HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 HoCh: Jurnal Holistic Christianity e-ISSN:- https://w. stt-tawangmangu. id/e-journal/index. php/HoCh p-ISSN:Vol. 1 No. 1 (Maret 2. hlm:134-150 DOI: https://doi. org/10. 34081/HoCh. Diterbitkan Oleh: Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu Analisis Persepsi Siswa Terhadap Kompetensi Sosial Guru Berdasarkan Gender Yesyurun Joanne Rehuellah,1 Hani Rohayani. * 1,. Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu. Indonesia Email: hani. rohayani@gmail. Diterima: 5 Maret 2026 Direvisi: 16 Maret 2026 Disetujui: 16 Maret 2026 Abstract The purpose of this research is to characterize how Al-Masih Christian High School students view the social skills of both male and female teachers and to and to analyze differences in perceptions based on gender. This research is based on the importance of teachers' social competence in establishing productive relationships with pupils and establishing a favorable atmosphere for learning. Descriptive comparative study using a quantitative approach is the methodology Students were given a Likert scale questionnaire to complete in order to gather data, which was then descriptively evaluated to provide a general idea of their opinions. Overall, both male and female teachers are seen as having good social competence, according to the research findings, with ratings on a variety of markers ranging from 82. 86% to 97. While male instructors are better at maintaining discipline and offering practical help, female teachers are typically better at empathy, communication flexibility, listening to students' perspectives, and motivating them. This research demonstrates how crucial it is for educators to fully develop their social skills in order to help students become motivated and successful learners. Keywords: Student Perception. Social Competence. Male Teachers. Female Teachers. Christian Education. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi siswa terhadap kompetensi sosial guru laki-laki dan perempuan di SMA Kristen Al-Masih Jakarta Barat, serta menganalisis perbedaan persepsi berdasarkan gender. Penelitian ini didasari oleh pentingnya kompetensi sosial guru dalam membangun interaksi CopyrightA2026. Penulis. License: This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International (CC BY-SA 4. | 134 yang efektif dengan siswa serta menciptakan iklim belajar yang kondusif. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui angket skala Likert kepada siswa dan dianalisis secara deskriptif untuk memperoleh gambaran persepsi siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, baik guru laki-laki maupun guru perempuan dipersepsikan memiliki kompetensi sosial yang tinggi, dengan skor pada berbagai indikator berkisar antara 82,86% hingga 97,14%. Guru perempuan cenderung lebih unggul pada aspek empati, adaptabilitas komunikasi, mendengarkan pendapat siswa, dan memberikan motivasi, sedangkan guru lakilaki lebih unggul pada aspek pemberian bantuan praktis dan penerapan disiplin. Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan kompetensi sosial guru secara menyeluruh agar mampu mendukung motivasi dan keberhasilan belajar siswa. Kata-kata kunci: Guru Laki-Laki. Guru Perempuan. Kompetensi Sosial. Pendidikan Kristen. Persepsi Siswa. Pendahuluan Dalam dunia pendidikan, guru memiliki peran sentral dalam membentuk karakter dan kemampuan akademik peserta didik. Guru bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing dalam perkembangan sosial dan emosional siswa. Salah satu aspek penting yang menunjang peran ini adalah kompetensi sosial, yaitu kemampuan guru dalam membangun hubungan interpersonal yang positif, berkomunikasi secara efektif dengan berbagai pihak serta menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Kompetensi sosial guru sudah diatur secara jelas dalam Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 ayat . juga Undang-undang Guru dan Dosen No. 14 tahun 2005 Pasal 10 ayat yang menetapkan bahwa guru harus memiliki empat kompetensi utama, yaitu: pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Kompetensi sosial dalam konteks ini mencakup kemampuan berinteraksi dengan siswa, rekan sejawat, orang tua, dan masyarakat luas secara empatik dan Euis Karwati and Donni Juni Priansa. Manajemen Kelas (Classroom Managemen. , ed. Rismi Somad and Ai Kasmanah (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2. Pemerintah RI. AuUndang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen,Ay Produk Hukum, 2005. Amannasrullah Amin. AuHubungan Kompetensi Sosial Guru Dengan Interaksi Edukatif Dalam Perspektif Peserta Didik,Ay Al-Bidayah: Jurnal Pendidikan Dasar Islam 11, no. 77Ae106, https://doi. org/10. 14421/al-bidayah. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 Namun demikian, dalam praktiknya kompetensi sosial sering kali Banyak guru memiliki kualifikasi akademik, tetapi belum sepenuhnya mengembangkan kompetensi sosial yang memadai. Padahal, interaksi sosial yang sehat antara guru dan siswa sangat berpengaruh terhadap suasana kelas, motivasi belajar, dan kesejahteraan emosional siswa. Lebih jauh lagi, kompetensi sosial guru dapat beragam tergantung pada latar belakang pribadi, budaya, dan gender. Beberapa penelitian sebelumnya telah menunjukkan adanya perbedaan gaya komunikasi dan interaksi sosial antara guru laki-laki dan perempuan. Penelitian dari Errina Setiawati Kesumadewi mengungkapkan perbedaan model komunikasi kepala sekolah dari persepsi siswa ditinjau dari perspektif gender. Penelitian ini memberikan data bahwa kepala sekolah perempuan cenderung ekspresif dan mendukung secara emosional. Sementara kepala sekolah laki-laki cenderung berorientasi pada penyelesaian masalah dan struktur. 5 Penelitian yang dilakukan Ardina Kentary dkk. , menunjukkan bahwa latar belakang budaya dan gender turut memengaruhi strategi kesantunan berbahasa dalam interaksi guru. Hal ini berdampak langsung pada pengalaman belajar siswa. 6 Begitu juga dengan penelitian Sangra Juliano Prakasa yang memberi pendapat mengenai perbedaan komunikasi antara perempuan dan laki-laki. Dalam penelitian didapati data bahwa fokus komunikasi pada laki-laki adalah pada status dan kompetisi, sedangkan perempuan lebih berorientasi pada koneksi dan relasi. Berangkat dari penelitian terdahulu tersebut, penulis melihat bahwa masih sedikit studi yang secara khusus mengeksplorasi persepsi siswa terhadap kompetensi sosial guru berdasarkan gender, khususnya di lingkungan sekolah menengah atas. Permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah persepsi siswa terhadap kompetensi sosial guru laki-laki dan guru perempuan dalam proses pembelajaran di SMA Kristen Al-Masih. Secara khusus, penelitian ini berupaya untuk mengetahui penilaian siswa terkait kompetensi sosial guru Aprianto Cahyono and MuAoarifin MuAoarifin. AuSurvei Persepsi Siswa Terhadap Konsep Pendidikan Jasmani SMP Kelas Vi,Ay Sport Science and Health 2, no. : 605Ae12, https://doi. org/10. 17977/um062v2i122020p605-612. Errina Setiawati Kesumadewi. AuPerbedaan Model Komunikasi Kepala Sekolah Menurut Persepsi Siswa Ditinjau Dari Perspektif Gender,Ay Jurnal Ilmu Pendidikan (JIP) 9, no. 75Ae84. Ardina Kentary. Abdul Ngalim, and Harun Joko Prayitno. AuTindak Tutur Ilokusi Guru Berlatar Belakang Budaya Jawa: Perspektif Gender,Ay Jurnal Penelitian Humaniora 16, no. : 61Ae71. Sangra Juliano Prakasa. AuKomunikasi Dan Gender: Perbandingan Gaya Komunikasi Dalam Budaya Maskulin Dan Feminim,Ay Jurnal Ilmu Politik Dan Komunikasi (JIPS. V No. : 19Ae30. laki-laki dan guru perempuan, serta apakah terdapat perbedaan persepsi antara Mengingat bahwa persepsi siswa terhadap guru adalah proses kognitif kunci dalam pendidikan, yang melibatkan interpretasi siswa terhadap gaya mengajar, komunikasi, dan interaksi guru yang sangat memengaruhi pengalaman belajar mereka. Secara khusus, persepsi positif terhadap kompetensi sosial guru seperti keramahan dan empati menciptakan lingkungan yang mendukung, sementara persepsi negatif dapat mengurangi motivasi dan dukungan yang dirasakan siswa. Oleh karena itu, persepsi ini secara langsung memengaruhi tingkat keterlibatan dan partisipasi siswa di kelas, menjadikannya aspek esensial untuk meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi siswa terhadap kompetensi sosial guru laki-laki maupun guru perempuan di SMA Kristen Al-Masih, serta membandingkan perbedaan persepsi tersebut. Dengan demikian, penelitian ini memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai karakteristik kompetensi sosial berdasarkan gender serta kontribusinya terhadap proses pembelajaran. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif komparatif. Penelitian deskriptif komparatif merupakan penelitian yang menggambarkan objek atau subjek yang diteliti secara objektif dengan tujuan untuk memberi gambaran tentang apa yang terjadi secara deskriptif, kemudian di dalamnya terdapat paparan kajian untuk mengetahui perbedaan dua kelompok atau lebih. 9 Penelitian deskriptif komparatif sangat bermanfaat untuk menggambarkan dan membandingkan karakteristik dua kelompok atau lebih secara objektif. Penelitian ini juga dilakukan untuk membandingkan suatu objek penelitian dalam menemukan hubungan sebabakibatnya. 10 Berdasarkan definisi tersebut, maka tujuan utama dari pendekatan ini adalah untuk mendeskripsikan dan membandingkan persepsi siswa terhadap kompetensi sosial guru laki-laki dan guru perempuan dalam proses pembelajaran. Ilham Ade Pratama. AuPersepsi Simetode Mengajar Guru Pendidikan Agama Islam Pada Siswa SMPN 3 Tanjung Medan,Ay EduInovasi: Journal of Basic Educational Studies 4, no. : 718Ae28, https://doi. org/10. 47467/edui. Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2. Arsy Saschia Ekka Lakshmi and Edy Sudaryanto. AuAnalisis Dampak Tayangan Kartun Televisi Pada Perkembangan Bahasa Anak Di Masa Pandemi (Studi Deskriptif Komparatif Pada TK Srikandi Surabay. ,Ay RELASI: Jurnal Penelitian Komunikasi 02, no. : 82Ae93. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X sampai XII SMA Kristen Al-Masih Jakarta Barat pada semester genap tahun ajaran 2024/2025. Sampel diambil secara purposive dengan jumlah 35 siswa, yang dipilih berdasarkan keterwakilan dari masing-masing jenjang kelas. Teknik ini dipilih untuk memastikan bahwa setiap kelompok kelas memberikan kontribusi terhadap data penelitian. Instrumen utama yang digunakan dalam pengumpulan data adalah angket atau kuesioner tertutup berbentuk skala Likert. Kuesioner ini terdiri atas beberapa indikator kompetensi sosial guru, seperti: empati, keadilan, motivasi, dukungan emosional, kedisiplinan, dan penghargaan terhadap pendapat Skala pengukuran menggunakan lima kategori: sangat tidak setuju . , tidak setuju . , setuju . , dan sangat setuju . Indikator disusun berdasarkan kajian literatur tentang teori kompetensi sosial guru dan disesuaikan dengan konteks pendidikan menengah atas. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif. Hasil dari kuesioner diolah untuk memperoleh persentase dari masing-masing indikator persepsi siswa terhadap guru laki-laki dan guru perempuan. Perbandingan dilakukan untuk melihat kecenderungan persepsi siswa terhadap masing-masing gender guru dalam aspek kompetensi Data disajikan dalam bentuk diagram serta dianalisis secara naratif untuk menjelaskan kecenderungan dan pola yang muncul dari temuan lapangan. Seluruh proses penelitian mengikuti prosedur etika penelitian, termasuk pemberian informasi kepada responden, jaminan kerahasiaan identitas, dan penggunaan data semata-mata untuk kepentingan akademik. Hasil dan Pembahasan Pengertian Persepsi Persepsi merupakan sebuah proses tatkala manusia memiliki pengalaman dengan suatu objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang didapat dari pengumpulan informasi serta penafsiran pesan. Lambok Simamora dalam penelitiannya mengutip pendapat Leavitt tentang persepsi. Secara sempit, persepsi adalah penglihatan atau cara individu melihat sesuatu, sedangkan secara luas, persepsi adalah pandangan atau pengertian seseorang terhadap sesuatu. Dalam arti bahwa persepsi dalam pandangan secara luas tidak hanya mengenai cara seseorang melihat sesuatu, tetapi juga mengenai cara seseorang memberikan pengertian terhadap suatu hal yang dilihat. Nyayu Soraya yang mengutip pendapat Sarlito Wirawan Sarwono menyatakan bahwa tiap individu memiliki kemampuan dalam mengorganisir suatu pengamatan. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan dalam membedakan, mengelompokkan, serta kemampuan untuk memfokuskan. Tentunya, setiap individu memiliki sistem nilai dan ciri yang berbeda-beda. Hal inilah yang menyebabkan hasil persepsi tiap individu juga dapat berbeda meskipun objeknya sama. 12 Maka, pengertian persepsi dalam penelitian ini adalah proses kognitif subjektif dalam menerima, mengorganisir, dan menafsirkan informasi dari luar yang pada akhirnya membentuk pemahaman serta menentukan bagaimana seseorang bereaksi secara emosional dan berperilaku. Proses kognitif dalam persepsi merupakan salah satu bentuk perilaku individu dalam proses pengenalan faktor eksternal yang selanjutnya berkembang lebih kompleks. Hal ini merujuk pada penerimaan, penafsiran, pemikiran, pengingatan, penghayalan atau penciptaan, pengambilan keputusan, serta Dalam memandang suatu kejadian, reaksi emosi dan kombinasi kognisi dengan emosi dapat menghasilkan respons perilaku. Konsekuensi dari hal ini yaitu walaupun dua orang mengalami suatu peristiwa atau kejadian yang sama, kemungkinan akan memberikan reaksi yang berbeda. Persepsi dalam Konteks Pendidikan Dalam konteks pendidikan, persepsi siswa terhadap guru memainkan peran penting dalam membentuk pengalaman belajar mereka. Persepsi siswa terhadap guru ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk gaya mengajar, interaksi sosial, komunikasi, serta pendekatan yang digunakan oleh guru dalam membimbing dan mendidik mereka. 14 Persepsi siswa terhadap kompetensi sosial Lambok Simamora. AuPengaruh Persepsi Tentang Kompetensi Pedagogik Guru Dan Kebiasaan Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar Matematika,Ay Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA 4, no. : 21Ae30, https://doi. org/10. 30998/formatif. Nyayu Soraya. AuAnalisis Persepsi Mahasiswa Terhadap Kompetensi Dosen Dalam Mengajar Pada Program Studi Pai Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Uin Raden Fatah Palembang,Ay Tadrib: Jurnal Pendidikan Agama Islam 4, no. : 183Ae204, https://doi. org/10. 19109/tadrib. Mohamad Surya. Psikologi Guru, ed. Abdul Hasim and Daeng Nurjamal (Bandung: Alfabeta, 2. Non Erna Sri Utami and Devi Afriyuni Yonanda. AuHubungan Gender Terhadap Prestasi Belajar Siswa,Ay Seminar Nasional Pendidikan. FKIP UNMA 2, no. Smyth 2015 . : 144Ae49. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 guru juga dapat terbentuk melalui pengalaman mereka selama berinteraksi di dalam kelas. Siswa akan menilai bahwa seorang guru memiliki sikap yang ramah, mudah diajak berdiskusi, memiliki empati, serta mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman dan kondusif. Jika seorang guru mampu menunjukkan kompetensi sosial yang baik, siswa akan lebih merasa dihargai dan didukung dalam proses belajar mereka. Sebaliknya, jika guru menunjukkan sikap yang kaku, kurang responsif, atau kurang komunikatif, siswa dapat merasa tertekan dan kurang termotivasi dalam mengikuti pelajaran. Selain itu, persepsi siswa terhadap kompetensi sosial guru juga dapat memengaruhi tingkat keterlibatan mereka dalam kelas. Siswa yang merasa dekat dengan gurunya akan lebih berani mengajukan pertanyaan, berdiskusi, dan mengekspresikan pendapat mereka. Sebaliknya, jika mereka merasa bahwa gurunya kurang peduli atau sulit diajak berkomunikasi, mereka cenderung menjadi pasif dan enggan untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, memahami persepsi siswa terhadap kompetensi sosial guru menjadi aspek yang sangat penting dalam meningkatkan efektivitas proses belajar Pengertian Kompetensi Sosial Kompetensi sosial guru menurut Muhammad Anwar dalam bukunya yang berjudul AuMenjadi Guru ProfesionalAy, merupakan kemampuan yang mencakup berbagai aspek komunikasi dan interaksi interpersonal yang mendukung terciptanya hubungan yang positif antara guru dan siswa. Tidak hanya pada siswa, bahkan sampai kepada sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, serta masyarakat di lingkungan sekitar. 16 Kompetensi sosial ini meliputi kemampuan mendengarkan dengan empati, memberikan respons yang sesuai terhadap kebutuhan siswa, membangun suasana kelas yang inklusif, serta menumbuhkan rasa percaya diri di kalangan siswa. Berdasarkan jurnal Afi Parnawi yang penulis lansir, terdapat kutipan Syaiful Sagala terhadap pendapat Slamet mengenai kompetensi sosial yang menyatakan bahwa sub dari kompetensi yakni melaksanakan kerjasama secara harmonis, melaksanakan prinsip tata kelola yang baik, memahami dan menghargai perbedaan serta memiliki kemampuan mengelola konflik dan benturan, memiliki kemampuan memahami dan (Anwar, 2. menginternalisasikan perubahan lingkungan yang berpengaruh terhadap tugasnya, serta memiliki kemampuan menundukkan dirinya dalam sistem nilai yang berlaku di masyarakat, bahkan sampai pada membangun kerja team yang kompak, cerdas, dinamis, dan lincah. Peran Kompetensi Sosial dalam Proses Pembelajaran Perbedaan gaya interaksi sosial antara laki-laki dan perempuan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis tetapi juga oleh proses sosialisasi. Anak laki-laki dan perempuan diajarkan untuk berperilaku dan berkomunikasi secara berbeda, yang membentuk cara mereka berinteraksi di masa depan. Dinamika komunikasi laki-laki dan perempuan juga sering kali dipengaruhi oleh perbedaan dalam cara berpikir dan berinteraksi. Laki-laki cenderung lebih langsung dan to the point dalam komunikasi, sedangkan perempuan lebih cenderung menggunakan ungkapan yang lebih berbelit dan eksploratif. Hal-hal ini didukung oleh beberapa teori interaksi, salah satunya diungkapkan oleh Deborah Tannen dalam teorinya yakni Genderlect Styles bahwa laki-laki dan perempuan memiliki gaya interaksi yang berbeda yang dapat menyebabkan kesalahpahaman. Laki-laki lebih berfokus pada status, sementara perempuan lebih fokus pada koneksi. John Gray dalam teorinya Men Are From Mars. Women Are From Venus, turut menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan beroperasi dalam dunia komunikasi yang berbeda, dengan cara yang berbeda pula dalam mengekspresikan diri. Dalam konteks pembelajaran, gaya interaksi merupakan komponen dalam kompetensi sosial guru yang memiliki dampak besar terhadap dinamika kelas. Guru yang memiliki kompetensi sosial yang baik mampu menciptakan lingkungan belajar yang suportif, sehingga membuat para siswa merasa dihargai dan didukung dalam mengembangkan potensi mereka. Selain itu, kompetensi sosial guru juga berperan dalam manajemen kelas. Guru yang memiliki kompetensi sosial yang baik dapat lebih mudah mengelola dinamika kelas dan mengatasi konflik yang mungkin terjadi di antara siswa. Mereka dapat menerapkan strategi komunikasi yang efektif untuk menyelesaikan permasalahan dengan cara yang lebih konstruktif. Dengan demikian, kelas menjadi lebih Afi Parnawi. AuKompetensi Sosial Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Prestasi Siswa,Ay Fenomena 10, no. : 27Ae40, https://doi. org/10. 21093/fj. Sangra Juliano. AuKomunikasi Dan Gender: Perbandingan Gaya Komunikasi Dalam Budaya Maskulin Dan Feminim,Ay Jurnal Ilmu Politik Dan Komunikasi (JIPS. V No. I . HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 kondusif untuk pembelajaran, para siswa pun dapat fokus dalam memahami materi tanpa terganggu oleh konflik atau ketegangan interpersonal. Berdasarkan teori yang dipaparkan oleh Halid Hanafi dkk, dengan mengutip Mulyasa bahwa kompetensi sosial guru juga berkontribusi dalam membangun motivasi belajar siswa. 20 Ketika seorang guru menunjukkan perhatian dan kepedulian terhadap perkembangan akademik dan emosional siswa, siswa akan merasa lebih dihargai dan termotivasi untuk belajar. Sebaliknya, jika seorang guru kurang menunjukkan kompetensi sosial, seperti tidak mendengarkan keluhan siswa atau kurang memberikan umpan balik yang membangun, siswa dapat merasa diabaikan dan kehilangan semangat untuk belajar. Oleh karena itu, kompetensi sosial guru bukan sekadar faktor tambahan dalam proses pembelajaran, tetapi merupakan elemen kunci dalam menciptakan pengalaman belajar yang efektif dan bermakna bagi siswa. Dari semua yang telah dipaparkan, dapat dilihat bahwa kompetensi sosial pada guru berbeda-beda. Perbedaan inilah yang telah ditinjau dalam perspektif Gender merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi kompetensi sosial seseorang, termasuk dalam konteks pendidikan. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan sering kali memiliki kecenderungan yang berbeda dalam hal komunikasi, interaksi sosial, serta cara mereka membangun hubungan dengan orang lain. Hal tersebut disebabkan oleh adanya beberapa faktor yang memengaruhi, seperti perbedaan susunan saraf otak pria dan wanita. Otak wanita memiliki lebih banyak daerah yang terkait dengan komunikasi dibandingkan dengan otak pria. Dilihat juga dari fakta bahwa wanita akan mengeluarkan lebih banyak kata dibanding dengan pria yakni 7000 kata perhari dan pria 2000 kata perhari. Dalam dunia pendidikan, perbedaan ini juga dapat terlihat dalam cara guru laki-laki dan perempuan berinteraksi dengan siswa serta dalam cara mereka menangani situasi sosial di dalam kelas. Perbedaan interaksi sosial antara guru laki-laki dan perempuan ini bukan berarti salah satu lebih baik daripada yang lain. Novianti Muspiroh. AuPeran Kompetensi Sosial Guru Dalam Menciptakan Efektifitas Pembelajaran,Ay Jurnal Pendidikan Sosial & Ekonomi 4, no. : 1Ae19. Halid Hanafi. La Adu, and H Muzakkir. Profesionalisme Guru Dalam Pengelolaan Kegiatan Pembelaran Di Sekolah (Yogyakarta: Deepublish, 2. Mukhoiyaroh. AuMeningkatkan Keterampilan Sosial Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Pada Siswa,Ay 2022, 1Ae16. Prakasa. AuKomunikasi Dan Gender: Perbandingan Gaya Komunikasi Dalam Budaya Maskulin Dan Feminim. Ay melainkan menunjukkan bahwa masing-masing memiliki kelebihan yang Hasil Bagian ini akan memaparkan hasil temuan tentang persepsi siswa terhadap kompetensi sosial guru perempuan dan guru laki-laki untuk meninjau interaksi sosial yang dimiliki masing-masing gender. Responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah siswa dan siswi yang berada di SMA Kristen Al-Masih mulai dari kelas X sampai dengan kelas XII semester genap. Melalui kuesioner yang disebarkan kepada 35 siswa sebagai responden, diperoleh data mengenai persepsi mereka terhadap kompetensi sosial guru laki-laki dan perempuan dalam konteks proses pembelajaran. Kuesioner ini mencakup beberapa aspek penting, seperti empati, motivasi, kedisiplinan, dan penghargaan terhadap pendapat siswa. Tabel 1: Hasil Angket Guru Laki-Laki Guru No Indikator Kompetensi Sosial (%) Perempuan (%) Menggunakan bahasa yang sopan dan menyenangkan Mampu menyesuaikan cara berbicara dengan situasi dan kondisi siswa Memahami perasaan dan kesulitan siswa Meningkatkan belajar siswa Memberikan bantuan dan dorongan saat menghadapi Memberi motivasi agar siswa percaya diri Mendengarkan pendapat siswa dengan penuh perhatian Bersikap adil, tidak membedaH. bedakan siswa Bersikap menghadapi kesalahan siswa HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 Menerapkan disiplin Rata-rata Pembahasan Grafik 1: Kompetensi Sosial Guru Laki-laki Kompetensi Sosial Guru Laki-laki Grafik 2: Kompetensi Sosial Guru Perempuan Kompetensi Sosial Guru Perempuan Lambang Tabel 2: Kisi-kisi Indikator KETERANGAN Indikator Menggunakan bahasa yang sopan dan menyenangkan Mampu menyesuaikan cara berbicara dengan situasi dan kondisi siswa Memahami perasaan dan kesulitan siswa Meningkatkan semangat belajar siswa Memberikan bantuan dan dorongan saat menghadapi Memberi motivasi agar siswa percaya diri Mendengarkan pendapat siswa dengan penuh perhatian Bersikap adil, tidak membeda-bedakan siswa Bersikap sabar dalam menghadapi kesalahan siswa Menerapkan disiplin Hasil penelitian menunjukkan bahwa para siswa memiliki persepsi positif terhadap kompetensi sosial guru, baik terhadap guru laki-laki maupun guru Pada indikator penggunaan bahasa yang sopan dan menyenangkan, baik guru laki-laki maupun perempuan memperoleh persentase yang sama, yaitu 94,29%. Temuan ini selaras dengan teori Tannen tentang genderlect styles, yang menekankan bahwa meskipun terdapat perbedaan gaya komunikasi, baik laki-laki maupun perempuan tetap mampu membangun relasi positif. Prakarsa, dalam tulisannya, menjelaskan bahwa menurut teori Tannen, komunikasi antara yang berbeda gender, di dalamnya terdapat proses saling menghargai, saling mendengarkan satu sama lain, saling toleransi, tidak ada yang merasa paling benar ataupun salah, bertujuan untuk meningkatkan hubungan yang lebih baik dan membantu mengurangi kesalahpahaman dan konflik berkelanjutan. 23 Kesamaan skor ini juga memperlihatkan adanya standar etika komunikasi yang dijaga oleh guru tanpa memandang gender. Para siswa menilai bahwa tutur kata yang baik menjadi salah satu modal penting untuk menciptakan suasana belajar yang Indikator penyesuaian cara berbicara dengan situasi dan kondisi siswa menunjukkan angka 91,43% pada guru laki-laki dan 97,14% pada guru Prakasa. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 Perbedaan ini mengindikasikan bahwa guru perempuan lebih dilihat memiliki kemampuan yang lebih baik dalam berkomunikasi sesuai situasi yang Hal ini sejalan dengan penelitian Kesumadewi, yang menemukan bahwa pemimpin perempuan cenderung lebih ekspresif dan responsif dalam membangun relasi interpersonal. 24 Walaupun perbedaan persentasenya tidak signifikan, data ini tetap memberi gambaran bahwa empati komunikatif lebih menonjol pada guru perempuan. Hasil ini menunjukkan kontribusi signifikan dari guru perempuan dalam membangun interaksi sosial yang hangat. Namun, capaian guru laki-laki yang juga tinggi menandakan bahwa kemampuan adaptif ini bukanlah monopoli gender tertentu. Pada indikator memahami perasaan dan kesulitan siswa, guru perempuan memperoleh skor 91,43%, sedangkan guru laki-laki memperoleh skor 88,57%. Angka ini memperlihatkan kecenderungan bahwa siswa lebih merasakan empati dari guru perempuan. Siswa merasa bahwa guru perempuan lebih mampu membaca kondisi emosional mereka dan merespons dengan dukungan yang Dalam penelitian yang dilakukan oleh Fitron. , & Mu'arifin. ditemukan bahwa guru perempuan sering kali diasosiasikan dengan sifat yang lebih empatik, penyabar, dan memiliki pendekatan yang lebih komunikatif dalam Mereka cenderung lebih peka terhadap kebutuhan emosional siswa dan lebih sering menggunakan strategi pembelajaran yang berbasis pada hubungan 25 Meski demikian, angka yang hampir setara menunjukkan bahwa guru laki-laki juga mampu membangun kedekatan emosional yang baik dengan Indikator meningkatkan semangat belajar siswa memperlihatkan perbedaan yang cukup jelas antara guru laki-laki . ,86%) dan guru perempuan . ,57%). Data ini menunjukkan bahwa siswa lebih merasakan dorongan motivasional dari guru perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Guru perempuan tampaknya lebih sering menggunakan kata-kata penyemangat dan pendekatan interpersonal untuk membangkitkan motivasi. Namun demikian, guru laki-laki tetap menunjukkan kontribusi yang berarti dalam membangkitkan semangat belajar Kesumadewi. AuPerbedaan Model Komunikasi Kepala Sekolah Menurut Persepsi Siswa Ditinjau Dari Perspektif Gender. Ay Mukhammad Fitron and MuAoarifin MuAoarifin. AuSurvei Tingkat Persepsi Siswa Terhadap Konsep Pendidikan Jasmani Di Sekolah Menengah Atas,Ay Sport Science and Health 2, no. : 264Ae71, https://doi. org/10. 17977/um062v2i52020p264-271. 26 Sementara, indikator pemberian bantuan dan dorongan saat menghadapi kesulitan menunjukkan hasil berbeda. Guru laki-laki memperoleh skor lebih tinggi, yaitu 97,14%, dibandingkan dengan guru perempuan dengan 94,29%. Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa siswa melihat guru laki-laki lebih dominan dalam memberikan dukungan langsung ketika siswa menghadapi kesulitan belajar. Siswa mengapresiasi keterlibatan aktif guru laki-laki dalam membantu mereka mengatasi hambatan akademik. Namun, skor tinggi pada guru perempuan menunjukkan bahwa mereka juga tetap berperan penting dalam aspek Perbedaan ini lebih tepat jika dimaknai sebagai variasi gaya dalam memberikan bantuan. Guru perempuan lebih menekankan dukungan emosional, sementara guru laki-laki lebih berfokus pada solusi praktis. Kedua pendekatan ini saling melengkapi dan sama-sama penting dalam konteks pembelajaran. Oleh karena itu, hasil ini memperlihatkan adanya keseimbangan peran gender dalam mendukung siswa yang menghadapi kesulitan. Indikator memberi motivasi agar siswa percaya diri menunjukkan hasil yang relatif seimbang, dengan skor 85,71% pada guru laki-laki dan 88,57% pada guru perempuan. Kesetaraan ini menunjukkan bahwa siswa melihat kedua kelompok guru mampu memberikan dorongan untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka. Guru perempuan mungkin lebih sering memberikan afirmasi verbal, sedangkan guru laki-laki menekankan pada tantangan yang harus dihadapi siswa. Indikator mendengarkan pendapat siswa dengan penuh perhatian menunjukkan bahwa guru laki-laki memperoleh skor 85,71%, sedangkan guru perempuan memperoleh 91,43%. Angka ini menggambarkan bahwa siswa lebih merasakan keterbukaan dari guru perempuan untuk mendengar dan menghargai pandangan Guru perempuan tampaknya lebih sering mengajak siswa berdialog dan memberi ruang bagi mereka untuk menyampaikan pendapat. Tetapi hal yang menarik adalah bahwa pada indikator bahwa guru sabar dalam menghadapi kesalahan siswa, baik guru laki-laki maupun perempuan mencapai nilai yang signifikan . aki-laki 91. 43% dan perempuan 94. 29%). Walaupun persentase pada guru laki-laki sedikit lebih rendah, hasil ini tetap menunjukkan bahwa mereka juga cukup responsif. Indikator bersikap adil, tidak membeda-bedakan siswa memperoleh skor hampir sama, yaitu 88,71% pada guru laki-laki dan 88,57% pada guru perempuan. Orsolya Kolozsvari. AuEmpathy in Danger: Book Review of Reclaiming Conversation by Sherry Turkle,Ay The Journal of Public and Professional Sociology 11, no. https://doi. org/10. 62915/2154-8935. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 Kesetaraan ini menandakan bahwa siswa menilai kedua kelompok guru mampu menegakkan prinsip keadilan dalam pembelajaran. Persepsi siswa terhadap keadilan guru menjadi sangat penting karena hal ini memengaruhi motivasi dan keterlibatan para siswa dalam belajar. 27 Dengan skor yang relatif seimbang, dapat disimpulkan bahwa keadilan adalah aspek yang dijunjung tinggi oleh semua guru tanpa memandang gender. Temuan ini memperlihatkan bahwa nilai-nilai kesetaraan sudah tertanam dalam praktik sosial di kelas. Hal ini juga menunjukkan bahwa perbedaan gender tidak menjadi penghalang bagi guru untuk berlaku objektif. Kedua kelompok guru sama-sama dipersepsikan mampu menghindari diskriminasi dalam pengajaran. Terakhir, indikator penerapan disiplin menunjukkan guru laki-laki memperoleh skor 91,43% dan guru perempuan 88,57%. Hasil ini menegaskan pandangan bahwa guru laki-laki lebih dipersepsikan tegas dalam menegakkan aturan kelas. Dengan skor yang cukup tinggi pada kedua kelompok guru, dapat disimpulkan bahwa siswa tetap merasakan keadilan dan keteraturan. Akan tetapi, perbedaan angka menunjukkan adanya perbedaan gaya penerapan disiplin. Guru laki-laki lebih diasosiasikan dengan penegakan aturan secara konsisten, sedangkan guru perempuan lebih cenderung mengedepankan pendekatan persuasif. Dampaknya, siswa merasakan variasi pengalaman dalam proses belajar. Dengan adanya variasi ini, siswa mendapat pembelajaran tidak hanya dari materi akademik, tetapi juga dari cara guru menegakkan nilai-nilai sosial. Oleh karena itu, hasil ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan strategi manajemen kelas yang seimbang antara ketegasan dan kehangatan. Simpulan Persepsi siswa terhadap kompetensi sosial guru sangat menentukan dinamika dan efektivitas proses belajar-mengajar. Kompetensi sosial yang meliputi interaksi, komunikasi, dan pembangunan hubungan di kelas adalah faktor utama yang menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, di mana siswa merasa dihargai dan termotivasi untuk berpartisipasi aktif. Dalam penelitian ini terdapat indikasi bahwa gender guru berperan dalam karakteristik kompetensi sosial yang dipersepsikan. Guru perempuan cenderung dilihat lebih empatik, sabar, dan komunikatif, serta efektif dalam membangun motivasi dan mengatasi masalah sosial. Sementara itu, guru laki-laki sering diasosiasikan dengan gaya Farida Kurniawati. AuKonstruksi Alat Ukur Interaksi Guru-Siswa Di Sekolah Dasar Inklusif,Ay Inklusi 5, no. : 1, https://doi. org/10. 14421/ijds. yang lebih tegas dan berorientasi pada kepemimpinan, yang mendorong kemandirian dan keberanian berpendapat. Pemahaman atas perbedaan gaya ini penting bagi institusi pendidikan untuk mengoptimalkan strategi pengajaran dan menyediakan pelatihan yang adaptif, sehingga meningkatkan efektivitas dan inklusivitas pendidikan secara keseluruhan. Daftar Pustaka