Spiritualitas Persaudaraan Kaum Muda Katolik dalam Masyarakat Multikultur di Kota Pontianak: Suatu Analisis Berdasarkan Ensiklik Fratelli Tutti Tri Setiawati Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak Email : wati123452@gmail. Abstrak Penelitian ini berjudul Spiritualitas Persaudaraan Kaum Muda Katolik dalam Masyarakat Multikultur di Kota Pontianak: Suatu Analisis Berdasarkan Ensiklik Fratelli Tutti dari Paus Fransiskus. Latar belakang dari penelitian ini adalah keanekaragaman suku dan budaya yang ada di kota Pontianak dan minimnya pemahaman kaum muda tentang interaksi dalam keberagaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui spiritualitas persaudaraan kaum muda Katolik di tengah masyarakat multikultur berdasarkan ensiklik Fratelli Tutti. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Narasumber dari penelitian ini terdiri dari Penyelenggara Bimbingan Masyarakat Katolik, dosen Pendidikan Agama Katolik di Universitas Tanjungpura dan Politeknik Negeri Pontianak, serta dua puluh mahasiswa yang terdiri dari sepuluh mahasiswa Universitas Tanjungpura dan sepuluh mahasiswa Politeknik Negeri Pontianak. Data diperoleh dengan observasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini adalah pertama Kota Pontianak merupakan kota yang beragam, baik dari sisi suku, agama dan budayanya. Namun, meskipun penduduknya beragam sejauh ini belum pernah terjadi konflik yang menimbulkan kekacauan seperti yang terjadi di masa lalu. Kedua. Dialog dan hidup persaudaraan kaum muda Katolik di kota Pontianak terjalin dengan baik. Hal tersebut sesuai dengan ajakan dari Bapa Suci Paus Fransiskus dalam ensikliknya. Fratelli Tutti . audara semu. Tiga, dalam kehidupan masyarakat yang multikultur, kita semua diajak untuk menanamkan sikap toleransi kepada sesama kita agar tidak terjadi konflik. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa kaum muda Katolik dapat menjiwai semangat persaudaraan di tengah masyarakat yang multikultur. Kata kunci: Fratelli Tutti. Kaum Muda. Multikultur Abstract This research is entitled The Spirituality of Catholic Youth Fraternity in a Multicultural Society in Pontianak City: An Analysis Based on Pope Francis' Encyclical Fratelli Tutti. The background of this research is the ethnic and cultural diversity that exists in the city of Pontianak and the lack of understanding among young people about interactions within diversity. This research aims to determine the spirituality of Catholic youth brotherhood in a multicultural society based on the encyclical Fratelli Tutti. This research was conducted using a qualitative descriptive method. The resource persons for this research consisted of Catholic Community Guidance Organizers. Catholic Religious Education lecturers at the Tanjungpura University Campus and Pontianak State Polytechnic, as well as twenty students consisting of ten Tanjungpura University students and ten Pontianak State Polytechnic students. Data was obtained by observation and interviews. The results of this research are that first. Pontianak City is a diverse city, both in terms of ethnicity, religion, and However, even though the population is diverse, so far there has never been a conflict that caused chaos like what happened in the past. Second, dialogue and brotherly life among Catholic youth in the city of Pontianak is well established. This is in accordance with the invitation of the Holy Father Pope Francis in his encyclical. Fratelli Tutti . ll brother. Three, in the life of a multicultural society, we are all invited to instill an attitude of tolerance towards each other so that conflict does not occur. this way, it can be concluded that young Catholics can embody the spirit of brotherhood in a multicultural society. Key words: Fratelli Tutti. Young People. Multicultural PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman yang kaya. Indonesia terdiri dari bermacam suku, ras, etnis dan agama. Keberagaman tersebut tentunya memunculkan berbagai pendapat yang berbeda, sehingga hal tersebut membuat tidak mudah untuk disatukan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Perbedan-perbedaan tersebut menyebabkan adanya perbedaan pandangan, tata cara dan tingkah laku dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Adanya perbedaan ini, tentunya membawa dampak positif dan negatif dalam hidup bermasyarakat. Karena itu, makna dialog dan persaudaraan adalah sebuah konsep yang harus dipahami dalam menghadapi masyarakat yang beragam. Hal ini dilakukan dengan tujuan meminimalisir adanya konflik-konflik yang ditimbulkan. Makna dan dialog persaudaraan tersebut merupakan konsep yang melihat dari dalam diri tiap manusia yang dilahirkan setara, meskipun memiliki keberagaman Keberagaman identitas ini tentunya menimbulkan perbedaan yang mendasar, terkhusus di kota Pontianak. Kota Pontianak merupakan ibu kota provinsi Kalimantan barat. Kota Pontianak sendiri terdiri dari masyarakat yang multikultur. Ada tiga etnis besar yang mendiaminya. Tiga etnis tersebut antara lain Dayak. Melayu dan Tionghoa. Ketiga etnis besar ini merupakan ciri khas dari kota Pontianak itu sendiri. Ketiga etnis besar tersebut tersebar luas di wilayah Kalimantan Barat. samping ketiga etnis ini, di Kalimantan Barat terdapat pula berbagai etnis lainnya. Etnis tersebut antara lain. Madura. Jawa. NTT, dan masih banyak lagi. Keberagaman yang ada ini tentunya menimbulkan beragam pendapat dan hal tersebut juga terkadang memunculkan konflik. Konflik identitas yang berhujung pertengkaran dan banyak pula yang memanfaatkan situasi ini untuk politik identitas. Dalam hal ini kaum muda merupakan mereka yang harusnya garda depan dan penerus masa depan bangsa. Untuk itu, perlu adanya pemahaman kaum muda terkait dengan bagaimana berinteraksi dengan masyarakat yang multikultur, khususnya kaum muda Katolik di kota Pontianak. Menurut Christus Vivit art. dijelaskan bahwa Orang Muda Katolik (OMK) adalah Gereja masa kini yang keberadaannya sangat dirindukan untuk membawa perubahan besar bagi dunia dan Gereja. Peran orang muda sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat yang beragam. Di mana kita tahu bahwa orang muda adalah masa depan Gereja dan bangsa. Untuk itu, perlu adanya pemahaman bagi mereka tentang bagaimana menjiwai semangat persaudaraan di tengah masyarakat yang beragam. Semangat persaudaraan tersebut tertuang dalam sebuah ensiklik yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus. Dokumen ini merupakan ensiklik yang ketiga dari dua sebelumya. Dua ensiklik sebelumnya yang ditulis oleh Bapa Paus berjudul Lumen Fidei dan Laudato siAo. Ensiklik ketiga yang ditulis ialah Fratelli Tutti (Saudara Semu. Ensiklik ini resmi ditandatangani oleh Paus Fransiskus pada tanggal 3 Oktober 2020, di makam Santo Fransiskus dari Assisi. Dengan dilatarbelakangi oleh pandemi COVID-19, ensiklik ini diharapkan mampu mencapai cita-cita penulisnya: membangun persaudaraan, persahabatan sosial tanpa batas. menemukan kepenuhan pribadi dalam diri sesama. Paus Fransiskus tidak menjanjikan jalan pintas dalam ensiklik ini. Namun, dia menawarkan sebuah proses melalui cara yang dikenal sejak purbakala yaitu cinta, persaudaraan, persahabatan. Tema sentral dari ensiklik ini ialah persaudaraan dan persahabatan antara manusia di dunia (Fratelli Tutti, 2. Umat manusia diajak untuk bisa mencintai dan menganggap semua adalah saudara, terlepas berasal dari agama maupun budaya yang berbeda. Hal tersebut terungkap dalam kisah seorang Samaria yang murah hati. Yesus mengajarkan agar kita dapat saling mengasihi dan peduli akan penderitaan sesama. Terungkap dalam (Lukas 10:25-. tentang orang Samaria yang murah Kutipan ini mau mengajak kita untuk mengasihi sesama tanpa memandang siapa orang Yesus mengajak kita dapat hadir bagi siapa saja yang membutuhkan (Fratelli Tutti, art. Dalam ensiklik ini, kaum muda diajak untuk menghindari dan menolak kekerasan. Oleh karena manusia pada dasarnya dapat saling memberi dan menerima, serta terbuka kepada kebenaran. Sebuah bangsa akan tumbuh berdasarkan dialog antara berbagai budaya: budaya popular, budaya universal, budaya orang muda, seni dan teknologi, ekonomi, keluarga dan media. Sering kali dialog dan interaksi yang tercipta, ditempuh melalui opini yang menyesatkan dan sarat akan kebohongan yang memicu pertengkaran. Informasi maupun berita yang ada di media seringkali hanya bertujuan menyampaikan opini, saling menyerang, tanpa mempertimbangkan pandangan baru yang lebih Berita yang ada pada umumnya menyudutkan salah satu lawan, sehingga tidak memungkinkan sebuah dialog terbuka untuk menemukan cara merangkul semua. Dengan begitu, narasi untuk kampanye politik pun menjadi sebuah bahasa umum yang diwarnai dengan manipulasi (Fratelli Tutti, 2023: 199-. Dialog otentik ditandai dengan kesediaan mendengar dan mengerti pandangan orang atau kelompok lain. Ketika pandangan sebuah kelompok itu benar-benar baik, tentu akan memberi dampak positif pada kehidupan sosial. Namun, itu mengandaikan sebuah dialog di kelompok yang Dialog yang jujur memungkinkan pencarian kebenaran dan bukan sekedar debat publik yang penuh dengan trik menyembunyikan informasi. Dialog memungkinkan kerja sama demi kepentingan bersama. Perbedaan selalu ada dan perbedaan menunjukkan kreativitas. Tetapi diperlukan dialog agar perbedaan itu menjadi kesempatan untuk bekerja sama. Hal ini sangat ditekankan bagi kaum muda. Kaum muda diajak untuk dapat hidup dalam keberagaman. Keberagaman yang ada menuntut mereka dapat berinteraksi dan bersosialisasi dengan masyarakat yang plural. Penghayatan akan hidup berdampingan dengan masyarakat yang plural ini mengajarkan kaum muda akan nilai toleransi dalam interaksi dengan sesama (Orang Muda. Iman dan Penegasan Panggilan art. Kajian penelitian ini bertujuan untuk memahami penguatan persaudaraan kaum muda Katolik dalam masyarakat yang multikultur berdasarkan ensiklik Fratelli Tutti. Pemahaman tersebut dilakukan dengan merefleksikan persaudaraan sebagai instrumen penyatuan antar manusia, khususnya keluarga dan kemanusiaan dari ensiklik ini: keegoisan telah menjatuhkan cinta, keadilan dan solidaritas dan telah menggantikannya dengan tindakan kekerasan, pengabaian fisik dan moral terhadap anak-anak, orang tua, dan secara umum masyarakat yang multikultur, mengingat Paus Fransiskus menyatakan bahwa hubungan spiritual, sosial, politik dan ekonomi dapat dibangun dalam semangat kekeluargaan. METODE Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Metode penelitian deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang berdasarkan pada filsafat postpositivisme. Metode ini digunakan untuk melihat objek secara alamiah. Pada penelitian ini, peneliti adalah instrumen kunci, sedangkan pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball sampling. Teknik pengumpulan data bersifat induktif/kualitatif. Hasil penelitian ini lebih menekankan pada makna dan generalisasi (Sugiyono, 2015:. Sedangkan menurut Creswell . , penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang mengekplorasi dan memahami makna di sejumlah individu dan kelompok orang yang berasal dari masalah sosial. Penelitian ini secara umum digunakan untuk meneliti tentang kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, konsep atau fenomena, masalah sosial dan lain sebagainya. Alasan penulis menggunakan metode penelitian kualitatif ialah karena ingin memberi gambaran yang nyata tentang bagaimana spriritualitas kaum muda Katolik dalam masyarakat multikultur di kota Pontianak. Spiritualitas tersebut ditinjau berdasarkan ensiklik Fratelli Tutti oleh Paus Fransiskus. Dengan menggunakan metode ini, penulis akan memaparkan kejadian dan ditarik kesimpulan bahwa semangat persaudaraan kaum muda Katolik dapat tercipta berdasarkan ensiklik Fratelli Tutti. Dengan penelitian ini, fenomena sentral yang hendak diinvestigasikan ialah mengenai keragaman agama dan budaya serta semangat persaudaraan kaum muda Katolik dalam terang Ensiklik Fratelli Tutti dari Paus Fransiskus. Langkah pertama, penulis mengidentifikasi sumber data yaitu satu kepala penyelenggara bimas Katolik kota Pontianak, satu dosen pengampu mata kuliah agama dan sepuluh mahasiswa Universitas Tanjungpura, serta satu dosen pengampu mata kuliah agama dan sepuluh mahasiswa Politeknik Negeri Pontianak. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan guna memperoleh gambaran mengenai keragaman agama dan budaya serta semangat persaudaraan kaum muda dalam terang ensiklik Fratelli Tutti dari Paus Fransiskus di Kota Pontianak. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Dengan metode ini penelitian akan dilakukan secara alamiah. Dalam penelitian, obejek merupakan sumber data yang akan diamati secara alamiah atau apa adanya, tanpa adanya manipulasi. Jadi, selama melakukan penelitisan tentang spiritualitas persaudaraan kaum muda Katolik dalam masyarakat multikultur di Kota Pontianak ini, peneliti sama sekali tidak mengatur kondisi tempat penelitian berlangsung maupun melakukan manipulasi terhadap subjek penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan tiga teknik untuk mengumpulkan data. Teknik tersebut antara lain, observasi, wawancara dan dokumentasi. Pertama observasi. observasi dilakukan dengan datang langsung ke kantor Kementrian Agama Pontianak, kampus Universitas Tanjungpura dan kampus Politeknik Negeri Pontianak. Dengan datang langsung ke kantor Kementrian Agama Pontianak, observasi dilakukan untuk mengetahui jumlah data penduduk kota Pontianak yang beragama Katolik. Sedangkan dengan datang langsung ke kampus Universitas Tanjungpura dan Politeknik Negeri Pontianak, observasi dilakukan untuk melihat dan mengetahui bagaimana situasi dari kampus tersebut. Teknik analisis data yang digunakan ialah teknik analisis data secara kualitatif. Analisis data dilakukan dengan tujuan untuk menjawab masalah yang telah dirumuskan. Dalam penelitian ini proses seleksi data dilakukan dengan cara inklusi dan eksklusi. Di mana peneliti melakukan seleksi data memasukkan dan mengeluarkan data bahkan menambahkan data. Dengan kata lain, teknik analisis data merupakan proses mencari dan Menyusun sumber data secara beraturan yang diperoleh berdasarkan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi data mahasiswa Katolik. Penelitian ini dilakukan di beberapa tempat, antara lain kantor Kementrian Agama kota Pontianak, kampus Universitas Tanjungpura dan kampus Politeknik Negeri Pontianak. Tempat ini dipilih karena peneliti dapat melihat data umat yang beragama Katolik di Pontianak. Di samping itu, peneliti melihat bahwa kampus Universitas Tanjungpura dan Politeknik Negeri Pontianak merupakan tempat yang mewakili lingkungan kaum muda Katolik di tengah masyarakat yang Di mana kita ketahui bahwa di kedua kampus tersebut mahasiswanya berasal dari daerah dan agama yang berbeda. Dengan begitu peneliti dapat melihat bagaimana spiritualitas persaudarann kaum muda Katolik di tengah masyarakat yang multikultur di kota Pontianak. Sebagai contoh, dalam interaksi sehari-hari kaum muda yang adalah minoritas di tempat tersebut bisa berinteraksi dengan kaum muda yang berasal dari agama maupun suku yang berbeda. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan observasi, wawancara dan dokumentasi yang telah dilakukan peneliti berkiatan dengan spiritualitas persaudaraan kaum muda Katolik dalam masyarakat multikultur di kota Pontianak: suatu analisis berdasarkan ensiklik Fratelli Tutti dari Paus Fransiskus. Hasil dari penelitian tersebut akan diuraikan sebagai berikut. Penelitian ini dilakukan di beberapa tempat antara lain. Kantor Kementerian Agama Kota Pontianak. Kampus Universitas Tanjungpura dan Kampus Politeknik Negeri Pontianak. Pertama. Kantor Kementrian Agama kota Pontianak. Pada mulanya selama tahun 1946-1950 di Kalimantan Barat urusan Agama belum dikelola oleh jawatan/koordinator urusan Agama dan koordinator Penerangan Agama. Kegiatannya meliputi Urusan Agama Islam. Katolik dan Kristen Protestan. Dengan perubahan status Kalimantan Barat dari karesidenan menjadi provinsi pada tahun Kantor Agama di Pontianak yang semula menjadi bagian Jawatan Agama di Banjarmasin . , secara bertahap dibentuk kantor tersendiri di Pontianak. Kantor-kantor itu. Bernama Kantor Urusan Agama. Kantor Penerangan Agama. Bagian Urusan Agama Katolik dan Bagian Urusan Agama Kristen Protestan. Masing-masing kantor berdiri sendiri dan berinduk ke Kementrian Agama di Jakarta. Berdasarkan keputusan Menteri Agama pada Tahun 1971, maka di Kalimantan Barat dibentuk Kantor Perwakilan Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat. Dengan demikian masing-masing urusan Agama yang selama ini berdiri sendiri, bergabung menjadi satu dalam koordinator Perwakilan Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat. Dengan terbentuknya Kantor Perwakilan Kementerian Agama Kantor Kementrian Agama Kalimantan Barat, maka dibentuklah perwakilan Kementerian Agama di tingkat Kota Kabupaten. Pada tahun 1975 sesuai dengan Keputusan Menteri Agama. Kantor Perwakilan Agama dan Kantor Perwakilan di Kabupaten berubah menjadi Kantor Kementerian Agama Kabupaten. Kantor Kementerian Agama Kota Pontianak terletak di jalan Zainuddin No. 4 Tengah. Kecamatan Pontianak Kota. Kota Pontianak. Di bawah naugan Kantor Kementerian Agama ini, bernaunglah Kantor urusan Agama Katolik. Dalam hal ini Bimbingan Masyarakat (Bima. Katolik Kota Pontianak. Semua urusan yang berkaiatan dengan Agama Katolik diurus di tempat ini. Kedua, kampus Universitas Tanjungpura merupakan salah satu kampus terbesar dan paling diminati di Kalimantan Barat. Universitas Tanjungpura sendiri didirikan pada tanggal 20 Mei 1959 dengan nama Universitas Daya Nasional di bawah naungan Yayasan Perguruan Tinggi Daya Nasional sebagai sebuah Universitas swasta. Pendirinya merupakan tokoh-tokoh politik dan pemuka masyarakat Kalimantan Barat, yang dikoordinasikan langsung oleh Oevaang Oeraay. Pada saat berdiri universitas ini memiliki dua fakultas yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Tata Niaga. Para tenaga pengajar pada masa-masa tersebut adalah para sarjana dan sarjana muda yang terdapat di daerah Kalimantan Barat. Status Universitas Daya Nasional berubah menjadi Universitas Negeri Pontianak berdasarkan Surat Keputusan Menteri PTIP No 53 Tahun 1963 tanggal 16 Mei 1963. Namun tanggal peringatan penetapan status Universitas Negeri ditetapkan pada 20 Mei 1963 dengan nama Universitas Negeri Pontianak. Sejalan dengan situasi politik RI tahun 1965, nama Universitas diubah menjadi Universitas Dwikora. Akhirnya nama Universitas Dwikora berganti lagi menjadi Universitas Tanjungpura (Unta. Nama Univeritas Tanjungpura ini berasal dari nama Kerajaan Tanjungpura yang terletak di Kalimantan Barat. Hingga saat ini. Universitas Tanjungpura (Unta. telah memiliki Sembilan Fakultas dengan jenjang Pendidikan hingga doktoral. Di samping itu juga. Universitas Tanjungpura (Unta. sudah memiliki Rumah Sakit Universitas Tanjungpura. Universitas Tanjungpura ini merupakan kampus yang sangat diminati di Kalimantan Barat. Mahasiswa yang berkuliah di kampus ini tidak hanya berasal dari Kalimantan Barat. Namun demikian, mahasiswa yang berkuliah di kampus ini juga berasal dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Dengan begitu kampus ini memiliki mahasiswa yang beragam suku, agama dan Ketiga, kampus Politeknik Negeri Pontianak. Politeknik Negeri Pontianak (POLNEP) merupakan sistem Pendidikan tinggi jalur professional yang menekankan penguasaan dan pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk mendukung era industrialisasi. Kampus ini pertama kali dibuka pada tahun 1994 dengan jurusan Tata Niaga dengan prodi Akutansi dan Kesekretariatan, serta Administrasi Perkantoran. Seiring berjalannya waktu kampus ini makin berkembang pesat. Secara umum, sistem Pendidikan Politeknik mempunyai beberapa ciri-ciri. Pertama. Pendidikan tinggi yang kurikulumnya berbasis kompetensi. Kedua. Pendidikan professional yang menekankan pembentukan kompetensi untuk menangani pekerjaan teknologi menurut praktik baku. Ketiga, pengajaran teori dan praktek diselenggarakan untuk saling memperkuat kemampuan penalaran dan keterampilan mengenai masalah praktis. Pengajaran teori menekankan pada pengakitan konsep dasar dengan kasus nyata secara langsung. Hal tersebut dilakukan melalui metode permecahan secara praktis, dengan pengajaran praktik menekankan pada kemahiran mengintegrasikan teori dengan penanganan proses nyata untuk menghasilkan produk Sampai saat ini kampus ini menjadi salah satu kampus yang banyak peminatnya. Mahasiswa yang berkuliah di kampus ini berasal dari berbagai macam daerah di dalam dan luar Kalimantan. Di samping itu, mahasiswa yang berkuliah di tempat ini juga beragam suku, agama dan budayanya. Keberagaman yang ada ini tentunya membentuk semangat persaudaraan sesuai dengan tujuan bangsa Indonesia AuBhineka Tunggal Ika. Ay Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan kedua puluh tiga narasumber penelitian, diketahui bahwa di kota Pontianak penduduknya terdiri dari berbagai macam agama dan Melalui wawancara dengan penyelenggara Bimbingan Masyarakat Katolik kota Pontianak, dosen mata kuliah agama Katolik Universitas Tanjungpura dan Politeknik Negeri Pontianak serta dua puluh mahasiswa Katolik yang berkuliah di Universitas Tanjungpura dan Politeknik Negeri Pontianak. Peneliti mendapatkan hasil bahwa para narasumber tinggal, bekerja dan berkuliah di tempat yang masyarakatnya beragam. Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap penyelenggaran Bimbingan Masyarakat Katolik. BA menyatakan bahwa lingkungan tempat tinggal dan kerjanya terdiri dari agama dan budaya yang beragam. Di samping itu. BA menyatakan berdasarkan data yang ada di dukcapil pada rentang tahun 2020-2022, berikut adalah data penduduk yang beragama Katolik di Kota Pontianak. BA juga memaparkan bahwa di kota Pontianak penduduk yang beragama Katolik dikategorikan sebagai penduduk minoritas. Tabel 1 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Agama Katolik 2020-2022 di Pontianak Kecamatan Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Agama yang Dianut di Kota Pontianak (Jiw. Katolik Pontianak Selatan Pontianak Tenggara Pontianak Timur Pontianak Barat Pontianak Kota Pontianak Utara Kota Pontianak (Dukcapil, 12 Juni 2023, 08. 59 WIB) Di samping agama, penduduk yang berasal dari suku Dayak juga dikategorikan sebagai penduduk yang minoritas. Kebanyakan yang berasal dari suku Dayak merupakan penduduk pendatang yang karena pekerjaan atau sedang mengenyam Pendidikan. BA juga menyatakan bahwa Pontianak ini merupakan miniatur keberagaman Indonesia. Oleh karena, penduduknya yang multikultur dan agama yang beragam. Dilansir dari TribunPontianak. amis, 10 Agustus 2023, pukul 18:25 wi. , diketahui bahwa mayoritas penduduk kota Pontianak ialah berasal dari suku Melayu. Jika dipersentasekan jumlah penduduknya sekitar 34,50 %. Disusul dengan suku Tionghoa sebesar 18,81 %, suku Jawa 13,84%, suku Madura 11,96%, suku Bugis 7,92 % dan yang lain-lain 12,98 %. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa mayoritas penduduknya juga beragama Islam. Oleh karena, jika penduduknya berasal dari suku Melayu otomatis agamanya Islam. Berikut jumlah penduduk Kalimantan Barat secara keseluruhan berdasarkan agama yang dianutnya. Tabel 2 Jumlah Penduduk Menurut Agama Tahun 2022 di Kalimantan Barat AGAMA LAKIPEREMPUA JUMLAH LAKI Islam Kristen Katholik Hindu Budha Konghuchu Kepercayaan (Dukcapil, 10 Agustus 2023, 18:15 WIB) Pernyataan yang kurang lebih sama juga dilontarkan oleh kedua puluh dua narasumber yang terdiri dari 2 dosen pengampu dan pengajar mata kuliah Agama Katolik di Universitas Tanjungpura dan Politeknik Negeri Pontianak serta dua puluh mahasiswa Universitas Tanjungpura dan Politeknik Negeri Pontianak. TP dan A sebagai dosen menyatakan bahwa di Pontianak ini penduduk yang beragama Katoliknya minoritas. Selain Agama juga suku dan budaya yang ada juga beragam. Terkhusus untuk kaum muda Katoliknya. Di kampus, di mana tempat ATP dan BA mengajar, mahasiswa yang beragama Katolik hanya sebagaian kecil saja. Di mana yang beragama Katolik jika dikalulasikan dari 100%, hanya 30% saja. Sisanya yang beragama lain. Di samping itu, mahasiswa yang berkuliah juga berasal dari suku dan budaya yang berbeda, baik dari dalam dan luar pulau Kalimantan Barat. Selain di Kampus TP. A dan kedua puluh mahasiswa juga tinggal di lingkungan yang penduduknya beragam. Di sana mereka membaur dengan masyarakat yang multikultur dan multi Bahkan di lingkungan tempat tinggal TP, beliau adalah satu-satunya yang beragama Katolik. Selain TP, salah satu mahasiswa berinisial A berjenis kelamin Perempuan, mengatakan bahwa ia tinggal di salah satu kost yang dimiliki oleh orang yang beragama Islam. Di sana ia adalah satu-satunya orang yang beragam Katolik yang tinggal di kost tersebut. Berikut adalah data jumlah penduduk yang mendiami kota Pontianak dan persentase suku yang tinggal di kota Pontianak. Tabel 3 Jumlah Penduduk Tahun 2020-2022 di Kota Pontianak Kecamatan Jumlah Penduduk (Jiw. Pontianak Selatan Pontianak Tenggara Pontianak Timur Pontianak Barat Pontianak Kota Pontianak Utara Kota Pontianak (Dukcapil, 10 Agustus 2023, 18. 00 WIB) Dialog dan Hidup Persaudaraan Kaum Muda Katolik dalam Terang Ensiklik Fratelli Tutti dari Paus Fransiskus di Kota Pontianak Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan kedua puluh tiga subjek penelitian, dapat diketahui bagaimana dialog dan hidup persaudaraan kaum muda Katolik dalam terang ensiklik Fratelli Tutti dari Paus Fransiskus. Penyelenggara Bimbingan Masyarakat Katolik kota Pontianak. BA mengatakan bahwa walaupun umat Katolik dikategorikan sebagai penduduk yang minoritas di Pontianak. Namun, sampai saat ini relasi dan interaksi antar umat beragama masih berjalan dengan baik. BA mengatakan bahwa meskipun di lingkungan tempat kerjanya, beliau dan beberapa stafnya hidup berdampingan dengan umat beragama lain. Namun demikian, sampai saat ini belum pernah terjadi konflik antar mereka. Begitu juga ketika BA berada di lingkungan tempat Meskipun BA dan keluarganya tinggal di lingkungan yang di mana mereka minoritas. Namun demikian, belum pernah terjadi masalah di antara mereka. Jadi, menurut BA dalam masyarakat yang multikultur dan multi agama di kota Pontianak sampai saat ini masih berjalan dengan baik. Hal tersebut dinyatakan BA lewat pengalaman yang dialami di lingkungan kerja serta lingkungan tempat tinggal. Meskipun berada di lingkungan yang minoritas, namun tolerenasi tetap terjaga. Dengan begitu BA memaparkan bahwa semangat persaudaraan di antara mereka terjalin dengan baik. Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan kepada TP dan A, dosen yang mengajar dan mengampu mata kuliah Agama Katolik di Universitas Tanjungpura dan Politeknik Negeri Pontianak. Menurut TP yang mengampu mata kuliah Agama Katolik di Universitas Tanjungpura, mengatakan bahwa selama TP bekerja di Universitas Tanjungpura ditahun awal bekerja intolenransi masih terasa. Terutama karena beliau merupakan orang yang berasal dari suku Dayak dan beragama Katolik. Namun seiring berjalannya waktu, hal tersebut sudah tidak terjadi Hingga saat ini meskipun dikategorikan sebagai minoritas di kampus tersebut. TP dipercayakan sebagai Kaprodi FKIP Universitas Tanjungpura. Di samping lingkungan kerja. TP juga tinggal di tengah lingkungan yang mayoritas, sedangkan TP dan keluarga adalah minoritas. TP mengatakan bahwa dalam komplek tempat tinggalnya hanya TP dan keluarganya saja yang beragama Katolik. Meskipun TP dan keluarganya minoritas di tengah masyarakat yang plural, mereka dapat hidup berdampingan serta tetap menghargai perbedaan satu sama lain. Jadi, meskipun TP tinggal dan bekerja di lingkungan yang mayoritas. Namun. TP tetap bisa berinterkasi dengan lingkungannya. TP juga memaparkah bahwa dalam lingkungan tempat tinggalnya semangat persaudaraan antar umat beragama tetap bisa terjalin dengan baik. Berbeda dengan TP. A yang mengajar mata kuliah Agama Katolik di Politeknik Negeri Pontianak. Berdasarkan pengalaman yang dirasakan selama mengajar di kampus itu. A merasa masih adanya diskriminasi. Hal tersebut dilihat dari bagaimana pihak kampus yang sulit memberikan ruang bagi mahasiswa yang akan belajar mata pelajaran Agama. Di samping itu, mata pelajaran agama, khususnya agama Katolik hanya diberikan satu jam saja. A juga mengatakan bahwa mahasiswa yang menganut agama mayoritas di kampus tersebut tidak terlalu mau untuk berinterkasi dengan mahasiswa yang lain, yang minoritas. Namun demikian, sejauh ini belum pernah ada konflik yang terjadi. Hanya saja interaksi yang kurang antar mahasiswa yang berbeda agama. Hal tersebut terjadi karena masih adanya rasa intoleran dari mahasiswa yang berkuliah di tempat itu. Oleh karena itu, interaksi antara mahasiswa yang satu dengan yang lainnya menjadi kurang terjalin. Berbeda dengan lingkungan tempat kerjanya. A memaparkan bahwa di lingkungan tempat tinggalnya masyarakatnya sangat toleransi. Hal tersebut dibuktikan ketika adanya kegiatan di Meskipun A adalah warga yang minoritas di lingkungannya, namun masyarakat sekitar tetap bisa berinteraksi dengan baik. A juga selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan yang ada. Jadi. A memaparkan meskipun di tempat kerja kurang terjalin interaksi dengan baik. Namun, di lingkungan tempat tinggalnya A dapat berinteraksi dengan baik. Semangat persaudaraan dalam lingkungan tempat tinggalnya terjalin dengan baik. Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan kepada dua puluh mahasiswa. Mahasiswa tersebut terdiri dari sepuluh mahasiswa Universitas Tanjungpura dan sepuluh mahasiswa Politeknik Negeri Pontianak. Dari sepuluh mahasiswa Universitas Tanjungpura, tiga di antaranya merasa bahwa masih ada diskriminasi. Meskipun menurut pemaparan mereka hal tersebut tidak terjadi secara langsung. Namun mereka dapat merasakan itu. Sedangkan tujuh mahasiswa lainnya memaparkan bahwa selama ini toleransi antar mereka terjalin dengan baik. Meskipun mereka adalah kelompok minoritas, namun tidak membuat mereka merasa terintimidasi. Sebaliknya, mereka merasa bahwa interaksi yang selama ini terjalin berjalan dengan baik. Jadi, menurut pemaparan sepuluh mahasiswa hanya tiga yang merasa bahwa masih kurangnya interkasi di antara mereka. Namun demikian, tujuh diantaranya merasa bahwa semangat persaudaraan diantara mereka terjalin dengan baik. Mereka juga merasa toleransi antar umat yang berbeda agama dan budaya dapat hidup berdampingan. Di samping itu, dari sepuluh mahasiswa Politeknik Negeri Pontianak, tiga diantaranya mengatakan masih adanya diskriminasi. Hal tersebut paparkan oleh ketiga mahasiswa tersebut lewat interkasi dan pengalaman selama mereka berkuliah di tempat itu. Sedangkan dua lainnya mengatakan bahwa mereka sampai saat ini juga belum bisa berinterksi dengan baik. Mereka berdua masih menyesuaikan dengan situasi. Berbeda dengan lima mahasiswa lainnya, mereka mengatakan bahwa tidak ada permasalahan yang terjadi ketika mereka berinteraksi dengan mahasiswa yang Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan dibeberapa tempat di kota Pontianak, diketahui bahwa penduduknya terdiri dari masyarakat yang multikultur. Diketahui bahwa di kota Pontianak ini penduduknya terdiri dari suku Melayu. Dayak. Tionghoa. Madura dan lain Di samping suku yang beragam, diketahui juga bahwa agama yang dianut oleh setiap penduduknya juga beragam. Ada yang menganut agama Katolik. Protestan. Islam. Hindu. Budha. Konghucu dan aliran kepercayaan. Keberagaman yang ada di kota Pontianak ini tentunya menimbulkan beberapa polemik antar mereka. Terkadang timbul politik identitas yang memancing pertikaian antar suku maupun Namun demikian, sejauh ini belum pernah terjadi permasalahan yang berkaiatan dengan suku maupun agama, baik di lingkungan kerja maupun lingkungan tempat tinggal. Keberagaman tersebut justru menjadi warna baru yang dapat menumbuhkan semangat persaudaraan antar masyarakat setempat dengan lingkungnya. Fakta ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dibeberapa tempat. mana tempat tersebut terdiri dari kantor pemerintahan dan universitas yang ada di kota Pontianak. Peneliti menggali informasi lewat mahasiswa, dosen dan tokoh masyarakat. Berdasarkan pengamatan tersebut ditemukan bahwa sejauh ini interaksi antar masyarakat suku, agama dan budaya yang berbeda masih terjalin dengan baik, meskipun ada hal yang tidak terlalu kentara berkaitan dengan intoleransi. Fakta tersebut kurang lebih sama dengan yang disampaikan oleh Satrio dan Bhanu . Secara umum mereka membahas bagaimana politik kemanusiaan dan relevansi politik kemanusiaan itu dalam ensiklik Fratelli Tutti. Hasil dari penelitian mereka adalah bahwa politik kemanusiaan relevan untuk diterapkan. Namun. Gereja Katolik Indonesia masih harus berjuang untuk mewujudkan politik kemanusiaan ini. Sejalan dengan itu, fakta lain juga diungkapkan oleh Olissa . Di mana semangat persaudaraan universal perlu diterapkan dalam lingkungan masyarakat yang beragam. Dalam hal ini. Olissa . menggambarkan konsep liberalisme sosiologis. Hal ini sejalan dengan yang peneliti dapatkan di lapangan. Di mana peneliti mendapatkan bahwa meskipun penduduknya beragam, baik dari suku, agama dan budayanya, tetapi mereka dapat hidup berdampingan. Berdasarkan hasil penelitian dan kajian teori, peneliti menyimpulkan bahwa kota Pontianak merupakan kota yang beragam, baik dari sisi suku, agama dan budayanya. Namun, meskipun penduduknya beragam sejauh ini belum pernah terjadi konflik yang menimbulkan kekacauan seperti yang terjadi di masa lalu. Hal tersebut terjadi karena interaksi antar umat beragama maupun antar suku yang berbeda dapat berjalan dengan baik. Sehingga mereka dapat hidup berdampingan satu dengan yang lain. Pendapat Kaum Muda terhadap Masyarakat Multikultur di Kota Pontianak Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan kepada BA selaku penyelenggara Bimbingan Masyarakat Katolik kota Pontianak, beliau memaparkan bahwa kota Pontianak memang terdiri dari masyarakat yang multikultur. Hal tersebut dibuktikan dengan lingkungan tempat kerja, yang di mana terdiri dari agama Katolik. Protestan. Hindu. Budha. Konghucu dan Islam. samping itu. BA juga memaparkan bahwa di lingkungan tempat kerjanya juga terdiri dari berbagai suku yang berbeda. Ada yang berasal dari suku Melayu. Dayak. Jawa. Madura. Sunda. Batak, dan lain sebagainya. Namun mereka tetap menjaga toleransi. Dengan toleransi tersebut tumbuh semangat persaudaraan di antara mereka. Selain di tempat kerja. BA juga memaparkan bahwa lingkungan tempat tinggalnya juga terdiri dari masyarakat yang beragam. Di mana masyarakatnya terdiri dari mayoritas beragama Islam dan untuk yang beragama Katolik hanya beberapa orang saja. Di samping itu, masyarakat yang tinggal di lingkungan itu juga berasal dari suku yang berbeda. Ada yang berasal dari suku Melayu. Dayak. Madura. Tionghoa dan Jawa. Meskipun mereka berasal dari suku yang berbeda, tetapi mereka dapat saling menghargai satu sama lain. Hal tersebut BA paparkan dan BA juga mengatakan bahwa meskipun ada sejarah kelam konflik antar suku yang terjadi dimasa lampau. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat antar masyarakat untuk menjalin hubungan dan interaksi yang baik dengan sesama. Jadi, meskipun BA tinggal dan bekerja di lingkungan yang multikultur, baik agama, suku dan budayanya. Namun. BA memaparkan hal tesebut tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk membangun interkasi dan semangat persaudaraan diantara mereka. Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan kepada TP dan A selaku dosen pengampu dan pengajar mata kuliah Agama Katolik di Universitas Tanjungpura dan Politeknik Negeri Pontianak. TP dan A memaparkan bahwa benar, bahwa lingkungan tempat kerja mereka terdiri dari masyarakat yang multikultur. Hal tersebut dibuktikan dengan mahasiswa yang beragam, baik suku, agama dan budayanya. TP dan A, mengatakan bahwa mahasiswa yang berkuliah di kedua kampus tersebut terdiri dari agama yang beragam, baik Katolik. Protestan. Islam. Hindu. Budha dan Konghucu. Di samping itu. TP dan A juga memaparkan bahwa suku dari mahasiswa yang berkuliah di tempat itu juga beragam. Ada yang berasal dari suku Dayak. Melayu. Madura. Batak. Jawa. Flores. Papua, dan lain sebagainya. Bahkan terkhusus di Politeknik Negeri Pontianak, mahasiswanya berasal dari Sarawak Malaysia. Meskipun demikian, sampai saat ini belum pernah terjadi konflik yang menyebabkan pertengkaran diantara mereka. Selain di lingkungan tempat kerja. TP dan A juga memaparkan bahwa mereka tinggal di antara masyarakat yang multikultur dan beragam agamanya. TP memaparkan bahwa sampai saat ini di lingkungan tempat tinggalnya ia dan keluarga merupakan satu-satunya penduduk yang beragama Katolik. TP tinggal di lingkungan yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun demikian. TP tetap bisa berinteraksi dengan baik. Bahkan setiap hari raya keagamaan. TP selalu memberikan parsel kepada mereka. Di samping itu. TP juga selalu dilibatkan dalam kegiatan yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Berbeda dengan TP. A tinggal di lingkungan yang agama dan sukunya beragam. memaparkan bahwa masyarakat yang tinggal di lingkungannya terdiri dari agama Katolik. Islam dan Protestan. Meskipun demikian. A memaparkan bahwa mereka dapat berinteraksi baik dengan Dalam beberapa kegiatan mereka selalu dilibatkan. Di samping agama yang beragam. A juga mengatakan bahwa di lingkungan tempat tinggalnya terdiri dari suku yang beragam pula. Ada yang berasal dari suku Dayak. Jawa. Batak dan mayoritas Madura. Namun demikian, hal tersebut tidak mempengaruhi interaksi diantara mereka. Mereka dapat hidup berdampingan. Jadi, berdasarkan pemaparan di atas, dari pengalaman TP dan A, terkait dengan keberagaman yang ada di kota Pontianak. TP dan A dapat hidup berdampingan di tengah keberagaman yang ada. Meskipun TP dan A dikategorikan sebagai masyarakat yang minoritas, namun mereka dapat hidup berdampingan dengan sesamanya. Semangat persaudaraan mereka dengan lingkungannya dapat terjalin dengan baik. Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan kepada dua puluh mahasiswa yang adalah kaum muda Katolik yang berkuliah di Universitas Tanjungpura dan Politeknik Negeri Pontianak. Mereka memaparkan bahwa mereka mengakui bahwa Pontianak merupakan salah satu kota yang penduduknya multikultur. Hal tersebut dibuktikan dengan beragamnya mahasiswa yang berkuliah didua kampus tersebut. Di samping itu juga, mereka memaparkan bagaimana lingkungan tempat tinggal mereka. Mereka memaparkan, baik di Universitas Tanjungpura maupun di Politeknik Negeri Pontianak, mahasiswanya berasal dari agama dan suku yang berbeda. Mereka memaparkan bahwa ada mahasiswa yang beragama Katolik. Protestan. Islam. Hindu. Budha dan juga Konghucu. samping itu, mahasiswanya juga berasal dari suku yang berbeda. Suku tersebut antara lain Dayak. Melayu. Tionghoa. Batak. Madura. Jawa, dan masih banyak lagi. Bahkan untuk yang berkuliah di Politeknik Negeri Pontianak, ada beberapa mahasiswa yang berasal dari Sarawak Malaysia. Di samping lingkungan tempat berkuliah, mereka juga memaparkan bahwa lingkungan tempat tinggal saat ini juga terdiri dari masyarakat yang multikultur. Mereka memaparkan secara umum mereka tinggal bersama dengan masyarakat yang multikultur. Di mana kemultikulturan tersebut tidak jarang menimbulkan sedikit konfilik. Namun kemultikulturan tersebut juga malah menumbuhkan semangat persaudaraan di antara mereka. Meskipun ada beberapa dari mereka yang merasa bahwa dalam lingkungannya kurang bisa berinteraksi. Hal tersebut terjadi karena kurangnya intensitas pertemuan diantara mereka. Di mana mereka sediri memiliki kesibukan, entah berkuliah ataupun bekerja. Jadi, secara umum kaum muda Katolik menyadari bahwa mereka tinggal dan bertumbuh di antara masyarakat yang multikultur. Kemultikulturan tersebut, baik dari agama, budaya dan suku. Namun demikian, mereka menyatakan bahwa kemultikulturan tersebut bukanlah halangan untuk mereka dapat berkembang. Sebaliknya, kemultikulturan tersebut dapat mereka syukuri sebagai bagian dari kekayaan dan anugerah dari Tuhan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, peneliti melihat bagaimana pendapat kaum muda Katolik terhadap masyarakat multikultur di Kota Pontianak. Kaum muda Katolik yang merupakan mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas yang ada di kota Pontianak. Menurut mereka. Pontianak merupakan kota yang penduduknya merupakan masyarakat yang multikultur dan multi agama. Hal tersebut dipaparkan oleh para narasumber yang adalah kaum muda Katolik. Di mana mereka juga berkerja, berkuliah dan tinggal di kota Pontianak. Keberagaman tersebut mereka rasakan nyata lewat kehidupan mereka sehari-hari. Mereka berinteraksi dan bergaul dengan masyarakat yang beragam. Dalam keberagaman tersebut mereka tak jarang merasakan bahwa ada beberapa oknum yang masih intoleran dengan orang lain dan ingin membuat masalah. Hal tersebut dilakukan secara tidak kentara. Sehingga tidak sampai terjadi konflik diantara mereka. Disisi lain, beberapa kaum muda merasa bahwa interaksi yang mereka alami bersama masyarakat yang beragam dapat terjalin dengan harmonis. Sikap toleransi masih terasa. Hubungan antara masyarakat satu dengan yang lainnya berjalan dengan baik. Mereka juga saling menghormati satu sama lain. Dalam interkasi dengan sesama di tengah masyarakat yang multikultur, mereka dapat mengambil sikap. Fakta ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Muthoharo . , bahwa sikap toleransi perlu ditekankan dalam masyarakat yang beragam. Dengan harapan dengan sikap toleransi itu dapat menumbuhkan semangat persaudaraan diantara mereka. Sehingga tidak ada konflik, yang dapat menimbulkan permasalah yang berhujung pada pertengkaran. Oleh karena itu, penting untuk kita semua untuk menanamkan sikap toleransi antar sesama, baik dengan sesama yang seiman atau sesuku dengan kita. Serta lebih-lebih dengan sesama yang berbeda dengan kita. Sesuai denga napa yang termuat dalam ensiklik dari Paus Fransiskus yang mengajak kita semua untuk dapat hidup dalam persaudaraan. Berdasarkan hasil penelitian dan kajian teori, peneliti menyimpulkan bahwa di dalam kehidupan masyarakat yang multikultur, kita semua diajak untuk menanamkan sikap toleransi kepada sesama kita. Di mana jika ada isu-isu yang berkaitan dengan suku maupun agama yang tidak sesuai, dapat menimbulkan konflik antar satu dengan yang lain. Maka dari itu, penting untuk kaum muda saling menjaga kerukunan di tengah perbedaan yang ada. Dengan begitu masyarakat satu dengan yang lainnya dapat hidup berdampingan. Di samping itu, keberagaman yang ada ini harus kita syukuri sebagai rahmat dari Tuhan yang maha kuasa. Dialog dan Hidup Persaudaraan Kaum Muda Katolik dalam terang Ensiklik Fratelli Tutti dari Paus Fransiskus di Kota Pontianak Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan di beberapa tempat di Pontianak. Tempat penelitian tersebut antara lain kantor pemerintahan dan beberapa kampus yang ada di kota Pontianak. Penelitian mendapatkan beberapa fakta tentang dialog dan hidup persaudaraan kaum muda Katolik. Di mana rata-rata kaum muda Katolik berkuliah dibeberapa kampus, yang di mana mereka dikategorikan sebagai kelompok minoritas. Begitu juga dengan yang bekerja di kantor Di mana kita juga tahu bahwa mereka juga tergolong dalam kelompok yang Namun demikian, secara garis besar interkasi dan dialog di antara mereka dapat berjalan dengan baik. Hal tersebut sesuai dengan ajakan Bapa Suci. Paus Fransiskus yang mengajak umat Katolik untuk bisa hidup dalam persaudaraan di tengah keberagaman. Sejalan dengan itu. Julius Kardinal Darmaatmadja . , dalam bukunya yang berjudul AuBeriman Cerdas. Tangguh. Misioner dan Dialgal,Ay mengatakan bahwa kita semua umat beriman diajak untuk menjunjung tinggi nilai kasih, damai sejahtera, solidaritas dan persaudaraan. Ajakan tersebut membawa kita agar dapat hidup rukun dan damai dalam masyarakat yang multikultur. Fakta tersebut sejalan dengan yang dikatakan oleh Olissa . Di mana semangat persaudaraan universal dalam ensiklik Fratelli Tutti digaungkan dalam masyarakat. Hal tersebut juga sejalan dengan apa yang peneliti dapatkan di lapangan. Dialog hidup persaudaraan kaum muda di tengah masyarakat yang multikultur dalam berjalan dengan baik. Meskipun mereka dikategorikan ke dalam kelompok yang minoritas. Namun demikian, interaksi mereka dengan masyarakat sekitar dapat berjalan dengan baik, tanpa adanya konflik yang berarti. Fakta lain juga dikatakan oleh Muthoharo . Di mana berdasarkan pengalaman yang dialaminya, ia melihat bagaimana relasi siswa Muslim dengan siswa Katolik dapat berjalan dengan Sikap toleransi tercermin dari pengalaman hidup siswa dengan lingkungan sekolahnya. mana siswa dapat menghargai ketika ada teman yang beribadah. Hal tersebut juga sudah tercerin dalam masyarakat kota Pontianak. Dalam hal ini peneliti melakukan penelitian di kampus dan kantor pemerintahan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di beberapa tempat, sebagaian besar narasumber mengatakan bahwa toleransi antar umat beragama dan suku di kota Pontianak berjalan dengan baik. Namun demikian, ada beberapa narasumber yang berdasarkan pengalamannya mengatakan bahwa masih ada sikap diskriminasi tidak kentara yang terjadi saat ini. Namun demikian, secara keseluruhan hal tersebut tidak sampai menimbulkan pertikaian yang berhujung pada perkelahian. Berdasarkan hasil penelitian dan kajian teori, peneliti menyimpulkan bahwa dialog dan hidup persaudaraan kaum muda Katolik di kota Pontianak terjalin dengan baik. Hal tersebut sesuai dengan ajakan dari Bapa Suci Paus Fransiskus. Di mana dalam dokumen terbarunya yang berjudul Fratelli Tutti . audara semu. , mengajak kita sebagai umat beriman Katolik untuk dapat menjalin hidup kebersamaan dalam hidup persaudaraan sejati. Hal tersebut dilandaskan dengan semangat cinta kasih persaudaraan di tengah keberagaman yang ada. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi yang dilaksanakan di kota Pontianak, secara khusus di kantor Kementerian Agama. Universitas Tanjungpura dan Politeknik Negeri Pontianak. Maka, dapat diambil beberapa kesimpulan. Kesimpulan tersebut dipaparkan sebagai berikut: Deskripsi Keragaman Agama dan Budaya di Kota Pontianak Kota Pontianak merupakan kota yang beragam, baik dari sisi suku, agama dan Namun, meskipun penduduknya beragam sejauh ini belum pernah terjadi konflik yang menimbulkan kekacauan seperti yang terjadi di masa lalu. Hal tersebut terjadi karena interaksi antar umat beragama maupun antar suku yang berbeda dapat berjalan dengan baik. Sehingga mereka dapat hidup berdampingan satu dengan yang lain. Dialog dan Hidup Persaudaraan Kaum Muda Katolik dalam terang Ensiklik Fratelli Tutti dari Paus Fransiskus di Kota Pontianak Dialog dan hidup persaudaraan kaum muda Katolik di kota Pontianak terjalin dengan baik. Hal tersebut sesuai dengan ajakan dari Bapa Suci Paus Fransiskus dalam ensikliknya. Fratelli Tutti . audara semu. Kita sebagai umat beriman Katolik diajak untuk dapat menjalin hidup kebersamaan dalam hidup persaudaraan sejati. Hal tersebut dilandaskan dengan semangat cinta kasih persaudaraan di tengah keberagaman yang ada. Pendapat Kaum Muda terhadap Masyarakat Multikultur di Kota Pontianak Di dalam kehidupan masyarakat yang multikultur, kita semua diajak untuk menanamkan sikap toleransi, persaudaraan dan cinta kasih kepada sesama kita. Di mana jika ada isu-isu yang berkaitan dengan suku maupun agama yang tidak sesuai, dapat menimbulkan konflik antar satu dengan yang lain. Maka dari itu, penting untuk kaum muda saling menjaga kerukunan di tengah perbedaan yang ada. Dengan begitu masyarakat satu dengan yang lainnya dapat hidup berdampingan. Di samping itu, keberagaman yang ada ini harus kita syukuri sebagai rahmat dari Tuhan yang maha kuasa. DAFTAR PUSTAKA