Copyright A 2021 pada penulis Abdimas Singkerru. Vol. No. 2, 2025 Edukasi Pengelolaan Sampah dan Aksi Bersih Pantai sebagai Upaya Meningkatkan Kepedulian Lingkungan di Objek Wisata Pantai Lemo. Luwu Timur Ariani Amri1*. Ahmad Ashari2. Nabila Febriyanti3. Miftahul Hairia4. Fajar Ramadhan5 1,2,3,4,5 Politeknik Dewantara arianiamri@atidewantara. Abstrak Permasalahan sampah di kawasan pesisir menjadi isu penting yang berdampak pada kualitas lingkungan, keberlanjutan ekosistem laut, serta daya tarik destinasi Kondisi ini juga terjadi di kawasan objek wisata Pantai Lemo. Kabupaten Luwu Timur, yang masih menghadapi permasalahan akumulasi sampah akibat rendahnya kesadaran masyarakat dan pengunjung. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah melalui edukasi dan aksi nyata di Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu edukasi kepedulian lingkungan pesisir, sosialisasi dan demonstrasi pengelolaan sampah, serta aksi partisipatif pembersihan pantai. Kegiatan melibatkan mahasiswa Teknik Elektronika sebagai peserta utama, serta masyarakat setempat, aparat desa, dan relawan sebagai mitra pendukung. Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok dalam pelaksanaan aksi lapangan untuk meningkatkan efektivitas kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan mampu meningkatkan pemahaman peserta mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan pesisir. Kegiatan sosialisasi dan demonstrasi memberikan keterampilan praktis kepada peserta dalam memilah dan mengelola sampah secara tepat. Aksi bersih pantai yang dilakukan secara bersama-sama menghasilkan kondisi lingkungan yang lebih bersih dan nyaman, serta memberikan pengalaman langsung kepada peserta mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan manfaat berupa meningkatnya kesadaran dan kepedulian peserta serta masyarakat terhadap kebersihan kawasan pantai. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan yang mengintegrasikan edukasi dan aksi partisipatif efektif dalam meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan Model kegiatan ini menjadi pendekatan baru yang menekankan pentingnya keterlibatan langsung masyarakat dalam menciptakan perubahan perilaku yang berkelanjutan. Kata Kunci: Edukasi Lingkungan. Kepedulian Lingkungan. Pengelolaan Sampah Pendahuluan Wilayah pesisir dikenal sebagai kawasan strategis ditinjau dari aspek ekologis, sosial, maupun ekonomi (Putra et al. , 2. Keberadaan kawasan ini tidak hanya berperan sebagai habitat alami berbagai biota laut, tetapi juga menjadi sumber mata https://jurnal. id/index. php/singkerru Vol. No. 2, 2025 ISSN 2776-7477 pencaharian masyarakat serta lokasi pengembangan sektor pariwisata yang bernilai ekonomis (Rahmawati & Hidayat, 2. Potensi tersebut menjadikan kawasan pesisir sebagai aset penting yang perlu dijaga keberlanjutannya (Yuliana et al. Salah satu kawasan pesisir yang memiliki potensi wisata cukup besar adalah Pantai Lemo di Kabupaten Luwu Timur (Sari et al. , 2. Keindahan panorama alam, hamparan pasir, serta daya tarik lautnya menjadikan kawasan ini sebagai tujuan wisata yang diminati masyarakat (Nugroho & Prasetyo, 2. Namun demikian, peningkatan aktivitas wisata yang tidak diimbangi pengelolaan lingkungan yang baik berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan, khususnya akumulasi sampah di kawasan pesisir yang terus meningkat (Wibowo et al. , 2. Isu terkait sampah di kawasan pantai saat ini telah berkembang menjadi permasalahan lingkungan yang berskala global dan memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar sampah laut berasal dari aktivitas manusia di daratan, seperti limbah rumah tangga, aktivitas industri, serta kegiatan pariwisata yang tidak ramah lingkungan. Sekitar 80% sampah laut bersumber dari daratan, yang sebagian besar berupa sampah plastik yang sulit terurai. Di Indonesia, permasalahan ini menjadi semakin kompleks karena tingginya tingkat konsumsi plastik sekali pakai serta rendahnya tingkat pengelolaan sampah yang efektif. Penelitian terdahulu menyatakan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara penyumbang sampah plastik ke laut terbesar di dunia (Lestari & Trihadiningrum, 2. Kondisi ini menunjukkan bahwa tanpa adanya intervensi yang tepat, pencemaran lingkungan pesisir akan terus meningkat dan berdampak luas terhadap ekosistem serta kehidupan manusia. Fenomena permasalahan sampah tersebut juga dapat ditemukan di kawasan objek wisata Pantai Lemo di Kabupaten Luwu Timur. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, ditemukan bahwa kawasan pantai masih dipenuhi oleh berbagai jenis sampah, terutama sampah plastik seperti kantong plastik, botol minuman, serta kemasan makanan, yang tersebar di sepanjang garis pantai. Selain itu, terdapat pula sampah organik yang berasal dari sisa aktivitas pengunjung. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat dan pengunjung terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan masih relatif rendah. Keterbatasan sarana dan prasarana pengelolaan sampah, seperti tempat sampah terpilah dan sistem pengangkutan yang memadai, turut memperburuk kondisi tersebut. Rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat pesisir mengenai pengelolaan sampah menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan laut (Purba et al. , . Dampak dari permasalahan sampah di kawasan pesisir tidak hanya terbatas pada kerusakan lingkungan, tetapi juga berpengaruh terhadap sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat. Lingkungan pantai yang kotor dan tercemar akan menurunkan daya tarik wisata, sehingga berpotensi mengurangi jumlah kunjungan Penurunan jumlah wisatawan secara langsung akan berdampak pada pendapatan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pariwisata. Kebersihan lingkungan merupakan salah satu indikator utama dalam menentukan tingkat kepuasan wisatawan terhadap suatu destinasi wisata (Arifin et al. , 2. Dengan demikian, menjaga kebersihan kawasan pesisir menjadi suatu keharusan dalam upaya mempertahankan keberlanjutan sektor pariwisata. Penanganan permasalahan sampah di kawasan pesisir memerlukan pendekatan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga edukatif dan partisipatif. Pendekatan edukasi lingkungan menjadi salah satu strategi yang efektif dalam meningkatkan Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan dapat membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat yang lebih peduli terhadap lingkungan. Edukasi lingkungan memiliki peran penting dalam meningkatkan pemahaman masyarakat pesisir terkait dampak negatif sampah terhadap ekosistem laut serta pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan (Sari et al. , 2. Selain itu, pendekatan partisipatif melalui keterlibatan langsung masyarakat dalam kegiatan pengelolaan lingkungan juga terbukti mampu meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap kebersihan Program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di kawasan Pantai Lemo dirancang sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh mitra, yaitu masyarakat di kawasan objek wisata tersebut. Program ini mencakup beberapa kegiatan utama, yaitu edukasi kepedulian lingkungan pesisir, sosialisasi dan demonstrasi pengelolaan sampah, serta aksi partisipatif pembersihan pantai. Kegiatan edukasi difokuskan pada pemberian pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, dampak sampah terhadap ekosistem pesisir, serta pentingnya menjaga keberlanjutan kawasan wisata. Sosialisasi dan demonstrasi dilakukan untuk memberikan pengetahuan praktis kepada peserta mengenai teknik pemilahan sampah, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, serta metode pembersihan pantai yang aman dan efektif. Selanjutnya, aksi bersih pantai dilakukan sebagai bentuk implementasi nyata dari materi yang telah diberikan. Efektivitas pendekatan yang menggabungkan edukasi dan aksi nyata telah banyak dibuktikan melalui berbagai penelitian sebelumnya. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kegiatan edukasi yang dikombinasikan dengan praktik langsung mampu meningkatkan kesadaran serta mengubah perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah (Wulandari et al. , 2. Temuan lain juga menyatakan bahwa keterlibatan aktif masyarakat dalam kegiatan kebersihan lingkungan dapat meningkatkan kepedulian dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar (Rahmawati et al. , 2. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan yang hanya bersifat teoritis, karena peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga langsung mempraktikkannya dalam kehidupan nyata. Penggunaan metode demonstrasi dalam kegiatan edukasi memberikan keuntungan tersendiri dalam meningkatkan pemahaman peserta. Metode ini memungkinkan peserta untuk melihat secara langsung proses pengelolaan sampah yang benar, sehingga lebih mudah untuk dipahami dan diterapkan. Metode demonstrasi memiliki tingkat efektivitas yang lebih tinggi dalam meningkatkan pemahaman peserta dibandingkan metode ceramah konvensional (Nugroho et al. Oleh karena itu, kombinasi antara metode edukasi, demonstrasi, dan aksi partisipatif diharapkan mampu memberikan hasil yang optimal dalam meningkatkan kepedulian lingkungan masyarakat. Tujuan utama dari pelaksanaan kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kepedulian masyarakat serta peserta terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan pesisir, khususnya di kawasan objek wisata Pantai Lemo. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk memberikan keterampilan praktis dalam pengelolaan sampah, serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Manfaat yang diharapkan dari kegiatan ini meliputi terciptanya lingkungan pantai yang lebih bersih dan sehat, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah, serta terbentuknya budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan di kawasan pesisir. Vol. No. 2, 2025 ISSN 2776-7477 Pelaksanaan kegiatan edukasi dan aksi bersih pantai ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan kawasan wisata pesisir yang bersih, nyaman, dan Sinergi antara masyarakat, aparat desa, relawan, dan mahasiswa sebagai pelaksana kegiatan menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini. Metode Pelaksanaan Tempat dan Waktu Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di kawasan objek wisata Pantai Lemo yang terletak di Kabupaten Luwu Timur. Provinsi Sulawesi Selatan. Lokasi ini dipilih karena merupakan salah satu destinasi wisata pesisir yang memiliki potensi alam yang tinggi, namun masih menghadapi permasalahan pengelolaan sampah yang cukup signifikan. Secara geografis, kawasan Pantai Lemo berada di wilayah pesisir yang mudah diakses oleh masyarakat dan wisatawan, sehingga menjadi lokasi yang strategis untuk pelaksanaan kegiatan edukasi lingkungan dan aksi bersih pantai. Khalayak Sasaran/Mitra Kegiatan Khalayak sasaran dalam kegiatan ini adalah masyarakat yang berada di kawasan objek wisata Pantai Lemo. Kabupaten Luwu Timur, yang secara langsung berinteraksi dengan lingkungan pesisir, baik sebagai pengunjung, pelaku usaha, maupun penduduk setempat. Penentuan sasaran dilakukan berdasarkan tingkat keterlibatan dan potensi kontribusi masyarakat terhadap permasalahan sampah di kawasan pantai. Masyarakat yang sering beraktivitas di sekitar pantai dipandang memiliki peran penting dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus sebagai agen perubahan dalam membangun kesadaran kolektif. Selain masyarakat, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa Teknik Elektronika sebagai peserta utama sekaligus pelaksana kegiatan lapangan. Mahasiswa dipilih sebagai bagian dari sasaran sekaligus pelaku kegiatan karena memiliki kapasitas akademik dan sosial yang dapat mendukung keberhasilan program edukasi. Keterlibatan mahasiswa diharapkan mampu memperkuat proses transfer pengetahuan serta meningkatkan efektivitas pelaksanaan kegiatan. Mitra pendukung dalam kegiatan ini meliputi aparat desa setempat dan relawan yang berperan dalam membantu koordinasi, mobilisasi peserta, serta mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan. Kolaborasi antara berbagai pihak ini menjadi faktor penting dalam menciptakan kegiatan yang partisipatif dan berkelanjutan. Metode Pengabdian Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian ini dirancang secara sistematis dan aplikatif dengan mengintegrasikan pendekatan edukatif dan partisipatif. Metode yang digunakan disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi mitra. Adapun bentuk kegiatan dalam metode pengabdian ini terdiri atas beberapa aspek utama sebagai Edukasi Kepedulian Lingkungan Pesisir Aspek ini dilaksanakan melalui kegiatan penyuluhan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran peserta mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan pantai. Materi yang disampaikan mencakup konsep dasar lingkungan pesisir, dampak negatif sampah terhadap ekosistem laut, serta hubungan antara kebersihan pantai dengan keberlanjutan sektor pariwisata. Penyampaian materi dilakukan secara komunikatif dan interaktif agar peserta dapat memahami Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 informasi secara lebih mendalam. Diskusi juga dilakukan untuk menggali pemahaman awal peserta serta memberikan ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman terkait permasalahan sampah di lingkungan sekitar. Sosialisasi dan Demonstrasi Pengelolaan Sampah Aspek ini berfokus pada pemberian keterampilan praktis kepada peserta mengenai pengelolaan sampah di kawasan pesisir. Kegiatan dilakukan melalui sosialisasi dan demonstrasi langsung mengenai teknik pemilahan sampah organik dan anorganik, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, serta pengenalan konsep pengelolaan sampah berkelanjutan. Demonstrasi dilakukan dengan menunjukkan secara langsung cara memilah dan mengelola sampah, sehingga peserta tidak hanya memahami secara teoritis, tetapi juga mampu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dan kesiapan peserta dalam menerapkan pengelolaan sampah yang baik. Aksi Partisipatif Pembersihan Objek Wisata Aspek ini merupakan implementasi nyata dari kegiatan edukasi dan demonstrasi yang telah dilakukan sebelumnya. Aksi bersih pantai dilaksanakan secara bersamasama dengan melibatkan seluruh peserta, termasuk mahasiswa, masyarakat, dan Kegiatan ini dilakukan dengan membagi peserta ke dalam beberapa kelompok untuk membersihkan area pantai secara menyeluruh. Sampah yang terkumpul kemudian dipilah sesuai jenisnya sebagai bentuk penerapan langsung dari materi yang telah diberikan. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai pelaku aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan. Peningkatan Kepedulian Lingkungan Peserta Aspek ini merupakan hasil yang diharapkan dari keseluruhan rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan. Keterlibatan peserta secara langsung dalam kegiatan edukasi, demonstrasi, dan aksi lapangan diharapkan mampu meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan Proses pembelajaran yang bersifat partisipatif dan aplikatif menjadi faktor utama dalam membentuk sikap peduli lingkungan yang lebih kuat dan berkelanjutan. Indikator Keberhasilan Keberhasilan kegiatan pengabdian ini ditandai dengan adanya peningkatan pemahaman dan kesadaran peserta terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan pesisir. Hal ini terlihat dari kemampuan peserta dalam menjelaskan kembali materi yang telah disampaikan, serta keterlibatan aktif selama kegiatan Selain itu, keberhasilan juga ditunjukkan melalui kemampuan peserta dalam melakukan pemilahan sampah dengan benar serta menerapkan teknik pembersihan pantai yang efektif. Indikator lainnya adalah terciptanya perubahan kondisi lingkungan di kawasan Pantai Lemo yang menjadi lebih bersih dan tertata setelah pelaksanaan aksi bersih pantai. Respons positif dari masyarakat dan peserta kegiatan juga menjadi salah satu indikator penting yang menunjukkan bahwa kegiatan ini diterima dengan baik dan memberikan manfaat nyata. Lebih lanjut, tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama menjadi indikator keberhasilan jangka panjang dari kegiatan ini. Metode Evaluasi Vol. No. 2, 2025 ISSN 2776-7477 Evaluasi kegiatan dilakukan untuk mengukur tingkat ketercapaian tujuan dan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Proses evaluasi dilakukan secara langsung selama dan setelah kegiatan berlangsung dengan menggunakan beberapa Salah satu metode yang digunakan adalah observasi terhadap partisipasi dan keterlibatan peserta selama kegiatan berlangsung, baik pada saat penyuluhan, demonstrasi, maupun aksi bersih pantai. Selain itu, evaluasi juga dilakukan melalui diskusi dan tanya jawab untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan. Umpan balik dari peserta dan masyarakat juga dikumpulkan untuk mengetahui persepsi mereka terhadap pelaksanaan kegiatan serta manfaat yang dirasakan. Evaluasi hasil kegiatan juga dilakukan dengan melihat perubahan kondisi lingkungan sebelum dan sesudah pelaksanaan kegiatan, khususnya terkait jumlah dan sebaran sampah di kawasan pantai. Pendekatan evaluasi ini memberikan gambaran yang komprehensif mengenai efektivitas kegiatan, baik dari aspek peningkatan pengetahuan maupun dampak nyata terhadap lingkungan. Dengan demikian, hasil evaluasi dapat dijadikan sebagai dasar untuk perbaikan dan pengembangan kegiatan serupa di masa yang akan datang. Hasil dan Pembahasan Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di kawasan objek wisata Pantai Lemo. Kabupaten Luwu Timur, menunjukkan capaian yang positif baik dari aspek peningkatan pengetahuan, keterampilan, maupun perubahan sikap peserta terhadap pengelolaan sampah pesisir. Kegiatan yang melibatkan mahasiswa Teknik Elektronika, masyarakat setempat, serta dukungan aparat desa dan relawan berlangsung secara sistematis sesuai dengan tahapan yang telah dirancang. Hasil kegiatan tidak hanya tercermin dari kelancaran pelaksanaan program, tetapi juga dari dampak nyata terhadap kondisi lingkungan pantai yang menjadi lebih bersih dan Gambaran umum hasil kegiatan memperlihatkan adanya peningkatan pemahaman peserta terhadap isu lingkungan pesisir, khususnya terkait dampak sampah terhadap ekosistem laut dan keberlanjutan sektor pariwisata. Sebelum kegiatan dilaksanakan, sebagian peserta belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai pengelolaan sampah yang baik, terutama terkait pemilahan sampah dan pengurangan plastik sekali pakai (Hidayat & Santoso, 2. Setelah mengikuti rangkaian kegiatan edukasi, demonstrasi, dan aksi lapangan, peserta menunjukkan peningkatan pengetahuan serta kemampuan dalam menerapkan praktik pengelolaan sampah secara langsung. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendekatan yang digunakan mampu menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan praktik di Temuan ini sejalan dengan temuan terdahulu yang menyatakan bahwa edukasi berbasis praktik mampu meningkatkan literasi lingkungan masyarakat secara lebih efektif dibandingkan pendekatan teoritis semata (Fitriani et al. , 2. Edukasi Kepedulian Lingkungan Pesisir Tahapan edukasi kepedulian lingkungan pesisir menjadi fondasi utama dalam membangun pemahaman awal peserta terkait pentingnya menjaga kebersihan Materi yang disampaikan tidak hanya mencakup konsep dasar ekosistem pesisir, tetapi juga menguraikan secara lebih mendalam mengenai peran penting kawasan pesisir sebagai habitat biota laut, penyangga kehidupan masyarakat, serta sebagai destinasi wisata yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 Penjelasan mengenai dampak pencemaran sampah terhadap biota laut diberikan secara kontekstual, misalnya melalui contoh kasus kerusakan ekosistem akibat plastik yang sulit terurai. Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada hubungan yang erat antara kebersihan lingkungan dengan keberlanjutan sektor pariwisata, sehingga mereka dapat memahami bahwa kondisi lingkungan yang bersih akan meningkatkan daya tarik wisata dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. Proses penyampaian dilakukan secara interaktif melalui diskusi dan tanya jawab, yang memungkinkan peserta untuk terlibat aktif serta mengaitkan materi dengan pengalaman mereka sehari-hari. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta tidak hanya mampu memahami konsep yang disampaikan, tetapi juga menunjukkan peningkatan kesadaran yang lebih mendalam terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Pemahaman tersebut terlihat dari kemampuan peserta dalam mengidentifikasi berbagai jenis sampah yang berpotensi mencemari lingkungan, serta menjelaskan dampaknya terhadap ekosistem pesisir secara lebih komprehensif. Peserta juga mulai menunjukkan perubahan cara pandang, di mana mereka tidak lagi melihat sampah sebagai hal yang sepele, melainkan sebagai permasalahan serius yang memerlukan penanganan bersama. Kesadaran yang terbentuk ini menjadi landasan penting dalam mendorong perubahan perilaku yang lebih peduli terhadap lingkungan, baik dalam konteks individu maupun kelompok. Peningkatan kesadaran tersebut tidak terlepas dari pendekatan edukasi yang bersifat partisipatif, di mana peserta dilibatkan secara aktif dalam proses Interaksi yang terjalin antara fasilitator dan peserta memungkinkan terjadinya proses pembelajaran dua arah yang lebih efektif. Edukasi lingkungan yang melibatkan interaksi aktif terbukti mampu meningkatkan kesadaran ekologis secara signifikan (Pratiwi et al. , 2. Pendekatan ini juga sejalan dengan konsep pembelajaran berbasis pengalaman yang menekankan pentingnya keterlibatan langsung peserta dalam proses pembelajaran, sehingga pengetahuan yang diperoleh menjadi lebih bermakna dan mudah diingat. Dengan demikian, kegiatan edukasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pembentukan sikap dan nilai yang mendukung perilaku peduli lingkungan secara berkelanjutan. Sosialisasi dan Demonstrasi Pengelolaan Sampah Tahapan sosialisasi dan demonstrasi pengelolaan sampah berperan penting dalam menjembatani pengetahuan teoritis yang telah diperoleh peserta dengan keterampilan praktis yang dapat diterapkan secara langsung. Materi yang disampaikan tidak hanya berfokus pada pengenalan jenis-jenis sampah, tetapi juga mencakup teknik pemilahan sampah organik dan anorganik secara rinci, serta penjelasan mengenai dampak jangka panjang dari penggunaan plastik sekali pakai terhadap lingkungan. Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai konsep pengelolaan sampah berkelanjutan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan rumah tangga maupun di kawasan pesisir. Demonstrasi dilakukan secara langsung dengan melibatkan peserta dalam proses pemilahan sampah, sehingga mereka dapat melihat, memahami, dan mempraktikkan teknik yang diajarkan secara nyata. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mampu melakukan pemilahan sampah dengan benar serta memahami pentingnya pengelolaan sampah yang Kemampuan ini tidak hanya terlihat dari hasil praktik selama kegiatan. Vol. No. 2, 2025 ISSN 2776-7477 tetapi juga dari kepercayaan diri peserta dalam menjelaskan kembali langkahlangkah pemilahan sampah. Keterlibatan aktif peserta selama demonstrasi menunjukkan adanya minat yang tinggi untuk belajar serta kesadaran untuk menerapkan praktik tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Peserta juga mulai menyadari bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan partisipasi aktif dari setiap individu. Kemampuan ini menjadi indikator bahwa kegiatan tidak hanya berhasil meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk keterampilan yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Efektivitas metode demonstrasi dalam meningkatkan keterampilan peserta didukung oleh penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa pembelajaran melalui praktik langsung memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dalam membentuk keterampilan dibandingkan metode ceramah (Kurniawan et al. , 2. Pelatihan berbasis praktik juga terbukti dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan (Suryani et al. , 2. Penguasaan keterampilan dalam pengelolaan sampah menjadi langkah strategis dalam mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan di kawasan pesisir. Peserta yang telah memahami teknik pemilahan sampah diharapkan tidak hanya menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga mampu menjadi contoh bagi masyarakat sekitar dalam menerapkan perilaku pengelolaan sampah yang baik dan benar. Aksi Partisipatif Pembersihan Objek Wisata Pelaksanaan aksi bersih pantai merupakan tahap implementasi yang memberikan pengalaman nyata kepada peserta dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Kegiatan ini dirancang secara kolaboratif dengan melibatkan seluruh peserta yang dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja untuk memastikan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan. Setiap kelompok bertanggung jawab terhadap area tertentu di sepanjang garis pantai, sehingga proses pembersihan dapat dilakukan secara menyeluruh. Sampah yang terkumpul kemudian dipilah sesuai dengan jenisnya sebagai bentuk penerapan langsung dari hasil demonstrasi sebelumnya, sekaligus memperkuat pemahaman peserta mengenai pentingnya pemilahan sampah. Gambar 1. Pembersihan Objek Wisata Hasil kegiatan menunjukkan adanya perubahan kondisi lingkungan yang cukup positif setelah pelaksanaan aksi bersih pantai. Kawasan yang sebelumnya dipenuhi oleh berbagai jenis sampah menjadi lebih bersih, tertata, dan nyaman untuk Perubahan ini tidak hanya berdampak pada aspek estetika, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap kualitas lingkungan secara keseluruhan. Peserta dan masyarakat dapat secara langsung merasakan manfaat dari lingkungan Abdimas Singkerru ISSN 2776-7477 yang bersih, sehingga meningkatkan motivasi untuk menjaga kebersihan secara Pengalaman ini menjadi bukti nyata bahwa tindakan sederhana yang dilakukan secara bersama-sama dapat memberikan kontribusi besar dalam mengatasi permasalahan lingkungan. Keterlibatan aktif peserta dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif mampu meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. Penelitian terdahulu menyatakan bahwa kegiatan bersih pantai yang melibatkan masyarakat secara langsung dapat membentuk kebiasaan positif dalam menjaga kebersihan lingkungan (Wahyudi et al. , 2. Pengalaman langsung yang diperoleh peserta juga memberikan dampak emosional yang kuat, karena mereka dapat melihat hasil dari usaha yang dilakukan secara nyata. Integrasi antara edukasi, demonstrasi, dan aksi lapangan dalam kegiatan ini mencerminkan pendekatan pembelajaran yang komprehensif, di mana peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengalami secara langsung proses menjaga kebersihan Pendekatan ini terbukti efektif dalam membentuk perilaku yang berkelanjutan karena melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara Peningkatan Kepedulian Lingkungan Peserta Dampak akhir dari rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan terlihat pada peningkatan kepedulian lingkungan peserta yang terjadi secara bertahap. Perubahan ini tercermin dari sikap peserta yang lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan, seperti tidak membuang sampah sembarangan, serta adanya inisiatif untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Respons positif dari peserta dan masyarakat menunjukkan bahwa kegiatan ini mampu memberikan pengalaman yang bermakna dan relevan dengan kebutuhan mereka. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga mengalami perubahan sikap yang mengarah pada perilaku yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Peningkatan kepedulian lingkungan yang terjadi tidak hanya bersifat sementara, tetapi diharapkan dapat berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Peserta yang telah mengikuti kegiatan ini memiliki potensi untuk menjadi agen perubahan yang dapat menyebarkan kesadaran lingkungan kepada masyarakat luas. Peran peserta sebagai agen perubahan menjadi sangat penting dalam menciptakan efek berantai yang dapat memperluas dampak kegiatan. Keterlibatan langsung dalam kegiatan lingkungan terbukti mampu meningkatkan kesadaran serta mendorong perubahan perilaku yang lebih berkelanjutan (Lestari et al. , 2. Keberhasilan dalam meningkatkan kepedulian lingkungan peserta menunjukkan bahwa pendekatan yang menggabungkan edukasi, demonstrasi, dan aksi partisipatif merupakan strategi yang efektif dalam pengelolaan lingkungan pesisir. Sinergi antara ketiga pendekatan tersebut memungkinkan terjadinya perubahan yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga berpotensi memberikan dampak jangka panjang. Dampak keseluruhan kegiatan ini memperlihatkan bahwa program pengabdian yang dirancang secara sistematis dan partisipatif mampu memberikan kontribusi nyata dalam mengatasi permasalahan sampah di kawasan pesisir. Keberhasilan ini dapat menjadi dasar dalam pengembangan program serupa di masa yang akan datang dengan cakupan yang lebih luas, intensitas kegiatan yang lebih tinggi, serta keterlibatan pemangku kepentingan yang lebih beragam guna mencapai keberlanjutan lingkungan yang lebih optimal. Vol. No. 2, 2025 ISSN 2776-7477 Kesimpulan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui edukasi pengelolaan sampah dan aksi bersih pantai di kawasan objek wisata Pantai Lemo. Kabupaten Luwu Timur, menunjukkan bahwa pendekatan yang mengintegrasikan edukasi, demonstrasi, dan aksi partisipatif mampu memberikan dampak terhadap peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian lingkungan peserta. Kebaruan dari kegiatan ini terletak pada penerapan model pembelajaran berbasis pengalaman yang tidak hanya menekankan pada aspek teoritis, tetapi juga mengutamakan keterlibatan langsung peserta dalam praktik pengelolaan sampah di kawasan pesisir. Pendekatan ini terbukti efektif dalam menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan tindakan nyata dalam menjaga kebersihan lingkungan. Manfaat kegiatan ini dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat dan peserta, terutama dalam bentuk meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan pantai, kemampuan dalam memilah dan mengelola sampah, serta terciptanya kondisi lingkungan pantai yang lebih bersih dan nyaman. Keterlibatan aktif masyarakat, mahasiswa, dan mitra pendukung juga memperkuat nilai kolaboratif dalam upaya pengelolaan lingkungan berbasis komunitas. Selain itu, kegiatan ini memberikan kontribusi teoritik dalam pengembangan model pengabdian masyarakat yang mengedepankan pendekatan partisipatif dan aplikatif sebagai strategi efektif dalam meningkatkan kepedulian lingkungan di kawasan pesisir. Keterbatasan kegiatan ini terletak pada durasi pelaksanaan yang singkat serta keterbatasan partisipasi masyarakat secara berkelanjutan, sehingga dampak peningkatan kepedulian lingkungan belum dapat terukur dalam jangka Panjang. Rekomendasi untuk kegiatan pengabdian selanjutnya adalah perlunya pelaksanaan program secara berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan pengelola wisata. Pengembangan fasilitas pendukung seperti tempat sampah terpilah dan sistem pengelolaan sampah terpadu juga perlu menjadi perhatian untuk mendukung keberlanjutan program. Selain itu, perlu dilakukan penguatan edukasi berbasis komunitas secara periodik agar kesadaran dan perilaku peduli lingkungan dapat terus terjaga dan berkembang dalam jangka panjang. Ucapan Terimakasih Referensi