Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa Sebagai Bentuk Moderasi beragama Di SMP Karya Budi Putussibau Libertus SDS Karya Budi Putussibau boscoyohanes923@ gmail. Abstrak Latar Belakang masalah yang dibahas ialah Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa Sebagai Bentuk Moderasi Beragama di SMP Karya Budi Putussibau. Tujuan dari Penelitian ini, untuk mengetahui Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa Sebagai Bentuk Moderasi Beragama di SMP Karya Budi Putussibau, yakni membuka tahun ajaran pelajaran baru dengan Perayaan Ekaristi. Sebelum KBM merenungkan isi ayat Alkitab. Membuka dan mengakhiri pelajaran dengan doa, bertugas di gereja pada hari Pada bulan Kitab Suci Nasional mengadakan beraneka macam perlombaan kerohanian, retret tahunan, berziarah dan berdoa Rosario ke Gua Maria pada bulan Maria. Bentuk Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskritif kualitatif. Sumber data yang dilakukan dalam penelitian adalah: wawancara dengan Kepala SMP Karya Budi Putussibau, wawancara dengan Waka Kesiswaan, wawancara dengan Guru Agama Katolik dan Budi Pekerti, wawancara dengan Guru Badan dan Konseling, wawancara dengan Wali kelas VII, wawancara dengan Wali kelas Vi, wawancara dengan Wali kelas IX, wawancara dengan Siswa kelas VII sepuluh orang, wawancara dengan Siswa kelas Vi sepuluh orang, dan wawancara dengan Siswa kelas IX sepuluh orang. Alat pengumpulan data berupa observasi dan Pedoman wawancara. Penelitian 1-2 bulan (Juli 2. Kesimpulan dan implikasi penulisan ini menunjukkan bahwa dampak pendidikan karakter religius terhadap perilaku siswa di SMP Karya Budi Putussibau, yakni: toleransi, disiplin, saling menghargai antar teman maupun guru, solidaritas, membuang sampah pada tempatnya, mengikuti kegiatan misdinar di Gereja, lektor, lektris, pemazmur, mengikuti pendalaman Kitab Suci pada Bulan BKSN, retret, dan koor pada Perayaan Ekaristi Hari Minggu di Gereja. Kata kunci: Implementasi. Karakter Religius. Prilaku Abstract The background to the problem discussed is the Implementation of Religious Character Education on Student Behavior as a Form of Religious Moderation at Karya Budi Putussibau Middle School. The purpose of this research is to determine the implementation of religious character education on student behavior as a form of religious moderation at Karya Budi Putussibau Middle School, namely opening the new school year with a Eucharist celebration, before teaching and learning, reflecting on the contents of Bible verses, opening and ending lessons with prayer, serving at church at on Sundays. In the month of the National Bible, various spiritual competitions are held, annual retreats, pilgrimages and prayers of the Rosary to the cave of Mary in the month of Mary. The form of research used is qualitative descriptive research. The data sources used in the research were: interview with the Principal of Karya Budi Putussibau Middle School, interview with the Deputy Head of Student Affairs, interview with the Catholic Religion and Character Teacher, interview with the Body and Counseling Teacher, interview with the class VII Homeroom Teacher, interview with the class Vi Homeroom Teacher, interview with the Homeroom Teacher of class IX, interviews with ten class VII students, interviews with ten class Vi students, and interviews with ten class IX students. Data collection tools include observation and interview Research 1-2 months (July 2. The conclusions and implications of this writing show that the impact of religious character education on student behavior at Karya Budi Putussibau Middle School, namely: tolerance, discipline, mutual respect between friends and teachers, solidarity, throwing rubbish in its place, participating in church acolyte activities, lector, lectrist, psalmist. Participate in Bible study during BKSN Month, retreat, and choir at SundayAos Eucharist Celebration at Church. Keywords: Implementation of Religious Character. Behavior PENDAHULUAN Karakter merupakan hal yang sangat penting dan mendasar. Karakter adalah mustika hidup yang membedakan manusia dengan manusia lainnya. Dewasa ini, banyak sekali kasus-kasus degradasi moral yang terjadi di Indonesia. Salah satunya adalah krisis dalam dunia pendidikan. Banyak kalangan pelajar yang sering membolos, mencontek ketika ujian atau ulangan harian, berkelahi dengan teman dan sebagainya. Hal tersebut dikarenakan kurangnya penanaman karakter pada pesreta didik. Melihat kejadian tersebut maka sangat diperlukannya penanaman karakter sejak dini. Penanaman nilai-nilai karakter dapat dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Maraknya kasus-kasus degradasi moral, krisis dalam dunia pendidikan dan krisiskrisis yang lain, menyadarkan pemerintah bahwa krisis berkepanjangan yang terjadi pada saat ini berakar dan bersumber dari krisis karakter, sehingga strategi implementasi nilai karakter yang paling utama melalui sektor pendidikan. Untuk itu pemerintah menyiapkan berbagai kebijakan terkait dengan penguatan pendidikan karakter. Hal ini dapat dilihat dari rencana pemerintah menerapkan kurikulum baru tahun 2013. Kurikulum 2013 lebih menekankan pada pengembangan karakter disamping ketrampilan dan kemampuan Hal ini sejalan dengan maksud Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang mana pendidikan nasional harus berfungsi secara optimal sebagai wahana utama dalam pembangunan bangsa dan karakter. Dalam Bab II Pasal 3 UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan UU Nomor 20 tahun 2003 maka pendidikan karakter menjadi sebuah pembelajaran yang wajib diinternalisasikan sejak dini di semua jenjang pendidikan termasuk dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Menurut Yahya Khan (Jamal MaAoaruf Asmani, 2011:. , terdapat empat jenis karakter yang selama ini dikenal dan dilaksanakan dalam proses pendidikan, yaitu: pendidikan karakter berbasis nilai religius, pendidikan karakter berbasis nilai budaya, pendidikan karakter berbasis lingkungan, dan pendidikan karakter berbasis potensi diri. Penanaman nilai karakter dapat dimulai paling pertama adalah melalui pendidikan karakter berbasis nilai religius. Pendidikan karakter berbasis nilai religius ini mengacu pada nilainilai dasar yang terdapat dalam agama. Melalui kajian agama diajarkan tentang sebuah kebenaran dari wahyu Tuhan sehingga masing-masing individu mutlak mempercayainya. Pendidikan karakter berbasis nilai religius dapat memperbaiki dari setiap segi tindakan serta pola perilaku individu yang mengarah pada tata kerama dan nilai kesopanan. Oleh karenanya, pendidikan karakter berbasis nilai religius menjadi salah satu upaya dalam rangka mengatasi degradasi moral yang terjadi pada generasi penerus di Indonesia. Di sekolah sendiri, penerapan nilaiAenilai religius pada anak adalah tanggung jawab guru pendidikan agama. Melalui materi pendidikan agama, guru agama mengajarkan bagaimana bersikap sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman nilai-nilai religius melalui pendidikan agama juga menjadi salah satu upaya dalam rangka membentuk karakter religius pada peserta didik. Religius sendiri tidak hanya menyangkut kepada persoalan hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, melainkan juga menyangkut persoalan hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam sekitar. (Swandar 2. SMP Karya Budi Putussibau merupakan milik SMP Swasta Katolik Keuskupan Sintang yang pengelolaannya diserahkan kepada Kongregasi Bruder MTB. SMP Karya Budi bernaung pada Yayasan Pendidikan Sekolah Bruder Pontianak (YPSB) dan bercirikan karakter religius katolik. Berdasarkan observasi yang dilakukan, kegiatan yang menunjukkan pelaksanaan nilai religius yang ada di SMP Karya Budi Putussibau yaitu: membuka tahun ajaran pelajaran baru dengan Perayaan Ekaristi. Sebelum KBM (Kegiatan Belajar Mengaja. merenungkan isi ayat Alkitab sesuai dengan kalender liturgi. Membuka dan mengakhiri pelajaran dengan doa secara Katolik, bertugas membawakan koor di Gereja pada Perayaan Ekaristi Hari Minggu. Pada bulan Kitab Suci mengadakan pendalaman Alkitab dan beraneka macam perlombaan kerohanian seperti: lomba mazmur, lomba lektor, cerdas cermat Kitab Suci, lomba bercerita Ayat Alkitab (Story tellin. , dan paduan suara . Pada bulan Maria berziarah dan berdoa Rosario kegua Maria, serta mengikuti retret tahunan yang telah terjadwal oleh sekolah. Beberapa kegiatan religius tersebut diharapkan dapat berdampak pada perilaku siswa-siswi SMP Karya Budi Putussibau, khususnya kelas VII yang memerlukan pendampingan secara intens. Dalam hal ini menerapkan disiplin. Disiplin tepat waktu datang kesekolah dan disiplin mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran pada setiap bidang studi. Kemudian juga berkaitan dengan kenakalan remaja yang sekarang ini marak terjadi, yaitu: merokok, minum-minuman keras, tauran , balap liar, narkoba dan seks bebas. Kegiatan reiligius diimplementasikan sebagai bentuk membangun karakter pada siswa-siswi SMP Karaya Budi Putussibau menjadi pribadi yang bertanggung jawab, hormat kepada guru, hormat pada orang tua, beriman, toleransi, saling mengasihi dan menghargai antar peserta didik dilingkungan SMP Karya Budi, maupun ketika berada diluar lingkungan sekolah dan juga sebagai bentuk untuk membangun moderasi Beragama sejak dini yang nota bene siswa SMP Karya Budi tidak semuanya yang beragama Katolik, tetapi namun juga ada yang beragama Buddha. Hindu, dan Kristen, tidak mencontek waktu ulangan dan lain sebagainya. Membangun pondasi karakter reiligius pada siswa-siswi SMP Karya Budi Putussibau sebagai wujud membentuk manusia yang berkualitas, bermartabat, dan Hal ini selaras dengan program pemerintah membentuk "karakter anak bangsa melalui pendidikan riligius". Maka berdasarkan program pemerintah tersebut peneliti meneliti " Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa Sebagai Bentuk Membangun Moderasi beragama Di SMP Karya Budi Putussibau". METODE Dalam penelitian ini peneliti menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis Pendekatan kualitatif ini diartikan sebagai sebuah pendekatan yang berorentasi secara ilmiah, proses pelaksanaan dilakukan dengan instrumen tes seperti, obsevasi, wawancara, dan studi dokumentasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembahasan atas data yang diperoleh dalam lokasi penelitian tentang Implementasi Pendidikan Karakter Religiusitas Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau Berdasarkan data yang peneliti dapatkan selama penelitian ini, ditemukan berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala SMP Karya Budi Putussibau. Guru Kesiswaan. Guru Agama Katolik. Wali Kelas VII-IX, dan siswa-siswi SMP Karya Budi Putussibau Sebagai berikut: Cara Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku di SMP Karya Budi Putussibau menurut MT, sebelum KBM siswa terlebih dahulu berbaris dilapangan untuk mendengarkan bacaan Injil dan renungan yang dibawakan guru agama, yang sesuai dengan bacaan hari itu. Kemudian dalam isi renungan tersebut terdapat pesan yang bermakna, yakni berkaitan dengan perilaku siswa-siswi dilingkungan sekolah. Misalnya hidup disiplin. Selain itu juga siswa-siswi SMP Karya Budi Putussibau aktif didalam hidup mengereja di Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda. Siswa-siswi SMP Karya Budi Putussibau terlibat dalam kegiatan koor, misdinar, lektor, lektris, dan pemazmur. Kegiatan di Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda tersebut sudah terjadwal, yaitu: 1 kali dalam sebulan. Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi menurut LK, sebelum dan sesudah kegiatan belajar, mengajar (KBM) siswa diarahkan oleh guru untuk mengawali dan mengakhiri pelajaran dengan doa. Ini sebagai bentuk memohon kepada Tuhan agar diberi kesehatan, menyertai, membimbing dalam belajar, apa yang disampaikan oleh guru yang mengampu mata pelajaran tersebut dapat dipahami dan dimengerti. Kemudian juga bersyukur kepada Tuhan atas segala penyertaan-Nya yang telah diberikan sepanjang hari di sekolah. Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi menurut NR, pada pukul 12. 00 siang aktivitas belajar berhenti sejenak, yakni berdoa Doa Angelus. Siswa-siswi tanpa diingatkan oleh guru sudah tahu pada jadwal doa Mereka dengan hidmat mendaraskan Doa Angelus, sebagai bentuk ungkapan takwa kepada Tuhan dan penyerahan diri kepada-Nya sebagai sang pemberi kehidupan. Bentuk Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi menurut OT yaitu untuk kelas IX sebelum ujian sekolah terlebih dahulu mengikuti retret. Retret ini wajib diikuti oleh seluruh siswa kelas IX. Kegiatan retret sudah terjadwal oleh sekolah. Cara Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi menurut E yaitu bulan Rosario siswa diwajibkan Berdoa Rosario di Mereka juga mengadakan ziarah dan Berdoa Rosario ke Gua Maria, yang dikoordinir oleh OSIS. Kegiatan ini sebagai bentuk wujud penghormatan kepada Bunda Maria Sebagai Bunda Allah. Bunda Penebus. Kemudian setelah Berdoa Rosario siswasiswi mengadakan rekoleksi dan outbound di lokasi Gua Maria. Menurut D faktor-faktor yang menjadi penghambat untuk Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau yaitu pada renungan pagi ada siswa yang terlambat datang kesekolah, ada yang ribut disaat mendengarkan Sabda Tuhan, renungan pagi maupun berdoa. Maka Waka Kesiswaan memberikan teguran, arahan kepada siswa tersebut supaya tidak mengulanginya. Menurut F Cara Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku siswa di SMP Karya Budi yaitu ketika guru menjumpai siswa melakukan sesuatu hal yang tidak sesuai dengan prilaku karakter religius, guru menegur dan mengarahkan siswa tersbut supaya tidak mengulanginya. Tetapi namun kalau sudah berulang-ulang kali dilakukan, diarahkan ke BK (Badan Konselin. dan juga pemanggilan kepada orang tua. Menurut F faktor-faktor yang menjadi penghambat untuk Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Prilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau yaitu tidak disiplin dalam belajar, yakni: tidak mengerjakan tugas, ribut ketika belajar didalam kelas, dan mencontek ketika ulangan. Selain itu juga berkelahi dengan teman disekolah, tidak menghargai guru didalam kelas ketika menyampaikan pelajaran dan juga ketahuan merokok dilingkungan sekolah. Faktor-faktor yang menjadi pendukung Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku siswa di SMP Karya Budi menurut DK yaitu bermula dari diri saya sendiri misalnya ketika melihat teman melakukan tindakan tidak sesuai dengan prilaku religius, saya tidak membiarkannya begitu saja. Saya menegur dan menasehatinya, misalnya ketika teman ketahuan merokok dilingkungan sekolah, tidak masuk pada mata pelajaran tertentu seperti: matematika, dan Bahasa Inggris. Akan tetapi namun ketika nasehat dan teguran itu tidak diindahkan saya menyampaikan atau melaporkan hal tersebut kepada guru. Kemudian guru menindaklanjuti laporan tersebut dengan memanggil siswa tersebut untuk dibina dan diarahkan menjadi pribadi yang baik dan bertanggungjawab. Dampak Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau menurut KR yaitu bahwa bagi siswa-siswi yang sungguhsungguh melakukan sesuatu hal yang baik berkaitan dengan karakter religius, terutama berkaitan dengan prilaku baik, pihak sekolah memberikan penilaian. Hal tersebut berkaitan dengan prilaku ujarnya dan juga kriteria penilaian sudah tercantum dalam rapor sekolah. Bentuk Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi menurut ME yaitu bentuknya para guru juga memberikan keteladanan kepada siswa-siswi didalam melakukan kegiatan religius, sehingga dengan demikian para guru dapat dijadikan contoh didalam hidup Menggereja. Misalnya diluar sekolah aktif dilingkungan kring, seperti: koor, ibadat lingkungan, misa pada hari minggu di Gereja, lektor, lektris dan lain sebagainya. Cara Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku siswa di SMP Karya Budi menurut LC sama seperti yang dikatakan D, dalam pembelajaran kepada peserta didik yaitu dengan cara pembiasaan berdoa sebelum dan sesudah KBM, dan membaca Kitab Suci. Menurut W faktor-faktor yang menjadi pendukung untuk Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau sama dengan jawaban ME, yaitu bentuk keteladanan yang diberikan oleh guru dalam menerapkan karakter prilaku religius pada siswa-siswi di SMP Karya Budi Putussibau, misalnya dengan membuang sampah pada tempatnya, disiplin didalam segala hal. Disiplin datang kesekolah, disiplin dalam mengajar, dan juga misa pada hari minggu tepat waktu. Bentuk Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi menurut KA Yaitu dalam bentuk perlombaan yang berkenaan dengan kegiatan Misalnya pada Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) sekolah menyelenggarakan beraneka macam perlombaan seperti: lomba mazmur, lomba lektor dan lektris, lomba paduan suara . , lomba bertutur ayat Alkitab (Story tellin. , dan Cerdas cermat Kitab Suci. Kegiatan ini sudah menjadi program sekolah yang diperkasai oleh OSIS. Kemudian bagi yang memenangkan perlombaan tersebut mendapatkan hadiah. Dampak Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau menurut Br. KL yaitu: sebagai penangkis . pengaruh budaya luar yang dapat mempengaruhi peserta didik. Terutama melalui media sosial yang memuat konten negatif dan belum dapat peserta didik saring dengan baik. Selain itu dampak dari implementasi pendidikan karakter religius pada perilaku siswa antaralain: melatih peserta didik di SMP Karya Budi Putussibau untuk bertoleransi, dekat dengan Tuhan, menghargai sesama teman di sekolah maupun diluar sekolah, dan sadar diri bahwa kita semua adalah saudara. Cara Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi menurut Br. KL sama seperti yang dikatakan KA yaitu dari sekolah membuat program melalui Waka Kesiswaan, seperti: Doa pagi, renungan pagi. Doa Rosario. Ziarah Kegua Maria pada bulan Rosario, retret untuk penguatan karakter. Doa Angelus. BKSN. Misa Pembukaan tahun ajaran baru. Perayaan Hari Raya Gerejani Katolik, mengunjungi keluarga siswa yang sakit atau meninggal, dan mengumpulkan dana solidaritas. Maka dengan demikian peserta didik tahu bahwa dari pihak sekolah mengimplementasikan pendidikan karakter religius pada perilaku siswa di persekolahan SMP Karya Budi Putussibau. Selain itu juga ketika menjumpai siswa, melakukan hal yang tidak sesuai dengan karakter religius, siswa tersebut dipanggil dan dinasehati bahwa apa yang dilakukan itu salah, sehingga yang bersangkutan menyadari kesalahannya. Misalnya mencontek, ribut didalam belajar, dan tidak masuk kelas pada mata pelajaran tertentu, seperti matematika, dan Bahasa Inggris. Kemudian juga dari peserta didik sendiri ketika menjumpai temannya yang melakukan kesalahan, melaporkannya keguru piket dan atau kewali kelasnya. Selain itu di persekolahan SMP Karya Budi diadakan beraneka macam perlombaan, seperti: Lomba mazmur, lomba mimpin doa, dan lomba membuat renungan. Hal ini salah satu bentuk implementasi pendidikan karakter religius pada siswa. Keberhasilan dalam implementasi pendidikan karakter religius dapat dilihat bahwa siswa saat berdoa tenang, dan proaktif dalam kegiatan keagamaan. Faktor-faktor yang menjadi penghambat untuk Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau menurut Br. KL antaralain: Anak yang beragama lain perlu penyesuaian. Anak-anak yang berasal dari daerah pedalaman perlu pendampingan ekstra oleh Guru Agama, anak belum terbiasa berdoa, dan sekolah belum memiliki ruang doa/kapel. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala dalam Implementasi pendidikan karakter religius pada perilaku siswa yaitu: menyadarkan anak apapun agamanya, bahwa penanaman nilai-nilai religius di SMP Karya Budi Putussibau bukan untuk mengkatolikkan anak atau pribadi, melainkan menanamkan nilai-nilai kebaikan yang umum, melatih anak untuk lebih sadar bersikap rendah hati, mengoptimalkan peran wali kelas, guru agama, guru BK dalam mengimplementasikan karakter religius terhadap prilaku peserta didik. Selain itu juga membutuhkan dukungan dari orang tua, warga sekolah, dan alumni. Cara Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap perilaku siswa di SMP Karya Budi menurut Pak PJ selaku Waka Kesiswaan dan Guru Agama Katolik di SMP Karya Budi antaralain: bagaimana menanamkan kebiasaan yang baik, sehingga kebiasaan itu menjadi karakter Karakter itulah yang menentukan kualitas hidup mereka dan juga menentukan Iman mereka kepada Tuhan. Pagi-pagi membiasakan peserta didik untuk merenungkan Firman Tuhan dan renungan singkat, dan memulai kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan doa bersama. Selain itu memanfaatkan momen-momen penting seperti perayaan besar keagamaan, untuk menanamkan nilai-nilai Kristiani agar dihayati dan diwujudnyatakan dalam kehidupan yang nyata. Misalnya: kesetiakawanan, kepedulian terhadap sesama yang sakit, solidaritas, menghormati dan menghargai perbedaan. Pembinaan-pembinaan rohani seperti: rekoleksi dan retret, ziarah ke Gua Maria. Pendalaman Kitab Suci, koor, misdinar, lektor, lektris, dan mazmur. Menurut PJ perencanaan sekolah dalam Implementasi pendidikan karakter religius yaitu: dilakukan secara rutin, seperti: Doa pagi, renungan pagi, mendengarkan bacaan Kitab Suci. Doa Angelus jam 12. 00 siang, dan doa setelah kegiatan belajar mengajar (KBM). Menurut Pak PJ Faktor-faktor yang menjadi pendukung untuk Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau sama seperti dikatakan W, yang menjadi faktor pendukung dalam Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau yaitu melalui teladan yang diberikan oleh guru dapat dijadikan contoh peserta didik terkait dengan implementasi pendidikan karakter religius, yaitu: keteladanan dalam sikap berdoa, kebiasaan berdoa. Misa hari minggu di Gereja, nilai kejujuran, keterbukaan, subjektif dalam memberikan penilaian dan serta mendidik siswa tanpa sekat . ilih kasi. Selain itu faktor pendekatan pribadi yang dilakukan pada siswa maupun dengan orang tua siswa, dan kerjasama dengan guru-guru di SMP Karya Budi Putussibau. Sehingga kerjasama dengan guru-guru di sekolah dan pendekatan pada siswa maupun orang tua dirasa cukup untuk mengatasi kendala tersebut. Faktor pihak sekolah SMP Karya Budi Putussibau mendapat dukungan dari berbagai sumber dalam implementasi karakter religius tersebut. Antaralain: dari yayasan berupa dana untuk mengadakan kegiatan rohani, contohnya: retret, rekoleksi, dan lomba yang berkaitan dengan pembinaan Selain itu juga menjadi faktor pendukung dari pastor paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda Putussibau, yaitu: sarana gedung dan juga sebagai pemateri retret/rekoleksi, serta mendapat dukungan dari orang tua siswa yang notabene bukan beragama Katolik. Menurut PJ faktor-faktor yang menjadi penghambat untuk Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau diantaranya: karakter setiap siswa itu berbeda, latar belakang keluarga yang berbeda, misalnya: ada orang tua siswa yang tidak pernah aktif didalam hidup mengereja, maka akan berpengaruh pada siswa. Sebab di rumah yang menjadi teladan dan juga pendorong dalam hidup Mengereja bagi siswa adalah orang tua mereka. Selain itu di sekolah-sekolah tertentu tidak memiliki guru agama, sehingga sulit untuk memotivasi siswa supaya aktif ke Gereja untuk beribadah maupun misa pada hari Minggu. Dampak Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau menurut Sr. A selaku Guru Bimbingan dan Konseling yaitu: peserta didik dapat bersikap sopan, tahu saling mengharagai sesama teman dan juga mengharagai orang yang lebih tua usianya dari mereka, yang tidak serius dalam mendengarkan firman Tuhan pada pagi hari sebelum masuk kelas, menjadi lebih fokus. Siswa yang suka omong kasar, menyebut nama orang tua temannya, siswa yang sering ribut didalam kelas pada waktu KBM dan ketika dipanggil, dibina, diarahkan, dinasehati ada perubahan signifikan didalam prilaku dan mereka menjadi lebih tertib. Cara Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karaya Budi menurut Sr. A sama seperti yang dikatakan Pak PJ, misalnya: rekoleksi, mendapat tugas koor pada Perayaan Ekaristi hari Minggu di Gereja, ziarah ke Gua Maria pada bulan Mei dan Oktober, mengikuti pendalaman Kitab Suci pada BKSN tingkat SMP. Kemudian bentuk kegiatan yang dilaksanakan oleh persekolahan SMP Karya Budi Putussibau secara rutin dalam Implementasi Pendidikan Karakter Religius pada Perilaku Siswa antaralain: setiap hari sebelum masuk kelas doa bersama, dan mendengarkan ayat Kitab Suci, membuka dan menutup kegiatan sekolah dengan doa, pada pukul 12. 00 siang mendoakan Doa Angelus bersama. Menurut Sr. A yang dijadikan faktor pendukung dalam Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi yaitu beberapa aksi nyata guru tersebut dalam memberikan teladan dapat dijadikan contoh oleh siswa didalam berprilaku sebagai mahluk sosial. Terutama didalam lingkup persekolahan SMP Karya Budi Putusibau. Sebagai guru badan dan konseling cara Sr. A melakukan pendekatan dengan siswa-siswi disekolah sebagai berikut: menerima baik peserta didik, menyapa, mendengarkan curhat mereka, memberikan penguatan melalui nasehat bimbingan dan Menjaga kerahasiaan peserta didik ketika menceritakan permasalahan yang mereka alami. Kemudian selain itu sebagai faktor pendukung lainnya yaitu pembiasaan yang ditanamkan pada siswa misalnya: saling menyapa antar warga sekolah, disiplin, menyadarkan peserta didik supaya membuang sampah pada tempatnya, tidak mengeluarkan kata-kata kasar antar warga sekolah, melakukan pergaulan yang sehat, mengunakan medsos dengan bijak dan diingatkan terus-menerus oleh pihak sekolah, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengekspresikan diri melalui bakat, minat, yang mereka miliki. Contoh: mengikuti kegiatan rohani yang diadakan oleh sekolah dan kegiatan ekstrakulikuler. Kemudian melalui aturan-aturan atau tatatertib yang diberikan sekolah wajib dipatuhui oleh peserta didik. Dengan demikian beberapa dukungan kegiatan tersebut cukup membantu dalam Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi. Faktor-faktor yang menjadi penghambat untuk Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau menurut Sr. yaitu pertama bahwa latar belakang anak-anak yang berasal dari pedalaman kurang mendapat binaan, pendampingan, motivasi, teladan dari orang tua didalam hidup rohani/religius. Sehingga untuk implementasi karakter religius terhadap prilaku siswa tersebut penuh dengan kesabaran oleh guru dan juga orang yang terlibat didalam pembinaan rohani. Selain itu juga latar belakang keluarga yang broken home dan juga anak yang dimanjakan oleh orang tuanya, dalam penomena ini maka dari pihak sekolah mengadakan pendekatan pribadi, khususnya bagi anak yang bermasalah. Selain itu juga dijumpai oleh guru piket, bahwa banyak siswa yang datang terlambat disekolah. Guru piket selalu mengingatkan dan menasehati terus-menerus, agar disiplin waktu datang kesekolah bagi siswa yang terlambat. Dampak Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Prilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau menurut Pak Y selaku wali kelas 7 yaitu membentuk prilaku peserta didik lebih baik dan bertanggungjawab. Faktor-faktor yang menjadi pendukung dalam Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Prilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau menurut Pak Y yaitu pertama-tama dari diri saya sendiri sebagai guru dan wali kelas, misalnya ketika melihat atau menjumpai siswa melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan karakter religius yaitu: memberikan teguran kepada peserta didik dan juga nasehat. Tetapi namun kalau yang dilakukan sudah terlewat batas, siswa tersebut diberi sanksi sesuai dengan kesalahan yang dilakukan. Misalnya: mencuri disekolah, ketahuan merokok dilingkungan sekolah, dan sering kali terlambat. Dampak Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau menurut Pak RR selaku wali kelas 8 yaitu peserta didik memiliki karakter yang berakhlak mulia dan memiliki kepedulian terhadap sesama dalam suatu perbedaan dan hal tersebut selaras dengan warga persekolahan SMP Karya Budi yang heterogen. Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau menurut Pak RR sudah terprogram dengan baik. Misalnya: retret, pengembangan karakter, pendalaman iman, ini sudah menjadi agenda sekolah yang dikoordinir oleh Waka Kesiswaan bersama OSIS. Faktor-faktor yang menjadi penghambat untuk Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau menurut Pak RR kurangnya pengetahuan tentang agama yang dimiliki peserta didik, malas membaca Kitab Suci, dan tidak ada kemauan untuk mencari pengetahuan tentang agama. Faktorfaktor yang menjadi pendukung untuk Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau menurut Pak RR yaitu dengan melibatkan siswa dalam pengembangan iman, misalnya koor pada Perayaan Ekaristi hari minggu di Gereja, lektor, lektris, dan misdinar. yang menjadi pendukung lainya yaitu memberikan motivasi tentang pentingnya pendidikan karakter religius bagi peserta didik melibatkan semua guru. Dampak Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau menurut Ibu FED selaku wali kelas 9 yaitu dapat mengubah prilaku siswa dari tidak baik menjadi baik sesuai dengan ajaran agama yang diyakini dan norma-norma yang berlaku, baik di sekolah maupun di masyarakat. Cara Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau menurut Ibu FED Yaitu dengan cara memasukkan Implementasi Pendidikan Karakter Religius terhadap Prilaku Siswa didalam modul ajar pendidikan karakter religius oleh guru setiap mata pelajaran. Menurut Ibu FED sama seperti yang dikatakan Pak Y bahwa bentuk kegiatan yang dilakukan secara rutin oleh sekolah dalam pengimplementasian pendidikn karakter religius terhadap prilaku siswa yaitu doa bersama setiap pagi. Doa Angelus pada pukul 12. 00 siang, setelah KBM diakhiri dengan Doa, kemudian struktur kelas ada bagian seksi kerohanian untuk mengkoordinir petugas doa didalam kelas, retret, dan Misa pembukaan tahun ajaran baru. Faktor-faktor yang menjadi pendukung untuk Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau menurut Ibu FED yaitu keteladanan yang diberikan oleh guru dalam pengimplementasian pendidikan religius Terhadap Perilaku Siswa dengan rajin berdoa pada setiap waktu, saling menghormati antar warga sekolah, menjaga kebersihan lingkungan sekolah, yakni membuang sampah pada Cara Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karaya Budi Putussibau menurut Ibu FED sama seperti yang dikatakan Sr. kepada peneliti. Ibu FED menjelaskan bahwa sekolah sering mengadakan perlombaan untuk seluruh peserta didik terkait dengan Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa, yaitu berupa perlombaan pada Bulan Kitab Suci Nasional. Antara lain: cerdas cermat Kitab Suci, lomba lektor, lomba lektris, lomba renungan, dan lomba paduan suara. Dampak Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi menurut Ibu FED selaras dengan jawaban Pak PJ, yaitu dampaknya peserta didik berani tampil di Gereja, ketika bertugas membawakan lektor, lektris, pemazmur, misdinar, padahal sebelumnya tidak berani. Kemudian saling berkerjasama antar teman berkaitan dengan solidaritas, misalnya ketika ada warga sekolah maupun orang tua siswa yang meninggal atau sakit, mereka mengumpulkan dana untuk sumbangan sebagai wujud persaudaraan dan kekeluargaan sebagai warga persekolahan SMP Karya Budi Putussibau. Selain itu juga ada perubahan sikap pada diri peserta didik, yang dulunya tidak disiplin datang kesekolah, menjadi disiplin. Yang dulunya suka bersikap kasar pada sesama temannya menjadi lebih penyabar, dan yang dulunya suka buat onar didalam kelas . ketika guru menerangkan pelajaran, dengan berlahan-lahan menjadi tenang dan tidak ribut lagi. Faktor-faktor yang menjadi pendukung didalam Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa di SMP Karya Budi menurut FED yaitu yang dilakukan oleh pihak sekolah adalah adanya pertemuan/rapat guru. OSIS, dan komite. Dalam rapat tersebut dibahas hal-hal yang berkaitan dengan prilaku siswa dilingkungan sekolah, banyak ditemui siswa yang datang terlambat, merokok, ketika belajar tidak serius, berkelahi dan lain sebagainya. Maka, untuk mengatasi problem tersebut dicarilah solusi yang tepat yaitu: siswa itu bukan halnya sekedar menimba ilmu/pengetahuan di sekolah, tetapi namun juga perlu diimbangi dengan Implementasi Pendidikan Karakter Religius pada Perilaku Siswa di sekolah. Pendekatannya melalui retret/rekoleksi yang banyak mengupas tentang prilaku yang kurang baik, diarahkan supaya baik oleh pemateri. Menurut Ibu FED dengan solusi cara ini sangat membantu didalam mengatasi problematik yang terjadi, berkaitan dengan prilaku siswa disekolah. Selain itu juga melalui renungan dan bacaan Kitab Suci yang dibawakan oleh kesiswaan yang notabene pengampu pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti. Didalam renungan tersebut terungkap pesan-pesan moral untuk peserta didik berkenaan dengan prilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari. Melalui renungan tersebut dapat menggugah siswa dalam berefleksi pada prilaku kurang baik dalam diri mereka dan sedikit demi sedikit mengubah prilaku yang kurang baik tersebut menjadi pribadi yang baik. Selain itu dukungan lainnya didalam Implementasi Pendidikan Karakter Religius pada Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau menurut penjelasan Ibu FED kepada peneliti, melibatkan beberapa elemen, yakni: kerjasama antar guru dan siswa, interen guru, dan juga peran orang tua siswa. Dengan adanya dukungan kerjasama dari berbagai pihak dalam Implementasi Karakter Religius pada Prilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau, baik guru, siswa, maupun orang tua siswa, hasilnya akan signifikan. Karena proses pendampingan Implementasi Karakter Religius pada Perilaku Siswa, bukan halnya dilakukan di sekolah, akan tetapi namun juga di rumah. Yang berperan untuk melakukan pendampingan di rumah yaitu dari pihak orang tua. Kemudian juga dari pihak peserta didik harus terbuka, mau menerima segala aspek Implementasi Pendidikan Karakter Religius, dan dengan demikian hasil dari pendampingan tersebut akan terlihat pada prilaku siswa, yaitu: prilaku baik. Prilaku baik bukan halnya dilakukan di sekolah, akan tetapi namun juga dilakukan di masyarakat, dan juga dilingkungan Dalam penelitian tindakan kelas oleh peneliti, pada pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti. PJ selaku pengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Implementasikan Pendidikan Karakter Religius pada Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau dengan cara melalui materi pelajaran Agama Katolik bertemakan AuTugas Ku Sebagai Citra AllahAy. PJ menjelaskan kepada siswa sebagai Dalam kisah penciptaan dikatakan bahwa manusia diciptakan sebagai citra Allah, artinya serupa dan segambar dengan Allah. Kata AuserupaAy dan AusegambarAy, sekaligus melukiskan secara tepat bahwa manusia dan Allah berbeda. Sejauh terlukiskan dalam Kitab Suci, istilah citra Allah itu hanya ikatakan pada manusia, tidak dikenakan pada ciptaan Tuhan lainnya. Hanya manusialah yang disebut citra Allah. Karena manusia diciptakan sebagai citra Allah, manusia memiliki martabat sebagai pribadi: ia bukan hanya sesuatu, melainkan seseorang. Ia mengenal diri sendiri, menjadi tuan atas diri sendiri, mengabdikan diri dalam kebebasan, dan hidup dalam kebersamaan dengan orang lain, dan dipanggil membangun relasi dengan Allah, pencipta-Nya. Sebagai citra Allah, manusia sepantasnya memancarkan diri Allah. Maka kalau Allah Maharahim, manusia pun harus penuh pengampunan. kalau Allah Mahabaik, maka manusia pun harus bermurah hati. Sebagai citra-Nya. Allah melengkapi manusia dengan akal budi, kebebasan, dan hati nurani. Kemampuan-kemampuan dasar itulah yang membedakan antara manusia dan ciptaan Tuhan lainnya. Ia adalah ciptaan Allah yang bermartabat luhur. Kemudian PJ menyebutkan pokok-pokok penting yang wajib dilakukan Ausebagai citra AllahAy kepada peserta didik yaitu: sebagai citra Allah kita wajib menjaga, merawat, dan melestarikan lingkungan hidup. Hal itu selarsa dalam Kitab Kejadian, telah secara jelas menyebutkan tugas manusia sebagai citra Allah itu. Allah memang menciptakan manusia, langit dan bumi beserta isinya baik adanya. Secara khusus kepada manusia Allah menugaskan untuk beranak cucu dan bertambah banyak. memenuhi bumi dan menaklukkannya, menguasai ciptaan Allah lainnya . ihat Kejadian. 1: 26-30, 2: 15-. Tetapi penugasan tersebut perlu ditempatkan dalam konteks keselamatan yang dikehendaki oleh Allah, yakni agar semua tugas tersebut tertuju demi keselamatan Keselamatan itu akan tercapai bila manusia turut menghargai ciptaan Allah Manusia tidak dapat bersikap sewenang-wenang atas kuasa dan tugas yang diberikan oleh Allah. Manusia harus menjalankan panggilannya sesuai dengan kehendak Allah yang tampak dalam kesadaran tentang hal-hal berikut: Segala sesuatu berasal dan diciptakan oleh Allah dan terarah kepada pencipta-Nya. Setiap makhluk memiliki kebaikan. Semua makhluk dan ciptaan Tuhan mempunyai ketergantungan satu sama lain dan saling melengkapi secara timbal balik. Melalui pelajaran ini, perlu disadari adanya keprihatinan yang ditimbulkan oleh perusakan ciptaan Tuhan yang dilakukan oleh manusia. Itu semua diakibatkan oleh egoisme dan keserakahan, seringkali melampaui tanggung jawab manusia dalam melaksanakan tugas yang telah diberikan oleh Allah. Kesalahan dalam melaksanakan tugas sebagai citra Allah pada akhirnya mengancam keselamatan manusia. Maka saatnya kita untuk bertindak mulai dari hal-hal yang sederhana dalam mewujudkan penugasan dari Allah tersebut. Contohnya dilingkungan sekolah kita harus menjaga dan merawatnya dengan membuang sampah pada tempatnya. Dilingkungan rumah tinggal misalnya: tidak menebang pohon, tidak membuang sampah didalam parit maupun selokan, tidak menambang emas secara liar, dan lain Sebagai citra Allah PJ menyampaikan kepada muridnya, kita bukan halnya ditugasi oleh Allah untuk menjaga, merawat, dan melestarikan alam, tetapi namun juga saling menghormati satu samalain sebagai manusia . itra Alla. contohnya toleransi, berprilaku sopan-santun dilingkungn sekolah maupun diluar lingkungan sekolah, tidak terjerumus pada narkoba, merokok belum saatnya, jujur, disiplin, menghargai guru di dalam kelas ketika belajar . idak ribu. , berpacaran yang sehat dan lain sebagainya. Maka demikian kita sebagai citra Allah dapat berkerjasama dengan-Nya dalam melestarikan ciptaan pada setiap komponen. KESIMPULAN Cara Implementasi Pendidikan Karakter Religius pada Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau meliputi: Doa Pagi. Membaca dan merenungkan Sabda Tuhan. Doa Angelus pada pukul 12. 00 siang. Doa sebelum dan sesudah KBM. Retret. Ziarah dan Berdoa Rosario di Gua Maria pada bulan Mei dan Oktober. Misdinar. Lektor. Lektris. Bertugas koor pada Perayaan Ekaristi di Gereja. Melalui Pelajaran Agama Katolik dan Budi pekerti. Pada Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) mengikuti pendalaman Kitab Suci tingkat SMP, lomba lektor, lomba lektris, cerdas cermat Kitab Suci, lomba cerita Kitab Suci, lomba mazmur, dan lomba paduan suara. Faktor-faktor yang menjadi pendukung yang ditemui dalam Implementasi Pendidikan Karakter Religius pada Perilaku Siswa di SMP Karya Budi Putussibau antaralain: Menyadarkan Peserta didik apapun agamanya, bahwa penanaman nilai-nilai religius di SMP Karya Budi Putussibau bukan untuk mengkatolikkan peserta didik, melainkan menanamkan nilai-nilai kebaikan yang umum, melatih Peserta didik untuk lebih sadar bersikap rendah hati, mengoptimalkan peran wali kelas, guru agama, guru BK dalam implementasi karakter religius terhadap prilaku peserta didik, dukungan dari orang tua, warga sekolah, dan alumni, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengekspresikan diri melalui bakat, minat, yang mereka miliki, melalui aturan-aturan atau tatatertib yang diberikan sekolah wajib dipatuhi oleh peserta didik, dari dewan guru dengan memberikan pembinaan kepada peserta didik terkait dengan kegiatan religius, pendekatan pribadi yang dilakukan pada siswa maupun dengan orang tua siswa, dan kerjasama dengan guru-guru, dukungan dari yayasan berupa dana untuk mengadakan kegiatan rohani, contohnya: retret, rekoleksi, dan lomba yang berkaitan dengan pembinaan rohani. Selain itu juga mendapat dukungan dari pastor paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda Putussibau, yaitu: sarana gedung dan juga sebagai pemateri retret/rekoleksi, serta mendapat dukungan dari orang tua siswa yang notabene bukan beragama Katolik, dan pertemuan/rapat guru. OSIS, dan komite Dampak Implementasi Pendidikan Karakter Religius Terhadap Perilaku Siswa yang ditemui nampak pada aktivitas di sekolah SMP Karya Budi Putussibau antaralain: toleransi antar warga sekolah sebagai bentuk mengimplementasikan moderasi beragama sejak dini, yang notabene siswa SMP Karya Budi berlatar belakang multi Agama, semangat solidaritas yang tinggi antar warga sekolah bila mengalami kesulitan/musibah, disiplin, jujur, menjaga dan merawat lingkungan sekolah, hormat pada guru, dan bersikap Kesetiaan dalam mengikuti pendidikan dan implementasi karakter religius terhadap perilaku siswa dapat membentuk dan menempa prilaku peserta didik lebih baik dan berkembang, sehingga kedepannya dapat menjadi manusia yang berilmu, berkarakter, berbudaya, dan beriman sesuai dengan harapan dan cita-cita guru pada umumnya, khususnya orang tua. REFERENSI