Jurnal Abdi Dharma Pendidikan Islam Vol 1. No 1, 5-8. Januari 2023 https://journal. id/index. php/Abdi-Dharma/ Sosialisasi Nilai Aswaja melalui Majelis Ta'lim Ibu-ibu di Desa Banu Ayu Kecamatan Buay Pemuka Peliung OKU Timur Muhammad Saiful Amin1. Suwandi2. Suhartono3. Siti Maryamah4 Universitas Nurul Huda OKU Timur E-mail: 1muhammadas-saif@unha. id, 2suwandi@gmail. com, 3suhartono@gmail. Info Artikel Abstrak Article history: Available online DOI: 10. 30599/AbdiDharma. Abstrak Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk menanamkan dan memperkuat pemahaman nilai-nilai Ahlussunnah wal JamaAoah (Aswaj. kepada masyarakat, khususnya kalangan ibu-ibu melalui kegiatan majelis ta'lim di Desa Banu Ayu. Kecamatan Buay Pemuka Peliung. OKU Timur. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi ceramah, diskusi interaktif, dan praktik pembiasaan nilai Aswaja dalam kehidupan sehari-hari. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman jamaah majelis taAolim mengenai prinsip tawassuth . , tawazun . , tasamuh . , dan iAotidal . Dengan demikian, sosialisasi ini berkontribusi terhadap penguatan moderasi beragama dan ketahanan sosial di masyarakat pedesaan. Kata kunci: Aswaja. Majelis TaAolim. Ibu-ibu. Moderasi Beragama, masyarakat desa. How to cite (APA): Amin. Suwandi. Suhartono. & Maryamah, . Judul Artikel. Jurnal Abdi Dharma Pendidikan Islam , 5-8 ISSN x-x This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License PENDAHULUAN Abstract This Community Service (PkM) activity aims to instill and strengthen the understanding of Ahlussunnah wal JamaAoah (Aswaj. values among the community, particularly women, through majelis taAolim (Islamic study group. in Banu Ayu Village. Buay Pemuka Peliung District. OKU Timur. The implementation methods included lectures, interactive discussions, and the practice of habituating Aswaja values in daily life. The results of the activity showed an increased understanding among majelis taAolim participants regarding the principles of tawassuth . , tawazun . , tasamuh . , and iAotidal . Thus, this socialization contributes to strengthening religious moderation and social resilience in rural communities. Keywords: Aswaja, majelis TaAolim, women, religious moderation, rural Ahlussunnah wal JamaAoah (Aswaj. merupakan manhaj berpikir umat Islam yang moderat, mengedepankan keseimbangan, toleransi, dan keadilan dalam memahami ajaran agama. Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi, muncul berbagai tantangan berupa paham radikal, intoleransi, dan pengaruh budaya luar yang dapat mengikis nilai keislaman masyarakat (Hasan. Majelis taAolim ibu-ibu di desa memiliki peran strategis sebagai wadah pendidikan nonformal yang mampu menanamkan nilai-nilai Aswaja secara berkesinambungan (Zulfa & Huda, 2. Melalui majelis taAolim, para ibu dapat memperoleh pemahaman agama yang benar, yang kemudian ditransfer dalam keluarga dan masyarakat. Hal ini penting untuk memperkuat karakter generasi muda agar tetap berpegang pada nilai Aswaja al-Nahdliyah (Suryana, 2. Berdasarkan hasil observasi awal di Desa Banu Ayu, ditemukan bahwa sebagian jamaah Sosialisasi Nilai Aswaja melalui Majelis Ta'lim Ibu-ibu di Desa Banu Ayu . Jurnal Abdi Dharma Pendidikan Islam, 1. , 2023 majelis taAolim masih terbatas pemahamannya mengenai konsep Aswaja. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan sosialisasi yang sistematis, terarah, dan aplikatif untuk menanamkan nilai-nilai Aswaja melalui pengajian ibu-ibu. METODE PELAKSANAAN Metode pelaksanaan PkM terdiri dari tiga tahap: Persiapan Koordinasi dengan pengurus majelis taAolim dan tokoh agama setempat. Penyusunan materi sosialisasi tentang prinsip Aswaja . awassuth, tawazun, tasamuh, iAotida. Pelaksanaan Ceramah tematik: penyampaian materi nilai-nilai Aswaja berbasis dalil QurAoan. Hadis, dan pandangan ulama NU. Diskusi interaktif: jamaah diberikan ruang untuk bertanya, berbagi pengalaman, dan mengaitkan nilai Aswaja dengan persoalan kehidupan sehari-hari. Praktik pembiasaan: simulasi penerapan nilai Aswaja dalam aktivitas rumah tangga, bermasyarakat, serta dalam menghadapi perbedaan. Evaluasi Pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman jamaah. Refleksi bersama untuk menindaklanjuti kegiatan secara mandiri oleh majelis taAolim. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kegiatan sosialisasi nilai Aswaja melalui majelis taAolim ibu-ibu di Desa Banu Ayu Kecamatan Buay Pemuka Peliung OKU Timur dilaksanakan pada 10 September 2022 selama empat kali pertemuan dengan total durasi 24 jam. Setiap pertemuan diikuti rata-rata 45Ae50 jamaah ibu-ibu yang merupakan anggota majelis taAolim setempat. Pada tahap awal, tim pelaksana melakukan pre-test sederhana berupa kuisioner dan wawancara singkat untuk memetakan pemahaman jamaah terkait konsep Aswaja. Hasilnya Hanya 31% jamaah yang mampu menyebutkan empat prinsip utama Aswaja . awassuth, tawazun, tasamuh, iAotida. Sebanyak 47% jamaah masih menganggap Aswaja sebatas identitas organisasi keagamaan, belum sebagai manhaj berpikir. Sisanya 22% jamaah belum memahami perbedaan antara Aswaja dengan paham-paham lain. Selama kegiatan, sosialisasi dilaksanakan dengan pendekatan ceramah tematik, diskusi interaktif, dan praktik pembiasaan nilai Aswaja. Setiap pertemuan mengangkat tema yang berbeda. Prinsip dasar Aswaja dan urgensinya di tengah masyarakat. Implementasi nilai tawassuth dan tawazun dalam keluarga. Tasamuh dan iAotidal sebagai solusi menghadapi perbedaan di masyarakat. Peran ibu sebagai agen penyebar nilai Aswaja bagi anak dan lingkungan. Dari hasil observasi lapangan, jamaah tampak antusias mengikuti setiap sesi. Hal ini terlihat dari keaktifan mereka dalam mengajukan pertanyaan, memberikan contoh kasus, bahkan mengaitkan nilai Aswaja dengan problem aktual seperti pendidikan anak, hubungan bertetangga, dan fenomena media sosial. Pada akhir kegiatan dilakukan post-test untuk mengukur tingkat pemahaman jamaah. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang signifikan: 87% jamaah mampu menjelaskan prinsip-prinsip Aswaja beserta contoh aplikasinya. Sebanyak 78% jamaah dapat membedakan nilai Aswaja dengan paham radikal atau liberal yang berkembang di media sosial. Sosialisasi Nilai Aswaja melalui Majelis Ta'lim Ibu-ibu di Desa Banu Ayu . Jurnal Abdi Dharma Pendidikan Islam, 1. , 2023 65% jamaah menyatakan telah mencoba menerapkan nilai Aswaja dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan membiasakan musyawarah keluarga, menanamkan sikap toleransi kepada anak, dan menjaga harmoni dengan tetangga berbeda organisasi keagamaan. Selain peningkatan kognitif, terdapat pula perubahan sikap dan perilaku yang teramati: Jamaah lebih terbuka dalam menerima perbedaan pandangan antaranggota. Muncul inisiatif untuk membentuk kelompok kecil belajar Al-QurAoan dan kajian Aswaja secara rutin di luar jadwal majelis taAolim utama. Ibu-ibu mulai berkomitmen menjadikan rumah tangga mereka sebagai basis internalisasi nilai Aswaja bagi anak-anak. Secara umum, kegiatan ini tidak hanya meningkatkan literasi keagamaan jamaah, tetapi juga memperkuat kohesi sosial masyarakat desa. Nilai-nilai Aswaja yang disosialisasikan mampu menjadi filter bagi jamaah dalam menghadapi isu-isu keagamaan kontemporer, sekaligus memperkokoh identitas keislaman mereka yang moderat. Pembahasan Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman dan sikap jamaah majelis taAolim terhadap nilai-nilai Aswaja. Peningkatan ini dapat dianalisis dari beberapa Efektivitas Majelis TaAolim sebagai Lembaga Pendidikan Nonformal Majelis taAolim telah lama berfungsi sebagai ruang belajar keagamaan bagi masyarakat, khususnya kalangan ibu-ibu. Menurut Ridwan . , majelis taAolim berperan sebagai institusi pendidikan nonformal yang berfungsi ganda: sebagai media transfer ilmu, pembentukan karakter, sekaligus penguatan jaringan sosial antaranggota masyarakat. Hal ini terbukti di Desa Banu Ayu, di mana jamaah ibu-ibu yang mengikuti sosialisasi bukan hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif untuk mengamalkan nilai Aswaja dalam kehidupan sehari-hari. Internalisasi Nilai Aswaja sebagai Upaya Moderasi Beragama Aswaja dengan prinsip tawassuth, tawazun, tasamuh, dan iAotidal merupakan dasar dari praktik moderasi beragama. Penanaman nilai ini sangat penting di era sekarang, di mana masyarakat desa juga terpapar oleh arus informasi dari media sosial, termasuk konten keagamaan yang berpotensi Hasil post-test menunjukkan bahwa jamaah lebih mampu membedakan ajaran Islam yang moderat dengan paham radikal atau liberal. Hal ini sejalan dengan penelitian Hasan . yang menekankan bahwa moderasi beragama hanya bisa dipertahankan jika masyarakat memahami kerangka dasar Aswaja sebagai manhaj berpikir. Peran Ibu sebagai Agen Pendidikan Nilai Salah satu temuan penting adalah meningkatnya kesadaran ibu-ibu akan perannya sebagai madrasah pertama bagi anak-anak. Teori pendidikan keluarga menegaskan bahwa ibu memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai moral dan keagamaan sejak dini (Mansur, 2. Dengan memahami nilai Aswaja, ibu-ibu mampu membentuk generasi yang lebih moderat, toleran, dan berkarakter Islami. Penerapan sederhana seperti membiasakan musyawarah keluarga atau menanamkan sikap toleransi kepada anak merupakan langkah nyata internalisasi nilai Aswaja di lingkungan keluarga. Metode Sosialisasi yang Partisipatif Metode yang digunakanAiceramah tematik, diskusi interaktif, dan praktik pembiasaanAi memberikan dampak lebih kuat dibanding hanya ceramah konvensional. Diskusi memberi ruang bagi jamaah untuk mengaitkan teori Aswaja dengan pengalaman sehari-hari, sehingga pemahaman mereka lebih aplikatif. Praktik pembiasaan, seperti simulasi penyelesaian konflik keluarga dengan prinsip iAotidal, membuat jamaah lebih mudah menginternalisasi nilai tersebut. Pendekatan ini sesuai dengan prinsip andragogi dalam pendidikan orang dewasa, di mana proses belajar lebih efektif jika peserta terlibat aktif dalam proses (Knowles, 1. Dampak Sosial-Religius di Tingkat Komunitas Sosialisasi Nilai Aswaja melalui Majelis Ta'lim Ibu-ibu di Desa Banu Ayu . Jurnal Abdi Dharma Pendidikan Islam, 1. , 2023 Selain dampak individual, kegiatan ini juga memperkuat solidaritas sosial jamaah. Setelah kegiatan, muncul inisiatif dari jamaah untuk mengadakan kelompok kajian kecil dan memperbanyak kegiatan bersama berbasis nilai Aswaja. Hal ini sejalan dengan temuan Zulfa & Huda . bahwa majelis taAolim berfungsi sebagai sarana social bonding yang dapat memperkokoh ketahanan sosial masyarakat dari pengaruh ideologi transnasional yang ekstrem. Dengan demikian, kegiatan sosialisasi nilai Aswaja melalui majelis taAolim ibu-ibu bukan hanya berdampak pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga berimplikasi pada perubahan sikap, perilaku, dan pola relasi sosial. Hal ini menunjukkan bahwa model penguatan moderasi beragama melalui pendidikan masyarakat berbasis Aswaja sangat relevan untuk diterapkan secara berkelanjutan, terutama di daerah pedesaan yang memiliki basis jamaah majelis taAolim kuat. SIMPULAN Kegiatan sosialisasi nilai Aswaja melalui majelis taAolim ibu-ibu di Desa Banu Ayu berjalan dengan baik dan efektif meningkatkan pemahaman jamaah tentang prinsip Aswaja. Jamaah lebih memahami nilai tawassuth, tawazun, tasamuh, dan iAotidal serta termotivasi untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ke depan, kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan tokoh agama lokal sebagai pendamping. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada jamaah majelis taAolim ibu-ibu Desa Banu Ayu dan pihak desa yang telah mendukung terlaksananya kegiatan ini. Kegiatan ini LPPM Universitas Nurul Huda melalui Surat Kontrak Pengabdian No. 73/UNUHA. 8/Adm. U/Vi/2022 tertanggal 7 Agustus DAFTAR PUSTAKA