METAHUMANIORA ISSN: 2085-4838 : eISSN: 2657-2176 Vol. No. April 2026 Halaman: 10 - 19 PAKAIAN TRADISIONAL SEDULUR SIKEP DI BOJONEGORO SEBAGAI MEDIUM PEMERTAHANAN BUDAYA DI TENGAH ARUS MODERNISASI Fatikha Mayani. Samidi. Purnawan Basundoro Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Airlangga E-mail: fatikhamayani@gmail. samidi@fib. purnawan-b@fib. ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana masyarakat Sedulur Sikep mempertahankan pakaian tradisionalnya sebagai bagian dari upaya pemertahanan budaya lokal di tengah arus modernisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode studi pustaka dan observasi visual dengan metode analisis data deskriptif Teori representasi Stuart Hall digunakan untuk memahami bagaimana makna identitas budaya dibentuk dan disampaikan melalui simbol-simbol pakaian, sedangkan konsep budaya sebagai sistem makna Clifford Geertz digunakan untuk mengungkap bagaimana praktik berbusana komunitas Sedulur Sikep sebagai bagian dari konstruksi nilai-nilai sosial yang diwariskan secara turun-temurun. Selain itu, konsep cultural maintenance dari Berry digunakan untuk menjelaskan bagaimana komunitas mempertahankan nilai dan praktik budaya berpakaian adat sebagai bentuk kontinuitas identitas di tengah tekanan perubahan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakaian adat Sedulur Sikep tidak hanya berfungsi sebagai penanda identitas secara visual, tetapi juga mengandung makna filosofis yang berkaitan dengan kesederhanaan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap leluhur. Upaya pemertahanan pakaian adat Samin yang dilakukan oleh masyarakat Samin yaitu dengan mengenakannya dalam acara-acara penting seperti pertemuan masyarakat, pernikahan, dan kegiatan budaya lainnya. Upaya pemertahanan juga dilakukan melalui transmisi nilai kepada generasi muda serta melalui kebijakan pemerintah daerah yang mendukung penggunaan simbol-simbol budaya lokal di ruang-ruang formal. Kata kunci: Sedulur Sikep. pakaian tradisional. pemertahanan budaya. TRADITIONAL CLOTHING OF THE SEDULUR SIKEP COMMUNITY IN BOJONEGORO AS A MEDIUM FOR CULTURAL PRESERVATION AMID THE TIDE OF MODERNIZATION ABSTRACT. This study aims to examine how the Sedulur Sikep community preserves its traditional clothing as part of efforts to preserve local culture amid the tide of modernization. This study uses a qualitative approach with literature study and visual observation methods and descriptive interpretive data analysis. Stuart HallAos theory of representation is used to understand how cultural identity is formed and communicated through clothing symbols, while Clifford GeertzAos concept of culture as a system of meaning is used to reveal how the Sedulur Sikep communityAos clothing practices are part of the construction of social values passed down through In addition. BerryAos concept of cultural maintenance is used to explain how communities preserve traditional clothing values and practices as a form of identity continuity amid the pressures of social change. The research findings indicate that the traditional attire of the Sedulur Sikep community not only serves as a visual identifier of identity but also carries philosophical meanings related to simplicity, equality, and respect for ancestors. The Samin community preserves their traditional clothing by wearing it at important events such as community gatherings, weddings, and other cultural activities. Preservation efforts also involve transmitting values to younger generations and through local government policies that support the use of local cultural symbols in formal settings. Keywords: Sedulur Sikep. traditional clothing. cultural preservation. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara dengan keragaman budaya yang sangat kaya, terbentuk dari ratusan etnik yang masing-masing memiliki corak budaya yang unik (Wardhani & Samsuri. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, berbagai kelompok masyarakat adat terus berupaya mempertahankan identitas budayanya yang mencerminkan adanya kekuatan dan keragaman budaya bangsa Indonesia. Salah satu masyarakat adat yang tetap mempertahankan tradisi leluhurnya adalah masyarakat adat Samin atau yang dikenal sebagai Sedulur Sikep, salah satunya yang ada di Kabupaten Bojonegoro. Jawa Timur. Masyarakat ini dikenal karena komitmennya dalam menjaga ajaran leluhur yang disebut Saminisme yaitu suatu sistem nilai yang menekankan kejujuran, kesederhanaan, dan anti kekerasan. Istilah Sedulur Sikep mengacu pada kata kata sedulur yang memiliki arti orang atau saudara dan kata sikep yang berarti jujur atau baik (Widyatwati, 2. Dalam ajaran Saminisme, terdapat beberapa prinsip hidup yang dijadikan pedoman hidup oleh DOI: https://doi. org/10. 24198/metahumaniora. Dikirim: 15 Agustus 2025. Diterima: 06 Februari 2026. Terbit: 20 April 2026 Metahumaniora. Vol. No. April 2026 masyarakat Sedulur Sikep. Prinsip-prinsip ajaran atau budaya yang mereka yakini diantaranya adalah masyarakat Samin tidak membedakan agama, tidak diperbolehkan menempuh pendidikan formal, tidak boleh berdagang, tidak boleh memakai peci, tidak boleh mempunyai istri dua, tidak boleh asal dalam bertindak dan berbicara (Hafidhoh. Fadhli & Rochmawati, 2. Keunikan dari masyarakat adat Samin tidak hanya terletak pada nilai-nilai atau ajaran kehidupan yang mereka yakini, akan tetapi juga tercermin pada aspek pakaian adat. Masyarakat adat Samin memiliki keunikan dalam berpakaian, pakaian khas yang digunakan oleh masyarakat adat Samin adalah baju khas dengan warna hitam (Hafidhoh. Fadhli & Rochmawati. Dalam konteks kajian budaya, pakaian adat dapat dipahami sebagai salah satu ekspresi identitas seseorang, saat seseorang memilih pakaian yang dikenakannya hal tersebut memiliki arti bahwa mereka sedang mendefinisikan dirinya sendiri (Firliyana. Afria, & Fardinal, 2. Oleh karena itu, cara berpakaian masyarakat adat menjadi salah satu medium penting dalam memahami bagaimana mereka membangun dan mempertahankan identitas budaya. Masyarakat adat Samin yang dikenal memiliki karakter kuat dan teguh dalam mempertahankan keberadaannya dalam kehidupan sosial, juga dikenal sebagai komunitas adat yang cenderung mengisolasi diri dari kehidupan masyarakat luar. Sikap ini tercermin dalam bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah kolonial, seperti penolakan untuk membayar pajak, serta menjalani kehidupan yang tertutup demi mempertahankan ajaran dan nilai-nilai leluhur yang mereka yakini (Pratama, 2. Keterasingan tersebut membuat masyarakat Samin tercerabut dari interaksi aktif dengan masyarakat luas. Akan tetapi, dalam beberapa dekade terakhir, masyarakat Samin terlihat mulai membuka diri terhadap dunia luar, terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan interaksi sosial budaya. Keterbukaan dalam komunitas adat tidak terlepas dari pesatnya perkembangan peradaban manusia dan derasnya arus globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan informasi. Fenomena tersebut membawa dampak yang tidak dapat dihindari, termasuk pada budaya lokal yang banyak mengalami pergeseran bahkan mulai terlupakan karena pengaruh budaya populer dan modernisasi (Utomo. Ande, & Saefudin, 2. Seperti halnya komunitas adat lain di Indonesia, masyarakat adat Samin juga mengalami perubahan dalam pola kehidupannya. Selain dari kuatnya ajaran Samin yang dianut dan diyakini dalam kehidupan masyarakat Samin, transformasi juga terjadi melalui adaptasi dari anggota masyarakat Samin terhadap pengaruh budaya asing sebagai bentuk respon terhadap dinamika zaman (Sadhana. Ndung, & Hariyanto, 2. Beberapa penelitian terdahulu telah membahas peran pakaian tradisional dalam konstruksi budaya dan pemertahanannya. Madani . menyoroti bagaimana pakaian adat Penadhon merepresentasikan identitas budaya Ponorogo melalui seni Reyog karena berakar dari kebiasaan berpakaian tokoh Warok, serta dipertahankan melalui institusionalisasi dan partisipasi komunitas dalam acara budaya. Sementara itu. Hafidhoh. Fadhli, dan Rochmawati . menunjukkan bahwa pakaian khas Sedulur Sikep terus dipakai sebagai cara untuk menunjukkan penghormatan kepada orang lain, menunjukkan bahwa nilai-nilai luhur leluhur mereka tetap hidup, dan menciptakan identitas yang membedakan mereka dari kelompok Selain itu. Penelitian Az-zahra et al. menyatakan bahwa pakaian adat Lipaq Saqbe mencerminkan identitas, nilai sosial, dan sejarah Suku Mandar. Motif dan warnanya memiliki makna terkait status sosial dan identitas pribadi. Upaya pemertahanan dilakukan dengan tetap mengenakan pakaiannya serta penggunaan teknik dan alat tenun tradisional agar keaslian motif terjaga. Penelitianpenelitian tersebut menunjukkan bahwa pakaian adat tidak hanya berfungsi secara praktis, tetapi juga merupakan simbol budaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Berdasarkan dari latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana komunitas Sedulur Sikep mempertahankan pakaian tradisionalnya sebagai bentuk pemertahanan budaya di tengah arus modernisasi. Fokus kajian ini terbatas pada komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Bojonegoro dengan perhatian khusus pada aspek pakaian adat sebagai medium representasi identitas dan simbol nilai-nilai budaya lokal. Dengan menggunakan pendekatan studi budaya, artikel ini bertujuan untuk menelaah pakaian sebagai simbol kultural yang merepresentasikan ajaran Saminisme dan strategi dalam mempertahankan identitas kolektif masyarakat adat. Secara akademik, artikel ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam bidang humaniora, khususnya dalam kajian budaya dengan memperkaya pemahaman mengenai resistensi budaya lokal terhadap arus globalisasi serta peran simbol-simbol budaya dalam menjaga keberlanjutan identitas suatu komunitas adat. Pakaian Tradisional Sedulur Sikep di Bojonegoro Sebagai Medium Pemertahanan Budaya di Tengah Arus Modernisasi (Fatikha Mayani. Samidi. Purnawan Basundor. Metahumaniora. Vol. No. April 2026 METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan observasi Studi pustaka dilakukan dengan mengkaji berbagai literatur yang relevan mengenai konsep identitas budaya, modernisasi, serta peran pakaian tradisional dalam masyarakat adat. Dalam studi pustaka pengumpulan data dilakukan dengan cara menelusuri dan merekonstruksi informasi dari berbagai sumber, seperti buku, jurnal, serta publikasi lainnya (Adlini et al. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan observasi visual terhadap dokumentasi-dokumentasi seperti foto yang memperlihatkan praktik berpakaian masyarakat Sedulur Sikep. Observasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi ciri-ciri pakaian tradisional serta memahami peran dan nilai-nilai budaya yang dilekatkan pada pakaian tersebut oleh komunitas. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan pendekatan interpretatif. Peneliti mengkaji bagaimana pakaian tradisional berfungsi sebagai bagian dari representasi identitas Analisis ini didasarkan pada teori representasi dari Stuart Hall . , yang memandang representasi sebagai proses pembentukan makna melalui bahasa, simbol, dan praktik budaya. Representasi tidak hanya merefleksikan realitas, tetapi juga membentuk persepsi dan identitas sosial. Oleh karena itu, representasi memiliki posisi yang sangat penting dalam kajian budaya. Seperti yang ditegaskan oleh Stuart Hall. Aurepresentation connects meaning and language to cultureAy. Identitas budaya juga dipahami sebagai suatu entitas yang bersifat dinamis dan kontekstual, senantiasa terbentuk melalui proses historis dan relasi kekuasaan (Hall, 1. Selain itu, teori budaya sebagai sistem makna dari Clifford Geertz . digunakan untuk menafsirkan praktik berpakaian sebagai tindakan simbolik dalam kerangka Auwebs of significanceAy, yaitu jaring-jaring makna yang ditenun oleh manusia dan kemudian ditafsirkan oleh mereka Melalui pendekatan interpretatif yang disebut thick description. Geertz menekankan bahwa budaya tidak cukup dipahami hanya melalui perilaku yang tampak, tetapi harus ditafsirkan berdasarkan makna yang melekat padanya dalam konteks sosial tertentu. Setiap praktik budaya seperti bahasa, ritual, maupun cara berpakaian mengandung makna yang berkaitan erat dengan sistem nilai, pandangan hidup, dan struktur sosial masyarakatnya. Dalam konteks tersebut pakaian tidak hanya berfungsi sebagai penanda visual tetapi juga merupakan bagian dari sistem dan simbol yang merepresentasikan identitas kolektif. Selain itu, untuk melengkapi kerangka analitis, artikel ini merujuk pada teori akulturasi dari Berry . , khususnya pada konsep cultural maintenance yang menekankan bagaimana suatu kelompok mempertahankan nilai, simbol, dan praktik budaya di tengah tekanan perubahan sosial. Berry . , menjelaskan bahwa kelompok budaya memiliki strategi untuk memelihara identitas dan tradisi leluhur melalui keberlanjutan praktik seharihari. Dalam konteks Sedulur Sikep, konsistensi dalam menggunakan pakaian adat dapat dipahami sebagai bentuk cultural maintenance, yaitu upaya menjaga keterhubungan dengan nilai-nilai leluhur dan identitas komunitas meskipun berhadapan dengan arus modernisasi. Melalui kombinasi studi pustaka, pengamatan visual, dan kerangka teoritis yang mencakup representasi budaya, sistem makna, dan kontinuitas budaya, pendekatan ini memungkinkan penelitian untuk memahami pakaian tradisional Sedulur Sikep tidak hanya sebagai artefak material, tetapi juga sebagai praktik sosial yang kaya akan makna. Integrasi teori representasi dari Hall . , teori budaya sebagai sistem makna dari Geertz . , dan konsep cultural maintenance dari Berry . memberikan landasan analisis yang komprehensif untuk memahami bagaimana pakaian tradisional berfungsi sebagai medium pembentukan identitas serta strategi pemertahanan budaya di tengah modernisasi. Oleh karena itu, metode dan kerangka analitis yang digunakan dalam studi ini memberikan kesempatan untuk menafsirkan praktik pakaian Sedulur Sikep dalam konteks historis, simbolis, dan sosialnya, serta mengukuhkan peran pakaian tradisional sebagai bagian dari dinamika keberlanjutan budaya dalam komunitas. HASIL DAN PEMBAHASAN Representasi Budaya dan Identitas pada Pakaian Adat Samin Pakaian tradisional yang dikenakan oleh komunitas Sedulur Sikep merepresentasikan identitas budaya mereka secara khas dan konsisten. Berdasarkan analisis terhadap dua sumber utama observasi visual dan studi pustaka, menunjukkan bahwa pakaian tradisional komunitas Sedulur Sikep mencerminkan nilai-nilai budaya yang khas dan berfungsi sebagai penanda identitas kolektif. Pada gambar 1 dapat dilihat bahwa masyarakat Sedulur Sikep laki-laki sedang mengenakan pakaian adat khas Samin yaitu baju dengan lengan panjang Pakaian Tradisional Sedulur Sikep di Bojonegoro Sebagai Medium Pemertahanan Budaya di Tengah Arus Modernisasi (Fatikha Mayani. Samidi. Purnawan Basundor. Metahumaniora. Vol. No. April 2026 polos berwarna hitam, celana longgar hitam, dan udeng . kat kepal. Hal tersebut juga sesuai dengan penelitian dari Hafidhoh. Fadhli & Rochmawati, . yang menyatakan bahwa Masyarakat adat Samin memiliki keunikan dalam berpakaian, pakaian khas yang digunakan oleh mereka dalam keseharian adalah baju warna hitam dengan lengan panjang tanpa kerah, celana selutut berwarna hitam, dan menggunakan ikat kepala atau udeng untuk laki-laki. Dengan demikian, pakaian adat laki-laki Sedulur Sikep dapat dipahami sebagai representasi visual dari ajaran moral dan filosofi hidup yang terus dipertahankan di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung. Simbolisme pada pakaian ini sangat kuat, terutama melalui Udeng yang melambangkan AumudengAy atau paham, menjadikannya bukan sekadar sandang, tetapi alat pengingat moral yang esensial. Konsistensi dalam mengenakan pakaian sederhana ini menegaskan komitmen dan ketahanan budaya Sedulur Sikep untuk memegang teguh nilai-nilai leluhur di tengah arus modernisasi. (Sumber: https://w. Gambar 1. Pakaian adat Samin laki-laki Udeng sendiri dalam masyarakat adat Samin dimaknai dari kata AumudengAy yang merupakan bahasa jawa dan dalam bahasa indonesia yang memiliki arti AupahamAy makna dari paham itu sendiri adalah paham dengan apa yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari (Hafidhoh. Fadhli & Rochmawati, 2. Temuan ini memiliki implikasi yang signifikan dalam memahami hubungan antara materi dalam bentuk pakaian dan filosofi dalam bentuk ajaran hidup. Pakaian tradisional laki-laki komunitas Sedulur Sikep tidak hanya berfungsi sebagai penanda identitas budaya, tetapi juga sebagai visualisasi kognitif prinsip-prinsip moral. Implikasi utama adalah bahwa praktik budaya Sedulur Sikep, khususnya penggunaan Udeng yang melambangkan AumudengAy atau paham, menunjukkan bahwa filosofi Samin tidak hanya diwariskan secara lisan tetapi juga diinternalisasi dan diwujudkan melalui benda-benda sehari-hari. Hal tersebut membuktikan bahwa dalam masyarakat adat, budaya material seperti pakaian adat dapat berfungsi sebagai mekanisme yang sangat efektif dalam menjaga nilai-nilai. Konsistensi pakaian hitam dan sederhana seperti yang dijelaskan dalam literatur menunjukkan stabilitas ideologis dan resistensi terhadap pengaruh luar, memperkuat teori bahwa bagi kelompok minoritas adat, pakaian adat dapat menjadi garis depan dalam mempertahankan otonomi identitas di tengah gelombang modernisasi. (Sumber: https://w. Gambar 2. Pakaian adat Samin perempuan Kemudian pada gambar 2 dapat dilihat kumpulan para wanita Samin yang mengenakan pakaian adat khas Samin yaitu kebaya dengan atasan berwarna hitam dan bawahan bermotif atau Studi dari Hafidhoh. Fadhli & Rochmawati . juga memperkuat temuan ini, bahwa pakaian adat yang digunakan oleh perempuan Samin adalah kebaya hitam polos dan jarik yang memiliki motif sederhana. Pakaian adat perempuan Samin membentuk suatu sistem representasi budaya yang koheren dengan pakaian laki-laki. Jika pada lakilaki prinsip kesederhanaan diwujudkan dalam bajucelana hitam polos, pada perempuan prinsip yang sama direpresentasikan melalui kebaya hitam polos dan jarik bermotif sederhana. Kesamaan penggunaan warna hitam yang dominan pada kedua gender memperkuat identitas kolektif mereka sebagai satu komunitas yang menjunjung tinggi nilai kesahajaan dan kesetaraan. Namun, di sisi lain, terdapat diferensiasi makna yang signifikan. Wardoyo . menjelaskan bahwa penggunaan jarik oleh perempuan Samin menyimpan makna filosofis yang berakar dari ajaran moral Samin Surosentiko. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pakaian adat perempuan Samin berfungsi sebagai sebagai artefak budaya dan menjadi media transmisi nilai spiritual yang khusus. Pakaian Tradisional Sedulur Sikep di Bojonegoro Sebagai Medium Pemertahanan Budaya di Tengah Arus Modernisasi (Fatikha Mayani. Samidi. Purnawan Basundor. Metahumaniora. Vol. No. April 2026 Motif sederhana pada jarik bukanlah sekadar hiasan, melainkan merupakan simbol visual yang dapat AudibacaAy sebagai penanda status, peran, atau prinsip hidup tertentu dalam tatanan masyarakat Samin, jauh melampaui nilai estetikanya. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa pakaian perempuan Samin beroperasi pada dua level representasi yaitu level universal sebagai penanda identitas kelompok melalui warna hitam dan kesederhanaan, dan level spesifik sebagai penjaga dan pewaris nilai-nilai moral-spiritual yang diwakili oleh jarik. Konsistensi dalam mempertahankan warna gelap dan bentuk sederhana ini, sebagaimana pada laki-laki, merupakan pernyataan visual yang konsisten tentang komitmen mereka terhadap sistem nilai yang telah diwariskan. Dengan demikian, warna gelap hitam dan bentuk yang sederhana menjadi ciri utama yang dipertahankan oleh masyarakat Samin. Fungsi pakaian adat bagi masyarakat adat Samin dalam konteks ini tidak hanya memiliki fungsi sebagai penanda identitas kultural bagi mereka, akan tetapi juga berfungsi sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya luar yang dianggap dapat mengikis nilai-nilai atau ajaran-ajaran asli dalam masyarakat adat mereka (Hidayati & Shofwani, 2. Hafidhoh. Fadhli & Rochmawati . juga menyebutkan bahwa pakaian khas komunitas Sikep mengandung nilai penghormatan terhadap sesama dan ajaran leluhur, serta menjadi simbol kesederhanaan dan persamaan derajat. Selain itu, mengenakan pakaian adat Samin juga merupakan amanah dari para orang tua dulu, salah satu identitas mereka sebagai Sedulur Sikep, serta simbol prinsip yang mereka pegang hingga saat ini yang digambarkan dari cara berpakaiannya mereka. Jika dilihat dari pandangan Hall . , tentang teori representasi, pakaian yang dikenakan oleh masyarakat adat Samin dapat dianggap sebagai representasi budaya yang membentuk dan menyampaikan makna. Dalam situasi seperti itu, representasi budaya yang berasal dari pakaian adat Sedulur Sikep tidak hanya berfungsi untuk menunjukkan identitas mereka tetapi pakaian adat tersebut juga memiliki posisi dalam struktur sosial dan budaya yang lebih luas. Identitas budaya yang dibentuk dari pakaian adat Sedulur Sikep yang khas dan juga dibentuk oleh kebiasaan berpakaian bukanlah entitas tetap . Sebaliknya, itu adalah hasil dari proses menjadi . yaitu berasal dari simbol budaya berupa pakaian adat yang diproduksi dan direproduksi yang terus mengalami perubahan dan menjadi sesuatu yang juga diperdebatkan. Selain itu, hasil tersebut juga dapat dikaitkan dengan gagasan Clifford Geertz . tentang budaya sebagai web of significance, yaitu jaringjaring makna yang dibuat dan ditafsirkan oleh manusia, dan budaya bukanlah kekuatan yang menyebabkan suatu perilaku muncul, melainkan konteks tempat perilaku itu dapat dimaknai secara Dengan demikian, kebiasaan berpakaian yang dipraktikkan oleh Sedulur Sikep merupakan bagian dari rangkaian makna yang mereka bangun dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke Pakaian menjadi bagian dari sistem simbol yang menyiratkan nilai kesetaraan, spiritualitas, dan kesederhanaan dari masyarakat Sedulur Sikep. Setiap elemen yang terkandung dalam pakaian adat Sedulur Sikep seperti warna, bentuk, dan cara memakainya memiliki makna tersendiri dalam sistem nilai sosial Warna hitam yang mendominasi pakaian adat Samin melambangkan kesederhanaan, kerendahan hati, dan penolakan terhadap Gaya pakaian yang longgar dan tanpa hiasan menekankan kesetaraan, karena semua anggota komunitas mengenakan gaya yang sama tanpa memandang status sosial (Hafidhoh. Fadhli, & Rochmawati, 2. Sementara itu, cara mereka mengenakannya rapi, sopan, dan konsisten pada setiap acara budaya menunjukkan disiplin moral dan komitmen mereka untuk tetap terikat pada ajaran nenek moyang mereka. Oleh karena itu, elemen-elemen ini tidak hanya berfungsi sebagai komponen visual pakaian tradisional, tetapi juga menjadi media simbolis yang menyampaikan identitas, etika, dan pandangan dunia Sedulur Sikep. Selain itu, temuan ini juga menunjukkan bahwa representasi identitas melalui pakaian tradisional Sedulur Sikep tidak hanya berasal dari bentuk visualnya, tetapi juga dari penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Konsistensi mereka dalam mengenakan pakaian tradisional, baik dalam aktivitas rutin maupun kegiatan komunal, menunjukkan bahwa pakaian ini telah menjadi bagian dari proses berkelanjutan dalam menginternalisasi nilai-nilai budaya. Dalam konteks ini, pakaian tidak hanya dipahami sebagai artefak budaya, tetapi juga sebagai medium performatif yang secara aktif membentuk citra diri kolektif komunitas. Hal ini memperkuat pandangan bahwa identitas budaya Sedulur Sikep dibangun melalui praktik-praktik harian yang berulang dan terus diperbarui, sehingga makna yang melekat pada pakaian tradisional tidak statis, tetapi terus dinegosiasikan sesuai dengan konteks sosial yang dihadapi. Pakaian Tradisional Sedulur Sikep di Bojonegoro Sebagai Medium Pemertahanan Budaya di Tengah Arus Modernisasi (Fatikha Mayani. Samidi. Purnawan Basundor. Metahumaniora. Vol. No. April 2026 (Sumber: w. Gambar 3. Pembuatan Udeng Motif Obor Sewu Dengan demikian, pakaian tradisional Sedulur Sikep merupakan representasi budaya yang Pakaian tersebut mencerminkan nilainilai sosial dan spiritual serta berfungsi sebagai alat untuk membentuk identitas budaya dan sosial yang telah diperdebatkan dan dipertahankan dari generasi ke generasi. Representasi budayanya hadir tidak hanya dalam bentuk simbol visual pada pakaian adat itu sendiri, tetapi juga dalam nilai-nilai dan struktur sosial yang terinternalisasi dalam praktik berpakaian Dari temuan ini dapat disimpulkan bahwa pakaian adat Sedulur Sikep tidak hanya berfungsi sebagai simbol identitas yang bersifat estetis, tetapi juga berfungsi sebagai media komunikasi budaya yang mengandung makna mendalam. Praktik berpakaian yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakat adat mencerminkan resistensi terhadap arus modernitas yang cenderung mengikis budaya lokal, sekaligus menunjukkan upaya sadar dalam mempertahankan nilai-nilai leluhur. Pakaian adat tersebut tidak hanya merepresentasikan siapa mereka, tetapi juga menjadi alat untuk terus menegosiasikan posisi mereka dalam masyarakat yang lebih luas, terutama dalam menghadapi proses modernisasi dan Pemertahanan Budaya pada Pakaian Adat Samin Praktik berpakaian tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Sedulur Sikep tidak hanya merepresentasikan identitas dan nilai-nilai budaya mereka, tetapi juga merupakan bagian dari strategi pemertahanan budaya dalam konteks yang lebih Anggraeni et al. menyatakan bahwa terdapat berbagai cara untuk mempelajari, menjaga, dan mewariskan nilai-nilai kesenian lokal. Agar pemertahanan budaya berhasil dan berkelanjutan, diperlukan partisipasi aktif dari seluruh masyarakat, termasuk pemerintah daerah. Bagi masyarakat Samin, partisipasi aktif ini berakar dari komitmen terhadap Pitutur Luhur. Pitutur Luhur bukan sekadar warisan leluhur, melainkan pedoman perilaku yang menuntun mereka dalam menghadapi perubahan zaman, mencerminkan semangat solidaritas sekaligus menjadi bentuk ketahanan budaya lokal (Wardoyo, 2. Awalnya, ajaran kebaikan ini diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Namun, muncul kesadaran bahwa tradisi lisan dapat memudar jika tidak diperkuat melalui media lain. Dari kesadaran itulah, mereka mulai menyuratkan nilai-nilai tersebut ke dalam sebuah artefak agar ajaran itu tetap lestari (Wardoyo. Salah satu bentuk aktualisasi pemertahanan budaya tersebut adalah penciptaan motif AuObor SewuAy yang kini diaplikasikan dalam elemen pakaian adat seperti udeng, slendang, dan kain Motif ini merujuk pada cerita sejarah ketika Samin Surosentiko mengumpulkan para pengikutnya pada malam hari dengan penerangan AuOborAy dimaknai sebagai penerang, sementara AusewuAy melambangkan jumlah yang banyak, sehingga AuObor SewuAy ditafsirkan sebagai harapan agar ajaran Pitutur Luhur menjadi penerang bagi generasi berikutnya. Proses mengalih-wahanakan ajaran moral menjadi simbol visual ini menunjukkan upaya kreatif masyarakat Samin dalam memperkuat warisan budaya mereka (Fahrudin, 2. Dalam kerangka konsep cultural maintenance Berry . , penciptaan motif Obor Sewu dapat dipahami sebagai strategi pemertahanan budaya yang adaptif. Komunitas Samin Bojonegoro tidak hanya mempertahankan unsur-unsur lama seperti praktik pakaian tradisional, tetapi juga menciptakan simbol-simbol baru yang menggabungkan nilainilai inti mereka dengan konteks saat ini. Dengan demikian, kontinuitas budaya bukanlah hal yang statis, melainkan terjadi melalui inovasi yang tetap berakar pada nilai-nilai leluhur. Upaya pemertahanan budaya dalam bentuk tersebut juga dapat dijelaskan melalui perspektif Geertz . , yang memandang budaya sebagai Aujaring makna. Ay Motif Obor Sewu bukan sekadar hiasan estetis, tetapi simbol yang mengandung makna historis, spiritual, dan sosial yang telah dijalin oleh komunitas Samin untuk memahami dunia mereka. Dengan memberikan bentuk material pada ajaran Pitutur Luhur, komunitas Samin memperluas maknanya ke dalam kehidupan seharihari, menjadikannya bagian dari simbol yang terus Pakaian Tradisional Sedulur Sikep di Bojonegoro Sebagai Medium Pemertahanan Budaya di Tengah Arus Modernisasi (Fatikha Mayani. Samidi. Purnawan Basundor. Metahumaniora. Vol. No. April 2026 Selain itu, menurut perspektif Hall . , penggunaan motif Obor Sewu dalam pakaian tradisional merupakan proses representasi aktif. Praktik ini tidak hanya mencerminkan identitas komunitas Samin, tetapi juga membentuk identitas tersebut melalui sistem simbol visual. Dengan mengenakan batik bermotif Obor Sewu, komunitas Samin menghubungkan makna budaya dengan bahasa visual yang dipahami oleh komunitas mereka maupun oleh orang luar. Oleh karena itu, pemertahanan budaya dalam pakaian tradisional Samin tidak hanya dilakukan melalui praktik yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga melalui inovasi simbolik yang memperkuat identitas kolektif. Inovasi ini menunjukkan bahwa pemertahanan budaya bersifat dinamis yang mencakup pemertahanan budaya (Berr. , produksi makna budaya (Geert. , dan praktik representasi (Hal. yang bekerja sama untuk mempertahankan keberlanjutan budaya Sedulur Sikep di era modern. Untuk mempertahankan keberlanjutan praktik berpakaian adat Samin, upaya pemertahanan tidak hanya dilakukan oleh komunitas Sedulur Sikep sendiri, tetapi juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten. Dukungan ini menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa nilai-nilai budaya yang tercermin dalam pakaian adat tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman. (Sumber: https://w. Gambar 4. Pemkab Bojonegoro mengenakan Udeng khas Samin Dalam upaya pemertahanan eksistensi pakaian adat Samin, telah dilakukan berbagai langkah strategis oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berupa kebijakan dan kampanye budaya yang aktif untuk menjaga keberlanjutan pakaian adat Samin sebagai bagian dari identitas lokal. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mewajibkan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk mengenakan udheng . kat kepal. bermotif Auobor sewuAy yang dapat dilihat pada gambar 4, pemakaian tersebut dijadwalkan setiap Kamis pertama dalam bulan tertentu di lingkungan Pemkab Bojonegoro (Jauhari, 2. Gagasan ini sebagai bentuk kebanggaan dan penghormatan terhadap warisan budaya Samin yang dilakukan melalui lembaga pemerintah daerah (Santoso, 2. Implementasi kebijakan yang diterapkan oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro tersebut tidak hanya sebagai simbol. Pengenaan udheng oleh ASN dan penggunaan motif batik AuObor SewuAy dalam PDH menghubungkan struktur formal pemerintahan dengan komunitas adat, mengukuhkan kesetaraan dan penghargaan terhadap budaya lokal, sekaligus mendorong peningkatan ekonomi lokal melalui produksi oleh pengrajin Samin asli (Azizah. Mustofa & Esha, 2. Selain itu. Pemerintah Daerah Bojonegoro juga melakukan promosi pakaian adat Samin melalui festival kebaya modern dan batik khas Bojonegoro. Dalam acara festival tersebut. Wakil Bupati Bojonegoro memperkenalkan kebaya dan batik motif AuObor SewuAy sebagai pakaian dinas harian (PDH) ASN serta dipromosikan dalam forum fashion show untuk generasi muda. Motif tersebut kemudian juga diagendakan untuk menjadi seragam resmi ASN saat Hari Jadi Bojonegoro 2025 (Khoirudin, 2. Upaya semacam ini menempatkan budaya Samin dalam ruang publik modern, sehingga identitas budaya tersebut dapat dilihat, didiskusikan, dan dipahami oleh masyarakat yang lebih luas. Langkah-langkah strategis yang dilakukan Pemerintah Kabupaten menunjukkan adanya pengakuan institusional terhadap pentingnya pakaian adat Samin sebagai simbol identitas Program-program pemertahanan yang mereka terapkan bukan hanya berfungsi sebagai upaya menjaga tradisi, tetapi juga memperkuat posisi masyarakat Samin dalam ruang sosial yang lebih luas. Hal ini mengindikasikan bahwa keberlanjutan pakaian adat tidak hanya bergantung pada praktik internal komunitas, tetapi juga pada dukungan struktural dari pemerintah. Dari masyarakat Samin sendiri, meskipun terdapat relaksasi terhadap beberapa ajaran. Masyarakat adat Samin tetap berupaya untuk menjaga eksistensi identitas budaya mereka melalui simbol-simbol adat seperti praktik berpakaian, bahasa, dan tradisi internal komunitas. (Sujarwo et Hal ini memperlihatkan adanya dialektika antara pemertahanan dan penerimaan. Dengan demikian, pemertahanan pakaian tradisional bukan sekadar pemertahanan bentuk luar, tetapi juga bentuk keberlanjutan nilai, sistem makna, dan posisi budaya dalam konteks lokal dan nasional. Hal ini memperlihatkan adanya dialektika antara pemertahanan dan penerimaan. Pakaian Tradisional Sedulur Sikep di Bojonegoro Sebagai Medium Pemertahanan Budaya di Tengah Arus Modernisasi (Fatikha Mayani. Samidi. Purnawan Basundor. Metahumaniora. Vol. No. April 2026 Saat ini, pakaian adat Samin tidak lagi digunakan dalam aktivitas setiap hari, busana adat berwarna hitam tetap dikenakan dalam acara khusus seperti pernikahan antaranggota Sedulur Sikep, pertemuan komunitas, dan acara budaya di Balai Omah Kendeng (Hafidhoh. Fadhli & Rochmawati, 2. Selain itu upaya yang dilakukan oleh masyarakat adat Samin sendiri untuk mempertahankan identitas mereka dari pakaian adat tersebut yaitu dengan cara terus mengajarkan kebudayaan kepada anak-anaknya agar tetap memakai pakaian tersebut ketika menghadiri acara tertentu (Hafidhoh. Fadhli & Rochmawati. Hal tersebut menunjukkan bahwa pakaian adat khas Samin tetap diberi ruang dalam kehidupan sosial komunal masyarakat adat itu sendiri. Upaya pemertahanan yang dilakukan oleh baik Pemerintah Kabupaten Bojonegoro maupun masyarakat adat Samin tersebut relevan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, khususnya Pasal 31, yang menyebutkan bahwa pemeliharaan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) dilakukan melalui penggunaan dalam kehidupan sehari-hari, menjaga keanekaragaman, menghidupkan ekosistem budaya, serta mewariskannya kepada generasi selanjutnya. Walaupun pakaian adat tidak disebutkan secara eksplisit dalam daftar OPK, praktik berpakaian Sedulur Sikep dapat dikategorikan dalam bagian adat istiadat dan kesenian, karena mengandung nilai dan fungsi budaya yang hidup. Dalam perspektif teori representasi Stuart Hall . , upaya-upaya pemertahanan budaya tersebut merupakan bentuk dari proses produksi makna budaya melalui simbol dengan pakaian Ketika pakaian adat ditampilkan, diproduksi ulang, dan dikenakan dalam ruang formal maupun nonformal, maka identitas budaya masyarakat Samin direpresentasikan secara aktif dan dipertegas dalam konteks sosial modern. Representasi tidak bersifat netral, melainkan aktif membentuk identitas dan posisi sosial komunitas Samin dalam ruang budaya yang terus berubah. Oleh karena itu, ketika masyarakat Sedulur Sikep terus mempertahankan pakaian tradisionalnya, mereka tidak hanya menjaga bentuk luar budaya, tetapi juga mengartikulasikan kembali posisi budaya mereka dalam ruang sosial yang lebih luas, sebagai bagian dari proses identitas yang selalu bergerak . Selain itu, jika dilihat melalui konsep pemertahanan budaya dari Berry . , kebijakan pemerintah dan praktik internal dalam komunitas Samin dapat dipahami sebagai strategi pemertahanan budaya yang adaptif. Berry . menekankan bahwa pemertahanan budaya terjadi ketika nilai- nilai inti, simbol, dan praktik suatu kelompok dipertahankan meskipun terjadi kontak budaya dan perubahan sosial. Penerapan motif Obor Sewu, baik dalam konteks tradisional maupun di lembaga pemerintah merupakan contoh konkret bagaimana komunitas Samin berhasil mempertahankan nilai-nilai budaya inti mereka dengan beradaptasi pada konteks kontemporer. Dengan kata lain, pemertahanan budaya tidak dicapai dengan menolak perubahan, melainkan dengan menggabungkan tradisi dan adaptasi sehingga makna budaya tetap Hal tersebut juga sesuai dengan kerangka Clifford Geertz . , yang menyatakan bahwa budaya bukan kekuatan penyebab perilaku sosial, melainkan konteks yang membuat tindakan sosial memperoleh maknanya secara mendalam . hick Pemakaian pakaian adat dalam acara adat maupun ruang publik modern merefleksikan bagaimana pakaian tersebut berfungsi sebagai sistem simbol yang menjembatani nilai leluhur dengan realitas sosial masa kini. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pemakaian pakaian adat menjadi bagian dari sistem simbolik yang mengartikulasikan makna budaya secara kolektif dan kontekstual. Dengan demikian, pemertahanan pakaian adat Samin merupakan proses yang melibatkan representasi budaya (Hal. , pemertahanan budaya (Berr. , serta praktik simbolik bermakna (Geert. Penggunaan pakaian adat dalam acara adat, implementasi kebijakan pemerintah daerah hingga promosi di ruang publik modern menunjukkan bahwa pakaian adat sebagai simbol budaya tersebut mampu bertahan dan beradaptasi tanpa kehilangan akar tradisinya. Upaya-upaya tersebut dilakukan bukan hanya sebagai upaya menjaga bentuk luaran dari warisan budaya, tetapi juga merupakan strategi mempertahankan makna dan identitas di tengah arus perubahan zaman. Posisi pakaian adat Samin di ruang sosial saat ini menjadi bukti bahwa tradisi dapat terus hidup jika diwariskan secara sadar, dipraktikkan bersama dalam kehidupan masyarakat, serta memperoleh tempat dalam interaksi sosial komunitas dan ruang publik. Konsistensi makna tersebut tercermin pada praktik pemertahanan pakaian adat Samin yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Bojonegoro dan masyarakat Sedulur Sikep merupakan bentuk aktualisasi nilai budaya yang tidak hanya diwariskan, tetapi juga dipraktekkan secara aktif dan diakui di ruang publik. Penggunaan yang terjadwal dan penuh makna ini membuktikan bahwa budaya tradisional bukan sekadar simbol yang pasif, melainkan bagian dari praktik hidup masyarakat adat yang terus Pakaian Tradisional Sedulur Sikep di Bojonegoro Sebagai Medium Pemertahanan Budaya di Tengah Arus Modernisasi (Fatikha Mayani. Samidi. Purnawan Basundor. Metahumaniora. Vol. No. April 2026 dipertahankan secara sadar dan kolektif. Konsistensi tersebut yang mengukuhkan pemertahanan budaya Samin di tengah arus modernitas. SIMPULAN Strategi dalam mempertahankan budaya lokal pada komunitas Sedulur Sikep dapat dilihat dari cara mereka mempertahankan simbol-simbol budaya, terutama pakaian adat. Pakaian adat Samin bukan hanya sekedar pakaian, tetapi juga merupakan cerminan nilai-nilai penting dalam kehidupan mereka, seperti kesederhanaan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap ajaran leluhur. Selain itu, pakaian ini juga berfungsi sebagai bentuk penolakan terhadap pengaruh budaya luar yang dapat menggeser nilai-nilai asli komunitas. Upaya mempertahankan eksistensi pakaian adat ini dilakukan secara konsisten oleh komunitas Sedulur Sikep, dengan tetap mengenakannya dalam acaraacara penting, mengajarkannya kepada anak-anak, menjadikannya sebagai bagian dari identitas Samin yang terus dipertahankan, serta menciptakan dan mengembangkan motif-motif batik lokal seperti Obor Sewu sebagai ekspresi identitas budaya mereka. Motif tersebut menjadi bentuk kreativitas kultural yang memperkuat ciri khas visual masyarakat Samin. Sementara itu, pemerintah daerah juga berperan aktif dengan menerapkan kebijakan yang mendorong penggunaan simbol-simbol budaya Samin, seperti motif batik dan udeng yang khas, baik di lingkungan pemerintahan maupun dalam acara-acara Langkah ini memperkuat posisi budaya Sikep sebagai bagian penting dari identitas kultural Bojonegoro yang harus terus dipertahankan. Dengan demikian, pemertahanan pakaian adat Samin tidak hanya dilakukan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan seharihari yang terus dilakukan dengan penuh kesadaran. Hal ini menunjukkan bahwa budaya tradisional tetap dapat hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman, jika terdapat upaya bersama untuk menjaga dan memaknai nilai-nilai yang ada di dalamnya. Rekomendasi dari artikel ini ditujukan kepada dua pihak. Pertama, kepada pemerintah daerah dan lembaga kebudayaan untuk terus mendorong kebijakan pemertahanan simbol budaya lokal melalui pendidikan budaya, festival, serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis tradisi. Kedua, kepada peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan studi lapangan dengan pendekatan etnografi untuk memperkaya pemahaman tentang konstruksi identitas budaya Sedulur Sikep dalam konteks perubahan sosial yang lebih luas. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat dalam proses penulisan artikel ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para penulis dan peneliti terdahulu yang karya-karyanya menjadi sumber referensi utama dalam studi pustaka ini. DAFTAR PUSTAKA