Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal 16-34 DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpai. Available Online at: https://journal. id/index. php/jbpai Transformasi Pendidikan Islam Melalui Pembiasaan di Sekolah Dasar: Kajian Berbasis Library Research Eko Kurniawanto * Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda. Indonesia Email : ekokurniawanto84@gmail. Alamat: Kampus Jl. Wahid Hasyim 2 No. Sempaja Sel. Kec. Samarinda Utara. Kota Samarinda. Kalimantan Timur 75243 Korespondensi penulis : ekokurniawanto84@gmail. Abstract. This study aims to explore the concept of habituation in Islamic education as an effective strategy for shaping the character of elementary school students. Through a library research approach, this study analyzes relevant principles of Islamic education and their application in the context of modern education. The findings reveal that habituation based on Islamic values, such as honesty, discipline, responsibility, and tolerance, significantly impacts character development in students. Consistently implemented habituation methods, through exemplary practices and daily routines, have proven effective in internalizing these values. Innovations in habituation, such as the integration of digital technology. Qur'anic literacy, and flagship tahfidzul Qur'an programs, strengthen the implementation of character education in elementary schools. However, challenges such as limited resources, parental involvement, and technological adaptation require strategic solutions, including teacher training and multi-stakeholder collaboration. This study emphasizes that habituation in Islamic education is not only relevant but also adaptable to the needs of modern education, making it a transformational strategy for shaping a generation with noble character, knowledge, and integrity. Keywords: Islamic education. Habituation. Elementary School. Student Character. Library Research Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep pembiasaan dalam pendidikan Islam sebagai strategi efektif untuk membentuk karakter siswa di sekolah dasar. Melalui pendekatan library research, penelitian ini menganalisis prinsip-prinsip pendidikan Islam yang relevan, dan penerapannya dalam konteks pendidikan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembiasaan berbasis nilai-nilai Islami, seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan toleransi, memiliki dampak signifikan dalam membentuk karakter siswa. Metode pembiasaan yang dilakukan secara konsisten melalui praktik keteladanan dan rutinitas harian terbukti efektif dalam internalisasi nilai-nilai tersebut. Inovasi dalam pembiasaan, seperti integrasi teknologi digital, literasi Qurani, dan program unggulan tahfidzul Qur'an, memperkuat implementasi pendidikan karakter di sekolah Namun, tantangan seperti keterbatasan sumber daya, keterlibatan orang tua, dan adaptasi teknologi memerlukan solusi strategis, termasuk pelatihan guru dan kolaborasi multipihak. Penelitian ini menegaskan bahwa pembiasaan dalam pendidikan Islam tidak hanya relevan tetapi juga adaptif terhadap kebutuhan pendidikan modern, menjadikannya strategi transformasional untuk mencetak generasi berakhlak mulia, berpengetahuan, dan Kata kunci: Pendidikan Islam. Pembiasaan. Sekolah Dasar. Karakter Siswa. Library Research LATAR BELAKANG Pendidikan Islam memainkan peran krusial dalam membentuk karakter siswa sekaligus meningkatkan potensi kreativitas mereka. Para guru pendidikan Islam berfungsi sebagai faktor kunci dalam mendukung proses belajar yang dapat memotivasi kreativitas siswa. (Permatasari & Nuroh, 2. Salah satu metode pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru adalah pembelajaran berbasis kapita selekta. Received: Desember 09, 2024. Revised: Desember 23, 2024. Accepted: Januari 10, 2025. Online Available: Januari 15, 2025 Transformasi Pendidikan Islam Melalui Pembiasaan di Sekolah Dasar: Kajian Berbasis Library Research Sebagai salah satu pilar utama dalam membangun moral dan spiritualitas individu, pendidikan Islam kini menghadapi beragam tantangan yang semakin kompleks di tengah dinamisnya masyarakat modern. Perubahan sosial, kemajuan teknologi, dan globalisasi telah memberikan pengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang (Vi et al. , 2. Dalam hal ini, pendidikan Islam berperan strategis sebagai panduan moral yang dapat memberikan solusi bagi berbagai permasalahan yang muncul akibat perubahan tersebut. Pendidikan agama Islam harus menjadi komponen budaya sekolah karena alasan-alasan berikut: . Orang tua mencari sekolah yang lebih baik dan mengabaikan sekolah yang kurang baik karena mereka mempunyai hak untuk memilih sekolah yang terbaik bagi anak-anak mereka dalam jangka panjang. Untuk mencegah dampak buruk globalisasi, orang tua di hampir setiap kota di Indonesia memilih sekolah yang lebih religius dan berkualitas tinggi. Penerapan pendidikan baik di sekolah negeri maupun swasta yang dikelola oleh yayasan Islam sangat dipengaruhi oleh nilai, norma perilaku, keyakinan, dan budaya. (Kollo et al. , 2. Saat ini, banyak orang yang mengevaluasi keberhasilan akademik menggunakan indikator yang dapat diamati, diukur, dan diidentifikasi, seperti hasil UNAS dan infrastruktur sekolah. Namun, organisasi sosial juga dibentuk oleh elemen lain termasuk perangkat lunak, nilai, keyakinan, dan budaya. Pada kenyataannya, hal ini mempunyai dampak yang lebih besar terhadap kinerja individu dan organisasi . , yang menghasilkan keuntungan finansial. Kinerja dipengaruhi secara signifikan oleh budaya sekolah. (Iskandar, 2. Budaya yang diadopsi sekolah merupakan salah satu penentu utama keberhasilan atau kegagalannya. (Rizal et al. , 2. Kehadiran internet telah mengubah interaksi sosial menjadi tanpa batas ruang dan Namun, di balik kemudahan dan efisiensinya, muncul berbagai masalah sosial, seperti digitalisasi yang menggantikan sistem manual, kerusakan lingkungan akibat eksploitasi industri, dan maraknya hoaks. Moralitas generasi muda juga terancam, ditandai dengan meningkatnya kasus pesta miras, narkotika, seks bebas, kekerasan pelajar, bullying, hingga prostitusi online yang melibatkan remaja. (Nasution & Tanjungpura, 2. Survei tahun 2015 di beberapa kota mencatat 84% remaja usia 13Ae15 tahun telah melakukan hubungan seksual pranikah, dengan sebagian terlibat dalam prostitusi online. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era 4. 0 telah mendorong digitalisasi yang mengubah pola hidup manusia dari dunia nyata ke dunia maya, di mana isu-isu dunia nyata sering menjadi tren di dunia maya. (Nurhayati, 2. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal 16-34 Penelitian menunjukkan bahwa pembentukan karakter anak dimulai sejak dini melalui (Puspita et al. , 2. Upaya sekolah dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) mencakup kehadiran guru profesional sebagai teladan, pembiasaan ibadah, dan perilaku positif seperti 3S . enyum, salam, sap. Moralitas juga dipengaruhi oleh kebiasaan, pelatihan, keturunan, lingkungan, dan (Larasati, 2. Di era globalisasi, pendidikan di Indonesia perlu membekali anak dengan pemahaman tentang eksistensi bangsa dan isu global. Penelitian menyoroti kurangnya pendidikan pembiasaan di sekolah dasar, sehingga pemanfaatan Al-Qur'an sebagai pedoman utama menjadi fokus dalam membentuk karakter moral generasi alpha. (Dasar, 2. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah upaya terencana untuk menciptakan suasana belajar yang memungkinkan peserta didik mengembangkan potensinya, meliputi spiritualitas, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan. Pasal 1 ayat . menegaskan bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan berbagai aspek diri peserta didik, sementara Pasal 3 menyatakan pendidikan berfungsi membentuk karakter, menciptakan peradaban bermartabat, dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan utama pendidikan adalah mengoptimalkan potensi peserta didik. (Utami et al. , 2. Pendidikan menjadi landasan utama dalam membentuk karakter anak sejak usia dini. Pada jenjang pendidikan dasar, khususnya di SD/MI, pembentukan karakter Islami menjadi salah satu tujuan utama. Salah satu metode yang dapat diterapkan untuk membangun karakter Islami adalah melalui ajaran akhlak tasawuf, yang berfokus pada pembinaan akhlak mulia berdasarkan nilai-nilai spiritual dan moral Islami. (Meldayani & Ain, 2. Pendidikan karakter menjadi prioritas dalam sistem pendidikan nasional Indonesia sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, yang bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, cerdas, dan bertanggung Penelitian di SD Khadijah Surabaya menunjukkan bahwa pendidikan karakter Islami diterapkan melalui pembiasaan, seperti bersalaman dengan guru, salat berjamaah, berdoa bersama, dan kegiatan keagamaan seperti tahlil dan istighotsah. Pendidikan Islam terbukti berpengaruh signifikan dalam membentuk karakter peserta didik dengan moralitas tinggi, ketakwaan, dan tanggung jawab. Penelitian ini menekankan dampak positif pembelajaran Islam dalam meningkatkan karakter peserta didik menjadi individu unggul. (Tahsinia et al. Transformasi Pendidikan Islam Melalui Pembiasaan di Sekolah Dasar: Kajian Berbasis Library Research Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi inovasi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah dasar, mengidentifikasi tantangan implementasinya, dan merumuskan strategi untuk mengoptimalkan peran PAI dalam membentuk karakter Islami siswa di era digital. Dengan pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman, penelitian ini berfokus pada pendidikan berbasis pembiasaan untuk menanamkan nilai-nilai Islami, sekaligus menganalisis pengaruh pendidikan Islam terhadap pengembangan karakter siswa. Penelitian ini menekankan pentingnya integrasi pendidikan Islam dalam kurikulum sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah (MI), sebagai upaya menumbuhkan kesadaran sosial, etika, moralitas, dan spiritualitas sejak dini. KAJIAN TEORITIS Berikut literature review yang membahas teori-teori relevan, penelitian sebelumnya, dan memberikan landasan bagi penelitian terkait "Transformasi Pendidikan Islam Melalui Pembiasaan di Sekolah Dasar: Kajian Berbasis Library Research" Menanamkan Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan Pembiasaan Di SD Negeri 2 Tambakan Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan. Dalam Jurnal Elementary : Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol 1. No. Oktober 2021. Dijelaskan bahwa Kegiatan pembiasaan merupakan proses pembentukan sikap dan perilaku yang relatif menetap dan secara otomatis melalui proses pembelajaran yang berulang-ulang dan dilaksanakan di luar jam pelajaran. Pembiasaan merupakan bagian pendidikan budi pekerti dari pendidikan berkarakter yang dilaksanakan secara berulang sebagai respon terhadap stimulus yang sama. Tujuan penulisan artikel adalah untuk mendeskripsikan program pembiasaan yang dilakukan di SD Negeri 2 Tambakan Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan dengan cara membimbing untuk membentuk karakter siswa. Metode penelitian yang digunakan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, sehingga hasil penelitian ini adalah: . Program pembiasaan SD Negeri 2 Tambakan Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan terdiri atas 4 kegiatan yaitu kegiatan rutin, kegiatan spontan, kegiatan terprogram dan kegiatan keteladanan. Nilai karakter yang diterapkan dan ditunjukan yaitu religius, peduli lingkungan, tanggung jawab, jujur, dan toleransi. Hambatan dalam penerpan pendidikan karakter di SD Negeri 2 Tambakan Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan adalah faktor lingkungan, faktor peserta didik, faktor keluarga dan faktor guru. (JASMANA, 2. Pendidikan Karakter Melalui Pembiasaan Rutin untuk Menanamkan Nilai-Nilai Pendidikan Islam pada Siswa SD/MI. Penelitian yang dilakukan di MI Islamiyah dan SDN Sambonggede 1. Kecamatan Merakurak. Kabupaten Tuban, dalam jurnal Premiere Vol 2 No Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal 16-34 . Tahun 2020. Menghasilkan beberapa kesimpulan berikut:. Implementasi Pembiasaan Rutin Pendidikan karakter melalui pembiasaan rutin diterapkan dengan aktivitas seperti salam sapa saat datang dan pulang sekolah, doa bersama sebelum pelajaran dimulai, dan hafalan surah pendek secara bergiliran. Pembiasaan ini juga mencakup penanaman nilai-nilai keagamaan kepada siswa. Bentuk Penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Islam Penanaman nilai-nilai Islam dilakukan melalui kegiatan seperti salat berjamaah . ajib atau sunna. 15 menit sebelum pelajaran dimulai, dzikir bersama, dan hafalan surah pendek. Tujuannya adalah membangun karakter siswa yang lebih Islami. Efektivitas Program Pembiasaan. Program pembiasaan ini terbukti sangat efektif dalam meningkatkan akhlak siswa. Berdasarkan wawancara dengan warga sekolah dan orang tua, metode ini mendapat apresiasi karena membantu membentuk karakter siswa dan mendukung upaya pendidikan di rumah. (Ninik Hidayati et al. , 2. Implementasi nilai-nilai ekstrakurikuler di Sekolah Dasar. Dalam Jurnal Basicedu Volume 5 Nomor 4 Tahun 2021. Penelitiannya menyimpulkan bahwa dengan kegiatan ekstrakurikuler pramuka, ekstrakurikuler pencak silat, dan ekstrakurikuler PMR. Melalui ketiga ekstrakurikuler tersebut guru dapat menginternalisasikan nilai-nilai antikorupsi pada diri siswa. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan terdapat ekstrakurikuler lain yang dapat membangun nilai-nilai antikorupsi. Pendidikan karakter berbasis nilai-nilai antikorupsi melalui pembiasaan di Sekolah Dasar adalah melalui pembiasaan kantin kejujuran dan pembiasaan peduli lingkungan. Pembiasaan kantin kejujuran dan pembiasaan peduli lingkungan dilakukan melalui kegiatan rutin, kegiatan spontan, dan kegiatan pengondisian. Nilai-nilai anti korupsi yang yang dibangun melalui ekstrakurikuler pramuka yaitu nilai kedisiplinan, nilai kejujuran, nilai tanggung jawab, dan nilai kemandirian. Nilai-nilai antikorupsi yang dibangun melalui ekstrakurikuler pencak silat yaitu nilai kerja keras dan nilai kedisiplinan. Nilai-nilai antikorupsi yang dibangun melalui esktrakurikuler PMR yaitu nilai kepedulian. sementara nilai-nilai yang dibangun melalui pembiasaan kantin kejujuran yaitu nilai kejujuran. Nilai-nilai yang dibangun melalui pembiasaan peduli lingkungan yaitu nilai kepedulian. (Sari et al. , 2. Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Pembiasaan Budaya Sekolah pada Peserta Didik Kleas i Sekolah Dasa, dalam Jurnal Inovasi. Evaluasi, dan Pengembangan Pembelajaran (JIEPP) Volume 4. Nomor 2. Agustus, 2024. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan karakter dapat diintegrasikan melalui budaya sekolah dengan kegiatan berulang hingga menjadi kebiasaan dan karakter yang melekat pada diri siswa. Implementasi lima nilai karakter pembiasaan meliputi religius, dengan membiasakan doa sebelum dan sesudah pembelajaran, membaca Asmaul Husna, dan salat Dzuhur berjamaah. Transformasi Pendidikan Islam Melalui Pembiasaan di Sekolah Dasar: Kajian Berbasis Library Research melalui upacara bendera, perayaan hari besar, dan kegiatan "Rabu Unjuk Bakat". dengan tugas individu, presentasi, dan ekstrakurikuler pramuka. gotong royong, melalui kerja kelompok, piket kelas, dan gelar karya proyek. serta integritas, dengan menerapkan budaya 5S . enyum, sapa, salam, sopan, santu. serta membuat puisi yang dibukukan sebagai ciri khas budaya literasi di SDN Rejosari 01. Kegiatan ini tidak hanya membentuk kebiasaan tetapi juga kepribadian siswa yang harmonis dengan lingkungannya. Implementasi hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi sekolah lain untuk mengembangkan pendidikan karakter melalui budaya sekolah, sementara penelitian lanjutan disarankan untuk meninjau kelemahan kajian ini guna menghasilkan penelitian yang lebih komprehensif. (Indrianingrum et al. , 2. Implementasi Metode Pembiasaan Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Dalam Jurnal Al-Qalam Jurnal Kajian Islam & Pendidikan. Volume 12. No. 2, 2020. Penelitian ini berusaha mengungkap gambaran implementasi metode pembiasaan dalam pembalajaran PAI pada siswa kelas 2 Sekolah Dasar Muhammadiyah 1A Ujung Tanjung. Kabupaten Lebong. Bengkulu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpul data yaitu wawancara virtual dan menggunakan media Whatsapp, karena mengingat bahwa kondisi saat penelitian masih dalam menjaga jarak sosial di masa pamdemi Covid-19. Setelah data terkumpul, tahapan selanjutnya adalah tahap analisis data yaitu pemilihan data, penyajian dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menemukan simpulan bahwa pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru PAI SD Muhammadiyah 1A dengan menggunakan metode pembiasaan terdapat beberapa tahapan antara lain: memilih materi yang tepat ketika akan menerapkan metode pembiasaan. menjelaskan materi yang cara memberikan contoh praktis yang mudah di pahami dan diikuti oleh siswa. mengajak siswa untuk bersama mempraktekkan setelah materi diberikan. dan memerintahkan siswa untuk membiasakan materi yang telah diberikan secara mandiri baik di sekolah maupun di rumah. (Berlianti et al. , 2. Dari pemaparan diatas beberapa penelitian sebelumnya ada kesamaan dalam hal pendidikan pembiasaan, hanya saja belum signifikan terutama dalam bidang agama Islam, perbedaan penelitian ini ialah lebih spesifik pendidikan pembiasaan dalam Islam dan penelitian ini khusus library research, sehingga memaparkan beberapa ayat dan hadis. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan . ibrary researc. untuk menganalisis kepemimpinan pendidikan di era disrupsi. Analisis data dilakukan melalui pengumpulan, pembacaan, dan pengkajian berbagai sumber pustaka yang Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal 16-34 Menurut Zed, studi pustaka melibatkan aktivitas pengumpulan data, membaca, mencatat, dan mengolah bahan pustaka untuk mendukung penelitian. (Fadli, 2. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif. Menurut Ibnu, penelitian kualitatif adalah penelitian yang datanya disajikan dalam bentuk verbal dan dianalisis tanpa melibatkan teknik statistik. Berdasarkan berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang mengolah data dalam bentuk verbal, tanpa menggunakan angka, serta menganalisisnya tanpa memanfaatkan metode statistik. (Danuri & Maisaroh, 2. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah studi pustaka . ibrary researc. , yaitu metode pengumpulan data dengan memahami dan mempelajari teori-teori dari berbagai literatur yang relevan dengan penelitian. Studi pustaka ini melibatkan empat tahap utama: menyiapkan alat dan perlengkapan yang diperlukan, menyusun bibliografi kerja, mengatur waktu secara efektif, serta membaca dan mencatat bahan penelitian. Data dikumpulkan dengan mencari dan mengkonstruksi informasi dari berbagai sumber, seperti buku, jurnal, dan penelitian sebelumnya. Bahan pustaka yang diperoleh dari berbagai referensi dianalisis secara kritis dan mendalam untuk mendukung proposisi serta gagasan dalam penelitian. (Dr. Umar Sidiq. Ag Dr. Moh. Miftachul Choiri, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Pembiasaan dalam Pendidikan Islam Definisi Pembiasaan Dan Relevansinya Dalam Pendidikan Islam. Pada masa Khulafaur Rasyidin, pendidikan Islam mengalami perkembangan yang dinamis sebagai kelanjutan dari ajaran yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad SAW. Para khalifah, yaitu Abu Bakar As-Siddiq. Umar bin Khattab. Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, memainkan peran penting dalam membangun sistem pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek spiritual, tetapi juga mendorong pengembangan ilmu pengetahuan serta pembentukan karakter yang kokoh di kalangan umat Muslim. (Saefuddin et al. , 2. Implikasi pendidikan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin terhadap masa kini sangat Prinsip-prinsip pendidikan yang diterapkan pada masa tersebut, seperti pentingnya keteladanan, pembentukan karakter, dan penyebaran ilmu pengetahuan, tetap relevan dalam pendidikan modern. Pendidikan yang menekankan pembentukan akhlak yang baik dan pembelajaran berbasis keteladanan memiliki potensi besar untuk membentuk generasi yang tidak hanya berpengetahuan, tetapi juga berintegritas. (Utari et al. , 2. Transformasi Pendidikan Islam Melalui Pembiasaan di Sekolah Dasar: Kajian Berbasis Library Research Selain itu, pendekatan ini mengajarkan pentingnya keterlibatan keluarga, masyarakat, dan institusi agama dalam proses pendidikan, sehingga pendidikan dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Implikasi dari pendidikan pada masa Khulafaur Rasyidin sangat relevan untuk pengembangan karakter, pengetahuan, dan integritas dalam konteks pendidikan modern. (Marhalata, 2. Prinsip-prinsip pendidikan yang diterapkan oleh para khalifah pertama Islam dapat menjadi landasan yang kokoh untuk membentuk generasi dengan nilai moral yang tinggi, pemahaman agama yang mendalam, serta keterampilan berpikir kritis. Sistem pendidikan pada masa tersebut menekankan pada pembentukan akhlak dan pemahaman yang mendalam tentang ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk mengabdi kepada Allah dan memberikan manfaat bagi umat. Implikasi dari pendekatan ini dapat dilihat pada berbagai aspek penting dalam pendidikan modern yang dapat dikembangkan lebih lanjut. (Anas & Hanani, 2. Salah satu aspek utama yang dapat dipelajari dari pendidikan pada masa Khulafaur Rasyidin adalah pentingnya pembentukan karakter dan nilai-nilai moral melalui pendekatan keteladanan. Pada masa itu, pendidikan tidak hanya berfokus pada hafalan teks agama, tetapi juga pada penerapan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. (Strategi pengembangan potensi manusia (, 2. Para khalifah menjadi teladan nyata tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya hidup dan bertindak. Abu Bakar. Umar. Utsman, dan Ali dikenal karena kejujuran, keadilan, kesederhanaan, dan kepedulian mereka terhadap masyarakat. Keteladanan ini memberikan pengaruh yang mendalam bagi masyarakat dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pendidikan moral. (Dan et al. , 2. Pendekatan keteladanan dan pembiasaan sangat relevan dalam membentuk karakter Guru, orang tua, dan tokoh masyarakat berperan sebagai teladan dengan menunjukkan sikap dan perilaku positif yang dapat ditiru siswa. (Darmawan, 2. Pendidikan berbasis keteladanan lebih efektif dalam membentuk karakter dibandingkan sekadar menyampaikan teori. Menurut Ibnu Sina, metode pembiasaan dan teladan adalah cara paling efektif, terutama dalam mengajarkan akhlak. Anak-anak secara alami meniru apa yang mereka lihat dan dengar, sehingga pembiasaan yang dilakukan terus-menerus oleh orang tua dan guru memiliki pengaruh besar pada perkembangan karakter mereka. (Hadits et al. , 2. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal 16-34 Nilai-nilai Islami yang dapat diinternalisasi melalui pembiasaan . ejujuran, disiplin, tanggung jawa. Dalam QurAoan surah Al-luqman ayat 12-14 mewakili pembahasan ayat yang memiliki keterkaitan makna paling dekat dengan konsep pendidikan karakter. (Hibatullah et al. AuDan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur . epada Alla. , maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". Meningkatan rasa kedisiplinan, jujur, tanggungjawab dan rasa toleransi terhadap lingkungan sekitar pada murid berdasarkan Profil Pelajar Pancasila. (Budaya et al. , 2. Meningkatkan Kedisiplinan Setiap aktivitas yang dianggap baik oleh anak, seperti salat tepat waktu, merapikan tempat tidur, sarapan pagi, menyiapkan buku pelajaran sendiri, menggosok gigi, atau rutinitas harian lainnya, dapat mereka catat dalam buku saku (Aburaera et al. , 2. Jika anak-anak terbiasa melakukan kegiatan tersebut dan mencatatnya dalam buku saku kebaikan, hal ini dapat menjadi kebiasaan positif yang mengarah pada disiplin pribadi dan berdampak pada perubahan yang lebih (Maulida & Ratnasari, 2. Jujur Murid akan belajar untuk jujur kepada diri sendiri, orang tua, dan tentu saja guru, yang akan memberikan arahan atau penilaian terhadap setiap catatan kebaikan yang telah mereka lakukan. (Jurnal et al. , 2. Terlepas dari apakah praktek kebaikan tersebut telah dilaksanakan dengan benar atau tidak, dalam sesi refleksi, guru akan memberikan penjelasan atau nasihat bahwa apa yang telah mereka lakukan tidak hanya dinilai oleh orang tua dan guru, tetapi juga oleh Allah SWT. (Sofa et al. , 2. Tanggungjawab Murid akan diberikan tanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan kebaikan dan diberikan pemahaman bahwa apa yang mereka lakukan akan membawa dampak positif, tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk masa depan. (Di et al. , 2. Toleransi terhadap Lingkungan Sekitar Murid secara tidak langsung akan belajar untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar tanpa adanya paksaan. Setiap kesempatan yang dapat memberikan dampak positif dan yang bisa mereka lakukan, akan segera dilaksanakan dengan penuh Transformasi Pendidikan Islam Melalui Pembiasaan di Sekolah Dasar: Kajian Berbasis Library Research (Sururun et al. , 2. Di rumah maupun di sekolah, anak sering kali menunjukkan sikap acuh tak acuh, namun dengan adanya pembiasaan kebaikan, diharapkan dapat menumbuhkan rasa toleransi dan secara bertahap membimbing anak untuk mengembangkan karakter yang selalu siap menolong dan membantu tanpa harus diminta terlebih dahulu. (Aini et al. , 2. Inovasi Pembiasaan di Sekolah Dasar Guru tidak hanya mendidik siswa di dalam kelas, tetapi juga berperan dalam membentuk karakter siswa yang berkualitas. (Karakter & Madrasah, 2. Orang tua juga memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan karakter siswa di rumah, karena anak-anak tidak menghabiskan waktu dua puluh empat jam di sekolah. (Muammar, 2. Berikut adalah kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan inovasi pembelajaran: Rutinitas pagi dengan melaksanakan salat dhuha. Pembacaan asmaul husna dan juz 30 sebelum memasuki kelas. Setiap tiga bulan sekali, sekolah mengadakan penyuluhan atau penyampaian materi tentang akhlak atau karakter yang baik. Rutinitas literasi Qurani setelah pembacaan asmaul husna. Pemanfaatan teknologi digital sebagai inovasi dalam pembelajaran karakter. Inovasi pembelajaran ramah anak di sekolah dasar. Peningkatan literasi numerasi untuk meningkatkan minat baca siswa. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal 16-34 Pentingnya Pendidikan karakter. Terlihat dari pembiasaan- pembiasaan yang dilakukan di sekolah, diantaranya:(Bayu et al. , 2. Pembiasaan merawat kebersihan lingkungan sekolah. Disiplin dalam mengikuti setiap kegiatan, terutama kegiatan keagamaan di sekolah. Pembiasaan dalam pembinaan baca tulis al-QurAoan. Menerapkan program unggulan tahfidzul QurAoan. Pembiasaan budaya 5S (Senyum. Salam. Sapa. Sopan, dan Santu. Kegiatan bakti sosial. Tadabbur alam. Menurut pernyataan Tim Pendidikan Karakter Kemendiknas, tahap proses yang harus dicapai meliputi: religiusitas, kejujuran, toleransi, kedisiplinan, cinta tanah air, kerja keras, demokratis, kreativitas, cinta damai, kepedulian sosial, tanggung jawab, dan semangat (Kendari, 2. Pendidikan Rasulullah SAW Rasulullah A Adikenal sebagai teladan utama dalam membiasakan kebiasaan baik yang membawa manfaat dalam kehidupan sehari-hari. (SDIT & NOVITASARI, 2. Berikut adalah beberapa hadis yang berkaitan dengan kebiasaan yang dicontohkan oleh Rasulullah: Transformasi Pendidikan Islam Melalui Pembiasaan di Sekolah Dasar: Kajian Berbasis Library Research Kebiasaan dalam Beribadah Rasulullah A Amembiasakan diri untuk konsisten dalam beribadah, meskipun Hadis:"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinue . erus-meneru. walaupun sedikit. " (HR. Bukhari dan Musli. Kebiasaan dalam Akhlak Mulia Rasulullah A Amembiasakan diri untuk bersikap lembut, ramah, dan penuh kasih Hadis:"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Ahma. Kebiasaan dalam Makan dan Minum Rasulullah A Amembiasakan diri untuk makan dan minum secukupnya, tidak Hadis: "Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang " (HR. Tirmidz. Kebiasaan dalam Bersyukur Rasulullah A Aselalu bersyukur kepada Allah dalam setiap keadaan, dan salah satu cara bersyukur dengan melakukan shalat malam. Hadis: "Sesungguhnya Rasulullah berdiri . hingga kedua kakinya bengkak. Maka ditanyakan kepadanya, 'Mengapa engkau melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?' Rasulullah menjawab, 'Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?Ao" (HR. Bukhari dan Musli. Kebiasaan dalam Memberi dan Berbagi Rasulullah A Aselalu membiasakan diri untuk memberi kepada orang lain. Hadis: "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. " (HR. Bukhari dan Musli. Kebiasaan dalam Menjaga Kebersihan Rasulullah A Asangat menjaga kebersihan dan menganjurkan umatnya untuk Hadis: "Kebersihan adalah sebagian dari iman. " (HR. Musli. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal 16-34 Kebiasaan-kebiasaan Rasulullah ini dapat menjadi teladan untuk diterapkan dalam sehari-hari (Elmontadzery et al. , 2. Tantangan Dan Solusi Tantangan dalam menerapkan kurikulum merdeka melibatkan peran guru, siswa, dan orang tua. Guru harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, berfungsi sebagai fasilitator pembelajaran mandiri, dan menciptakan lingkungan yang kondusif. Beberapa tantangan yang dihadapi meliputi keterbatasan sumber daya, kebutuhan pelatihan bagi guru, keterlibatan orang tua, akses teknologi untuk siswa, serta terbatasnya referensi yang (Oktaviani & Harwisi, 2. Beberapa solusi untuk meningkatkan mutu pendidikan berkaitan dengan kualitas tenaga Guru yang berkualitas harus memiliki penguasaan pengetahuan, keterampilan, kompetensi, kreativitas, dan rasa percaya diri. Keberhasilan dalam menerapkan kurikulum baru sangat bergantung pada kemampuan guru untuk menghadapi perubahan dan mengembangkan pembelajaran yang efektif serta bermakna. (Hasmi et al. , 2. Beberapa saran yang dapat dipertimbangkan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh guru dan siswa dalam penerapan Kurikulum Merdeka antara lain:(Kollo et al. , 2. Mengadakan pelatihan dan pengembangan profesional secara rutin bagi guru untuk meningkatkan kesiapan dan pemahaman mereka terhadap Kurikulum Merdeka. Melakukan perubahan dalam pendekatan penilaian untuk mencerminkan pencapaian keterampilan dan karakter yang diharapkan dalam Kurikulum Merdeka. Meningkatkan program pemberdayaan siswa dan pembelajaran mandiri agar siswa menjadi lebih mandiri dan aktif dalam proses pembelajaran. Transformasi Pendidikan Islam Melalui Pembiasaan di Sekolah Dasar: Kajian Berbasis Library Research Mendorong kolaborasi antara guru, siswa, orang tua, dan pihak terkait untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung implementasi Kurikulum Merdeka. Menyediakan akses yang memadai terhadap teknologi dan pelatihan terkait untuk mendukung siswa dalam memanfaatkan sumber daya digital. (Elmontadzery et al. , 2. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Konsep Pembiasaan dalam Pendidikan Islam Pembiasaan dalam pendidikan Islam berakar pada ajaran Nabi Muhammad A Adan diteruskan oleh para Khulafaur Rasyidin. Prinsipprinsip pendidikan pada masa itu, seperti keteladanan, pembentukan karakter, dan penyebaran ilmu pengetahuan, relevan dengan pendidikan modern. Pembiasaan melalui metode keteladanan, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Sina, sangat efektif dalam membentuk karakter peserta didik, terutama pada usia dini. Nilai-nilai Islami seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan toleransi dapat diinternalisasi melalui pembiasaan yang berulang-ulang. Inovasi Pembiasaan di Sekolah Dasar Pendidikan karakter di sekolah dasar memerlukan kolaborasi antara guru, orang tua, dan masyarakat. Program pembiasaan seperti salat dhuha, pembacaan Asmaul Husna, literasi Qurani, dan tahfidzul QurAoan menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai-nilai keislaman. Inovasi seperti pemanfaatan teknologi digital dan pendekatan ramah anak juga berkontribusi dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif untuk membentuk karakter siswa. Pendidikan Rasulullah A Aadalah teladan utama dalam membiasakan kebiasaan baik, seperti konsistensi dalam ibadah, akhlak mulia, kesederhanaan dalam makan dan minum, rasa syukur, kepedulian sosial, dan menjaga kebersihan. Kebiasaan ini menjadi panduan bagi umat Islam dalam membentuk karakter pribadi yang unggul dan bermanfaat bagi masyarakat. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam - Volume 3. Nomor 2. Tahun 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal 16-34 Saran