ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Persepsi Mahasiswa PGSD Calon Guru Kristen Terhadap Mata Kuliah Kesenian Neneng Andriani1. Raihan Prince Lawolo2. Weldan Bastian Taopan3 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar 1,2,3 Universitas Pelita Harapan1,2,3 andriani@uph. edu1, raihanprincelawolo14@gmail. weldantaopan@gmail. Abstrak Guru SD perlu menguasai berbagai subjek pelajaran dan salah satu subjek yang perlu dikuasai guru SD adalah Seni. Namun pada umumnya pembelajaran seni di sekolah dasar sering dianggap kurang penting karena persepsi bahwa seni membutuhkan bakat bawaan dan tidak semua siswa berbakat seni. Hal ini menyebabkan banyak sekolah yang tidak mengajarkan mata pelajaran kesenian secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi mahasiswa tingkat pertama calon guru SD terhadap mata kuliah Seni. Budaya, dan Kerajinan, sehingga bisa dijadikan data awal untuk menganalisis pembelajaran kesenian dan menyusun modul ajar yang tepat sasaran. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif deskriptif yang menggunakan instrumen kuesioner yang disebarkan kepada 81 mahasiswa tingkat pertama sebelum dan sesudah perkuliahan. Hasil analisis data ditemukan bahwa mahasiswa mempunyai persepsi yang positif terhadap mata kuliah Seni. Budaya, dan Kerajinan, walaupun sebagian mahasiswa merasa cemas ketika mengikuti mata kuliah dikarenakan merasa tidak berbakat atau tidak kreatif. Namun mahasiswa berhasil mengatasi kecemasan mereka seiring mengikuti perkuliahan melalui pembelajaran dan tugas yang bervariatif. Kata kunci: Guru SD, kesenian, kreativitas, mahasiswa PGSD, persepsi. Abstract Primary teachers need to master various subjects and one of the subjects is art. However, art learning in schools is often considered less important in general due to the perception that art requires creativity and innate talent and not all students possess artistic talent. This leads many schools inadequately teach art subjects. This research aims to investigate first-year prospective primary education studentsAo perceptions towards Arts. Culture, and Crafts course as baseline data for analyzing art education and developing targeted teaching modules. The research employed a descriptive quantitative approach using questionnaires distributed to 81 first-year students before and after the course. Data analysis revealed that students held positive perceptions toward Arts. Culture and Crafts course, although some experienced anxiety due to feelings of lacking talent or creativity. However, students successfully overcame their anxiety through varied learning activities and assignments during the course. Keywords: Arts, creativity, perceptions, primary education students, primary teacher. PENDAHULUAN Mata kuliah Seni. Budaya, dan Kerajinan merupakan mata kuliah yang ditawarkan sebagai salah satu mata kuliah pilihan dalam Kurikulum Operasional tahun 2021 di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pelita Harapan (Universitas Pelita Harapan, 2. Mata kuliah ini wajib diambil oleh mahasiswa prodi PGSD UPH pada semester ke-2 dengan kredit sebesar 3 sks, yang bertujuan untuk membekali mahasiswa PGSD dengan ilmu kesenian yang terdiri dari seni rupa, seni musik, dan seni gerak/tari, agar mereka mempunyai keterampilan dasar dalam berkesenian (Judiani. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Kesenian merupakan mata pelajaran yang wajib diajarkan pada jenjang sekolah dasar, oleh sebab itu mata kuliah ini pun wajib dipelajari oleh mahasiswa sebagai calon guru SD. Sasarannya adalah untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi guru yang kreatif dalam mengolah dan mengasah kreativitas siswa di bidang seni nantinya (Aryani & Lubis, 2. Pada mata pelajaran kesenian di SD, guru dituntut untuk mengetahui dan memahami konsep dasar kesenian untuk membimbing siswa SD mengeksplorasi dan bereksperimen membuat karya seni. Kompetensi yang diharapkan dikuasai oleh guru SD dalam mengajarkan kesenian adalah menguasai media, bahan, alat, teknologi, dan proses dalam menghasilkan karya seni (Purhanudin, 2. Kompetensi dasar ini akan didapatkan oleh guru pada masa perkuliahan ketika berstatus mahasiswa calon guru SD. Selain itu, guru kesenian biasanya tidak berasal dari guru dengan pendidikan khusus kesenian, melainkan guru SD yang mengajar kesenian. Hal ini menuntut guru lulusan prodi PGSD mempunyai kompetensi dasar dalam bidang kesenian (Komala & Nugraha. Pada penelitian yang dilakukan oleh Hardhita dkk. dan Sabarunisa dkk. terkait implementasi pembelajaran Seni Budaya di Sekolah Dasar, ditemukan adanya kesenjangan antara pelaksanaan komponen perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan pengawasan pembelajaran dengan standar minimal akibat kemampuan guru seni yang belum memadai. Guru sekolah dasar dengan latar belakang non-pendidikan seni mengalami kesulitan dalam menyusun RPP dan mengajar materi seni karena minim kualitas keahlian, sehingga pembelajaran Seni Budaya kurang optimal. Selain itu, mata pelajaran Seni Budaya dipandang kurang penting dibandingkan Sains atau Matematika, sehinga alokasi waktu pelajaran acapkali dialihkan untuk mata pelajaran lain. Hal ini bertentangan dengan kebijakan pendidikan nasional yang menempatkan mata pelajaran kesenian sebagai bagian integral dari struktur kurikulum di setiap jenjang pendidikan untuk membentuk karakter peserta didik. Mata pelajaran kesenian berfungsi sebagai wadah untuk menumbuhkan sensitivitas siswa, kemampuan mengekpresikan diri, kemampuan mengapresiasi keindahan, dan membentuk peserta didik menjadi pribadi yang harmonis (Fitriyanti dkk. , 2025. Rokayah dkk. , 2. Kreatif merupakan kunci utama dalam berkesenian, karena orang yang kreatif akan lebih mudah mengekspresikan ide-ide maupun gagasan-gagasan baru (M. , 2. Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah yang Kreatif, sehingga memiliki potensi kreatif sebagai bagian dari keserupaan dengan Allah (Paembonan & Ronda. Kemampuan untuk berkreasi dan mengagumi keindahan mempengaruhi banyak aspek hidup, sebab hanya dikarenakan keserupaan dengan Allah lah manusia dimampukan untuk menikmati keindahan ciptaan-Nya, sehingga berkesenian merupakan aspek yang diperlukan dari keberadaan umat manusia. Oleh sebab itu, pembelajaran kesenian memiliki peran strategis dalam mengembangkan potensi estetik dan kreatif siswa sebagai cerminan keserupaan dengan Allah (Taneo, 2. Setiap manusia mengalami seni setiap harinya, bahkan jika kita bukan artis profesional ataupun artis amatir. Kita mengagumi seni setiap hari, baik dengan membaca buku, mendengarkan musik, melihat gambar, atau merangkai bunga. Namun karya seni yang sesungguhnya dan berharga seharusnya tercermin dalam kehidupan setiap orang percaya, karena kita adalah ciptaan yang segambar dan serupa dengan Allah Sang Artis Sejati. Setiap hasil karya seni berharga dan bernilai karena seni merupakan buah dari kreativitas yang dikaruniakan oleh Allah hanya untuk manusia, tetapi hal ini tidak berarti bahwa setiap karya seni yang dihasilkan oleh manusia merupakan seni yang baik. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 Manusia dikaruniakan kreativitas yang merupakan hal yang baik, namun kejatuhan manusia membuatnya tidak dapat sepenuhnya menggunakan bakat dan talentanya untuk menghasilkan hasil karya yang sepenuhnya baik (Schaeffer, 2. Kemampuan untuk berkesenian sangat identik dengan bakat bawaan seseorang, karena secara umum seseorang yang berbakat pada suatu bidang akan lebih menonjol di bidang tersebut, hal ini semakin tampak di dalam bidang seni (Rohmah dkk. , 2. Penelitian menunjukkan bahwa banyak individu percaya untuk bisa berkembang di bidang seni, hal yang dibutuhkan paling terutama adalah bakat bawaan, misalnya suara yang bagus untuk menekuni seni tarik suara, kemampuan menggambar untuk menekuni seni rupa, kepekaan akan ritme untuk menekuni seni musik, atau kemampuan untuk olah tubuh untuk menguasai seni gerak/tari (Citrowati & Mayar, 2. Oleh sebab itu, banyak orang yang memilih untuk tidak menekuni bidang seni dikarenakan merasa tidak berbakat, bahkan tidak percaya diri untuk belajar, yang mengakibatkan rendahnya partisipasi dalam pembelajaran kesenian (Alang, 2. Menurut KBBI, persepsi artinya tanggapan/penerimaan langsung dari sesuatu dan proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya. Persepsi yang timbul terhadap seni yang sulit dilakukan jika tidak berbakat mengakibatkan pelajaran seni pada jenjang sekolah dasar sering tidak terlaksana dengan baik, dan membuat pelajaran seni dipandang tidak terlalu penting dibandingkan dengan pelajaran lainnya (Hakim, 2. Guru seni yang mempunyai persepsi demikian akan menjalankan kelasnya dengan tidak memperhatikan bakat siswa dalam berkesenian yang tidak dikembangkan dengan baik, sehingga siswa mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan dalam belajar kesenian (Soetopo, 2. Mahasiswa calon guru SD juga bisa berasal dari siswa yang tidak mengalami pembelajaran seni yang bermakna. Hal ini menyebabkan pembelajaran kesenian pada jenjang perkuliahan bagi calon guru SD menjadi tantangan yang signifikan bagi mahasiswa (Hennessy dkk. , 2. Persepsi terhadap suatu pembelajaran perlu diketahui sebagai upaya untuk melihat harapan atau keinginan peserta didik terhadap pembelajaran dalam rangka mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum dan standar pendidikan yang berlaku (Sulle & Tulak, 2021. Tulak et al. , 2. Persepsi berkaitan dengan pengalaman seseorang pada saat terjadinya proses penerimaan, dan akan berkembang atau dapat berubah sesuai dengan informasi baru yang diterima (Akbar, 2. Pada penelitian sebelumnya terkait persepsi mahasiswa prodi PGSD UPH terhadap pembelajaran IPA ditemukan bahwa persepsi mahasiswa sangat positif tentang media ajar IPA . lat perag. dan manfaatnya bagi siswa SD. Persepsi ini membangun interpretasi mahasiswa, yang selanjutnya berproses menjadi tindakan pengambilan keputusan yakni kesiapan dan kesediaan menggunakan media ajar kelak di karir keguruannya (Silitonga. Persepsi mahasiswa prodi PGSD UPH dan kesiapan mengajar anak berkebutuhan khusus diteliti oleh Wardhani (Wardhani, 2. dan ditemukan bahwa mahasiswa mempunyai persepsi bahwa anak berkebutuhan khusus bisa dan akan berhasil jika bersekolah di sekolah inklusi, serta mahasiswa menyatakan kesiapannya untuk mengajar di sekolah inklusi. Kedua penelitian yang telah dilakukan sebelumnya ini bermanfaat untuk program studi dalam merancang kurikulum dan mengelola mata kuliah yang berimplikasi pada kompetensi pedagogik mahasiswa sebagai calon guru yang profesional. Penelitian terkait mata kuliah Seni. Budaya, dan Kerajinan belum pernah dilakukan pada prodi PGSD UPH, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kesesuaian capaian pembelajaran mata kuliah yang disusun pada kurikulum operasional ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 dengan profil lulusan yang diharapkan. Harapannya hasil dari penelitian dapat dijadikan data untuk menyusun modul ajar yang digunakan sebagai sumber pembelajaran dan sesuai dengan standar yang berlaku dengan memperhatikan kompetensi yang harus dicapai mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian awal yang dilakukan untuk mengetahui persepsi mahasiswa prodi PGSD UPH terhadap mata kuliah Seni. Budaya, dan Kerajinan. Oleh karena itu, rumusan dari pertanyaan penelitian adalah bagaimana persepsi mahasiswa tingkat pertama calon guru SD terhadap mata kuliah Seni. Budaya, dan Kerajinan? Berdasarkan rumusan ini maka tujuan dari penelitian adalah menganalisis persepsi mahasiswa tingkat pertama calon guru SD terhadap mata kuliah Seni. Budaya, dan Kerajinan. METODE Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif deskriptif (Jayusman & Shavab, 2. yang menggunakan indikator persepsi yang divalidasi melalui proses Focus Group Discussion dengan 7 dosen PGSD untuk diskusi butir instrumen dan perbaikan, diikuti uji coba, serta validasi akhir oleh 3 dosen PGSD sebelum instrumen (Jayusman & Shavab, 2. Instrumen kuesioner berisi 13 pernyataan dengan skala Likert yang disebarkan kepada 81 mahasiswa tingkat pertama pada prodi PGSD UPH Tangerang. Banten untuk mengetahui persepsi mereka terkait mata kuliah Seni. Budaya, dan Kerajinan sebelum mereka memulai mata kuliah tersebut, dan instrumen kuesioner lanjutan dengan 39 pernyataan berskala Likert disebarkan setelah mahasiswa menyelesaikan mata kuliah yang disertai dengan dua pertanyaan terbuka guna memperkuat data penelitian. Skala pengukuran data mengunakan skala Likert dengan lima pilihan jawaban dengan reverse scoring untuk pernyataan negatif. Kriteria skor penilaian dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Kriteria Skor Penilaian Skala Likert Pernyataan Postitif Pernyataan Positif Pernyataan Negatif Kategori Skor Skor Setuju Cukup setuju Netral Kurang setuju Tidak setuju Perolehan data dari kuesioner kemudian digunakan untuk menghitung rerata dari setiap indikator dan sub-indikator guna mengetahui hasil analisis persepsi dari responden Kriteria perolehan data persepsi responden dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Kriteria Perolehan Data Persepsi Responden Penelitian Kategori Rerata Positif >3. Cukup positif Cukup negatif Negatif <1. ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data instrumen pre-test . ertemuan pertama sebelum perkuliaha. dan post-test . ertemuan terakhir setelah perkuliaha. , diperoleh hasil bahwa mahasiswa memiliki persepsi positif terhadap mata kuliah Seni. Budaya, dan Kerajinan. Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis data yang dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Hasil Analisis Data Persepsi Responden Penelitian Perkuliahan Indikator Sub-Indikator Mean Kategori Awal Penafsiran Sikap Cukup positif Motif Positif Kepribadian Cukup positif Minat Cukup positif Harapan Positif Akhir Penafsiran Sikap Positif Motif Positif Kepribadian Cukup positif Minat Positif Harapan Positif Penyerapan Pribadi Positif Pembelajaran Positif Pengajar Positif Fasilitas Positif Penilaian Pribadi Positif Pembelajaran Positif Pengajar Positif Asesmen Positif Persepsi adalah pandangan secara umum atau global mengenai suatu obyek dilihat dari beberapa aspek yang dapat dipahami oleh seseorang. Setiap individu bisa mempunyai persepsi yang berbeda walaupun mendapatkan informasi yang serupa, hal ini dikarenakan adanya perbedaan dalam menafsirkan informasi yang diterima. Sebelum mempelajari suatu mata kuliah, mahasiswa telah mempunyai persepsinya masing-masing berdasarkan informasi atau pengalamannya terdahulu, dan persepsi tersebut bisa berkembang atau berubah seiring dengan pengalaman baru yang ditambahkan dan informasi baru yang dipelajari (Miysell & Wasisto, 2. Seseorang bisa saja memiliki persepsi yang berbeda terhadap objek yang sama karena adanya penilaian berdasarkan karakteristik pribadi individu (Kurniawan dkk. Menurut Sobur (Syahri & Wikarya, 2. , persepsi mempunyai tiga indikator, antara lain: . penafsiran, yang merupakan tanggapan atau kesan individu terhadap objek berdasarkan pengalaman terdahulu atau informasi yang diterima dari luar individu. penyerapan, yaitu hasil penerimaan individu terhadap objek yang kemudian didapatkan gambaran, tanggapan, atau kesan berdasarkan pengalaman individu. penilaian, di mana individu memberikan evaluasi dengan membandingkan penyerapan yang diperoleh dan penafsiran yang sebelumnya dimiliki individu. Berdasarkan analisis data kuesioner persepsi mahasiswa terhadap mata kuliah Seni. Budaya, dan Kerajinan, diperoleh persepsi positif hingga cukup positif . 80Ae Indikator penafsiran pre-post menunjukkan terendah di sub-kepribadian . dan skor tertinggi di sub-motif . , sementara penyerapan dan penilaian post-test >4 ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 dengan penyerapan tertinggi dan penafsiran terendah secara keseluruhan. Temuan ini selaras dengan Nurudin . Click or tap here to enter text. yang melaporkan persepsi positif dominan pasca-pembelajaran seni budaya. Persepsi mahasiswa tertinggi ditemukan pada indikator penyerapan subpembelajaran . dan penafsiran sub-motif . , mengindikasikan persepsi positif terhadap proses belajar seni. Data diperkuat oleh jawaban responden dari pertanyaan terbuka yang dapat disimpulkan dalam dua tema utama, yaitu: . perspektif teologi -AuSaya belajar mengenai seni dari perspektif Kristen, bahwa kemampuan manusia untuk berkarya adalah sepenuhnya anugerah AllahAy - merefleksikan transformasi pandangan bakat sebagai karunia yang dapat diasah. pengalaman praktik -AuSaya diajar untuk terus mengasah keahlian melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kelas, kami dipandu untuk menemukan diri dan talenta yang kami miliki selama ini, di kelas ini tempat kami untuk menciptakan hal baru dan ide kreatif tentang seniAy- menunjukkan penemuan talenta melalui kegiatan kelas. Analisis ini selaras dengan Fauzziyah & Reffiane . yang melaporkan persepsi minat & kreativitas mahasiswa meningkat melalui pembelajaran seni. Analisis data menunjukkan rerata paling rendah terdapat pada indikator penafsiran sub-kepribadian . re-test: 2. 80 dan post-test: 3. , mengukur asumsi awal karakteristik pribadi mahasiswa sebelum perkuliahan. Peningkatan skor 0. 20 mengindikasikan kesan positif meskipun tetap terendah di antara sub-indikator. Temuan ini diperkuat dengan jawaban mahasiswa pada pertanyaan terbuka yang dapat disimpulkan dalam dua tema, yaitu: . growth mindset -AuSaya merasa kurang memiliki kreativitas, namun saya bisa mengembangkan bakat dan lebih percaya diri lagi untuk mengekspresikannyaAymerefleksikan pergeseran dari ketakutan ke keyakinan diri. perspektif teologi AuSaya tidak memiliki bakat dalam menggambar, namun setiap talenta atau bakat yg diberikan Tuhan harus dikembangkan dan harus jadi berkatAy- mengorfimasi bakat sebagai tanggung jawab yang dapat diasah. Temuan ini menegaskan efektivitas pembelajaran praktik seni dalam mengubah persepsi mahasiswa (Fauzziyah & Reffiane. Nurudin, 2. Persepsi Mahasiswa berdasarkan Karakteristik Pribadi Indikator penafsiran . re-test: 2. 80 dan post-test: 3. mengukur persepsi berdasarkan karakteristik pribadi melalui lima sub-indikator: sikap . , motif . entingnya mata kuliah, skor tertinggi 4. , kepribadian . erasaan, terendah 2. , dan harapan . Data menunjukkan perubahan signifikan di motif dengan adanya pembelajaran praktik dan kepribadian ( 0. , yang mengindikasikan transformasi dari asumsi negatif menjadi growth mindset pascaperkuliahan (Syahri & Wikarya, 2. Click or tap here to enter text. Hasil analisis data indikator penafsiran diperoleh rerata paling rendah terdapat pada sub-indikator kepribadian, di mana rerata untuk pra-kelas adalah 2. 80 sedangkan pasca-kelas adalah 3. Temuan ini memperlihatkan adanya peningkatan dalam persepsi Dalam konteks sebelum kelas dilaksanakan, skor responden menunjukkan rata-rata paling rendah pada pernyataan mengenai kecemasan jika tidak mengerti materi mata kuliah, yaitu 2. 28 yang berada pada kategori cukup negatif. Setelah perkuliahan berakhir, diperoleh data kecemasan berkurang dengan skor rata-rata 2. 75 yang berada pada kategori positif. Hasil analisis data pra-kelas dengan skor rerata paling tinggi terdapat pada subindikator harapan. Pada data sebelum memulai perkuliahan diperoleh skor 4. 55 dan ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 setelah menyelesaikan perkuliahan skor meningkat menjadi 4. Hasil analisis data menunjukkan mahasiswa mempunyai persepsi yang positif dengan ekspektasi mata kuliah Seni. Budaya, dan Kerajinan dapat meningkatkan kreativitas dan kompetensi mahasiswa, serta berguna bagi mahasiswa sebagai calon guru SD. Pada data pasca-kelas, hasil analisis data dengan skor rerata paling tinggi adalah sub-indikator motif, di mana pada data pra-kelas diperoleh skor 4. 53 dan meningkat pada data pasca-kelas menjadi 4. Skor yang meningkat mengindikasikan adanya perubahan positif dari persepsi mahasiswa. Pada sub-indikator motif terdapat pernyataan terkait perlunya mahasiswa mempelajari mata kuliah Seni. Budaya, dan Kerajinan sebagai bekal untuk menjadi guru SD. Persepsi Mahasiswa berdasarkan Pengalaman Persepsi seseorang terhadap suatu objek bisa sama atau berbeda walaupun mempunyai pengalaman dan penerimaan yang sama, karena adanya tipe kepribadian masing-masing individu (Kurniawan dkk. , 2. Pada indikator penyerapan, data yang dianalisis dibagi menjadi empat sub-indikator, yaitu: . pribadi, terkait perasaan mahasiswa ketika mengikuti perkuliahan. pembelajaran, terkait tanggapan mahasiswa terhadap proses pembelajaran. pengajar, terkait tanggapan mahasiswa tentang dosen pengampu mata kuliah selama pembelajaran dilakukan. fasilitas, terkait tanggapan mahasiswa akan fasilitas yang disediakan program studi untuk mendukung pembelajaran mata kuliah. Hasil analisis data pada indikator penyerapan diperoleh rerata paling rendah pada sub-indikator fasilitas dengan skor 4. 52, sedangkan rerata paling tinggi diperoleh subindikator pembelajaran dengan skor 4. Data ini menunjukkan mahasiswa mempunyai persepsi yang positif ketika mengalami perkuliahan. Mahasiswa merasa senang dalam pembelajaran dan didorong untuk mengembangkan talenta, serta termotivasi untuk mengembangkan talenta yang dibantu dengan adanya praktik langsung selama Selain itu, mahasiswa merasa dosen sangat mendukung mahasiswa dalam menggali potensi seninya dan adanya dukungan fasilitas dari kampus membantu mahasiswa dalam membuat hasil karya dan mengerjakan proyek kolaboratif dengan rekan Persepsi Mahasiswa berdasarkan Evaluasi Persepsi juga berkaitan dengan penilaian seseorang akan proses penerimaan akan objek, di mana selama proses penerimaan dan penyerapan terjadi evaluasi terus-menerus oleh individu, sehingga persepsi terkonfirmasi atau malah terbentuk persepsi yang baru (Miysell & Wasisto, 2. Pada indikator penilaian, data yang dianalisis dibagi menjadi empat sub-indikator, yaitu: . pribadi, terkait perasaan mahasiswa saat menyelesaikan mata kuliah. pembelajaran, terkait tanggapan mahasiswa terhadap hasil pembelajaran mata kuliah. pengajar, terkait tanggapan mahasiswa tentang kesuaian pengajaran dan . asesmen, terkait tanggapan mahasiswa terhadap tugas mata kuliah. Hasil analisis data pada indikator penilaian berada pada kategori positif, dengan rerata paling rendah terdapat pada sub-indikator pembelajaran yang memperoleh skor 12, dan rerata paling tinggi terdapat pada sub-indikator pengajar dan asesmen yang memperoleh skor 4. Berdasarkan pernyataan pada instrumen data kuesioner, hasil ini dapat dimaknai bahwa mahasiswa merasa berkembang setelah menyelesaikan mata kuliah dan pembelajaran seni dianggap penting untuk kepentingan kerja. Selain itu, mahasiswa mempunyai persepsi yang baik dengan adanya dosen tamu ahli yang diundang ELEMENTARY JOURNAL Vol. 9 No. 1 Ae Juni 2026 P-ISSN 2622-0431 E-ISSN 2829-1611 sebagai narasumber untuk memperdalam pemahaman serta tugas yang bervariatif dan dianggap membantu dalam meningkatkan kreativitas mahasiswa. PENUTUP Berdasarkan hasil analisis data penelitian, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa prodi PGSD UPH mempunyai persepsi yang baik terhadap mata kuliah Seni. Budaya, dan Kerajinan. Rerata respons mahasiswa pra-kelas dan pasca-kelas berada di skor tinggi . 80Ae4. dan termasuk kategori positif, walaupun ditemukan kecemasan awal pada sub-kepribadian . dikarenakan sebagian mahasiswa merasa tidak berbakat atau tidak Namun hal ini tidak menghalangi pembelajaran dan mahasiswa berhasil mengatasi kecemasan . 00 pasca-kela. seiring mengikuti perkuliahan melalui pembelajaran dan tugas yang bervariatif. Mahasiswa juga menyadari bahwa Allah berdaulat dalam memberikan talenta dan bakat sehingga mereka berkewajiban Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengukur ketercapaian kompetensi melalui penyusunan RPP dan melakukan pengajaran mikro pada mata pelajaran kesenian, memvalidasi kontribusi mata kuliah terhadap kesiapan mengajar PGSD. DAFTAR PUSTAKA