Open Access Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia E-ISSN: 3047-8855 DOI: https://doi. org/10. 69930/jrski. Review Article Vol. , 2025 Hal. Literatur Review: Perbandingan Efektivitas Antibiotik Golongan Sefalosporin Generasi ketiga pada Pasien Demam Tifoid Yuviana Yuviana *. Muhammad Fitra Wardhana Sayoeti. Ervina Damayanti. Rasmi Zakiah Oktarlina Program studi Farmasi. Fakultas Kedokteran. Universitas Lampung. Indonesia *Email (Penulis Korespondens. : yuviana889@gmail. Abstrak. Antibiotik berperan penting dalam pengobatan demam tifoid. Antibiotik sefalosporin generasi ketiga merupakan alternatif dari antibiotik lini pertama yang efektif digunakan dalam tatalaksana demam tifoid dengan respon klinis antibiotik berbeda-beda. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga pada pasien demam tifoid. Metode yang digunakan adalah penelusuran litelatur dari database jurnal, meliputi PubMed dan Google Scholar menggunakan metode Boolean operator, dengan kata kunci (AuTyohoid feverAy OR AuSalmonella TyphiA. AND . hird-generation cephalosporinsAy OR AuceftriaxoneAy OR AucefiximeAy OR AucefotaximeA. AND (Auclinical effectivenessAy OR Auclinical outcomeAy OR AudefervescenceAy OR Au treatment outcomeA. Berdasarkan proses seleksi, terdapat 9 artikel yang memenuhi kriteria dan ditelaah dalam review ini. Hasil kajian menunjukkan bahwa antibiotik ceftriaxone merupakan antibiotik yang paling efektif dalam menurunkan demam dan lama rawat dibanding cefotaksim dan cefixime. Perbedaan respon klinis dipengaruhi oleh rute pemberian dan sifat farmakokinetik masing-masing obat. Kajian ini menunjukkan adanya perbedaan efektivitas antara ketiga antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga, dimana antibiotik ceftriaxone yang paling efektif. Kata kunci: Demam Tifoid. Ceftriaxone. Cefotaxime. Cefixime. Efektivitas Klinis Abstract. Antibiotics play a crucial role in the management of typhoid fever. Third-generation cephalosporins represent an alternative to first-line antibiotics and are widely used in the treatment of typhoid fever, although their clinical responses vary. This litelature review aims to compare the effectiveness of third-generation cephalosporin antibiotics in patients with typhoid fever. The literatur search was conducted through PubMed and Google Scholar using Boolean operators with the following keyword: (AuTyphoid feverAy OR AuSalmonella TyphiA. AND . hird-generation cephalosporinsAy OR AuceftriaxoneAy OR AucefiximeAy OR AucefotaximeA. AND (Auclinical effectivenessAy OR Auclinical outcomeAy OR AudefervescenceAy OR Au treatment outcomeA. Based on the selection process, nine articels met the inclusion criteria and were analyzed in the review. The findings indicate that ceftriaxone is the most effective antibiotic in reducing fever duration and length of hospital stay compared with cefotaxime and cefixime. Variations in clinical response are influenced by differences in the route of administration and pharmacokinetic properties of each drug. This review concludes that there is a difference in clinical effectivenes among the three third-generation cephalosporins, with ceftriaxone demonstrating the highest level of effectivenes. Keywords: Typhoid Fever. Ceftriaxone. Cefotaxime. Cefixime. Clinical Outcome https://journal. com/index. php/jrski Received: 7 Mei 2026 / Accepted: 21 Mei 2026 / Available online: 22 Mei 2026 Pendahuluan Bakteri Salmonella Typhi merupakan penyebab salah satu penyakit menular yaitu demam tifoid. Penularan demam tifoid dapat terjadi melalui jalur oral dan fekal serta melalui makanan atau minuman yang terinfeksi Salmonella Typhi (Sari et al. , 2. Demam tifoid sering terjadi khususnya di negara berkembang dengan jumlah penduduk yang padat, sanitasi buruk, dan kurangnya air bersih (Ajibola et al. , 2. Menurut WHO, pada tahun 2019 terdapat 9 juta kasus demam tifoid dengan angka kematian mencapai 110. 000 setiap tahun di seluruh dunia. Demam tifoid banyak terjadi di negara berkembang seperti Afrika. Mediterania Timur. Asia Tenggara, dan Pasifik Barat. Indonesia terdapat 500 hingga 100. 000 kasus demam tifoid dengan tingkat kematian berkisar antara 0,6%. Berdasarkan data Riskesdas, 2018 kejadian demam tifoid di Indonesia mencapai 1,7%. Angka kejadian tertinggi terjadi pada kelompok usia 5-14 tahun . ,9%), usia 1-4 tahun . ,6%), usia 15-24 tahun . ,5%), dan usia dibawah 1 tahun . ,8%). Dari data tersebut kelompok yang paling banyak terdiagnosis demam tifoid adalah anak-anak yang berusia 0 sampai 19 tahun (Wilujeng et al. , 2. Antibiotik berperan penting dalam pengobatan demam tifoid, karena terapi antimikroba yang tepat dapat mempercepat penurunan demam dan perbaikan gejala dalam waktu 3-5 hari. Pemberian antibiotik adekuat juga mampu menghilangkan seluruh gejala dalam waktu 7-10 hari serta dapat menghambat penyebaran bakteri, sehingga angka kematian yang sebelumnya mencapai 5-10% dapat ditekan hingga kurang dari 1% (Rachelia et al. , 2. Pemilihan antibiotik yang efektif dan rasional dalam penatalaksanaan demam tifoid berperan penting dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDG. , khususnya SDG 3. 3 yang menargetkan penghentian epidemiologi penyakit menular pada tahun 2030. Terapi yang tepat tidak hanya menyembuhkan pasien, tetapi juga harus memutus rantai penularan di masyarakat (WHO, 2. Tantangan terapi muncul akibat meningkatnya resistensi terhadap antibiotik lini pertama seperti kloramfenikol, ampisilin, dan trimethopransulfametoksazol (Britto et al. , 2. Perubahan sensitivitas bakteri ini menjadikan antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga sebagai alternatif terapi utamadalam penatalaksanaan demam tifoid (Kuehn et al. , 2. Menurut Klem et al. , . penggunaan sefalosporin generasi ketiga meningkat secara global sebagai alternatif dari resistensi antibiotik lini pertama pada demam tifoid. Penelitian ini juga melaporkan munculnya resistensi awal terhadap ceftriaxone, cefotaxime, dan cefixime di beberapa negara endemis. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas ketiga antibiotik tersebut tidak sepenuhnya stabil dan bervariasi antar wilayah. Variasi efektivitas antara ceftriaxone, cefotaxime, dan cefixime telah dilaporkan, namun bukti komparatif yang komprehensif masih terbatas, khususnya di Indonesia. Oleh karena itu, tinjauan literatur ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga pada pasien demam tifoid. Melalui telaah ini, diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif efektivitas antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga pada pasien demam tifoid. Metode Tinjauan literatur ini membandingkan efektivitas antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga pada pasien demam tifoid. Penelusuran literatur dari database jurnal, meliputi PubMed. ScienceDirect, dan Google Scholar dengan menggunakan Boolean operator pada https://journal. com/index. php/jrski kata kunci (AuTyphoid feverAy OR AuSalmonella TyphiA. AND (Authird-generation cephalosporinsAy OR AuceftriaxoneAy OR AucefiximeAy OR AucefotaximeA. AND (Auclinical effectivenessAy OR Auclinical outcomeAy OR AudefervescenceAy OR Autreatment outcomeA. Artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi adalah naskah asli berbahasa Inggris atau berbahasa Indonesia yang memuat informasi terkait efektivitas antibiotik sefalosporin generasi ketiga pada pasien demam tifoid. Sementara itu, artikel dengan publikasi yang tidak tersedia dalam bentuk teks lengkap dan tahun publikasi O10 tahun terakhir . termasuk dalam kriteria eksklusi. IDENTIFIKASI Artikel yang ditemukan dari database: Pubmed: 74 Google Scholar: 156 Total: 230 Duplikasi hapus: 192 Judul dan abstrak disaring: 142 Full text dievaluasi: 50 Artikel dikeluarkan: 41 Alasan: - Tidak full text . - Data tidak lengkap . - Bukan studi efektivitas . INCLUDED Artikel yang memenuhi syarat: 9 Hasil dan Pembahasan Berdasarkan telaah dari beberapa penelitian, diperoleh data mengenai perbandingan efektivitas antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga pada pasien demam tifoid yang dirangkum dalam Tabel 1. Peneliti Pratiwi et al. , 2022 Tabel 1. Hasil analisis artikel Judul Metode Perbandingan Observasional analitik, cross ceftriaxone dan cefotaxime pada Analisis pasien anak demam Mann-Whitney https://journal. com/index. php/jrski Hasil Tidak ada efektivitas antara ceftriaxone dan Peneliti Judul tifoid di Rumah Sakit Mitra Siaga Metode Hasil cefotaxime terhadap lama rawat inap. Zalfa et al. , 2024 Efektivitas antibiotik golongan sefalosporin pada terapi demam tifoid pediatri rawat inap Cross-sectional prospektif, total Uji Independent T-test dan Mann-Whitney Ceftriaxone lebih efektif dibanding cefixime dalam lama rawat inap . value=0,. dan waktu bebas demam . -value=0,. Efriani et al. , 2024 Perbandingan efektivitas obat ceftriaxone dan cefotaxime pada pasien demam tifoid RSD Kota Cirebon Observasional noneksperimental, cross-sectional Ceftriaxone lebih efektif dalam menurunkan suhu normalisasi leukosit, tapi lama rawat tidak berbeda Nurhanif & Tunru. Perbedaan efektivitas antibiotik dalam terapi demam tifoid tanpa komplikasi pada anak di RS Putra Bahagia Retrospektif rekam Ceftriaxone memiliki waktu bebas demam tercepat . ,46 ja. dibanding antibiotik Ilyas & Fredi, 2024 Perbandingan ceftriaxone dan cefotaxime untuk terapi demam tifoid di RS Kartika Kasih Sukabumi Cross-sectional retrospektif, analisis deskriptif kuantitatif Ceftriaxone lebih efektif dengan ratarata lama rawat 2,42 Yusransyah et al. Cost-effectiveness analysis of ceftriaxone and cefixime in typhoid fever patients hospitalized at Berkah Pandeglang Retrospektif, analisis biaya-efektivitas Avarage CostEffectiveness Ratio (ACER) Ceftriaxone lebih cost-effective dibanding cefixime pada pasien demam https://journal. com/index. php/jrski Peneliti Judul Regional Hospital For The Periode Metode Hasil Pratama et al. , 2025 Cost-effectiveness analysis of thirdgeneration antibiotics in the treatment of typhoid fever at Tangerang Selatan General Hospital Observasional noneksperimental, analisis biayaefektivitas Avarage CostEffectivenes Ratio (ACER) Ceftriaxone efektivitas klinis lebih baik dibanding cefixime dengan biaya lebih rendah Sunaryani et al. Perbandingan efektivitas antibiotik generasi ketiga pada pasien demam tifoid di Rumah Sakit Daerah Madani Provinsi Sulawesi Tengah Periode 2017 Retrospektif rekam Cefotaxime lebih efektif dibandingkan Parikh, et al. , 2025 Clinical effectiveness Multicenter Cefixime and safety of retrospektive study cefixime in efektivitas tinggi managing typhoid untuk mengatasi fever in Indian tanda dan gejala population: A Realdemam tifoid world Evidence Study Sumber: ((Efriani et al. , 2. (Ilyas & Fredi, 2. (Nurhanif & Tunru, 2. (Parikh, et al. (Pratama et al. , 2025 ). (Pratiwi et al. , 2. (Sunaryani et al. , 2019 ). (Yusransyah et al. (Zalfa et al. , 2. Berdasarkan hasil telaah dari berbagai penelitan mengenai penggunaan antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga, menunjukkan pola efektivitas yang bervariasi antara ceftriaxone, cefotaxime, dan cefixime. Variasi terlihat dari perbedaan lama rawat inap, waktu bebas demam, serta kemampuan obat dalam menormalkan parameter laboratorium. Penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi et al. , . menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara ceftriaxone dan cefotaxime terhadap lama rawat inap pada pasien demam tifoid anak. Hal tersebut menunjukkan bahwa ceftriaxone dan cefotaxime https://journal. com/index. php/jrski memiliki kemampuan yang sama dalam pemulihan pasien jika dinilai dari lama rawat inap. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Efriani et al. , . menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan terhadap lama rawat. Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh Ilyas & Fredi, . menunjukkan bahwa ceftriaxone lebih efektif dibandingkan cefotaxime berdasarkan lama rawat inap. Perbedaan ini terjadi karena lama rawat inap tidak hanya dipengaruhi oleh jenis antibiotik yang diberikan, tetapi terdapat faktor lain yang mempengaruhi seperti rasionalitas penggunaan antibiotik, tingkat keparahan penyakit, serta kondisi tubuh pasien (Efriani et al. , 2. Selain itu, pemberian antibiotik juga harus tepat baik tepat dosis, tepat diagnosa, tepat rute pemberian, interval serta lama pemberian (Sari et al. , 2. Penelitian yang dilakukan oleh Efriani et al. , . menunjukkan bahwa ceftriaxone menurunkan suhu dan menormalkan leukosit lebih cepat dibanding cefotaxime. Respon terapi yang lebih baik tersebut berkaitan dengan tingkat resistansi yang lebih rendah dan aktivitas ceftriaxone yang lebih efektif terhadap bakteri gram negatif. Ceftriaxone juga lebih cepat mengembalikan jumlah leukosit ke kondisi normal yaitu antara 4. 000/AAL. Leukosit akan meningkat sebagai respon imun tubuh ketika terjadi infeksi, karena sel-sel ini berperan dalam proses inflamasi untuk melawan patogen. Kadar leukosit yang melebihi 000/AAL . menunjukkan adanya infeksi bakteri, termasuk infeksi oleh Salmonella Typhy. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurhanif & Tunru . melaporkan bahwa Ceftriaxone memiliki waktu bebas demam lebih cepat yaitu dengan rata-rata 42,46 jam, dibandingkan dengan antibiotik lain. Ceftriaxone dan cefotaxime memiliki mekanisme kerja yang sama sebagai sefalosporin generasi ketiga, namun terdapat perbedaan farmakokinetik yang membuat efektivitas klinisnya tidak selalu setara. Ceftriaxone memiliki waktu paruh yang lebih panjang, yaitu 8 jam serta ikatan protein plasma tinggi . %). Karakteristik ini dapat membantu mempertahankan konsentrasi obat di atas Minimum Inhibitory Concentration (MIC) lebih lama, sehingga menghasilkan efek bakterisidal yang lebih stabil pada infeksi sistemik seperti tifoid. Ceftriaxone juga memungkinkan pemberian regimen dosis sekali sehari . nce-daily dosin. sebesar 1-2 gram perhari, yang secara klinis lebih praktis dan berpotensi meningkatkan keparuhan pasien (Sharma et al. , 2. Cefotaxime memiliki waktu paruh yang lebih pendek, yaitu 1-2 jam dengan ikatan protein lebih rendah . %). Kondisi ini menyebabkan konsentrasi obat menurun lebih cepat sehingga membutuhkan frekuensi pemberian lebih sering untuk mempertahankan efektivitas antibakterinya (Arumugham et al. , 2. Selain itu, ceftriaxone dilaporkan memiliki kemampuan menghambat sintesis dinding sel bakteri Salmonella Typhi lebih kuat dibanding cefotaxime, sehingga memberikan respon klinis yang lebih baik (Efriani et al. ,2. Penelitian yang dilakukan oleh Kuehn et al. , . menunjukkan bahwa ceftriaxone efektif mengatasi infeksi akibat Salmonella Typhi dengan efek samping rendah dan kemampuan klinis yang setara dengan azithromycin, fluroquinolon, dan kloramfenikol. Cefixime juga digunakan untuk mengobati infeksi akibat Salmonella Typhi, namun kemampuan klinisnya tidak sebaik fluoroquinolon. Temuan ini sejalan dengan penelitian Zalfa et al. , . yang menyebutkan bahwa ceftriaxone menghasilkan waktu bebas demam dan lama rawat inap lebih singkat dibandingkan cefixime. Perbedaan tersebut berkaitan dengan variasi rute pemberian dan karakteristik farmakokinetik antara ceftriaxone dan Cefixime diberikan secara oral, sehingga harus melalui proses absorpsi di saluran https://journal. com/index. php/jrski cerna, dengan bioavailabilitas hanya 30-50%, ikatan protein sekitar 65% dan waktu paruh 2,44 jam. Kondisi ini menyebabkan peningkatan kadar cefixime dalam darah lebih lambat dan penurunan konsentrasi lebih cepat, sehingga efek antibakterinya kurang stabil pada infeksi sistemik seperti tifoid (Ajmal et al. , 2. Ceftriaxone diberikan secara intravena, sehingga obat langsung masuk ke aliran darah tanpa melewati proses absorpsi dengan bioavailabilitas hampir 100%, waktu paruh 8 jam dan ikatan protein plasma tinggi . %). Hal ini dapat mendukung tercapainya konsentrasi obat yang stabil diatas Minimum Inhibitory Concentration (MIC), sehingga memberikan efek bakterisidal yang optimal pada infeksi sistemik seperti tifoid (Arumugham et al. , 2. Ceftriaxone dapat dijadikan pilihan utama pada pasien demam tifoid yang menjalani rawat inap sebagai terapi awal, karena pemberian intravena mampu mencapai konsentrasi obat yang optimal dalam darah dan lebih cepat berada di atas nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC). Kondisi ini sangat penting pada fase akut peyakit, sehingga terapi intravena direkomendasikan sebelum pasien dialihkan ke antibiotik oral ketika kondisi klinis sudah membaik (Bhandari et al. , 2. Kesimpulan Berdasarkan hasil dari tinjauan literatur dapat disimpulkan bahwa antibiotik ceftriaxone merupakan antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga yang efektif pada pasien demam tifoid, terutama dalam menurunkan demam dan lama rawat inap dibanding cefotaxime dan cefixime. Ucapan Terima Kasih Ucapan terimakasih disampaikan kepada dosen pembimbing dan pembahas skripsi Jurusan Farmasi. Fakultas Kedokteran. Universitas Lampung atas bimbingan, saran, serta masukan selama proses penyusunan artikel ini. Kontribusi tersebut sangat berperan dalam terselesaikannya karya ilmiah ini. Daftar Pustaka