Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 Distribusi Faktor Risiko Kejadian Abortus Pada Ibu Hamil di RS YARSI Tahun 2023 Distribution of Risk Factors for Abortion among Pregnant Women at YARSI Hospital in 2023 Wiwik Anggraini1. Ahmad Arif2. Selly Septina3 1Program Pendidikan Profesi Dokter. Universitas Yarsi. Jakarta Indonesia 2Bagian Obstetri dan Ginekologi RS Yarsi. Jakarta. Indonesia 3Bagian Obstetri dan Ginekologi Universitas Yarsi. Jakarta. Indonesia KATA KUNCI Umur Ibu. Paritas. Riwayat Abortus. Kejadian abortus ABSTRAK Abortus merupakan salah satu masalah kesehatan global yang signifikan, dengan 20 juta kasus terjadi setiap tahun, menyebabkan 000 kematian ibu. Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan bahwa angka kematian ibu (AKI) Indonesia pada tahun 2017 mencapai 177 kematian per 100. kelahiran hidup, meskipun ada penurunan dibandingkan tahuntahun sebelumnya. Faktor yang mempengaruhi terjadinya abortus, seperti kelainan kromosom pada janin, usia ibu, riwayat abortus sebelumnya, infeksi, serta penyakit kronis pada ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor risiko yang mempengaruhi kejadian abortus pada ibu hamil di Rumah Sakit Yarsi pada tahun 2023, guna membantu pencegahan dan penanganan abortus serta menurunkan angka kematian ibu di Indonesia. jenis penelitian adalah observasi analitik dengan desain pendekatan cross sectional, subjek penelitian adalah ibu hamil dengan sampel 105 orang dari total populasi 1847 orang. Teknik pengambilan sampel teknik purposive sampling. Pengumpulan data dengan pengecekan dokumen berupa rekam medik. Analisis data dilakukan 3 tahap, analisis univariat, bivariate dan multivariate. Hasil penelitian didapatkan 69 orang . ,7%) yang mengalami abortus, umur yang berisiko 60 orang . ,1%), dan 60 orang . ,1%) dengan multipara, serta 56 orang . ,3 %) yang memiliki riwayat abortus. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antar semua variabel baik umur, paritas dan riwayat abortus dengan kejadian abortus. Analisis multivariat menunjukan variabel usia adalah faktor yang paling dominan terhadap kejadian abortus yaitu sebesar 8,500. KEYWORDS Maternal age. Parity. History of abortion. Incidence of abortion. Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 ABSTRACT Abortion is one of the significant global health problems, with 20 million cases occurring each year, causing approximately 70,000 maternal deaths. Data from the Indonesian Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) shows that Indonesia's maternal mortality rate (MMR) in 2017 reached 177 deaths per 100,000 live births, despite a decrease compared to previous years. Factors that influence the occurrence of abortion, such as chromosomal abnormalities in the fetus, maternal age, previous history of abortion, infection, and chronic diseases in the mother. This study aims to explore the risk factors that influence the incidence of abortion in pregnant women at Yarsi Hospital in 2023, in order to help prevent and treat abortion and reduce maternal mortality in Indonesia. type of research is analytical observation with a cross sectional approach design, the research subjects are pregnant women with a sample of 105 people from a total population of 1847 people. The sampling technique was purposive sampling technique. Data collection by checking documents in the form of medical records. Data analysis was carried out in 3 stages, univariate, bivariate and multivariate analysis. The results showed 69 people . 7%) who experienced abortion, the age at risk was 60 people . 1%), and 60 people . 1%) with multipara, and 56 people . 3%) who had a history of abortion. Bivariate analysis shows there is a relationship between all variables both age, parity and history of abortion with the incidence of abortion. Multivariate analysis showed that the age variable was the most dominant factor in the incidence of abortion, which was 8,500. PENDAHULUAN Abortus merupakan salah satu signifikan, dengan 20 juta kasus terjadi setiap tahun, menyebabkan sekitar 000 kematian ibu. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, terdapat sekitar 4,2 juta kasus abortus per tahun, dan Indonesia mencatatkan 600. 000 Ae900. kasus abortus, dengan 2. 500 kematian ibu akibat abortus buatan (WHO, 2. Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan bahwa angka kematian ibu (AKI) Indonesia pada tahun 2017 mencapai 177 kematian per 100. penurunan dibandingkan tahun-tahun DKI Jakarta mencatat 88 kematian ibu pada tahun 2023, dengan penyebab utama kematian ibu meliputi pendarahan obstetrik, dan abortus . %) (Dinas Kesehatan DKI Jakarta, 2. Abortus dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti kelainan kromosom pada janin, usia ibu, riwayat abortus sebelumnya, infeksi, serta penyakit kronis pada ibu . ipertensi, diabetes, anemia, dll. Kejadian abortus juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, dan prevalensinya meningkat setiap tahunnya (Febrina, 2. Berdasarkan jenisnya abortus juga dibagi menjadi abortus imminens. Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 abortus insipien, abortus inkomplet, abortus komplet, missed abortion, dan abortus habitualis. Berbagai faktor diduga sebagai penyebab abortus spontan, diantaranya adalah faktor janin, faktor ibu dan faktor eksternal. Abortus karena faktor janin bisa disebabkan oleh kelainan kromosom. Faktor ibu seperti usia, paritas, mempunyai riwayat abortus sebelumnya, infeksi, penyakit kronis yang diderita ibu . ipertensi, anemia, tuberkulosis paru aktif, nefritis dan diabetes yang tidak terkontro. serta faktor eksternal (Febrina, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko dan distribusi yang mempengaruhi kejadian abortus pada ibu hamil di Rumah Sakit Yarsi pada tahun 2023. METODOLOGI Penelitian metode penelitian observasi analitik yang mana penelitian mengarah kepada penjelasan hubungan sebab akibat antar Adapun populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil yang dirawat di RS YARSI pada tahun 2023 sebanyak 1847 orang. Responden dipilih dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi yaitu ibu hamil yang mengalami abortus yang dirawat serta memiliki catatan data rekam medik yang lengkap di RS YARSI dengan usia kehamilan < 20 minggu. Serta tidak memenuhi kriteria eksklusi yaitu ibu hamil yang mengalami abortus namun data rekam medik tidak lengkap, usia kehamilan >20 minggu dan ibu pervaginam seperti KET dan BO di RS YARSI Tahun 2023. HASIL Analisis Univariat Penelitian ini dilakukan pada 105 responden dan terdapat 69 orang . ,7%) yang mengalami abortus dan 36 orang . ,3%) yang tidak mengalami abortus seperti tampak pada tabel di bawah ini. Tabel 1. Distribusi Frekuensi kejadian abortus di RS YARSI tahun 2023. Kejadian Abortus Abortus Tidak Abortus Jumlah Dari 105 responden terdapat 60 orang . ,6%) yang mempunyai umur berisiko mengalami abortus dan 45 orang umur tidak berisiko mengalami abortus seperti terlihat pada tabel Berikut ini. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Umur Responden di RS YARSI tahun 2023. Umur Berisiko (<20 dan >35 Tidak Berisiko . 5 tahu. Jumlah Tabel 3. Distribusi Frekuensi Paritas Responden di RS YARSI tahun 2023 Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 Paritas Primipara Multipara Jumlah Dari tabel di atas tampak bahwa dari 105 responden terdapat 60 orang dengan paritas multipara . ,1%) dan 45 orang dengan paritas primipara . ,9%) di RS Yarsi. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Riwayat Abortus Responden di RS YARSI tahun 2023 Riwayat Abortus Tidak Jumlah Berdasarkan tabel 4 diketahui bahwa dari 105 responden terdapat 56 orang . ,3%) yang memiliki riwayat abortus dan sebanyak 49 orang . ,7%) yang tidak memiliki riwayat abortus di RS Yarsi. Analisis Bivariat Tabel 5. Hubungan Umur Dengan Kejadian Abortus di RS YARSI tahun P Value = 0,000 Berdasarkan tabel 5 diketahui bahwa dari 60 orang responden umur ibu berisiko yang mengalami abortus sebanyak 51 orang . ,6%) dan dari 45 orang umur ibu yang tidak berisiko mengalami abortus sebanyak 18 orang . ,1%). Berdasarkan hasil analisis statistik didapatkan nilai p= 0,000 artinya terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian abortus dengan umur ibu di RS Yarsi tahun 2023. Tabel 6. Hubungan Paritas Dengan Kejadian Abortus di RS YARSI tahun P Value = 0,008 Berdasarkan tabel 6 diketahui bahwa dari 60 orang responden umur ibu berisiko yang mengalami abortus sebanyak 33 orang . ,4%) dan dari 45 orang umur ibu yang tidak berisiko mengalami abortus sebanyak 36 orang . ,3%). Berdasarkan hasil analisis statistik didapatkan nilai p= 0,008 artinya terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian abortus dengan paritas ibu di RS Yarsi tahun Tabel 7. Hubungan Riwayat Abortus Dengan Kejadian Abortus di RS YARSI Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 P Value = 0,000 Berdasarkan tabel 7 diketahui bahwa dari 56 orang responden dengan riwayat abortus yang mengalami abortus sebanyak 48 orang . ,7%) dan dari 49 orang dengan tidak memiliki riwayat abortus dengan kejadian abortus sebanyak 21 orang . ,0%). Berdasarkan hasil analisis statistik didapatkan nilai p= 0,000 artinya terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat abortus dengan kejadian abortus ibu di RS Yarsi Analisis Multivariat Tabel 8. Regresi Logistik Sederhana Faktor yang berhubungan dengan kejadian abortus di RS YARSI tahun Variabel Usia Paritas Riwayat 0,000 0,008 0,000 8,500 0,306 8,000 Hasil analisis pada tabel 8 menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan adalah usia dengan OR=8,500 yang berarti ibu dengan usia yang berisiko (<20 tahun dan >35 tahu. memiliki risiko 8,500 kali untuk mengalami abortus dibandingkan faktor risiko lainnya. PEMBAHASAN Pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 60 orang . ,1%) dengan umur yang berisiko Berisiko . mengalami abortus di RS Yarsi. Hasil analisa statistik didapatkan nilai p value 0,000 <0,05 yang artinya terdapat Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Dewi M. Dkk 2. yang menyatakan bahwa hasil uji statistik 42 chi square didapatkan pvalue = 0. 037 hal ini menunjukan pvalue < 0. maka Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya ada hubungan usia ibu dengan kejadian abortus di Puskesmas Piyungan Bantul. Hal ini dipertegas oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Fitri dalam Isnainah . menunjukkan bahwa usia ibu berkontribusi terhadap penelitian ini kontribusi terjadinya abortus dengan nilai signifikan p-value= 0,000 < 0,05 dan nilai Odds Ratio (OR) sebesar 4,021 yang artinya ibu yang memiliki usia berisiko dapat terjadi 4,021 kali lebih besar mengalami abortus dibandingkan ibu yang berada pada usia reproduksi yang sehat. Hubungan kejadian abortus menunjukkan bahwa terdapat 60 orang . ,1%) responden dengan paritas yang berisiko berisiko mengalami abortus di RS Yarsi. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa analisa statistik didapatkan nilai p value 0,008 < 0,05 yang artinya terdapat hubungan antar kedua variabel. Hasil penelitian ini sesuai dengan Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 (Isnaniah. yang menyatakan bahwa Hasil uji Chisquare dengan 0,05 didapatkan A value 0,019 artinya ada hubungan paritas ibu bersalin dengan kejadian abortus. Hal tersebut dipertegas dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh lia dkk . menunjukkan bahwa paritas abortus dimana pada penelitian ini kontribusi terjadinya abortus dengan nilai signifikan p-value= 0,009 < 0,05 dan nilai Odds Ratio (OR) sebesar 3,115 yang artinya ibu yang dengan multipara dapat terjadi 3,115 kali lebih besar mengalami abortus dibandingkan ibu yang dengan Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian (Haryati H. Dkk 2. yang mengatakan bahwa kejadian abortus dapat terjadi 3 kali lebih besar pada paritas tinggi. Angka kejadian abortus pada multipara tinggi dan semakin tinggi kejadiannya pada grande Hubungan dengan kejadian abortus menunjukkan bahwa terdapat 56 orang . ,3%) dengan riwayat abortus sebelumnya di RS Yarsi. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa analisa statistik didapatkan nilai p value 0,000 < 0,05 yang artinya terdapat adanya hubungan antara riwayat abortus dengan kejadian abortus di RS Yarsi tahun 2023. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Muhtar dkk 2. yang menyatakan bahwa dari hasil uji statistik nilai p = 0,03 yang berarti nilai p lebih kecil dari nilai () 0,05, artinya Ho ditolak yang artinya terdapat hubungan antara riwayat abortus dengan kejadian abortus di RSUD Lasinrang Kabupaten Pinrang. Hal tersebut dipertegas dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh isnaniah . menunjukkan bahwa riwayat abortus berkontribusi terhadap penelitian ini kontribusi terjadinya abortus dengan nilai signifikan p-value= 0,000 < 0,05 dan nilai Odds Ratio (OR) sebesar 3,896 yang artinya ibu yang memiliki usia berisiko dapat terjadi 3,896 kali lebih besar mengalami abortus dibandingkan ibu yang tidak memiliki riwayat abortus sebelumnya. Hal ini sesuai dengan teori . rawirohardjo, 2. yang mengatakan 45 seorang wanita yang dikatakan menderita abortus yang berturut-turut 3 kali lebih, wanita tersebut umumnya kehamilannya tidak dapat bertahan terus, sehingga tidak dapat melahirkan anak hidup. Hal tersebut disebabkan karena kelainan pada serviks dan uterus, sehingga terjadi laserasi uterus yang SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Sebagian besar responden memiliki umur yang berisiko terhadap kejadian abortus dengan responden sebanyak 60 orang . ,1%) dan yang tidak berisiko sebanyak 45 orang . ,9%). Hasil analisa bivariat didapatkan hubungan antara umur ibu dengan kejadian abortus di RS Yarsi tahun 2023. Kejadian abortus pada multipara memiliki risiko lebih besar terhadapt Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 kejadian abortus dengan responden sebanyak 60 orang . ,1%). Hasil analisa bivariat terdapat hubungan antara paritas dengan kejadian abortus di RS Yarsi tahun 2023. Sebagian besar responden memiliki riwayat abortus sebelumnya dengan jumlah responden 56 orang . ,3%), hasil analisa bivariat terdapat hubungan antara riwayat abortus sebelumnya dengan kejadian abortus di RS Yarsi 2023. Faktor risiko yang paling dominan adalah usia dengan OR= 8,500 yang berarti ibu dengan usia yang berisiko . memiliki risiko 8,500 kali. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kepada Civitas Academika Fakultas Kedokteran Umum Universitas YARSI dan Rumah Sakit RS YARSI yang telah mendukung dan memfasilitasi kegiatan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA