JURNAL ABDI INSANI Volume 13. Nomor 4. April 2026 http://abdiinsani. e-ISSN : 2828-3155. p-ISSN : 2828-4321 PEMANFAATAN SAMPAH SISA PERSEMBAHYANGAN MENJADI ECO-ENZYME SEBAGAI PUPUK CAIR RAMAH LINGKUNGAN DI DESA ADAT BULELENG Utilizing Organic Waste from Religious Offerings for Eco-Enzyme Production as an Environmentally Friendly Liquid Fertilizer in The Buleleng Traditional Village Putu Dewi Merlyna Yuda Pramesti*. Jean Nihana Mulyo Putri Manalu. Made Ary Meitriana Universitas Pendidikan Ganesha Jl. Udayana No. 11 Singaraja Bali 81116 *Alamat Korespondensi: dewi. merlyna@undiksha. (Tanggal Submission: 5 Oktober 2025. Tanggal Accepted : 26 Februari 2. Kata Kunci : Abstrak : Eco-Enzyme. Fermentasi. Pupuk Cair. Sampah Organik Bali merupakan salah satu daerah penyumbang sampah terbesar di Indonesia. Salah satu faktor terbesar penyebab permasalahan sampah ini adalah adanya aktivitas keagamaan masyarakat Bali yang cukup tinggi. TPS 3R NEKAD KEDAS merupakan tempat pengelolaan sampah di Desa Adat Buleleng. Jumlah sampah terbanyak yang ditampung di TPS 3R NEKAT KEDAS adalah 416,29 kg/hari sampah organik. Pengelolaan sampah organik dapat dilakukan dengan memanfaatkannya sebagai eco-enzyme yang dapat dijadikan sebagai pupuk Metode yang digunakan pada kegiatan pengabdian berupa sosialisasi, pelatihan dan pendampingan. Sasaran dalam kegiatan ini adalah anggota KMP yang berjumlah 10 orang dan perwakilan 14 banjar di Desa Adat Buleleng. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan tentang pengelolaan sampah organik, pemanfaatan sisa sampah organik persembahyangan, dan pengemasan hasil fermentasi eco-enzyme yang dapat digunakan sebagai pupuk Hasil kegiatan yang diperoleh adalah pembuatan eco-enzyme berhasil . itandai dengan bau khas fermentasi dan tidak terkontaminasi oleh mikrob. dan peserta bisa melakukan pemanen serta pengemasan. Berdasarkan hasil evaluasi, terjadi peningkatan pengetahuan dan sikap peserta terhadap pemanfaatan eco-enzyme sebagai pupuk cair yaitu sebesar 44%, sedangkan ketrampilan peserta dalam pembuatan eco-enzyme mengalami peningkatan sebesar 94%. Key word : Abstract : Eco-Enzyme. Fermentation. Liquid Fertilizer. Organic Waste Bali is one of the largest contributors to waste in Indonesia. One of the major factors driving this issue is the high frequency of religious activities among the Balinese community. TPS 3R NEKAD KEDAS is a waste management facility located in the Buleleng Traditional Village. The greatest amount of waste Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Pramesti et al. , 15 processed at TPS 3R NEKAD KEDAS consists of organic waste, totaling 416. 29 kg per day. Organic waste can be managed by converting it into eco-enzymes, which can be used as liquid fertilizer. The methods used in this community service program included socialization, training, and mentoring. The participants of this activity consisted of 10 KMP members and representatives from 14 banjars in the Buleleng Traditional Village. The purpose of this program was to provide knowledge about organic waste management, the utilization of organic waste generated from religious offerings, and the packaging of fermented eco-enzymes that can be used as liquid fertilizer. The program resulted in successful eco-enzyme production, indicated by a characteristic fermentation odor and the absence of microbial contamination. Participants were also able to harvest and package the eco-enzymes. Based on the evaluation results, there was an increase of 44% in participants' knowledge and attitudes toward the use of eco-enzymes as liquid fertilizer, while participants' skills in producing eco-enzymes increased by 94%. Panduan sitasi / citation guidance (APPA 7th editio. Pramesti. Manalu. , & Meitriana. Pemanfaatan Sampah Sisa Persembahyangan Menjadi Eco-Enzyme Sebagai Pupuk Cair Ramah Lingkungan Di Desa Adat Buleleng. Jurnal Abdi Insani, 13. , 15-25. https://doi. org/10. 29303/abdiinsani. PENDAHULUAN Pengelolaan sampah organik masih menjadi salah satu permasalahan utama di berbagai daerah di Indonesia. Bali merupakan salah satu daerah penyumbang sampah terbesar di Indonesia. Salah satu faktor terbesar penyebab permasalahan sampah ini adalah adanya aktivitas keagamaan masyarakat Bali yang cukup tinggi (Pradnyana dan Mahadewi, 2. Limbah sampah yang dihasilkan dari Provinsi Bali mencapai lebih 4. 000 ton sampah per harinya. Limbah sampah yang dihasilkan berupa 60% sampah organik, 20% sampah anorganik, sisanya terdiri atas berbagai jenis sampah lainnya, termasuk sampah yang berasal dari kegiatan di pura (Wijaya dan Putra, 2. Salah satu bentuk sampah organik yang jumlahnya cukup melimpah adalah sisa persembahyangan, terutama dari upacara adat dan kegiatan keagamaan Hindu yang rutin dilakukan masyarakat. Sisa persembahyangan tersebut umumnya berupa bunga, daun, maupun sisa makanan, yang apabila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan permasalahan lingkungan, seperti bau tidak sedap, pencemaran, dan penumpukan volume sampah di Tempat Pengolahan Sampah (TPS). Permasalahan limbah sampah perlu mendapat perhatian dari semua pihak, baik dari pemerintah, industri, dan masyarakat. Pengelolaan sampah harus dilakukan secara efektif dan efisien. Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap keberadaan limbah sampah harus ditingkatkan karena peranan limbah sampah sangat mempengaruhi bagi kesehatan masyarakat dan terutama bagi lingkungan (Yuliani dan Prasetyo, 2. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap limbah sampah adalah dengan melakukan tindakan pengelolaan sampah (Febriani et al. , 2. Salah satu cara yang dapat dilakukan secara berkelanjutan adalah dengan memanfaatkan limbah sampah sisa persembahyangan yang dihasilkan dari kegiatan upacara Desa Adat Buleleng merupakan salah satu desa di Kabupaten Buleleng yang memiliki aktivitas adat keagamaan yang cukup tinggi, sehingga menghasilkan jumlah sisa persembahyangan yang cukup besar setiap harinya. Berdasarkan data rencana sampah yang diolah oleh TPS 3R NEKAT KEDAS, ada sebanyak 416,29 kg/hari sampah organik yang ditampung (Tabel . TPS 3R NEKAT KEDAS merupakan tempat pengelolaan sampah di Desa Adat Buleleng. Pengelolaan sampah organik yang ditampung oleh TPS 3R Nekat Kedas ini dapat dilakukan dengan pembuatan eco-enzyme yang dapat digunakan sebagai bioaktivator pembuatan kompos. TPS 3R Nekat Kedas juga melakukan pembuatan kompos, sehingga diperlukan bioaktivator dengan biaya yang relatif Sampah organik yang ditampung oleh TPS 3R Nekad Kedas berasal dari buah Ae buahan sisa Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Pramesti et al. , 16 persembahyangan masyarakat Desa Adat Buleleng. Kondisi buah Ae buahannya masih segar karena setelah selesai aktivitas persembahyangan langsung dibawa ke TPS. Tabel 1. Rencana Sampah yang Diolah TPS 3R NEKAT KEDAS Jenis Sampah Organik Anorganik ekonomis Spesifik Residu Jumlah Berat Sampah . g/har. 416,29 kg/hari 139,96 kg/hari 0,00 kg/hari 77,48 kg/hari 633,73 kg/hari Vol. Sampah . 3/har. 0,96 m3/hari 1,76 m3/hari 0,00 kg/hari 0,67 m3/hari 3,39 m3/hari % berdasarkan % berdasarkan Eco-enzyme adalah hasil fermentasi limbah sampah organik segar yang berbentuk cairan yang dapat dijadikan sebagai pupuk organik dengan biaya produksi yang relatif lebih ekonomis dibanding dengan pupuk organik lainnya (Paendong et al. , 2. Larutan fermentasi eco-enzyme ini mengandung berbagai jenis enzim alami seperti hidrolase, amilase, lipase dan protease, mikroflora seperti ragi, jamur, dan bakteri anaerobik, nutrisi penting untuk tanaman seperti N. K, dan C-organik (Istanti et al. , 2. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pemanfaatan eco-enzyme mampu memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan tanaman. Penelitian oleh Sutarmi et al. melaporkan bahwa aplikasi eco-enzyme pada tanaman sayuran meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, serta produktivitas panen dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Sementara itu. Widyastuti dan Putra . menemukan bahwa penggunaan pupuk organik cair berbasis eco-enzyme dapat memperbaiki struktur tanah serta meningkatkan kadar unsur hara N. P, dan K. Pemberian pengetahuan dan pembuatan eco-enzyme ini perlu dilakukan, sehingga diperlukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) untuk membimbing masyarakat sehingga penggunaan eco-enzyme dapat berlangsung secara berkelanjutan. Kondisi ini membuka peluang bagi masyarakat untuk mengolah sisa persembahyangan menjadi eco-enzyme yang bernilai guna sebagai pupuk organik cair untuk mendukung pertanian berkelanjutan. Sasaran dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini adalah anggota KMP TPS 3R Nekat Kedas dan perwakilan masyarakat dari setiap banjar/dusun. Anggota KMP TPS 3R Nekat Kedas hanya sebagian kecil yang mengetahui tentang ecoenzyme, pemanfaatannya, dan teknik pembuatan eco-enzyme. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilakukan melalui dua tahapan, yaitu pemberian pengetahuan mengenai eco-enzyme dan pemanfaatannya serta pembuatan eco-ezyme dengan limbah sisa persembahyangan melalui proses fermentasi selama tiga bulan. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini, dilakukan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat Desa Adat Buleleng mengenai pemanfaatan dan pembuatan limbah sisa persembahyangan sebagai eco-enzyme yang dapat dijadikan sebagai pupuk cair. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan solusi nyata dalam pengelolaan sampah organik berbasis kearifan lokal, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pertanian ramah lingkungan, serta mendorong kemandirian masyarakat dalam menyediakan pupuk organik yang murah, mudah, dan berkelanjutan. METODE KEGIATAN Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilakukan selama 6 bulan yang dimulai dari bulan Mei 2025 di TPS 3R NEKAD KEDAS. Metode Pengabdian kepada Masyarakat ini dimulai dengan metode penyuluhan, yaitu pemberian materi, pengetahuan dan sosialisasi kepada peserta PkM mengenai ecoenzyme dan pemanfaatannya. Kegiatan PkM dilanjutkan dengan metode selanjutnya, yaitu pelatihan pembuatan eco-enzyme dan langsung dilakukan oleh peserta PkM. Kegiatan selanjutnya dilakukan dengan mendampingi peserta PkM selama proses fermentasi berlangsung selama tiga bulan. Bahan Ae bahan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah berbagai jenis buah Ae buahan, seperti jeruk, pisang, nanas, buah naga, salak, apel, dan pir. Kondisi buah yang digunakan masih dalam keadaan segar . Bahan Ae bahan utama lainnya adalah air bersih . idak berklorin tingg. dan Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Pramesti et al. , 17 Alat Ae alat yang digunakan adalah drum dengan ukuran 200 liter, kain saring, dan botol ukuran 500 ml dan 1 liter yang digunakan sebagai wadah kemasan larutan eco-enzyme yang telah dipanen. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu: Sosialisasi Kegiatan sosialisasi dilakukan dengan menggunakan metode ceramah dan diskusi untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman eco-enzyme kepada peserta pengabdian yaitu anggota KMP dan masyarakat sekitar desa adat Buleleng. Sosialisasi meliputi pemanfaatan sampah organik sisa persembahyangan yang tidak dimanfaatkan dengan baik yang dapat digunakan untuk membuat ecoenzymee sebagai pupuk organik cair sehingga dapat menekan biaya operasional dalam proses budidaya tanaman. Tujuan sosialisasi dilakukan untuk menumbuh kembangkan kesadaran peserta mengenai dampak sampah organik dan pemanfaatannya. Pelatihan Kegiatan pelatihan dilakukan untuk menghasilkan produk eco-enzyme. Kegiatan pelatihan dilakukan dengan praktik pembuatan eco-enzyme dengan mendemonstrasikan kepada peserta pengabdian kepada masyarakat. Demonstrasi praktik pembuatan eco-enzyme akan dilakukan oleh mahasiswa yang terlibat dalam tim pelaksana pengabdian kepada masyarakat. Metode pembuatan eco-enzyme dilakukan dengan merujuk pada Alim et al. , . melalui beberapa tahapan, yaitu: Persiapan Bahan Baku Bahan Ae bahan yang akan digunakan dalam pembuatan eco-enzyme adalah molase atau gula merah, air, dan sampah organik yang berasal dari sisa persembahyangan berupa buah Ae buahan. Pengolahan sisa persembahyangan menjadi eco-enzyme - Sampah organik sisa persembahyangan yang akan digunakan terlebih dahulu dicuci sampai bersih untuk menghindari kontaminasi patogen dan dipotong menjadi bagian kecil. Komposisi bahan Ae bahan yang digunakan, yaitu molase atau gula, sampah sisa persembahyangan dan air yaitu sebesar 1:3:10. - Pencampuran bahan Ae bahan eco-enzyme dilakukan dengan memasukkan 10 bagian air kedalam wadah sampai terisi 60% dari volume wadah. Sebanyak 1 bagian gula dimasukkan kedalam wadah tersebut dan dilanjutkan dengan memasukkan 3 bagian sampah sisa persembahyangan kedalam campuran fermentasi eco-enzyme. - Wadah yang telah terisi campuran fermentasi eco-enzyme ditutup hingga rapat untuk menghindari kontaminasi patogen atau cahaya matahari yang dapat merusak proses fermentasi selama 90 hari di tempat yang teduh dan bersih (Syaiful dan Ridwan, 2. Selama proses fermentasi terjadi, wadah fermentasi eco-enzyme dibuka pada minggu pertama dengan tujuan untuk mengeluarkan gas yang ada di dalam wadah. Pembukaan wadah dilakukan kembali setiap minggu selama 30 hari proses fermentasi. Pendampingan Pendampingan dilakukan pada tahapan waktu fermentasi eco-enzyme. Pendampingan kegiatan fermentasi eco-enzyme dilakukan oleh tim pelaksana pengabdian. Pendampingan dilakukan setiap satu kali dalam seminggu pada tahapan awal proses fermentasi eco-enzyme yaitu meliputi kegiatan pemeriksaan kondisi fermentasi yang menunjukkan proses fermentasi baik, yaitu tidak menunjukkan bau busuk akibat terkontaminasi dan kondisi wadah yang tidak menunjukkan adanya gas hasil fermentasi . ika menunjukkan adanya gas hasil fermentasi perlu dilakukan proses buka dan tutup wadah. Pemanenan Eco-enzyme Produk eco-enzyme dipanen setelah masa penyimpanan 90 hari yang dapat dilakukan dengan memisahkan ampas sampah sisa persembahyangan dari larutan eco-enzyme. Fermentasi ecoenzyme yang dapat dipanen memiliki warna kecoklatan, aroma khas fermentasi, tidak berbau busuk, dan larutan tidak kental atau encer. Cairan fermentasi ecoezyme dapat dimasukkan ke dalam botolbotol hasil panen dan dapat digunakan sebagai pupuk organik cair. Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Pramesti et al. , 18 Evaluasi Kegiatan evaluasi dilakukan melalui dua tahapan. Evaluasi tahap pertama dilakukan pada pra kegiatan pelatihan dengan tujuan untuk mengetahui pemahaman peserta sebelum dilaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan. Evaluasi tahap kedua dilakukan pada saat proses pelatihan dan kegiatan pendampingan. Evaluasi akan diukur dengan penilaian hasil kuisioner pre-test dan post-test. Gambar 1. Bagan Alur PkM HASIL DAN PEMBAHASAN Sosialisasi Eco-enzyme Kegiatan sosialisasi yang telah dilakukan yaitu dengan pemberian materi eco-enzyme dan pemanfaatannya serta pengemasan produk yang menarik dan ekonomis. Kegiatan sosialisasi ini juga dilakukan untuk mendorong motivasi peserta PkM untuk meningkatkan kesadaran terhadap pengelolaan sampah yang dapat dimanfaatkan dan berguna bagi kesehatan manusia dan lingkungan (Artaya et al. , 2. Kegiatan sosialisasi juga dilakukan dengan membuka forum diskusi bagi para peserta dengan tujuan terjadinya dialog interaktif mengenai pengolahan sampah organik (Gambar . Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengukur ketercapaian tujuan Pengabdian kepada Masyarakat ini adalah dengan mengetahui pengetahuan peserta PkM terhadap pengelolaan sampah organik dan pemanfaatan eco-enzyme. Teknik yang digunakan untuk mengukur pengetahuan peserta PkM dapat dilakukan dengan mengisi kuisioner . Kuisioner yang telah dikerjakan oleh peserta PkM yaitu kuisioner pre-test dan post-test. Kuisioner pre-test akan dikerjakan sebelum dilakukan pemberian materi eco-enzyme dengan tujuan untuk memberi gambaran awal pengetahuan peserta PkM. Kuisioner post-test diberikan setelah kegiatan pembuatan eco-enzyme berakhir dengan tujuan untuk mengetahui manfaat PkM melalui pengetahuan, sikap, dan ketrampilan peserta PkM dalam pengelolaan sampah anorganik dengan pembuatan eco-enzyme. Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Pramesti et al. , 19 Gambar 2. Diskusi Pemanfaatan Eco-enzyme Pembuatan Eco-enzyme Praktik pembuatan eco-enzyme dilakukan dengan mendemonstrasikan secara langsung teknik Pembuatan eco-enzyme dipandu oleh praktisi yang menekuni pembuatan eco-enzyme yang dibantu oleh tim Pengabdian kepada Masyarakat. Peserta PkM mengikuti tahapan Ae tahapan pembuatan yang telah diinstruksi oleh tim PkM. Pembuatan eco-enzyme dilakukan dengan merujuk pada metode Rahmawati . Tahapan pembuatan eco-enzyme dilakukan dengan pemilahan buah berdasarkan bentuk fisiknya, yaitu segar atau tidak. Tahapan sortasi bahan yang telah selesai dilanjutkan dengan pemotongan buah dengan ukuran yang kecil, sebagaimana yang disajikan dalam Gambar 2. Tujuan dilakukan pemotongan adalah untuk mempercepat proses fermentasi. Bagian buahbuahan yang digunakan adalah bagian buah-buahan secara keseluruhan, bukan hanya bagian kulitnya Gambar 3. Pemotongan buah - buahan yang telah di sortir Pemberian molase dilakukan dengan cara mencampurkannya dengan air sedikit demi sedikit dengan tujuan agar molase terhomogenisasi dengan air bersih. Perlakuan ini juga dilakukan agar molase tidak mengendap di dalam wadah. Jika molase telah larut maka potongan Ae potongan kecil buah Ae buahan yang digunakan dimasukkan ke dalam drum. Buah yang telah tercampur dengan molase dan air bersih selanjutnya dilakukan pengadukan. Pemberian molase pada pembuatan eco-enzyme yaitu sebagai makanan bagi mikroorganisme sehingga mempercepat proses fermentasi (. Semua bahan yang telah tercampur selanjutnya ditutup rapat agar tidak ada udara yang masuk dan tidak terjadi kontaminasi. Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Pramesti et al. , 20 Gambar 4. Pencampuran semua bahan yang digunakan Monitoring dan Pemanenan Eco-enzyme Kegiatan monitoring dilakukan setelah satu minggu pembuatan eco-enzyme. Proses fermentasi bulan pertama adalah tahapan fermentasi yang krusial, sehingga diperlukan pengecekan terhadap intensitas gas yang dihasilkan. Selama satu bulan pertama tutup wadah eco-enzyme dibuka sebentar untuk menurunkan gas yang dihasilkan. Proses fermentasi berlangsung dengan baik karena pada kegiatan monitoring terdapat aroma khas fermentasi sesuai dengan bahan-bahan yang digunakan seperti aroma khas buah jeruk yang dominan pada setiap wadah (Sinaga et al. , 2. Karakteristik eco-enzyme yang diperoleh dari hasil panen, yaitu aroma dari cairan eco-enzyme yaitu bau khas fermentasi dan warnanya coklat (Gambar . Gambar 5. Monitoring hasil fermentasi setelah satu minggu Pemanenan eco-enzyme dilakukan setelah waktu fermentasi selesai. Waktu fermentasi yang dibutuhkan pada umumnya adalah tiga bulan (Widiani dan Novitasari, 2. Tahapan pemanenan eco-enzyme dimulai dengan menyaring larutan dengan menggunakan saringan yang dapat memisahkan cairan eco-enzyme dengan ampas buah-buahan (Gambar . Cairan hasil fermentasi selanjutnya dimasukkan ke dalam botol kemasan. Botol kemasan yang digunakan berupa plastik dengan ukuran 500 ml dan 1 liter. Botol kemasan diberi label dengan keterangan jenis buah-buahan yang digunakan, volume, dan nama produk. Eco-enzyme yang telah dipanen dijual kepada masyarakat yang telah memesan sebelumnya. Harga jual eco-enzyme untuk ukuran 500 ml adalah Rp. 000 dan ukuran 1 liter adalah Rp 10. Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Pramesti et al. , 21 Gambar 6 Pemanenan fermentasi eco-enzyme Evaluasi Program Evaluasi program dilakukan dengan melihat hasil kuisioner pre-test dan post-test (Hanggara et Tabel 2 menunjukkan daftar pertanyaan yang diberikan pada kuisioner pre-test beserta dengan hasil yang diperoleh. Berdasarkan data dari tabel 2 diketahui pertanyaan meliputi pengetahuan peserta terhadap eco-enzyme dan pengelolaannya dengan pemanfaatan sampah Hasil kuisioner pre-test menunjukkan bahwa pengetahuan terhadap eco-enzyme masih rendah, yaitu < 50 %. Pertanyaan pada kuisioner pre-test selanjutnya dikembangkan dan dikelompokkan kedalam kategori pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. Berdasarkan diagram pada Gambar 7, pengetahuan peserta PkM terhadap eco-enzyme secara keseluruhan adalah sebesar 56%. Hasil ini dapat diartikan bahwa peserta PkM sebagian besar sudah mengetahui eco-enzyme. Kategori sikap peserta PkM terhadap pemanfaatan eco-enzyme sama dengan kategori pengetahuan, yaitu sebesar 56%. Keterampilan peserta PkM dalam pengolahan sampah organik adalah sebesar 6%. Berdasarkan hasil kategori ketrampilan, peserta PkM harus ditingkatkan motivasi dan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah organik. Tabel 2 Hasil Kuisioner Pre-test Pembuatan Eco-enzyme Nilai Pertanyaan Kuisioner (Ya, tah. Apakah anda pernah mendengar eco-enzyme sebelumnya? Apakah anda tahu sampah organik dapat dimanfaatkan? Apakah anda tahu apa itu eco-enzyme? Apakah anda tahu bagaimana cara membuat eco-enzyme? Apakah anda tahu apa saja manfaat dari penggunaan eco-enzyme? Apakah anda tahu bahwa sampah organik tidak hanya dapat diubah menjadi pupuk? (Tidak Apakah anda pernah melihat bentuk dari eco-enzyme? Apakah anda tertarik memanfaatkan/menggunakan bahan alami sebagai pupuk? Apakah Anda berminat beralih ke pupuk berbahan alami untuk keperluan pemupukan? Apakah anda sudah sering mendengar atau tahu pupuk dari limbah Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Pramesti et al. , 22 Gambar 7 Diagram Kategori Pre-test Hasil kuisioner post-test menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan peserta PkM yang dapat dilihat dari Gambar 8. Berdasarkan hasil evaluasi, seluruh peserta menunjukkan kategori tinggi pada aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan terkait materi yang Hal ini terlihat dari persentase 100% peserta berada pada kategori tinggi dan 0% pada kategori rendah di ketiga aspek tersebut. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pelatihan yang telah dilakukan berhasil meningkatkan pemahaman, respons positif, serta kemampuan praktis peserta secara optimal. Tabel 3. Hasil Kuisioner Post-test Pembuatan Eco-enzyme Pertanyaan Kuisioner (Ya, tah. Nilai (Tidak tah. Apakah Anda merasa mendapatkan pengetahuan baru tentang pengolahan limbah organik setelah mengikuti sosialisasi dan pelatihan eco-enzyme? Apakah Anda sudah mengetahui konsep eco-enzyme setelah kegiatan ini? Menurut Anda, apakah eco-enzyme dapat dijadikan alternatif pupuk organik cair yang ramah lingkungan? Apakah Anda berkomitmen untuk melakukan pengelolaan limbah organik setelah mengikuti kegiatan ini? Apakah Anda tertarik untuk menerapkan eco-enzyme dalam kehidupan sehari-hari atau di bidang pertanian? Apakah Anda mempraktikkan pembuatan eco-enzyme secara Apakah Anda dapat mengenali tanda-tanda fermentasi eco-enzyme yang berhasil atau gagal? Apakah eco-enzyme berpotensi meningkatkan produktivitas tanaman sayuran di Desa Adat Buleleng? Apakah dalam pembuatan eco-enzyme anda Anda mengalami kendala? Apakah Anda merasa teknik pembuatan eco-enzyme yang diajarkan mudah diikuti? Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Pramesti et al. , 23 Gambar 8 Diagram Kategori Post-test KESIMPULAN DAN SARAN Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini berhasil dalam memberikan edukasi pengelolaan limbah sampah organik dengan pemanfaatan buah-buahan sisa persembahyangan melalui pembuatan eco-enzyme. Proses fermentasi eco-enzyme berhasil dilakukan, larutan dicirikan dengan bau khas fermentasi dan tidak terjadi kontaminasi. Keberhasilan kegiatan PkM ini juga dapat diukur dengan peningkatan pengetahuan peserta terhadap eco-enzyme sebesar 44%, sikap peserta terhadap pengelolaan sampah organik sebesar 44%, dan ketrampilan peserta untuk membuat eco-enzyme sebesar 94%. Pengelolaan limbah sampah organik dengan pembuatan eco-enzyme diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan oleh anggota KMP TPS 3R NEKAD KEDAS dan masyarakat perwakilan Keterampilan ini jika dilakukan secara berkelanjutan akan menjadikan percontohan pengelolaan limbah organik kepada masyarakat secara luas. Program selanjutnya diperlukan dalam pengembangan biang eco-enzyme yang dapat dimanfaatkan sebagai produk, misalnya larutan antiseptik, sabun cair, deterjen alami, dan lain Ae lain. DAFTAR PUSTAKA