Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Edukasi Kenali Tubuhmu Pada Anak Usia Dini Sebagai Langkah Awal Mencegah Pelecehan Seksual Nyoman Sri Ariantini1*. Eka Lutfiatus Solehah2. Ayu Purnamasari3 1,2,3 Program Studi Keperawatan Universitas Triatma Mulya Bali Email: sri. ariantini@triatmamulya. Abstrak Masa anak-anak, khususnya usia 0Ae5 tahun, merupakan fase krusial dalam perkembangan individu karena pada masa ini proses penyerapan informasi berlangsung sangat cepat. Anak-anak membutuhkan pemahaman yang memadai mengenai tubuh mereka, batasan pribadi, serta konsep dasar kesehatan reproduksi. Namun, kenyataannya masih banyak anak yang belum memperoleh pendidikan terkait hal tersebut. Tingginya kasus pelecehan seksual pada anak menjadi ancaman serius yang berdampak pada trauma dan gangguan psikologis jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukatif sejak dini sebagai langkah preventif. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai pengenalan tubuh, batasan pribadi, dan kesehatan reproduksi dasar guna mencegah pelecehan seksual pada anak usia dini. Kegiatan ini termasuk dalam kategori service-learning dan dilaksanakan pada April 2025 di TK Triamerta. Populasi dalam kegiatan ini adalah seluruh siswa TK Triamerta, dengan sampel anak TK B . sia 5Ae6 tahu. yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penyampaian materi melalui media video animasi efektif meningkatkan pemahaman anak-anak tentang perlindungan diri dan pencegahan pelecehan seksual. Edukasi serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan orang tua dan guru untuk memperkuat pemahaman anak secara menyeluruh. Keywords: Anak usia dini. Edukasi. Pelecehan seksual. Video edukasi PENDAHULUAN Masa anak-anak merupakan masa yang sangat penting bagi perkembangan masa selanjutnya, karena pada masa ini, terutama pada usia 0-5 tahun proses penyerapan informasi begitu cepat. Masa ini sering disebut masa golden period yaitu masa dimana proses penyerapan dan rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Semua rangsangan dan informasi yang diperoleh anak akan berpengarug terhadap tahap perkembangan selanjutnya (Susanti et al. Pada masa ini anak sedang berada pada fase yang sangat mudah terpengaruh dan Pada masa ini anak juga membutuhkan pemahaman yang baik tentang tubuh mereka, batasan pribadi dan konsep dasar kesehatan reproduksi (Yayasan Bangun Kecerdasan Bangsa. Tetapi kenyataan nya banyak anak-anak yang tidak mendapatkan informasi terkait pendidikan yang cukup mengenai hal tersebut, ini berakibat anak-anak menjadi rentan terhadap resiko pelecehan seksual,jika ini tidak segera ditangani maka akan mengakibatkan anak akan berada pada situasi yang berbahaya, dan berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan mereka selanjutnya. Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Banyaknya kasus pelecehan seksual pada anak sekarang ini merupakan ancaman serius bagi perkembangan mental anak, anak menjadi truma, dan tak jarang mereka mengalami luka psikologi yang sangat sulit dipulihkan. Kasus kekerasan seksual pada anak dapat berupa kekerasan verbal dan fisik seperti misalnya ancaman, pemakasaan sampai pemerkosaan. Menurut Fibrianti et al, 2020 kekerasan seksual pada merupakan bentuk penyiksaan, dimana anak diperlakukan sebagai objek eksploitasi seksual oleh pelaku. Berdasarkan data dari Kominfo, di Provinsi Bali, pada tahun 2023 terdapat sebanyak 72 kasus pelecehan seksual terhadap anak (Kominfo, 2. Total kasus pemerkosaan terhadap anak dari tahun 2018 sampai 2023 adalah 38 kasus dan kasus pencabulan adalah 103 kasus (Trisnawati, 2. Data pada Januari hingga Juni 2024 tercatat sebanyak 7. 842 kasus kekerasan terhadap anak. Dari jumlah tersebut, 5. 552 orang korban merupakan anak perempuan, sementara 1. 930 orang korban adalah anak laki-laki. Kekerasan seksual menjadi jenis kekerasan dengan jumlah korban terbanyak sejak tahun 2019 hingga 2024 (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2. Melihat banyaknya kasus pelecahan seksual pada anak yang terjadi di 2 tahun terakhir, maka diperlukan upaya untuk memberikan edukasi atau pemahaman sejak dini tentang pengenalan tubuh, batasan pribadi dan konsep dasar tentang kesehatan reproduksi. Hal ini tentunya harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberikan edukasi tentang pengenalan tubuh, batasan pribadi dan konsep dasar kesehatan reproduksi sedini mungkin sebagai langkah awal dalam upaya pencegahan pelecehana seksual pada anak. Melalui pendekatan edukatif yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, kegiatan ini akan membekali mereka dengan pengetahuan mengenai batasan tubuh, cara melindungi diri, serta bagaimana mengenali dan melaporkan situasi yang tidak aman. Dengan adanya program ini, diharapkan anak-anak dapat lebih sadar akan hak atas tubuh mereka sendiri, sedangkan bagi orang tua dan guru diharapkan akan smakin memahami peran merka dalam mendukung tumbuh kembang anak dengan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak. METODE KEGIATAN Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini termasuk dalam jenis Service-Learning, kegiatan edukasi dilakukan dengan pendekatan berbasis pembelajaran yang menghubungkan teori dengan praktik langsung di komunitas. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan April tahun 2025 di TK Triamerta, dengan fokus memberikan edukasi kesehatan reproduksi kepada anakanak sebagai langkah awal pencegahan pelecehan seksual. Populasi dalam kegiatan ini adalah Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 seluruh siswa TK Triamerta, sedangkan sampelnya terdiri dari anak-anak TK B dengan rentang usia 5-6 tahun dan terlibat langsung dalam kegiatan edukasi. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu pemilihan sampel secara sengaja berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, yakni anak-anak yang berada dalam usia dini dan membutuhkan edukasi dasar mengenai kesehatan reproduksi. Teknik pengumpulan data dalam kegiatan ini menggunakan observasi dan evaluasi partisipatif, di mana respon dan pemahaman anak-anak akan diamati selama dan setelah sesi edukasi berlangsung. Kegiatan edukasi ini dilakukan dengan metode ceramah interaktif menggunakan alat bantu seperti video edukatif, laptop, dan LCD untuk meningkatkan pemahaman anak-anak. Pemutaran video menjadi metode utama karena anak-anak lebih mudah memahami informasi melalui media visual yang interaktif dan menyenangkan. Data yang diperoleh akan dianalisis secara deskriptif kualitatif, dengan cara menginterpretasikan tanggapan dan partisipasi anak-anak selama sesi berlangsung. HASIL DAN PEMBAHASAN Subjek dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini adalah anak-anak TK B yang berjumlah 15 orang, terdiri dari 8 orang anak perempuan dan 7 orang anak laki-laki. Anak-anak ini berada dalam rentang usia 5 sampai 6 tahun. Pemutaran video edukasi dan sesi observasi berlangsung selama kurang lebih 1,5 jam, di mana anak-anak diberikan kesempatan untuk memahami materi dengan cara yang menyenangkan dan interaktif. Selama kegiatan, narasumber turut memberikan pendampingan, memastikan bahwa setiap informasi yang disampaikan sesuai dengan tingkat pemahaman anak-anak. Dengan durasi yang cukup, anakanak tidak hanya menonton video, tetapi juga terlibat dalam diskusi dan simulasi sederhana yang membantu mereka lebih memahami konsep perlindungan diri dan batasan tubuh. Edukasi dilakukan melalui pemutaran video edukatif yang dirancang khusus untuk anak-anak TK, dengan visual yang menarik dan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami. Video edukasi yang diberikan menjelaskan tentang bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain, pentingnya berkata "tidak" jika merasa tidak nyaman, serta cara melaporkan tindakan yang mencurigakan kepada orang dewasa yang dipercaya. Kegiatan ini juga melibatkan komunikasi interaktif antara pembicara dengan anak-anak TK. Pada sesi ini anak-anak diberikan kesempatan untuk bertanya, menjawab pertanyaan sederhana, serta berbagi pengalaman atau pendapat mereka mengenai materi yang disampaikan. Narasumber menggunakan gambar dan simulasi sederhana untuk membantu anak-anak memahami konsep batasan tubuh dan cara melindungi diri. Interaksi ini membuat anak-anak menjadi lebih aktif Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 dan antusias dalam menerima materi, serta lebih percaya diri dalam mengungkapkan pemahaman mereka. Hasil anak-anak memperlihatkan tingkat pemahaman yang baik setelah edukasi diberikan. Selama kegiatan berlangsung terlihat bahwa anak-anak mampu mengenali bagian tubuh yang bersifat pribadi dan memahami bahwa mereka berhak menolak sentuhan yang tidak nyaman. Evaluasi dilakukan melalui tanya jawab sederhana, dimana 12 anak dapat menjawab pertanyaan dengan benar mengenai cara melindungi diri dari tindakan yang tidak pantas, sedangkan 3 anak lainnya memberikan jawaban yang beragam, menunjukkan pemahaman yang masih perlu diperkuat. Selain itu, guru yang hadir dalam kegiatan juga memberikan respons positif, mengakui pentingnya edukasi ini untuk membekali anak-anak dengan pengetahuan dasar dalam menjaga keselamatan diri mereka. Oresti & Diwenia . menyatakan bahwa pemberian video edukatif dapat meningkatkan pemahaman anak mengenai pencegahan pelecehan seksual. Peningkatan ini terjadi karena saat pemutaran video animasi, anak-anak mulai memahami dan menangkap makna dari setiap cerita yang disampaikan dalam video tersebut. Penelitian lain juga menyebutkan bahwa video animasi secara signifikan meningkatkan pengetahuan anak usia dini tentang pelecehan seksual di salah satu TK swasta di Kota Bukitinggi. Pemutaran video animasi kepada anak usia dini merupakan metode penyampaian informasi yang efektif serta mudah dipahami oleh mereka. Hal ini disebabkan oleh tampilan gambar yang menarik, penggunaan warna yang cerah, serta suara yang mampu menarik perhatian anak- anak. Dengan adanya video animasi, anak-anak dapat lebih cepat memahami dan menyerap informasi yang disampaikan (Mariyona et al. , 2. Pendidikan seksual memiliki peran penting dalam mencegah perilaku serta kejahatan seksual. Melalui pendidikan seksual sejak anak-anak diberikan pemahaman mengenai gender, batasan diri, tubuh, serta konsekuensi dari tindakan yang tidak bertanggung jawab. Pemahaman ini membantu melindungi mereka dari berbagai bentuk pelecehan. Anak-anak perlu memperoleh edukasi tentang seks baik secara formal maupun informal guna mencegah perilaku seksual yang tidak pantas, seperti seks pranikah dan seks bebas, serta mengurangi dampak negatif yang dapat Dengan edukasi ini, anak-anak dapat memahami organ reproduksi mereka, menghargai tubuh sendiri, serta menghindari informasi yang keliru. Pendidikan seksual juga berperan dalam meningkatkan kesadaran anak tentang batasan diri dan hak mereka, sehingga mereka lebih mampu mengenali dan menghindari situasi berisiko (Amalina & Masyithoh. Vol. No. 2 Juni 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Sabani et al. dalam studinya menyatakan bahwa edukasi seksual sejak usia dini dapat membantu anak-anak dalam mengembangkan kemampuan untuk membuat keputusan yang bijak dan sehat terkait tubuh serta seksualitas mereka di masa depan. Anak-anak yang memperoleh pendidikan seksual sejak dini lebih siap dalam mengenali risiko dan dampak dari perilaku seksual yang berbahaya, seperti penularan penyakit menular seksual atau kehamilan yang tidak diinginkan. KESIMPULAN Hasil kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang telah dilaksanakan, menunjukkan bahwa edukasi kesehatan reproduksi melalui pemutaran video animasi terbukti efektif dalam memberikan pemahaman dasar kepada anak usia dini mengenai perlindungan diri dan pencegahan pelecehan seksual. Anak-anak TK yang menjadi subjek dalam kegiatan ini menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai bagian tubuh yang bersifat pribadi, pentingnya menolak sentuhan yang tidak diinginkan, serta langkah-langkah yang dapat mereka lakukan untuk melindungi diri. Saran yang dapat disampaikan adalah bahwa edukasi serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan orang tua dan guru agar anak-anak mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif dan berkelanjutan tentang kesehatan reproduksi dan perlindungan diri. Selain itu, pengembangan metode pembelajaran yang lebih variatif, seperti permainan edukatif atau simulasi interaktif, dapat menjadi alternatif dalam meningkatkan efektivitas penyampaian informasi. Program edukasi ini juga dapat diperluas ke tingkat sekolah dasar agar anak-anak dapat terus mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam sesuai dengan tahapan perkembangan mereka. Dengan adanya kolaborasi antara tenaga kesehatan, pendidik, dan orang tua, diharapkan anak-anak dapat tumbuh dengan kesadaran akan hak mereka dan mampu menjaga diri dari berbagai bentuk pelecehan seksual UCAPAN TERIMAKASIH Kami tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) sangat berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dari pemberian ijin kegiatan sampai terselenggaranya kegiatan ini, semoga kegiatan ini dapat memberi manfaat bagi orang lain. DAFTAR PUSTAKA