ABDIRA Volume 6 Nomor 2 Tahun 2026 Halaman 190-196 JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Research & Learning in Faculty of Education ISSN: 2798-0847 (Printe. 2798-4591 (Onlin. Pelatihan dan Pendampingan Penyusunan Penilaian HOTS bagi Guru Manar Imam Muhammadi1. Dwi Priyo Utomo2 Program Studi Doktor Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Malang e-mail: imammanar30@gmail. Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru sekolah dasar dalam menyusun instrumen penilaian berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) melalui pelatihan dan pendampingan. Kegiatan melibatkan 20 guru sekolah dasar dan dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu analisis kebutuhan, pelatihan penyusunan soal HOTS, praktik penyusunan instrumen dengan pendampingan intensif, serta evaluasi melalui pre-test, posttest, analisis kualitas soal, dan kuesioner. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman guru yang ditunjukkan oleh kenaikan skor rata-rata dari 45 pada pre-test menjadi 78 pada post-test. Selain itu, proporsi butir soal HOTS yang dihasilkan guru meningkat dari 20% menjadi 75% setelah pelatihan dan Guru menyatakan bahwa kegiatan bersifat aplikatif dan membantu meningkatkan kemampuan mereka dalam merancang penilaian yang menuntut keterampilan berpikir tingkat tinggi. Kegiatan ini membuktikan bahwa pelatihan yang disertai pendampingan efektif dalam meningkatkan kompetensi guru dalam penilaian berbasis HOTS. Kata Kunci: HOTS. Penilaian Hasil Belajar. Pelatihan Guru. Sekolah Dasar. Pengabdian Masyarakat. Abstract This community service activity aimed to improve elementary school teachersAo competence in developing Higher Order Thinking Skills (HOTS)-based assessment instruments through training and mentoring. The activity involved 20 elementary school teachers and was conducted through several stages, including needs analysis. HOTS assessment training, hands-on practice with intensive mentoring, and evaluation using pre-tests, post-tests, assessment quality analysis, and questionnaires. The results showed an improvement in teachersAo understanding, indicated by an increase in the average score from 45 in the pretest to 78 in the post-test. In addition, the proportion of HOTS items developed by teachers increased from 20% to 75% after the training and mentoring activities. Teachers reported that the program was practical and helped them design assessment instruments that require higher-order thinking skills. Overall, this activity demonstrates that training combined with mentoring is effective in enhancing teachersAo competence in HOTS-based assessment. Kata Kunci: HOTS. Learning Assessment. Teacher Training. Elementary School. Community Service. Jurnal Pengabdian Masyarakat (Abdir. Vol. No. 2 Tahun 2026 PENDAHULUAN Kurikulum Merdeka menempatkan pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) sebagai salah satu kompetensi utama yang perlu dikembangkan sejak jenjang sekolah dasar. HOTS tidak hanya berkaitan dengan capaian akademik, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun kemampuan berpikir kritis, kreatif, reflektif, dan pemecahan masalah yang dibutuhkan peserta didik untuk menghadapi tantangan abad ke-21. Oleh karena itu, proses pembelajaran dan penilaian di sekolah dasar dituntut untuk tidak lagi berfokus pada hafalan dan pemahaman sederhana, melainkan mendorong peserta didik untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta (Brookhart, 2018. Ernawati, 2. Dalam konteks pembelajaran, penilaian hasil belajar memiliki peran strategis karena berfungsi sebagai alat untuk mengukur ketercapaian kompetensi peserta didik sekaligus sebagai sarana umpan balik bagi guru dalam memperbaiki proses pembelajaran. Penilaian yang dirancang secara tepat dapat mendorong berkembangnya kemampuan berpikir tingkat tinggi, sedangkan penilaian yang kurang berkualitas berpotensi menghambat pencapaian tujuan pembelajaran. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kualitas penilaian berpengaruh signifikan terhadap kualitas pembelajaran, khususnya pada jenjang sekolah dasar yang menjadi fondasi pendidikan formal peserta didik (Rahmawati & Mulyani. Yuliana & Hasanah, 2. Namun demikian, praktik penilaian di sekolah dasar masih didominasi oleh soal-soal yang mengukur kemampuan berpikir tingkat rendah atau Lower Order Thinking Skills (LOTS). Analisis terhadap instrumen penilaian yang digunakan guru menunjukkan bahwa sebagian besar soal masih berada pada level mengingat dan memahami, dengan proporsi soal yang mengukur kemampuan analisis, evaluasi, dan kreasi relatif rendah (Hartini, 2021. Ernawati, 2. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tuntutan kurikulum dengan praktik penilaian yang diterapkan di sekolah. Rendahnya proporsi soal HOTS dalam penilaian tidak terlepas dari keterbatasan kompetensi guru dalam menyusun instrumen penilaian berbasis HOTS. Guru sering mengalami kesulitan dalam menentukan stimulus yang kontekstual, merumuskan perintah soal yang menuntut penalaran, serta mengaitkan soal dengan indikator capaian pembelajaran. Achadiyah . mengungkapkan bahwa masih terdapat miskonsepsi di kalangan guru sekolah dasar terkait karakteristik soal HOTS, khususnya dalam membedakan soal yang sulit dengan soal yang benar-benar menuntut berpikir tingkat tinggi. Temuan serupa juga dilaporkan oleh Gozali et al. yang menyatakan bahwa kemampuan guru dalam merancang pertanyaan HOTS masih perlu ditingkatkan secara berkelanjutan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam penyusunan penilaian berbasis HOTS, salah satunya melalui kegiatan Pelatihan terstruktur terbukti dapat meningkatkan pemahaman Jurnal Pengabdian Masyarakat (Abdir. Vol. No. 2 Tahun 2026 konseptual guru terkait HOTS (Ahmad et al. , 2. Namun, beberapa studi menunjukkan bahwa pelatihan yang bersifat satu arah dan tidak disertai pendampingan belum sepenuhnya mampu mengubah praktik penilaian guru secara nyata (Suwarma, 2022. Sari et al. , 2. Guru masih membutuhkan bimbingan langsung dan umpan balik berkelanjutan agar mampu menerapkan konsep HOTS secara konsisten dalam penyusunan instrumen penilaian. Isrokatun et al. menegaskan bahwa pengembangan penilaian berbasis HOTS pada jenjang sekolah dasar memerlukan dukungan sistematis yang mencakup pelatihan konseptual dan pendampingan praktis. Pendampingan memungkinkan guru untuk merefleksikan kesalahan, memperbaiki kualitas butir soal, serta memahami karakteristik soal HOTS secara lebih mendalam. Oleh karena itu, pendekatan pelatihan yang dipadukan dengan pendampingan dinilai lebih relevan dalam meningkatkan kompetensi guru secara berkelanjutan. Berdasarkan permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kompetensi guru sekolah dasar dalam menyusun instrumen penilaian berbasis HOTS melalui pelatihan dan pendampingan. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan pemahaman konseptual guru, tetapi juga pada penguatan keterampilan praktis dalam merancang soal HOTS yang berkualitas dan sesuai dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar. Diharapkan kegiatan ini dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas penilaian pembelajaran serta mendukung implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah dasar. METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan melibatkan 20 guru sekolah dasar yang terdiri atas guru kelas dan guru mata Sasaran kegiatan ditentukan berdasarkan kebutuhan sekolah dalam meningkatkan kualitas penilaian pembelajaran serta kesiapan guru untuk mengikuti program pelatihan dan pendampingan secara intensif. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif, di mana guru berperan sebagai peserta sekaligus mitra aktif dalam seluruh tahapan pengabdian. Tahap awal kegiatan berupa analisis kebutuhan yang bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat pemahaman awal guru terkait penyusunan instrumen penilaian berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS). Analisis kebutuhan dilakukan melalui pemberian pre-test kepada peserta serta analisis terhadap instrumen penilaian yang telah digunakan guru sebelumnya. Hasil analisis awal digunakan sebagai dasar dalam penyusunan materi dan strategi pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan guru. Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan pelatihan yang dirancang dalam bentuk workshop intensif. Materi pelatihan meliputi konsep dasar HOTS, taksonomi kognitif, karakteristik soal HOTS, teknik penyusunan stimulus kontekstual, perumusan perintah soal, serta penyusunan rubrik penilaian. Pelatihan dilaksanakan secara interaktif melalui diskusi kelompok, studi kasus. Jurnal Pengabdian Masyarakat (Abdir. Vol. No. 2 Tahun 2026 dan latihan penyusunan soal agar guru dapat memahami konsep HOTS secara Setelah pelatihan, kegiatan dilanjutkan dengan tahap pendampingan. Pada tahap ini, setiap guru didampingi dalam menyusun instrumen penilaian berbasis HOTS sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Pendampingan dilakukan secara tatap muka dan daring dengan memberikan umpan balik secara langsung terhadap setiap butir soal yang disusun. Tahap pendampingan bertujuan membantu guru memperbaiki kesalahan, memperjelas karakteristik soal HOTS, serta meningkatkan kualitas instrumen penilaian yang dihasilkan. Tahap akhir kegiatan adalah evaluasi untuk menilai efektivitas pelaksanaan pengabdian. Evaluasi dilakukan melalui pemberian post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman guru, analisis kualitas instrumen penilaian HOTS yang dihasilkan, serta penyebaran kuesioner untuk mengetahui persepsi dan tingkat kepuasan guru terhadap kegiatan pelatihan dan pendampingan. Data hasil evaluasi dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif guna memperoleh gambaran menyeluruh mengenai dampak kegiatan pengabdian. HASIL DAN PEMBAHASAN Peningkatan pemahaman guru terhadap HOTS terlihat dari perbandingan skor pre-test dan post-test. Nilai rata-rata guru sebelum pelatihan adalah 45, kemudian meningkat menjadi 78 setelah pelatihan dan pendampingan. Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar 33 poin yang mengindikasikan bahwa materi pelatihan dapat dipahami dan diaplikasikan dengan baik oleh peserta. Kualitas soal juga mengalami peningkatan. Dari 200 butir soal yang dianalisis sebelum pelatihan, hanya 40 butir . %) yang sesuai dengan kriteria HOTS. Setelah pelatihan dan pendampingan, jumlah soal HOTS meningkat menjadi 150 butir dari 200 soal yang dianalisis, atau 75%. Peningkatan ini menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam kemampuan guru merumuskan soal yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hasil kuesioner menunjukkan respon positif dari guru. Sebagian besar peserta merasa pelatihan mudah dipahami dan pendampingan sangat membantu mereka memperjelas kesalahan dalam penyusunan soal. Guru juga merasa lebih percaya diri dalam merancang penilaian berbasis HOTS dan menyatakan siap menerapkannya pada kegiatan pembelajaran di kelas. Temuan kualitatif dari hasil wawancara menunjukkan bahwa guru menyadari pentingnya soal HOTS namun sebelumnya belum memiliki gambaran konkret mengenai cara menyusunnya. Hambatan seperti keterbatasan waktu dan kesulitan dalam merumuskan stimulus tetap muncul, namun dapat diatasi melalui bimbingan langsung dan diskusi selama pendampingan. Hasil kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa pelatihan yang disertai pendampingan intensif merupakan strategi yang efektif dalam meningkatkan kompetensi guru sekolah dasar dalam menyusun instrumen penilaian berbasis HOTS. Peningkatan skor pengetahuan dan kualitas soal HOTS Jurnal Pengabdian Masyarakat (Abdir. Vol. No. 2 Tahun 2026 yang dihasilkan guru menunjukkan bahwa pendekatan ini mampu menjembatani kesenjangan antara tuntutan kurikulum dan praktik penilaian di kelas. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa peningkatan kompetensi guru tidak cukup hanya melalui pelatihan konseptual, tetapi memerlukan pendampingan yang berorientasi pada praktik nyata (Suwarma, 2022. Sari et al. , 2. Pendampingan berperan penting dalam membantu guru memahami karakteristik soal HOTS secara lebih mendalam. Melalui umpan balik langsung, guru dapat mengidentifikasi kesalahan dalam merumuskan stimulus, perintah soal, dan level kognitif. Proses refleksi ini memungkinkan guru untuk memperbaiki kualitas soal secara bertahap dan berkelanjutan. Temuan ini sejalan dengan Isrokatun et al. yang menegaskan bahwa pendampingan merupakan elemen kunci dalam pengembangan penilaian berbasis HOTS, khususnya pada jenjang sekolah dasar. Selain itu, peningkatan proporsi soal HOTS yang dihasilkan guru menunjukkan adanya perubahan paradigma dalam praktik penilaian. Guru mulai memahami bahwa penilaian tidak hanya berfungsi untuk mengukur hasil belajar, tetapi juga sebagai sarana untuk mendorong peserta didik berpikir kritis dan Perubahan paradigma ini penting karena penilaian yang berkualitas dapat memengaruhi strategi pembelajaran yang digunakan guru di kelas (Rahmawati & Mulyani, 2. Dengan demikian, peningkatan kompetensi guru dalam penilaian HOTS berpotensi memberikan dampak positif terhadap kualitas pembelajaran secara keseluruhan. Temuan kegiatan ini juga mengonfirmasi hasil penelitian Juliyati dan Widyantoro . yang menyatakan bahwa guru sering menghadapi hambatan dalam menerapkan HOTS akibat keterbatasan waktu dan kurangnya contoh Melalui pendampingan, hambatan tersebut dapat diminimalkan karena guru memperoleh bimbingan langsung dan contoh soal yang relevan dengan konteks pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa desain program pengabdian yang responsif terhadap kebutuhan guru sangat penting untuk menghasilkan perubahan praktik yang berkelanjutan. Dari perspektif pengembangan profesional guru, kegiatan ini memberikan bukti empiris bahwa model pelatihan berbasis pendampingan lebih efektif dibandingkan pelatihan konvensional. Guru tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi juga pelaku aktif dalam proses pembelajaran profesional. Model ini sejalan dengan pendekatan professional learning community yang menekankan kolaborasi, refleksi, dan pembelajaran berkelanjutan di kalangan guru (Widodo et , 2. Secara lebih luas, hasil pengabdian ini memiliki implikasi penting bagi pengembangan kebijakan peningkatan kompetensi guru di sekolah dasar. Program pelatihan yang dirancang secara berkelanjutan dan kontekstual dapat menjadi salah satu strategi untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya dalam aspek penilaian pembelajaran. Oleh karena itu, kegiatan Jurnal Pengabdian Masyarakat (Abdir. Vol. No. 2 Tahun 2026 pengabdian semacam ini perlu didukung dan direplikasi di sekolah lain agar dampaknya dapat dirasakan secara lebih luas. SIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan melalui pelatihan dan pendampingan terbukti efektif dalam meningkatkan kompetensi guru sekolah dasar dalam menyusun instrumen penilaian berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS). Peningkatan pemahaman konseptual guru yang ditunjukkan oleh kenaikan skor pre-test dan post-test, serta peningkatan proporsi soal HOTS yang dihasilkan, menunjukkan bahwa pendekatan pelatihan yang dipadukan dengan pendampingan mampu memberikan dampak nyata terhadap kualitas penilaian pembelajaran. Pelatihan memberikan landasan konseptual bagi guru untuk memahami karakteristik penilaian HOTS, sedangkan pendampingan berperan penting dalam membantu guru mengaplikasikan konsep tersebut secara praktis melalui umpan balik dan refleksi berkelanjutan. Pendekatan ini mendorong perubahan praktik penilaian guru secara lebih konsisten dan berkelanjutan dibandingkan pelatihan Oleh karena itu, model pelatihan dan pendampingan yang diterapkan dalam kegiatan ini berpotensi untuk dikembangkan dan direplikasi sebagai bagian dari program pengembangan profesional guru di sekolah dasar, khususnya dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka pada aspek penilaian pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA