P- ISSN 1412-0380. E-ISSN 2615-272X PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Volume 22 Nomor 1. Juni 2018 p 9 - 16 AuUlam AsuAy: Media Pergerakan Melawan Perdagangan Daging Anjing Di Bali Dalam Film Dokumenter Putu Raditya Pandet. I Komang Arba Wirawan. Nyoman Lia Susanthi Institut Seni Indonesia Denpasar pandetbrewok@gmail. Anjing merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Bali, sebagai hewan peliharaan serta hewan penjaga Anjing dalam budaya masyarakat Bali juga digunakan sebagai caru . arana persembahan saat upacara yadny. , yang memiliki fungsi sebagai sarana pembersihan areal upacara. Fenomena perdagangan daging anjing di Bali belakangan ini kian marak. Dalam data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dikatakan bahwa daging anjing bukanlah kategori pangan karena tidak termasuk dalam kategori peternakan maupun kehutanan. Berdasarkan hal tersebut, penulis merasa perlu untuk membuka semua cerita terkait dengan perdagangan daging anjing di Bali dalam bentuk film dokumenter berjenis observasi partisipan sehingga nantinya dapat digunakan sebagai media pergerakan untuk melawan konsumsi daging anjing. Film dokumenter AuUlam AsuAy memilih menggunakan metode observasi partisipan dengan genre investigasi karena penulis ingin penonton merasa memiliki kedekatan dengan filmmaker. Sehingga membuat dampak psikologis dan emosional yang didapat penonton menjadi lebih kuat. Penulis mengharapkan dampak yang beragam dapat dirasakan penonton sesuai dengan subjektivitas dan pengalaman dari setiap individu. Film ini mampu secara langsung maupun tidak langsung menjadi media pergerakan melawan perdagangan daging anjing di Bali. Secara langsung, film ini dapat dipergunakan oleh aktivis dan organisasi pecinta hewan untuk melakukan perlawanan terhadap perdagangan daging anjing di Bali. Secara tidak langsung, film ini memancing emosi dan imajinasi penonton untuk melakukan perlawanan terhadap perdagangan daging anjing di Bali. Penonton diajak untuk berpikir ulang tentang apa yang sedang terjadi di Bali saat ini terkait dengan isu perdagangan daging anjing dengan berpijak terhadap kearifan lokal budaya Bali. Kata kunci: Daging anjing, observasi partisipan, investigasi, film dokumenter Dogs are part of the life of Balinese people, as pets as well as animals of house keepers. Dogs in Balinese culture are also used as caru . fferings during yadnya ceremonie. , which has a function as a means of cleansing ceremonial area. The phenomenon of dog meat trade in Bali has recently become more widespread. In the data of the Directorate General of Animal Husbandry and Health said that dog meat is not a category of food because it is not included in the category of animal husbandry or forestry. Based on this, the writer felt the need to open all the stories related to the dog meat trade in Bali in the form of documentary type of participant observation so that later can be used as a medium of movement to fight the consumption of dog meat. The documentary film AuUlam AsuAy chose to use participant observation methods with the investigative genre because the author wants the audience to feel closer to the filmmaker. So as to make the psychological and emotional impact for the audience gets stronger. The authors expect the diverse impact audience can feel in accordance with the subjectivity and experience of each individual. This film is able to directly or indirectly become a media movement against dog meat trade in Bali. Directly, the film can be used by animal activists and organizations to fight against the dog meat trade in Bali. Indirectly, this film provoked the emotions and imagination of the audience to fight against the dog meat trade in Bali. Spectators are invited to re-think about what is happening in Bali at this time related to the issue of dog meat trade based on local wisdom of Balinese culture. Keywords: Dog meat, participant observation, investigation, documentary movie Proses review: 15 - 29 mei 2018, dinyatakan lolos 7 juni 2018 Putu Raditya Pandet. I Komang Arba Wirawan. Nyoman Lia Susanthi (AuUlam AsuAy: Media Pergerakan Melawan. PENDAHULUAN Anjing Bali beberapa tahun belakangan ini mencuri perhatian publik akibat masuknya jenis anjing ras yang perlahan seolah menggusur keberadaan mereka. Bukan menjadi prioritas hewan peliharaan kesayangan lagi, lalu dipersalahkan karena tingginya kasus rabies adalah salah satu dari sekian banyak penderitaan anjing Bali. Tingkat ekonomi masyarakat Bali yang mulai meningkat rupanya berdampak juga pada hewan peliharaan. Anjing Bali yang tadinya menjadi penunggu rumah yang bisa didapat dengan mudah tanpa membeli bahkan, diganti dengan anjing ras bernilai jutaan rupiah. Pada tahun 2015, penulis pernah memroduksi film dokumenter tentang anjing Bali, film tersebut berjudul AuSang AsuAy. Film ini menceritakan tentang hubungan antara kebudayaan masyarakat Bali dengan anjing Bali. Anjing merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Bali, sebagai hewan peliharaan serta hewan penjaga rumah. Anjing dalam budaya masyarakat Bali juga digunakan sebagai caru . arana persembahan saat upacara yadny. , yang memiliki fungsi sebagai sarana pembersihan areal Hal di atas justru bertolak belakang terhadap fenomena yang menyeruak ke permukaan beberapa tahun terakhir. Fenomena perdagangan daging anjing di Bali belakangan ini kian marak. Puluhan penjual masakan dengan bahan dasar daging anjing atau biasa disebut RW (Rintek Wuu. saat ini dapat ditemukan di Bali. Tradisi dan budaya masyarakat Bali, anjing bukanlah binatang potong untuk konsumsi layaknya babi. Masakan dengan bahan daging anjing awalnya merupakan budaya daerah lain di Indonesia yang kemudian masuk ke Bali seiring dengan arus Konsumsi daging anjing tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara lain di Asia seperti Cina. Korea. Vietnam. Thailand dan Filipina. Sementara itu dalam data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dikatakan bahwa daging anjing bukanlah kategori pangan karena tidak termasuk dalam kategori peternakan maupun kehutanan. Hal ini dijelaskan dalam Undang-Undang No. 18/2012 tentang Pangan yaitu: AuSegala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minumanAy. Saat ini sedang direkomendasikan Undang-Undang yang mengatur tentang anjing bukanlah kategori hewan pangan. Selain itu, penyembelihan anjing seringkali dilakukan dengan menyiksa anjing terlebih dahulu sebelum disem- Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 Hal ini bertentangan dengan Undang-undang No. 18/2009 Juncto Undang-undang No 41/2014 yang mengatur bahwa penyembelihan hewan harus dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga hewan terbebas dari rasa sakit, rasa takut dan tertekan, penganiayaan serta penyalah- gunaan. Sehingga dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap kesejahteraan hewan dan dapat dipidana sesuai dengan pasal 302 KUHP dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah karena melakukan penganiayaan ringan terhadap hewan dan jika perbuatan itu mengakibatkan sakit lebih dari seminggu, atau cacat atau menderita luka-luka berat lainnya, atau mati, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan, atau pidana denda paling banyak tiga ratus rupiah, karena penganiayaan hewan. Selain daging anjing bukanlah kategori bahan pangan, dagingnya pun memiliki resiko penyakit rabies, kolera dan trichinosis. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Peternakan Provinsi Bali pada tahun 2017, terjadi penurunan jumlah populasi anjing di Bali. Penurunan jumlah populasi ini terjadi pada tahun 2017 yang berjumlah 361. 711 ekor, dari yang sebelumnya pada tahun 2016 berjumlah 421. Populasi yang tercatat pada Dinas Peternakan melingkupi berbagai ras anjing yang tinggal di Bali. Sehingga dapat diperkirakan bahwa jumlah anjing Bali jauh lebih sedikit dari jumlah yang tertera di atas. Sehingga fenomena perdagangan daging anjing di Bali secara tidak langsung berdampak pada penurunan jumlah populasi anjing Bali. Berdasarkan hal tersebut, penulis merasa perlu untuk membuka semua cerita terkait dengan perdagangan daging anjing di Bali dalam bentuk film dokumenter berjenis observasi partisipan sehingga nantinya dapat digunakan sebagai media pergerakan untuk melawan konsumsi daging anjing. Film dokumenter AuUlam AsuAy memilih menggunakan metode observasi partisipan dengan genre investigasi karena penulis ingin penonton merasa memiliki kedekatan dengan filmmaker. Sehingga dampak psikologis dan emosional yang didapat penonton akan lebih kuat. Penulis mengharapkan dampak yang beragam dapat dirasakan penonton sesuai dengan subjektivitas dan pengalaman dari setiap individu. Film dokumenter AuUlam AsuAy akan menyajikan informasi tentang perdagangan daging anjing kepada masyarakat luas. Sehingga penonton tidak hanya mengetahui namun dapat belajar dari setiap adegan tanpa harus merasa digurui dan terjun langsung ke dalam masalah tersebut. Pemilihan judul AuUlam AsuAy sendiri tidak terlepas dari film penulis sebelumnya AuSang AsuAy yang juga menggunakan bahasa Bali. Penggunaan bahasa Bali dipilih penulis dengan pertimbangan bahwa masyarakat Bali pada umumnya memang lebih tertarik akan sesuatu yang berbau tradisi. Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Gambar 2. Proses investigasi di Jembrana . umber: Dok. Penulis 2. Gambar 1. Mind mapping film AuUlam AsuAy . umber: Dok. Penulis 2. Kata ulam berasal dari bahasa Bali yang berarti daging, dan asu yang berarti anjing, sehingga ulam asu memiliki makna daging anjing. Bahasa Bali yang digunakan adalah bahasa Bali Alus . , yang biasanya diperuntukan bagi orang-orang yang dihormati atau memiliki derajat . yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, penulis menginginkan melalui judul AuUlam AsuAy ini masyarakat Bali dapat menyadari keberadaan anjing Bali yang sejatinya dengan budaya Bali adalah salah satu hewan yang dihormati, dan bukan untuk dikonsumsi. METODE PENELITIAN Dalam sebuah penciptaan film dokumenter dibutuhkan metode untuk memerkuat data. Metode yang digunakan dalam produksi film dokumenter AuUlam AsuAy adalah partisipasi, observasi dan wawancara. Metode Partisipasi merupakan salah satu bentuk cara mencari data utama atau informasi dalam metode penelitian kualitatif. Cara melakukan pengumpulan data ialah melalui keterlibatan langsung dengan obyek yang diteliti. Jika objek tersebut merupakan masyarakat atau kelompok individu, maka peneliti harus berbaur dengan yang diteliti sehingga peneliti dapat mendengar, melihat dan merasakan pengalaman-pengalaman yang dialami oleh objek yang diteliti (Sarwono, 2006. Dalam film AuUlam AsuAy proses investigasi dilakukan dengan cara berbaur di kelompok masyarakat yang mengkonsumsi daging anjing. Termasuk berbaur dengan kelompok penjagal hewan Kegiatan observasi meliputi melakukan pencatatan secara sistematik kejadian-kejadian, perilaku, objek-objek yang dilihat dan hal-hal lain yang diperlukan dalam mendukung penelitian yang sedang dilakukan (Sarwono, 2006. Penulis mengobservasi tempat-tempat perdagangan daging anjing serta proses dari penjagalan hingga menjadi masakan berbahan dasar daging anjing. Selain itu penulis juga mengobservasi kehidupan anjing Bali secara umum. Wawancara dilakukan seperti saat melakukan pembicaraan dua arah dengan lawan bicara pada umumnya. Wawancara dimulai dengan mengemukakan topik yang umum untuk membantu peneliti memahami perspektif makna yang diwawancarai. Hal ini sesuai dengan asumsi dasar penelitian kualitatif, bahwa jawaban yang diberikan harus dapat membeberkan perspektif yang diteliti (Sarwono. Dalam film AuUlam AsuAy dipilih beberapa narasumber yang berkompeten di bidangnya untuk diwawancarai berkenaan dengan perdagangan daging anjing di Bali maupun kebudayaan masyarakat Bali dan hubungannya dengan anjing Bali. HASIL ANALISIS DAN INTERPRETASI KARYA Film dokumenter AuUlam AsuAy merepresentasikan sebuah realita yang terjadi di dalam masyarakat khususnya masyarakat Bali tentang perdagangan daging anjing. Film dokumenter berjenis observasi partisipan ini memiliki tujuan menjadikan penonton merasa dekat dengan filmmaker dan turut serta dalam proses investigasi yang dilakukan tokoh utama sehingga akan menimbulkan dampak yang kuat setelah menonton. Namun, tanpa meninggalkan nilai estetis sebagai sebuah tontonan. Genre film dokumenter ini adalah investigasi, . utradara film ini merupakan tokoh utam. sehingga penonton akan merasa benar-benar berada dalam setiap adegan dan ikut merasakan pengalaman emosional filmmaker tanpa perasaan digurui. Teori postmodern diaplikasikan pada pembuatan film AuUlam AsuAy sebagai sebuah film dokumenter minim narasi. Seluruh deskripsi tentang kejadian yang terjadi dalam film dituangkan dalam bentuk dialog-dialog antar tokoh utama dan narasumber yang terlibat di dalamnya. Pada film AuUlam AsuAy dengan memerlihatkan realitas yang sebenarnya mulai dari proses perencanaan hingga proses investigasi dan pengerjaan film berlangsung. Sehingga timbul kesan seolah-olah mengajak penonton ikut dalam Putu Raditya Pandet. I Komang Arba Wirawan. Nyoman Lia Susanthi (AuUlam AsuAy: Media Pergerakan Melawan. Gambar 3. Proses investigasi di Bangli . umber: Dok. Penulis 2. setiap proses yang terjadi selama pengerjaan film ini. Tahapan mind mapping dilakukan pada saat pengembangan ide untuk pembuatan film AuUlam AsuAy. Tahapan ini dilakukan untuk mencari point-point pokok yang ingin disampaikan dalam film AuUlam AsuAy. Gambar mind mapping yang dibuat ini nantinya digunakan dalam tahap selanjutnya sebagai dasar dari pembuatan outline dan treatment film. Sehingga outline dan treatment film bisa tetap terfokus pada ide awal pembuatan film. Tahap Produksi film AuUlam AsuAy secara garis besar dibagi menjadi tiga jenis yaitu proses wawancara, investigasi dan pengambilan stockshot. Wawancara pertama dilakukan di Sidemen Karangasem pada tanggal 16 Oktober 2017 dengan Amank Triwibowo sebagai narasumber. Amank dipilih sebagai narasumber karena yang bersangkutan sebelumnya sudah pernah melakukan investigasi terkait perkembangan peredaran daging anjing di Bali. Wawancara dilakukan di Karangasem dengan pertimbangan lebih dekat dengan lokasi narasumber yang sedang melakukan project feeding dan rescue di sekitaran gunung Agung. Wawancara kedua dilakukan di Denpasar pada tanggal 22 Oktober 2017 dengan Cok Sawitri sebagai narasumber. Cok Sawitri diwawancarai terkait dengan budaya Bali dan hubungannya dengan perdagangan daging anjing. Sebagai seorang budayawan. Cok Sawitri menjelaskan peranan anjing Bali dalam ranah sejarah dan budaya masyarakat Bali. Cok Sawitri juga menjelaskan tentang adanya lontar yang bernama AuCarcan AsuAy di Bali. Lontar ini berisikan tentang Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 Gambar 4. Proses investigasi pedagang RW di Denpasar . umber: Dok. Penulis 2. berbagai bentuk anjing Bali berikut dengan fungsinya. Selain itu, menurut Cok Sawitri, lontar ini juga berisikan tentang bagaimana orang Bali sejak dulu kehidupannya sudah dekat dengan anjing. Wawancara ketiga dilakukan di Denpasar pada tanggal 2 Desember 2017 dengan Yoga Fitrana Cahyadi. Puspha Kusumah dan Made Maharta Yasa sebagai narasumber. Wawancara ini dilakukan dengan membuat Focus Group Disscusion sebagai wadah berdiskusi masalah perdagangan daging anjing di Bali. Yoga Fitrana Cahyadi berbicara mengenai masalah daging anjing ini dari sudut pandang hukum sesuai dengan profesinya sebagai pengacara. Sedangkan Puspha Kusumah dan Made Maharta Yasa berbicara dari sudut pandang seorang aktivis pecinta satwa. Diskusi ini berisikan penjelasan mengenai regulasi dan undang undang tentang perdagangan daging anjing. Di sini juga dibahas tentang rencana penulis yang akan melakukan aksi menentang perdagangan daging anjing di Bali. Wawancara terakhir dilakukan di Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Udayana pada tanggal 28 Desember 2017 dengan Dr. Ir. NN. Suryani. MSi. Andi Udin Saransi. STP dan Prof Dr. Ir. Komang Budaarsa. MS sebagai Wawancara ini menindaklanjuti hasil dari tes laboratorium yang dilakukan sebelumnya terkait dengan kandungan daging anjing atas permintaan dari penulis. Selain wawancara formal di atas, dilakukan juga wawancara informal terhadap masyarakat sekitar yang ditanyai Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain es memasak hingga memakan hasil olahan daging anjing Gambar 5. Adegan penutup film AuUlam AsuAy . umber: Dok. Penulis 2. pendapatnya tentang perdagangan daging anjing di Bali. Proses investigasi dilakukan beberapa kali di beberapa Lokasi-lokasi ini didatangi berdasarkan informasi awal yang diterima penulis dari narasumber Amank Triwibowo. Selain dari informasi tersebut, beberapa investigasi juga dilakukan berdasarkan dari pengembangan informasi yang didapat di lapangan. Pengambilan gambar pada saat investigasi berlangsung lebih banyak menggunakan metode kamera tersembunyi. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan keselamatan dan upaya untuk mendapatkan data yang jujur tanpa ada perasaan tertekan dari obyek yang diinvestigasi. Investigasi pertama dilakukan di Jembrana pada bulan Oktober 2017. Berdasarkan informasi dari narasumber, di Jembrana terdapat sebuah rumah jagal yang mengirimkan pasokan daging anjing ke beberapa lokasi di Bali. Sesampainya di Jembrana, penulis mencoba menelusuri lokasi yang diberikan oleh narasumber namun tidak berhasil mendapatkan lokasi tersebut. Setelah beberapa hari di sana dan mencoba mencari informasi lagi, didapatlah informasi bahwa rumah jagal tersebut sudah tidak lagi beroperasi. Namun penulis mendapatkan informasi yang menarik tentang keberadaan seorang tukang jagal yang cukup terkenal di daerah Jembrana. Bersama dengan tim investigasi dari Jembrana, penulis memasuki tempat tukang jagal yang dimaksud. Setelah berhasil masuk, penulis menggali cerita dari tukang jagal tersebut yang ternyata sudah menjalani profesi tersebut selama tiga puluh tahun. Selain mendatangi tempat tukang jagal tesebut, penulis juga menelusuri beberapa penjual yang terdapat di Jembrana. Investigasi selanjutnya dilakukan di Bangli pada bulan November 2017. Investigasi ini dilakukan setelah didapat informasi bahwa ada satu desa di Bangli yang warganya biasa mengkonsumsi daging anjing. Setelah dilakukan penelusuran, penulis bertemu dengan tukang jagal yang biasa menjagal anjing di sana. Penulis kemudian melakukan pendekatan hingga mendapatkan ijin untuk melakukan proses shooting saat mereka sedang menjagal anjing. Beberapa minggu kemudian penulis datang kembali ke tempat tersebut setelah dihubungi kembali oleh tukang jagal itu. Mereka mengatakan akan menangkap anjing yang biasa mengejar ayam warga sekitar. Seluruh proses penjagalan berhasil diabadikan oleh penulis. Begitu pula pros- Selanjutnya investigasi difokuskan pada rumah makan . aging anjin. RW yang ada di seputaran Denpasar. Rumah makan yang dijadikan area investigasi adalah rumah makan RW Atambua di Renon. RW 818 di Renon, warung RW di Kampung Flores Yangbatu dan warung RW di jalan Ratna. Dari keseluruhan rumah makan ini, penulis melakukan investigasi tentang berapa banyak anjing yang mereka potong seharinya, berapa harga makanan yang mereka jual, asal-usul daging anjing yang mereka jual dan masakan apa saja yang mereka sajikan. Investigasi di penjual masakan RW ini dilakukan dengan mengirimkan 2 tim. Tim pertama masuk dan duduk di rumah makan tersebut sambil memasang kamera tersembunyi. Tim kedua masuk beberapa saat setelah tim pertama. Tim kedua melakukan investigasi dengan berpura-pura akan memesan RW dalam jumlah banyak. Pengambilan stockshot dilakukan selama bulan Oktober sampai dengan Desember 2017. Stockshot ini berupa gambar gambar yang berdiri sendiri namun memiliki keterkaitan dengan keseluruhan film. Salah satu contoh stockshot yang diambil adalah kumpulan gambar gambar anjing di lingkungan mereka tinggal. Selain stockshot di atas, juga diambil gambar saat filmmaker melakukan aksi demonstrasi di seputaran kawasan lapangan Renon dan Legian. Aksi ini bertujuan untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang apa yang sedang terjadi di Bali. Selain itu, aksi ini juga bertujuan sebagai bentuk publikasi film AuULAM ASUAy di masyarakat luas. Beberapa stockshot juga diambil untuk menambah unsur dramatis film seperti adegan yang digunakan pada akhir Penyutradaraan film AuUlam AsuAy menggunakan metode internal directing dan external directing. Metode ini digunakan sebagai tuntunan dalam proses penyutradaraan. Metode internal directing adalah metode mengarahkan kru dan aktor . arasumber dan obyek investigas. yang terlibat dalam pembuatan film. Pada saat pengambilan gambar berlangsung, sutradara mengarahkan narasumber maupun obyek investigasi untuk berbicara dan memberi informasi sesuai dengan apa yang diinginkan. Pengarahan ini dilakukan dengan cara mengajukan pertenyaan-pertanyaan yang sekiranya akan mendapatkan jawaban sesuai dengan yang Apabila jawaban yang dibutuhkan belum terjawab, maka sutradara akan mencoba mengarahkan kembali narasumber dan obyek investigasi dengan pertanyaan pertanyaan lain. Sedangkan proses wawancara dengan obyek investigasi terjadi sebaliknya. Penulis harus melakukan observasi partisipan terlebih dahulu sebelum bisa mewawancarai obyek investigasi. Observasi partisipan dilakukan dengan cara masuk ke tempat tempat investigasi dan melakukan Putu Raditya Pandet. I Komang Arba Wirawan. Nyoman Lia Susanthi (AuUlam AsuAy: Media Pergerakan Melawan. Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 Gambar 6. Floor plan adegan wawancara (Aman. umber: Dok. Penulis 2. Gambar 9. Floor plan adegan wawancara (Lab UNUD) . umber: Dok. Penulis 2. Gambar 7. Floor plan adegan wawancara (Cok Sawitr. umber: Dok. Penulis 2. Gambar 10. Floor plan investigasi di Bangli . umber: Dok. Penulis 2. Gambar 8. Floor plan adegan wawancara (FGD) . umber: Dok. Penulis 2. Gambar 11. Floor plan investigasi di Jembrana . umber: Dok. Penulis 2. Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 pendekatan terhadap obyek investigasi secara berkala. Sehingga nantinya saat dilakukan wawancara yang sebenarnya obyek investigasi menjadi tidak curiga terhadap pertanyaan pertanyaan yang diajukan oleh sutradara. Eksternal directing dilakukan pada tahap pasca produksi. Pada tahapan ini, sutradara mengemas editing dan publikasi film sehingga mampu membentuk imajinasi dan emosi penonton ke arah yang diinginkan. Teori postmodern diterapkan pada tahapan ini. Teori postmodern yang menyatakan bahwa media baru membaurkan batas antara fakta dan imajinasi menjadi dasar dari editing dan publikasi yang dilakukan. Pada saat publikasi. Sutradara menampilkan cuplikan cuplikan adegan yang terjadi dalam film AuUlam AsuAy. Cuplikan ini ditampilkan untuk menggugah imajinasi calon penonton tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam film AuUlam AsuAy. Hal ini sekaligus berfungsi untuk menarik rasa ingin tahu calon penonton untuk datang dan menyaksikan film AuUlam AsuAy. Dalam film, sutradara mencoba menampilkan fakta yang terjadi di lapangan sekaligus mencoba untuk menarik imajinasi penonton tentang apa yang terjadi setelahnya. Sehingga nantinya penonton memiliki pemikiran-pemikiran tersendiri tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di film AuUlam AsuAy. Hal ini juga dilakukan untuk memancing emosi penonton saat menyaksikan film AuUlam AsuAy. Sehingga diharapkan nantinya akan terbentuk pergerakan-pergerakan melawan perdagangan daging anjing yang diinspirasi dari pengalaman dan imajinasi yang terbentuk saat menonton film AuUlam AsuAy. Tata kamera dalam film AuUlam AsuAy menggunakan beberapa metode pengambilan gambar yang berbeda-beda. Peralatan yang digunakan juga berbeda-beda tergantung dari metode yang digunakan. Hal ini mengacu pada teori postmodern yang menyatakan tidak menyukai penyeragaman dan pembatasan. Sehingga konsep perbedaan menjadi salah satu konsep kunci dalam pemikiran postmodern. Metode pengambilan gambar pada saat dilakukan wawancara menggunakan metode multi kamera. Beberapa kamera diletakkan untuk menangkap adegan wawancara. Satu kamera digunakan untuk mengambil gambar master yang memakai typeshot medium long shot. Dua atau lebih kamera digunakan untuk mengambil gambar close up untuk memerlihatkan detail ekspresi dari narasumber maupun ekspresi dari filmmaker. Beberapa wawancara menggunakan tripod untuk membuat wawancara terlihat statis. Sedangkan wawancara lainnya menggunakan teknik handheld untuk membawa penonton lebih dekat seolah-olah menjadi saksi yang ikut berada di lokasi wawancara. Metode pengambilan gambar saat investigasi kebanyakan menggunakan metode kamera tersembunyi. Metode ini digunakan untuk menyamarkan kamera sehingga obyek tidak curiga dan mau membeberkan informasi yang diinginkan. PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Tata Cahaya dalam film AuUlam AsuAy menggunakan teknik available light dan artificial light. Teknik available light lebih banyak digunakan dibandingkan cahaya buatan. Hal ini karena selain dalam beberapa keadaan terutama investigasi, tidak memungkinkan untuk memasang lampu di Teknik available light digunakan pada adegan investigasi dan pada beberapa wawancara. Hal ini selain membuat produksi berjalan lebih cepat, juga memerlihatkan keadaan sebenarnya dari ruang dan waktu pada saat kejadian. Sehingga kejadian yang berlangsung benar-benar terasa sampai ke penonton. Teknik artificial light digunakan pada adegan wawancara. Pada adegan ini, teknik artificial light yang digunakan adalah teknik three point lighting. Tiga buah lampu diletakkan di sekeliling narasumber untuk membuat dimensi pemisah antara narasumber dan latar belakang. Hal ini dilakukan selain untuk memberi kesan dramatis, juga karena lokasi narasumber tidak memungkinkan untuk diambil gambar tanpa menggunakan lampu tambahan. Tata suara dalam film AuUlam AsuAy mengedepankan unsur ketegangan dan suara asli dari lokasi pengambilan gambar. Dua unsur ini memiliki fungsi penting dalam membawa emosi penonton ke arah yang diinginkan. Suara latar . lokasi tetap dipertahankan tanpa dikurangi. Hal ini dimaksudkan untuk membawa penonton pada suasana yang terjadi di lokasi. Sedangkan scoring bertema ketegangan ditambahkan untuk mengatur emosi penonton. Film AuUlam AsuAy selain menggunakan scoring dan ambience, juga menggunakan soundtrack pada bagian audionya. Soundtrack AuUlam AsuAy adalah lagu yang berjudul AuWho Belongs to This EarthAy karya Pohon Kita. Lagu ini adalah lagu yang memenangkan sayembara penciptaan soundtrack yang diadakan oleh Sri Redjeki Films untuk Film AuUlam AsuAy. Dalam menyusun gambar pada tahap editing, yang diperhatikan adalah tempo emosi yang ingin diarahkan kepada penonton dan juga ruang-ruang imajinasi yang disiapkan untuk memberi penonton waktu berpikir. Beberapa adegan sengaja tidak diperlihatkan kelanjutannya dan sengaja dibuat tidak jelas untuk membuka imajinasi penonton lebih Sehingga nantinya film ini dapat berkembang di dalam imajinasi penonton sesuai dengan apa yang penonton Menggugah emosi dan imajinasi penonton merupakan fokus utama dari film AuUlam AsuAy ini. Sehingga perpindahan gambar yang cepat dan dinamis menjadi pilihan dalam editing yang dilakukan. Pewarnaan film ini dibuat suram dengan menurunkan tingkat saturasi dan menaikkan kontras. Hal ini dilakukan untuk membawa emosi penonton menjadi suram dan tegang dalam menonton film AuUlam AsuAy. Putu Raditya Pandet. I Komang Arba Wirawan. Nyoman Lia Susanthi (AuUlam AsuAy: Media Pergerakan Melawan. SIMPULAN Perancangan dan penciptaan film dokumenter AuUlam AsuAy sebagai media pergerakan melawan perdagangan daging anjing di Bali telah berjalan sesuai harapan penulis. Hal ini terlihat dari hasil rancangan yang berupa outline dan treatment dari film AuUlam AsuAy yang berusaha membawa cerita ke arah yang diinginkan penulis. Dengan perancangan yang tepat, maka film AuUlam AsuAy ini mampu menyuguhkan cerita yang dapat menggungah emosi dan imajinasi penonton untuk melakukan perlawanan terhadap perdagangan daging anjing di Bali. Film dokumenter AuUlam AsuAy menggunakan observasi partisipan sebagai metode utamanya. Metode ini diterapkan dengan cara masuk dan terlibat langsung di dalam area obyek penelitian. Film ini mampu secara langsung maupun tidak langsung menjadi media pergerakan melawan perdagangan daging anjing di Bali. Secara langsung, film ini dapat dipergunakan oleh aktivis dan organisasi pecinta hewan untuk melakukan perlawanan terhadap perdagangan daging anjing di Bali. Film ini juga dapat digunakan oleh media internasional untuk menekan pemerintah Bali agar menghentikan perdagangan daging anjing di Bali melalui sektor pariwisata. Secara tidak langsung, film ini memancing emosi dan imajinasi penonton untuk melakukan perlawanan terhadap perdagangan daging anjing di Bali. Penonton diajak untuk berpikir ulang tentang apa yang sedang terjadi di Bali saat ini terkait dengan isu perdagangan daging anjing dengan berpijak terhadap kearifan lokal budaya Bali. Volume 22. Nomor 1. Juni 2018 Lubis. Dr. Akhyar Yusuf. Postmodernisme: Teori dan Metode. Jakarta: Rajawali Press Nichols. Bill. Introduction to Documentary. USA: Indiana University Press. Parkinson. David. History of Film. UK: Thames and Hudson Ltd. Pratista. Himawan. Memahami Film. Yogyakarta: Montase Press. Rabiger. Michael. Developing Story Ideas. USA: Elsevier. Sarwono. Jonathan. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu. Thompson. Roy and Christopher Bowen. Grammar of the Edit. USA: Elsevier. Thompson. Roy and Christopher Bowen. Grammar of the Shot. USA: Elsevier. Zhafirah. Naadiyah Azh. Film AuSenyapAy Sebagai Media Counter Hegemony Bagi Rekonsiliasi Korban G30S. Jakarta: Universitas Bakrie IMDb. The Act of Killing. Diakses pada 3 Oktober 2017. ttp://w. com/title/tt2375605/?ref_=fn_al_tt_. DAFTAR RUJUKAN IMDb The Look of Silence. Diakses pada 3 Oktober 2017. ttp://w. com/title/tt3521134/?ref_=fn_al_tt_. Austin. Thomas and Wilma de Jong. Rethinking Documentary. UK: Open University Press. IMDb. The Cove. Diakses pada 3 Oktober 2017. ttp:// com/title/tt1313104/?ref_=fn_al_tt_. Ayawaila. Gerzon Ron. Dokumenter: Dari Ide Hingga Produksi. Jakarta: Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. The United Nations Educational. Scientific and Ciltural Organization (UNESCO). UNESCO Ae Universal Declaration of Animal Rights 17-10-1978. Diakses pada 3 Oktober . ttp://w. eu/unesco. Barry. Peter. Beginning Theory. UK: Manchester University Press. Bernard. Shila Curran. Documentary Storytelling. USA: Elsevier. Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan. Human and Animal Health Welfare Responding to Dog Meat Trade. Denpasar: Kementrian Pertanian Republik Indonesia. Holman. Tomlinson. Sound for Digital Video. USA: Elsevier. Jackman. John. Lighting for Digital Video and Television. USA: Elsevier.