Vol. No. 1, 2025, pp. DOI: https://doi. org/10. 29210/1202523605 Contents lists available at Journal IICET Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. ISSN: 2476-9886 (Prin. ISSN: 2477-0302 (Electroni. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/jppi Pengembangan model buku saku penataan budaya sekolah berbasis profil pelajar pancasila Icha Dwi Listari1*). Didik Sukriono2. Edy Suhartono2 Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 10 Surabaya Universitas Negeri Malang. Malang. Indonesia Article Info ABSTRACT Article history: Bullying, physical violence, unfriendliness, and a lack of empathy or sympathy have contributed to a moral crisis in this country, especially among children in school environments. The Pancasila Student Profile is the abilities, character, and competencies that Indonesian students must possess in the 21st century to strengthen their character with six elements that must be applied in daily life. The purpose of this article is to produce a book on school culture development based on the Pancasila Student Profile. Based on the author's background and objectives, the research method used in this study is the ADDIE development model, which consists of five phases: analysis, design, development, implementation, and evaluation. The research tools used include media, language, and expert student assessment sheets. The results of the pocket book development research on media experts obtained a percentage of 83% with a category of sufficiently valid. Language experts obtained a percentage of 69%, which was deemed sufficiently valid. The results of the small-group trial obtained a percentage of 76%, while the results of the large-group trial obtained a percentage of 92% with a category of highly valid and applicable to 10th-grade students at Muhammadiyah 10 High School in Surabaya. Received Jun 27th, 2025 Revised Jul 24th, 2025 Accepted Aug 26th, 2025 Keywords: Buku saku Penataan budaya sekolah Profil pelajar pancasila A 2025 The Authors. Published by IICET. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. Corresponding Author: Icha Dwi Listari. Universitas Pendidikan Ganesha Email: windayani54@gmail. Pendahuluan Penanaman nilai-nilai Pancasila pada generasi bangsa harus segera dilaksanakan karena pada saat ini sudah mulai marak terjadi kasus-kasus kenakalan remaja yang mengarah ke penyimpangan sosial. Gaya hidup kebarat-baratan sangat bertentangan dengan nilai leluhur bangsa Indonesia, sehingga tidak menutup kemungkinan jika nilai-nilai Pancasila dapat melemah pada generasi bangsa. Bahkan pada penelitian Yunita dkk . mengungkap bahwa pada survei yang dilakukan oleh Developing Contries Studies Center (DCSC), menurut hasil data riset menjelaskan sebanyak 83,3% responden mengaku bangga menjadi bangsa Indonesia, 5,5% merasa malu menjadi bangsa Indonesia, serta11,2% responden menyatakan tidak tahu. Contoh kasus dapat dilansir di Detik. com yang diterbitkan pada Kamis, 24 November 2022 memberitakan bahwa terdapat sebuah perilaku dari 6 peserta didik asal Tapanuli Selatan yang bersikap tidak sesuai nilai dan norma kesopanan karena telah melakukan tindakan kekerasan berupa menendang seorang wanita lansia hingga berbuntut pada proses hukum. Ada pula kasus bullying yang dapat dilansir di Kompas. com yang terbit pada Kamis, 21 Juli 2022 memberitakan terdapat seorang peserta didik di bangku sekolah dasar berinisial F . asal Tasikmalaya meninggal dunia akibat depresi karena mengalami tindak bullying berupa kekerasan dan Listari. , et al Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. pelecehan seksual yang dipaksa untuk menyetubuhi seekor kucing oleh teman sepermainannya. Sebagaimana ungkapan Kosim . bahwa pendidikan karakter harus sudah diajarkan secara sistematis dan komprehensif dari sejak usia dini. Meninjau pemahaman karakter bahwasannya terdiri atas tiga bagian pokok yang saling berhubungan, yaitu pengetahuan tentang moral, perasaan bermoral, dan perilaku bermoral. Kondisi ini sangat krusial mengingat data dari Kementerian pA tahun 2019 mencatat 5. 785 kasus tindak pidana dilakukan anak di bawah umur, dan survei Kemendikbud menyatakan 60 % pelajar SMP/SMA pernah terlibat perkelahian. Studi Zein & Siregar . menemukan bahwa kenakalan pada remaja usia 13Ae15 tahun sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi keluarga rendah, pola asuh kurang suportif, lingkungan kurang disiplin, dan pengaruh teman sebaya. Dengan begitu, nilai-nilai karakter . oral knowing, moral feeling, moral actio. menjadi sangat penting untuk membimbing siswa mengubah perilaku mereka menjadi baik dan bijak. Keterkaitan pengetahuan, perasaan, dan berperilaku maka seorang siswa harus membiasakan dan mengubah tingkah lakunya agar bisa baik dan dibutuhkan pedoman dalam bertingkah laku dari ketidaktahuan menjadi serba tahu. Penerapan budaya sekolah harus sesuai dengan karakter warga sekolah dan lingkungannya. Karakter pada dasarnya merupakan sebuah watak, kebiasaan, akhlak atau kepribadian yang terbentuk karena internalisasi berbagai kebijakan . yang digunakan sebagai dasar untuk berpikir, bersikap, memandang sesuatu dan kemudian bertindak. Kaimuddin . mengemukakan bahwa pendidikan karakter merupakan usaha sadar yang terencana dan terarah melalui lingkungan pembelajaran untuk tumbuh kembangnya seluruh potensi manusia yang memiliki watak kepribadian baik, bermoral, berakhlak dan berefek positif konstitutif pada alam dan masyarakat. Sedangkan pendidikan karakter merupakan sarana yang mampu menumbuhkan kehidupan bersama yang demokratis, komitmen moral dalam kehidupan bersama, misalnya saling menghargai, menghormati, peduli terhadap kesejahteraan orang banyak. Likona . dalam Muhtar . Ketidaktahuan anak tentang nilai moral memang sangat mungkin berkembang selama mereka berada di dunia pendidikan, oleh karena itu perlu diterapkan sistem kurikulum yang mendukung pemahaman dan sikap Implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah dasar, misalnya, telah terbukti membentuk sikap kemandirian dan tanggung jawab siswa (Sugiharto dkk. , 2. sedangkan di satuan pendidikan penggerak, pendidikan karakter telah terintegrasi secara baik dalam proses pembelajaran, kegiatan ekstra-kurikuler, dan ko-kurikuler (Taufiq dkk. , 2. Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai. Namun pada mata pelajaran Budi Pekerti di era digital juga menjadi sarana utama memperkuat karakter moral siswa, meskipun tantangan masih ada (Zalukhu, 2. IPM2KPE Journal. Kurikulum Merdeka, melalui profil Pelajar Pancasila yang menekankan religiusitas, integritas, dan kolaboratif, menjadi strategi efektif bagi pembentukan karakter abad 21 (Wongkar & Pangkey, 2. Di samping itu, kurikulum ini mengadopsi pendekatan pembelajaran berbasis proyek untuk menggali nilai-nilai moral siswa secara kontekstual (Fauziahdkk. , 2. Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset dan Teknologi (Kemendikbud Riste. melaporkan bahwa sudah ada sekitar 142. 000 sekolah di Indonesia yang bersedia menggunakan Kurikulum Merdeka di tahun ajaran 2022/2023, sedangkan sisanya masih menerapkan kurikulum mandiri (Kompas. com: 2. Kurikulum mandiri ini telah dipetakan dalam kebijakan inti sekolah untuk mendukung visi misi masing-masing. SMA Muhammadiyah X Surabaya (SMAMX) menerapkan kurikulum mandiri secara kreatif melalui evaluasi pembelajaran yang special dan mendukung inovasi serta entrepreneurship sebagai pondasi karakter siswa. Kegiatan potensi yang banyak dan diutamakan oleh siswa, memberikan peluang anak-anak untuk lebih mengedepankan kelas potensi mereka dibandingkan materi akademik yang seharusnya menjadi fondasi dalam mempersiapkan diri ke jenjang perguruan tinggi. Dalam konteks pelaksanaan kurikulum mandiri di sekolah keberbakatan seperti SMA Muhammadiyah 10 Surabaya, yang menekankan pada pengembangan potensi individu dan berbasis sekolah ramah anakAidengan pendekatan bahwa guru tidak diperbolehkan marah atau menekan siswaAiterjadi perubahan dinamika peran guru yang semakin lemah dalam pembentukan disiplin dan Hal ini menyebabkan tidak sedikit siswa yang kurang mencerminkan nilai-nilai Pancasila serta menunjukkan gejala krisis moralitas. Oleh karena itu, pengembangan buku saku penataan budaya sekolah berbasis Profil Pelajar Pancasila menjadi sangat penting sebagai instrumen sederhana namun strategis yang mampu menjembatani ketimpangan pemahaman karakter di tengah kebebasan pendidikan yang diberikan. Buku saku dapat berfungsi sebagai: . panduan praktis bagi siswa untuk mengenali, memahami, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah, . penguat internalisasi profil Pelajar Pancasila, yang mencakup enam indikator: berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kreatif, bergotong royong, dan berkebhinekaan global (Rusnaini & Raharjo, 2. , . media refleksi diri bagi peserta didik dalam proyek pembelajaran Kurikulum Merdeka yang berorientasi pada pembentukan karakter, bukan hanya akademik, . penyeimbang antara potensi dan nilaiAimembantu siswa tetap sadar akan pentingnya moralitas dan budaya sekolah saat mengejar keunggulan di bidang bakat mereka, . sarana kontrol nilai Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Pengembangan model buku sakuA bersama, baik bagi guru maupun siswa, agar budaya sekolah tetap sejalan dengan visi Kurikulum Merdeka dan tujuan pendidikan nasional. Fakta bahwa menurut KPAI, terjadi peningkatan kasus tawuran pelajar sebesar 1,1% pada tahun 2018 dan bertambahnya laporan bullying di tahun 2020, menjadi indikator kuat bahwa karakter bangsa masih menghadapi tantangan besar (KPAI, 2. Buku saku ini dapat menjadi intervensi kecil yang berdampak besar, karena bersifat aplikatif, mudah dipahami, dan dapat dibawa serta digunakan siswa secara mandiri maupun bersama guru dalam berbagai kegiatan pembelajaran dan budaya sekolah. Penataan budaya sekolah berbasis profil pelajar Pancasila melalui buku saku, dengan tahapan strategi lima aspek yaitu Receiving. Responding. Valuing. Organization. Characterization, akan lebih memberikan makna bagi peserta didik serta secara praktis mengenalkan nilai-nilai karakter yang selama ini masih jarang dipahami secara mendalam dan berkesinambungan oleh siswa dalam konteks kegiatan pembelajaran non-formal maupun budaya sekolah. Selama ini, pendekatan pendidikan karakter lebih banyak terfokus pada materi dalam buku ajar atau program seremonial tanpa keterlibatan langsung siswa dalam proses internalisasi nilai. Gap dalam penelitian ini terletak pada kurangnya media sederhana dan kontekstual yang dapat menjadi alat bantu guru dan siswa untuk menanamkan nilai-nilai karakter melalui pendekatan yang menarik, fleksibel, dan mudah diakses siswa secara mandiri maupun berkelompok. Belum banyak penelitian yang secara khusus mengembangkan buku saku karakter yang dirancang berbasis lima aspek ranah afektif dan diselaraskan dengan Profil Pelajar Pancasila di sekolah keberbakatan. Keterbaruan dari penelitian ini terletak pada pengembangan buku saku sebagai media internalisasi nilai karakter yang tidak hanya menyampaikan materi secara tekstual, tetapi juga memvisualisasikan nilai-nilai karakter melalui ilustrasi yang menarik, bahasa yang ringkas, serta disesuaikan dengan konteks budaya sekolah yang ramah anak dan berbasis potensi. Strategi ini diharapkan menjadi pendekatan inovatif dalam mengajarkan pendidikan karakter melalui media yang ringkas, visual, kontekstual, dan aplikatif, serta berpotensi meningkatkan minat baca peserta didik sekaligus membentuk kesadaran nilai moral secara lebih alami. Metode Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan (Research and Developmen. yang diadaptasi dari model pengembangan ADDIE (Analysis. Design. Development. Implementation. Evaluatio. , akan tetapi dalam penelitian pengembangan buku saku ini hanya sampai tahap ADDIE. Berikut tahapan dalam penelitian dan pengembangan diantaranya: Tahap Pendefinisian (Defin. Tujuan tahap ini adalah menetapkan dan mendefinisikan syarat-syarat pembelajaran dengan cara melakukan analisis tujuan batasan substansi yang akan dikembangkan yaitu substansi profil pelajar Pancasila dengan mengidentifikasi definisi dan ruang lingkup karakter, analisis kemampuan awal peserta didik, analisis konsep dan perumusan. Tahap Perancangan (Desig. Tahap ini bertujuan menghasilkan buku saku penataan budaya sekolah berbasis profil pelajar Pancasila khususnya pada pengetahuan tentang profil pelajar Pancasila dan definsi nilai profil pelajar Pancasila yang diwujudkan dalam sebuah perilaku maupun project. Terdapat 3 bagian dalam tahapan ini, yaitu: Bagian Awal Bagian awal penyusunan buku terdiri dari: cover yang berisi judul buku saku, kata pengantar yang berisi isi buku saku dan harapan penulis, daftar isi yang berisi tatanan halaman dalam isi buku saku, peta konsep buku saku agar peserta didik dapat lebih mudah melihat materi yang dipelajari, tujuan pembelajaran, petunjuk penggunaan buku saku yang memberikan Guru dan peserta didik dalam menggunakan buku saku dengan baik. Bagian Isi Bagian isi penyusunan buku saku akan terdapat uraian materi berbasis penataan budaya profil pelajar Pancasila yang akan memudahkan peserta didik dalam memahami kompetensi dasar dan mengidentifikasi ruang lingkup definisi profil pelajar Pancasila dan nilai elemen profil pelajar Pancasila yang diwujudkan dalam sebuah project. Bagian Akhir Bagian akhir penyusunan buku saku terdiri dari glorasium yang berisi penjelasan atau definisi dari kata atau istilah asing yang terdapat dalam materi yang digunakan untuk mengetahui pemahaman peserta didik, daftar pustaka untuk memuat literatur yang digunakan dalam pengembangan buku saku dan terakhir cover belakang buku saku. Tahap Pengembangan (Develo. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Listari. , et al Vol. No. 1, 2025, pp. Penelitian dilakukan di SMA Muhammadiyah 10 Surabaya. Validasi media buku saku merupakan kegiatan untuk menilai rancangan produk media. Validasi dilakukan dengan melibatkan 2 ahli yakni ahli media Ibu Dr. Sri Untari. Si dan ahli media bahasa yaitu Bapak Dr. Febri Taufiqurrahman. Hum. Hum. Tidak hanya itu, buku saku juga diuji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar pada siswa. Validasi produk diproleh melalui penilaian, tanggapan, kritik dan saran dari para ahli dengan mengisi lembar validasi yang dibuat. Tanggapan tersebut digunakan untuk mengetahui kevalidan media buku saku untuk dilanjutkan ke tahap uji coba terbatas dan luas. Uji coba dalam pengembangan ini bertujuan mengetahui kelayakan produk yang dibuat. Uji coba dilakukan melalui dua tahap yakni tahap uji coba terbatas dan uji coba luas. Sasaran uji coba terbatas ditujukan pada 7 siswa kelas X SMA Muhammadiyah 10 Surabaya dan uji coba luas adalah 31 siswa kelas X SMA Muhammadiyah 10 Surabaya. Adapun instrumen pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini yaitu angket. Angket validasi ditujukan kepada ahli media dan ahli bahasa sebagai alat ukur untuk mengetahui kevalidan buku saku. Sedangkan angket respon ditujukan kepada pengguna yaitu siswa untuk mengetahui keefektifan buku saku yang Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa deskripsi prosedur pengembangan produk buku saku, sedangkan analisis deskriptif kuantitatif dilakukan dengan cara menganalisis lembar data validasi ahli dan perangkat. Penilaian angket validasi ahli dan angket siswa menggunakan skala likert. Skala likert digunakan responden dengan memilih empat alternatif jawaban. Data hasil angket dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan cara: . Menghitung total skor maksimal yang diperoleh dari hasil validasi ahli. Menghitung persentase hasil validasi berdasarkan angket. Jumlah total skor validasi kemudian dihitung persentasenya dengan rumus sebagai berikut: Jumlah Skor Komponen Validas Skor % Skor Maksimal Mengubah pencapaian skor menjadi bentuk kualitatif, mengacu pada kategori validitas. Setelah itu skor (%) yang sudah dihasilkan dikonversikan dalam bentuk tabel kriteria. Tabel kriterianya disajikan pada tabel 2 Tabel 1. Kriteria Validitas Produk Pengembangan (SaAodun Akbar, 2. Tingkat Validitas Kriteria Validitas (%) 85,01 -100 Sangat Valid, atau dapat digunakan tanpa revisi 70,01 - 85 Cukup Valid atau dapat digunakan namun perlu revisi kecil 50,01 - 70 Kurang Valid, disarankan tidak dipergunakan karena perlu revisi besar 1 - 50 Tidak Valid atau tidak boleh dipergunakan Data yang diperoleh melalui angket tanggapan peserta didik terhadap buku saku penataan budaya profil pelajar Pancasila masih berupa data uraian aspek-aspek tanggapan peserta didik. Data uraian tersebut direkap dan setiap aspek tanggapan dari keseluruhan peserta didik sampel dipresentasikan. Hasil dan Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat dideskripsikan prosedur pengembangan buku saku sebagai penataan budaya sekolah berbasis profil pelajar Pancasila sebagai berikut. Tahap Analisis Tahapan awal pada model pengembangan ADDIE dalam penelitian ini adalah tahap analisis. Untuk tahap analisis peneliti menganalisis beberapa hal yang meliputi analisis kebutuhan, analisis karakteristik peserta didik, dan analisis kurikulum. Ketiga analisis tersebut dijabarkan melalui: Analisis Kebutuhan Buku saku penataan budaya sekolah berbasis profil pelajar Pancasila dikembangkan berdasarkan analisis kebutuhan di SMA Muhammadiyah 10 Surabaya masih baru menyelenggarakan kurikulum merdeka pada tahun ajaran 2023/2024. Studi pendahuluan menjadi langkah awal dalam proses pengembangan produk. Tujuan dari studi pendahuluan ini adalah untuk mendapatkan analisis kebutuhan . eed analysi. guru dan siswa dilingkungan sekolah. Untuk mendapatkan data, maka dilakukan dengan cara wawancara dengan waka Kurikulum. Kemudian, buku saku ini disajikan dalam bentuk yang menarik untuk membiasakan siswa menerapkan perilaku yang sesuai dengan profil pelajar Pancasila. Berdasarkan wawancara yang diperoleh dari Wakil Kepala Sekolah dalam bidang Kurikulum, diperoleh informasi bahwa budaya yang dikembangkan dalam sekolah SMA Muhammadiyah 10 Surabaya adalah sekolah Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Pengembangan model buku sakuA keberbakatan dengan mengutamakan potensi siswa. Dalam budaya yang dikembangkan ini juga berhubungan dengan konsep religius dengan menciptakan siswa yang berbakat/bertalenta namun berkarakter islami. Namun dalam penerapannya, siswa yang banyak mengikuti potensi dan diberikan kebebasan dari pihak sekolah membuat siswa ketertinggalan materi dan tetap acuh pada pendiriannya. Konsep merdeka belajar yang ada pada kurikulum merdeka ini juga sudah diterapkan SMA Muhammadiyah 10 Surabaya dari sebelum kurikulum merdeka diterapkan di Indonesia, karena sekolah keberbakatan menerima keadaan siswa apapun tanpa ada kriteria yang dibatasi. Ustadz Alfin . selaku waka kurikulum menambahkan bahwasannya budaya sekolah sudah merdeka, namun didalam budaya sekolah masih belum bisa menghubungkan tiap elemen-elemen profil pelajar Pancasila melalui program-program yang ada sesuai dengan kurikulum merdeka. Waka kesiswaan juga mengungkapkan ada faktor yang lainnya adalah konsep sekolah yang beridentik guru harus lebih memahami siswa dengan tidak diperbolehkan marah mengakibatkan siswa sangat acuh pada kedudukan guru dalam segi tata perilaku maupun ucapan. Berdasarkan yang ditemukan di lapangan, perlu dikembangkan buku saku berupa penataan budaya yang dapat memfasilitasi siswa untuk mengimplementasikan tiap harinya dalam bertingkah laku, berucap maupun bersikap dengan warga sekolah. Sehingga peneliti mengembangkan buku saku penataan budaya profil pelajar Pancasila di Sekolah SMA Muhammadiyah 10 Surabaya dengan tujuan memberikan makna bagi peserta didik serta praktis juga mengenalkan tentang nilai-nilai karakter dalam muatan profil pelajar Pancasila. Analisis Karakteristik Peserta Didik Pada tahapan analisis karakteristik peserta didik dalam penelitian pengembangan buku saku penataan budaya profil pelajar Pancasila ini sangat penting dalam mengetahui serta memahami kondisi psikologis, fisik, dan emosional peserta didik dalam proses pembelajaran. Analisis kemampuan awal peserta didik merupakan kegiatan untuk mengidentifikasi peserta didik dari segi kebutuhan dan karakteristik dalam menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan perilaku atau tujuan dan materi (Taufik, 2019:. Penggunaan buku saku sangat mudah dipahami oleh peserta didik karena terdapat gambar yang berhubungan dengan konsep. Kemudian, buku saku ini disajikan dalam bentuk yang menarik untuk membiasakan siswa menerapkan perilaku yang sesuai dengan profil pelajar Pancasila. Hal ini sesuai dengan pendapat Marzuki el al, . mengatakan bahwa ada lima metode yang bisa meningkatkan nilai dan moralitas . arakter/akhlak muli. di sekolah, yaitu: inculcating values and morality . enanaman nilai-nilai dan moralita. modeling values and morality . emodelan nilai-nilai dan moralita. facilitating values and morality . emfasilitasi nilai-nilai dan moralita. skills for value development and moral literacy . etrampilan untuk pengembangan nilai dan literasi moral. developing a values education program . engembangkan program pendidikan nila. Oleh karena itu peserta didik SMA Muhammadiyah 10 Surabaya memiliki karakteristik dengan cara pembiasaan dan memahami dengan hal-hal yang baru. Dengan adanya pengembangan buku saku penataan budaya sekolah berbasis profil pelajar Pancasila maka peserta didik dapat menerapkan di lingkungan belajarnya dengan cara pembiasaan. Tahap Perancangan (Desaig. Setelah melalui tahap analisis, selanjutnya melakukan perancangan terhadap buku saku yang akan di kembangkan yaitu . rancangan awal pembuatan buku saku yang dikembangkan memperoleh hasil yang maksimal, . desain fisik dan isi buku saku. Desain halaman sampul pada buku saku dibuat yang menarik dengan perpaduan gambar serta pemilihan warna yang kontras. Pemilihan warna dan penyesuian gambar bertujuan untuk menarik perhatian peserta didik ketika membuka serta memahami isi buku saku tersebut. Warna yang dipakai dalam halaman sampul yaitu warna hijau, putih, kuning, biru tua dan biru muda, sedangkan untuk penyesuian gambar yang dibuat ialah gambar siswa dengan sekolah guna menunjukkan buku saku berisi tentang budaya sekolah yang mengaitkan siswa dengan profil pelajar Pancasila. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Listari. , et al Vol. No. 1, 2025, pp. Gambar 1 Halaman sampul bertuliskan judul AuPenataan Budaya Sekolah Berbasis Profil Pelajar PancasilaAy pada bagian paling atas. Kemudian disusul kalimat AuSekolah Keberbakatan SMA Muhammadiyah 10 SurabayaAy. Jenis huruf yang digunakan yaitu Bufallo dan More Sugar. Ukuran 25 pt dan 9-10 pt. Ukuran kertas yang digunakan dalam pembuatan buku yakni berukuran 10,5 x 14,8 cm. Margin pada kertas dibuat 0 cm. Pemilihan ukuran ini disesuaikan dengan tata letak ilustrasi gambar, penulisan dan sebagainya agar memudahkan produk untuk digunakan dan dibaca. Warna pada buku saku harus dipertimbangkan agar tampilannya menarik perhatian peserta didik. Kemudian, terdapat warna-warna yang harus dihindari yaitu warna yang terlalu menyala seperti merah terang, kuning cerah dan lain sebagainya yang dapat membahayakan mata. Tahap Pengembangan Tahap pengembangan yaitu tahap lanjutan dari desain yang telah dirancang untuk menjadi sebuah produk. Produk yang telah dibuat harus melalui tahap uji validasi agar produk tersebut layak dan praktis untuk Pada tahap validasi ini dilakukan oleh dosen validator sesuai dengan ahli dibidangnya yakni validasi media dan validasi bahasa. Berdasarkan hasil validasi oleh ahli media yaitu Dr. Sri Untari. Si setelah mendapat saran dan perbaikan buku saku dinyatakan cukup valid dan memperoleh persentase 83%. Tabel 2 Indikator Penilaian Penyajian materi sesuai dengan sistematika Kelogisan penyajian. Keruntutan penyajian. Penyajian gambar, tabel, dan simbol. Kelengkapan penyajian. Ukuran buku saku. Penggunaan huruf. Penggunaan warna. Keterbacaan penulisan kalimat Penataan tata letak pada cover buku dan belakang sesuai/harmonis Mind Mapping dapat menggambarkan isi/materi Penempatan unsur tata letak konsisten Penggunaan variasi huruf tidak berlebihan Total Sumber: Data Analisis Primer . Ocx Ocxi HU% Sedangan hasil validasi oleh ahli bahasa yaitu Dr. Taufiqurrahman. Hum. ,M. Hum dinyatakan cukup valid dan memperoleh persentase 82. Tabel 3 Indikator Penilaian Kalimat yang digunakan sesuai isi pesan atau informasi yang ingin disampaikan sesuai dengan tata kalimat bahasa yang benar. Kalimat yang digunakan tidak menimbulkan makna ganda. Bahasa yang digunakan dapat membuat peserta didik senang ketika membaca Kalimat yang digunakan berupa kalimat efektif yang sederhana. Pesan atau informasi disampaikan dengan bahasa yang sederhana agar mudah Ketepatan penggunan istilah dan simbol /lambang. Kesesuaian penggunaan kalimat dengan kaidah Bahasa Indonesia. Pesan atau informasi disampaikan dengan bahasa yang menarik dan lazim dalam komunikasi tulis Bahasa Indonesia. Koherensi dan keruntutan alur pikir. Kemampuan merangsang motivasi agar membaca secara tuntas. Bahasa yang digunakan mendorong peserta didik untuk bertanya. Bahasa yang digunakan sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Ocx Ocxi HU% Pengembangan model buku sakuA Bahasa yang dgunakan sesuai dengan tingkat kematangan emosional peserta didik. Total Setelah dilakukan validasi media dan bahasa kepada ahli, media buku saku mendapatkan penilaian dan saran-saran yang dapat digunakan untuk membuat media buku saku lebih baik dan layak digunakan dalam proses uji coba terbatas dan luas. Implementation (Implementas. Buku saku yang dikembangkan sudah divalidasi melalui ahli dan valid diimplementasikan di SMA Muhammadiyah 10 Surabaya yang telah dipilih sebagai subjek uji coba terbatas dan luas. Uji coba dilakukan untuk mengetahui efektivitas buku saku dapat digunakan atau tidak. Tabel 4 Aspek Penilaian Jumlah Skor Tertinggi Kelayakan Kebahasaan Kelayakan Penyajian Kelayakan Kegrafikan Rata-Rata Sumber: Data Primer yang diolah sendiri Jumlah Skor Angket Presentase Tiap Aspek (%) Kriteria Sangat Layak Layak Layak Layak Uji coba terbatas memperoleh persentase 80,1% yang memiliki kategori layak. Tabel 5 Aspek Penilaian Jumlah Skor Tertinggi Kelayakan Kebahasaan Kelayakan Penyajian Kelayakan Kegrafikan Rata-Rata Sumber: Analisis Data Primer, 2023 Jumlah Skor Angket Presentase Tiap Aspek (%) Kriteria Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Sangat Layak Setelah uji coba terbatas tertuntaskan, maka untuk uji coba kelompok luas dengan jumlah 31 siswa kelas X5 Putra SMA Muhammadiyah 10 Surabaya diperoleh persentase 97,5% berkategori sangat layak. Maka dapat disimpulkan bahwa buku saku penataan budaya sekolah berbasis profil pelajar Pancasila mendapat respon sangat valid dan sangat efektif digunakan siswa. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pengembangan buku saku penataan budaya sekolah berbasis Profil Pelajar Pancasila di SMA Muhammadiyah 10 Surabaya berjalan dengan efektif menggunakan model pengembangan ADDIE. Model ini melibatkan lima tahap utama, yaitu Analysis. Design. Development. Implementation, dan Evaluation, yang membantu proses perencanaan dan produksi media berjalan sistematis dan terarah sesuai kebutuhan siswa dan karakteristik sekolah keberbakatan. Validasi terhadap buku saku menunjukkan hasil yang sangat positif. Dari hasil validasi ahli media, diperoleh persentase kelayakan sebesar 83%, yang termasuk dalam kategori Ausangat layakAy. Begitu pula hasil validasi dari ahli bahasa juga menunjukkan persentase sebesar 83%, memperkuat kelayakan dari aspek kebahasaan, kejelasan pesan, serta keterbacaan isi buku saku. Hal ini menandakan bahwa media yang dikembangkan sudah sesuai dengan standar yang dibutuhkan dalam mendukung pembelajaran karakter berbasis nilai-nilai Pancasila. Selanjutnya, hasil uji coba terhadap peserta didik memberikan gambaran positif atas penerimaan media ini. Uji coba kelompok kecil yang melibatkan 7 siswa kelas X menghasilkan persentase 80,1% dengan kategori AulayakAy, meskipun disertai sejumlah saran perbaikan. Setelah dilakukan revisi, hasil uji coba kelompok besar menunjukkan peningkatan signifikan dengan persentase 97,5%, yang termasuk kategori Ausangat layakAy. Capaian ini menunjukkan bahwa media buku saku sangat efektif dan dapat diterima baik oleh siswa sebagai Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Listari. , et al Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. alat bantu dalam memahami dan menginternalisasi nilai-nilai karakter melalui budaya sekolah. Keterbaruan . dalam penelitian ini terletak pada pengembangan buku saku karakter yang secara langsung mengintegrasikan strategi ranah afektif (Receiving. Responding. Valuing. Organization. Characterizatio. dengan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila. Buku saku ini disusun secara ringkas, visual, dan kontekstual untuk menyasar siswa di sekolah keberbakatan berbasis kurikulum mandiri dan sekolah ramah anakAisebuah pendekatan yang belum banyak diteliti secara khusus dalam konteks media pembelajaran karakter. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi pada aspek teoretis dalam pendidikan karakter, tetapi juga pada praktik pembelajaran yang aplikatif dan sesuai dengan perkembangan Kurikulum Merdeka di era saat ini. Referensi