JURNAL RUPA VOL 8 NO 1 2023 DOI address: https://doi. org/10. 25124/rupa. Analisis Visual Artefak Budaya Makuta Binokasih Sang Hyang Pake Jeng Oetari1*. Fajar Ciptandi2. Morinta Rosandini3 Program Studi Magister Desain. Fakultas Industri Kreatif. Universitas Telkom. Bandung. Indonesia Program Studi Kriya Tekstil dan Fesyen. Fakultas Industri Kreatif. Universitas Telkom. Bandung. Indonesia Abstract The Binokasih Crown is a Sundanese cultural heritage object stored in the Prabu Geusan Ulun Museum in Sumedang Regency as a symbol of the coronation of a king in the continuation of power. The Binokasih Crown is designated as a Kasumedangan ornament and its visual is also used in the Sumedang Puseur Budaya Sunda or SPBS logo. In the use of the crownAos visual, there are differences in history and no comprehensive description. Through the efforts of Sumedang Puseur Budaya Sunda in reconstructing culture and the need to identify artifacts through cultural values, it is necessary to study the Binokasih Crown as an icon of Sumedang Regency through Sundanese cultural values in an effort to preserve Sundanese culture in Sumedang. The method used in this research is a qualitative method with data collection through field observation, deep interviews, document studies, and documentation. The data analysis technique on cultural values uses Sundanese Cosmology and visual analysis uses morphological aesthetics with descriptive, analytical, interpretative, and evaluative stages. The purpose of this research is to explore the tangible and intangible aspects of the Makuta Binokasih as a cultural artifact. This is done in order to preserve Sundanese cultural heritage, and to provide a clear foundation for the development of products based on the artifact. Keywords Visual Analysis. Binokasih Crown. Decorative Variety. Sumedang Jeng Oetari Email oetariiajengg@student Address Program Studi Magister Desain. Fakultas Industri Kreatif. Universitas Telkom Analisis Visual Artefak Budaya Makuta Binokasih Sang Hyang Pake Jeng Oetari. Fajar Ciptandi. Morinta Rosandini PENDAHULUAN Kabupaten Sumedang terletak di daerah pedalam disekitar Tatar Sunda Provinsi Jawa Barat yang dikenal sebagai salah satu pusat wilayah dengan peninggalan sejarah dan tradisi Sunda. Pada masa itu, daerah ini dikenal sebagai wilayah Kerajaan Sumedang Larang yang merupakan penerus dari Kerajaan Pajajaran, dan Kabupaten Sumedang saat ini dikenal sebagai pusat Keraton Sumedang Larang . Bukti dari kejayaan Kerajaan Sumedang Larang tersimpan di Kabupaten Sumedang Larang Jawa Barat tepatnya di Museum Prabu Geusan Ulun. Salah satunya adalah penyerahan pusaka Kerajaan Padjajaran berupa Makuta Binokasih sang Hyang Pake beserta perhiasan lainnya yang ditandai sebagai penyerahan kekuasaan kepada raja Prabu Geusan Ulun yaitu pemimpin Kerajaan Sumedang Larang . , yang dilaksanakan di Istana Kutamaya tanggal 22 April 15, yang menandakan wilayah Kerajaan Padjajaran masuk ke Kerajaan Sumedang Larang dan tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Sumedang . Saat kepemimpinan bupati muncul pada masa invasi Kerajaan Mataram kepada wilayah Tatar Ukur (Prianga. pada tahun 1620 . dan pengaruh kedatangan Belanda pada abad ke 16, kedudukan tingkatan raja diturunkan menjadi setingkat bupati, namun dikarenakan kurangnya pengawasan oleh Kerajaan Mataram saat itu menyebabkan kehidupan keraton berkuasa seperti raja dengan sistem pemerintahan seperti bupati . , hal tersebut menyebabkan pergeseran makna kebangsawanan pada Makuta Binokasih Sang Hyang Pake yang selanjutnya digunakan sebagai pendukung acara pernikahan bagi keturunan Pangeran Sumedang (Mena. Tepatnya pada Bulan Oktober 1872 berdasarkan buku arsip yang dimiliki museum. Pangeran Soeria Koesoemah Adianta atau Pangeran Soegih menikahkan anaknya menggunakan busana khusus dengan memakai Makuta Binokasih Sang Hyang Pake dan siger dianggap sebagai pelopor berbusana pengantin leluhur keturunan Pangeran Sumedang yang menggunakan pelengkap mahkota dan siger. Makuta Binokasih Sang Hyang Pake merupakan model tutup kepada yang dipengaruhi oleh kebudan pada masa Hindu Budha, secara tradisional melambangkan kekuasaan, keabadian, kejayaan, ligitimasi, kejayaan, kemakmuran dan kehidupan . Berdasarkan dari informasi profil Museum Prabu Geusan Ulun tahun 2020, berdasarkan naskah kuno Cerita Parahiyangan Makuta Binokasih Sang Hyang Pake dibuat oleh Sang Hyang Bunisora Soeriadipati (Batara Guru di Jampan. yang digunakan sebagai penobatan raja. Berbahan dasar emas 14 karat dengan berat 5,720 gr dibuat dengan teknik kerawang dalam pembuatannya yang terinspirasi dari Mahkota Batara Indra ketika bertapa dan berbakti kepada Dewata. Nama Binokasih diberikan karena struktur mahkota yang menyusun ke atas. Berdasarkan hasil wawancara bersama Bapak Raden Luky Djohari . selaku Radya Anom Keraton Sumedang Larang. Keraton Sumedang mulai melakukan rekonstruksi keraton pada 29 april 2009 dengan mendeklarasikan berupa perbaikan posisi keraton pada masyarakat dan pemerintahan dengan Keraton Sumedang Larang diakui oleh Pemerintahan Sumedang sebagai Puser Kebudayaan Sunda. Pada lampiran i . Sumedang Puseur Budaya Sunda (SPSBS) adalah sebuah program yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah sumedang untuk melestarikan dan mengembangkan budaya sunda, salah satunya melalui program pemeliharaan sastra, aksara sunda, bahasa, dan Ragam Hias Kesumedangan yang merupakan aset budaya yang harus dijaga dengan salah satu tujuannya untuk mengamankan, melindungi, dan melestarikan tinggalan budaya dengan megupayakan keberadaan pakaian adat dan ragam hias sebagai warisan kebudayaan Sunda khas Kabupaten Sumedang, dengan menetapkan 10 Ragam Hias Kesumedangan yaitu ragam hias Makuta Binokasih. Kujang. Lingga. Hanjuang. Ragam Hias Pajajaran. Manuk Julang. Naga. Kembang Cangkok Wijaya Kusuma. Garuda Mungkur, dan Teratai. Jeng Oetari. Fajar Ciptandi. Morinta Rosandini Gambar 1. Penggalan dari Peraturan Bupati Sumber: Arsip Pemerintahan, yang diakses pada Oktober 2022 Dalam motif khas Ragam Hias Kesumedangan pada bagian Makuta Binokasih hanya menjelaskan Makuta Binokasih adalah simbol kekuasaan Kerajaan Pajajaran yang setelah kemunduran kemudian diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun melalui 4 . orang Kandaga Lante . Dalam penetapan benda pusaka Makuta Binokasih pada motif khas ragam hias Kesumedangan kedalam peraturan pemerintahan dan sebagai aset budaya tidak adanya informasi komprehensif yang menyertainya sebagai informasi kelayakan aset budaya dan sebagai benda bersejarah penting bagi Sumedang didalam peraturan pemerintah. Pada peraturan Peraturan Daerah Sumedang No. 1 Tahun 2020 Keraton Sumedang Larang berfungsi sebagai lembaga pelestari, pelindung, dan pengembang adat dan budaya para leluhur. Peraturan Bupati Nomor 113 sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman serta hukum dan kebutuhan masarakat saat ini, sehingga diperlukannya upada peningkatan dalam bentuk peraturan baru. Upaya ini dilakukan untuk memperkuat legalitas dan menjaga keberlanjutan budaya melalui inventasrisasi, pengamanan, penyelamatan, pemeliharaan dan Dengan ditetapkannya regulasi baru pada Peraturan Daerah Sumedang No 1 Tahun 2020 menyebabkan dicabutnya atau tidak diberlakukan lagi peraturan sebelumnya namun hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan pada peraturan sebelumnya masih berlaku selagi tidak ada perselisihan terhadap peraturan baru yang ditetapkan. Berdasarkan wawancara dengan Bapak R. Lily Djamhur Soemawilaga . adanya kebutuhan identifikasi dan pengkajian dalam pemetaan potensi artefak menjadi ragam hias dalam pengembangan budaya. Sehingga adanya potensi lebih dalam penelusuran informasi pada visual benda terkait kebudayaan khususnya ornamen pada ragam hias Makuta Binokasih Sang Hyang Pake yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya atau aset budaya guna upaya pelestarian budaya Sunda di Sumedang. Tujuan dari penelitian ini adalah ditengah pergeseran dan kemajuan zaman dalam melindungi dan mengembangkan serta pemanfaatan Budaya Sunda dengan cara menganalisis visual dari Mahkota Binokasih yang dapat melengkapi pendataan artefak budaya pada Mahkota Binokasih. Sehingga dapat menjaga warisan budaya dalam aspek tangible dan intangible, serta menjadi acuan dasar dalam melakukan pengembangan suatu produk dikarenakan sudah memiliki landasan yang jelas. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif , dengan teknik pengumpulan data bersifat triangulasi dengan pengambungan data secara gabungan/stimultan melalui observasi lapangan langsung ke Keraton Sumedang larang dan Museum Prabu Geusan Ulun, deep interview secara tidak terstruktur untuk mendapatan informasi sejarah mahkota, dokumentasi atau pengambilan gambar detail pada mahkota dan studi dokumen berupa pengumpulan data melalui dokumen-dokumen atau arsip yang dimiliki oleh museum. Analisis visual langsung dilakukan pada Makuta Binokasih Sang Hyang Pake asli yang tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun Kabupaten Sumedang. Analisis menggunakan metode estetika Estetika morfologi digunakan untuk memudahkan dalam mendeskripsikan bentuk, style dan ekspresi pada sebuah karya . , dengan tahapan pengolahan visual sebagai berikut : Deskriptif melalui mengidentifikasi aset benda pusaka Makuta Binokasih. identifikasi dilakukan melalui observasi lapangan dan deep interview. Tujuan tahapan ini untuk menetapkan struktur yang terkandung pada mahkota sesuai dengan nilai Budaya Sunda. Analisis formal melalui proses menganalisis yang ditunjang dengan data pendukung lainnya. analisis ini bertujuan untuk menetapkan detail visual mahkota melalui penggambaran ulang atau tracing mahkota. Analisis Visual Artefak Budaya Makuta Binokasih Sang Hyang Pake Interpretasi adalah proses penafsiran kembali tentang apa yang dimaksud pada suatu benda. Tahapan ini merupakan proses penafsiran kembali nilai-nilai budaya yang terkandung pada mahkota melalui perbandingan langsung pada visual mahkota. Penilaian adalah tahapan akhir yang berupa pemberian rekomendasi nilai intangible dan tangible pada mahkota yang dapat digunakan sebagai acuan dasar dalam melakukan pengembangan khususnya dalam ranah pengembangan desain. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan buku arsip yang dimiliki Museum Prabu Geusan Ulun pada naskah kuno Bahasa Sunda tahun 1968. Makuta Binokasih Sang Hyang Pake asli memiliki umur lebih dari 600 tahun yang dibuat pada masa pemerintahan Sang Hiyang Bunisora Soeradipati atau yang dikenal dengan raja di Kawali / Galuh antara tahun 1357 Ae 1371. Berdasarkan buku arsip kepusakaan tahun 2017, mahkota terbuat dari material emas 14 karat . ,720g. Gambar 2. Tempat Penyimpanan Mahkota Binokasih di Musem Prabu Geusan Ulun. Sumber: Dokumen Pribadi, 2022 Gambar 3. Mahkota Tampak Depan . Tampak Sisi . , dan Tampak Belakang . Sumber: Dokumen Pribadi, 2022 Periode pemerintahan Pangeran Soeria Koesoemah Adianta atau dikenal dengan Pangeran Soegih berlangsung antara tahun 1835 Ae 1882, tepatnya pada bulan Oktober tahun 1872, pangeran menikahkan putrinya bernama R. Ayu Sangkanningrat kepada R. A Martanagara. Kedua pengantin tersebut dinikahkan dengan busana khusus dan memakai mahkota dan siger serta perhiasan lainnya. Berdasarkan buku arsip data museum dalam buku Babad R. Martanagara Bupati Bandung Halaman 24-25, kemungkinan besar pernikahan tersebut sebagai pelopor berbusana pengantin leluhur Sumedang yang memakai mahkota dan siger. Pada Peraturan Bupati No 1 Tahun 2020 . , dijelaskan dan dijabarkan strategi kebijakan Sumedang Puseur Budaya Sunda (SPBS) sebagai benteng pertahanan untuk mengantisipasi pergeseran nilai-nilai. Dalam Logo SPBS disebut sebagai bentuk logo Binokasih Kencana terdapat gambar Makuta Binokasih pada logo yang bermakna dalam menggapai cita-cita yang luhur dibutuhkan kepamongan dalam balutan semangat Ausilih asuhAy dari domain AuprabuAy yaitu pada para pemimpin pemerintahan. Warna kuning digunakan sebagai simbol dari kesejahtaraan dan kemakmuran yang menjadi harapan para leluhur. Gambar 4. Logo Sumedang Puseur Budaya Sunda Sumber: Bupati Sumedang, 2009 Jeng Oetari. Fajar Ciptandi. Morinta Rosandini Makuta Binokasih Sang Hyang pake diberi nama Binokasih dikarenakan struktur mahkota yang menyusun keatas. Disebut Sang Hyang Pake, karena mahkota tersebut untuk dipake atau dipakai karena itu namanya Sang Hyang Pake. mahkota dibuat setalah bertapa dan berbakti kepada Dewata , sehingga mahkota terinspirasi dari Mahkota Batara Indra. Dan dari struktur Mahkota Binokasih menyerupai aksesoris Mahkota Binokasri yang digunakan tokoh Ae tokoh perwayangan. Mahkota dalam perwayangan merupakan bagian dari kebudayaan Hindu di Indonesia dan mempunyai peran penting dalam menampilkan ciri khas dan karakter pertokohan. Pada penobatan sebagai penerus kerajaan mahkota bermakna keagungan, dalam pelengkap busana pengantin penggunaan mahkota mengandung harapan penuh perhatian, bijak dan adil dalam kehidupan. Gambar 5. Perbandingan struktur Makuta Binokasih . dengan Mahkota Binokasri pada boneka tokoh perwayangan . Sumber: Dokumen Pribadi, 2022 . Morjuangsah, 2012 . Pada tahapan deskriptif, berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak R. Lily Djamhur Soemawilaga . selaku Mahapati Keraton. Makuta Binokasih memiliki 3 tingkatan penyusun mahkota yaitu bagian atas (Buana Nyuncun. yang melambangkan kepemimpinan (Prabu/Keratua. , bagian tengah (Buana Panca Tenga. yang melambangkan konsep tatanan negara, dan bagian bawah (Buana Laran. yang melambangkan ajaran leluhur yang mengusung konsep Tritangtu Di Buana. Analogi Tritangtu merupakan pola pikir pandangan hidup masyarakat Sunda sebagai konsep ajaran mengenai kehidupan . dalam hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam semesta. Hubungan antara manusia dengan sesama manusia dalam masyarakat sunda pada dasarnya harus dilandasi oleh sikap Ausilih asih, silih asah, silih asuhAy artinya harus saling mengasihi, saling mengasah, saling mengajari dan saling mengasuh hingga terciptanya ketentraman hidup . Pola tiga ini menjelaskan tiga inti bahwa tiga itu dalam satu dan yang satu itu terdiri dari tiga . Gambar 6. Struktur Makuta Binokasih Sumber: Dokumen Pribadi, 2022 Menurut Peraturan Daerah Sumedang No. 1 Tahun 2020, masyarakat Sumedang harus memiliki komitmen dan tekad yang kuat untuk memberikan kontribusi yang bermanfaat tanpa pamrih bagi kepentingan bangsa dan negara merupakan filosofi yang berasal dari Prabu Tajimalela. Masyarakat Sumedang sebagai pejuang pembangunan harus memiliki keberanian dan mental baja dalam menegakkan kebenaran dan mampu meraih kemenangan atau prestasi tanpa mengalahkan satu sama dalam kharakter Bhirawa Anoraga Masyarakat Sumedang harus memiliki sifat rendah hati dan Hal ini akan menciptakan kondisi dan situasi kehidupan Sumedang yang harmoni dan inklusif dalam semangat AuSilih Asah - Silih Asih - Silih AsuhAy, baik untuk individu maupun masyarakat. Artinya dalam sistem sosial kehidupan bermasarakat dilandaskan sikap mengasihi, saling melindungi dan saling mengingatkan ke jalan kebaikan dan mencegah pada kemungkaran, dan saling tumbuh untuk menjadi pribadi yang bertaqwa, berilmu dan terampil. Analisis Visual Artefak Budaya Makuta Binokasih Sang Hyang Pake Dapat diartikan pada konsep silih asah . aling belaja. , silih asih . aling pedul. , silih asuh . aling menyayangi/ saling membimbin. , terdapat konsep ajaran tata negara Sunda yang berupa Sang Rama. Sang Resi, dan Sang Prabu atau yang dikenal juga dengan Tritangtu. Dalam artian konsep tatanan Kesumedangan yang tercermin pada design visual logo SPBS menganut 10 sikap Kesumedangan dan juga berkesinambungan dengan konsep Tritangtu Di Buana. Tabel 1. Bagian- Bagian Mahkota Binokasih Nama Bagian Bagian Mahkota Keterangan Bentuk Stupa merupakan representasi dari bentuk dari bunga teratai. Bunga teratai dianggap sebagai lambang Nyemat atau Stupa Dengan detail menggunakan ragam hias non geometris berupa tanaman dengan penggayaan naturalis yang menjadi ornamen utama pada bagian atas. Pada bagian latar mahkota terdapat ornamen non geometris yang jika dilihat merupakan stilasi dari bentuk pokok tumbuhan sebagai perias permukaan Sruni atau Latar Jenis suluran yang terdapat pada ornamen ini berjenis suluran daun melengkung . atra gumulun. , dan suluran daun bunga . atra sar. Ron 10 buah daun yang tersebar di bagian tengah mahkota ini mempresentasikan sikap dan perilaku yang dianut dalam nilai tatanan Kesumedangan yaitu Dengan bentuk ragam hias geometris berbentuk tumpal dengan ornament pengisi didalamny. dengan berbagai bentuk tumpal . ecil dan besa. Jamang pada bagian kanan kiri terdapat Ron yang merupakan hiasan tumpal yang tersusun tiga berbentuk kelopak bunga dengan pengisi betuk adalah bentuk garis dan sulur Jamang Susun Tiga atau Turidha Pada bagian depan mahkota terdapat bentuk turidha . umpal bersusun tig. repesentasi dari berbentuk kelopak bunga dengan permata hijau pada pelengkap pengisi bidang berupa garis hiasan yang berbentuk seperti sayap bersusun tiga pada bagian sisi kanan dan kiri belakang mahkota. Sumping Prabu Ngayuh ornamen yang terdapat pada sumping berjenis ornamen non geometris dengan pernggambaran sulur dan tumbuhan sebagai hiasan dari permukaan Jeng Oetari. Fajar Ciptandi. Morinta Rosandini Pada bagian kuluk belakang dihiasi oleh garuda mungkurPada helaian daun berbentuk segitiga dengan ornament tumbuhan . aun, bunga batan. yang mengisi pada bidang. Garuda Mungkur Sepasang Garuda Mungkur yang menghadap kebelakang, dengan bidang yang diisi oleh ornament daun . has ornamen pajajara. Lebah Dibagian bawah ron ada lima buah hiasan yang berbentuk representasi dari hewan lebah dengan filosofis kehidupan rumah tangga kedua mempelai dapat semanis lebah madu. entuk Stupa merupakan representasi dari bentuk dari bunga teratai. Bunga teratai dianggap sebagai lambang kesucian. Dengan detail menggunakan ragam hias non geometris berupa tanaman dengan penggayaan naturalis yang menjadi ornament utama pada bagian atas. Rawis Siki Boteng Atau biji ketimun Pada bagian kanan dan kiri dibawah ron . yang menjuntai terdapat lima utai biji ketimun lambang menunjukkan lima pasaran hari dalam kebudayaan sunda Sumber: Dokumen Pribadi, 2022 Pada tahapan analisis formal. Karya seni memiliki bentuk dengan struktur yang berpola didalamnya yang dapat digunakan untuk menciptakan kesan estetika yang kuat dan menampaikan pesan atau makna tertentu . Penggambaran ulang bagian Mahkota Binokasih . berguna untuk memudahkan dalam mengidentifikasi ornamen atau ragam hias yang terdapat pada mahkota. Stilasi yang digunakan pada desain mengikuti bentuk wujud atau visual gambar nyata dengan pengembangan unsur garis dan bentuk yang sederhana . Hasil yang didapat pada analisis visual pada tabel diatas adalah mahkota memiliki pengisi bidang berupa sulur - suluran tumbuhan dan bunga. Dapat dilihat pada bagian latar mahkota menggunakan Teknik Krawang dalam pembuatan mahkota. Terdapat pinggiran ornamen pada bagian jamang dan ron. Mahkota memiliki bagian-bagian mahkota sebagai berikut: Stupa atau Nyemat Sruni atau Latar Mahkota Ron atau Daun Jamang Jamang Susun Tiga atau Turidha Sumping Prabu Ngayuh Garuda Mungkur Lebah Rawis Siki Bonteng atau Biji Ketimun Dalam penelitian ini dapat ditarik kesimpulan berdasarkan dari Analisis kosmologi Sunda dan estetika morfologi yang dilakukan pada Makuta Binokasih Sang Hyang Pake. Struktur dasar mahkota membentuk pola tiga dalam filosofi masyarakat Silih Asuh Sistem Sosial Budaya Sunda Silih Asih Silih Asah Menjaga amanat dalam kehidupan saling menyayangi saling memberikan ilmu, sehingga menunjukkan konsep cara berfikir masyarakat sunda. Masyarakat Sunda memiliki falsafah hidup silih asah, silih asih, silih asuh yang merupakan bagian dari struktur Tritangtu dan ciri dari filsafah masyarakat pola tiga. Analisis Visual Artefak Budaya Makuta Binokasih Sang Hyang Pake Bentuk dasar mahkota menyerupai segitiga sebagai hasil dari cara berfikir masarakat sunda pada filofosi Tritangtu yang tertuang dalam bentuk mahkota . iga yang past. Gambar 7. Interpretasi Makuta Binokasih Sumber: Dokumen Pribadi, 2022 Dalam pertimbangan rekomendasi visual untuk pengembangan desain, rangkuman dari kosmologi dan estetika morfologi dari bentuk dan nilai yang terkandung dalam Makuta Binokasih, menetapkan bentuk mahkota secara utuh, bentuk shape segitiga dan bentuk struktur kelipatan 3 untuk dipertahankan, dikarenakan memiliki struktur dengan pola tiga, dan akan menjadi ciri khas bentuk bagi mahkota itu sendiri. KESIMPULAN Mahkota Binokasih Sang Hyang pake diberi nama Binokasih dikarenakan struktur mahkota yang menyusun keatas yang terinspirasi dari Mahkota Batara Indra. Mahkota dibuat pada masa pemerintahan Sang Hiyang Bunisora Soeradipati atau yang dikenal dengan raja di Kawali / Galuh antara tahun 1357 Ae 1371, terbuat dari material emas 14 karat . ,720g. dengan teknik krawang. Mahkota berwarna kuning yang melambangkan simbol kesuksesan dan kedamaian yang menjadi harapan para leluhur. Mahkota Binokasih Sanghyang Pake memiliki ornamen pada bidang isi mahkota berupa sulur - suluran tumbuhan yang terinspirasi dari Ragam Hias Padjajaran dan bunga. Bagi masyarakat Sumedang mahkota memiliki konsep ajaran tata negara Sunda yang berupa Sang Rama. Sang Resi, dan Sang Prabu atau yang dikenal dengan Tritangtu. Kehidupan masyarakat Sumedang yang harmoni dan inklusif dalam kerangka semangat AuSilih Asah - Silih Asih - Silih AsuhAy, baik balutan semangat sebagai individu atau sebagai masyarakat. Ini mengacu pada kesatuan sosial yang diwujudkan melalui sikap saling melindungi, mengasihi, dan mengingatkan satu sama lain untuk selalu berbuat kebaikan serta mencegah tindakan yang salah. Selain itu, masyarakat Sumedang harus memiliki sikap semangat dan keinginan yang kuat untuk kontribusi yang baik dan tidak merugikan bangsa dan negara, serta memiliki mental yang kuat sebagai pejuang yang berani dan tetap rendah hati. Pada aspek kehidupan yang terkandung adalah kebatinan (Tuhan Yang Maha Es. , manusia . ubungan sosial dan kemanusiaa. , dan alam semesta . lam beserta isiny. Hal ini membimbing manusia dalam menjalani kehidupan yang baik. Berdasarkan dari penelitian ini. Makuta Binokasih Sang Hyang Pake sebagai artefak budaya berpotensi memiliki makna yang begitu mendalam jika dikaji lebih lanjut secara kompleks dan menyeluruh, sehingga sebagai benda artefak atau benda pusaka yang telah lama filosofinya tidak bias begitu saja dikarenkan tidak adanya pendokumentasian dan penggalian sejarahnya. Pada Aspek visual yang telah dianalisis pada tahapan estetika morfologi dalam penelitian ini, dapat dilanjutkan menjadi rekomendasi visual yang dapat diimplementasikan, salah satunya dapat diimplementasikan Jeng Oetari. Fajar Ciptandi. Morinta Rosandini kedalam desain batik Kasumedangan yang dapat berguna bagi UMKM batik Sumedang dan juga keraton UCAPAN TERIMAKASIH Terimakasih disampaikan kepada Keraton Sumedang Larang dan Museum Prabu Geusan Ulun, khususnya kepada Bapak Raden Luky Djohari selaku Radya Anom Keraton Sumedang Larang dan Bapak R. Lily Djamhur Soemawilaga selaku Mahapati Keraton Sumedang Larang yang telah bersedia meluangkan waktunya dan membantu dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA