Allah. Firman ini harus dipahami sebagai berita Teologis. Ini berarti pemahaman tentang Allah dengan sejarah dan manusia dalam terang Yohanes 14:26. dengan cara ini manusia diterangi secara rohani, dan ia menemukan identitas spiritualnya. Jadi bergumul tentang konteks historis tidak berarti bahwa konteks apa pun juga tidak dapat berubah dan berada di luar kendali kita. Konteks harus terus menerus ditantang dan dipaksa untuk berubah. Dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi (Filipi 2:. Sebagai contoh Koyama adalah tentang asal mula iman. Alkitab bercerita tentang iman yang menakjubkan dari perumpamaan, bukan Yahudi Ibid. Ibid. JURNAL JUMPA Vol. VII. No. April 2. 71 yang datang kepada Yesus karena keprihatinannya akan anak perempuannya yang dirasuk setan (Mat 15:21-. Sehubungan dengan itu. Kosuke belajar dari penafsiran Martin Luther tentang perikiop ini sebab dalam diri perempuan bukan Yahudi itu. Luther menemukan iman yang cukup kuat sehingga tidak mau mundur bahkan ketika Yesus tampak menolaknya. Koyama mengatakan bahwa ia begitu terkesan dengan penafsiran Luther sehingga ia menyampaikan kepada jemaat kecilnya di Muangthai ini. Dengan kekuatiran Koyama berpaling kepada Alkitab. Kali ini dia melihat dengan latar belakang sejarah, budaya dan keagamaan Muangthai. Ia memusatkan perhatian kepada iman perempuan yang menakjubkan itu dan menemukan dua unsur penting di dalamnnya: ia beriman kepada anak Daud dan ia menyingkapkan masalahnya. Hal yang terakhir itulah yang mendorngnya kepada iman tersebut. Kasih manusia yang alamiah berjumpa dan menyatu dengan kasih yang ilahi yang mengorbankan diri dan yang menghasilkan iman yang kuat. Koyama akhirnya menyimpulkan bahwa permulaan iman haruslah mengandung suatu faktor yang sah dan relevan secara universal yang dapat mengahapuskan batas agama-agama, budaya dan politik. Dan ia berterimakasih kepada orang Muangthai akan wawasan ini. Penafsiran Luther tentang serangan tentulah mempunyai makna yang mendalam dalam konteks kota Wittenberg dan masa Reformasi. Namun awal iman yang berkembang dari suatu pengalaman manusiawi, seperti kasih seorang ibu bagi anak perempuannya, itulah yang mempunyai makna di Bangkok yang beragam Budhis. Inilah titik temu dari kedua macam orang muangthai. IV. Tanggapan Kritis Terhadap Teologi Kerbau Berdasarkan Lima Kriteria Ortodoksi9 Berikut ini, penulis akan menelaah sejauh mana Teologi Kerbau ala Kosuke sesuai dengan lima kriteria ortodoksi tersebut. Kriteria Pertama. Sebuah rumusan teologi harus memiliki konsistensi internal. Artinya inti ajaran iman mesti tetap dipertahankan misalnya tentang konsep AuAllah adalah kasihAy, atau ajaran tentang Yesus adalah sunguh-sunguh Allah dan sungguhsungguh manusia. Berkaitan dengan kriteria ini. Kosuke telah merumuskan teologinya dengan berkonsisten pada inti ajaran iman, misalnya tentang Allah adalah kasih ia padukan dengan ajaran Budha tentang cinta terhadap sesama. Namun berkaitan dengan konsep Kristologi, disinyalir bahwa banyak orang Muangthai kurang menyukai Kristologi, tetapi mereka menyukai Ausesama logiAy, yang tidak lain dapat menggiring mereka pada Kristologi. Sesama logi berbicara tentang pengorbanan seseorang dalam menyelamatkan orang lain. Dengan ini jelas lambat laun ajaran tentang Kristologi Kriteria Kedua. Leks Orandi-Lex Credendi, cara berdoa mengacu cara kita Sejauh yang dipahami, teologi Kerbau sudah diupayakan dengan mengajak umat Muangthai berdoa kepada Tuhan Yesus. Kosuke mendasarkan Teologinya dari Lima Kriteria ortodoksi yang dimaksudkan adalah kriteria yang tertuang dalam karya Robert Screiter dalam buku Constructing Local Theologies yang kemudian dikutip oleh Stephen B. Bevans sebagai criteria yang menentukan kesejatian sebuah ungkapan teologi kontekstual tertentu. Bdk. Stephen B. Bevans. Model-Model Teologi Kontekstual. (Maumere: Ledalero, 2. , pp. JURNAL JUMPA Vol. VII. No. April 2. 72 Alkitab yang sesuai dengan situasi masyarakat Muangthai. Sehingga dari situ mereka memahami Allah dengan baik dan mereka bawa dalam doa dan penghayatan iman Kriteria Ketiga. Sebuah rumusan teologi mesti mempunyai nilai ortopraksis. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka (Mat: 7: . : Cinta kasih kristiani sebagai modal ortopraksis. Sebuah pertanyaan mendasar berkaitan dengan kriteria ini, sejauh manakah Teologi Kerbau berdaya guna dalam kehidupan masyarakat Muangthai dan sejalan dengan cinta kasih Kristiani? Teologi kerbau telah menunjukkan bahwa teologi ini telah mengakar dalam kehidupan umat dan membawa banyak manfaat terutama pembebasan dari keterkungkungan budaya tradisional dan arus modernitas yang menindas, selain itu bisa berdialog dengan budhisme dalam mewartakan nilai-nilai cinta kasih kemanusiaan. Di sini dapat dikatakan teologi kerbau sudah menerapkan bentuk ortopraksisnya yang benar. Kriteria Keempat. Sebuah rumusan teologi mesti terbuka terhadap kritik dari Gereja atau teologi-teologi kontekstual lainnya. Mesti disandingkan dengan yang orang lain yakini dan putuskan untuk diperbuat. Bidaah yang sebenarnya bukan ihwal melakukan suatu yang salah, melainkan melakukan salah secara sendirian. Peran Magisterium resmi Gereja Katolik Roma untuk melayani Gereja agar terlindung dari setiap perumusan doktrinal dan moral yang keliru. Teologi kontekstual selalu merupakan proses dialogal. Berkaitan dengan hal ini, teologi Kosuke Koyama masih berada dalam jalur yang lurus di mana disetujui oleh konteks Gereja Lokal. Gereja Lokal dan universal menyambut hangat atas prestasi penemuan baru di bidang teologi. Namun. Kosuke mendapat kritikan bahwa teologi kerbau juga terjerumus dalam eksploitasi satu teks atau ajaran alkitab menjadi pondasi yang mengharuskan semua teologi lain sesuai dan mendukung teologi tersebut. Kriteria Kelima, rumusan teologi mesti mempunyai kekuatan untuk menantang teologi lain. Dalam arti mampu memberi sumbangsih positif menyangkut ihwal dialog di antara rupa-rupa teologi kontekstual, membongkar bidang-bidang yang sampai saat ini tidak terpikirkan menjadi ajang refleksi teologi. Dalam hubungan dengan kriteria ini, teologi kerbau sudah menunjukkannya, di mana ia AumenantangAy Teologi Thomas Aquinas dan Karl Barth dari model pendekatannya terhadap masyarakat di Muangthai. Dia tidak melakukan teologi dengan pendekatan Thomas yang skolastik atau Karl Barth dengan gaya rasionalismenya. Namun ia menyelam terdahulu dalam lautan kehidupan umat, kemudian ia mengambil napas dari rumusan-rumusan teologi yang telah diperolehnya dan menyelam lagi, mewartakan karya Allah ke tengah umatnya. Berkat kreativitasnya pula, ia menemukan sebuah istilah teologi yang baru yang sesuai dengan konteks umat yakni Teologi Kerbau. Teologi Kerbau menjadi kata kunci dari seluruh model kehidupan umat di Muangthai. Penutup Kozuke Koyama adalah salah satu teolog Asia yang berbicara banyak tentang teologi kontekstual. Pemikirannya sangat cemerlang di mana ia menghasilkan sebuah metode teologi kontekstual baru dengan sebutan Teologi Kerbau. Teologi Kerbau JURNAL JUMPA Vol. VII. No. April 2. 73 merupakan buah refleksi dari cara berteologinya di Muangthai. Ia menerobos masuk ke dalam kebudayaan Muangthai dan setelahnya ia coba memasukan teologi Kristen dalam budaya tersebut. Berdasarkan lima kriteria ortodoksi sebagaimana yang mesti ada dalam sebuah teologi kontekstual. Teologi Kerbau ala Kosuke Koyama ini sejalan dengan kriteriakriteria tersebut. Oleh sebab itu, model teologi ini diharapkan untuk terus dipertahannkan dan dikembangkan. Namun, diupayakan pula agar teologi ini mesti memperhatikan beberapa kritikan yang sesuai dengan perkembangan zaman, supaya tetap up to date. Daftar Pustaka