https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . DOI: https://doi. org/10. 31599/rpvwym36 https://creativecommons. org/licenses/by/4. Implementasi Psikoedukasi Teenage dan Sex Education pada Remaja Firnanda Dewi Nurhaliza1. Aisya Dwi Rohmawati2. Retno Larasati Widi3. Nataniel Wellem Tabalena4. Shofi Risqia Rachma5. Esther Gabriella Putri6. Prisma Endah Melanie7. Isrida Yul Arifiana8. Sayidah Aulia UI Haque9 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Jawa Timur. Indonesia, firnanda@gmail. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Jawa Timur. Indonesia, aisyadwi@gmail. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Jawa Timur. Indonesia, retnolarasati@gmail. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Jawa Timur. Indonesia, nataniel@gmail. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Jawa Timur. Indonesia, shofirisqia@gmail. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Jawa Timur. Indonesia, esthergabriella@gmail. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Jawa Timur. Indonesia, prisma@gmail. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Jawa Timur. Indonesia, isrida@untag-sby. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Jawa Timur. Indonesia, sayidahaulia@untag-sby. Corresponding Author: isrida@untag-sby. Abstract: Adolescence is a developmental phase marked by significant biological, psychological, and social changes, making adolescents vulnerable to various problems, including sexual harassment. High sexual urges not yet balanced by mature self-control, minimal reproductive health education, and the influence of the environment and digital media are the main factors contributing to the increase in cases of sexual harassment among adolescents. National data shows a significant increase in cases of sexual violence from year to year, occurring both in schools, public spaces, and online media. This study aims to examine the phenomenon of sexual harassment among adolescents, its common forms, and the importance of education as a preventative measure. This activity targets adolescents as an at-risk group, and educational institutions as strategic environments for preventing sexual violence. The implementation process was carried out through a literature review and analysis of secondary data from various national reports and relevant previous research. The study results indicate that sexual harassment among adolescents occurs in verbal, nonverbal, and online forms, with serious impacts on the psychological well-being of victims. Comprehensive reproductive health education and strengthening protection systems in educational environments have proven to be important steps in reducing the risk of sexual harassment. The benefits of this activity are expected to increase 46 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . public understanding and awareness of the urgency of preventing sexual violence against The conclusion of this activity confirms that preventive efforts through education, systemic support, and firm regulations are essential to protect adolescents from various forms of sexual harassment. Keywords: Juvenile Delinquency. Sex Education. Psychoeducation. Adolescents Abstrak: Masa remaja merupakan fase perkembangan yang ditandai oleh perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang signifikan, sehingga menjadikan remaja kelompok yang rentan terhadap berbagai permasalahan, termasuk pelecehan seksual. Tingginya dorongan seksual yang belum diimbangi dengan kematangan kontrol diri, minimnya pendidikan kesehatan reproduksi, serta pengaruh lingkungan dan media digital menjadi faktor utama meningkatnya kasus pelecehan seksual pada remaja. Data nasional menunjukkan peningkatan signifikan kasus kekerasan seksual dari tahun ke tahun, baik yang terjadi di lingkungan sekolah, ruang publik, maupun media daring. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena pelecehan seksual pada remaja, bentuk-bentuk yang sering terjadi, serta pentingnya edukasi sebagai upaya pencegahan. Sasaran kegiatan ini adalah remaja sebagai kelompok berisiko, serta institusi pendidikan sebagai lingkungan strategis dalam pencegahan kekerasan seksual. Proses pelaksanaan dilakukan melalui kajian literatur dan analisis data sekunder dari berbagai laporan nasional serta penelitian terdahulu yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pelecehan seksual pada remaja terjadi dalam bentuk verbal, nonverbal, dan daring, yang berdampak serius terhadap kondisi psikologis korban. Edukasi kesehatan reproduksi yang komprehensif dan penguatan sistem perlindungan di lingkungan pendidikan terbukti menjadi langkah penting dalam menekan risiko terjadinya pelecehan seksual. Manfaat kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai urgensi pencegahan kekerasan seksual pada remaja. Kesimpulan kegiatan ini menegaskan bahwa upaya preventif melalui edukasi, dukungan sistemik, dan regulasi yang tegas sangat diperlukan untuk melindungi remaja dari berbagai bentuk pelecehan seksual. Kata Kunci: Kenakalan Remaja. Pendidikan Seks. Psikoedukasi. Remaja PENDAHULUAN Masa remaja merupakan fase transisi penting dalam kehidupan seseorang, yaitu peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa. Fase ini ditandai oleh perubahan fisik, emosional, dan sosial yang signifikan, termasuk pembentukan identitas diri, eksplorasi nilai-nilai baru, serta pemahaman terhadap dinamika hubungan interpersonal, termasuk hubungan seksual. Setiap fase kehidupan memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari fase lainnya, begitu pula dengan fase remaja. Fase ini memiliki ciriciri unik yang berbeda dari masa kanak-kanak, dewasa, maupun usia lanjut. Selain itu, setiap fase juga membawa kondisi dan tuntutan khas yang memengaruhi individu dalam cara mereka bersikap dan bertindak, sehingga respons terhadap situasi tertentu akan berbeda di setiap fase perkembangan. 47 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . Dari perspektif psikologis, remaja sangat rentan melakukan pelecehan seksual karena beberapa faktor kompleks. Menurut penelitian Santrock . , masa remaja adalah periode transisi yang penuh gejolak emosional dan hormon. Pada tahap ini, mereka mengalami perubahan biologis yang signifikan, yang memicu dorongan seksual yang kuat namun belum diimbangi dengan kontrol diri yang matang. Selain itu, pengaruh lingkungan sosial, media sosial, dan paparan konten dewasa yang mudah diakses turut berkontribusi terhadap perilaku seksual menyimpang (Pratama & Wirawan, 2. Pada masa remaja, aktivitas seksual cenderung meningkat seiring dengan perubahan hormon yang memengaruhi dorongan seksual dan rasa ingin tahu yang alami. Peningkatan aktivitas seksual ini memerlukan dukungan berupa pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif. Pendidikan ini mencakup pemahaman tentang batasan antara lawan jenis, pentingnya komunikasi yang sehat, serta risiko yang dapat muncul dari perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab. Kurangnya edukasi yang memadai dapat meningkatkan risiko remaja menjadi pelaku atau korban pelecehan seksual akibat kurangnya pemahaman akan konsekuensi dan norma yang sehat. Pada tahun 2017, jumlah kasus kekerasan seksual yang dilaporkan menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 74% dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah total kasus kekerasan terhadap perempuan pada 2017 tercatat sebanyak 348. 446 kasus, meningkat tajam dari 259. 150 kasus pada tahun 2016. Data ini menunjukkan tren yang mengkhawatirkan dalam isu kekerasan seksual dan perlakuan diskriminatif terhadap Lebih lanjut, survei nasional oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen pA) pada tahun 2018 mencatat bahwa 1 dari 17 anak laki-laki dan 1 dari 11 anak perempuan pernah mengalami pelecehan seksual. Data ini mempertegas bahwa pelecehan seksual tidak hanya terbatas pada perempuan, melainkan juga dapat dialami oleh laki-laki. Meskipun demikian, pada umumnya korban pelecehan seksual adalah perempuan, sementara pelakunya sebagian besar adalah laki- laki, sehingga persepsi publik sering kali mengabaikan laki-laki sebagai korban. Kasus kekerasan seksual terus berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 2022, tercatat 27. 589 kasus kekerasan seksual, dengan korban laki-laki sebanyak 4. dan korban perempuan sejumlah 25. Fenomena ini menunjukkan bahwa kekerasan seksual bisa terjadi di berbagai lingkungan, termasuk di tempat yang seharusnya aman seperti sekolah. Bahkan, sekolah sering menjadi tempat utama terjadinya pelecehan seksual, yang memperlihatkan perlunya penguatan sistem pengawasan dan edukasi di institusi pendidikan. Selain di sekolah, pelecehan seksual juga marak terjadi di ranah publik seperti pertokoan, jalan raya, atau transportasi umum, biasanya dilakukan oleh pelaku yang tidak Perkembangan teknologi juga telah membuka pintu baru bagi terjadinya pelecehan seksual melalui media daring, seperti internet atau telepon. Bentuk pelecehan seksual yang sering dilaporkan meliputi komentar bernada mengancam atau menyinggung . %), perlakuan langsung secara fisik . %), serta pelecehan seksual di dunia maya . %). Pelecehan seksual sendiri merupakan tindakan yang sangat merugikan dan merendahkan martabat manusia, terutama kaum perempuan dan anak-anak. Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pelecehan seksual adalah segala bentuk 48 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . perilaku yang bersifat seksual yang dilakukan seseorang terhadap orang lain tanpa seizin atau persetujuan korban, yang mengakibatkan rasa tidak nyaman, tertekan, dan merasa direndahkan (Sari & Hartati, 2. Tindakan ini dapat terjadi dalam berbagai konteks, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, hingga ruang publik. Pelecehan seksual verbal adalah bentuk pelecehan yang dilakukan melalui katakata atau ungkapan yang bersifat seksual dan tidak pantas. Hal ini mencakup komentar cabul, lelucon bernuansa seksual, siulan menggoda, atau perkataan yang membuat korban merasa tidak nyaman. Menurut penelitian Fauziah . , pelecehan verbal sering kali dianggap sepele oleh pelaku, namun memiliki dampak psikologis yang sangat mendalam bagi korban. Adapun pelecehan seksual nonverbal merupakan tindakan yang dilakukan tanpa menggunakan kata-kata, namun memiliki muatan seksual yang jelas. Hal ini termasuk sentuhan tidak senonoh, tatapan yang merendahkan, gerakan tubuh yang menunjukkan hasrat seksual, hingga tindakan memperlihatkan bagian tubuh pribadi secara paksa. Menurut kajian. Wahyuni . , pelecehan nonverbal seringkali lebih sulit dibuktikan namun memiliki dampak traumatis yang sama besarnya dengan pelecehan Fenomena ini menegaskan pentingnya edukasi tentang kekerasan seksual, baik secara langsung maupun melalui media, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Selain itu, diperlukan peraturan hukum yang lebih ketat dan dukungan sistemik untuk melindungi korban dan mencegah terjadinya kekerasan seksual di masa depan. GAMBARAN LOKASI PELAKSANAAN Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan di SMP 12 Surabaya, khususnya pada siswa kelas 8, ditemukan banyak siswa yang mengalami pelecehan seksual baik secara verbal maupun non-verbal. Temuan ini sangat mengkhawatirkan dan membutuhkan penanganan serius. Hasil Identifikasi Kebutuhan: Para siswa masih bingung membedakan mana yang termasuk pelecehan dan mana yang bukan. Mereka butuh penjelasan sederhana tentang bentuk-bentuk pelecehan, mulai dari kata-kata tidak pantas sampai sentuhan yang tidak Banyak siswa yang tidak tahu harus berbuat apa saat mengalami pelecehan. Mereka perlu tahu bagaimana menolak, menghindar, dan mencari bantuan saat situasi tidak aman. Siswa perlu punya tempat untuk bercerita tanpa takut disalahkan atau Mereka butuh orang dewasa yang bisa dipercaya untuk mendengarkan masalah mereka. Harus ada cara melaporkan kejadian yang membuat siswa merasa aman. Guru dan staf sekolah juga perlu tahu bagaimana menangani laporan dengan tepat. Orangtua harus tahu tanda-tanda bila anaknya mengalami pelecehan dan bagaimana mendampingi anak yang jadi korban. Proses identifikasi kebutuhan psikoedukasi di SMP 12 Surabaya dilakukan melalui wawancara mendalam dengan siswa kelas 8 49 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . Gambar 1. Peta Lokasi Pelaksanaan Sumber: Microsoft Bing Maps METODE Metode pelaksanaan kegiatan dengan metode pelatihan. Pengumpulan data atau analisis kebutuhan menggunakan Training Needs Assessment melalui proses wawancara. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan di SMP 12 Surabaya, khususnya pada siswa Adapun desain psikoedukasi yang dirancang adalah sebagai berikut: Materi Pengertian Pelecehan Seksual Bentuk-Bentuk Pelecehan Seksual Dampak Pelecehan Seksual Cara Mencegah Pelecehan Seksual Cara Menghadapi Pelecehan Seksual Tabel 1. Desain Psikoedukasi Langkah-langkah Media Menjelaskan definisi pelecehan seksual secara jelas dan mudah dipahami, baik verbal maupun nonverbal. Menjelaskan berbagai bentuk pelecehan seksual secara verbal dan nonverbal, dilengkapi dengan contohcontoh konkret. Menjelaskan dampak pelecehan seksual secara fisik, psikologis, dan sosial, serta bagaimana dampaknya dapat mempengaruhi kehidupan Slide Video Memberikan tips dan strategi Ilustrasi pencegahan pelecehan Handout seksual, baik yang bersifat proaktif . elindungi diri sendir. maupun reaktif . engatasi situas. Memberikan panduan tentang langkah-langkah yang dapat diambil jika mengalami pelecehan seksual, meliputi: Tetap tenang. Menolak dengan tegas dan jelas. Melaporkan kepada orang dewasa Mencari bantuan jika Evaluasi Program Metode Observasi siswa selama Kuesioner Refleksi Tulisan pendek selama sesi Umpan balik dari fasilitator yang dipelajari Seminar 50 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Peserta yang berperan sebagai pelaku diminta untuk melakukan sebuah tindakan verbal yang bisa ketidaknyamanan, seperti memberikan komentar Simulasi yang tidak pantas atau Kejadian Pelecehan Peserta yang berperan Seksual Verbal sebagai korban kemudian diminta untuk merespons dengan cara yang aman, seperti mengatakan "Tidak, saya tidak suka itu!" atau "Tolong jangan berbicara seperti itu pada Pelaku dapat berperan dengan melakukan tindakan yang bisa membuat korban merasa tidak nyaman, seperti memberikan tatapan yang tidak sopan atau Simulasi gerakan tubuh yang Kejadian bernada seksual. Pelecehan Korban dalam peran ini Seksual diminta untuk merespons. Nonverbal misalnya dengan menghindari kontak mata atau menjauhkan diri dari pelaku, sambil berbicara dengan tegas bahwa mereka tidak suka dengan perlakuan tersebut. Role play diperpanjang dengan situasi yang lebih rumit, misalnya ketika pelecehan dilakukan dalam bentuk yang lebih tersembunyi, seperti Simulasi melalui media sosial atau dalam situasi yang Situasi yang Lebih Kompleks melibatkan banyak orang. Peserta diajak untuk berlatih bagaimana cara menyikapi situasi semacam ini, dengan berbicara langsung kepada pelaku atau melaporkan ke pihak yang Vol. No. 2, . Alat bantu roleplay: Script skenario kasus Observasi siswa selama role play. Refleksi Tulisan pendek selama sesi. Umpan balik dari fasilitator yang dipelajari. Roleplay 51 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pre-test, sebagian besar siswa dan siswi belum memahami secara baik apa itu pelecehan seksual, baik secara verbal maupun non-verbal. Hal ini terlihat dari distribusi jawaban mereka yang sangat bervariasi. Persentase jawaban terbesar terdapat pada Soal No. 4, yaitu 34%, yang mungkin menunjukkan bahwa mereka hanya memahami sebagian kecil dari konsep pelecehan seksual tertentu. Gambar 2. Diagram Hasil Pre Test Namun, jawaban pada Soal No. 2 hanya sebesar 6%, yang menunjukkan minimnya pemahaman mereka terhadap bentuk pelecehan lain. Secara keseluruhan, hasil ini menggambarkan bahwa siswa-siswi kelas 8 mengalami kesulitan dalam mengenali jenisjenis pelecehan seksual, baik melalui kata-kata . maupun tindakan . on-verba. Setelah diberikan edukasi atau pelatihan terkait pelecehan seksual secara verbal dan non-verbal, pemahaman siswa dan siswi mengalami peningkatan yang signifikan. Jawaban mereka lebih merata, dengan persentase tertinggi pada Soal No. 4 dan No. 5, masingmasing sebesar 21%. Ini menunjukkan bahwa mereka mulai memahami bentuk- bentuk pelecehan seksual, baik yang berkaitan dengan perilaku fisik maupun non-fisik, secara lebih seimbang. Meskipun masih ada sedikit perbedaan dalam distribusi pemahaman, hasil ini menunjukkan bahwa edukasi telah memberikan dampak positif pada pengetahuan Gambar 3. Diagram Hasil Post Test 52 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . Hasil analisis pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa dan siswi kelas 8 SMP Negeri 12 Surabaya mengenai pelecehan seksual secara verbal dan non-verbal setelah diberikan psikoedukasi. Sebelumnya, mereka kurang mampu mengenali bentuk-bentuk pelecehan tersebut, baik dalam perkataan maupun tindakan, sehingga rentan menjadi korban atau bahkan pelaku tanpa disadari. Namun, setelah dilakukan intervensi, siswa dan siswi mulai dapat memahami dan membedakan bentuk-bentuk pelecehan seksual. Hal ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan kesadaran mereka agar lebih waspada dan mampu menjaga diri serta lingkungan sekitar dari tindakan yang tidak pantas. Edukasi seperti ini perlu terus dilakukan agar pemahaman siswa-siswi lebih mendalam dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hasil kuesioner evaluasi menunjukkan beberapa hasil penting: Respon Positif Peserta Sebagian besar peserta memberikan tanggapan positif terhadap pemahaman materi yang telah disampaikan. Dari kuesioner evaluasi, rata-rata peserta menyatakan bahwa mereka merasa lebih memahami pelecehan seksual. Peningkatan Pemahaman Analisis kuesioner pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan skor pemahaman peserta. Peserta mampu menjawab pertanyaan tentang definisi, bentuk, dampak, dan strategi pencegahan pelecehan seksual dengan lebih akurat setelah mengikuti program. Keterampilan Praktis yang Terukur Observasi selama role-play menunjukkan bahwa peserta mampu merespons skenario pelecehan seksual dengan cara yang tepat, seperti menolak dengan tegas atau mencari bantuan dari orang dewasa terpercaya. Refleksi yang Mendalam Tulisan refleksi individu peserta menunjukkan bahwa mereka tidak hanya memahami konsep tetapi juga menginternalisasi pesan program. Banyak yang merasa lebih termotivasi untuk berbicara terbuka tentang isu ini di lingkungan Gambar 4. Dokumentasi Kegiatan KESIMPULAN Pada masa remaja, individu mengalami perubahan besar baik secara fisik maupun emosional, termasuk peningkatan rasa ingin tahu terhadap hubungan antarjenis kelamin. 53 | P a g e https://ejurnal. id/index. php/atribusi Vol. No. 2, . Namun, kurangnya pemahaman tentang batasan sosial sering kali membuat remaja rentan terhadap pelecehan seksual, baik sebagai pelaku maupun korban. Data menunjukkan angka pelecehan seksual di kalangan remaja terus meningkat, termasuk di lingkungan yang seharusnya aman seperti sekolah. Situasi ini menuntut adanya edukasi kesehatan reproduksi yang mudah dipahami untuk melindungi remaja dari risiko ini. Edukasi tentang pelecehan seksual harus mencakup pemahaman tentang bentukbentuk pelecehan, baik verbal maupun nonverbal, serta dampaknya secara fisik dan Program psikoedukasi di SMP Negeri 12 Surabaya menunjukkan bahwa diskusi interaktif, simulasi, dan pelatihan keterampilan praktis efektif dalam meningkatkan kesadaran remaja. Peserta tidak hanya mampu mengenali bentuk pelecehan seksual tetapi juga dapat mempraktikkan cara menghadapinya, seperti menolak secara tegas atau melaporkan kejadian kepada pihak berwenang. Meski demikian, beberapa hambatan seperti keterbatasan waktu, partisipasi yang tidak merata, dan kesiapan emosional peserta perlu diperhatikan. Edukasi yang berkelanjutan dengan metode yang lebih inklusif dan melibatkan semua pihak, termasuk guru dan orang tua, sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi remaja. Dengan pendekatan ini, diharapkan angka pelecehan seksual dapat ditekan, dan remaja lebih siap melindungi diri mereka dari situasi berisiko. REFERENSI