PUSAKA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 2 . Desember 2025 E-ISSN: 3062-942X The article is published with Open Access at: https://journal. id/index. php/pusaka Peningkatan Kompetensi Guru dalam Pengolahan Video Pembelajaran melalui Pelatihan Aplikasi CapCut Isna Rezkia Lukman A. Universitas Malikussaleh. Lhokseumawe. Indonesia Agus Muliaman. Universitas Malikussaleh. Lhokseumawe. Indonesia Islami Fatwa. Universitas Malikussaleh. Lhokseumawe. Indonesia A rezkia. lukman@unimal. Abstract: Implementasi Kurikulum Merdeka dan tuntutan pendidikan di era Society 5. 0 menuntut guru untuk mampu memanfaatkan teknologi digital secara pedagogis, salah satunya melalui pengembangan video pembelajaran yang mendukung pembelajaran diferensiasi. Namun, masih terdapat kesenjangan antara tuntutan tersebut dan kompetensi guru dalam mengolah video pembelajaran secara efektif. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi teknis dan pedagogis guru dalam pembuatan video pembelajaran berbasis diferensiasi melalui pelatihan penggunaan aplikasi CapCut. Metode yang digunakan berupa lokakarya dan pendampingan berkelanjutan yang melibatkan 44 guru kimia dari 24 sekolah menengah di Kabupaten Bireuen. Pelatihan dilaksanakan melalui tahapan terstruktur yang meliputi pengenalan aplikasi, penyampaian materi dasar pengeditan video, penyusunan storyline dan naskah, praktik langsung, serta evaluasi melalui diskusi dan tanya jawab. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebanyak 30 guru . %) mengalami peningkatan kompetensi yang signifikan, 8 guru . %) berada pada kategori cukup meningkat, dan 6 guru . %) tidak menunjukkan peningkatan yang berarti. Guru yang mengalami peningkatan mampu menghasilkan video pembelajaran yang lebih terstruktur, komunikatif, dan sesuai dengan prinsip pembelajaran Variasi hasil pelatihan dipengaruhi oleh perbedaan pengalaman awal dan literasi teknologi peserta. Secara keseluruhan, kegiatan ini menunjukkan bahwa pelatihan berbasis praktik dan pendampingan menggunakan aplikasi yang mudah diakses seperti CapCut efektif dalam meningkatkan kompetensi guru serta berpotensi mendukung penguatan pembelajaran digital di Keywords: Video pembelajaran. CapCut. Kurikulum Merdeka, pembelajaran diferensiasi. Received December 11, 2025. Accepted December 29, 2025. Published December 31, 2025 Published by Mandailing Global Edukasia A 2025. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. INTRODUCTION Implementasi Kurikulum Merdeka menuntut guru untuk mampu menerapkan pembelajaran diferensiasi serta memanfaatkan teknologi digital dalam menciptakan pengalaman belajar yang bermakna. Keberadaan era Society 5. 0 menegaskan pentingnya sumber daya manusia yang tidak hanya terampil secara akademis, tetapi juga mampu beradaptasi dalam penggunaan teknologi, memiliki kreativitas, dan memiliki karakter yang kokoh (Suherman et al. , 2024. Widjaja et al. , 2. Salah satu tuntunan yang ada saat ini adalah kemampuan guru dalam mengembangkan media pembelajaran digital sesuai dengan prinsip pembelajaran diferensiasi. Video pembelajaran menjadi media yang populer karena melalui video mampu dihubungkan dengan audio, narasi singkat dan audio sehingga sesuai dengan gaya belajar siswa. Pelatihan pengolahan video pembelajaran melalui aplikasi CapCut menjadi salah satu strategi pengembangan profesional guru yang relevan dengan kebutuhan pendidikan di era digital (Heriyani et al. Kenmahdy et al. , 2025. Revola et al. , 2. Fakta yang terjadi di lapangan ditemukan kesenjangan antara tuntutan pembelajaran digital dan kompetensi guru dalam videografi pendidikan. Banyak guru yang masih menggunakan keterlibatan siswa dan kurang optimalnya implementasi pembelajaran diferensiasi di kelas (Fauziyah et al. , 2025. Mustami, 2. Pentingnya isu ini menguatkan implementasi kurikulum merdeka yang kini berfokus pada pembelajaran berpusat pada peserta didik, pemanfaatan teknologi digital, dan penguatan kompetensi abad ke-21 (Dianto et al. , 2025. Hafiz et al. , 2. Video ini dirancang dengan baik menyesuaikan sarana untuk menyesuaikan konten, tempo dan pendekatan belajar sesuai karakteristik siswa. Namun, pemanfaatan potensi tersebut terikat pada kompetensi guru dalam mengolah video yang dilakukan secara pedagogis dan teknis (Rudini & Saputra, 2022. Sulistyarini & Fatonah, 2. Berbagai penelitian telah menyatakan bahwa pelatihan berbasis praktik langsung dengan aplikasi yang mudah diakses dan relevan dengan kebutuhan guru dapat meningkatkan keterampilan pedagogik dan teknologi secara signifikan (Nurhidayah. Wahyuni & Haryanti, 2. Salah satu perangkat lunak pengeditan video yang userfriendly dan banyak fitur yang berpotensi menjadi solusi praktis untuk meningkatkan kompetensi guru dalam pengolahan video pembelajaran digital. Sebagian besar penelitian menekankan pentingnya literasi digital guru serta penggunaan media audiovisual untuk meningkatkan potensi hasil belajar dan motivasi siswa (Resti et al. , 2024. Safitri et al. Selain itu, beberapa pelatihan video juga mampu meningkatkan keterampilan guru dalam teknis memproduksi konten pembelajaran. Namun masih ada beberapa kekurangan dalam kajian dan praktik sebelumnya. Pertama, sejumlah pelatihan video edukasi lebih menekankan pada elemen teknis saja, tanpa menghubungkannya secara langsung dengan pembelajaran yang berbeda serta kebutuhan pengajaran siswa. Kedua, aplikasi pengeditan video sering kali tidak cocok dengan sifat guru, yang menyebabkan rendahnya kelangsungan praktik setelah pelatihan. Ketiga, pengabdian ini mengabungkan aspek videografi pendidikan serta diferensiasi belajar dalam satu pelatihan Keterbatasan ini mengindikasikan perlunya suatu model pelatihan yang tidak hanya memperbaiki keahlian teknis dalam editing video, tetapi juga meningkatkan pemahaman pendidik mengenai peran pedagogis video sebagai alat pembelajaran yang berbeda dalam lingkungan pembelajaran digital. Pendekatan pelatihan yang holistik, yang menggabungkan elemen pembelajaran yang beragam, videografi pendidikan, serta penerapan teknologi digital lewat aplikasi CapCut. Pelatihan ini dibuat dengan fokus pada praktik langsung, para guru tidak hanya memahami teori, tetapi juga menciptakan produk video pembelajaran yang relevan dan aplikatif. Hipotesis atau pernyataan utama yang diajukan dalam pengabdian ini adalah bahwa pelatihan mengenai penggunaan aplikasi CapCut sehingga memperbaiki kemampuan guru dalam mengedit video untuk pengajaran baik dari segi teknis videografi maupun dari pedagogis yang mendukung pembelajaran yang beragam dalam pendidikan digital. METHODS Kegiatan pengabdian ini menerapkan rancangan pemberdayaan yang berfokus pada masyarakat dengan menggunakan metode lokakarya dan pendampingan yang berlangsung berkelanjutan, yang menjadikan guru sebagai peserta utama dalam pengembangan kompetensinya. Pelaksanaan kegiatan ini mencakup pemaparan materi, praktek langsung, dan penilaian hasil untuk meningkatkan pemahaman konseptual serta kemampuan teknis guru dalam membuat video pembelajaran. Pendampingan dilakukan secara terus menerus untuk memastikan bahwa keahlian yang didapat dapat diterapkan dengan efektif dalam kegiatan pembelajaran digital. Peserta dalam kegiatan pengabdian ini melibatkan 44 pengajar kimia yang berasal dari 24 sekolah menengah yang terdapat di Kabupaten Bireuen. Setiap peserta memiliki beragam keterampilan mengajar, baik dari segi durasi kerja maupun tipe institusi pendidikan, dan menunjukkan variasi dalam penguasaan teknologi digital. Keanekaragaman karakteristik para peserta menjadi faktor penting saat merancang dan melaksanakan kegiatan, sehingga pendekatan pelatihan disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta dengan cara yang berbeda-beda dan mendorong keterlibatan aktif sepanjang berlangsungnya kegiatan Kegiatan pengabdian dimulai dengan sesi perkenalan antara tim pelaksana dan peserta guna membangun komunikasi awal dan pelatihan yang aktif. Pada fase ini, pelaksana mengungkapkan tujuan serta manfaat pelatihan dalam pengabdian kepada masyarakat, terutama untuk meningkatkan kompetensi guru dalam pembuatan video pembelajaran sebagai hal utama dalam pembelajaran digital. Tujuan disampaikan agar peserta mendapatkan gambaran menyeluruh tentang alur kegiatan dan hasil yang diinginkan setelah pelatihan selesai. Langkah berikutnya adalah memperkenalkan aplikasi CapCut yang meliputi fungsifungsi, antarmuka, serta fitur utama yang mendukung proses penyuntingan video Dalam sesi ini, peserta diarahkan untuk memahami alat yang digunakan, sehingga memiliki pengetahuan dasar sebelum memasuki tahap praktik. Pengenalan aplikasi difokuskan pada fitur-fitur yang relevan dengan kebutuhan dalam pembelajaran, seperti pengaturan klip video, audio, teks dan elemen visual lainnya yang mendukung. Materi selanjutnya menjelaskan tentang pengantar pengeditan video, termasuk metode pemotongan video, penambahan efek visual, transisi antar klip, serta penyisipan teks dan suara. Tujuan dari penyampaian materi ini adalah agar peserta dapat memahami fitur dasar dalam proses pengeditan menggunakan aplikasi CapCut serta dapat menciptakan video pembelajaran yang lebih menarik dan komunikatif. Selain aspek teknis, peserta juga diberi pemahaman mengenai pentingnya penyusunan storyline dan naskah sebagai panduan alur kerja dalam pembuatan video pembelajaran yang terstruktur, sistematis, dan sesuai dengan tujuan belajar. Setelah presentasi materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik editing video singkat menggunakan aplikasi CapCut. Di fase ini, peserta diikutsertakan secara aktif untuk menerapkan pengetahuan teoretis yang telah dipelajari ke dalam praktik nyata, dengan bimbingan dari tim pelaksana. Praktik langsung ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman peserta sekaligus meningkatkan kemampuan teknis dalam mengolah video Sesi pelatihan diakhiri dengan diskusi dan tanya jawab yang memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengungkapkan tantangan, berbagi pengalaman, serta memberikan masukan terkait pelaksanaan pelatihan, sehingga proses pengabdian dapat berlangsung secara reflektif dan berkelanjutan. Pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan yang terstruktur. Tahap pertama diawali dengan kegiatan pembukaan berupa perkenalan antara tim pelaksana dan peserta pelatihan. Pada tahap ini disampaikan tujuan, ruang lingkup, serta manfaat pelatihan sehingga peserta memiliki pemahaman yang jelas mengenai arah dan capaian kegiatan yang akan dilaksanakan. Tahap kedua berupa pengenalan aplikasi CapCut sebagai perangkat utama dalam pengeditan video. Peserta diperkenalkan pada antarmuka aplikasi serta fungsi fitur-fitur utama yang tersedia, sehingga peserta memiliki pengetahuan awal mengenai penggunaan aplikasi sebelum memasuki tahap praktik. Tahap ketiga adalah penyampaian materi dasar pengeditan video. Materi meliputi teknik pemotongan klip video, penambahan efek visual, transisi antar klip, serta penyisipan teks. Pada tahap ini, peserta dibimbing untuk memahami prinsip dasar editing video menggunakan CapCut sebagai media pembelajaran. Tahap keempat berfokus pada penjelasan pentingnya penyusunan storyline dan script dalam proses pembuatan video. Peserta diberikan pemahaman mengenai alur cerita, struktur penyampaian materi, dan perencanaan konten video agar hasil video yang dihasilkan lebih terarah, sistematis, dan komunikatif. Tahap kelima adalah kegiatan praktik langsung, di mana peserta diminta untuk mengedit video pendek menggunakan aplikasi CapCut berdasarkan materi yang telah Pada tahap ini, tim pelaksana melakukan pendampingan secara intensif untuk membantu peserta mengatasi kendala teknis yang muncul selama proses pengeditan. Tahap terakhir adalah evaluasi melalui diskusi dan sesi tanya jawab. Peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman, kendala, serta masukan selama pelatihan berlangsung. Tahap ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta serta sebagai dasar perbaikan dan pengembangan kegiatan pelatihan pada tahap RESULTS Pelaksanaan kegiatan pelatihan pengolahan video pembelajaran dengan menggunakan aplikasi CapCut secara umum berjalan sesuai dengan tahapan yang telah direncanakan. Pada tahap pembukaan, proses perkenalan antara tim pelaksana dan peserta berlangsung dengan baik dan mampu menciptakan suasana yang kondusif. Penyampaian tujuan, ruang lingkup, serta manfaat pelatihan memberikan gambaran awal yang jelas bagi peserta mengenai arah kegiatan. Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tingkat pemahaman awal peserta terhadap tujuan pelatihan masih bervariasi, terutama dipengaruhi oleh perbedaan pengalaman peserta dalam penggunaan teknologi dan media digital sebelumnya. Pada tahap pengenalan aplikasi CapCut, sebagian besar peserta mampu mengikuti penjelasan mengenai antarmuka dan fungsi fitur utama aplikasi. Peserta yang telah memiliki pengalaman dasar dalam pengeditan video menunjukkan respons yang lebih cepat dalam memahami materi, sementara peserta dengan pengalaman terbatas memerlukan waktu lebih lama untuk beradaptasi. Hal ini mulai terlihat pada tahap berikutnya, yaitu penyampaian materi dasar pengeditan video. Meskipun materi disampaikan secara sistematis, tidak semua peserta dapat langsung menguasai teknik pemotongan video, penambahan efek, transisi, dan teks secara optimal dalam waktu yang sama. Gambar 1. Pelatihan pengedita menggunakan capcut dari perekaman kamera Tahap penyusunan storyline dan script memberikan kontribusi penting dalam membangun pemahaman konseptual peserta mengenai perencanaan video pembelajaran. Peserta yang mampu mengintegrasikan aspek teknis dengan perencanaan konten menunjukkan hasil video yang lebih terarah dan komunikatif. Namun, sebagian peserta masih mengalami kesulitan dalam menyusun alur cerita yang sistematis, sehingga hasil video yang dihasilkan cenderung masih bersifat teknis dan belum sepenuhnya mendukung tujuan pembelajaran. Pada tahap praktik langsung, realitas pelaksanaan menunjukkan adanya perbedaan yang cukup signifikan dalam tingkat keterampilan peserta. Peserta yang aktif dan memiliki pengalaman awal mampu mengimplementasikan materi pelatihan secara lebih mandiri dan kreatif. Sebaliknya, peserta yang belum terbiasa dengan aplikasi pengeditan video membutuhkan pendampingan yang lebih intensif untuk mengatasi kendala teknis, seperti pengoperasian fitur, manajemen timeline, dan sinkronisasi audiovisual. Hasil dari pelatihan pengolahan video pembelajaran menunjukkan adanya variasi dalam tingkat peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta setelah mengikuti kegiatan tersebut. Berdasarkan data evaluasi yang dikumpulkan dari 44 guru yang ikut serta dalam pelatihan, sebagian besar peserta menunjukkan kemajuan positif dalam kemampuan dalam mengedit video pembelajaran. Berikut ini data hasil pelatihan: Gambar 1. Persentase Peningkatan Kompetensi Guru Analisis terhadap data tersebut mengungkapkan bahwa 30 guru . %) mengalami peningkatan dalam keterampilan pengolahan video pembelajaran. Kelompok ini mampu mengimplementasikan teknik pengeditan video dasar secara lebih terstruktur dan menghasilkan video pembelajaran yang lebih kreatif, komunikatif serta sesuai dengan kebutuhan pembelajaran digital. Di samping itu, 8 guru . %) berada pada kategori yang cukup meningkat, yang berarti meskipun ada perkembangan dalam kemampuan, hal itu belum maksimal dan masih memerlukan bimbingan lebih lanjut untuk memperkuat keterampilan yang telah diperoleh. Sementara itu, 6 guru . %) tidak menunjukkan peningkatan kemampuan yang berarti setelah mengikuti pelatihan tersebut. Variasi dari hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa dampak dari pelatihan tidak dirasakan secara merata oleh semua peserta. Perbedaan dalam tingkat peningkatan keterampilan ini mencerminkan adanya latar belakang peserta terutama terkait pengalaman awal. Secara keseluruhan, evaluasi terhadap pelatihan menunjukkan bahwa metode yang digunakan berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan sebagian besar guru dalam pengolahan video untuk pembelajaran. Namun, hasil ini juga menekankan pentingnya dukungan yang berkelanjutan dan penyesuaian strategi pelatihan supaya semua peserta dapat mencapai peningkatan kompetensi secara maksimal, sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing. DISCUSSION Pelakasanaan program pengabdian untuk masyarakat melalui pelatihan penggunaan aplikasi CapCut menunjukkan hasil yang baik dalam meningkatkan keterampilan guru baik dari sisi teknis pengolahan video pembelajaran maupun dari segi pedagogis yang membantu pembelajaran yang berbeda dalam digital. Metode pelatihan ini langsung dilakukan praktik serta bimbingan lanjutan. Hasil pengamatan selama lokakarya dan praktik menunjukkan peningkatan kemampuan teknis peserta secara bertahap. Di tahap awal, banyak guru masih kesulitan untuk memahami antarmuka aplikasi CapCut dan fungsi dasar fitur-fiturnya. Namun, setelah mengikuti sesi pengenalan aplikasi serta praktik langsung, para peserta mulai dapat mengoperasikan fitur pengeditan video secara Dengan cara memotong klip video, menambahkan transisi antara klip, menyisipkan teks dan audio serta memanfaatkan efek visual yang ada untuk memperkuat presentasi materi pembelajaran. Pada akhir pelatihan, semua peserta mampu menciptakan video pembelajaran sederhana yang sesuai dengan materi kimia yang diajarkan di sekolah. Video yang dihasilkan menunjukkan perbaikan kualitas dalam hal keteraturan visual, integrasi audiovisual, serta alur presentasi materi. Hasil ini menunjukkan bahwa pelatihan yang berfokus pada praktik langsung dapat membantu guru mengatasi kendala teknis dalam penggunaan teknologi video sebagai sarana pembelajaran (Alamin et al. , 2. Pendampingan yang dilakukan selama praktik penting dalam mempercepat penguasaan keterampilan teknis para peserta. Dengan bimbingan langsung dan umpan balik dari tim pelaksana, guru mampu segera memperbaiki kesalahan teknis yang muncul dan meningkatkan kualitas video yang dihasilkan. Ini menunjukkan bahwa kombinasi antara lokakarya dan pendampingan yang berkelanjutan efektif dalam meningkatkan kompetensi teknis guru secara signifikan. Selain peningkatan kemampuan teknis, hasil dari kegiatan ini juga menunjukkan adanya penguatan kompetensi pedagogis guru dalam penggunaan video sebagai alat belajar digital. Peserta mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya perencanaan untuk video pembelajaran melalui proses penyusunan alur cerita dan skrip sebelum pengeditan dilakukan. Pengetahuan ini membantu pengajar dalam menyajikan materi dengan cara yang lebih terstruktur, sistematis dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Video pembelajaran yang dihasilkan memperlihatkan penerapan prinsip dari pembelajaran diferensiasi, terutama dalam hal penyesuaian metode penyampaian materi, penggunaan elemen visual pendukung, serta pengaturan durasi dan tempo saat Para guru mempertimbangkan keberagaman karakteristik siswa, seperti perbedaan dalam tingkat pemahaman, berbagai gaya belajar, serta kebutuhan belajar masing-masing siswa . Oleh karena itu, video pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai media untuk menyampaikan informasi, tetapi juga sebagai alat yang mendukung pembelajaran yang lebih inklusif dan berorientasi pada siswa (Nasrodin et al. , 2. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan CapCut tidak hanya memperbaiki keterampilan guru dalam mengedit video secara teknis, tetapi juga mengajak untuk mengintegrasikan aspek pedagogis ke dalam media pembelajaran digital. Ini sejalan dengan tujuan dari pelatihan untuk memperkuat peran video pembelajaran sebagai bagian dari strategi dalam pembelajaran diferensiasi. Tingkat keterlibatan peserta selama sesi pelatihan cukup signifikan, khususnya pada latihan praktik dan diskusi. Para pengajar berperan aktif dalam berinteraksi dengan tim penyelenggara dan satu sama lain untuk membahas tantangan teknis, metode penyusunan konten video, serta kesempatan untuk menerapkan video pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Diskusi yang berlangsung menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan diri para instruktur dalam menggunakan teknologi digital sebagai alat Respon yang diberikan oleh peserta menunjukkan bahwa pelatihan diaggap sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah dan mudah diterapkan dalam pengajaran sehari-hari. Peserta juga mengungkapkan bahawa metode praktik langsung membantu dalam memahami materi pelatihan secara nyata dibandingkan hanya teori. Selain itu, banyak pengajar yang mengungkapkan motivasi yang lebih besar untuk memperdalam pengembangan video pembelajaran secara mandiri setelah pelatihan Secara keseluruhan, temuan dari kegiatan pengabdian ini menguatkan bahwa pelatihan terkait aplikasi CapCut dapat memperbaiki kemampuan guru dalam membuat video pembelajaran dengan cara yang signifikan. Peningkatan tersebut dengan baik dan Metode pelatihan yang mengabungkan lokakarya, praktik langsung dan bimbingan berkelanjutan terbukti berhasil dalam memberdayakan guru untuk menciptakan media pembelajaran video yang relevan, menarik dan aplikatif Temuan ini mengindikasikan bahwa pelatihan dalam pembuatan video pembelajaran menggunakan aplikasi yang mudah diakses seperti CapCut memiliki potensi untuk mendukung perubahan dalam pembelajaran digital di sekolah. Dengan bertambahnya kemapuan guru, video pembelajaran dapat digunakan secara maksimal sebagai alat inovatif yang membantu meningkatkan kualitas proses serta hasil CONCLUSION Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pelatihan pembuatan video pembelajaran menunjukkan peningkatkan kemampuan guru. Berdasarkan evaluasi terhadap 44 guru yang ikut serta, mayoritas peserta menunjukkan peningkatan keterampilan dalam mengedit dan menciptakan video pembelajaran, baik dari sisi teknis maupun pedagogis yang mendukung proses pembelajaran digital. Pelatihan yang dirancang dengan metode lokakarya, praktik langsung, dan pendampingan berkelanjutan dapat membantu guru memahami pemanfaatan aplikasi pengeditan video serta menciptakan hasil video pembelajaran yang lebih terstruktur, inovatif dan aplikatif. Namun masih ada beberapa peserta yang menunjukkan peningkatan kemampuan yang belum memadai, yang menunjukkan perlunya pendampingan lebih lanjut dan penyesuaian strategi pelatihan sesuai dengan tingkat literasi teknologi dan kebutuhan peserta masingmasing. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan pembuatan video pembelajaran memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai usaha peningkatan kualitas pembelajaran digital di institusi pendidikan. REFERENCES