PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 9 No. Mei - Juli e-ISSN: 2622-6383 doi: 10. 57178/paradoks. Konstelasi Faktor Penyebab Kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Timur Dheavani Dhysta Layungsari1*. Reikha Habibah Yusfi 2 dhysta220701@gmail. com 1* Program Studi Ekonomi Pembangunan. Universitas Negeri Semarang. Negara Indonesia 1*,2 Abstrak Kemiskinan menjadi salah satu permasalahan pembangunan di negara berkembang yang berdampak pada rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan Angka Partisipasi Sekolah (APS) terhadap kemiskinan di Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder yang diperoleh dari publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur. Analisis data dilakukan menggunakan metode regresi data panel untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dan variabel dependen menggunakan aplikasi olah data Stata 17. Hasil penelitian menunjukan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berpengaruh positif terhadap kemiskinan. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa jumlah pengangguran yang meningkat akan meningkatkan jumlah penduduk miskin karena berkurangnya kesempatan masyarakat untuk memperoleh pendapatan, walaupun hasil yang didapatkan menunjukan pengaruh yang tidak signifikan. Sementara itu. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berpengaruh negatif terhadap kemiskinan, yang menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pembangunan manusia melalui pendidikan, kesehatan, dan standar hidup layak mampu menurunkan tingkat kemiskinan. Selain itu. Angka Partisipasi Sekolah (APS) juga berpengaruh negatif terhadap kemiskinan, yang berarti peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan dapat mendukung penurunan tingkat kemiskinan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa faktor ketenagakerjaan dan pembangunan manusia berdampak dalam memengaruhi tingkat kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Meskipun. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan Angka Partisipasi Sekolah (APS) menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Secara keseluruhan pada penelitian ini, melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kemiskinan di Nusa Tenggara Timur dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan pembangunan manusia yang termasuk ke dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Tingkat pengangguran yang rendah, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia, serta akses terhadap pendidikan yang ditingkatkan menjadi faktor yang saling berkorelasi dalam upaya pengentasan kemiskinan. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang terintegrasi melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan kualitas pendidikan, serta penguatan pembangunan manusia untuk mendukung upaya pengentasan kemiskinan secara Kata Kunci: Kemiskinan. Tingkat Pengangguran Terbuka. Indeks Pembangunan Manusia. Pendidikan. Kesejahteraan. Pendapatan This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 542 Pendahuluan Kemiskinan adalah suatu persoalan dalam pembangunan yang bersifat kompleks dan menjadi tantangan di beberapa daerah negara berkembang seperti Indonesia, salah satunya di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang tergolong ke dalam daerah 3T (Terluar. Terdepan dan Tertingga. (Widayatsari et al. , 2. Tingginya tingkat kemiskinan mencerminkan rendahnya pendapatan masyarakat, rendahnya pendapatan masyarakat yang dipengaruhi oleh rendahnya produktivitas dan ketergantunggan masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur terhadap sektor pertanian, sector pertanian di Provinsi Nusa Tenggara Barat bergantung pada kondisi alam dengan pola satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah sehingga mengakibatkan kemarau lebih lama dan mengakibatkan pendapatan masyarakat tidak stabil. Selain itu tingkat kemiskinan yang tinggi juga menunjukkan keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur dasar (Istiandari, 2. Data Badan Pusat Statistik menunjukan terdapat sekitar 112 ribu penduduk kota yang mengalami kemiskinan sedangkan di desa terdapat sekitar 919 ribu jiwa yang mengalami kemiskinan, kondisi tersebut menunjukan terdapat ketimpangan kemiskinan antara kota dan desa yang terbilang tinggi dan belum merata antarwilayah. ketimpangan kemiskinan yang terjadi antara perkotaan dan pedesaan di Provinsi Nusa Tenggara Timur menunjukan adanya disparitas pembangunan antarwilayah, yang menyebabkan desa semakin tertinggal, dan menimbulkan ketidaksetaraan pendapatan. Ketidaksetaraan pendapatan tidak hanya mempengaruhi kemiskinan, namun juga mempengaruhi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan (Setena, 2024. Tingginya jumlah penduduk miskin di wilayah pedesaan mengindikasi bahwa pembangunan ekonomi masih belum merata dan cenderung terpusat di perkotaan, adanya kondisi tersebut membuat masyarakat pedesaan memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas ekonomi, pelayanan publik dan pendidikan (Kamila. Nabila. Buchari, 2. Keterbatasan tersebut mencerminkan pertumbuhan ekonomi hanya menguntungkun sebagian kelompok masyarkat dan gagal meningkatkan kesejahteraan seluruh kelompok sosial (Ramadhani. Faktor struktural seperti pendidikan, kondisi geografis dan infrastruktur, tingkat pendidikan yang rendah ditimbulkan oleh akses layanan dasar yang tidak merata berperan dalam mempengaruhi tingkat kemiskinan(Koja et al. , 2. Kondisi geografis Provinsis Nusa Tenggara Timur yang terdiri atas kepulauan yang didominasi oleh perbukitan pegunungan, daratan savana yang luas, dan perairan laut yang memiliki luas lebih dominan yaitu sekitar 200. 000 km2, kondisi geografis tersebut menjadi salah satu masalah kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Timur karena adanya masalah tersebut membuat biaya distribusi barang lebih tinggi. Apabila masalah tersebut tidak ditangani secara efektif maka berpotensi berpotensi menjerat masyarakat dalam lingkaran kemiskinan . overty tra. , keterbatasan akses terhadap modal, pendidikan, dan kesempatan kerja menyebabkan kemiskinan yang cenderung diwariskan antar generasi dan menghambat pertumbuhan ekonomi daerah (Irwan & Moeis, 2. Kondisi keterbatasan tersebut diperparah oleh rendahnya produktivitas masyarakat yang masih bergantung pada sektor dengan nilai tambah rendah, sehingga output ekonomi sulit meningkat, daya saing wilayah melemah, investasi tidak berkembang, dan lapangan kerja berkualitas terbatas, yang pada akhirnya menyebabkan stagnasi pendapatan per kapita dan ketertinggalan daerah dalam jangka panjang. Apabila permasalahan struktural seperti rendahnya kualitas pendidikan, keterbatasan infrastruktur, dan hambatan geografis tidak segera diperbaiki, maka kualitas sumber daya manusia akan tetap rendah, akses terhadap layanan dasar terbatas, serta generasi muda kehilangan daya saing, sehingga kemiskinan akan semakin mengakar dan ketimpangan antar wilayah menjadi permanen. Dalam perspektif ekonomi pembangunan, kemiskinan dipengaruhi oleh berbagai indikator makroekonomi seperti tingkat pengangguran terbuka, kualitas sumber daya manusia yang diukur melalui Indeks Pembangunan Manusia Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 543 (IPM), serta angka partisipasi sekolah. Variabel-variabel tersebut mempunyai keterkaitan erat dengan kemampuan masyarakat dalam meningkatkan produktivitas, memperoleh pendapatan, dan memenuhi kebutuhan hidup layak. Oleh karena itu, analisis terhadap faktor-faktor tersebut menjadi penting untuk merumuskan kebijakan yang efektif dalam menurunkan tingkat kemiskinan pada kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Nusa Tenggara Timur mencapai 3,14% pada tahun 2023, dan di tahun 2024 yaitu 3,02%. Adanya perubahan pada tahun tersebut mengindikasikan penurunan pekerja dari periode sebelumnya. Menurut Teori Keynesian . Menurut Sukirno pengangguran terjadi karena permintaan dan penawaran tenaga kerja mengalami ketidakseimbangan, sehingga terjadi penurunan pendapatan dan peningkatan kemiskinan. Pengangguran yaitu sebuah kondisi individu yang masih tergolong dalam angkatan kerja aktif yang mencari suatu pekerjaan dengan upah tertentu namun, belum mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keinginan . Apabila terdapat pengangguran dalam masyarakat berarti masyarakat tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga besar kemungkinan dapat terjerumus dalam lingkaran kemiskinan, hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka memiliki hubungan yang erat dengan kemiskinan (Fajriah, 2. Sumber Data BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur Gambar 1 Presentase Penduduk Miskin di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2018 dan 2024 Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia sering dikaitkan dengan pengurangan kemiskinan, karena peningkatan dalam kesehatan, akses pendidikan, dan pendapatan secara langsung berkontribusi pada kesejahteraan yang lebih baik (Setena, 2. Kualitas pembangunan manusia yang tercermin dalam indeks pembangunan manusia juga berperan penting dalam menekan kemiskinan, di mana peningkatan indeks pebangunan manusia terbukti mampu menurunkan tingkat kemiskinan melalui peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan daya beli masyarakat. Penelitian (Ramadhani, 2. menunjukan bahwa indeks pembangunan manusia memiliki dampak negative yang signifikan terhadap ketidaksetaraan pendapatan, yang mengartikan bahwa setiap peningkatan indeks pembangunan manusia dapat mengurangi tingkat ketidaksetaraan Pendapat ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Rostow dan Musgrave yang mengatakan bahwa pembangunan ekonomi merupakan sebuah proses yang dapat menyebabkan perubahan dalam masyarakat seperti perubahan politi, struktur sosial, nilai sosial dan kegiatan ekonomi, seperti peran penting indeks pembangunan manusia dalam pembangunan ekonomi melalui pendidikan dan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 544 kesehatan. Di Nusa Tenggara Timur indeks pembangunan manusia setiap tahunya mengalami peningkatan yang berkisar antara 0,5% hingga 0,8%, adanya peningkatan ini menunjukan bahwa proses peningkatan kualitas sumber daya manusia terjadi secara bertahap, namun belum mengalami peningkatan secara signifikan. Pada tahun 2020-2021 peningkatan indeks pembangunan manusia cenderung tetap atau lambat, kondisi tersebut terjadi karena adanya dampak pandemi Covid-19 yang mempengaruhi sektor pendidikan dan kesehatan. Aspek pendidikan yang diukur melalui angka partisipasi sekolah juga menjadi determinan penting, karena pendidikan berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan peluang kerja di masa depan. Jika dilihat dari segi pendidikanya, berdasarkan data Badan Pusat Statistika di Provinsi Nusa Tenggara Timur sekitar 30% masyarakat dengan usia Sekolah Menengah Atas tidak melanjutkan sekolah, dimana diusia tersebut merupakan usia yang dianggap bisa melakukan suatu pekerjaan. Angka partisipasi sekolah di Provinsi Nusa Tenggara Timur menunjukan penurunan seiring dengan meningkatnya jenjang pendidikan dan terbilang rendah, kondisi tersebut menjadi masalah yang penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah akan menyebabkan kualitas dan kuantitas hasil produksi yang rendah, sehingga berdampak pada rendahnya peluang kerja. Namun, apabila seseorang mempunyai kualitas pendidikan yang tinggi maka kualitas sumber daya manusia juga akan meningkat (Itarini et al. , 2. selain sumber daya manusia, pendidikan yang meningkat juga berkaitan dengan segmentasi upah tenaga kerja. Segmentasi upah tenaga kerja meberikan peluang lebih luas untuk mendapatkan upah yang lebih tinggi sehingga dapat mengeluarkan seseorang dari resiko kemiskinan(Mahendra & Wibowo, 2. Berbagai studi telah mengkaji korelasi antara pengangguran, indeks pembangunan manusia, dan kemiskinan namun, sebagian besar penelitian masih berfokus pada tingkat provinsi atau nasional, serta belum banyak yang secara simultan mengintegrasikan variabel angka partisipasi sekolah dalam analisis data panel pada tingkat kabupaten/kota, khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur, sebagai provinsi yang masuk ke dalam daerah 3T (Tertinggal. Terluar. Terdepa. Selain itu, karakteristik wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki keterbatasan infrastruktur dan kualitas serta kuantitas sumber daya manusia dengan ketrampilan yang dibutuhkan lapangan pekerjaan yang relatif rendah memberikan konteks empiris yang berbeda dibandingkan daerah lain di Indonesia. Dengan demikian, terdapat kesenjangan penelitian dalam memahami bagaimana kombinasi faktor ekonomi dan sosial tersebut mempengaruhi kemiskinan secara lebih komprehensif pada level regional yang lebih spesifik. Berdasarkan kesenjangan tersebut, rumusan masalah penelitian ini yaitu . bagaimana pengaruh tingkat pengangguran terbuka terhadap kemiskinan, . bagaimana pengaruh indeks pembangunan manusia terhadap kemiskinan, dan . bagaimana pengaruh angka partisipasi sekolah terhadap kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh variabelvariabel tersebut secara parsial dan simultan menggunakan pendekatan data panel. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi variabel ekonomi . engangguran dan indeks pembangunan manusi. , dan sosial . endidikan melalui angka partisipasi sekola. dalam satu model empiris di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2018-2024. Konsep kemiskinan dalam penelitian ini mengacu pada kondisi ketidakmampuan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar, baik makanan maupun non-makanan. Tingkat pengangguran terbuka mencerminkan proporsi angkatan kerja yang belum terserap dalam pasar kerja, yang secara teoritis berkontribusi terhadap peningkatan Sedangkan. Indeks Pembangunan Manusia menggambarkan kualitas hidup masyarakat melalui dimensi pendidikan, kesehatan, dan standar hidup layak. Angka partisipasi sekolah mencerminkan tingkat akses pendidikan yang berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Integrasi keempat variabel tersebut Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 545 diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai determinan kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2018-2024. Metode Analisis Metode kuantitatif digunakan dalam penelitian ini dengan menitikberatkan pada analisis data yang menghasilkan parameter melalui pengujian hipotesis untuk menarik kesimpulan dari proses penelitian yang dilakukan, serta menekankan pada analisis data yang numerik secara matematis ataupun statistik. Data kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya yaitu presentase kemiskinan, tingkat pengangguraan terbuka, indeks pembangunan manusia dan angka partisipasi sekolah. Lokasi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Provinsi Nusa Tenggara Timur. Teknik analisis regresi data panel digunakan untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Pada analisis ini dilakukan pemilihan model data panel terbaik dan sesuai yang nantinya akan digunakan, diantaranya yaitu Common Effect Model (CEM). Fixed Effect Model (FEM). Random Effect Model (REM). Pemilihan model ini dilakukan melalui serangkaian uji pemilihan model diantaranya yaitu Uji Chow. Uji Hausman, dan Uji Lagrange Multiplier (LM). Uji Chow digunakan untuk menentukan untuk menentukan model yang akan dipakai antara Common Effect Model (CEM) atau Fixed Effect Model (FEM). Uji Hausman digunakan untuk menentukan antara Fixed Effect Model (FEM) atau Random Effect Model (REM) yang akan digunakan, uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah efek individual (Kabupaten/Kot. berkorelasi dengan variabel independent. Uji Lagrange Multiplier digunakan untuk memilih antara Common Effect Model (CEM) dan Random Effect Model (REM). Pengujian ini dilakukan Ketika pada Uji Chow model yang terpilih adalah Command Effect Model (CEM). Namun, apabila pada Uji Chow model yang terpili adalah Fixed Effect Model maka pengujian ini tidak perlu dilakukan. Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier berganda. Data sekunder yang diperoleh adalah data panel dari tahun 2018 hingga 2024 atau sebanyak 7 tahun dengan satu lokasi penelitian yang sama yaitu Provinsi Nusa Tenggara berdasarkan kabupaten atau kota sebanyak 22 kabupaten atau kota, yang diambil dari Badan Pusat Statistika. Metode analisis yang digunakan bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh variabel independen yaitu Tingkat pengangguran Terbuka (TPT). Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan Angka Partisipasi Sekolah (APS) terhadap variabel dependen yaitu Persentase Penduduk Miskin (POV) di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2018-2024. Model ekonometrika yang digunakan sebagai berikut: ycEycCycOycnyc = yu0 yu1 TPTycnyc yu2 yaycEycAycnyc 3 yaycEycIycnyc yuAycnyc Keterangan yu0 yu1 , yu2 , yu3 POV TPT IPM APS : Konstanta : Koefisien regresi variabel independen : Kemiskinan Provinsi Nusa Tenggara Timur : Tingkat Pengangguran Terbuka : Indeks Pembangunan Manusia : Angka Partisipasi Sekolah : Kabupaten/Kota : Tahun : Error Term Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 546 Tabel 1 Informasi Variabel Variabel Persentase Penduduk Miskin Tingkat pengangguran Terbuka Indeks Pembangunan Manusia Angka Partisipasi Sekolah Kode POV TPT IPM APS Satuan Persen Persen Persen Persen Sumber BPS BPS BPS BPS Hipotesis Statistik H01 = diduga Tingkat Pengangguran Terbuka tidak berpengaruh terhadap Kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2018 hingga 2024. HA1 = diduga Tingkat Pengangguran Terbuka berpengaruh terhadap Kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2018 hingga 2024. H02 = diduga Indeks Pembangunan Manusia tidak berpengaruh terhadap Kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2018 hingga 2024. HA2 = diduga Indeks Pembangunan Manusia berpengaruh terhadap Kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2018 hingga 2024. H04 = diduga Angka Patisipasi Sekolah tidak berpengaruh terhadap Kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2018 hingga 2024. HA4 = diduga Angka Partisipasi Sekolah berpengaruh terhadap Kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2018 hingga 2024. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Pada tahap pertama dilakukan tahap pengujian dengan Uji Chow. Uji Hausman, dan Uji Lagrange Multiplier untuk membandingkan model Common Effect. Fixed Effect, dan Random Effect sehingga dapat menetapkan model yang paling sesuai dengan data penelitian yang digunakan. Tabel 2 Hasil Uji Chow dan Hausman Uji Chow F test Prob > f Uji Hausman Wald chi Prob > chi Sumber: data diolah. Stata 17 Tabel 2 menunjukan hasil Uji Chow pada penelitian ini, hasil Uji Chow pada penelitian ini menunjukan nilai prob 0,0000 < 0,05 maka yang model tebaik yang terpilih adalah FEM. Dikarenakan model terbaik yang terpilih adalah model FEM maka pengujian yang dilakukan selanjutnya adalah Uji Hausman, dengan hasil yang diperoleh yaitu nilai prob 0,0000 < 0,05, maka model yang terpilih adalah model FEM. Berdasarkan hasil Uji Chow dan Uji Hausman, maka model yang terbaik dalam penelitian ini adalah FEM. Tabel 3 Hasil Regresi Data Panel Variable TPT IPM APS Coefficient R-Squared Std. t-statistic F-Statistic Prob > F-Statistic Sumber: data diolah. Stata 17 Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 547 Prob. Berdasarkan hasil regresi data panel pada Tabel 3 maka diperoleh persamaan sebagai berikut: POV= 62. 0353518_TPT_X1 - 0. 6279795_IPM_X2 - 0. 0075688_APS_X3 e Hasil estimasi model tersebut diinterpretasikan sebagai berikut: n Apabila variabel TPT. IPM dan APS diasumsikan konstan atau bernilai nol maka nilai konstanta sebesar 62. 3008 menunjukan bahwa kemiskinan diperkirakan dalam kondisi ceteris paribus. Berdasarkan nilai probabilitas sebesar 0. 000 < 0. araf nyata = 5%). n Nilai koefisien beta variabel TPT (X. 0353518, apabila variabel X1 mengalami peningkatan 1% maka variabel POV (Y) akan mengalami peningkatan 53518% dengan asumsi cateris paribus. n Nilai koefisien beta variabel IPM (X. 6279795, apabila variabel X2 mengalami peningkatan 1% maka variabel POV (Y) akan mengalami peningkatan 79795% dengan asumsi ceteris paribus. n Nilai koefisien beta variabel APS (X. 0075688, apabila variabel X3 mengalami peningkatan 1% maka variabel POV (Y) akan mengalami penurunan 75688% dengan asumsi ceteris paribus. Uji Hipotesis Uji t Uji t digunakan untuk melihat pengaruh variabel independent terhadap variabel dependen secara parsial, hasil yang diperoleh dari penelitian ini diantaranya yaitu: n Hasil uji t pada variabel TPT (X. diperoleh nilai t hitung sebesar 0. 86 < t table 1,97 dan nilai signifikan 0. 392 > 0,05, maka Ha ditolak dan H0 diterima, artinya variabel TPT (X. tidak berpengaruh terhadap POV (Y) n Hasil uji t pada variabel IPM (X. diperoleh nilai t hitung sebesar -17. 76 < t table 1,97 dan nilai signifikan 0. 000 < 0,05, maka Ha diterima dan H0 ditolak, artinya variabel IPM (X. berpengaruh terhadap POV (Y) n Hasil uji t pada variabel APS (X. diperoleh nilai t hitung sebesar -0. 46 < t table 1,97 dan nilai signifikan 0. 646 > 0,05, maka Ha ditolak dan H0 diterima, artinya variabel APS (X. tidak berpengaruh terhadap POV (Y) Uji F Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah variabel independen dalam penelitian ini yaitu TPT. IPM, dan APS secara bersama- sama berpengaruh terhadap variabel dependen dalam penelitian ini yaitu kemiskinan. Nilai F hitung yang dihasilkan sebesar 112. 73 > F table 2,66 dan nilai signifikan 0. 0000 < 0. 05, artinya variabel independent yaitu TPT. IPM, dan APS secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu POV di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Uji Koefisien Determinasi Uji koefisien determinasi dilakukan untuk melihat seberapa besar variabel independen dapat menjelaskan variasi dari variabel dependen dalam penelitian ini. Semakin besar nilai R2, maka semakin kuat kemampuan variabel independent dalam menjelaskan hubungan antarvariabel. Nilai adjusted R squared yang diperoleh sebesar 7239 atau 72. Nilai koefisien determinasi tersebut menunjukan bahwa variabel independent yang terdiri dari TPT. IPM, dan APS mampu menjelaskan variabel POV di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 72. 39%, sedangkan sisanya yaitu 27,61% dijelaskan oleh variabel lain diluar model yang diteliti peneliti. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 548 Uji Asumsi Klasik Uji Heteroskedastisitas Tabel 4 Hasil Uji Heteroskedastisitas Heteroskedasticity Test H0: Constant variance Chi-Square . Prob > Chi- Square . Sumber: data diolah. Stata 17 Uji Heteroskedastisitas dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah ada atau tidak penyimpangan dalam asumsi klasik. Pada penelitian ini berdasarkan hasil pengujian, nilai probabilitas 0. 5964 > 0. 05, maka model yang digunakan dalam penelitian ini tidak terjadi gejala heteroskedastisitas atau lolos uji heteroskedastisitas. Dengan begitu, kondisi ini menunjukan bahwa model regresi memiliki varians yang baik dan hasil estimasi model yang dihasilkan tidak bias. Uji Multikolinearitas Tabel 5 Hasil Uji Multikolinearitas Variable TPT TPT IPM APS Sumber: data diolah. Stata 17 IPM APS Uji Multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui apakah di dalam model regresi penelitian terjadi korelasi linear yang sempurna atau mendekati sempurna antara atau hanya beberapa variabel bebas. Koefisien korelasi TPT. IPM. APS sebesar 0. 5814 < 0,85, maka dapat disimpulkan bahwa terbebas multikolinearitas atau lolos uji multikolinearitas. Hasil tersebut menunjukan bahwa masing-masing dari variabel independent memiliki kontribusi yang berbeda-beda dalam menjelaskan variabel POV . , tanpa adanya hubungan antarvariabel yang dapat mengubah keadaan sebenarnya. Pembahasan Pengaruh Tingkat Pengangguran Terbuka Terhadap Kemiskinan Variabel TPT memiliki pengaruh positif terhadap variabel POV. Hasil regresi ini menunjukan nilai koefisiensi sebesar 0,0353518 yang menunjukan bahwa setiap TPT meningkat sebesar 1% maka akan meningkatkan kemiskinan sebesar 3,53518% dengan asumsi ceteris paribus. Hasil tersebut menunjukan bahwa semakin tinggi jumlah pengangguran, maka semakin besar pula jumlah penduduk miskin di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kondisi terjadi Ketika penduduk yang tidak memperoleh pekerjaan cenderung kehilangan sumber pendapatan utama akibatnya penduduk juga kehilangan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar dalam menjalani kehidupan. Hasil ini sejalan dengan teori, namun dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa TPT tidak berpengaruh secara signifikan, hal ini terjadi karena pengangguran yang termasuk ke dalam faktor ekonomi sudah termasuk ke dalam indeks pembangunan manusia (IPM) serta rentang waktu yang digunakan dalam penelitian ini terlalu pendek untuk mengukur pengangguran dalam jangka panjang. Hasil pada penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh(Aprillia, 2. yang menyatakan bahwa pengangguran dan kemiskinan memiliki keterkaitan yang cukup erat, tingginya tingkat pengangguran akan meningkatkan angka kemiskinan dimana pendapatan yang rendah dapat menjadi penyebab seseorang digolongkan sebagai penduduk miskin. Tingkat pengangguran yang tinggi juga dapat mengakibatkan sebagian masyarakat kehilangan akses terhadap pendapatan yang layak sehingga besar kemungkinan penduduk berada di bawah garis kemiskinan. Adanya kondisi tersebut mengindikasi bahwa masalah pengangguran menjadi tantangan penting yang berpengaruh terhadap peningkatan kemiskinan, ketika jumlah Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 549 pengangguran meningkat maka kemampuan masyarakat untuk memperoleh pendapatan dan memenuhi kebutuhan hidupnya semakin rendah, sehingga resiko untuk jatuh ke dalam kemiskinan semakin besar. Kondisi ini umunya ada pada kelompok tenaga kerja yang memiliki tingkat pendidikan dan keterampilan rendah sehingga sulit untuk memasuki pasar kerja yang semakin kompetitif di era ini. Pengaruh Indeks Pembangunan Manusia Terhadap Kemiskinan Variabel IPM menunjukan pengaruh negatif terhadap variabel POV. Hasil regresi ini menunjukan nilai koefisien sebesar Ae 0,6279795 yang mengindikasi bahwa setiap peningkatan IPM sebesar 1% akan menurunkan tingkat kemiskinan sebesar 62,79795% dengan asumsi ceteris paribus. Hasil regresi tersebut menunjukan bahwa peningkatan kualitas pembangunan manusia melalui aspek pendidikan, kesehatan, dan standar hidup layak mampu mengurangi jumlah penduduk miskin, apabila capaian IPMnNusa Tenggara Timur meningkat, maka kemampuan masyarakat dalam meningkatkan produktivitas dan memperoleh pendapatan yang lebih baik semakin besar, sehingga resiku untuk jatuh ke dalam kemiskinan dapat terhindar. Temuan pada penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menunjukan bahwa peningkatan IPM dapat mengurangi kemiskinan, peningkatan IPM sering dikaitkan dengan pengurangan kemiskinan karena peningkatan akses pendidikan, kesehatan dan pendapatan yang secara langsung berkontribusi pada kesejahteraan yang lebih baik(Setena, 2024. Pendidikan yang lebih tinggi memungkinkan individu emperoleh keterampilan yang lebih baik yang dibutuhkan oleh pasar kerja, sedangkan kondisi kesehatan yang baik meningkatkan produktivitas kerja, kedua aspek tersebut dapat menjadi faktor penting dalam meningkatkan pendapatan dan mengurangi kerentanan terhadap kemiskinan. Hasil dari penelitian mencerminkan adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia mempunyai peran yang penting untuk menurunkan tingkat kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Investasi terhadap aspek pendidikan, kesehatan, dan standar hidup layak tidak hanya dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, akan tetapi juga meningkatkan kemampuan ekonomi rumah tangga dalam jangka panjang. Pengaruh Angka Partisipasi Sekolah Terhadap Kemiskinan Variabel APS menunjukkan pengaruh negatif terhadap variabel POV. Hasil regresi menghasilkan nilai koefisien sebesar -0,0075688 yang menjelaskan bahwa setiap peningkatan APS sebesar 1% akan menurunkan kemiskinan sebesar 0,75688% dengan asumsi ceteris paribus. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat partisipasi masyarakat dalam pendidikan formal, maka semakin rendah kemungkinan masyarakat berada dalam kondisi miskin. Pendidikan menjadi salah satu sarana penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang pada akhirnya dapat memperbaiki kondisi ekonomi individu maupun rumah tangga. Hasil penelitian ini sejalan dengan human capital theory tentang pendidikan, pendidikan adalah investasi yang dapat meningkatkan produktivitas serta kualitas individu dalam memperoleh pendapatan yang lebih tinggi. Namun, pada penelitian ini ditemukan bahwa angka partisipasi sekolah tidak berpengaruh secara signifikan, hal terjadi karena angka partisipasi sekolah yang tergolong kedalam akses pendidikan, termasuk ke dalam indeks pembangunan manusia (IPM). Selain itu. Angka partisipasi sekolah dapat diukur dengan rentang waktu yang lebih panjang. Hasil penelitian juga sejalan dengan penelitian(Saputri et al. , 2. yang menjelaskan bahwa pendidikan memiliki pengaruh negatif karena berdasarkan teori modal manusia, pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam kualitas sumber daya manusia yang berdampak pada produktivitas masyarakat. Apabila pendidikan memiliki kualitas yang baik maka kualitas sumber daya manusia juga akan lebih baik, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia saja, akan tetapi juga berkaaitan dengan segmentasi upah, karena pendidikan yang tinggi akan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 550 membuka peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan, semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi pula upah yang diterima sesuai dengan keterampilanya. Peningkatan Angka Partisipasi Sekolah merupakan faktor penting yang dapat menurunkan tingkat kemiskinan. Meskipun besarnya pengaruh yang ditunjukan relative kecil dan tidak signifikan, hubungan yang ditunjukan tetap menjadi peran yang penting dalam pengentasan kemiskinan, maka dari itu kebijakan yang berorientasi terhadap pendidikan perlu ditingkatkan agar manfaat yang didapat dapat dirasakan secara lebih luas dan dalam jangka panjang di seluruh Provinsi Nusa Tenggara Timur. Simpulan dan Saran Berdasarkan hasil analisis regresi yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mempunyai pengaruh positif terhadap Kemiskinan (POV). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menunjukkan pengaruh negatif terhadap Kemiskinan (POV). Meskipun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan Angka Partisipasi Sekolah (APS) menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Secara keseluruhan pada penelitian ini, melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kemiskinan di Nusa Tenggara Timur dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan pembangunan manusia yang termasuk ke dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Tingkat pengangguran yang rendah, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia, serta akses terhadap pendidikan yang ditingkatkan menjadi faktor yang saling berkorelasi dalam upaya pengentasan kemiskinan. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan dapat menigkatkan kebijakan yang kemiskinan secara terintegrasi dengan mengedepankan aspek ketenagakerjaan, pendidikan dan kesehatan seperti penciptaan lapangan kerja produktif yang dapat menyerap tenaga kerja dalam skala besar, peningkatan kualitas layanan pendidikan dan kesehatan serta mendorong programprogram peningkatan kualitas hidup masyarakat. agar kesejahteraan masyarakat lebih merata di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan menambah variabel independen lain yang dan menambah penggunaan periode penelitian yang lebih panjang agar menghasilkan analisis yang lebih komprehensif mengenai faktor apa saja yang mempengaruhi kemiskinan di Nusa Tenggara Timur. Ucapan Terimakasih Penulis mengucapkan terimakasih kepada civitas akademika Universitas Negeri Semarang. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Program Studi Ekonomi Pembangunan atas akademik dan fasilitas yang telah diberikan yang membantu penulis menyelesaikan penelitian ini. Ucapan terima kasih kepada dosen pembimbing atas segala arahan dan motivasi yang diberikan selama proses penelitian dan penulisan artikel ini. Selain itu penulis juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga, teman serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan kepada penulis. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 551 Referensi