BESTARI: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnalstkipmelawi. id/index. php/JBPK E-ISSN: 2746-8062 The Representation of Kidungan as an Effort to Preserve Oral Tradition in Kajoran Village Umi Hanifah*1. Prissilia Prahesta Waningyun2. Rissa Filyang3 1,2,3Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama Abstract This study aims to describe the role of Kidungan in efforts to preserve and transmit oral traditions across generations in Kajoran Village. The study employs a descriptive qualitative method with an ethnographic approach and a case study strategy. The research was conducted at the Kajoran Village Hall, the home of Mr. Parlan, and the home of the Village Head in Kewao Hamlet. The primary data consist of texts, audio recordings of Kidungan performances, and interviews. Data sources include community figures, customary leaders or village elders, performing artists or Kidungan singers, younger generations, village government officials or cultural practitioners, and local residents. The findings of this study indicate that Kidungan in Kajoran Village serves a variety of functions: transmitting moral values, reinforcing cultural identity, conveying oral history, fulfilling social functions within community life, providing lessons for future generations, and disseminating information about culture and history. The Kidungan tradition holds significant importance for the community, particularly as a means of affirming that Javanese culture embodies values that are adiluhung profoundly refined, noble, and dignified. More specifically. Kidungan is practiced within socio-cultural contexts at both the hamlet and village At the hamlet level, it appears in activities such as tayuban, bayen, and puyen, while at the village level it is employed in rituals such as ruwat bumi, kirab, the tulak balak tradition, and the celebration of the Saka New Year. This study also finds that the continuity of the Kidungan tradition is shaped by the active involvement of community figures in Kajoran Village in transmitting it to younger generations, despite the challenges posed by modernization and social Accordingly, the scholarly contribution of this research lies in mapping the functions, contexts of use, and mechanisms of transmission of Kidungan as an oral tradition one that may serve as a model for cultural preservation in an era of rapid change. Keywords: Kidungan. Oral Tradition. Cultural Preservation. Social-Cultural. Case Study Submitted: 15 March 2026. Reviewed: 15 March 2026. Accepted: 9 April 2026 DOI: 10. 46368/bjpd. Representasi Kidungan Sebagai Upaya Menjaga Tradisi Lisan Di Desa Kajoran Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran Kidungan dalam upaya pelestarian dan pewarisan tradisi lisan dari generasi ke generasi di Desa Kajoran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi dan strategi studi kasus. Lokasi penelitian dilaksanakan di Balai Desa Kajoran, rumah Bapak Parlan, dan rumah Bapak Kepala Desa di Dukuh Kewao. Data utama dari penelitian ini berupa teks, rekaman Kidungan serta Sumber data penelitian meliputi tokoh masyarakat, tokoh adat atau sesepuh desa, pelaku seni atau penembang Kidungan, generasi muda, pemerintah desa atau budayawan, dan warga setempat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kidungan di Desa Kajoran memiliki fungsi yang beragam, yaitu sebagai transmisi nilai moral, memperkuat identitas budaya, penyampaian sejarah lisan, fungsi sosial dalam kehidupan masyarakat, sarana memberikan Umi Hanifah. Prissilia Prahesta Waningyun. Rissa Filyang, umhnfh1234@gmail. 06@gmail. com, risafilyang@gmail. com Universitas MaAoarif Nahdlatul Ulama. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Ma,arif Nahdlatul Ulama Kebumen. Jawa Tengah. Indonesia 125 |Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Umi Hanifah et. pelajaran kepada anak cucu, serta menyebarkan informasi tentang budaya dan sejarah. Tradisi Kidungan memiliki peran penting untuk masyarakat, salah satunya sebagai penyampaian bahwa di Jawa ada budaya yang sangat adiluhung . ernilai sangat tinggi, luhur, dan muli. Secara spesifik. Kidungan digunakan dalam konteks sosial-budaya di tingkat dusun maupun desa. Pada tingkat dusun Kidungan hadir dalam kegiatan seperti tayuban, bayen atau puyen, sedangkan pada tingkat desa Kidungan digunakan dalam ritual ruwat bumi atau kirab, tradisi tulak balak serta penyambutan tahun baru sakka. Penelitian ini juga menemukan bahwa keberlangsungan tradisi Kidungan dipengaruhi oleh peran aktif dari tokoh masyarakat Desa Kajoran dalam proses pewarisan Kidungan kepada generasi muda meskipun menghadapi adanya tantangan modernisasi dan perubahan sosial. Dengan demikian, kontribusi ilmiah penelitian ini terletak pada pemetaan fungsi, konteks penggunaan, serta mekanisme pewarisan Kidungan sebagai tradisi lisan yang dapat menjadi model pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman. Kata Kunci: Kidungan. Tradisi lisan. Pelestarian budaya. Sosial budaya. Studi kasus PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang kaya akan keragaman, seperti suku, ras, agama dan budaya. Indonesia juga memiliki keragaman tradisi budaya unik yang selalu dilestarikan, seperti tradisi lisan. Tradisi lisan merupakan salah satu bentuk kekayaan budaya yang diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat. Menurut Subroto . dikutip dalam (Siregar dkk. , 2022: . menyatakan bahwa tradisi lisan merupakan budaya yang dihasilkan masyarakat di masa lampau yang mencakup bentuk ujaran, adat-istiadat, atau perilaku lainya, diantaranya adalah cerita rakyat . , nyanyian rakyat . , tarian, permainan, peralatan atau benda seperti bangunan, tembok, dan lain-lain. Tradisi lisan dijelaskan sebagai kebiasaan yang dijalankana secara turun-temurun oleh suatu kelompok masyarakat tertentu dan digunakan untuk menyampaikan suatu pesan dalam bentuk lisan . ahasa lisa. kepada masyarakat generasi muda. Di samping itu, tradisi lisan sangat bermanfaat dan berguna terutama sebagai bentuk ekspresi dan juga pembentukan karakter pada masyarakat. Salah satu bentuk tradisi lisan yang masih hidup di tengah masyarakat Jawa adalah Kidungan, yakni bentuk tembang yang dinyanyikan oleh masyarakat dengan irama khas. Menurut penelitian (Hasanah & Andari, 2. menemukan bahwa. Kidung merupakan suatu karya sastra berbahasa jawa yang ditulis oleh Sunan Kalijaga untuk menjembatani hal-hal yang bersifat supranatural. Di Desa Kajoran. Jawa Tengah. Kidungan masih rutin dilaksanakan dalam berbagai kegiatan seperti acara pengajian, puyen . ujuh hari kelahiran bay. , suran, sepen . alam resepsi pernikaha. Tradisi Kidungan memiliki perbedaan di setiap wilayah Desa Kajoran baik dari segi pelaksanaan acara maupun pelantunan syair Kidungan. Selain itu, tradisi kidungan juga mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman, seperti perubahan bahasa. Suatu kebudayaan akan mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Di era globalisasi saat ini, kemajuan teknologi berkembang sangat pesat sehingga membuat orang-orang dapat mengakses informasi dari berbagai media internet dan menjadi penyebab budaya mengalami Mereka akan percaya apa yang diperoleh dari informasi internet baik itu positif maupun Perubahan-perubahan dalam kebudayaan termasuk kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi dan segala wujud budaya. Di Desa Kajoran. Kidungan merupakan sebuah tradisi turun-temurun dari nenek moyang dan sarana silaturahim bagi masyarakat. Namun, keberadaan tradisi ini mulai mengalami tantangan akibat arus modernisasi dan masuknya budaya populer. Pada zaman sekarang ini, umumnya masyarakat terpengaruh oleh kehidupan modern, cenderung melupakan tradisi dan adat yang dilakukan oleh nenek moyang pada zaman dahulu. Contohnya seperti masyarakat yang tinggal di 126 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 The Representation of Kidungan as an Effort to Preserve Oral Tradition in Kajoran Village perkotaan, mereka sudah jarang merawat bahkan melakukan tradisi turun-temurun yang seharusnya dilestarikan, terutama anak muda zaman sekarang yang sudah terbawa dengan arus kehidupan modern. Di sisi lain, masyarakat yang tinggal di pedesaan justru mereka masih terus merawat dan melestarikan tradisi adat turun-temurun dari nenek moyang mereka pada zaman Masyarakat di pedesaan ini mempercayai bahwa ada makna dan hikmah yang sangat luar biasa dari tradisi yang selalu di jaga dan dilestarikan. Berdasarkan kondisi tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana Kidungan direpresentasikan dan dimaknai oleh masyarakat Kajoran sebagai upaya pelestarian tradisi lisan. Dengan demikian, penelitian ini memperkuat Teori Representasi - Stuart Hall yang digunakan untuk memahami bagaimana kidungan dimaknai dan direpresentasikan sebagai identitas budaya di tengah arus modernisasi. Dalam penelitian (Solichah dkk. , 2023: . menyatakan bahwa Teori Representasi melibatkan pemahaman tentang bagaimana makna dibentuk dan disampaikan melalui berbagai media dan praktik komunikasi dalam masyarakat. Menurut Hall, beberapa konsep representasi budaya dapat berubah seiring waktu. Berdasarkan penelitian (Difa dkk. , 2025: . menyatakan Teori Representasi telah menjadi elemen penting dalam memahami media dan budaya, karena memberikan perspektif tentanag cara makna dibentuk dan dihasilkan. Representasi tidak sekadar menggambarkan sebuah subjek, melainkan bentuk interpretasi yang kompleks. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi dan strategi studi kasus. Penelitian kualitataif deskriptif merupakan metode penelitian yang mendeskripsikan tentang suatu keadaan yang diteliti secara mendalam. Tujuan penelitian kualitatif deskriptif yaitu untuk mendeskripsikan secara seksama dan teratur mengenai keadaan yang sebenarnya pada suatu objek yang akan diteliti. Pendekatan ini dipilih sebab data-data yang dikumpulkan berupa kata-kata. Selain itu, data yang diperoleh juga bersifat deskriptif berupa Penelitian kualitatif didefinisikan sebagai jalan untuk menemukan serta menggambarkan suatu peristiwa secara naratif (Winarni, 2. dikutip dari (Nurrisa dkk. , 2025: . Pendekatan etnografi digunakan karena penelitian ini berfokus pada pemahaman budaya di masyarakat, khususnya tradisi Kidungan Desa Kajoran yang hidup dan berkembang dalam kehidupan sosial. melalui pendekatan etnografi, peneliti dapat memahami makna, nilai, serta praktik Kidungan dari sudut pandang pelaku tradisi itu sendiri. Sementara itu, strategi studi kasus digunakan karena untuk memahami sebuah fenomena spesifik, yaitu tradisi Kidungan secara mendalam melalui analisis yang terperinci dari beberapa kasus. Dalam penelitian ini, studi kasus juga memberikan gambaran secara lengkap dan detail mengenai sebuah kasus yanag diteliti, termasuk dari segi konteksnya, factor-faktor yang mempengaruhi, serta proses yang terlibat. Studi kasus memungkinkan peneliti menggali informasi secara mendalam dan kontekstual terhadap fenomena yang diteliti. Teknik keabsahan data adalah cara atau metode yang digunakan dalam penelitian untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan itu benar, akurat, dapat dipercaya, dan sesuai dengan Teknik keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa cara, yaitu: . triangulasi sumber, dilakukan dengan cara membandingkan suatu data yang diperoleh dari berbagai informan seperti tokoh adat, pelantun Kidungan, tokoh masyarakat, generasi muda, seta pemerintah atau budayawan. Triangulasi Metode, yaitu membandingkan hasil wawancara, observasi, dan 127 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Umi Hanifah et. Selain dari membandingkan data, peneliti juga menggunakan metode pengumpulan data seperti wawancara mendalam tujuanya yaitu untuk menggali tentang pemahaman subjektif dan pengalaman dari informan terhadap tradisi Kidungan, observasi partisipatif, dilakukan saat kegiatan tradisi Kidungan berlangsung untuk memahami konteks sosial dan budaya dari praktik secara langsung. Studi dokumentasi, dilakukan dengan mencatat, mengambil foto dan video dari acara Kidungan. Dokumentasi digunakan sebagai pendukung serta menguatkan data yang dikumpulkan melalui observasi atau wawancara. Dengan adanya dokumentasi, membantu peneliti untuk menunjukan bukti nyata dari hasil yang diteliti agar lebih valid dan dapat . Member-cheking, dilakukan dengan cara menyampaikan kembali ringkasan hasil wawancara atau temuan sementara kepada informan. Langkah ini sangat penting untuk memastikan bahwa interpretasi peneliti terhadap suatu informan yang diberikan dapat sesuai dengan maksud dan pengalaman informan yang sesungguhnya. Dengan menggunakan pendekatan triangulasi dan member-cheking ini, diharapkan hasil penelitian mengenai tradisi Kidungan yang memiliki tingat validitas tinggi serta menggambarkan realitas budaya secara mendalam dan objektif. Teknik analisis data adalah upaya yang dilakukan untuk mengelompokkan dan Pada penelitian ini teknik analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: . reduksi data. Pada langkah ini, penulis merangkum dan memilih informasi penting yang didapat seperti makna, fungsi Kidungan, dan lain sebagainya. Dengan begitu, akan mempermudah dan memberikan gambaran yang jelas bagi peneliti untuk melakukan tahap selanjutnya. penyajian Setelah melakukan reduksi data, langkah selanjutnya adalah menyajikan data ke dalam bentuk teks agar mudah di pahami. penarikan kesimpulan dengan pendekatan interpretatif. Penarikan kesimpulan dilakukana secara bertahap dan terus-menerus selama proses penelitian berlangsung. Dikutip dari (Aulida dkk. , 2025: . menyatakan bahwa Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti memahami makna subjektif dan dinamika pengalaman yang dibentuk dalam konteks sosial keseharian (Creswell & Poth, 2018. Merriam & Tisdell, 2. Dengan menggunakan pendekatan ini, tradisi Kidungan tidak hanya dipahami sebagai bentuk seni lisan, tetapi juga sebagai simbol budaya, makna dan fungsi sosial. HASIL DAN PEMBAHASAN Di Desa Kajoran, tradisi lisan menjadi salah satu bentuk kekayaan budaya yang terus Budaya adalah suatu bentuk untuk menjaga keberlangsungan hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan untuk generasi-generasi berikutnya (Waningyun & Afi, 2023: . Sejalan dengan pandangan Koentjaraningrat yang mengutip pendapat Claude Kluckhohn bahwa kebudayaan adalah ide, gagasan, dan tindakan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari melalui proses belajar mengajar . earned actio. Kidungan di Desa Kajoran menunjukkan adanya keberlanjutan nilai-nilai budaya melalui praktik masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kidungan di Desa Kajoran merupakan akulturasi budaya yang menggabungkan unsur tradisi Jawa dengan nilai-nilai islam serta meneruskan tradisi turuntemurun dari nenek moyang. Hal ini sejalan dengan penelitian (Sartika dkk. , 2. bahwa, setiap masyarakat memiliki cara tertentu dan berbeda antara satu daerah dengan lainya dalam menjalankan keyakinanya. Demikian juga dengan masyarakat Kajoran yang masih memiliki kepercayaan warisan dari nenek moyang dan dipegang teguh hingga saat sehingga menjadikan 128 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 The Representation of Kidungan as an Effort to Preserve Oral Tradition in Kajoran Village kegiatan Kidungan sebagai motivasi bagi masyarakat, karena orang-orang merasa bahwa mereka butuh kegiatan. Berdasarkan hasil penelitian , diperoleh tiga tema utama yang menggambarkan tradisi lisan Kidungan di Desa Kajoran: . makna sosial budaya dari Kidungan, . fungsi dari Kidungan, . bagaimana Kidungan direpresentasikan sebagai upaya menjaga tradisi lisan di tengah arus Makna sosial budaya dari Kidungan Kidung merupakan karya sastra berbentuk nyanyian. Makna utama dari Kidungan ialah syair jawa yang mengandung unsur doa serta digunakan syiar oleh para wali untuk agama islam di pulau Jawa. Di Desa Kajoran. Kidungan dibuat pada hari Selasa kliwon, 12 Jumadil Akhir 1952 Sakka yang memiliki fungsi tidak hanya sebagai hiburan , tetapi juga sebagai sarana spiritual, doa maupun Kidung merupakan bagian dari kebudayaan Jawa dan memiliki pengaruh besar pada masa awal penyebaran agama Islam di Jawa (Cahyadi dkk. , 2025: . Di Desa Kajoran Kidungan dilantunkan dalam berbagai kegiatan seperti acara syukuran, tayuban, puyen, pindahan rumah baru, ruwat bumi, maupun kegiatan sosial desa lainya. Masyarakat Desa Kajoran melakukan acara rutinan Kidungan pada malam JumAoat Kliwon di Balai Desa Kajoran dan di waktu selapanan . hari mingguan x 5 hari pasara. yang dilakukan setiap 35 hari sekali di rumah warga secara Kegiatan ini melibatkan seluruh masyarakat Desa Kajoran, baik sebagai pelantun maupun Situasi ini menjadikan masyarakat Kajoran kompak serta sebagai ajang silaturahim bagi Pola praktik ini menunjukkan bahwa tradisi lisan masih menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat, seperti yang dijelaskan oleh Utomo & Kurniawan . bahwa tradisi lisan berfungsi sebagai media pewarisan nilai budaya secara berkelanjutan. Kidungan mempunyai arti nyanyian atau pelantunan lagu yang berlirik, nama lainya adalah nyanyian Jawa. Lagu berlirik yang dilantunkan dalam aktivitas Kidungan disebut sebagai Tembang macapat yang memiliki struktur guru gatra, guru lagu dan guru wilangan. Tembang macapat adalah puisi tradisional Jawa yang mempunyai aturan dalam hal jumlah baris dalam setiap bait, jumlah suku kata dalam setiap baris, serta bunyi sajak akhir dalam setiap baris (Effendy, 2021: . Penggunaan tembang macapat dalam Kidungan dapat memperkuat aspek estetika dan struktur sastra Di Desa Kajoran. Kidungan memiliki ciri khas dalam segi penyampaian, menyesuaikan dengan konteks isi dan kegiatan sosial. Biasanya masyarakat Kajoran menggunakan gamelan untuk Setiap bagian dari Kidungan memiliki peran yang sangat penting baik dari segi makna maupun pesan yang ingin disampaikan. Fungsi dari Kidungan di Desa Kajoran Kidungan memiliki fungsi sosial yang kuat di masyarakat. Dari hasil penelitian di Desa Kajoran, menunjukkan bahwa, fungsi Kidungan di Desa Kajoran yaitu sebagai sarana memberikan Pelajaran dan pendidikan kepada anak cucu serta untuk menyebarkan informasi tentang budaya, sejarah dan ajang silaturahim bagi masyarakat Desa Kajoran agar tetap kompak. Kidungan juga digunakan untuk menyampaikan nilai moral dan pengetahuan budaya kepada generasi muda. Hal ini didukung oleh penelitian dari Rahmawati . yang menjelaskan bahwa tradisi lisan merupakan salah satu bentuk pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Syair Kidungan dinyanyikan oleh banyak orang secara bersama-sama, hal ini dapat menjadi alat pemersatu kegiatan adat sehingga menciptakan solidaritas dalam masyarakat. Sebuah Kidungan memiliki fungsi berbeda-beda. Kandungan nilainya 129 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Umi Hanifah et. bisa menambah pengetahuan, sedangkan alunan nadanya bisa memperhalus jiwa dan menghilangkan beban pikiran (Muada & Astawan, 2022: . Tradisi Kidungan juga berfungsi sebagai media komunikasi. Dalam beberapa pertunjukan seperti acara ruwat bumi sebagai pelaksana ritual kirab penggunaan Kidungan menyampaikan beberapa pesan moral serta kehidupan yang berkaitan langsung dengan pengalaman Masyarakat, seperti ekonomi, masalah sosial. Di Desa Kajoran, kidungan tidak hanya difungsikan sebagai fungsi sosial saja, tetapi dalam konteks budaya, tembang, dan nyanyian adat seperti Kidungan termasuk dalam kategori warisan budaya yang diwariskan secara lisan dan turun-temurun. Kidung ini menunjukkan bagaimana perasaan dan pikiran manusia untuk berusaha menggapai ketentraman serta kebahagiaan hidup. Contohnya seperti konsep hidup orang Jawa, yaitu memayu hayuning bawana, yang artinya tidak ada sesuatu hal lain yang dicapai oleh manusia kecuali ketentraman hidup. Kidungan sebagai tradisi lisan mencerminkan nilai tersebut melalui syair-syair yang mengandung ajaran moral dan spiritual. Kidungan sebagai tradisi lisan mempunyai fungsi seperti, sarana hiburan. Pendidikan, bahkan menunjukan bahwa bagaimana tradisi lisan dapat menjadi sebuah media untuk mewariskan pengetahuana dan membentuk perilaku pada Masyarakat. Representasi Kidungan sebaga Sarana Tradisi Lisan di Era Modernisasi Zaman terus bergerak maju, perkembangan kehidupan dan budaya pada masyarakata semakin Salah satu akibat dari perubahan tersebut karena semakin majunya teknologi dan kehidupan sosial budaya pada masyarakat. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa Kidungan tetap bertahan sebagai salah satu bentuk pelestarian budaya di Desa Kajoran. Hal ini sejalan dengan penelitian Suryani . yang menjelaskan bahwa, keberlangsungan tradisi lisan bergantung pada adaptasi komunitas terhadap perubahan zaman. Kidungan yang menjadi sarana dalam pelestarian tradisi lisan memiliki peran yang sangat penting dalam masyarakat. Nila-nilai hidup, pola perilaku dan karakter seseorang terbentuk berdasarkan sebuah tradisi yang berlaku di dalam lingkungan Oleh karena itu, setiapa masyarakat wajib menyadari betapa pentingnya tradisi lisan untuk kehidupan di masa yang akan datang. Di Desa Kajoran tradisi lisan sangat bermanfaat terutama dalam pembentukan karakter masyarakat, karena karakter bisa menjadikan seseorang berperilaku sesuai dengan dirinya. Di Desa Kajoran, salah satu bentuk pembentukan karakter masyarakat adalah dengan merawat Kidungan sebagai sarana pelestarian tradisi lisan dengan membentuk program khusus melalui pemerintah desa lembaga adat, dinas kebudayaan serta mengadakan pertemuan rutin. Meskipun sudah berkurang di zaman modern ini, tradisi lisan masih bisa dijumpai di Tradisi lisan yang berkembang dalam masyarakat merupakan media untuk mengajarkan nilai-nilai masa lalu yang sudah ada pada masyarakat (Utomo & Kurniawan, 2017: . Kidungan sudah menjadi tradisi yang ada pada Masyarakat Desa Kajoran sejak zaman dahulu. Dalam pelestarian Kidungan di Desa Kajoran memiliki maksud dan tujuan yang luas diantaranya, sebagai bentuk rasa hormat kepada nenek moyang, melestarikan warisan para leluhur masyarakat Desa Kajoran pada zaman dahulu, sebagai sarana pemersatu masyarakat Desa Kajoran. Tradisi yang kaya akan sebuah kebudayaan memiliki tanda-tanda akan berbagai makna, begitupun dengan tradisi lisan Kidungan Desa Kajoran yang memiliki unsur semiotic yang menurut priece terbagi menjadi tiga bagian yaitu ikon, indeks dan simbol. 130 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 The Representation of Kidungan as an Effort to Preserve Oral Tradition in Kajoran Village Ikon adalah sesuatu yang berfungsi sebagai penanda yang mirip dengan bentuk objek (Pramudiyanto , 2018: . Dalam tradisi lisan Kidungan Desa Kajoran, yang termasuk dalam ikon yaitu: juru kunci dan masyarakat Desa Kajoran. Juru kunci merupakan tetua warga Desa Kajoran yang memiliki tugas sebagai pemangku adat. Disebut ikon karena hal ini menunjukan bahwa tanda dari pemimpin segala kegiatan tradisi yang ada di Desa Kajoran. Selanjutnya. Masyarakat Desa Kajoran menjadi sebuah tanda dari orang yang ikut berpartisipasi dalam acara tradisi Kidungan sehingga dapat disebut sebagai ikon. Indeks adalah tanda yang mengacu pada objek melalui cara penunjukan dengan memanfaatkan sarana tanda yang bersifat merujuk pada sesuatu (Pramudiyanto dkk. , 2018: . Dalam tradisi Kidungan Di Desa Kajoran, yang termasuk dalam indeks yaitu pelantun Kidung yang bertugas untuk melantunkan syairsyair Kidung. Pelantun Kidung mencakup seluruh Masyarakat dan merupakan bagian dari indeks. Simbol adalah penanda yang menurut konvversi umum digunakan dalam masyarakat (Pramudiyanto , 2018: . Dalam tradisi Kidungan di Desa Kajoran, yang termasuk dalam simbol yaitu, palawija. Palawija merupakan merupakan tanaman yang berasal dari dalam bumi yang terdiri dari umbi-umbian, jagung, padi dan lain sebagainya. Palawija aini dikaatakan sebagai simbol karena melamabangkan rasa Syukur kepada Tuhan yang Maha Esa. Berdasarkan analisis tersebut Kidungan di Desa Kajoran dapat dipahami sebagai praktik representasional yang membentuk sebuah makna, identitas dan kesadaran busaya masyarakat. Kidungan bukan hanya tradisi lisan, tetapi sebagai makna yang memperlihatkan bagaimana masyarakat memaknai diri mereka sendiri di tengah arus modernisasi. Tradisi ini menjadi simbol yang terus dipertahankan dan diwariskan secara turun-temurun. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tradisi lisan Kidungan di Desa Kajoran merupakan bentuk kekayaan budaya yang diwariskan secara turun-temurun dan tetap bertahan di tengah arus modernisasi. Kidungan berperan sebagai media nilai moral dan spiritual, sarana komunikasi sosial, serta alat pemersatu masyarakat. Syair-syair yang dilantunkan bersama-sama memperkuat identitas budaya dan membentuk kesadaran masyarakat. Kidungan juga menjadi media warisan pengetahuan, sejarah, dan falsafah hidup masyarakat Jawa, seperti konsep memayu hayuning bawana, yang menekankan pentingnya ketenteraman dan keharmonisan hidup. Kidungan di Desa Kajoran menunjukkan adanya akulturasi antara budaya jawa dengan nilainilai islam yang diwariskan secara turun-temurun. Praktik Kidungan yang dilakukan masyarakat juga memperlihatkan bahwa mereka masih mempertahankan identitas budaya. Dari segi fungsi. Kidungan berperan sebagai media pewarisan budaya dan pembentukana karakter Masyarakat. Melalui syair dan kegiatanya. Kidungan mampu menyampaikan ajaran kehidupan serta memperkuat kesadaran budaya Masyarakat. Dalam konteks representasi di era modernisasi. Kidungan dipahami sebagai praktik representasional yang membentuk identitas dan kesadaran budaya masyarakat Desa Kajoran. Unsur semiotik seperti ikon . uru kunci dan masyaraka. , indeks . elantun Kidun. , dan simbol . merupakan sebuah tanda yang merepresentasikan nilai kepemimpinan adat serta rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, tradisi Kidungan di Desa Kajoran bukan hanya sebagai tradisi lisan, melainkan simbol identitas budaya yang berfungsi membangun makna, memperkuat solidaritas sosial masyarakat, serta menjaga kesinambungan nilai-nilai para leluhur di tengah perubahan sosial. 131 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Umi Hanifah et. Pelestarian Kidungan menjadi bentuk kesadaran masyarakat dalam mempertahankan warisan budaya sebagai bagian dari jati diri dan karakter mereka. DAFTAR PUSTAKA