Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Dampak Pendidikan Islam Non-formal terhadap Pembentukan Karakter Keagamaan Anak dan Remaja The Impact of Non-Formal Islamic Education on the Formation of Religious Character of Children and Adolescents Adita Rizki Hana Wibowo1. Darodjat2 Universitas Muammadiyah Purwokerto. Jl. KH. Ahmad Dahlan. Dusun i. Dukuhwaluh. Kec. Kembaran. Kabupaten Banyumas. Jawa Tengah 53182. Indonesia e-mail: ahanawibowo@gmail. ABSTRACT Character formation faces complex challenges in the 4. 0 era, so that it can trigger a decline in spirituality and social problems. The role of formal education in overcoming it is often limited, so there is a need for the role of non-formal Islamic education as a complement. This study aims to examine in depth the impact of non-formal Islamic Education. This study uses a qualitative approach with the literature review study The data collection process begins with the formulation of research questions, followed by the search for relevant literature using specific keywords in national and international scientific articles. Literature selection was conducted based on quality, by adopting the criteria of Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). A systematic analysis of 500 articles successfully identified 432 articles that were testable, and 418 articles were included in the comprehensive analysis. The results of the study show that non-formal Islamic education has a significant multifaceted impact, including increasing religious awareness of adolescents and children, resilience, social awareness, and prevention of juvenile delinquency. The implementation of non-formal Islamic education through a hidden curriculum can enable the adaptation of children and adolescents through habituation and example in the midst of the transformation of religious behavior in the 4. 0 era that faces digital turbulence. Non-formal Islamic education can fill the void that exists in formal education in the formation of the character of children and adolescents, especially through unique pedagogical mechanisms and hidden curriculum. Keywords: Non-Formal Islamic Education. Religious Character. Hidden Curriculum. Children. Teens ABSTRAK Pembentukan karakter menghadapi tantangan komplek pada era 4. 0, sehingga dapat memicu terjadinya penurunan spiritualitas dan permasalahan sosial. Adapun peran Pendidikan formal dalam menanggulangi seringkali mengalami keterbatasan, sehingga perlu adanya peran dari Pendidikan Islam non-formal sebagai Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam mengenai dampak dari Pendidikan Islam non-formal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode study literatur review. Proses pengumpulan data diawali dengan perumusan pertanyaan riset, dilanjutkan penelusuran literatur relevan menggunakan kata kunci spesifik pada artikel ilmiah nasional dan internasional. Seleksi literatur dilakukan berdasarkan kualitas, dengan mengadopsi kriteria Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Analisis sistematis terhadap 500 artikel yang berhasil mengidentifikasi 432 artikel layak uji, dan 418 artikel disertakan dalam analisis komprehensif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pendidikan Islam non-formal memiliki dampak multifaset yang signifikan, mencangkup pada peningkatan kesadaran religious remaja dan anak, resiliensi, kesadaran sosial, dan pencegah kenakalan remaja. Penerapan Pendidikan Islam non-formal melalui hidden curriculum dapat memungkinkan adaptasi anak dan remaja melalui pembiasaan dan keteladanan ditengah transformasi perilaku keagamaan di era 4. 0 yang menghadapi trubulensi digital. Pendidikan Islam non-formal dapat mengisi kekosongan yang ada pada Pendidikan formal dalam pembentukan karakter anak dan remaja, terutama melalui mekanisme pedagogis yang unik dan kurikulum tersembunyi . idden curriculu. Kata Kunci: Pendidikan Islam Non-formal. Karakter Keagamaan. Kurikulum Tersembunyi. Anak. Remaja Adita Rizki Hana Wibowo. Darodjat: Dampak Pendidikan Islam Non-formal terhadap Pembentukan Karakter Keagamaan Anak dan Remaja E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 FIRST RECEIVED: 2025-06-25 REVISED: 2025-08-18 ACCEPTED: 2025-08-20 https://doi. org/10. 25299/ajaip. PUBLISHED: 2025-09-09 Corresponding Author: Adita Rizki Hana Wibowo AJAIP is licensed under Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International Published by UIR Press PENDAHULUAN Pembentukan karakter keagamaan pada anak dan remaja merupakan fondasi esensial bagi pembangunan peradaban yang berkelanjutan. Pada era modern ini, proses pembentukan karakter keagamaan menghadapi berbagai tantangan signifikan yang berasal dari arus globalisasi, derasnya informasi digital, dan krisis role model yang secara langsung memengaruhi moralitas generasi muda (Rohman. Kurniawan, & Asrin, 2. Fenomena ini termanifestasi dalam berbagai indikator, seperti menurunnya kualitas spiritualitas remaja, rendahnya motivasi ibadah, peningkatan kasus bullying, penyimpangan sosial, hingga pengaruh budaya instan yang disebarkan melalui media sosial (Altinyelken, 2022. Yazid & Hasan, 2. Dalam konteks ini, pendidikan formal seringkali terbukti belum cukup komprehensif dalam menjangkau dimensi pembentukan karakter keagamaan secara holistik. Karenanya, peran aktif pendidikan Islam non-formal menjadi sangat krusial (Amrullah. Seraj. Abd Al-lateef, & Galal. Pendidikan Islam non-formal sendiri merupakan lembaga yang digunakan untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan kepribadian diri, memenuhi kebutuhan tingkat belajar dasar, dan melengkapi kebutuhan belajar tingkat lanjut (Putra. Hamid. Nst, & Edi, 2. Sedangkan pendidikan formal merupakan Pendidikan yang mempunyai tugas, fungsi dan peran sebagai lembaga resmi Negara yang membantu pendidikan keluarga dengan mengajar, mendidik, memperbaiki, membentuk kepribadian dan membantu mengembangkan potensi anak agar dapat berkembang sesuai dengan minat dan bakat dalam kurun waktu tertentu (Kusmiran. Husti, & Nurhadi, 2022. Tarbiyatuna, 2. Adapun diantara jenis pendidikan Islam non-formal yaitu adanya lembaga-lembaga, seperti Taman Pendidikan Al-QurAoan (TPA/TPQ), majelis taklim, dan pesantren kilat, menawarkan keunggulan dalam hal fleksibilitas metode, kedekatan kultural yang memiliki kemampuan untuk membangun keterhubungan spiritual langsung dengan anak. Institusiinstitusi ini secara inheren menekankan praktik ibadah, pembiasaan akhlak, dan keteladanan sebagai pilar utama, menjadikannya sarana yang strategis dalam membentuk karakter religius anak dan remaja sejak usia dini (Masnawati & Fitria, 2. , terutama ketika pendidikan keluarga dan sekolah menghadapi keterbatasan dalam fungsi pembinaan nilai. Meskipun telah banyak studi yang meneliti pendidikan karakter berbasis Islam, akan tetapi masih terdapat celah yang signifikan dalam memahami secara spesifik bagaimana pendidikan Islam non-formal berkontribusi terhadap pembentukan karakter keagamaan anak dan remaja. Penelitianpenelitian terdahulu cenderung memiliki fokus yang beragam. Beberapa studi berpusat pada kontribusi pendidikan formal, seperti analisis peran Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam pembangunan karakter bangsa di sekolah (Abbas. Marhamah, & RifaAoi, 2. atau peran guru akidah akhlak dalam membentuk karakter religius siswa di madrasah. Studi lain mengeksplorasi integrasi nilai budaya lokal dengan pendidikan Islam, seperti kearifan lokal Dalian na Tolu dalam pembentukan karakter moral (Fata et al. , 2024. Harahap & Hamka, 2. Ada pula penelitian yang mengkaji peran umum majelis taklim dalam menanamkan Adita Rizki Hana Wibowo. Darodjat: Dampak Pendidikan Islam Non-formal terhadap Pembentukan Karakter Keagamaan Anak dan Remaja Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 nilai moderasi beragama atau mengangkat peran komunitas dan pendidikan adat dalam pembentukan karakter religious (Kurdi. Arifin, & Mohammad, 2023. Rohman et al. , 2024. Wakhudin & Darodjat, 2. Namun, tinjauan terhadap literatur yang ada menunjukkan bahwa mayoritas penelitian sebelumnya menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi pustaka, dan belum ada yang secara spesifik dan eksklusif membahas kontribusi pendidikan Islam non-formal dengan anak dan remaja sebagai sasaran utama. Lebih lanjut, penelitian sebelumnya cenderung menekankan pada penguatan nilai-nilai agama daripada menganalisis transformasi perilaku keagamaan secara progresif dalam jangka waktu tertentu. Hal ini mengindikasikan adanya kekosongan dalam literatur mengenai perubahan sikap dan perilaku keagamaan anak dan remaja yang terjadi secara dinamis melalui pendidikan Islam non-formal. Selain itu, belum banyak kajian yang secara mendalam mengeksplorasi konsep hidden curriculum atau proses habituasi nilai agama dalam konteks non-formal, yang sesungguhnya merupakan aspek fundamental dalam pembentukan karakter. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa meskipun ada banyak studi tentang pendidikan Islam dan karakter, tetapi masih terdapat ruang untuk penelitian yang lebih terfokus pada populasi dan jenis dampak tertentu (Saepudin, 2. Isu yang diangkat dalam penelitian ini memiliki urgensi dan relevansi yang krusial sehingga perlu untuk ditulis dan diterbitkan. Pembentukan karakter keagamaan pada anak dan remaja menghadapi tantangan yang sangat kompleks di Era 4. 0, di mana arus globalisasi, derasnya informasi digital, dan krisis role model secara langsung memengaruhi moralitas generasi muda, memicu penurunan spiritualitas dan berbagai permasalahan sosial seperti rendahnya motivasi ibadah, peningkatan kasus bullying, penyimpangan sosial, hingga pengaruh budaya instan dari media sosial. Mengingat pendidikan formal seringkali terbukti belum cukup komprehensif dalam menjangkau dimensi pembentukan karakter keagamaan secara holistik, peran pelengkap dari pendidikan Islam non-formal menjadi sangat krusial. Lembaga-lembaga Islam non-formal diantaranya seperti Taman Pendidikan Al-QurAoan (TPQ), majelis taklim, dan pesantren kilat, menawarkan keunggulan signifikan melalui fleksibilitas metode, kedekatan kultural, dan kemampuan untuk membangun keterhubungan spiritual langsung dengan peserta didik, serta menekankan praktik ibadah, pembiasaan akhlak, dan keteladanan sebagai pilar utama. Oleh karena itu, penelitian ini sangat penting untuk mengisi kesenjangan dalam pemahaman spesifik mengenai kontribusi pendidikan Islam non-formal, menganalisis transformasi perilaku progresif, dan mengeksplorasi secara mendalam konsep hidden curriculum atau proses habituasi nilai agama dalam konteks non-formal. Berdasarkan kesenjangan yang teridentifikasi, maka penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam mengenai dampak dari Pendidikan Islam non-formal terhadap pembentukan karakter keagamaan anak dan remaja. Penelitian ini akan menelusuri proses, peran serta hasil dari lembaga-lembaga seperti TPQ, majelis taklim, dan komunitas dakwah remaja. Selain itu, penelitian ini berupaya mengidentifikasi elemen-elemen kurikulum tersembunyi . idden curriculu. , metode keteladanan, serta praktik pengulangan kegiatan religius keagamaan yang digunakan dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam non-formal. Dengan demikian, tulisan ini juga berupaya membuktikan bahwa pendidikan Islam non-formal memiliki dampak mendalam dan spesifik dalam membentuk karakter keagamaan generasi muda di tengah kompleksitas Era 4. 0, sekaligus menyoroti mekanisme pedagogis yang efektif di dalamnya. Adita Rizki Hana Wibowo. Darodjat: Dampak Pendidikan Islam Non-formal terhadap Pembentukan Karakter Keagamaan Anak dan Remaja Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode study literatur review (SLR) atau tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka adalah jenis karya akademis yang merangkum apa yang diketahui terkait subjek tertentu. Rasional di balik tinjauan sistematis adalah bahwa tinjauan pustaka merupakan jenis penelitian yang dapat ditingkatkan dengan menggunakan teknik yang tepat dan jelas (Hapsari & Kusumawinakhyu, 2024. Zawacki-Richter. Kerres. Bedenlier. Bond, & Buntins, 2. Tujuannya yaitu untuk mendekripsikan dan memahami secara mendalam mengenai dampak Pendidikan Islam non-formal agar menghasilkan ikhtisar komperhensif melalui telaah terhadap tinjauan penelitian yang dilakukan sebelumnya. Dimana penggunanya harus dapat menilai keandalan dan relevansi temuan tinjauan yang diperoleh dengan membaca laporan secara terperinci dengan prosedur yang diikuti agar menghasilkan hasil tinjauan yang sistematis. Untuk mendorong pelaporan tinjauan sistematis yang jelas dan komprehensif, maka peneliti menggunakan pernyataan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Terlepas dari desain yang disertakan, maka PRISMA 2020 telah dikembangkan secara khusus untuk menghasilkan tinjauan yang sistematis (Page et al. , 2. Gambar 1. Diagram Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) Tinjauan pustaka ini meneliti mengenai dampak dari Pendidikan Islam non-formal terhadap pembentukan kaarakter keagamaan pada anak dan remaja. Hasil data yang diperoleh berasalkan dari sumber rujukan yang ditelusuri menggunakan perangkat Pubish or Perish (PoP) dengan menggunakan pilihan database Google Scoolar. Adapun kata kunci yang digunakan adalah AuNon formal Isamic EducationAy dengan Batasan tahun publikasi 2021-2025, sehingga hasil yang diperoleh relevan dengan isu-isu kontemporer. Dari proses identifikasi awal, diperoleh 500 artikel, namun setelah dilakukan pengecekan dengan dianalisis kelengkapan datanya hanya ada 499 artikel. Kemudian, tahap selanjutnya dilakukannya penyaringan berdasarkan judul dan abstrak. Artikel yang tidak relevan dengan topik penelitian maka akan dieliminasi, dari hasil penyaringan maka ditemukan sebanyak 432 artikel yang dinyatakan layak untuk dilanjutkan pada tahap peninjauan Adita Rizki Hana Wibowo. Darodjat: Dampak Pendidikan Islam Non-formal terhadap Pembentukan Karakter Keagamaan Anak dan Remaja Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 teks penuh. Pada tahap full-text review, keseluruhan menghasilkan 432 artikel kemudian, dibaca dan ditelaah secara menyeluruh. Artikel yang tidak memenuhi kriteria inklusi atau tidak berfokus pada Pendidikan Islam non-formal, tidak menyinggung pada pembentukan kaarakter keagamaan anak dan remaja, maka akan dikeluarkan dari analisis, dari proses analisis secara komperhensif maka dihasilkan artikel sebanyak 418 yang dinyatakan memenuhi syarat. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan literatur yang ditinjau secara teratur, pendidikan Islam non-formal memainkan peran penting dan berdampak luas pada karakter keagamaan anak dan remaja. Lembaga Islam nonformal menerapkan pendekatan yang fleksibel dan berbasis komunitas, yang terbukti berhasil mengatasi tantangan moral dan spiritual yang dihadapi generasi muda di era modern (Hayatuddin & Hamid, 2. Dampak positif ini terwujud dalam beberapa dimensi. Pertama, program pendidikan Islam non-formal secara signifikan meningkatkan pemahaman remaja tentang dasar-dasar ajaran Islam. Hal ini terlihat dalam kedisiplinan dalam melakukan ibadah wajib, memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya ibadah, dan terlihat peningkatan pada kebiasaan membaca Al-Qur'an, berzikir, dan melakukan tindakan sunnah lainnya. Dalam lembaga Islam non-formal, lingkungan yang mendukung dapat membantu membangun budaya yang baik di antara kelompok sebaya yang saling memotivasi untuk berbuat baik. Kedua, melalui berbagai kegiatan keagamaan, remaja belajar banyak tentang nilai-nilai Islam, seperti menjadi individu yang jujur, memiliki rasa tanggung jawab, dan dapat menghormati orang tua dan guru. Dalam majelis taklim remaja, kajian tentang Sirah Nabi dan kisah para sahabat seringkali menjadi topik utama. Hal ini dapat menginspirasi remaja untuk meneladani sikap dan perilaku mulia figur-figur Islam. Hal ini terlihat dalam kehidupan sosial remaja, di mana terlihat lebih sopan dalam berbicara, lebih disiplin dalam mengerjakan tugas, dan lebih bertanggung jawab atas tanggung jawabnya (Hosaini. RifAoah, & Muslimin, 2. Ketiga, pendidikan Islam non-formal terbukti dapat membantu untuk mencegah berbagai jenis kenakalan remaja, seperti tawuran, pergaulan bebas, dan penyalahgunaan narkoba. Banyak remaja yang sebelumnya memiliki kecenderungan perilaku negatif mengalami perubahan setelah mengikuti Pendidikan Islam non-formal, adapun terdapat anak yang menghindari lingkungan yang buruk kemudian menjadi memilih lingkaran pertemanan yang lebih sehat, dan lebih berhati-hati saat menggunakan media sosial untuk menghindari konten yang dapat merusak moral. Keempat, studi Islam non-formal mengajarkan remaja tentang kesabaran, ketabahan, dan pentingnya tawakkal . erserah diri kepada Alla. dalam menghadapi berbagai situasi. Hal ini tentu dapat membantu untuk mengatasi tekanan dari lingkungan sekolah, keluarga, dan sosial dengan lebih baik, memungkinkannya untuk mengambil keputusan dengan lebih tenang, menahan stres atau depresi, dan mempertahankan motivasi untuk terus meningkatkan diri. Kelima, remaja belajar untuk berbagi dengan sesama dan menjadi lebih peduli terhadap komunitas di sekitar melalui kegiatan sosial dan keagamaan seperti bakti sosial, gerakan "Jumat Berkah", dan program kepedulian yatim piatu. Selain itu, nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, dan persaudaraan Islam ditanamkan dalam aktivitas-aktivitas Pendidikan Islam non-formal, yang mendorong untuk menjadi lebih aktif dalam memberikan bantuan kepada orang-orang di sekitar. Adita Rizki Hana Wibowo. Darodjat: Dampak Pendidikan Islam Non-formal terhadap Pembentukan Karakter Keagamaan Anak dan Remaja Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Kesadaran sosial ini dapat meluas diluar konteks keagamaan, sehingga dapat membuat lebih kooperatif dengan teman sebaya dan lebih peka terhadap apa yang dibutuhkan orang lain. Secara keseluruhan, bukti yang ada secara konsisten menunjukkan bahwa pendidikan Islam non-formal memiliki banyak efek positif pada perilaku remaja, termasuk meningkatkan kesalehan pada setiap individu, dapat meningkatkan tanggung jawab, dan dapat mencegah amar makruf nahi Hal ini menunjukkan bahwa institusi pendidikan Islam non-formal dapat menjadi model pengembangan yang mencakup aspek spiritual, moral, dan sosial, karena sifatnya yang fleksibel dan berbasis komunitas, program-program yang ada bersifat krusial untuk mencapai hasil yang luas karena untuk memungkinkan nilai-nilai tersebut diterapkan dan diperkuat dalam kehidupan seharihari. Salah satu contoh Pendidikan Islam non-formal yaitu Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ), dimana dalam penerapannya memiliki peran krusial dalam pembentukan karakter anak-anak melalui berbagai kegiatan dan program yang dirancang khusus untuk menumbuhkan sifat-sifat TPQ menanamkan ketakwaan, rasa syukur, keikhlasan, kesabaran, qona'ah . erelaan untuk menerim. , tawakalan . epercayaan kepada Alla. , tanggung jawab, kepemimpinan, disiplin, akhlak mulia, kesopanan, dan kerapian (Dewi & Kholis, 2. Adapun mekanisme pembentukan karakter di TPQ diwujudkan melalui, kegiatan harian, kegiatan rutin, kegiatan spontan, kegiatan keteladanan, dan kegiatan programatis. Kegiatan harian yang dilakukan diantaranya meliputi pembiasaan salam, doa sebelum belajar . ang dipimpin bergantian oleh anak dan remaj. , pengelolaan struktur organisasi kelas, dan jadwal piket. Nilai-nilai moral seperti menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, menghindari saling menyalahkan, meminta maaf atas kesalahan, dan bersyukur secara konsisten Apabila kegiatan rutin dilakukan dengan melibatkan pembacaan doa bersama, hafalan dan tilawah surat-surat pendek Al-Qur'an, pelatihan tahsin, dan praktik ibadah seperti salat Apabila kegiatan spontan dilakukan dengan cara mendidik siswa untuk lebih peka terhadap lingkungan, seperti menyapa orang lain, membaca doa ketika seseorang bersin, dan membantu teman yang membutuhkan. Adapun kegiatan keteladanan anak dan remaja diajarkan melalui contoh nyata, melalui cara untuk bertutur kata yang baik, membuang sampah pada tempatnya, berpakaian yang rapi, serta menjaga disiplin dan ketepatan waktu. Selanjutnya kegiatan pragmatis mencakup perayaan hari besar Islam dan nasional . Idul Fitri. Idul Adha. Tahun Baru Islam. Isra MiAoraj. Maulid Nabi. Hari Kemerdekaan. Hari Pendidikan Nasional. Hari Santr. dan kegiatan akhirussanah. Acara-acara ini mengajarkan nilai-nilai sosial, kebersamaan, tanggung jawab, kerja sama, dan solidaritas (Saepudin, 2. Perpaduan antara kegiatan keagamaan yang terstruktur dan pembiasaan perilaku secara implisit sering kali melalui komponen yang menyerupai kurikulum tersembunyi sangat penting untuk keberhasilan TPQ dalam membangun karakter. Meskipun mengajarkan langsung tentang pembacaan Al-Qur'an dan shalat adalah yang paling penting, rutinitas harian, interaksi spontan, dan tindakan teladan yang dilakukan di lingkungan TPQ terus memperkuat prinsip-prinsip moral dan standar sosial. Namun, potensi penuh TPQ seringkali dihalangi oleh masalah sistemik seperti kekurangan standar kualitas, ketersediaan sumber daya yang terbatas, dan kebutuhan akan sinergi yang lebih besar dengan pendidikan formal. Untuk mengatasi masalah sistemik ini, kurikulum Adita Rizki Hana Wibowo. Darodjat: Dampak Pendidikan Islam Non-formal terhadap Pembentukan Karakter Keagamaan Anak dan Remaja Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 integratif, peningkatan kemampuan pengajar, dan kolaborasi yang lebih kuat dengan keluarga dan komunitas adalah penting untuk meningkatkan skala dan keberlanjutan dampak positif program TPQ (Masnawati & Fitria, 2. Selanjutnya terdapat Majelis taklim yang telah bertransformasi menjadi lembaga pendidikan non-formal yang penting dalam meningkatkan pengetahuan keagamaan masyarakat. Lembaga majelis taklim secara dinamis berkontribusi pada dimensi kognitif dan sikap religiusitas individu (Wanto. Jamin, & Ali, 2. Selain itu, majelis taklim juga memainkan peran krusial dalam memperkuat nilai-nilai moderasi beragama di kalangan pesertanya (Researches & Yaqub, 2. Bagi perempuan, majelis taklim seringkali menjadi ruang ekspresi kesalehan, tempat untuk berkumpul dan menambah pengetahuan keagamaan, serta simbol kebangkitan perempuan dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam (Hidayati, 2. Meskipun majelis taklim secara jelas meningkatkan pengetahuan agama dan dapat mendorong sikap moderasi, pengaruhnya tidak bersifat tunggal. Literatur menunjukkan bahwa dampaknya dapat sangat bernuansa, dengan peserta menunjukkan respons yang beragam terhadap ajaran agama dan kepemimpinan, terutama dalam ranah digital (Siregar & Rohman, 2. Hal ini menunjukkan bahwa konten yang disampaikan, pendekatan pedagogis yang digunakan, dan dinamika kepemimpinan dalam setiap majelis taklim merupakan variabel-variabel penting yang menentukan hasil spesifik dari pembentukan karakter. Oleh karena itu, pemahaman yang lebih mendalam tentang mekanisme internal ini sangat penting untuk sepenuhnya memahami peran mereka dalam membentuk karakter keagamaan. Program pesantren kilat memberikan dampak signifikan terhadap ketaatan beribadah siswa, baik dalam praktik ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah. Dalam aspek mahdhah, program ini mendorong peningkatan ketaatan pada praktik shalat . ermasuk shalat sunah seperti dhuha dan rawati. , pembacaan Al-Qur'an yang lebih teratur dan khusyuk, serta pengurangan waktu yang kurang produktif dan kurang bermanfaat (Sriwahyuni & Fakhruddin, 2. Dalam aspek ghairu mahdhah, pesantren kilat mendorong anak dan remaja untuk lebih patuh dalam ibadah non-ritual seperti perilaku sosial yang baik. Anak dan remaja dilaporkan lebih sering bersedekah, berbicara dengan lembut, mengurangi kata-kata kasar, membantu orang tua, saling membantu, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan memaafkan teman. Program ini tidak hanya meningkatkan ketaatan beribadah tetapi juga memberikan pengalaman kolektif yang bermakna dalam membentuk karakter religius, bertujuan untuk memperdalam pemahaman nilai-nilai agama dan meningkatkan praktik ibadah mereka, serta menumbuhkan kecerdasan spiritual, kemandirian, solidaritas, dan tanggung jawab (Akmal. Arya Rahardja. Syahidin, & Fakhruddin, 2. Faktor-faktor yang berkontribusi pada dampak positif ini meliputi suasana Ramadan yang kondusif di sekolah, kehadiran guru agama yang berdedikasi, pengalaman kolektif dan dukungan teman sebaya, metode pembelajaran interaktif, konten motivasi, dan kehadiran role model baru. Efektivitas pesantren kilat yang nyata dalam mengubah perilaku keagamaan secara cepat berasal dari desainnya yang intensif, imersif, dan komunal. Dengan menciptakan lingkungan yang terkonsentrasi, program-program ini secara efektif memanfaatkan kekuatan pengaruh teman sebaya dan kehadiran konsisten dari para teladan yang berdedikasi. Kombinasi unik ini mempercepat pembiasaan praktik keagamaan baik yang bersifat ritualistik . maupun sosial . hairu Sifat pesantren kilat yang singkat dan terfokus memungkinkan intervensi berdampak Adita Rizki Hana Wibowo. Darodjat: Dampak Pendidikan Islam Non-formal terhadap Pembentukan Karakter Keagamaan Anak dan Remaja Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 tinggi, menunjukkan bahwa paparan terkonsentrasi terhadap lingkungan keagamaan yang mendukung dapat menghasilkan perubahan signifikan dan teramati pada karakter remaja. Kemudian selain pesantren kilat ada juga terdapat komunitas dakwah remaja, meskipun tujuan penelitian ini mencakup komunitas dakwah remaja, tinjauan literatur yang tersedia dalam rentang 2021-2025 memberikan bukti yang terbatas secara langsung mengenai dampak spesifik komunitas dakwah remaja terhadap pembentukan karakter keagamaan anak dan remaja. Beberapa literatur menyentuh aspek pembentukan karakter dalam konteks gerakan dakwah yang lebih luas atau pengaruh media sosial terhadap perilaku keagamaan (Shaliadi & Budianto, 2. , namun belum ada studi yang secara sistematis menganalisis metode, proses, dan hasil nyata dari komunitas dakwah yang secara eksklusif menargetkan anak dan remaja dalam pembentukan karakter keagamaan mereka. Hal ini menunjukkan adanya celah data yang perlu diiteliti secara empiris. Kurikulum tersembunyi . idden curriculu. berfungsi sebagai komponen pelengkap kurikulum formal, dengan penekanan utama pada penanaman karakter siswa. Ini adalah kurikulum informal dan tidak tertulis, namun erat kaitannya dengan pembentukan karakter siswa, mencakup moral dan aturan sosial. Kurikulum tersembunyi ditransformasikan oleh pendidik baik di dalam maupun di luar kelas (Fuad. Basyirah, & El Khuluqo, 2. Kurikulum tersembunyi mencerminkan opini, sikap, dan pengetahuan perilaku implisit yang berasal dari nilai-nilai dan norma-norma, dan secara signifikan memengaruhi kehidupan siswa dalam lingkungan pendidikan. Oleh karena itu, perhatian khusus perlu diberikan pada lingkungan belajar di mana kurikulum ini secara implisit disampaikan. Dalam konteks pendidikan Islam, kurikulum tersembunyi bertujuan untuk membangun pemikiran kritis dan sikap moderat anak dan remaja, seringkali didasarkan pada nilai-nilai Pancasila (Fuad et al. , 2. Implementasi kurikulum tersembunyi dalam pendidikan Islam non-formal dapat dilihat melalui beberapa praktik diantaranya melalui ritual keagamaan harian, seperti doa pagi dan sore, yang diamati oleh semua siswa tanpa memandang asal agama, berkontribusi pada pembiasaan spiritual yang berdasarkan pada Al-QurAoan dan Sunnah (Cahyaningrum. Fuady, & Sunismi, 2. Anak dan remaja Muslim terlibat dalam Tadarus dan pembacaan Asmaul Husna, sementara siswa non-Muslim berpartisipasi dalam pembacaan keagamaan masing-masing. Penyediaan tempat ibadah yang ditunjuk untuk setiap agama juga menumbuhkan lingkungan inklusif. Adapun anak dan remaja didorong untuk mematuhi prinsip 6S (Senyum. Sapa. Salam. Sopan. Santun. Saba. , yang mencerminkan kematangan sosial dan penerimaan nilai-nilai etika. Pendidikan Islam non-formal dapat memperkaya kurikulum melalui kolaborasi eksternal untuk meningkatkan kompetensi guru dan siswa, untuk mewujudkan pendidikan holistik yang mencakup pelajaran kehidupan (Sholihuddin & Kudus, 2. Tujuannya untuk memberikan pengalaman positif, mengasah kemampuan analisis terhadap situasi, terbuka terhadap perbedaan, moderat, serta pengembangan sikap kritis. Kemudian, terdapat motto lembaga yang memengaruhi perilaku siswa dengan menanamkan nilai-nilai dan harapan lembaga, mempromosikan moralitas, toleransi, dan keberagaman. Aktivitas literasi menumbuhkan pemikiran kritis melalui eksplorasi budaya dan agama, dapat mendorong siswa bertanya dan mengakses informasi terpercaya. Kemudian terdapat fasilitas inklusif, seperti ruang salat lintas agama, menumbuhkan sikap moderat dengan menanamkan nilai kepedulian terhadap pemeluk agama lain. Bimbingan dan diskusi membantu mengembangkan pemikiran kritis dan sikap moderat anak dan remaja. Adita Rizki Hana Wibowo. Darodjat: Dampak Pendidikan Islam Non-formal terhadap Pembentukan Karakter Keagamaan Anak dan Remaja Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Namun, implementasi kurikulum tersembunyi . idden curriculu. menghadapi tantangan seperti halnya pada lingkungan yang beragam, latar belakang yang berbeda, dan pengaruh media sosial yang dapat menyebarkan berita palsu dan menghambat pemahaman yang benar. Kendala lain adalah lemahnya pengaruh kurikulum tersembunyi pada hasil rapor dan promosi kelas, karena sistem penilaian seringkali tidak memperhitungkan aspek non-akademik ini. Kurikulum tersembunyi berfungsi sebagai mekanisme yang kuat, meskipun seringkali implisit, untuk pembentukan karakter dalam pendidikan Islam, khususnya dalam menumbuhkan pemikiran kritis dan sikap moderasi. Efektivitasnya terikat pada keteladanan yang konsisten, lingkungan yang mendukung, dan integrasi dengan rutinitas harian. Namun, kurikulum ini menghadapi tantangan dari pengaruh eksternal . edia sosia. dan kurangnya pengakuan formal dalam penilaian. Hal ini menunjukkan perlunya desain dan integrasi yang disengaja dari elemen kurikulum tersembunyi. Transformasi perilaku keagamaan di era modern mengalami turbulensi signifikan akibat revolusi industri dan era media baru (Era 4. (Ramadoni et al. , 2. Pergeseran paradigma dalam penciptaan dan pengelolaan industri ini turut memengaruhi cara individu memahami, mengekspresikan, dan mengkomunikasikan keyakinan (Nurhasanah, 2. Studi menunjukkan beberapa perubahan spesifik dalam perilaku keagamaan diantaranya terdapat dampak negatif dari digitalisasi Era 4. 0 memunculkan sikap-sikap seperti kecanduan gawai dan cyberbullying, terjadi penurunan moral atau etika, serta pergeseran nilai-nilai keagamaan akibat respons masyarakat terhadap konten media di Era 4. Konten keagamaan yang tidak pantas, seperti perempuan berhijab yang menari di TikTok sambil menyampaikan nasihat agama, atau individu berhijab dengan lekuk tubuh menonjol, dianggap tidak konsisten dengan perilaku keagamaan yang semestinya. Agama juga dapat menjadi alat untuk mencari keuntungan ekonomi, yang memanfaatkan karakteristik masyarakat di Era 4. 0 (Mukorrobin, 2. Dampak dari era media baru (Era 4. yang pervasif tentu dapat berpotensi menyebabkan perubahan signifikan dalam perilaku keagamaan masyarakat. Adanya platform media seringkali menyajikan berbagai konten keagamaan yang menyimpang dari norma perilaku yang diterima, berpotensi dapat memengaruhi persepsi seseorangt dan dapat membentuk tren perilaku yang tidak sesuai dengan aturan. Lebih lanjut, generasi milenial, yang terintegrasi erat dengan ekosistem digital dan arus informasi Revolusi Industri 4. 0, menunjukkan kecenderungan lebih mengutamakan pada aspek teknologi dibandingkan dimensi lain dalam praktik keagamaannya. Pendidikan agama menjadi sangat penting untuk menghadapi tantangan ini karena akan mengajarkan orang-orang untuk dapat beradaptasi dengan Era 4. 0 dan menumbuhkan kreativitas dengan menggunakan media sebagai alat komunikasi yang cepat, tepat, efisien, dan efektif. Dalam konteks transformasi positif, beberapa penelitian menyoroti upaya pembentukan perilaku keagamaan progresif seperti: Internalisasi Moderasi Beragama, terdapat tiga tahapan dalam model internalisasi nilai moderasi beragama Thursina diantaranya yaitu, transformasi nilai . nformasi satu ara. , transaksi nilai . omunikasi dua ara. , dan program internal . Keunggulan . , tawassuth . , tawazzuun . , i'tidal . urus/adi. , syura . , islah . , tasamuh . , musawah . , aulawiyah . , qudwah . , muwathonah . , al 'unf . nti-kekerasa. , dan i'tiraful 'urf adalah nilai-nilai yang ditanamkan (Nurhasanah, 2. Adita Rizki Hana Wibowo. Darodjat: Dampak Pendidikan Islam Non-formal terhadap Pembentukan Karakter Keagamaan Anak dan Remaja Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Peran Pendidikan dalam Toleransi, menurut analisis pandangan pemuda Indonesia, meningkatkan kemampuan untuk berinteraksi secara sosial dan menerima perbedaan agama merupakan bagian penting dari pendidikan. Pemuda pasca-Orde Baru cenderung lebih besar rasa sosialisasinya dan preferensi politik antaragamanya, sementara generasi yang menyelesaikan sekolah menengah di era Orde Baru menunjukkan tingkat toleransi yang lebih tinggi dibandingkan generasi Reformasi. Temuan ini relevan mengingat perpecahan agama dan intoleransi yang meningkat. Mereka juga menekankan pentingnya pendidikan untuk membangun toleransi (Fatah & Huda, 2. Penguatan karakter religious, siswa menunjukkan pengetahuan, kemampuan, dan sikap untuk mendorong moderasi beragama, toleransi, non-kekerasan, komitmen nasional, dan investasi budaya lokal (Zakiyah & Darodjat, 2. Fakta bahwa radikalisme dan intoleransi muncul di lembaga pendidikan menunjukkan bahwa pendidikan karakter religius berperan transformasi. Hal ini dapat dicapai melalui diskusi tentang etika dan moral serta penggabungan nilai-nilai agama yang lebih dalam (Mukhibat. Mukhlison. Wawan Herry, & and Sutoyo, 2. Di era modern, evolusi karakter keagamaan menghadapi tantangan tetapi juga peluang. Era ini juga menawarkan cara baru untuk memperkuat moderasi dan toleransi antargama, meskipun juga dapat menyebabkan penurunan moral dan ekspresi keagamaan yang tidak pantas. Pendidikan non-formal unik karena fleksibelnya. Pendidikan Islam non-formal memastikan bahwa praktik keagamaan tetap autentik, bermoral, dan bertanggung jawab secara sosial dengan menumbuhkan perilaku keagamaan yang adaptif dan menanamkan kewarganegaraan digital yang kritis. Untuk mencapai transformasi perilaku yang progresif, diperlukan interaksi dinamis antara tantangan digital dan respons pendidikan (Maziahtusima Ishak et al. , 2. SIMPULAN Kajian ini mengidentifikasikan adanya beberapa keterbatasan dalam literatur yang ada mengenai dampak Pendidikan Islam non-formal terhadap pembentukan karakter keagamaan anak dan remaja. Sebagian penelitian sebelumnya cenderung memiliki fokus yang beragam, yang hanya membahas mengenai kontribusi pendidikan formal atau integrasi nilai budaya lokal dengan Pendidikan Islam, sehingga belum ada studi yang secara spesifik menganalisis kontribusi Pendidikan Islam non-formal secara eksklusif pada anak dan remaja. Selain itu, literatur yang ada cenderung lebih menekankan pada penguatan nilai-nilai agama daripada menganalisis transformasi perilaku keagamaan secara progresif seiring waktu. Kemudian, eksplorasi mendalam mengenai konsep hidden curriculum atau proses habituasi nilai agama dalam konteks non-formal terbatas, padahal kedua aspek tersebut memegang peran fundamental dalam pembentukan karakter. Meskipun tujuan penelitian ini mencakup komunitas dakwah remaja sebagai salah satu fokus, tinjauan literatur yang tersedia dalam rentang 2021-2025 memberikan bukti yang terbatas secara langsung mengenai dampak spesifik komunitas dakwah remaja terhadap pembentukan karakter keagamaan pada anak dan remaja. Beberapa literatur hanya menyentuh aspek pembentukan karakter dalam konteks gerakan dakwah yang lebih luas atau pengaruh media sosial terhadap perilaku keagamaan, namun belum ada studi yang secara sistematis menganalisis metode, proses, dan hasil nyata dari komunitas dakwah yang secara eksklusif menargetkan anak dan remaja dalam pembentukan karakter keagamaan Adita Rizki Hana Wibowo. Darodjat: Dampak Pendidikan Islam Non-formal terhadap Pembentukan Karakter Keagamaan Anak dan Remaja Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 DAFTAR PUSTAKA