Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 ANALISIS PERILAKU BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN INTERAKTIF DI KOMUNITAS EDUKARYA Bintang Ulina Siregar 1. Rizki Setiawan2 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Email: 2290230007@untirta. id1, rizkisetiawan@untirta. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan strategi pembelajaran interaktif dalam membentuk perilaku belajar positif pada siswa di Komunitas Mengajar Edukarya. Kampung Penggilingan Baru. Bekasi Utara sebagai komunitas pendidikan non-formal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain naratif, melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan studi dokumentasi, yang dianalisis secara induktif menggunakan kerangka interaksionisme simbolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan interaktif berhasil menumbuhkan perilaku belajar positif, yang tercermin dalam partisipasi aktif siswa, keberanian tampil di depan kelas, serta keterlibatan responsif dalam permainan edukatif. Perilaku tersebut dipengaruhi oleh faktor internal berupa motivasi, minat belajar, dan rasa percaya diri, serta faktor eksternal meliputi komunikasi dua arah antara pengajar dan siswa, interaksi antarsebaya, dan suasana kelas yang kondusif. Penggunaan media digital, aktivitas permainan edukatif, dan sistem penghargaan terbukti efektif memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan diri tanpa rasa takut. Pembahasan melalui lensa interaksionisme simbolik mengungkapkan bahwa interaksi antara pengajar dan siswa berperan kunci dalam membentuk makna belajar. Siswa memaknai proses belajar bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan sebagai pengalaman yang membebaskan dan membuka ruang eksplorasi potensi diri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi pembelajaran interaktif mampu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan menggembirakan, sekaligus memberikan implikasi praktis bagi pengembangan model pembelajaran di komunitas pendidikan non-formal. Kata kunci: strategi pembelajaran interaktif, perilaku belajar positif, pendidikan non-formal, interaksionisme simbolik, komunitas belajar. Abstract This study aims to analyze the implementation of interactive learning strategies in fostering positive learning behaviors among students in the Edukarya Teaching Community. Kampung Penggilingan Baru. North Bekasi, as a non-formal educational community. The study employs a qualitative approach with a narrative design, utilizing participatory observation, semi-structured interviews, and documentary analysis, which are inductively analyzed using a symbolic interactionism The results indicate that the interactive approach successfully fosters positive learning behaviors, as evidenced by studentsAo active participation, willingness to present in front of the class, and in educational games. These behaviors were influenced by internal factors such as motivation, interest in learning, and self-confidence, as well as external factors including two-way communication between teachers and students, peer interaction, and a conducive classroom The use of digital media, educational game activities, and a reward system proved effective in providing students with a space to express themselves without fear. An analysis through the lens of symbolic interactionism reveals that the interaction between teachers and students plays a key role in shaping the meaning of learning. Students perceive the learning process not merely as a transfer of knowledge, but as an experience that liberates and opens up space for exploring oneAos This study concludes that interactive learning strategies can create an inclusive and engaging learning environment, while also offering practical implications for the development of learning models in non-formal education communities. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 Keywords: interactive learning strategies, positive learning behaviors, non-formal education, symbolic interactionism, learning communities. cenderung bersikap pasif, kurang berani mengungkapkan pendapat, dan tidak termotivasi untuk terlibat aktif di kelas. Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor internal seperti rendahnya rasa percaya diri dan minat belajar, serta faktor eksternal seperti metode pengajaran yang kurang variatif dan suasana kelas yang (Slameto. Terbatasnya minimnya interaksi dua arah antara pengajar dan siswa semakin memperparah hambatan dalam membentuk perilaku belajar yang positif. Untuk mengatasi permasalahan Komunitas Edukarya interaktif yang mencakup penggunaan media digital, permainan edukatif, dan ice Penerapan pendekatan ini perilaku belajar yang positif, menciptakan suasana kelas yang kondusif, dan membangun keterlibatan aktif siswa dalam setiap sesi pembelajaran (Sari & Setiawan, 2. Penelitian ini hadir untuk menganalisis bagaimana penerapan strategi tersebut membentuk perilaku belajar siswa di Komunitas Edukarya. Motivasi belajar merupakan salah satu faktor internal yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembelajaran siswa. (Rohaliya & Kuntari, 2. menjelaskan bahwa motivasi belajar siswa dapat ditingkatkan melalui pendekatan yang sesuai dengan minat dan konteks kehidupan mereka sehari-hari. Temuan ini relevan dengan praktik di Komunitas Edukarya, penggunaan media digital yang dekat dengan keseharian siswa, sistem reward, dan permainan edukatif terbukti mampu memicu antusiasme dan keterlibatan aktif Pendekatan ini memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi materi PENDAHULUAN Akses pendidikan yang belum merata masih menjadi permasalahan mendasar di Indonesia, termasuk di Kecamatan Bekasi Utara. Data Dinas Pendidikan Kota Bekasi tahun 2025 menunjukkan bahwa meskipun terdapat 606 siswa pada pendidikan formal, sebagian anak belum mendapatkan akses keterhambatan akses, dan penurunan motivasi belajar (UNESCO, 2. Komunitas Mengajar Edukarya, yang berlokasi di Kampung Penggilingan Baru. Bekasi Utara, hadir sebagai salah satu wadah pendidikan non-formal yang berupaya menjawab kesenjangan tersebut. Meskipun berkembang, tantangan tetap ada terutama terkait rendahnya keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran yang masih bersifat satu arah. Kondisi ini mendorong munculnya pembelajaran yang lebih bermakna dan Pembelajaran interaktif telah terbukti menjadi salah satu solusi efektif dalam meningkatkan partisipasi aktif (S. Amalia & M. Hardiansyah, 2. menemukan bahwa penerapan metode pembelajaran yang melibatkan berbagai gaya belajar, khususnya visualauditori, mampu meningkatkan keaktifan belajar siswa secara signifikan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa siswa cenderung lebih responsif dan terlibat ketika pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan keberagaman cara siswa menyerap informasi. Hal ini sejalan dengan kondisi di Komunitas Edukarya, di mana siswa menunjukkan respons yang lebih baik ketika pembelajaran dirancang secara interaktif dan menyenangkan. Pembelajaran konvensional yang bersifat satu arah menyebabkan siswa Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 menyenangkan dan bebas dari tekanan Penelitian ini menganalisis perilaku belajar siswa dalam pembelajaran interaktif di Komunitas Mengajar Edukarya Bekasi Utara menggunakan (Blumer. Perspektif memandang perilaku belajar sebagai hasil dari proses pemaknaan yang terbentuk melalui interaksi sosial antara siswa, pengajar, dan lingkungan belajar. Melalui pendekatan ini, diharapkan penelitian dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan strategi pembelajaran yang lebih responsif, inklusif, dan bermakna di komunitas pendidikan nonformal (Arta & Kuntari, 2. bias konfirmasi. kedua, efek kedekatan . amiliarity effec. sebagai konsekuensi posisi insider dapat menumpulkan kepekaan analitis peneliti terhadap hal-hal yang tampak wajar secara kontekstual, pertanyaan kritis lebih lanjut. posisi peneliti sebagai figur otoritas di ruang kelas menciptakan asimetri struktural yang dapat membatasi ekspresi otentik siswa, terutama bagi informan pasif awal. untuk memitigasi bias-bias tersebut, peneliti memperkuat triangulasi dengan wawancara kepada pengajar lain sepanjang proses pengumpulan data guna mendokumentasikan posisionalitas dan asumsi yang mungkin mempengaruhi Pengumpulan data dilakukan melalui triangulasi tiga teknik. Pertama, observasi partisipatif, di mana peneliti terlibat langsung sebagai pengajar di Kelas A (Calistun. dan Kelas E (SMP) selama periode penelitian. Fokus observasi mencakup interaksi verbal dan non-verbal antara pengajar dan siswa, respons siswa terhadap berbagai aktivitas kelompok, serta penggunaan media dan alat peraga. Kedua, wawancara semiterstruktur dengan dua pengajar volunteer Batch 9 sebagai informan: . Galuh Anindya Kirani Azza Putri yang mengajar Kelas A (Calistun. dan Kelas E (SMP), dan . Fitria Anggraini yang mengajar Kelas 3. Data dari Kelas 3 diperoleh sepenuhnya melalui wawancara dengan Fitria, memperkaya temuan observasi dari Kelas A dan Kelas E. Wawancara dilaksanakan secara daring melalui Google Meet pada 14Ae15 Maret 2026, mencakup enam tema pokok: perilaku belajar awal siswa, media dan metode yang efektif, strategi membangun relasi informal, perubahan signifikan perilaku siswa, pengaruh reward dan ice breaking, serta tantangan METODE Penelitian pendekatan kualitatif dengan desain Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu bagaimana perilaku belajar siswa terbentuk melalui interaksi dalam pembelajaran interaktif (Creswell & Poth. Peneliti instrumen utama sekaligus participant observer yang memiliki dual role sebagai memungkinkan pemahaman mendalam terhadap dinamika pembelajaran dari perspektif insider (Merriam & Tisdell. Posisi ganda sebagai pengajar refleksivitas kritis yang melampaui sekadar pengakuan normatif. relasi kuasa antara peneliti dan informan perlu diakui secara eksplisit: sebagai pengajar, peneliti memiliki otoritas pedagogis yang dapat mempengaruhi respons siswa dan pengajar volunteer dalam wawancara. siswa cenderung menampilkan perilaku yang dianggap sesuai harapan figur pengajar, sehingga data observasi berpotensi mengandung Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 mendampingi siswa dengan kebutuhan Ketiga, studi dokumentasi, meliputi profil komunitas, struktur organisasi, materi pembelajaran, dan dokumentasi visual kegiatan. Analisis data dilakukan secara induktif mengikuti tiga tahap: reduksi data untuk memilah informasi yang relevan dengan fokus penelitian, display data untuk mengorganisasi temuan secara sistematis, dan interpretasi dengan menggunakan kerangka interaksionisme simbolik (Blumer, 1. Analisis difokuskan pada bagaimana perilaku belajar siswaAidipahami sebagai praktik sosial bermakna, bukan sekadar respons behavioristikAiterbentuk interaksi simbolik antara pengajar dan Secara interaksionisme simbolik: . simbol yang digunakan dalam interaksi . eward, kata pujian, posisi fisik guru di ruang kela. situasi interaksi konkret di mana simbol-simbol tersebut dipertukarkan . esi permainan, sesi reward, percakapan dan . definisi situasi yang dikonstruksi oleh siswa sebagai hasil pemaknaan (Blumer, 1. , yang tercermin dalam perubahan perilaku dari pasif ke aktif. Karakteristik tiga tipe informan (Informan Pasif Awal. Informan Moderat, dan Informan Aktif Awa. digunakan sebagai basis komparasi pola respons terhadap pendekatan interaktif yang Keabsahan data dijamin melalui triangulasi metode, yaitu mengonfirmasi konsistensi temuan dari ketiga teknik pengumpulan data yang digunakan. Adapun pemeriksaan keabsahan data dilakukan secara terpisah dari tahap pengumpulan data, melalui triangulasi metode . engkonfirmasi konsistensi temuan dari observasi, wawancara, dan dokumentas. serta triangulasi sumber . embandingkan perspektif dua pengajar dari kelas berbeda sebagai posisi Keabsahan data dijamin melalui triangulasi metode, yaitu mengonfirmasi konsistensi temuan dari ketiga teknik pengumpulan data yang HASIL DAN PEMBAHASAN Bagian ini menyajikan temuan berdasarkan triangulasi tiga sumber data: observasi partisipatif selama empat sesi (September-November 2. , wawancara semi-terstruktur dengan dua pengajar volunteer Batch 9 yang dilaksanakan secara daring pada 14-15 Maret 2026, dan studi dokumentasi kegiatan Komunitas Mengajar Edukarya. Hasil disajikan dalam dua sub-bagian utama, yaitu Pelaksanaan Kegiatan dan Evaluasi Kegiatan, yang masing-masing diuraikan secara rinci berdasarkan temuan lapangan dan didukung oleh kutipan langsung dari Kegiatan dilaksanakan dalam empat sesi selama September-November 2025, setiap hari Minggu pukul 14. 15 WIB. Struktur setiap sesi terdiri atas: ice breaking . , aktivitas belajar utama . 15Ae15. , dan sesi penutupan beserta review . Data dikumpulkan melalui triangulasi antara observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur dengan dua pengajar volunteer Batch 9, dan studi dokumentasi. Perilaku Belajar Awal Siswa dan Proses Adaptasi Observasi pada sesi pertama . September 2. menunjukkan bahwa siswa memiliki tingkat keterbukaan yang Sebagian siswa langsung terlibat aktif dalam kegiatan ice breaking dan permainan edukatif AuKotak PosAy, sementara sebagian lainnya masih menunggu dan mengamati sebelum berani Pola ini mencerminkan proses adaptasi awal di mana siswa sedang menilai situasi dan mendefinisikan makna kehadiran mereka di kelas baru. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 belajar awal tidak bersifat seragam, melainkan sangat dipengaruhi oleh komposisi kelompok dan pengalaman sebelumnya masing-masing siswa. Secara analitis, perbedaan ini mencerminkan bahwa definisi situasi (Blumer, 1. yang dikonstruksi oleh siswa terhadap ruang kelas baru tidak bersifat universal, melainkan ditentukan oleh riwayat masing-masing: Informan Aktif Awal . eperti siswa Kelas . telah membawa makna kelas sebagai ruang yang aman dan menyenangkan, sementara Informan Pasif Awal . ebagian siswa Kelas A dan E) masih dalam proses Implikasinya, pendekatan pengajar perlu didiferensiasi sejak awal sesuai karakter tipe informan, bukan diasumsikan homogen. Gambar 1. Kegiatan Permainan Edukatif AuKotak PosAy di Komunitas Mengajar Edukarya Batch 9. Sumber: Dokumentasi Peneliti. Temuan ini dikonfirmasi oleh Galuh yang menggambarkan kondisi serupa pada pertemuan pertamanya: AuKesan pertama saya ketika mengajar di Edukarya, karena baru pertama kali kenal dengan anak-anaknya, mereka masih agak malu-malu. Tapi setelah beberapa kali saya mengajar di Edukarya, anakanaknya cukup interaktif. Mereka juga memiliki motivasi belajar yang tinggi, serta menyukai pola pembelajaran yang kreatif dan interaktif. Ay (Informan Reward-Media, wawancara 14 Maret Berbeda dengan temuan Informan Reward-Media. Informan Relasi Informal mengalami situasi yang lebih antusias sejak awal. Observasi pada Kelas 3 yang ia ajar menunjukkan bahwa siswa langsung menyambut pengajar dengan ceria bahkan sebelum pembelajaran Informan Relasi Informal mendeskripsikan situasi tersebut: AuKalau untuk pertama kali banget aku antusiasnya udah tinggi banget. Jadi kita tuh awal-awal udah disambut ceria banget sama mereka. Misalkan kita belum nanya aja, mereka tuh udah nanya aja. AoKak, ini belajar apa ya?Ao. Jadi mereka bener-bener aktif banget, antusiasnya tinggi banget. Ay (Informan Relasi Informal, wawancara 15 Maret 2. Perbedaan pola awal antara kedua kelas ini menunjukkan bahwa perilaku . Dinamika Interaksi dan Pola Partisipasi Selama empat sesi observasi, partisipasi siswa dapat dikategorikan ke dalam tiga tipe karakter yang digunakan secara konsisten dalam analisis ini: Informan Aktif Awal, yakni siswa yang menunjukkan inisiatif, responsif terhadap stimulus pembelajaran, dan terlibat tanpa Informan Moderat, yakni siswa yang responsif terhadap pendekatan tertentu . erutama reward dan permaina. namun jarang berinisiatif sendiri. serta Informan Pasif Awal, yakni siswa yang pada tahap awal menunjukkan hambatan partisipasi signifikan dan memerlukan bimbingan intensif serta strategi adaptif untuk Kategorisasi ini bukan nama, melainkan karakter perilaku belajar yang bersifat dinamis dan dapat bergeser seiring perubahan situasi interaksi. Aktivitas yang paling efektif menurunkan hambatan partisipasi khususnya bagi Informan Pasif Awal adalah permainan edukatif dan ice breaking. pada sesi-sesi tersebut, bahkan siswa yang termasuk kategori pasif awal tampak lebih terlibat dan berani merespons, menunjukkan Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 bahwa definisi situasi (Blumer, 1. yang diciptakan pengajar secara langsung mempengaruhi pemaknaan siswa terhadap ruang kelas sebagai ruang yang aman untuk berpartisipasi. siswa dengan partisipasi tinggi yang konsisten terlibat aktif, siswa dengan partisipasi moderat yang responsif namun jarang berinisiatif, dan siswa yang memerlukan bimbingan intensif dengan keterlibatan yang terbatas. Aktivitas yang paling efektif menurunkan hambatan partisipasi adalah permainan edukatif dan ice breaking. pada sesi-sesi tersebut, bahkan siswa yang biasanya pasif tampak lebih terlibat dan berani Dinamika teramati secara konsisten pada sesi-sesi yang menerapkan sistem reward. Informan Reward-Media mendeskripsikan bagaimana sistem poin bintang mengubah atmosfer kelas: AuBagi siswa-siswa yang memiliki keberanian menjawab pertanyaan dariku, aku kasih point bintang untuk satu pertanyaan, dan nanti ketika di akhir sesi pembelajaran anak yang mendapatkan point bintang yang paling banyak akan mendapatkan reward dari aku. Suasana kelas itu juga lumayan interaktif dan anak-anak menjawab pertanyaannya. Ay (Galuh, wawancara 14 Maret 2. Observasi juga mencatat bahwa jumlah siswa yang hadir secara langsung mempengaruhi intensitas dinamika kelas. Informan Reward-Media menjelaskan fenomena ini berdasarkan pengalamannya di Kelas SMP: AuKalau banyak orang, aku bisa kasih reward sehingga mereka juga lebih aktif. Kalau misalkan hanya satu orang, tidak mungkin aku kasih reward karena tidak ada persaingannya. Ay (Galuh, wawancara 14 Maret 2. Sementara itu. Informan Relasi Informal menemukan pola interaksi yang unik pada siswanya: mereka lebih cepat memahami materi ketika langsung dihadapkan pada soal dibandingkan mendengarkan penjelasan. Ia pun menyesuaikan pendekatannya secara AuMereka tuh karena tipe lebih suka isi soal ketimbang kayak mendengarkan atau belajar, jadi mending kalau aku pribadi caranya tuh aku banyak bikin soal terus mereka tuh langsung ngerjain. Terus kalau ngga ngerti, baru nanya dan aku jelasin, baru mereka tuh lebih paham. Ay (Informan Relasi Informal, wawancara 15 Maret 2. Secara analitis, variasi pola partisipasi ini menunjukkan bahwa perilaku belajar bukan sekadar indikator merupakan praktik sosial bermakna yang dibentuk oleh situasi interaksi. Informan Moderat, responsivitas yang tinggi terhadap reward dan permainan, sementara Informan Pasif Awal lebih responsif terhadap pendekatan relasional yang mengurangi beban psikologis partisipasi. Ini mengonfirmasi bahwa simbol-simbol yang digunakan pengajar baik berupa media, reward, maupun gaya komunikasi secara aktif mendefinisikan ulang situasi kelas bagi masing-masing tipe informan. Peran Relasi Informal Membentuk Keterbukaan Siswa Observasi partisipatif selama empat sesi menunjukkan bahwa siswa yang memiliki kedekatan lebih baik dengan pengajar cenderung lebih berani bertanya, menjawab, dan mengakui Ice breaking yang dilakukan di awal setiap sesi terbukti efektif menciptakan suasana yang rileks sebelum masuk ke materi inti. Galuh menjelaskan strategi yang ia terapkan untuk membangun rasa aman tersebut: AuAku memberikan apresiasi ke mereka ketika mereka berhasil menjawab pertanyaan, baik itu salah ataupun benar, aku tetap memberikan mereka apresiasi baik itu secara verbal ataupun aku memberikan mereka gift melalui point. Aku juga menerapkan ice breaking supaya Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 mereka ga tegang-tegang banget, kita seneng-seneng aja tanpa memikirkan Pelajaran selama 10 menit, lalu kita lanjut lagi belajar. Ay (Informan RewardMedia, wawancara 14 Maret 2. Informan Relasi Informal pendekatan yang berbeda namun saling melengkapi, yaitu melalui percakapan informal di luar materi: AuKita juga harus welcome. Selagi emang waktu luang, itu bisacerita-cerita ke mereka, terus mereka cerita ke kita. Kita Jadi mereka deket sama kita, terus belajarnya tambah semangat karna kitanya juga asik. Ay (Informan Relasi Informal, wawancara 15 Maret 2. Peran pengajar dalam membangun relasi informal tidak hanya sebatas membentuk sikap positif siswa secara Khoiri dan Widiansyah . menekankan bahwa guru yang mampu membangun relasi informal dengan siswa cenderung lebih berhasil dalam menumbuhkan sikap solidaritas dan kepercayaan diri. Hal ini sejalan dengan temuan di Komunitas Edukarya, di mana pendekatan personal yang diterapkan pengajar volunteer melalui apresiasi verbal, ice breaking, dan obrolan santai di sela pembelajaran berhasil menciptakan ruang psikologis yang aman sehingga siswa berani mengekspresikan diri tanpa rasa takut dihakimi. Secara analitis, relasi informal berfungsi sebagai mekanisme redefinisi situasi: melalui interaksi non-formal yang berulang, pengajar secara bertahap mengubah makna simbolis ruang kelas dari Auruang evaluasiAy menjadi Auruang berbagiAy Transformasi makna ini berdampak paling signifikan bagi Informan Pasif Awal, yang hambatan partisipasinya bersumber dari kecemasan sosial, bukan dari ketiadaan kemampuan kognitif. Perubahan Perilaku Belajar yang Teramati Observasi selama tiga bulan menunjukkan perubahan perilaku belajar yang signifikan pada beberapa siswa. Siswa yang awalnya pasif mulai menunjukkan keberanian verbal yang kedekatan dengan pengajar. Perubahan paling mencolok terjadi ketika pengajar mengubah bingkai situasi dari Ausiswa yang diajarAy menjadi Ausiswa yang mengajarAy. Informan Reward-Media menceritakan kasus konkret yang ia alami: AuAku pernah bertemu dengan satu murid, dia ini bener-bener fokusnya sangat rendah dan dia tipikal orang yang menularkan ketidakfokusannya ke tementemen yang lain. Hal yang aku terapkan ke dia adalah aku jadikan dia sebagai guru, jadi aku minta dia untuk mengajarkan teman-temannya materi yang diajarkan hari ini. Dan dia ternyata setelah aku minta untuk jadi guru, dia itu semangat dia juga ingin untuk menyampaikan Akhirnya kelas jadi kondusif Ay (Informan Reward-Media, wawancara 14 Maret 2. Perubahan perilaku juga teramati melalui mekanisme peer-triggering, yaitu menstimulasi siswa lain untuk ikut berusaha lebih keras. Informan RewardMedia mendeskripsikan situasi ini dalam sesi memorize dan flash card: AuAda satu anak, dia tuh kemampuan menghafalnya kurang. Nah, tapi dia ini ter-trigger sama temen-temen lainnya, karna temen-temen lainnya ini berhasil setoran hafalan tuh secara cepet. Akhirnya dia ke-trigger juga untuk memberikan hafalan secara cepat. Akhirnya Ay (Informan Reward-Media, wawancara 14 Maret 2. Informan Relasi Informal juga mencatat adanya perubahan bertahap meski tidak selalu dramatis, karena keterbatasan waktu per materi: AuAku tuh perhatiin dari hari ke hari mereka tuh perubahannya ada. Lebih yang kayak tadinya mereka ngga tau jadi Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 tau, terus misalkan ngga paham mereka jauh lebih paham. Ay (Informan Relasi Informal, wawancara 15 Maret 2. Perubahan perilaku yang teramati ini tidak lepas dari peran pengajar sebagai fasilitator yang secara aktif membentuk nilai-nilai positif pada diri siswa. (Jannah dan Widiansyah, 2. menjelaskan bahwa guru memiliki tanggung jawab pendidikan karakter melalui pembelajaran pengetahuan, tetapi juga membangun nilai-nilai konstruktif. Dalam Edukarya, pengajar volunteer menerapkan prinsip ini dengan konsisten memberikan apresiasi terhadap setiap usaha siswa baik jawaban benar maupun salah menciptakan atmosfer kelas yang tidak menghakimi dan mendorong siswa untuk terus berani Secara analitis, perubahan perilaku yang teramati dari Informan Pasif Awal yang kemudian berinisiatif mengajar teman-temannya, atau Informan Moderat yang ter-trigger oleh pencapaian teman sebaya merupakan bukti empiris bahwa perilaku belajar adalah praktik sosial bermakna, bukan sekadar respons terhadap metode. Perubahan ini hanya mungkin terjadi ketika struktur interaksi simbolik di . imbol kolaboratif, definisi guru sebagai mitra direkonstruksi oleh pengajar secara konsisten lintas sesi. Gambar 2. Aktivitas pembelajaran menggunakan media digital di Komunitas Mengajar Edukarya Batch 9 (September-November Sumber: Dokumentasi Peneliti. Respons terbaik muncul ketika media diintegrasikan dengan interaksi verbal dan sistem reward. Informan Reward-Media menekankan bahwa desain media sangat menentukan efektivitasnya: AuPPT-nya tuh harus yang bervariasi. Mereka tuh harus warna-warni terus juga ada binatang-binatangnya jadi mereka bisa fokus. Terus apalagi kalau misalkan di PPT itu ada pertanyaan, dan kita sebagai pengajar harus banget yang suka kasih, 'Ih keren!'. Pasti mereka kayak, 'Aku Kak, aku Kak!'. Ay (Informan Relasi Informal, wawancara 15 Maret 2. Sistem reward terbukti menjadi salah satu faktor terkuat dalam mendorong partisipasi . ihat Gambar . Menariknya, nilai reward tidak terletak pada benda itu sendiri, melainkan pada makna pengakuan yang dibawanya. Fitria menggambarkan dampak stiker kecil sebagai reward: AuKalau reward ngga harus gimanagimana ya. Waktu itu aku cuman bawa stiker kecil-kecil, terus mereka langsung semangat banget. Jadi kayak, 'Ih aku pengen stiker, tapi aku tuh harus seleseiin tugas aku'. Jadi kayak bener-bener pengaruh banget, emang itu tuh yang bikin mereka semangat. Ay Informan Relasi Informal, wawancara 15 Maret 2. Efektivitas Media. Alat Peraga, dan Reward Penggunaan presentasi PowerPoint. Canva, dan video YouTube secara konsisten mendapat respons positif dari mayoritas siswa selama observasi. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 Observasi mengidentifikasi adanya siswa kondusivitas kelas secara keseluruhan. Informan Reward-Media membedakan dua tipe siswa bermasalah dan penanganannya masing-masing: AuAda beberapa jenis anak yang aku Yang pertama, mungkin ada anak yang benar-benar tidak paham sama sekali, makanya dia tidak kondusif di Aku benar-benar mengajarinya secara intensif, aku dan dia benar-benar duduk berdua. Lalu ada juga anak yang konsentrasinya rendah. Nah, kalau untuk yang seperti ini, aku menawarkan cara yang tadi sudah aku sebutkan sebelumnya, yaitu aku minta dia untuk jadi guru dan mengajarkan teman-teman lainnya. Ay (Informan Reward-Media, wawancara 14 Maret 2. Informan Relasi Informal menambahkan strategi lain yang ia temukan efektif untuk siswa dengan konsentrasi rendah, yaitu dengan memberikan soal terlebih dahulu daripada penjelasan: AuMereka tuh karna tipe lebih suka isi soal ketimbang kayak mendengarkan, jadi mending kalau aku pribadi caranya tuh aku banyak bikin soal terus mereka tuh langsung ngerjain. Jadi kayak mereka tuh harus langsung terjun ketimbang materimateri. Ay (Fitria, wawancara 15 Maret Secara analitis, penanganan siswa berkebutuhan khusus di sini menegaskan bahwa tidak ada satu metode tunggal yang bersifat universal. Pengajar yang efektif adalah mereka yang mampu membaca tipe informan secara tepat dan mengadaptasi simbol interaksi yang digunakan: bagi Informan Pasif Awal yang tidak paham, dibutuhkan interaksi diadik intensif. yang paham tetapi tidak fokus, dibutuhkan perubahan peran simbolis dari Ausiswa yang menerimaAy menjadi Ausiswa yang mengajarkanAy. Kemampuan adaptasi ini merupakan inti dari praktik sosial Gambar 3. Pemberian reward kepada siswa sebagai bentuk apresiasi dalam pembelajaran Sumber: Dokumentasi Peneliti. Informan Reward-Media menggunakan alat peraga sederhana berupa sedotan sebagai media konkret untuk menjelaskan konsep sudut. Pendekatan ini menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan penyampaian abstrak: AuMereka pembelajarannya karena mereka bisa mendapatkan gambaran secara visual dari sedotan yang aku berikan itu, jadi mereka jauh lebih paham terkait materi pembelajaran dari sedotan itu. Ay (Galuh, wawancara 14 Maret 2. Secara analitis, efektivitas media dan reward tidak terletak pada nilai materialnya, melainkan pada kapasitasnya sebagai simbol interaksi: media yang menarik menciptakan situasi di mana perhatian siswa terfokus, sementara reward berfungsi sebagai penanda simbolis bahwa usaha diakui. Bagi Informan Moderat dan Informan Pasif Awal, kombinasi keduanya bekerja mengubah kelas dari Autempat yang mengancamAy menjadi Autempat yang layak dicobaAy sehingga perilaku belajar yang aktif dan ekspresif dapat muncul sebagai pilihan tindakan bermakna, bukan sekadar kepatuhan terhadap instruksi pengajar. Tantangan dan Strategi Penanganan Siswa dengan Kebutuhan Khusus Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 pembelajaran yang bermakna konteks pendidikan non-formal. EISSN: 2502-9630 bahwa bahkan siswa yang tidak yakin dengan jawabannya tetap berani mencoba: "Memang ada beberapa, bahkan hampir seluruh tapi ngga semua, itu bener-bener tingkat kepercayaan dirinya tinggi banget untuk bertanya, menjawab walaupun salah banyak sih kayak gitu. Intinya, berani banget sih mereka untuk belajar. (Informan Relasi Informal, wawancara 15 Maret 2. Indikator terjadinya perubahan perilaku belajar dari sesi ke sesi. Meskipun Informan Relasi Informal mengakui bahwa perubahan tidak selalu dramatis karena keterbatasan pemahaman tetap terlihat: "Aku perhatiin dari hari ke hari mereka tuh perubahannya ada. Lebih yang kayak tadinya mereka ngga tau jadi tau, terus misalkan ngga paham mereka jauh lebih Jadi menurutku itu dengan sistem ajar yang aku kasih, aku sih liat mereka ada perubahan walaupun memang ngga banyak banget. " (Informan Relasi Informal, wawancara 15 Maret 2. Capaian-capaian ini konsisten dengan temuan Hatami dan Afrizal . pembelajaran interaktif yang tepat tidak kognitif, tetapi juga membentuk karakter positif seperti keberanian, tanggung jawab, dan kepercayaan diri siswa. Evaluasi Kegiatan Evaluasi melalui triangulasi antara hasil observasi partisipatif empat sesi, wawancara mendalam dengan dua pengajar volunteer, dan studi dokumentasi selama SeptemberNovember 2025. Evaluasi mencakup tiga aspek utama: . capaian keberhasilan program, . faktor pendukung dan penghambat, serta . refleksi pengajar terhadap efektivitas pendekatan yang . Capaian Keberhasilan Program Berdasarkan observasi, program menunjukkan perubahan perilaku belajar yang nyata pada setidaknya empat indikator utama. Indikator pertama adalah meningkatnya keberanian verbal siswa: siswa yang pada awal sesi cenderung pasif mulai menunjukkan inisiatif bertanya dan menjawab seiring berjalannya program. Perubahan ini terutama terlihat pada sesisesi yang menerapkan sistem reward dan ice breaking, di mana hambatan psikologis untuk berpartisipasi menurun secara Indikator terbentuknya dinamika kompetitif positif dalam kelas. Informan Reward-Media berdasarkan pengamatannya langsung di "Menurut aku, kalau sistem reward itu sangat efektif karena mereka suka banget Ketika aku memberikan poin, mereka itu rebutan banget untuk menjawab pertanyaan. Akhirnya suasana kelasnya jadi benar-benar aktif dan mereka berebutan untuk jadi nomor satu. (Informan Reward-Media, wawancara 14 Maret 2. Indikator terbentuknya kepercayaan diri siswa untuk mengekspresikan diri tanpa rasa Informan Relasi Informal mencatat . Faktor Pendukung Keberhasilan Terdapat tiga faktor utama yang Pertama, sistem reward yang sederhana namun bermakna. Fitria menemukan bahwa nilai reward bukan terletak pada materi bendanya, melainkan pada makna pengakuan yang dibawanya bagi siswa: "Waktu itu aku cuman bawa stiker kecilkecil, terus mereka langsung semangat Jadi kayak, 'Ih aku pengen stiker, tapi aku tuh harus seleseiin tugas aku'. Jadi kayak bener-bener pengaruh banget, emang itu tuh yang bikin mereka Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 " (Informan Relasi Informal, wawancara 15 Maret 2. Kedua, relasi informal antara pengajar dan siswa yang terbangun melalui pendekatan personal. Galuh mencatat bahwa kedekatan ini menjadi fondasi yang memungkinkan siswa belajar tanpa tekanan: "Aku memberikan apresiasi ke mereka ketika mereka berhasil menjawab pertanyaan, baik itu salah ataupun benar, aku tetap memberikan mereka apresiasi baik itu secara verbal ataupun aku memberikan mereka gift melalui point. Lalu juga untuk mencairkan suasana menerapkan ice breaking supaya mereka ga tegang-tegang banget dan juga ga stres-stres banget. " (Informan RewardMedia, wawancara 14 Maret 2. Ketiga, fleksibilitas pengajar dalam menyesuaikan metode dengan karakteristik belajar siswa. Fitria secara adaptif mengubah pendekatannya setelah mengamati bahwa siswanya lebih responsif terhadap soal langsung dibanding penjelasan teoritis: "Mereka tuh karna tipe lebih suka isi soal ketimbang kayak mendengarkan atau Jadi mending kalau aku pribadi caranya tuh aku banyak bikin soal terus mereka tuh langsung ngerjain. Terus kalau ngga ngerti, baru nanya dan aku jelasin, baru mereka tuh lebih paham. (Informan Relasi Informal, wawancara 15 Maret 2. Ketiga faktor pendukung tersebut secara sinergis menciptakan ekosistem pembelajaran yang kondusif, di mana motivasi intrinsik siswa dapat tumbuh beriringan dengan penguatan ekstrinsik yang diberikan pengajar. Hal ini sejalan dengan temuan (Rohaliya & Kuntari, 2. yang menyatakan bahwa motivasi belajar siswa dapat ditingkatkan melalui pendekatan yang sesuai dengan minat dan konteks kehidupan mereka sehari-hari. Program juga menghadapi beberapa kendala yang perlu dicatat secara jujur. Kendala pertama adalah ketergantungan dinamika kelas pada jumlah siswa yang Observasi menunjukkan bahwa sesi dengan sedikit siswa cenderung kurang hidup karena tidak ada kompetisi sosial yang memantik semangat. Galuh mendeskripsikan keterbatasan ini secara "Aku pernah ngajar dan di SMP ini faktor internal dan eksternal benar-benar Waktu itu aku pernah ketemu sama anak yang pemahamannya terkait materi masih kurang. Dia juga ketika aku menjelaskan, menangkap materinya cukup lama, sehingga itu juga memperlambat alur pembelajaran. Lalu juga dipengaruhi oleh faktor eksternal karena saat itu dia sendirian, sehingga mungkin dia juga kurang semangat dan tidak ada orang yang bisa men-trigger (Informan Reward-Media, wawancara 14 Maret 2. Kendala keterbatasan waktu dan frekuensi Dengan hanya satu sesi per minggu dan materi yang berganti setiap pertemuan, proses internalisasi perubahan perilaku belajar menjadi terbatas. Informan Relasi Informal mengakui kendala ini: "Awalnya kan tiap minggu itu materinya beda-beda, jadi memang perubahannya jadinya ngga banyak karna setiap materi tuh waktunya sebentar, cuman berapa jam doang, setiap minggu itu akan beda lagi " (Informan Relasi Informal, wawancara 15 Maret 2. Kendala ketiga adalah variasi kemampuan siswa yang lebar dalam satu Informan Reward-Media mengidentifikasi perlunya diferensiasi pendekatan berdasarkan profil siswa antara siswa yang tidak paham versus siswa yang paham tetapi tidak fokus yang masing-masing membutuhkan strategi penanganan yang berbeda dan menyita perhatian pengajar secara bergantian. Kondisi ini sejalan dengan argumentasi . Faktor Penghambat dan Kendala Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 (Rogers, 2. ) bahwa pendidikan nonformal memiliki karakteristik dan dinamika yang berbeda dari konteks formal, sehingga pendekatannya pun harus lebih fleksibel dan kontekstual. bahwa pengembangan komunitas belajar non-formal stabilitas kehadiran siswa dan peningkatan kapasitas pengajar volunteer secara Temuan memberikan kontribusi penting terhadap pemahaman tentang perilaku belajar siswa dalam konteks pendidikan non-formal, khususnya melalui lensa interaksionisme Berikut pembahasan tematik atas temuan-temuan . Refleksi Pengajar terhadap Proses Pembelajaran Kedua menunjukkan kemampuan refleksi yang baik terhadap proses pembelajaran yang mereka fasilitasi. Informan RewardMedia mencatat perubahan signifikan antara pertemuan pertama dan selanjutnya sebagai bukti efektivitas pendekatan "Jadi cukup ada perubahan dari pertemuan pertama ke pertemuan kedua. Karena selain kita lebih mengenal muridmurid yang ada di Edukarya tersebut, kita juga akhirnya bisa mengetahui pola belajar apa yang paling diminati oleh Jadi mereka bisa menerima pembelajaran dengan baik. " (Informan Reward-Media, wawancara 14 Maret Refleksi ini menunjukkan bahwa pengajar tidak sekadar mengeksekusi rencana pembelajaran, melainkan secara aktif mengamati respons siswa dan melakukan penyesuaian. Proses refleksiadaptasi ini merupakan inti dari praktik pengajaran yang efektif, sebagaimana ditekankan oleh Merriam dan Tisdell . bahwa kualitas pembelajaran kualitatif bergantung pada sensitivitas dan fleksibilitas peneliti sekaligus pengajar dalam merespons konteks lapangan. Secara keseluruhan, evaluasi pembelajaran interaktif di Komunitas Edukarya lingkungan belajar yang lebih kondusif dan mendorong perilaku belajar yang lebih aktif. Namun, keberhasilan ini bergantung pada kehadiran kolektif siswa, fleksibilitas pengajar, serta konsistensi penerapan sistem reward dan ice breaking. Temuan ini memberikan implikasi praktis . Pembelajaran Interaktif sebagai Ruang Pemaknaan Bersama Dalam perspektif interaksionisme simbolik (Blumer, 1. , perilaku belajar siswa di Komunitas Edukarya tidak bisa dipahami semata-mata sebagai respons mekanis terhadap stimulus pengajaran, melainkan sebagai hasil dari proses aktif pemaknaan yang berlangsung dalam interaksi sosial. Ketika siswa memilih untuk menjawab pertanyaan, maju ke depan kelas, atau terlibat dalam permainan edukatif, mereka sedang melakukan tindakan yang bermakna. tindakan yang didorong oleh pemaknaan mereka atas situasi kelas, relasi dengan pengajar, dan ekspektasi terhadap diri sendiri. Temuan bahwa siswa Kelas 3 langsung antusias sejak hari pertama, sementara siswa Kelas A dan Kelas E memerlukan adaptasi lebih lama, menunjukkan bahwa makna yang dilekatkan siswa terhadap situasi kelas pengalaman belajar mereka sebelumnya. Siswa yang pernah mengalami lingkungan belajar yang mendukung cenderung lebih cepat membuka diri, sementara siswa yang terbiasa dengan pola pembelajaran konvensional memerlukan waktu lebih lama untuk merekonstruksi makna 'kelas yang aman'. Sistem Reward Pengakuan Simbol Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 Salah satu temuan paling menarik dalam penelitian ini adalah bahwa nilai reward tidak terletak pada materialitasnya sebuah stiker kecil pun mampu menggerakkan semangat siswa secara luar Hal ini menunjukkan bahwa reward berfungsi sebagai simbol pengakuan: ketika siswa menerima stiker atau poin mendapatkan benda, tetapi menerima pesan 'usahamu dihargai dan kamu Makna simbolis inilah yang sesungguhnya menggerakkan perilaku. Temuan ini konsisten dengan pandangan interaksionisme simbolik bahwa tindakan manusia didasarkan pada makna yang dilekatkan pada objek dan Reward berfungsi sebagai simbol yang menjembatani antara pengajar dan siswa menciptakan shared meaning bahwa partisipasi aktif adalah sesuatu yang bernilai dan dirayakan, bukan sesuatu yang berisiko atau menakutkan. tersebut sebagai sesuatu mungkin mereka capai. Pedagogis Adaptif sebagai Inti Keberhasilan Temuan penelitian ini secara keberhasilan program bukan terletak pada satu metode tunggal, melainkan pada kemampuan pengajar untuk secara adaptif menyesuaikan pendekatannya. Galuh mengubah pendekatan dari 'siswa yang diajar' menjadi 'siswa yang mengajar' ketika menghadapi siswa berkonsentrasi Fitria menggeser dari penjelasan teoritis ke pengerjaan soal langsung ketika menemukan bahwa siswanya lebih responsif terhadap pendekatan tersebut. Kemampuan pedagogis adaptif ini sejalan dengan pandangan Merriam dan Tisdell . tentang pentingnya sensitivitas kontekstual dalam praktik pengajaran kualitatif. Pengajar yang efektif bukan mereka yang memiliki satu metode terbaik, melainkan mereka yang memiliki repertoar metode yang luas dan kepekaan untuk mengetahui kapan metode mana yang paling tepat diterapkan. Temuan-temuan di atas secara perubahan perilaku belajar yang terjadi di Komunitas Edukarya merupakan hasil dialektika antara tiga kekuatan: struktur pendidikan non-formal yang memberikan fleksibilitas dan kebebasan dari tekanan evaluatif formal. kultur interaksi yang suportif yang dibangun secara konsisten oleh pengajar volunteer melalui simbolsimbol pengakuan, relasi personal, dan atmosfer kelas yang tidak menghakimi. serta agensi siswa dalam memaknai pembelajaran sebagai pengalaman yang layak diikuti dan bermakna bagi diri Dialektika ini tidak berlangsung secara linear, melainkan melalui negosiasi makna yang terus-menerus antara pengajar dan siswa dalam setiap sesi interaksi sebagaimana diteorikan Blumer . bahwa tindakan sosial selalu . Faktor Internal dan Eksternal dalam Pembentukan Perilaku Belajar Penelitian ini mengkonfirmasi proposisi Slameto . bahwa perilaku belajar dibentuk oleh interaksi antara . otivasi, kepercayaan dir. dan faktor eksternal . etode pengajaran, suasana kelas, interaksi sosia. Temuan lapangan menunjukkan bahwa kedua kelompok faktor ini beroperasi secara dialektis faktor eksternal yang dirancang dengan baik . ce breaking, sistem reward, relasi mentransformasi faktor internal siswa menjadi lebih positif. Mekanisme peer-triggering yang teramati di mana pencapaian teman sebaya memotivasi siswa lain untuk berusaha lebih keras merupakan contoh bagaimana faktor eksternal . eberhasilan tema. ditransformasi menjadi dorongan internal melalui proses pemaknaan sosial. Siswa tidak sekadar melihat temannya mereka memaknai keberhasilan Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 11 No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 merupakan produk dari proses interpretasi yang aktif dan situasional. penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku belajar bukan sematamata efek dari metode mengajar, melainkan produk dari struktur relasi sosial di dalam kelas: relasi kuasa yang direkonstruksi menjadi lebih setara, dan kultur interaksi yang digeser dari evaluatif ke suportif. Kedua, dalam kerangka interaksionisme simbolik, temuan ini mengoperasionalkan konsep definisi situasi (Blumer, 1. secara empiris dalam konteks kelas non-formal, menunjukkan bahwa simbol-simbol kecil seperti stiker, poin bintang, dan pujian verbal memiliki efek sosiologis yang jauh melampaui nilai materialnya. Ketiga, dalam studi non-formal learning, penelitian ini menegaskan komunitas: fleksibilitas struktural dan kedalaman relasi personal yang tidak tersedia dalam setting formal justru menjadi kondisi yang memungkinkan agensi siswa berkembang secara autentik. Dengan demikian, artikel ini tidak hanya mendeskripsikan praktik yang berhasil, tetapi menawarkan proposisi teoritis bahwa pembelajaran bermakna adalah peristiwa sosiologis, bukan sekadar peristiwa pedagogis. Evaluasi menunjukkan bahwa suasana kelas yang kondusif, relasi informal antara pengajar dan siswa, serta variasi metode pembelajaran menjadi kunci utama agar dampak program terus berlanjut, sehingga siswa mampu memaknai proses belajar sebagai pengalaman yang membebaskan dan mendukung perkembangan diri secara . Kontribusi terhadap Pendidikan NonFormal Penelitian ini mengisi celah yang diidentifikasi (Rogers, 2. mengenai pembelajaran interaktif di konteks nonformal. Temuan di Komunitas Edukarya menunjukkan bahwa pendidikan nonformal memiliki keunggulan komparatif kedalaman relasi personal yang sulit dicapai dalam konteks formal. Ketiadaan tekanan evaluasi formal, kebebasan dalam berinovasi pedagogis, dan keintiman relasi antara pengajar volunteer dan siswa menciptakan kondisi yang kondusif bagi terbentuknya perilaku belajar yang positif. Temuan ini sejalan dengan argumentasi (Arta & Kuntari, 2. bahwa program berbasis komunitas pengembangan karakter dan etika profesi, di mana nilai-nilai yang diinternalisasi melalui interaksi sosial yang bermakna terbukti lebih bertahan lama dibandingkan nilai yang diajarkan secara eksplisit dan KESIMPULAN Kegiatan Komunitas Mengajar Edukarya berhasil mendorong terbentuknya perilaku belajar yang positif pada siswa melalui penerapan menyenangkan dan tidak menghakimi. Intervensi ini tidak hanya meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam kegiatan belajar mengajar, tetapi juga membantu siswa mengembangkan kepercayaan diri, keberanian tampil di depan kelas, dan keterlibatan yang responsif dalam setiap aktivitas pembelajaran. Namun, lebih dari sekadar capaian pedagogis, temuan ini memberikan kontribusi pada tiga ranah keilmuan. Pertama, dalam sosiologi pendidikan. DAFTAR PUSTAKA