PEMBELAJARAN KONVENSIONAL DAN KRITIS KREATIF DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Fahrudin1. Ansari2. Ahmad Shofiyuddin Ichsan3 Universitas Islam Negeri Mataram, 2Universits Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Institut Ilmu Al-QurAan An Nur Yogyakarta Jl. Pendidikan No. 35 Dasan Agung Baru. Kota Mataram. Nusa Tenggara Barat e-mail: fahru406@gmail. com, ansarisanusin212@gmail. com, ahmad. ichsan@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perspektif pendidikan Islam tentang pembelajaran konvensional dan pembelajaran kritis kreatif. Penelitian ini menggunakan metode library research, dan pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi. Analisa datanya menggunakan teknik komparasi, yaitu menganalisis tentang landasan filosofis pembelajaran konvensional dan pembelajaran kritis kreatif serta memandang kedua konsep pembelajaran tersebut dengan menggunakan perspektif pendidikan Islam. Hasil penelitian menjelaskan bahwa pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi dan masyarakat melalui proses pembelajaran dengan upaya membantu mengembangkan peserta didik menjadi lebih maju berlandaskan nilai-nilai yang baik dalam kehidupannya, sehingga terbentuk pribadi insan kamil, baik berkaitan dengan akal, perasaan, dan perbuatan. Kedua model pembelajaran di atas sangat berbeda secara konsep, sehingga perlu ada upaya penyatuan yang kreatif dari seorang guru sebagai pengatur dalam proses Maka dari itu, kedua model pembelajaran tersebut dapat berguna sesuai dengan kondisi dan situasi, sehingga tidak ada yang perlu dihilangkan antara model pembelajaran konvensioal dan kritis kreatif. Bahkan pembelajaran dengan model demikian sangat sesuai dengan masa kekinian. Kata Kunci : Pendidikan Islam. Pembelajaran Konvensional. Kritis kreatif Abstract: This research aims to determine the perspective of Islamic education about conventional learning and critical creative learning. This research is library research and data collection uses documentation method. The data analysis uses a comparative technique, namely researching the philosophical foundations of conventional learning and critical-creative learning and looking at the two learning concepts using the perspective of Islamic education. Islamic education is the process of changing individual behavior in personal life and society through the learning process with an effort to help develop students to be more advanced based on good values in their lives, so that personal human beings are formed, both related to reason, feelings, and actions. The results of this research indicate that the two learning models above are very different conceptually, so there needs to be a creative unification effort from a teacher as a regulator in the learning process. Therefore, the two learning models could be useful according to the conditions and situations, so that there is no need to eliminate the conventional and critical creative learning models. Even learning with this model is very appropriate to the present. Keywords: Islamic Education. Conventional Learning. Critical Creative Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 PENDAHULUAN Secara alamiah, manusia tumbuh dan berkembang sejak dalam kandungan sampai meninggal, mengalami proses tahap demi tahap. Pola perkembangan manusia yang berproses demikian, berlangsung di atas hukum alam yang ditetapkan oleh Allah sebagai sunnatullah. Pendidikan Islam mengembangkan pribadi manusia . eserta didi. , dalam aspek rohaniah dan jasmaniah juga harus berjalan secara bertahap (Muzayyin Arifin, 2. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang bertujuan seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmaniyah maupun rohaniyah, menumbuh suburkan hubungan yang harmonis setiap pribadi manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam semesta. Untuk itu, pembelajaran pendidikan Islam hendaknya menyediakan jalan untuk pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya, seperti spritual, intelektual, imaginatif, baik secara individual maupun secara kolektif dan memotivasi semua aspek Sedangkan Naquib Al-Attas yang dikutip oleh Kemas Badaruddin pendidikan Islam adalah usaha yang dilakukan oleh guru terhadap peserta didik untuk pengenalan dan pengakuan tempattempat yang benar dari segala sesuatu dari tatanan penciptaan sehingga membimbing . sistematis yang terdiri atas banyak Masing-masing komponen tidak bersifat parsial, tetapi harus berjalan secara teratur, saling bergantung, komplementer, dan berkelanjutan. Untuk itu, diperlukan pengelolaan pembelajaran yang baik yang harus dikembangkan berdasarkan pada asas Secara teoritis, tujuan dan model pendidikan seperti yang diungkapkan di atas sangatlah ideal. Namun, harus jujur diungkapkan bahwa sejauh ini, kondisi ril pendidikan di negeri ini sungguh sangat memprihatinkan, dapat dirasakan di setiap jenjang dan jenis pendidikan. Apalagi jika kita melihat kondisi pendidikan di berbagai daerah terpencil, pedalaman atau pesisir, bagaimana anak usia sekolah yang seharusnya memiliki hak untuk mengenyam pendidikan yang layak ternyata jauh dari (Adnan, 2. Sulitnya akses pendidikan bagi masyarakat terpencil, pedalaman dan pesisir menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa Indonesia yang sampai saat ini masih belum seutuhnya dapat diatasi. Belum lagi biaya pendidikan yang kian tahun semakin mereka ke arah tatanan wujud dan (Gozali & Tamrin, 2. Al-Attas merekomendasikan untuk berekonomi rendah tidak dapat menikmati dunia pendidikan. (Mesiono & Haidir, 65 | Pembelajaran Konvensional dan Kritis Kreatif pendidikan Islam, salah satunya gagasan islamisasi ilmu pengetahuan (Fahrudin & Ahmad Shofiyuddin Ichsan, 2. Untuk dapat menghasilkan out put seperti diinginkan oleh pendidikan Islam di atas, maka harus melewati proses tahap demi tahap . Oleh karenanya, pembelajaran merupakan suatu aktivitas Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 Sehingga wajar jika masih banyak satu di antara problem pendidikan nasional kalangan yang belum puas dengan kualitas pendidikan di negeri ini. Komentarkomentar yang bernada sinis selalu saja ditujukan kepada persoalan kualitas pendidikan, seolah-olah pendidikan yang telah berjalan cukup lama ini belum memuaskan, dan belum memberikan makna dewasa ini adalah minimnya pemahaman guru terhadap model-model pembelajaran yang mengakibatkan adanya miskomunikasi antara guru dan peserta didik dikarenakan guru memaksakan sistem pembelajaran yang mungkin saja tidak sesuai dengan karakter belajar peserta didik. Sehingga dalam konteks itu, peneliti tertarik untuk terhadap peningkatan mutu di setiap jenjang dan jenis pendidikan. (Umam, 2. Perubahan memang perlu untuk dilakukan, khususnya dalam menghadapi dunia global. Hal tersebut dengan cara merubah yang kira-kira berkaitan dengan mengapa persoalan pendidikan masih saja menjadi tema yang menarik untuk dibicarakan, mengapa mutu pendidikan merosot? Mengapa pendidikan di Indonesia tidak berkualitas? mengapa pendidikan di Indonesia sudah ketinggalan jauh dari Negara lain? mengapa pendidikan nasional kita masih stagnan? di mana titik Apa yang perlu diubah, apa yang perlu dipersiapkan, apa yang perlu dibenahi, komponen-komponen apa yang perlu ada, dan lain sebagainya. Maka sederet pertanyaan ini perlu dijawab oleh para praktisi pendidikan dan seluruh elemen yang memiliki kapasitas serta tanggung jawab dalam memberikan jalan alternatif di tengah suramnya dunia pendidikan dewasa (Zainuddin, 2. Oleh karena itu, menurut peneliti sangat penting untuk dipahami secara mengunakan perspektif pendidikan Islam melalui proses penelitian ini. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi bagi dunia pendidikan, terutama terkait pengetahuan guru terhadap konsep pendidikan Islam, model pembelajaran konvensional, dan kritis kreatif. Terkait dengan penelitian ini terdapat beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini di antaranya PAI cooperative dengan konvensional (Azmi, 2. Pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan daya kritis siswa (Sunaryo, 2. Model pembelajaran konvensional pada ilmu Ushul fikih (Sapiudin et al. , model-model pembelajaran inovatif dan kontekstual (Marzuki, 2. Penerapan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (Khasanah, 2. Dari beberapa penelitian tersebut tampak ruang kosong pembahasan yakni komparasi antara pembelajaran konvensional dengan krtiskreatif. mendalam bagaimana karakteristik dari konsep pembelajaran konvensional dan pembelajaran kritis kreatif. Karena salah METODE PENELITIAN Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kajian pustaka . ibrary researc. yang merupakan serangkaian Fahrudin. Ansari. Ahmad Shofiuddin Ichsan | 66 Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 kegiatan yang berkenaan dengan metode Menurut Omar Mohammad At- pengumpulan data pustaka, membaca, mencatat, serta mengolah bahan koleksi perpustakaan secara mendalam tanpa memerlukan riset lapangan. Kajian pustaka merupakan metode pengumpulan data yang diarahkan kepada pencarian data dan informasi melalui dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, foto-foto, gambar. Toumi Asy-Syaibani seperti yang dikutip oleh Bukhari Umar ia mendefinisikan bahwa AuPendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi di profesi-profeis maupun dokumen elektronik yang dapat mendukung dalam proses penelitian. Hasil penelitian juga akan semakin kredibel apabila didukung foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada (Sugiyono, 2. Kajian pustaka ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data atau informasi dari berbagai sumber atau ide-ide untuk penggalian pemikiran atau gagasan baru sebagai bahan dasar untuk melakukan deduksi dari pendidikan kritis kreatif yang telah ada sehingga kerangka sebagai gagasan baru dapat dikembangkan atau untuk mengembangkan upaya pemecahan masalah pendidikan yang ada. masyarakatAy (Faizal Djabidi, 2. Pengertian tersebut memfokuskan perubahan tingkah laku manusia yang konotasinya pada pendidikan etika. Selain itu, pengertian tersebut menekankan pada aspek-aspek produktivitas dan kreativitas manusia dalam peran dan profesinya dalam kehidupan bermasyrakat. Dengan demikian, jelaslah bahwa proses pendidikan Islam merupakan rangkaian usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa kemampuan-kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sehingga terjadilah perubahan dalam kehidupan pribadinya sebagai makhluk individu dan sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar di mana ia hidup. Istilah membimbing dan bahwa usaha mempengaruhi jiwa anak didik melalui proses setingkat demi setingkat menuju pembentukan manusia yang berpribadi dan berbudi luhur sesuai dengan ajaran Islam (Huda, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Secara terminologis, para memberikan beragam pendapat dalam memaknai pendidikan Islam, di antaranya: Muhammad Fadhil Al-Jamali berpendapat bahwa pengertian pendidikan Islam adalah upaya mengembangkan, mendorong, serta mengajak manusia lebih maju dengan berlandaskan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkenaan dengan akal, perasaan, maupun perbuatan (Muhammad Munif, 2. 67 | Pembelajaran Konvensional dan Kritis Kreatif Pembelajaran Konvensional Pembelajaran konvensional dapat diartikan sebagai sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun temurun (Hidayatullah, 2. Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 Oleh mendapatkan pengalaman seperti ini akan konvensional dapat juga disebut sebagai konsep pembelajaran tradisional. Pengertian di atas disimpulkan bahwa konsep pembelajaran konvensional adalah suatu pembelajaran yang mana dalam proses belajar mengajar dilakukan sangat monoton dan verbalis, yaitu dalam penyampaian materi pelajaran masih mempunyai pandangan yang sempit. Akibatnya, peserta didik dijauhkan dari sumber pengetahuan yang sebenarnya sangat baik. Menurut Subiyanto pembelajaran konvensional mempunyai ciriciri, yaitu: Pertama, peserta didik tidak mengetahui tujuan mereka belajar pada hari mengandalkan ceramah atau dalam istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebuah proses belajar mengajar yang berpusat pada guru. Lebih dari itu, model dari pembelajaran konvensional . adalah metode mengajar yang lazim dipakai oleh guru sejak dulu (Sahkholid Nasution, 2. Proses belajar mengajar dalam berlangsung satu arah yang merupakan transfer atau pengalihan pengetahuan, informasi, norma, nilai, dan lain-lainnya dari seorang pengajar kepada peserta didik. Proses semacam ini dibangun dengan asumsi bahwa peserta didik ibarat botol kosong atau kertas putih. Guru atau pengajarlah yang harus mengisi botol tersebut atau menulis apapun di atas kertas putih tersebut. Sistem seperti ini disebut banking concept (Helmiati, 2. Sejalan dengan pandangan di atas. Van de Walle menyatakan bahwa Auguru tradisional masih menuntun peserta didik bagaimana menggunakan materi yang dipelajari untuk mengerjakan latihan. Fokus utama dari pelajaran adalah mendapatkan Kedua, guru biasanya mengajar dengan berpedoman pada buku. Ketiga, tes atau evaluasi biasanya bersifat sumatif dengan maksud untuk mengetahui perkembangan Keempat, peserta didik harus mengikuti cara belajar yang dipilih oleh guru dengan patuh mempelajari urutan yang diterapkan dan kurang sekali mendapatkan (Rahardjo, 2. Sedangkan menurut Philip R. Wallace, dikatakan sebagai pendekatan pembelajaran yang konvensional jika mempunyai ciri-ciri: Pertama, otoritas seorang guru lebih diutamakan dan berperan sebagai contoh bagi peserta didiknya. Kedua, perhatian kepada masing-masing individu atau minat sangat kecil. Ketiga, pembelajaran di sekolah lebih banyak dilihat sebagai persiapan akan masa depan, bukan sebagai peningkatan kompetensi peserta didik di saat ini. Keempat, penekanan yang pengetahuan dapat diserap oleh peserta tersebutlah yang menjadi tolak ukur jawabanAy (Zikri, 2. Para peserta didik menyandarkan pada guru untuk menentukan apakah jawabannya benar. Anak-anak yang pengembangan potensi peserta didik terabaikan (Siregar, 2. Fahrudin. Ansari. Ahmad Shofiuddin Ichsan | 68 Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 Jika pembelajaran, media pembelajaran, dan konvensional lebih sering menggunakan pemberian informasi di bandingkan dengan kesempatan untuk menampilkan unjuk kerja secara langsung. Dengan kata lain, guru lebih sering menggunakan strategi atau evaluasi pembelajaran, sehingga tercipta situasi pembelajaran yang memungkinkan terciptanya tujuan yang telah direncanakan - Peserta didik Pembelajaran konvensional memandang keberadaan peserta didik ibarat gelas kosong yang hanya siap dituangkan air. metode ceramah dengan mengikuti urutan materi dalam kurikulum secara ketat. Guru berasumsi bahwa keberhasilan program pembelajaran dilihat dari ketuntasannya menyampaikan seluruh meteri yang ada dalam kurikulum. Berdasarkan penjelasan di atas, pendekatan konvensional dapat dimaklumi sebagai pendekatan pembelajaran yang lebih banyak berpusat pada guru, komunikasi lebih banyak satu arah dari guru ke peserta didik, metode pembelajaran lebih pada penguasaan konsep-konsep bukan Tidak hanya itu, peserta didik pembelajaran sangat abstrak dan teoritis serta tidak bersandar pada realitas kehidupan, memberikan hanya tumpukan beragam informasi kepada peserta didik, cenderung fokus pada bidang tertentu, waktu belajar peserta didik sebagaian besar digunakan untuk mengerjakan buku tugas, mendengar ceramah guru, dan mengisi latihan . erja individua. Kemudian terkait dengan komponen pembelajaran dapat dikelompokkan dalam tiga kategori utama, yaitu: guru, isi atau Peserta didik dipandang sebagai kemampuan-kemampuan atau potensipotensi untuk dikembangkan secara mandiri lewat usaha yang dilakukanya. Dalam istilah yang lain, pembelajaran konvensional masih memandang peserta didik sebagai objek yang pasif sekaligus penurut atas semua perlakuan dari seorang guru. (Lubis, 2. Mestinya, peserta didik tidak hanya berfungsi sebagai pendengar sekaligus penerima secara langsung pesan dari setiap materi yang disampaikan oleh seorang guru, tetapi lebih dari itu (Bashori, 2. Banyak yang menganggap bahwa peserta didik dianggap menjadi bejanabejana atau wadah kosong untuk diisi oleh seorang guru. (Nurzakiyah, 2. Artinya, semakin penuh guru mengisi wadah-wadah itu, semakin baik pula seorang guru, sehingga dalam proses konvensional seperti ini, yang terjadi bukanlah proses komunikasi dua arah antara guru dan peserta didik, tetapi materi pembelajaran, dan peserta didik. Interaksi antara tiga komponen utama melibatkan tujuan pembelajaran, metode pernyataan dan mengisi tabungan yang kosong, yang diterima, dihafal, dan 69 | Pembelajaran Konvensional dan Kritis Kreatif Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 diulangi dengan patuh oleh para peserta memberikan sesuatu kepada peserta Materi Pembelajaran Dalam pembelajaran konvensional, guru masih menggantungkan pada buku teks, materi yang disampaikan sesuai dengan urutan isi buku teks (Sanjaya & Budimanjaya, 2. Yang diharapkan peserta didik memiliki pandangan yang didik, bahkan keberadaan guru dalam mempersiapkan materi pelajaran sangat terbatas sebagai bahan ceramah. Tujuan Pembelajaran Pembelajaran konvensional memandang bahwa tujuan pembelajaran merupakan rumusan secara terperinci apa saja yang harus dikuasai oleh peserta didik sama dengan guru atau sama dengan buku teks tersebut. Berbagai alternatif perbedaan interpretasi di antara peserta didik terdapat fenomena sosial yang Peserta didik belajar dalam isolasi yang mempelajari kemampuan tingkat rendah dengan cara melengkapi buku tugasnya setiap hari. Guru Guru dilihat sebagai sosok yang kharismatik, karena jasanya yang banyak mendidik umat manusia dari dulu sampai saat ini. Dalam bahasa Jawa, guru sendiri bermakna Audigugu lan ditiruAy (Rustam & Ahmad Shofiyuddin Ichsan, 2. Mulyasa juga menegaskan bahwa bahwa guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah (E. Mulyasa, 2007:. Minat, bakat, kemampuan, dan potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan seorang guru. Atas dasar asumsi di atas, pembelajaran konvensional lebih menekankan pada otoritas guru dalam Peran guru dalam disempitkan hanya sebatas objek yang sesudah melewati kegiatan pembelajaran (Asri Budiningsih. Tujuan pembelajaran konvensional seperti yang diuraikan di atas tidak lepas dari keinginan mulia, yaitu untuk bagaimana peserta didik harus mampu menangkap apa saja ilmu yang ditransfer oleh seorang guru waktu dalam proses belajar Lebih dari itu, tujuan akhir pembelajaran konvensional semata-mata terciptanya peserta didik yang mampu menguasai setiap materi pembelajaran yang telah dilalui olehnya ketika dalam ruangan kelas. Metode Pembelajaran Metode pembelajaran yang dikenal dalam pembelajaran konvensional lebih banyak berpusat pada guru (Prasetyasni. Hadi. Marimin, 2. Umumnya berlangsung satu arah yang merupakan transfer atau pengalihan pengetahuan, informasi, norma, nilai dari seorang pengajar kepada peserta didik (Helmiati. Dalam pelaksanaannya, guru menyajikan fakta-fakta dan menjelaskan konsep yang menjadi bahan pelajaran, sementara peserta didik hanya memiliki Fahrudin. Ansari. Ahmad Shofiuddin Ichsan | 70 Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 kesempatan untuk menerima, mencatat, hasil belajar menuntut satu jawaban menyimak, dan menghafal apa yang dijelaskan oleh gurunya. Media Pembelajaran Keberadaan media sangatlah terbatas konvensional, karena yang menjadi tulang punggung kegiatan instruksional di sini adalah pengajar atau guru. yang benar. Maksudnya, bisa siswa menjawab secara benar sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukan menyelesaikan tugas belajar nya. Evaluasi pembelajaran konvensional dipandang sebagai bagian yang terpisah dari Pengajar menyajikan isi pelajaran dengan urutan model, media dan waktu yang telah ditentukan dalam strategi (Ridwan et al. , 2. Kegiatan instruksional ini berlangsung dengan menggunakan pengajar sebagai satu-satunya sumber belajar sekaligus bertindak sebagai penyaji isi pelajaran, padahal sumber belajar sendiri dapat beraneka ragam di lingkungan sekitar (Manurung, 2. Pelajaran ini tidak menggunakan bahan ajar yang lengkap. Dalam istilah Wina Sanjaya, media dalam pembelajaran konvensional tidak digunakan secara optimal hanya saja media yang digunakan oleh guru adalah berupa buku ajar dan berupa garis besar isi dan jadwal yang disampaikan diawali pembelajaran, beberapa transparansi dan formulir isian untuk dipergunakan Evaluasi Pembelajaran Adapun konvensional, keberadaan evaluasi kegiatan pembelajaran dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan (Lubis et al. , 2. Pembelajaran Kritis Kreatif Paradigma teori kritis merupakan suatu mazhab dalam ilmu sosial yang meyakini bahwa sosial harus memainkan peranan yang signifikan dalam mengubah Tujuan teori kritis adalah untuk mengaitkan antara teori dan praktik, memberi pandangan, dan memberdayakan subyek manusia . eserta didi. untuk mengubah situasi-situasi opresif yang mengatasi mereka (Kahpiana, 2. Teori kritik dapat digunakan dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya Lebih dari itu, teori kritis dalam pendidikan menjadi mazhab tersendiri yang mempunyai gagasan untuk memberdayakan kaum tertindas dan mentransformasikan ketidakadilan sosial yang terjadi di masyarakat melalui pendidikan. Menurut Tilaar. Aupendidikan kritis secara informal dilahirkan dalam suatu konverensi universitas-universitas di Amerika Serikat keterampilan secara terpisah, dan biasanya mengunakan paper and pencil test (Asri Budiningsih, 2. Evaluasi pada tahun 1990-an di University of Illinois yang mengakui akan persamaan harkat manusia . eserta didi. yang tercetus di 71 | Pembelajaran Konvensional dan Kritis Kreatif Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 dalam berbagai aspek kehidupan manusia manusia yang bisa mengarahkan dirinya termasuk dalam pendidikan (Edi Subkhan. Menurut Mansour Fakih, paradigma pendidikan kritis adalah mazhab pendidikan yang meyakini adanya muatan politik dalam segala aktivitas pendidikan. Aliran ini dalam diskursus pendidikan disebut juga Ayaliran kiriA karena orientasi politiknya sendiri, menjadi kritis, dan berpikir secara otonom (Nuryatno, 2008:. Peserta didik juga perlu diarahkan menjadi bagian humaniora, yakni terus diajarkan makna wisdom . endidik dan terdidik bagaimana menjadi manusia utu. (Ichsan, 2019. Peran guru lebih sebagai inspirator, korektor, informator, organisator, motivator, yang berlawanan dengan mazhab liberal dan Dalam konteks akademik, mazhab ini disebut dengan the sociology of education . endidikan sosiolog. atau critical theory of education . ritik teori Adapun pengertian pembelajaran kritis kreatif merupakan konsep di mana peserta didik dibimbing supaya dalam proses pembelajaran terjadi interaksi dua arah antara guru dan peserta didik. Hal pembelajaran kritis kreatif, guru dan peserta didik harus terlibat bersama-sama dalam knowledge production (Nuryatno, 2008:. , sehingga dalam paradigma pembelajaran kritis, peserta didik didorong sekaligus dibina supaya struktur sosial, ekonomi, budaya, agama, dan politik tidak diterima begitu saja, tetapi justru dipersoalkan, yakni mengkritik kenyataan struktur yang tidak Pembelajaran yang berpola kritis kreatif menjadikan prosesnya harus berjalan dengan kebijakan Aulearning process skillAy dari pada Aulearning conceptAy. Pada pendekatan prosesnya, akan inovator, medaitor, fasilitator, pembimbing, pengelola kelas, supervisor, inisiator, dan evaluator yang bekerja keras untuk memberlakukan AudialogAy sebagai ruh yang mendasari hidupnya proses pembelajaran, serta tidak mencoba menerapkan sikap Auanti dialogAy di dalamnya (Yarun. Khayati. Proses pembelajaran yang bermodel seperti di atas memungkinkan munculnya sikap kritis kreatif pada peserta didik, di mana persepsi terhadap peserta didik tidak lagi dipandang sebagai bejana kosong yang harus dituangi air di dalamnya, tetapi sebagai subyek yang bersama-sama belajar dengan subyek yang mendidik untuk selalu berada dalam derap pencarian makna sesuatu kebenaran. Paradigma pembelajaran kritis sering disebut sebagai pembelajaran Auproduk kesadaran kritisAy. Melihat dasar konsep filosofis dari pembelajaran kritis di atas, selanjutnya ada tiga ciri pokok pembelajaan kritis yaitu: Pertama, belajar dari realitas atau Kedua, tidak menggurui. Ketiga, dialogis. (Bahri & Supahar, 2. Dialog antara guru dan peserta didik harus ditandai dengan model pembelajaran yang student center, bukan teacher center, yang dalam proses ini peserta didik menjadi bersandarkan pada etika-etika ilmiah, yang tidak menimbulkan kesenjangan antara seorang guru dan peserta didik. Hal tersebut Fahrudin. Ansari. Ahmad Shofiuddin Ichsan | 72 Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 karena dialog mengandaikan kesadaran dan dengan kebutuhan peserta didik, sesuai kerendahan hati, yaitu kemauan belajar dari orang lain meskipun menurut perasaan memperlakukan orang lain sederajat dan keyakian orang lain dapat mengajar kita. Dialog juga harus bersandar pada cinta kasih antara seorang guru dengan peserta mengandung segi-segi etik, tersusun dalam ruang lingkup yanglogis, dan bersumber dari buku-buku yang terpercaya dan diakui. Agar dapat sesuai dan sejalan dengan kondisi peserta didik maka melibatkan peserta didik dalam menentukan materi pelajaran sangatlah Pembahasan tentang pembelajaran kritis ini akan dipaparkan melalui komponen-komponen yang ada. - Peserta didik Pembelajaran kritis memandang peserta didik bukan lagi sebagai AucawanAy . ang pasif dan dituangi air ke dalamny. , tetapi sebagai subjek yang belajar dan bersama-sama dengan subjek yang mendidik untuk selalu berada dalam Dalam pandangan seperti itu, sejak awal peserta didik menurut pandangan pembelajaran kreatif telah siap dan mampu menerima serta mengalami proses pembelajaran sebagai wacana untuk tumbuh dan berkembang kearah yang lebih maju dan dinamis. Proses mengimplikasikan sebuah usaha untuk memperoleh pengetahuan, maka para peserta didik sejak awal telah memposisikan diri sebagai objek pembelajaran yang kritis kreatif. - Materi Pembelajaran Pembelajaran kritis kreatif memandang penmbelajaran lebih bermakna bagi peserta didik dan agar mereka paham dengan realitas hidup yang sebenarnya. Guru Pembelajaran kritis kreatif memandang guru sebagai makhluk yang utuh, yang pembelajaran di antaranya adalah komunikator, transformator, manajer, dan evaluator (Kanzunnudin, 2. Bersandar pada bagaimana cara pandang pembelajaran kritis kreatif terhadap keberadaan guru sebagai pemimpin bagi pembelajaran kritis kreatif dianggap sebagai mahluk yang mampu mengemas pembelajaran secara kritis kreatif dan Tujuan Pembelajaran Adapun tujuan pembelajaran kritis kreatif justru hadir dengan tujuan membangkitkan kesadaran peserta didik untuk peduli dan kritis terhadap segala persoalan yang terjadi di lingkungan Belajar materi pembelajaran yang dipilih harus sistematis, sejalan dengan tujuan yang telah dirumuskan, terjabar, relevan 73 | Pembelajaran Konvensional dan Kritis Kreatif kehidupan merupakan hal yang sangat vital bagi peserta didik untuk mengetahui lingkungan dan memperoleh Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 keharusan dalam rangka memproduksi menunjang perkembangan, baik fisik maupun mental. Tujuan belajar pada model pembelajaran kritis kreatif tidak lepas dari hal-hal yang bersifat praktis untuk memecahkan suatu permasalahan yang berkaitan dengan efektivitas dalam pembelajaran. Pembelajaran kritis kreatif dalam Bagi seorang guru, media bukan hanya berfungsi sebagai ilustrasi, tetapi lebih sebagai ajakan peserta didik mendiskusikan bersama, dan berdialog untuk menemukan kesimpulan dan Evaluasi Pembelajaran konteks yang demikian, bertujuan menemukan jalan baru yang lebih baik dan beradab dalam sebuah upaya Metode Pembelajaran Pembelajaran kritis kreatif berusaha agar peserta didik dapat memahami maksud atau makna terhadap materi yang telah dipelajari. Pembelajaran kritis kreatif yaitu berusaha memacu proses pembelajaran dengan mendorong aktivitas kreatif serta mengekspresikan bahan pembelajaran dengan sudut pandang peserta didik. Hal ini seperti metode dialog, diskusi, bertanya, dan inquiri (Kadek Hengki Primayana. Media Pembelajaran Pembelajaran kritis kreatif memandang bahwa adanya media pembelajaran guna untuk sebagai alat membangkitkan semangat perhatian dan motivasi peserta didik, melibatkan keaktifan peserta didik, memberikan umpan balik dan penguatan atas materi yang telah Guru menggunakan media Pembelajaran kritis kreatif memandang evaluasi pembelajaran sebagai sebuah proses yang sangat berkaitan dengan berlangsungnya proses pembelajaran. Dalam bahasa yang lain, evaluasi tidak berhenti pada saat akhir berakhirnya bahan ajar atau disebut dengan UAS (Ujian Akhir Semeste. , atau hanya berkisar pada sisi kognitif saja, melainkan peroses evaluasi tetap dinilai secara keseluruhan, baik hasil yang didapatkan waktu ujian akhir maupun keaktifan peserta didik di dalam kelas sewaktu proses belajar mengajar sedang Dalam istilah yang lain, evaluasi dalam pembelajaran kritis kreatif melibatkan beberapa aspek. Ketiga hal tersebut termasuk dalam proses evaluasi setelah melewati proses pembelajaran. Pembelajaran Konvensional Pembelajaran Kritis Kreatif dalam perspektif Pendidikan Islam Sebagai satu disiplin ilmu, pendidikan Islam memiliki tujuan yang mulia yaitu bukan semata-mata karena media efektif membantu proses pemahaman, tetapi penggunaan media merupakan sebuah menciptakan peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah serta membina, membimbing, dan mendorong peserta didik Fahrudin. Ansari. Ahmad Shofiuddin Ichsan | 74 Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 dalam memanfaatkan segala macam potensi pembelajaran yang membuka ruang bagi bawaannya agar dapat bekerja secara kebutuhankebutuhan yang diinginkan. Tujuan ini akan dapat terealisasi dengan baik jika salah satu komponen dalam pembelajaran seperti guru bekerja dengan sungguh-sungguh. Berdiri memandang peserta didik sebagai objek peserta didik untuk mengelaborasikan kemampuannya dalam melihat realitas sosial, sehingga menjadi manusia-manusia solutif di tengah persoalan sosial yang semakin AmengguritaA. Perbedaan cara pandang antara kedua model pembelajaran di atas dalam Kehadiran guru dalam proses pembelajaran lebih sebagai motivator, pembimbing, pengatur, dan pengarah bagi menyenangkan dan mencerahkan (Hidayah. Dalam uraian sebelumnya, peneliti sudah mengklasifikasikan secara teoritis bahwa model pembelajaran secara umum terbagi menjadi dua yaitu model Dalam perspektif pendidikan Islam, kedua model pembelajaran ini tentu memiliki perbedaan yang signifikan. Kelemahan dan kekurangan antara dua model pembelajaran ini berjalan Peserta didik dalam kaca mata pembelajaran konvensional bukanlah objek pendidikan yang memiliki potensi untuk bisa berkembang secara mandiri melainkan ia memandang bahwa peserta didik bagian dari pembelajaran yang hanya menerima ujaran dan perintah dari seorang guru. Adapun memandang peserta didik sebagai objek memandang peserta didik sangat mudah kita dapatkan sisi Model pembelajaran konvensional cukup kaku dalam memandang keberadaan peserta didik dalam proses pembelajaran. Begitupun sebaliknya, pembelajaran kritis kreatif cukup apresiatif dalam memandang peserta Maka dalam konteks ini, pendidikan Islam memandang bahwa kedua model pembelajaran di atas sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihannya. Dalam perspektif pendidikan Islam, model terkesan kaku dalam melihat peserta didik, tetapi yang perlu diapresiasi adalah bagi peserta didik yang tipologi belajarnya auditori akan mudah mencerna materi Mereka akan senang menjalani menekankan pada indra pendengar. Bagi mereka, mendengar adalah cara belajar yang asik dan efektif. Berkaitan dengan hal di atas, bukankah dalam pendidikan Islam memiliki tujuan mulia, yaitu untuk mendorong potensi alamiah yang dimiliki oleh peserta didik lewat proses pembelajaran tanpa sekaligus subjek pendidikan yang memiliki potensi alamiah yang harus dikembangkan melihat, memilih, dan memilah peserta didik itu berkarakter auditori atau bukan. Karena bagaimanapun pendidikan Islam 75 | Pembelajaran Konvensional dan Kritis Kreatif Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 bertujuan untuk menciptakan manusia yang beriman, cerdas, kritis kreatif, dan memiliki merealisasikan tugas dan fungsinya sebagai khalifatullah . emimpinan di muka bum. dan abdullah . amba Tuha. Dalam sisi inilah, kehadiran model Karakter konvensional lebih memberdayakan peserta keluhuran budi pakerti. Pembelajaran kritis kreatif juga memandang sosok guru yang tidak hanya bertumpu pada transfer pengetahuan saja, tetapi juga transfer nilai (Ichsan, 2019. Pembelajaran menegasikan akan pola pembelajaran yang hanya berpusat pada guru . eacher didik yang memiliki keunggulan dalam model pembelajaran auditori yang tidak pembelajaran kritis kreatif, karena ia lebih pada bagaimana mengasah lebih tajam cara berpikir maupun cara belajar peserta didik yang lebih mengandalkan kemampuan berfikir logis. Demikian pula dengan komponen pembelajaran yang lain, seperti evaluasi pembelajaran. Perbedaan dalam tersebut menjadi sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari oleh kedua model pembelajaran di atas. Hal yang lebih memperjelas sisi konvensional dan pembelajaran kritis kreatif adalaha definisi tentang guru. Menurut merupakan objek yang memberikan sesuatu kepada peserta didik, yakni hanya sekedar memindahkan atau mentransfer ilmu pengetahuan yang harus dicatat dan dihafal oleh peserta didik. Sedangkan pembelajaran kritis krearif beranggapan bahwa guru centere. , tetapi pada pola pembelajaran yang memberikan ruang bagi mengaktualisasikan potensi akademisnya secara maksimal. Dalam perspektif pendidikan Islam, pembelajaran kritis kreatif memang cukup efektif untuk diterapkan di era kekinian berdasarkan beberapa alasan, yaitu: Pertama, memberikan ruang yang cukup luas bagi peserta didik dalam memanfaatkan potensi laten yang dimiliki. Kedua, mendorong peserta didik untuk selalu berpikir logis dengan menjadikan guru sebagai tokoh dalam memberikan stimulus bagi lahirnya dialog dalam proses Ketiga, kepercayaan diri menyampaikan pendapat di depan guru, teman-temannya sangat memungkinkan untuk terciptanya identitas anak . eserta Ketiga alasan ini dapat dibenarkan karena kondisi generasi kekinian semakin mudah dalam mengakses informasi. Namun pendidikan Islam memandang bahwa pembelajaran konvensional tidak bisa merupakan subyek yang mendorong terbentuknya manusia . eserta didi. yang ditinggalkan secara keseluruhan, karena bagaimanapun metode ceramah, dalam istilah yang lain ekspositori, yaitu sama- Fahrudin. Ansari. Ahmad Shofiuddin Ichsan | 76 Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 Komparasi pembelajaran konvensional pembelajaran yang berpusat pada guru, menggunakan cara hafalan dalam proses pembelajaran tetap dibutuhkan oleh guru untuk memperkaya metode pengajarannya. Hal tersebut dikarenakan adanya beberapa mata pelajaran yang menuntut peserta didik untuk menghafal seperti rumus-rumus dalam mata pelajaran Matematika. Fisika, dan kritis kreatif Matriks dipaparkan pada tabel berikut ini: Kimia, dan teori-teori Geografi, bahkan dalam mata pelajaran agama . eperti ayatayat al-QurAan maupun hadis. yang tentu harus dihafalkan serta dipahami maksudnya bagi diri masing-masing peserta didik. Dengan demikian, kedua model diupayakan untuk diterapkan secara bergantian sesuai dengan kebutuhan materi atau mata pelajaran, sehingga tujuan pendidikan yang sesungguhnya dapat direalisasikan dengan terciptanya peserta didik yang cerdas dalam berpikir, beriman, dan berislam dengan sungguh-sungguh serta berbudi pakerti yang luhur. Dalam konteks ini, keberadaan guru sebagai fasilitator menjadi sangat urgen, di mana guru dituntut untuk bekerja secara maksimal dalam digunakan dalam proses pembelajaran. Dengan hal itu, komunikasi guru dan peserta didik menjadi harmonis dan berkembang sampai pada taraf dialog yang mengisyaratkan adanya proses pertukaran ide, gagasan, serta pengalaman dari seorang guru kepada peserta didik dan begitupun 77 | Pembelajaran Konvensional dan Kritis Kreatif Tabel 1. Komparasi Pembelajaran Konvensional Peserta didik Peserta didik objek perlakuan guru Guru Guru Kritis-kreatif Peserta didik Peserta didik sebagai objek yang aktif dalam pembelajaran Guru Sebagai Pembimbing Sebagai fasilitator Seabgai Evaluator Sebagai transformator Materi Pelajaran disampaikan sesuai dengan urutan isi buku teks Materi Pelajaran Materi pembelajaran tujuan yang telah dirumuskan, terjabar. Metode Pembelajaran Metode Pembelajaran Metode pembelajaran yang pada guru Metode fokus pada peserta didik agar memahami maksud atau makna terhadap materi yang telah Media Pembelajaran Media Pembelajaran Tidak digunakan digunakan berupa buku ajar Sebagai pembangkit semangat perhatian dan motivasi peserta Evaluasi Pembelajaran Evaluasi Pembelajaran Evaluasi pasif, keterampilan secara terpisah. Evaluasi secara keseluruhan, baik hasil yang didapatkan waktu ujian akhir maupun keaktifan peserta Hikmah. Vol. No. Januari-Juni 2021, p-ISSN: 1829-8419 e-ISSN: 2720-9040 SIMPULAN Model pembelajaran konvensional dibandingkan keaktifan peserta didik . eacher centere. , sedangkan model pembelajaran kritis kreatif menekankan pada terjadinya interaksi dua arah antara guru dan peserta didik. Pendidikan Islam memandang pembelajaran konvensional merupakan model pembelajaran yang fokus mendorong peserta didik yang suka belajar auditori, sedangkan pembelajaran kritis kreatif menurut pendidikan Islam adalah model pembelajaran yang berusaha memberdayakan peserta didiknya menjadi kritis dalam berpikir dan kreatif dalam proses dialog, serta adanya keterlibatan peserta didik pada saat proses belajar Maka dari itu, di tengah perbedaan antara kedua model pembelajaran tersebut, pendidikan Islam memandang bahwa perlu ada upaya penyatuan, atau paling tidak memanfaatkan kedua model pembelajaran tersebut sesuai dengan kebutuhan dalam proses pembelajaran tanpa ada yang harus dipinggirkan satu sama lain. DAFTAR PUSTAKA