e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Jurnal Kebidanan. Keperawatan dan Kesehatan (J-BIKES) 2025. Vol. 5 (No. : Halaman 39-46 Hubungan Self-Esteem Dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa The Relationship Between Self-Esteem and Quality of Life in Chronic Kidney Failure Patients Undergoing Hemodialysis Trinita Situmorang*1 & Susy Hariaty Situmorang2 1* Universitas Prima Indonesia. Indonesia 2 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mayapada. Indonesia Disubmit: 16 Agustus 2025. Diproses: 1 September 2025. Diaccept: 28 Oktober 2025. Dipublish: 30 November 2025 *Corresponding author: E-mail: trinitasitumorang79@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara self-esteem dan kualitas hidup pada pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang menjalani hemodialisa di RSUD Doloksanggul. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang . ross-sectiona. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 30 pasien yang menjalani hemodialisa, yang dipilih melalui teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang mencakup dua variabel utama, yaitu self-esteem dan kualitas hidup, yang diukur berdasarkan frekuensi dan persentase. Uji statistik yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara kedua variabel adalah uji SpearmanAos Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien memiliki self-esteem yang rendah . %), dan kualitas hidup yang buruk . %). Analisis bivariat menunjukkan hubungan yang signifikan antara self-esteem dengan kualitas hidup, dengan nilai p sebesar 0,000 . < 0,. dan korelasi negatif yang kuat (-0,. , yang menunjukkan bahwa self-esteem yang rendah berhubungan dengan kualitas hidup yang buruk pada pasien GGK yang menjalani hemodialisa. Penelitian ini menyarankan bahwa peningkatan self-esteem pada pasien GGK dapat membantu meningkatkan kualitas hidup mereka. Kata Kunci: Self-Esteem. Kualitas Hidup. Hemodealisa Abstract This study aims to identify the relationship between self-esteem and quality of life in chronic kidney disease (CKD) patients undergoing hemodialysis at Doloksanggul Regional Hospital in 2023. This study used a descriptive analytical design with a cross-sectional approach. The sample used in this study were 30 patients undergoing hemodialysis, selected through a total sampling technique. Data collection was carried out using a questionnaire covering two main variables, namely self-esteem and quality of life, which were measured based on frequency and percentage. The statistical test used to analyze the relationship between the two variables was the Spearman's rho test. The results showed that the majority of patients had low selfesteem . %), and poor quality of life . %). Bivariate analysis showed a significant relationship between self-esteem and quality of life, with a p-value of 0. < 0. and a strong negative correlation (-0. indicating that low self-esteem is associated with poor quality of life in CKD patients undergoing This study suggests that increasing self-esteem in CKD patients can help improve their quality of life. Keywords: Self-Esteem. Quality of Life. Hemodelysis DOI: 10. 51849/j-bikes. v%vi%i. Rekomendasi mensitasi : Situmorang. T & Situmorang. SH. Hubungan SelfEsteem Dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa. Jurnal Kebidanan. Keperawatan dan Kesehatan (J-BIKES), 5 . : Halaman. e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes PENDAHULUAN Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan suatu kondisi medis yang terjadi ketika ginjal mengalami kerusakan permanen dan tidak dapat menjalankan fungsinya secara Penyakit ini mengakibatkan penurunan kemampuan ginjal untuk mengatur keseimbangan cairan dan mengeluarkan sisa-sisa metabolisme dalam tubuh. Berdasarkan data global, prevalensi GGK diperkirakan mencapai 13,4%, dengan jumlah pasien terbanyak berada pada stadium 3 dan paling sedikit pada stadium 5 (Hill et al. , 2. Indonesia, pada tahun 2015, jumlah pasien GGK yang terdiagnosis mencapai 18. pasien, dengan prevalensi di Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 1. orang (Profil Kesehatan, 2. Kejadian GGK di Kulon Progo tercatat sebanyak 0,3% (Kemenkes RI, 2. Keberadaan GGK yang semakin meningkat menjadi isu meningkatkan kualitas hidup pasien. Penanganan utama untuk pasien GGK stadium terminal adalah hemodialisis, yang merupakan proses untuk mengganti fungsi ginjal dengan cara mengeluarkan cairan dan racun dari dalam tubuh menggunakan mesin dialiser. Hemodialisis dilakukan secara rutin dengan tujuan untuk mempertahankan keseimbangan tubuh pasien dan mencegah komplikasi lebih lanjut (Smeltzer & Bare, 2. Namun, terapi hemodialisis tidak hanya berdampak pada kondisi fisik pasien, tetapi juga mempengaruhi kondisi psikologis, sosial, dan ekonomi pasien. Pasien GGK sering kali mengalami berbagai masalah seperti ketergantungan pada orang lain, perubahan citra tubuh, dan memengaruhi kualitas hidup mereka (Smeltzer & Bare, 2. Dampak-dampak ini mengindikasikan bahwa selain pengobatan fisik, aspek psikologis dan sosial pasien juga perlu mendapat perhatian serius. Kualitas hidup pasien GGK adalah konsep multidimensi yang mencakup aspek fisik, psikologis, sosial, dan Menurut World Health Organization (WHO, 2. , kualitas hidup adalah persepsi individu terhadap posisinya dalam kehidupan, yang diukur berdasarkan harapan, tujuan, dan standar yang mereka miliki. Kualitas hidup pasien GGK sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk karakteristik individu, kondisi fisik, status gizi, tingkat pendidikan, serta interaksi sosial yang mereka lakukan. Hemodialisis yang dijalani pasien GGK seringkali mengganggu rutinitas harian mereka, baik secara fisik maupun emosional, yang pada gilirannya dapat menurunkan kualitas hidup pasien (Gerogianni & Babatsikou, 2. Self-esteem memengaruhi kesehatan mental dan kualitas hidup seseorang. Coopersmith . dalam Heatherton dan Wyland . mendefinisikan self-esteem sebagai penilaian diri yang dilakukan individu mencerminkan sejauh mana individu merasa bahwa dirinya penting, mampu, dan berharga. Self-esteem yang tinggi dapat meningkatkan kemampuan individu dalam mengatasi stres dan perasaan negatif terkait dengan kondisi kesehatan yang buruk. Sebaliknya, self-esteem yang rendah sering kali berhubungan dengan perasaan tak berdaya, putus asa, dan e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes depresi, yang dapat memperburuk kualitas hidup pasien GGK yang menjalani terapi hemodialisis (Stuart, 2. Berdasarkan penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa pasien yang memiliki self-esteem yang rendah cenderung mengalami penurunan kualitas hidup yang lebih signifikan dibandingkan mereka yang memiliki self-esteem yang tinggi. Sebagai contoh. Mardiyaningsih et al. melaporkan bahwa sebagian besar pasien GGK yang menjalani hemodialisis memiliki self-esteem yang rendah dan ini berhubungan langsung dengan kualitas hidup mereka yang buruk. Hal ini menunjukkan pentingnya evaluasi dan intervensi terhadap self-esteem pasien dalam upaya meningkatkan kualitas hidup Sejumlah menunjukkan bahwa kondisi fisik yang buruk, seperti kelelahan, nyeri, dan gangguan tidur yang dialami pasien hemodialisis, dapat memengaruhi selfesteem mereka. Pasien yang merasa bahwa tubuh mereka tidak berfungsi dengan baik atau mengalami perubahan drastis pada penampilan fisik seringkali merasa kurang percaya diri, yang dapat mengarah pada penurunan self-esteem (Sagala, 2. Penurunan self-esteem ini pada gilirannya dapat memperburuk kualitas hidup mereka, menciptakan perasaan terisolasi, dan mengurangi partisipasi dalam interaksi sosial yang penting bagi kesejahteraan psikologis mereka. Selain faktor fisik, faktor sosial juga memiliki peran besar dalam menentukan kualitas hidup pasien GGK. Penelitian oleh Wyld et al. menunjukkan bahwa pasien GGK yang menjalani hemodialisis mengalami penurunan interaksi sosial, yang menyebabkan mereka merasa terasing dan kurang dihargai dalam Hal ini dapat mempengaruhi self-esteem mereka, karena individu yang merasa tidak diterima dalam masyarakat seringkali memiliki harga diri yang rendah. Oleh karena itu, penting bagi tenaga kesehatan untuk memberikan dukungan sosial yang cukup bagi pasien, baik dari keluarga maupun teman sebaya, agar mereka dapat mempertahankan kualitas hidup yang baik. Pentingnya intervensi terhadap selfesteem pasien GGK juga didukung oleh studi yang dilakukan oleh Gerogianni dan Babatsikou . , yang menemukan bahwa dukungan psikososial yang tepat dapat membantu meningkatkan selfesteem pasien dan, pada gilirannya, meningkatkan kualitas hidup mereka. Intervensi semacam itu dapat berupa pemberian konseling psikologis, dukungan kemampuan pasien dalam mengelola kondisi kesehatannya sendiri. Dengan demikian, peran tenaga medis dalam memfasilitasi proses peningkatan selfesteem pasien sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup mereka. Salah satu cara untuk meningkatkan self-esteem mengenai kondisi kesehatan yang mereka alami dan memberikan informasi yang cukup tentang perawatan diri selama menjalani hemodialisis. Penelitian yang dilakukan oleh Novinka et al. menunjukkan bahwa edukasi yang tepat mengenai hemodialisis dan dampaknya terhadap tubuh dapat membantu pasien mengurangi kecemasan dan perasaan putus asa. Edukasi ini juga dapat memberikan rasa kontrol kepada pasien, e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes yang merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan self-esteem mereka. Di sisi lain, peran keluarga dalam mendukung pasien juga sangat penting. Dukungan keluarga dapat membantu pasien merasa lebih dihargai dan diterima, yang berdampak positif pada self-esteem mereka (Widowati et al. , 2. Keluarga yang memberikan dukungan emosional dapat membantu pasien merasakan bahwa mereka masih memiliki tempat dalam masyarakat, meskipun harus menjalani terapi hemodialisis yang mempengaruhi banyak aspek kehidupan mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan antara self-esteem dan kualitas hidup pada pasien GGK yang menjalani hemodialisis di RSUD Doloksanggul. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi penting dalam memahami faktor-faktor yang memengaruhi kualitas hidup pasien GGK, serta memberikan wawasan baru bagi tenaga medis dalam merancang intervensi yang lebih holistik untuk meningkatkan kualitas hidup pasien GGK, baik dari segi fisik, psikologis, maupun sosial diteliti, yaitu self-esteem dan kualitas Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien GGK yang menjalani terapi hemodialisis di RSUD Doloksanggul pada Berdasarkan data yang diperoleh dari rumah sakit, jumlah pasien yang terdaftar pada bulan November 2023 adalah sebanyak 30 orang. Populasi ini karakteristik yang sesuai dengan tujuan penelitian, yakni pasien yang menjalani hemodialisis secara rutin. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pasien GGK yang menjalani terapi hemodialisis di RSUD Doloksanggul pada bulan November 2023, dengan jumlah total 30 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling, di mana seluruh pasien yang memenuhi kriteria inklusi menjadi bagian dari sampel Kriteria penelitian ini adalah pasien yang menjalani hemodialisis secara rutin dan bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian ini Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua kuesioner utama: Kuesioner Self-Esteem: Kuesioner ini digunakan untuk mengukur tingkat self-esteem pasien. Kuesioner yang digunakan merupakan adaptasi dari penelitian terdahulu yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Variabel selfesteem diukur berdasarkan penilaian individu terhadap dirinya sendiri, sejauh mana pasien merasa dirinya berharga, mampu, dan sukses. Kuesioner Kualitas Hidup: Kuesioner ini digunakan untuk mengukur kualitas hidup pasien GGK. Kuesioner ini mencakup empat domain utama kualitas hidup, yaitu kesehatan fisik, kesehatan psikologis, hubungan sosial, dan Penilaian kualitas hidup ini METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang . ross-sectiona. Desain ini bertujuan untuk menggambarkan dan menganalisis hubungan antara self-esteem dengan kualitas hidup pada pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) yang menjalani hemodialisis di RSUD Doloksanggul pada Penelitian ini akan mengumpulkan data dari pasien GGK yang menjalani hemodialisis pada waktu tertentu dan kemudian menganalisis hubungan antara kedua variabel yang e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes SMA Total merasakan kehidupan mereka sehari-hari selama menjalani terapi hemodialisis. Data yang kuesioner akan dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan inferensial. Analisis univariat akan dilakukan untuk menggambarkan karakteristik setiap variabel, seperti distribusi frekuensi dan Sementara menganalisis hubungan antara self-esteem dan kualitas hidup, akan digunakan uji korelasi SpearmanAos rho. Uji ini digunakan karena variabel yang diukur menggunakan skala ordinal dan bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang signifikan antara self-esteem dan kualitas hidup pada pasien GGK yang menjalani hemodialisis. Hasil uji statistik ini akan dipertimbangkan dengan tingkat signifikansi 95% . < 0,. Sumber : Data Primer (SPSS) Berdasarkan data demografi diatas dari 30 responden menunjukkan bahwa mayoritas umur yang menjadi sampel penelitian adalah umur dengan rentang 51-60 tahun berjumlah 21 dengan Mayoritas Jenis kelamin adalah Laki-laki berjumlah 18 orang dengan persentasi 60%. Mayoritas tingkat pendidikan adalah SMA berjumlah 20 orang dengan persentasi 66,7%. Tabel 2. Distribusi frekuensi Self-Esteem Self-Esteem Tidak Baik Baik Total Sumber : Data Primer (SPSS) Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa frekuensi Self-esteem adalah mayoritas tidak baik berjumlah 18 orang persentasi . %), selanjutnya slef-esteem baik berjumlah 12 orang persentasi . %). HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan karakteristik responden dapat dilihat pada tabel berikut ini . Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Karakteristik Responden Usia 20-30 tahun 31-40 tahun 41-50 tahun 51-60 tahun Total Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Pendidikan Tabel 3. Distribusi frekuensi Kualitas Hidup Kualitas Hidup Tidak patuh Patuh Total Sumber : Data Primer (SPSS) Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa frekuensi kepatuhan diet adalah mayoritas tidak baik berjumlah 18 orang persentasi . %), selanjutnya baik berjumlah 12 orang persentasi . %). Tabel 4. Hubungan Self-Esteem Dengan Kualitas Hidup Pasien GGK Yang Menjalani Hemodialisa e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Correlations Self Esteem Self Esteem Kualitas Hidup Correlation Coefficient Sig. -taile. Correlation Coefficient Sig. -taile. Spearman's rho Kualitas Hidup Sumber : Data Primer (SPSS) Berdasarkan output diatas diketahui nilai signifikansi atau sig. -taile. sebesar 000<0. 05 yang artinya ada Hubungan Self-Esteem Dengan Kualitas Hidup Pasien GGK Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD Doloksanggul Tahun 2023 . Nilai korelasi bernilai positif dengan nilai 1. 000 artinya ada kekuatan hubungan antara kedua variabel dimana Hubungan Self-Esteem Dengan Kualitas Hidup Pasien GGK Yang Menjalani memiliki hubungan yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk Hal ini sejalan dengan teori yang menganalisis hubungan antara self-esteem menyatakan bahwa seseorang dengan selfdan kualitas hidup pada pasien Gagal Ginjal esteem rendah cenderung merasa tidak Kronik (GGK) yang menjalani terapi berharga dan tidak mampu mengatasi hemodialisis di RSUD Doloksanggul pada masalah dalam hidupnya (Stuart, 2. Hasil penelitian menunjukkan Oleh bahwa mayoritas pasien GGK yang memberikan dukungan psikososial yang menjalani hemodialisis memiliki self- memadai kepada pasien, seperti konseling esteem yang rendah . %) dan kualitas dan informasi mengenai kondisi kesehatan hidup yang buruk . %). Self-esteem yang mereka, untuk membantu meningkatkan rendah ini berhubungan langsung dengan self-esteem dan kualitas hidup mereka. penurunan kualitas hidup pasien, yang Selain faktor fisik, faktor sosial juga mencakup aspek fisik, psikologis, sosial, memiliki peran besar dalam kualitas hidup dan lingkungan (Sagala, 2. Penurunan pasien. Penurunan interaksi sosial dan kualitas hidup pasien hemodialisis ini isolasi diri yang dialami pasien GGK akibat terutama terlihat pada aspek fisik seperti hemodialisis dapat memperburuk kondisi kelelahan, nyeri, gangguan tidur, dan psikologis mereka, yang pada gilirannya penurunan fungsi tubuh lainnya, yang menurunkan kualitas hidup (Wyld et al. menghambat aktivitas sehari-hari mereka 2. Dukungan keluarga dan teman (Smeltzer & Bare, 2. sangat penting untuk menjaga hubungan Penurunan self-esteem pada pasien sosial pasien tetap terjalin dengan baik. GGK sering kali dipengaruhi oleh kondisi Penelitian oleh Gerogianni dan Babatsikou perubahan . menunjukkan bahwa dukungan penampilan tubuh akibat hemodialisis sosial dapat meningkatkan self-esteem dan yang dapat menurunkan rasa percaya diri. e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes membantu pasien mengatasi stres terkait kondisi kesehatan mereka. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara selfesteem dan kualitas hidup pasien GGK, dengan nilai p sebesar 0,000 . < 0,. dan koefisien korelasi -0,583. Ini menunjukkan bahwa semakin rendah self-esteem pasien, semakin buruk kualitas hidup yang mereka Penelitian sebelumnya juga menunjukkan hasil serupa, di mana selfesteem memiliki korelasi positif dengan kualitas hidup pada pasien GGK yang menjalani hemodialisis (Purba, 2017. Linton, 2. Hal ini menegaskan bahwa self-esteem memainkan peran penting dalam menentukan kualitas hidup pasien. Berdasarkan temuan ini, penelitian menyarankan agar peningkatan selfesteem menjadi salah satu fokus dalam perawatan pasien GGK. Tenaga medis perlu memberikan pendekatan yang lebih holistik, yang mencakup dukungan emosional dan psikologis, serta edukasi mengenai pentingnya merawat diri sendiri selama menjalani hemodialisis. Dengan self-esteem diharapkan kualitas hidup mereka juga dapat diperbaiki, sehingga mereka dapat lebih mandiri dan merasa lebih baik secara fisik dan emosional. psikologis, dan sosial. Self-esteem yang rendah dapat memperburuk perasaan menghadapi tantangan kehidupan seharihari. Oleh karena itu, intervensi untuk meningkatkan self-esteem pasien sangat penting untuk memperbaiki kualitas hidup Pentingnya selfesteem ini sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa dukungan sosial dan emosional yang diberikan kepada pasien dapat membantu meningkatkan self-esteem mereka. Edukasi yang tepat perawatan diri juga dapat memperkuat harga diri pasien, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas hidup Dengan demikian, tenaga medis, terutama perawat, perlu memberikan pendekatan yang holistik, mencakup dukungan psikososial yang lebih intensif, untuk membantu pasien menjalani terapi hemodialisis dengan lebih baik dan meningkatkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan. DAFTAR PUSTAKA