HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. Analisis Kebutuhan Tenaga Gizi dengan Metode WISN di RSUD Salim Alkatiri Provinsi Maluku Penulis: Irin Nabila Hasanusi1 Laila Ulfa2 Abdul Aziz3 Afiliasi: Universitas Respati Indonesia1,2. Poltekkes Kemenkes Jakarta i3 Korespondensi: irinhasanusi@gmail. Histori Naskah: Diajukan: 12-12-2025 Disetujui: 27-01-2026 Publikasi: 31-01-2026 Abstrak: Pelayanan kesehatan modern menghadapi tantangan akibat ketidakseimbangan antara kebutuhan dan beban kerja tenaga gizi, yang berdampak pada mutu layanan, proses penyembuhan pasien, serta risiko burnout. Metode Workload Indicators of Staffing Need (WISN) dari WHO dan Kementerian Kesehatan RI menawarkan pendekatan berbasis beban kerja untuk menentukan kebutuhan tenaga secara akurat. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan tenaga instalasi gizi dengan metode WISN di RSUD dr. Salim Alkatiri Provinsi Maluku Tahun 2025. Desain penelitian menggunakan mixed methods dengan pendekatan Sequential Explanatory, diawali perhitungan WISN lalu dilengkapi data kualitatif melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Informan kunci meliputi Kepala Instalasi Gizi. Koordinator, ahli gizi, dan pramusaji/pemasak. Hasil menunjukkan ketidakseimbangan tenaga: ahli gizi berlebih 3 orang, sedangkan Koordinator dan Pemasak/Pramusaji kurang masing-masing 1 dan 2 orang. Pemasak/Pramusaji juga memiliki faktor kelonggaran hanya 10%. Kondisi ini menuntut redistribusi dan penambahan tenaga untuk mencegah kelelahan dan meningkatkan kualitas pelayanan gizi. Temuan menegaskan pentingnya perencanaan SDM berbasis beban kerja melalui metode WISN demi mutu layanan, keselamatan pasien, dan kesejahteraan tenaga Kata kunci: Beban Kerja. Instalasi Gizi. Kebutuhan Tenaga. Workload Indicators of Staffing Need (WISN) PENDAHULUAN Pelayanan kesehatan modern menghadapi tantangan serius akibat ketidakseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga kerja, terutama pada profesi gizi, perawat, dan tenaga klinis WHO melalui metode Workload Indicators of Staffing Need (WISN) menegaskan bahwa perencanaan SDM sebaiknya berbasis beban kerja faktual agar mencerminkan kelebihan atau kekurangan staf secara objektif. (Naicker et al. , 2. Permasalahan ini merupakan isu global yang berdampak pada mutu pelayanan, seperti di Filipina di mana 95% rumah sakit pusat dan tersier beroperasi dengan rasio WISN di bawah 0,5 sehingga hanya separuh staf ideal tersedia. (Aytona, 2. Kondisi serupa terjadi di Iran dengan rasio WISN perawat 0,45Ae0,49 atau kekurangan 50Ae 55% tenaga (Najafpour et al. , 2. , dan di Uganda dengan hasil hampir sama. (WHO,2. Di Indonesia, fenomena berbeda muncul dengan beban kerja berlebih, misalnya pada unit hemodialisis yang mencatat rasio lebih dari 1,5 sehingga membutuhkan tambahan minimal 21 perawat agar pelayanan tetap optimal. (Winvi et al. , 2. Hasil observasi dan wawancara di RSUD dr. Salim Alkatiri Provinsi Maluku menunjukkan permasalahan pelayanan gizi akibat keterbatasan tenaga dan tingginya beban kerja. Petugas pemasak sering kelelahan, distribusi makanan terlambat, bahkan pernah terjadi kekosongan bahan sehingga pasien tidak mendapat makan tepat waktu. Saat ini hanya tersedia 12 tenaga gizi dan 3 This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. pemasak/pramusaji untuk seluruh alur pelayanan, berdampak pada keterlambatan, ketidaksesuaian diet, dan ketidakpuasan pasien. Survei 2023Ae2024 mencatat 29% responden tidak puas terhadap distribusi, 18% pasien anak mengeluhkan porsi, dan pasien diet lunak bosan karena menu Permasalahan ini bukan sekadar teknis, melainkan juga struktural dan manajerial, yang mengakibatkan inefisiensi, lemahnya pengawasan mutu, serta menurunnya dukungan gizi bagi pemulihan pasien. Berdasarkan wawancara dengan Direktur RSUD dr. Salim Alkatiri Provinsi Maluku, diketahui bahwa kondisi sarana dan prasarana instalasi gizi belum memadai, tetapi sementara diusahakan melakukan perbaikan. Selain itu, apabila pasien terlalu banyak seperti lebih dari 20, kadang menyebabkan keterlambatan pemberian makanan ke pasien. Kondisi serupa juga tercermin di tingkat rumah sakit daerah, termasuk di RSUD dr. Salim Alkatiri Provinsi Maluku, di mana persoalan ketidaksesuaian antara jumlah tenaga instalasi gizi dan beban kerja nyata mulai menunjukkan dampak signifikan terhadap kualitas pelayanan. Permasalahan yang terjadi, bukan sekadar masalah teknis distribusi makanan semata, melainkan mencerminkan masalah struktural dan manajerial dalam perencanaan SDM rumah sakit, yang harus dikaji secara menyeluruh. Ketika jumlah tenaga tidak sebanding dengan beban kerja, akan terjadi penurunan efektivitas pengawasan mutu makanan, termasuk pengendalian suhu, nilai gizi, variasi menu, dan ketepatan waktu penyajian. Padahal, kualitas pelayanan gizi berperan krusial dalam proses penyembuhan pasien, mempercepat pemulihan, mempersingkat lama hari rawat, dan menghemat biaya perawatan. Ketidaksesuaian jumlah tenaga dengan beban kerja juga dapat menyebabkan inefisiensi beban kerja (Nurhikmah et al. , 2. Metode Workload Indicators of Staffing Need (WISN) merupakan solusi relevan untuk mengatasi ketidakseimbangan tenaga kerja karena mampu menghitung kebutuhan SDM secara spesifik, realistis, dan berbasis data lapangan, serta telah direkomendasikan WHO dan Kementerian Kesehatan RI sebagai standar analisis kebutuhan sekaligus dasar evaluasi kebijakan dan akreditasi rumah sakit. (Nurhikmah et al. , 2. Kesesuaian jumlah tenaga gizi dengan beban kerja penting untuk menjamin mutu layanan mulai dari perencanaan menu, ketepatan diet, distribusi makanan, hingga pengawasan keamanan makanan, karena jika tidak terpenuhi dapat menimbulkan keterlambatan pelayanan, penurunan mutu gizi, hingga risiko hospital malnutrition seperti di RSUD Banjarbaru. (Aisyah & Yanti, 2. Ketidakseimbangan ini juga memicu work overload yang meningkatkan risiko burnout 2,2Ae2,9 kali lipat dan niat resign staf, berdampak pada turunnya performa klinis, kepuasan pasien, serta potensi kesalahan medis seperti keterlambatan distribusi makanan, diet tidak sesuai, dan minimnya variasi menu, sebagaimana terjadi di RSUD dr. Salim Alkatiri. Oleh karena itu, perhitungan kebutuhan tenaga gizi berbasis WISN sangat penting untuk mencegah work overload, memastikan ketepatan diet, menjaga kualitas layanan, serta menjamin keselamatan pasien dan kesejahteraan tenaga gizi. (PGRS, 2. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. Tujuan penelitian ini secara umum adalah menganalisis kebutuhan tenaga instalasi gizi berdasarkan beban kerja dengan metode Workload Indicators of Staffing Need (WISN) di RSUD Salim Alkatiri Provinsi Maluku Tahun 2025. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menghitung waktu kerja, mengkaji standar beban kerja dan standar kelonggaran, serta mengetahui jumlah tenaga instalasi gizi yang ideal berdasarkan perhitungan WISN. Selain itu, penelitian ini juga berfokus pada penggalian informasi mengenai kebutuhan tenaga instalasi gizi di rumah sakit tersebut agar dapat memberikan gambaran menyeluruh tentang perencanaan SDM yang sesuai. METODE Penelitian ini menggunakan mixed methods dengan pendekatan Sequential Explanatory, diawali analisis kuantitatif melalui perhitungan kebutuhan tenaga gizi dengan metode Workload Indicators of Staffing Need (WISN), lalu dilanjutkan kualitatif melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen sebagai triangulasi untuk memperdalam serta melengkapi hasil. Penelitian ini berlokasi di Instalasi Gizi RSUD dr. Salim Alkatiri Provinsi Maluku. Waktu penelitian berlangsung selama bulan Juli-Agustus 2025. Informan kunci dipilih secara purposive berdasarkan peran dan pengetahuan mereka terhadap pelayanan gizi di RSUD dr. Salim Alkatiri, terdiri dari Kepala Instalasi Gizi (R. Koordinator Penyelenggaraan Makanan (R. , tiga ahli gizi (R3AeR. , dan tiga pemasak/pramusaji (R6AeR. , sehingga memberikan pandangan beragam namun saling melengkapi terkait jumlah tenaga dan beban kerja. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi aktivitas tenaga gizi, wawancara mendalam dengan informan kunci menggunakan panduan semi terstruktur, serta studi dokumen terkait ketenagaan dan pelayanan instalasi gizi di RSUD dr. Salim Alkatiri. Data kuantitatif diperoleh dengan metode WISN melalui perhitungan waktu kerja tersedia, standar beban kerja, faktor kelonggaran, dan kebutuhan tenaga sesuai Permenkes No. 33 Tahun 2015. Kombinasi teknik ini digunakan untuk saling melengkapi dan memperkuat validitas hasil. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Waktu Kerja Tersedia Kode Tabel 1. Waktu Kerja Tersedia Ka. Instalasi Gizi Indikator Jumlah Hari Kerja Cuti Tahunan Pendidikan Pelatihan Hari Libur Nasional Ketidakhadiran Waktu Kerja This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License Keterangan Hari/Tahun Hari/Tahun Hari/Tahun Hari/Tahun Hari/Tahun Jam/Hari HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. Hari Kerja Tersedia Waktu Kerja Tersedia Total Hari/Tahun Jam/Tahun Menit/Tahun Berdasarkan Tabel 1, waktu kerja tersedia Kepala Instalasi Gizi tahun 2025 adalah 231 hari . hari dikurangi akhir pekan, cuti, libur nasional, dan ketidakhadira. , dengan durasi 8 jam per hari sehingga total mencapai 1. 848 jam atau 110. 880 menit per tahun. Kode Tabel 2. Waktu Kerja Tersedia Koordinator Penyelenggaraan Makanan Indikator Jumlah Keterangan Hari Kerja Hari/Tahun Cuti Tahunan Hari/Tahun Pendidikan Pelatihan Hari/Tahun Hari Libur Nasional Hari/Tahun Ketidakhadiran Hari/Tahun Waktu Kerja Jam/Hari Hari Kerja Tersedia Hari/Tahun Waktu Kerja Tersedia Jam/Tahun Total Menit/Tahun Berdasarkan Tabel 2, waktu kerja tersedia Koordinator Penyelenggaraan Makanan tahun 2025 adalah 296 hari dengan durasi 7 jam per hari, total 2. 072 jam atau 124. 320 menit per tahun. Tabel 3. Waktu Kerja Tersedia Ahli Gizi Kode Indikator Jumlah Keterangan Hari Kerja Hari/Tahun Cuti Tahunan Hari/Tahun Pendidikan Pelatihan Hari/Tahun Hari Libur Nasional Hari/Tahun Ketidakhadiran Hari/Tahun Waktu Kerja Jam/Hari Hari Kerja Tersedia Hari/Tahun Waktu Kerja Tersedia Jam/Tahun Total Menit/Tahun Berdasarkan Tabel 3, waktu kerja tersedia Ahli Gizi tahun 2025 adalah 296 hari . etelah dikurangi libur, cuti, dan ketidakhadira. dengan durasi 7 jam per hari, total 2. 072 jam atau 124. 320 menit per tahun. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. Kode Tabel 4. Waktu Kerja Tersedia Pemasak/Pramusaji Indikator Jumlah Keterangan Hari Kerja Hari/Tahun Cuti Hari/Tahun Pendidikan Pelatihan Hari/Tahun Libur Nasional Hari/Tahun Ketidakhadiran Hari/Tahun Waktu Kerja Jam/Hari Hari Kerja Tersedia Hari/Tahun Waktu Kerja Tersedia Jam/Tahun Total Menit/Tahun Berdasarkan Tabel 4, waktu kerja tersedia Pemasak/Pramusaji tahun 2025 adalah 296 hari . etelah dikurangi libur, cuti, dan ketidakhadira. dengan durasi 6 jam per hari, sehingga total 1. 776 jam 560 menit per tahun. Analisis Standar Beban Kerja Tabel 5. Standar Beban Kerja Ka. Instalasi Gizi RATAWAKTU RATA KERJA KEGIATAN POKOK WAKTU TERSEDIA (Meni. (Menit/tahu. 1 Laporan bulanan 2 Evaluasi kinerja gizi 3 Menyusun siklus menu 4 Menyusun jadwal dinas 5 Rapat Internal RSUD dr. Salim Alkatiri 6 Jumsih 7 Apel Rutin Total STANDAR BEBAN KERJA Berdasarkan Tabel 5, standar beban kerja Kepala Instalasi Gizi tahun 2025 total 22. menit/tahun, dengan kegiatan terendah penyusunan jadwal dinas 20 menit . 544 menit/tahu. dan tertinggi pembuatan laporan bulanan 163 menit . menit/tahu. Tabel 6. Standar Beban Kerja Koordinator Penyelenggaran Makanan This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. KEGIATAN POKOK Evaluasi kinerja gizi Penerimaan Bahan Makanan dari Menyusun siklus menu dengan Ka. Instalasi Gizi Memeriksa kelengkapan pegawai yang berada dibawah tanggung jawabnya Memeriksa kebersihan ruangan dan Melakukan jumlah dan kualitas bahan makananan yang akan diolah sesuai menu Mendistribusikan bahan makanan segar dan kering Rapat Internal RSUD dr. Salim Alkatiri Jumsih Apel Rutin Total RATARATA WAKTU (Meni. WAKTU KERJA TERSEDIA (Menit/tahu. STANDAR BEBAN KERJA Berdasarkan Tabel 6, standar beban kerja Koordinator Penyelenggaraan Makanan tahun 2025 total 117 menit/tahun, dengan kegiatan terendah pemeriksaan kelengkapan pegawai 2 menit . 160 menit/tahu. dan tertinggi penyusunan siklus menu 90 menit . 381 menit/tahu. Tabel 7. Standar Beban Kerja Ahli Gizi RATAWAKTU RATA KERJA KEGIATAN POKOK WAKTU TERSEDIA (Meni. (Menit/tahu. Evaluasi Kinerja Gizi Pelayanan asuhan gizi standar Laporan Harian Mengawasi persiapan dan pengolahan bahan makanan Mengawasi penyajian makanan STANDAR BEBAN KERJA This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. Melakukan pengecekan ulang kecocokan identitas dan diet pada label diet pasien Serah terima dengan ahli gizi dinas sebelumnya Rapat Internal RSUD dr. Salim Alkatiri Jumsih Apel Rutin Total Berdasarkan Tabel 7, standar beban kerja Ahli Gizi tahun 2025 total 51. 783 menit/tahun, dengan kegiatan terendah serah terima tugas 12 menit . 360 menit/tahu. dan tertinggi pelayanan asuhan gizi standar 302 menit . menit/tahu. Tabel 8. Standar Beban Kerja Pemasak/Pramusaji RATAWAKTU RATA KERJA KEGIATAN POKOK WAKTU TERSEDIA (Meni. (Menit/tahu. Evaluasi kinerja gizi Mempersiapkan peralatan dan bahan makanan yang akan diolah Melakukan proses pemasakan dan uji cita rasa makanan Mengecek alat untuk distribusi makanan Melakukan pemorsian dan menata makanan sesuai identitas pasien dan jenis Distribusi makanan ke ruang perawatan Melaporkan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan kepada koordinator atau ahli gizi Membersihkan meja kerja dan area kerja Rapat Internal RSUD dr. Salim Alkatiri Total This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License STANDAR BEBAN KERJA HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. Berdasarkan Tabel 8, standar beban kerja Pemasak/Pramusaji tahun 2025 total 51. 810 menit/tahun, dengan kegiatan terendah pelaporan 5 menit . 312 menit/tahu. dan tertinggi pemasakan serta uji cita rasa 93 menit . 146 menit/tahu. Tabel 9. Standar Kelonggaran Tiap Kategori Tenaga WAKTU KEGIATAN FRE JUM WKT (Ja. Ishoma 1x/hari 2x/hari Ka. Instalasi Gizi 1x/mingg Kegiatan lain Standar Kelonggaran Ishoma 1x/hari ke kamar 1x/hari Koordinator Penyelenggaraan 1x/minggu Makanan Standar Kelonggaran Ishoma 1x/hari 1 jam 1x/hari Ahli Gizi 1x/mingg Kegiatan lain Standar Kelonggaran Ishoma 1x/hari Pemasak 1x/hari Standar Kelonggaran KATEGORI TENAGA SKG Berdasarkan Tabel 9, standar kelonggaran di Instalasi Gizi meliputi ishoma, ke kamar mandi, dan kegiatan lain untuk Ka. Instalasi. Koordinator, serta Ahli Gizi, sedangkan Pemasak/Pramusaji hanya ishoma dan ke kamar mandi. Total kelonggaran masing-masing adalah Ka. Instalasi 0,17. Koordinator 0,17. Ahli Gizi 0,18. dan Pemasak/Pramusaji 0,10, yang digunakan dalam perhitungan kebutuhan tenaga gizi. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. Tabel 10. Rasio WISN Tenaga Instalasi Gizi RSUD dr. Salim Alkatiri Provinsi Maluku Kategori SDM Ka. Instalasi Gizi Koordinator Ahli Gizi Pemasak/pramusaji Rasio WISN Keadaan Tenaga cukup Tenaga kurang Tenaga lebih Tenaga kurang Tenaga saat ini . Kebutuhan tenaga . Kurang / Lebih . Berdasarkan Tabel 10. Ka. Instalasi Gizi memiliki rasio WISN = 1 . enaga cuku. Koordinator Penyelenggaraan Makanan dan Pemasak/Pramusaji rasio <1 . enaga kuran. , sedangkan Ahli Gizi rasio >1 . enaga berlebi. sehingga perlu efisiensi. Pembahasan Analisis Waktu Kerja Tersedia Waktu kerja tersedia di Instalasi Gizi RSUD dr. Salim Alkatiri Provinsi Maluku pada 2025 bervariasi sesuai posisi dan jam kerja harian. Kepala Instalasi Gizi memiliki 231 hari kerja dengan 8 jam per hari . 880 menit/tahu. Koordinator Penyelenggaraan Makanan dan Ahli Gizi 296 hari dengan 7 jam per hari . 320 menit/tahu. , serta Pemasak/Pramusaji 296 hari dengan 6 jam per hari . 560 menit/tahu. Perhitungan ini sudah mempertimbangkan hari libur, cuti, ketidakhadiran, dan jadwal shift sehingga memungkinkan perencanaan tenaga kerja yang realistis dan efisien. Pengaturan waktu kerja yang efektif penting dalam manajemen tenaga kesehatan untuk memastikan distribusi beban kerja optimal tanpa menimbulkan kelelahan. Teori Manajemen Waktu menekankan pentingnya alokasi jam kerja, istirahat, dan cuti yang terencana guna meningkatkan produktivitas dan mutu pelayanan. (Nasution et al. , 2. Di Indonesia, aturan ketenagakerjaan menetapkan waktu kerja maksimal 7Ae8 jam per hari atau 40 jam per minggu, termasuk hak istirahat dan cuti, yang dapat disesuaikan dengan sistem shift serta hari libur (Sari et al. , 2. Variasi waktu kerja tiap posisi dipengaruhi tanggung jawab dan intensitas beban. Kepala Instalasi Gizi berfokus pada manajerial. Ahli Gizi lebih fleksibel di lapangan. Koordinator menggabungkan tugas manajerial dan operasional, sedangkan Pemasak/Pramusaji menangani operasional harian. Faktor lain seperti sistem shift, jumlah pasien, dan ketersediaan sarana juga memengaruhi. Karena itu, pengaturan waktu yang bervariasi dan adaptif penting untuk menjaga produktivitas dan kesejahteraan tenaga instalasi gizi. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. Analisis Standar Beban Kerja Standar beban kerja tahunan di Instalasi Gizi RSUD dr. Salim Alkatiri Provinsi Maluku 2025 berbeda sesuai jenis pekerjaan dan durasi tiap kegiatan. Kepala Instalasi Gizi memiliki beban kerja 835 menit per tahun. Koordinator Penyelenggaraan Makanan 133. 117 menit. Ahli Gizi 51. menit, dan Pemasak/Pramusaji 51. 810 menit. Aktivitas yang memakan waktu paling lama berkaitan dengan pelaporan, penyusunan menu, dan pelayanan asuhan gizi, sedangkan kegiatan singkat meliputi pemeriksaan pegawai dan serah terima tugas. (Yulianto et al. , 2. Penelitian menemukan keterlambatan distribusi makanan saat pasien >20 karena area luas dan tenaga Pemasak/pramusaji sering bekerja sendiri menyiapkan hingga mendistribusikan makanan, mengeluhkan kelelahan fisik dan jam malam lebih berat akibat perubahan menu. Hal ini sejalan dengan bahwa ketidakseimbangan tenaga dan beban kerja menurunkan efektivitas pengawasan mutu, termasuk gizi, variasi menu, dan ketepatan waktu penyajian. (Nurhikmah et al. Menurut Teori Beban Kerja (Workload Theor. , ketidakseimbangan beban kerja dapat memengaruhi produktivitas, kinerja, serta kesehatan fisik dan mental. (Hartadi, 2. Beban tertinggi dialami Koordinator Penyelenggaraan Makanan karena tugas manajerial dan operasional, sedangkan Ahli Gizi memiliki tugas lebih terstruktur namun tetap menuntut konsentrasi. Pemasak/Pramusaji menanggung beban teknis berat karena bekerja sendiri, sehingga perencanaan tenaga berbasis WISN diperlukan untuk distribusi optimal dan peningkatan kualitas pelayanan (Ratnawati & Fayasari, 2. Analisis Standar Kelonggaran Standar kelonggaran waktu kerja di Instalasi Gizi RSUD dr. Salim Alkatiri Provinsi Maluku 2025 bervariasi sesuai kategori tenaga dan jenis aktivitas. Kepala Instalasi Gizi. Koordinator Penyelenggaraan Makanan, dan Ahli Gizi memiliki standar kelonggaran 0,17Ae0,18, mencakup waktu istirahat, sholat, dan ke kamar mandi, sedangkan tenaga pemasak/pramusaji lebih rendah yakni 0,10 karena aktivitas istirahat terbatas. (Govule et al. , 2. Standar ini penting sebagai penyesuaian dalam perhitungan kebutuhan tenaga agar jadwal kerja realistis dan manusiawi. Temuan ini sejalan dengan prinsip WISN yang menekankan pentingnya waktu kelonggaran untuk mencegah kelelahan dan menjaga produktivitas. ILO merekomendasikan faktor kelonggaran minimal 11% bagi tenaga perempuan, sementara standar 0,10 pada pemasak/pramusaji yang semuanya perempuan berisiko menimbulkan kejenuhan dan keletihan. (Hartadi, 2. Kelonggaran yang memadai mendukung distribusi beban kerja efisien serta kesehatan fisik dan mental tenaga kerja. Menurut Teori Keseimbangan Beban Kerja (Workload Balance Theor. , waktu kelonggaran penting untuk menjaga kinerja, terutama pada tugas intensif atau kompleks. Kepala Instalasi. Koordinator, dan Ahli Gizi membutuhkan kelonggaran lebih untuk tugas administratif, sedangkan Pemasak/Pramusaji fokus pada kerja fisik cepat dengan kelonggaran lebih sedikit. Penerapan This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. standar kelonggaran yang tepat memastikan beban kerja efektif tanpa mengabaikan kesejahteraan (Hartadi, 2. Analisis Jumlah Tenaga Ideal Berdasarkan Metode WISN Berdasarkan perhitungan Waktu Tersedia. Standar Beban Kerja, dan Standar Kelonggaran (WISN) di Instalasi Gizi RSUD dr. Salim Alkatiri Provinsi Maluku, jumlah tenaga saat ini belum sepenuhnya sesuai kebutuhan ideal. Kepala Instalasi Gizi berjumlah 1 orang sesuai kebutuhan . asio WISN = . , sedangkan Koordinator Penyelenggaraan Makanan kekurangan 1 orang dan Pemasak/Pramusaji kekurangan 2 orang. Sebaliknya. Ahli Gizi berjumlah 10 orang, melebihi kebutuhan ideal 7 orang sehingga terdapat kelebihan 3 tenaga. Ketidakseimbangan ini menyebabkan beban kerja tidak merata, potensi kelelahan, serta menurunnya kualitas pelayanan Penataan ulang tenaga diperlukan untuk efisiensi, dengan penambahan 1 Koordinator dan 2 Pemasak/Pramusaji agar beban kerja lebih merata serta waktu istirahat tercukupi. Kelebihan Ahli Gizi dapat dialihkan ke edukasi, pelatihan, atau tugas tambahan, sementara pengaturan shift dan alokasi pasien proporsional penting untuk mencegah kelelahan berlebih. (Candrianto et al. , 2. Metode WISN menghitung kebutuhan tenaga berbasis beban kerja, waktu kerja tersedia, dan standar kelonggaran. Penerapannya memungkinkan redistribusi tugas, penambahan personel, dan keseimbangan beban kerja agar produktivitas optimal. Penambahan 3 tenaga baru serta penataan Ahli Gizi diharapkan meningkatkan kesejahteraan, mencegah kelelahan, dan menjaga kualitas pelayanan gizi di RSUD dr. Salim Alkatiri. Integrasi Hasil Kuantitatif dan Kualitatif Integrasi hasil kuantitatif dan kualitatif menunjukkan ketidakseimbangan beban kerja di Instalasi Gizi RSUD dr. Salim Alkatiri tahun 2025, di mana Koordinator kekurangan 1 orang. Pemasak/Pramusaji kekurangan 2 orang, dan Ahli Gizi justru kelebihan 3 orang. Data WISN menegaskan kebutuhan redistribusi tenaga, sementara temuan lapangan menunjukkan kelelahan pada pemasak/pramusaji serta waktu luang Ahli Gizi yang dapat dialihkan ke edukasi atau Faktor shift, jumlah pasien, dan fasilitas turut memengaruhi beban kerja. Karena itu, strategi yang disarankan adalah penambahan 3 tenaga baru, penataan ulang Ahli Gizi, serta pengaturan jam kerja fleksibel untuk menjaga keseimbangan operasional, mutu pelayanan, dan kesejahteraan tenaga. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa distribusi tenaga kerja terjadi ketimpangan, dengan kelebihan ahli gizi tetapi kekurangan tenaga teknis pelaksana seperti pemasak/pramusaji. Akibatnya, beban kerja menumpuk di Pemasak/Pramusaji, berisiko menimbulkan kelelahan, stres, dan menurunnya efektivitas pelayanan. Sehingga penataan ulang serta redistribusi SDM diperlukan agar kinerja lebih seimbang dan efisiensi pelayanan gizi rumah sakit dapat tercapai. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor . Januari 2. E-ISSN : 2809-9117 | DOI: doi. org/healthcaring. Saran Saran yang dapat diberikan yaitu bagi pimpinan RSUD dr. Salim Alkatiri, dalam jangka pendek perlu menambah dua tenaga pemasak/pramusaji serta satu koordinator penyelenggaraan makanan sesuai analisis WISN, dan memanfaatkan tenaga ahli gizi berlebih untuk edukasi, sedangkan jangka panjang perekrutan ASN sebaiknya melibatkan Kepala Instalasi Gizi dengan pendekatan bottom up. Bagi Kepala Instalasi Gizi, perlu diadakan pelatihan berkala, penyesuaian jadwal kerja koordinator agar tidak ikut shift, serta pembagian tugas nonspesifik kepada ahli gizi berlebih. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan menggunakan metode lain seperti FTE atau time and motion study, memperluas penelitian ke unit terkait, serta mengkaji hubungan kecukupan tenaga dengan kualitas pelayanan gizi. DAFTAR PUSTAKA