(JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. IMUNOMODULATOR ZINC (ZN) TERHADAP PERTUMBUHAN PARASITEMIA PADA MENCIT BALB/C YANG DIINFEKSI PLASMODIUM BERGHEI ANKA ZINC (ZN) IMMUNOMODULATOR AGAINST PARASITEMIA GROWTH IN BALB/C MICE INFECTED WITH PLASMODIUM BERGHEI ANKA Info Artikel Diterima: 24 November 2025 Direvisi: 2 Desember 2025 Disetujui:30 Desember 2025 Ni Nyoman Ariwidiani1. Rosnalia Widyan2. Wulan Ratia Ratulangi3 D4 Teknologi Laboratorium Medis. Universitas Bima Internasional MFH Mataram. NTB. Indonesia D3 Farmasi. Universitas Bima Internasional MFH Mataram. NTB. Indonesia (E-mail penulis korespondensi: arhiwidhia13@gmail. ABSTRAK Latar Belakang : Infeksi malaria merupakan penyakit dengan mortalitas yang signifikan, khususnya di daerah tropis dan subtropic. Pecahnya sel darah merah yang terinfeksi akan merangsang peran system imun, sel T CD4 akan melapaskan sitokin IFN- yang berperan dalam merangsang aktivasi sel limfosit T CD8 yang berperan dalam mengontrol parasitemia. Zinc diketahui terlibat dalam pensinyalan sel T yang dapat meningkatkan ekspresi sitokin IFN- yang berperan dalam eliminasi Metode : 20 mencit jantan yang telah diinfeksi plasmodium berghei (P. ANKA yang dibagi menjadi 4 grup. Grup 1-2 berikan zinc sebagai terapi dengan konsentrasi 10mg/ml dengan dosis 50mg/kgBB dan 100mg/kgBB. Grup 3 merupakan negative control (NC) diberikan 0. 5% sodium carboxylmethyl cellulose (CMCN. Grup 4 positif control yang diterapi dengan dihyartemisinpiperaquine (DHP) dengan konsentrasi 187. 2 mg/kgBB. Terapi diberikan selama 4 hari pengamatan dan parasitemia diamati setiap hari setalah 24 jam pemberian pertama hingga hari ke 4 setelah Hasil : hasil significant didapat pada analis penghambatan parasitemia setelah pemberian zinc dihari ke 3 . =0. dan ke 4 . =0. berdasarkan hasil analisis menunjukan bahwa zinc memiliki aktivitas anti malaria yang mampu menghambat pertumbuhan parasitemia pada mencit uji. Kesimpulan : zinc sebagai antimalaria menunjukan efektivitas dalam penurunan parasitemia pada mencit BALB/c yang terinfeksi P. berghei ANKA. Kata Kunci : Malaria. Plasmodium berghei ANKA. Zinc. Imunomodulator ABSTRACT Background: Malaria infection is a disease with significant mortality, especially in tropical and subtropical areas. The rupture of infected red blood cells will stimulate the role of the immune system. CD4 T cells will release IFN- cytokines that play a role in stimulating the activation of CD8 T lymphocytes, which play a role in controlling parasitemia. Zinc is known to be involved in T cell signaling that can increase the expression of IFN- cytokines that play a role in parasite elimination. Methods: 20 minutes after being infected with P. berghei ANKA, were divided into 4 groups. Group 1-2 were given zinc as therapy with a concentration of 10mg/ml with a dose of 50mg/kgBW and 100mg/kgBW. Group 3 was a negative control (NC) given 0. 5% sodium carboxylmethyl cellulose (CMCN. Group 4 was a positive control treated with dihydroartemisinin-piperaquine (DHP) with a concentration of 187. 2 mg/kgBW. Therapy was given for 4 days of observation, and parasitemia was observed every day after 24 hours of the first administration until the 4th day after administration. Results: Significant results were obtained in the parasitemia inhibition analysis after zinc administration on day 3 . = 0. and day 4 . = 0. Based on the results of the analysis, it was shown that zinc has anti-malarial activity that can inhibit the growth of parasitemia in test mice. (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. Conclusion: Zinc as an antimalarial showed effectiveness in reducing parasitemia in BALB/c mice infected with P. berghei ANKA. Keywords : Malaria. Plasmodium berghei ANKA. Zinc. Imunomodulator PENDAHULUAN Kasus malaria pada tahun 2020 diestimasikan sebanyak 627. 000 kematian dan 241 juta kasus dengan 77% kasus kematian pada anak dibawah 5 tahun. 1 Penyebab infeksi malaria merupakan infeksi parasite yang termasuk dalam genus Plasmodium yang merupakan parasite intraseluler amoeboid . etabolit hemoglobin yang tidak laru. Siklus hidup Plasmodium sangat kompleks dan bertempat pada 2 fase, fase seksual dan Kondisi patologis malaria timbul pada tahap eritrositik dimana parasite bereplikasi dengan cepat dan menyebabkan tingginya sel darah merah terinfeksi parasite. Aktivasi system imun diinisiasi oleh pecahnya sel darah merah, mengaktivasi innate respon yang akan menginduksi respon Respon imun adaptive diperankan oleh sel limfosit T CD4 dan sel T CD8 . Respon sel T CD4 terhadap antigen plasmodium ditandai dengan diproduksinya kadar IFN- yang tinggi pada pasien dengan kondisi parasitemia berat. 4 IFN- yang dihasilkan akan mengoptimalkan aktivitas sel T CD8 , sel B dan makrofag. IFN- mempengaruhi transfer isotype pada sel B yang mengarah pada produksi antibody sitofilik yang mempu mengikat parasite bebas dan menghalagi invasi sel darah merah, opsonisasi, dan mengikat permukaan sel darah merah yang terinfeksi dengan menginduksi fagositosis yang bergantung pada antibody. Imunokompetensi dipengaruhi nutrisi, terutama respon imun yang dimediasi sel, aktivitas fagositosis dan produksi sitokin maupun sintesis antibody. Asupan nutrisi yang tidak memadai dan mencukupi dapat mempengaruhi fungsi dari imun system dan memungkinkan adanya radikal bebas yang tinggi yang dapat menyebabkan stress oksidatif. 7 Infeksi dan defisiensi nutrisi mempunyai hubungan yang Kebutuhan micronutrient berkontribusi terhadap aktivitas fagositosis dan aktivitas neutrophil dan makrofag. Pemanfaatan micronutrient yang mampu berperan dalam imunomodulator terhadap infeksi akan menjadi fokus dalam penelitian ini. Zinc berperan penting dalam modulasi system imun, termasuk peranan sebagai antiparasit. Zinc berperan dalam rekrutmen granulosit neutrophil dan proses kemotasis yang mempengaruhi NK cells, phagositosis, dan CD4 dan CD8 . Defisiensi zinc berat berkaitan dengan peningkatan sitokin proinflamasi. 9 Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa zinc sebagai imunomodulator yang dapat menekan pertumbuhan parasitemia pada mencit BALB/c yang diinfeksi Plasmodium berghei ANKA. METODE Penelitian ini telah mendapatkan review oleh Ethical Committee of Universitas Airlangga Faculty of Dental Medicine sebagai mana telah di deskripsikan pada sertifikat etik dengan nomor: 015/HRECC. FOD/I/2020. Penelitian ini merupakan desain penelitian randomized post test only control group perlakuan dalam penelitian ini menggunakan metode tes standar untuk uji Penelitian ini menggunakan mencit strain BALB/c jantan dengan rentang usia 2-3 bulan, dengan berat 20-30g, yang dilakukan di laboratorium hewan departemen biokimia, universitas Airlangga. Surabaya. Hewan coba diaklimatisasi selama 7 hari. Hewan uji sebanyak 20 ekor dibagi menjadi 4 kelompok yang terdiri dari K1. K2, yang merupakan kelompok control dan P1 dan P2 yang merupakan kelompok uji. Konsentrasi larutan zinc sulfate yang digunakan adalah 1% . mg/m. Dosis uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah 50mg/KgBB dan 10mg/KgBB. Dosis uji berdasarkan dosis konstan zinc dalam tubuh tikus adalah 30mg/kg dan konsetrasi tertinggi 100mg/kg dan jika berlebih zinc tidak akan terserap baik dalam tubuh tikus. 11 Isolasi beku dari P. berghei ANKA didiamkan dalam suhu ruang, yang kemudian di inokulasikan dalam 0. 2 ml darah terinfeksi ke mencit donor secara Parasite di amati setiap hari Tabel 1 rerata pengamatan parasitemia D-0 sampai dengan D-4 Hari Pengamatan Kelompok D-0 D-1 D-2 D-3 D-4 Kontrol Negatif Kontrol Positif Zn 50 mg/kgBB Zn 100 mg/kgBB Berdasarkan tabel 1 rerata pengamatan parasitemia D-0 sampai D-4 pada masingmasing kelompok uji dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan parasite masih tetap terjadi pada setiap kelompok uji, kecuali pada kelompok kontrol positif yang diberikan DHP dengan dosis 187,2mg/kgBB. Pertumbuhan parasite tertinggi terjadi pada kelompok kontrol negative. PARASITEMIA (%) (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. dalam preparate hapusan Giemsa. Ketika parasite telah mencapai 10-20%, mencit akan dikorbankan dan darah akan di kumpulkan melalui pengambilan di jantung sebagai darah parasite uji. Dua puluh ekor mencit Jantan BALB/c akan diinfeksi dengan 0. 2 mL of darah yang mengandung 1x107 sel darah yang mengandung parasite yang di peroleh dari mencit donor. Mencit dibagi dalam 4 kelompok yang terdiri dari kelompok 1 untuk control negative yang hanya diberikan larutan 5%CMCNa, kelompok 2 untuk control positif yang diberikan larutan obat antimalaria dari dihydroartemisinin-piperaquin (DHP) sebesar 187,2 mg/KgBB. Kelompok 3 untuk kelompok larutan uji dengan konsentrasi 50mg/KgBB dan kelompok 4 untuk kelompok larutan uji dengan konsentrasi 100mg/KgBB. Uji kuratif suplementasi zinc diberikan sesuai dengan metode Ryley dan Peters. Gambar 1. alur uji kuratif. Keterangan D0-D4 perlakuan uji kuratif pada setiap O1-O4 pengamatan parasitemia pada setiap kelompok Pemeriksaan parasitemia dilakukan dengan metode hapusan darah tipis yang diperoleh melalui vena ekor mencit pada setiap Perhitungan parasite dilakukan setiap hari mulai dari D0 perlakuan hingga D4 Parasitemia dihitung berdasarkan !"#$"%&#$ $("#)*( &# Parasitemia = ycu 100% ,--- ("#$"%&#$ HASIL Pengamatan sebelum D0 perlakuan hingga D4. Hasil pengamatan rata-rata parasitemia disajikan dalam bentuk tabel dan grafik hasil pengamatan parasiemia D0 sampai dengan D4. 20,00 15,00 10,00 5,00 0,00 D-0 D-1 D-2 D-4 Hari Perlakuan NEG POS Zn50 Zn100 Gambar 1 grafik pertumbuhan parasitemia D-0 sampai dengan D-4 Gambar 2 menunjukan pertumbuhan parasitemia dalam bentuk grafik, berdasarkan grafik tersebut pertumbuhan parasite pada kelompok suplementasi zinc tetap terjadi pertumbuhan parasite pada kelompok kontrol Pada kelompok kontrol positif menunjukan garis pertumbuhan parasite yang menurun pada D4. Pertumbuhan parasite pada kelompok kontrol negative menunjukan peningkatan parasite yang cepat terutama pada D3-D4. Uji efektifitas suplementasi zinc terhadap pertumbuhan parasitemia dilakukan dengan perhitungan persentase pertumbuhan (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. dan penghambatan parasitemia pada masingmasing kelompok uji. Persentase pertumbuhan parasitemia dilakukan dengan menghitung selisih pertumbuhan parasitemia perhari dan dibagi dengan banyaknya hari perlakuan. Sedangkan persentase penghambatan dihitung dengan membagi persen pertumbuhan parasite dengan persen pertumbuhan kelompok kontrol Hasil perhitungan pertumbuhan dan penghambatan parasite disajikan pada tabel 2. Tabel 2 persen pertumbuhan dan persen penghambatan parasitemia pada setiap kelompok uji Pertumbuhan Penghambatan Kontrol Positif Kontrol Negatif Zinc 50 mg/kgBB Zinc 100 mg/kgBB Berdasarkan menunjukan terjadi perbedaan signifikan pada pertumbuhan dan penghambatan parasitemia pada hari ke 3 . >0. dan hari ke 4 . >0. untuk mengetahui beda pada setiap kelompok dilakukan analisis lanjutan dengan metode Tukey dan mann-whitney pada setiap kelompok uji yang disajikan pada tabel 4. Tabel 4 analisis lanjutan parasitemia pada setiap kelompok uji Nilai p hari ke2 NEG dan POS NEG dan Zn50 NEG dan Zn100 POS dan Zn50 POS dan Zn100 Zn50 dan Zn100 Tabel 3 hasil uji analisis beda parasitemia Berdasarkan tabel 2, persentase pertumbuhan parasitemia pada kelompok uji suplementasi zinc dosis 50mg/kgBB dan 100 mg/kgBB adalah 0. 35% dan 0. Hasil ini menunjukan pertumbuhan parasitemia pada pemberian suplemen zinc masih mengalami pertumbuhan parasite dengan pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol negative yaitu sebesar persentase penghambatan pada kelompok uji zinc dosis 50 mg/kgBB dan 100mg/kgBB adalah 86. 17% dan 84. berdasarkan hasil tersebut menunjukan bahwa suplementasi zinc dapat memberikan daya hambat pada pertumbuhan parasite jika dibandingkan dengan persen hambat dari kontrol negative yaitu 0%. Untuk mengetahui efektivitas dari suplementasi zinc dilakukan analisis uji beda untuk mengetahui perbedaan rerata antar kelompok uji. Hasil uji beda dilakukan dengan menggunakan metode one-way Anova dan Kruskal wallis. Hasil uji beda disajikan dalam Data Hari kruskal wallis Berdasarkan hasil analisis menunjukan terdapat perbedaan tingkat parasitemia pada kelompok uji suplementasi zinc terhadap kontrol negative, perbedaan signifikan terjadi pada hari ke-4 . >0. berdasarkan hasil analisis uji beda dapat disimpulkan bahwa pemberian suplemen zinc memberikan efektivitas antimalaria pertumbuhan parasite pada mencit yang terinfeksi P berghei ANKA. PEMBAHASAN Zinc memiliki peran yang luas diantaranya merupakan kofaktor lebih dari 200 enzim yang berfungsi mengkatalis metabolism energi, karbohidrat dan lemak, degradasi dan sintesis protein, dan juga berperan penting dalam mensintesis asam nukleat. distribusi zinc merupakan bagian dari acute phase response pada keadaan infeksi yang berperan melalui metallothionein yang didistribusikan ke jaringan limfoid guna ekspresi gen dan proliferasi sel-sel limfoid. Zinc dibutukan untuk produksi IL-1. IL-2 dan IFN. 13 Defisiensi zinc . erum Zn <0. 7 mg/L) dapat dikaitkan dengan peningkatan inflamasi. (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. Zinc memiliki sifat antiinflamasi, antioksidan, imunomodulasi dan antivirus. Aktivitas penghambatan aktivitas pensinyalan nuclear factor kappa B (NF-B) yang mengakibatkan penurunan produksi sitokin proinflamasi. Peran zinc dalam imunitas diperantarai sel, yaitu melalui pengendalian fungsi dan proliferasi neutrophil, natural killer cells (NK cell. , makrofag, limfosit T dan B serta produksi sitokin. 14 Berdasarkan hasil uji beda pertumbuhan dan penghambatan parasitemia dapat disimpulkan bahwa suplementasi zinc dapat memberikan efek antimalaria dengan memodulasi respon imun efektor. Penelitian sebelumnya oleh Iribhogbe et al . mengungkapkan bahwa suplemen zinc memiliki daya hambat yang serupa dengan aktivitas daya hambat dari vitamin A setelah 4 hari uji hambat. 15 Wu et al . mengungkapkan bahwa peningkatan asupan zinc melalui suplementasi atau sebagainya dapat mengurangi morbiditas infeksi P. falciparum di daerah hiperendemis di Papua Nugini dan Gambia. 16 Suplementasi zinc berperan sebagai antiinflamasi yang menekan respon demam sehingga dapat menekan pertumbuhan parasite baik secara in vitro maupun in vivo. Parasit hemoglobin host dan menjadikannya sebagai sumber asam amino dan untuk mengatur tekanan osmotic yang diperlukan untuk Proses ini mengarah pada generasi spesies oksigen reaktif (ROS). Pertumbuhan yang cepat dari parasit secara bersamaan dapat meningkatkan produksi ROS sehingga menyebabkan ketidakseimbangan antara plasma oksidan dan sistem antioksidan dari host, yang dapat menghasilkan stress Antioksidan oleh zinc mampu melindungi sel dari paparan radikal bebas yang dihasilkan oleh parasit sehingga mampu menurunkan angka apoptosis sel serta dapat meningkatkan respon sel-sel imun. KESIMPULAN DAN SARAN Pemberian (Z. sebagai antimalaria dalam menurunkan parasitemia pada mencit BALB/c yang terinfeksi P. berghei ANKA. Hasil signifikan diperoleh pada analisis penghambatan parasitemia setelah pemberian zinc di hari ke 3 dan ke 4. Zinc berperan sebagai antiinflamasi, antioksidan, imunomodulator dan antivirus dengan menghambat aktivitas pensinyalan NFB yang mengakibatkan penurunan produksi UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih peneliti ucapkan kepada pihak-pihak terkait yang membantu dalam jalannya penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA