PROSIDING SEMINAR NASIONAL PRODUK TERAPAN UNGGULAN VOKASI (PTUV) Ke-5 Politeknik Negeri Manado, 26 Juni 2025 Vol 4. No 1 . | E-ISSN: 2961-7790 Kinerja Material Green Building dan Material Konvensional Dalam Konstruksi Bangunan Gedung Olivia Moningka1. Stefani Switly Peginusa2. Sudarno3. Fery Sondakh4. Rayhan Janis5 Teknik Jalan Jembatan. Teknik Sipil. Politeknik Negeri Manado 1,4 Konstruksi Bangunan Gedung. Teknik Sipil. Politeknik Negeri Manado 2,5 Teknik Sipil. Teknik Sipil. Politeknik Negeri Manado 3 E-mail: switly. peginusa@polimdo. Abstrak Bangunan hijau merupakan salah satu konsep pembangunan berkelanjutan yang telah di tetapkan oleh pemerintah dalam undang-undang nomor 32 tahun 2009. Pembangunan berkelanjutan merupakan sebuah proses yang dilakukan secara sadar dan dirancang dengan perencanaan matang, dimana aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi digabungkan ke dalam kebijakan pembangunan. Tujuan utamanya adalah melestarikan lingkungan serta memastikan keselamatan, kesejahteraan, kapasitas, dan kualitas hidup generasi saat ini dan masa depan. Pemilihan material bangunan yang ramah lingkungan memainkan peran krusial dalam meningkatkan efisiensi energi pada bangunan hijau. Material dengan isolasi termal yang baik dapat mengurangi energi yang hilang, sementara penggunaan bahan daur ulang atau material alami dapat membantu menurunkan emisi karbon bangunan selama masa penggunaannya. Tujuan penelitian ini adalah tinjauan implementasi untuk menganalisis dan membandingkan kinerja pemanfaatan material ramah lingkungan dengan material konvensional dalam konstruksi bangunan hijau. Penelitian ini mengadopsi metode pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan melakukan studi kasus, analisis pustaka dan perbandingan biaya. Studi kasus difokuskan pada penerapan material ramah lingkungan dalam pembangunan bangunan hijau pada bangunan di IKN. Analisis material . eknis, lingkungan, dan ekonom. menunjukkan bahwa green material memiliki keunggulan dalam aspek teknis dan lingkungan. Namun, mungkin memiliki peningkatan biaya 59,25% lebih tinggi dibandingkan dengan material konvensional. Kata kunci Ai green material, building, konvensional. PENDAHULUAN Suhu di bumi terus mengalami peningkatan akibat bertambahnya konsentrasi gas rumah kaca di Pemanasan global yang terjadi pada abad ke-21 memicu perubahan iklim yang membawa dampak serius, terutama bagi Indonesia. Pemanasan global adalah kondisi di mana suhu permukaan Bumi meningkat sebagai akibat dari efek rumah kaca. Berdasarkan data dari Kementerian yang merujuk pada laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Chang. , efek rumah kaca berkontribusi terhadap peningkatan suhu rata-rata global antara 10 hingga 50 Celsius. Apabila emisi gas rumah kaca terus meningkat seperti sekarang, maka suhu global diperkirakan akan naik sekitar 20 Celsius setiap dekade. Kenaikan suhu ini tentu akan memengaruhi kondisi lingkungan bumi, khususnya dengan memicu gangguan pola cuaca dan Di Indonesia, subsektor bangunan gedung menjadi kontributor utama emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dalam sektor energi, dengan rata-rata kontribusi sekitar 33% selama periode 2011 Karena itu melalui Peraturan Presiden nomor 98 Tahun 2021 pemerintah berkomitmen untuk mengurangi GRK 29% sampai 41% pada tahun 2030 dibandingkan dengan baseline emisi GRK (Kementerian PUPR, 2. Olivia Moningka, dkk. Kinerja Material Green Building dan Material Konvensional Dalam Konstruksi Bangunan Gedung PROSIDING SEMINAR NASIONAL PRODUK TERAPAN UNGGULAN VOKASI (PTUV) Ke-5 Politeknik Negeri Manado, 26 Juni 2025 Vol 4. No 1 . | E-ISSN: 2961-7790 Bangunan hijau merupakan salah satu konsep pembangunan berkelanjutan yang telah di tetapkan oleh pemerintah dalam undang-undang nomor 32 tahun 2009. Pembangunan berkelanjutan merupakan sebuah proses yang dilakukan secara sadar dan dirancang dengan perencanaan matang, di mana aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi digabungkan ke dalam kebijakan Tujuan utamanya adalah melestarikan lingkungan serta memastikan keselamatan, kesejahteraan, kapasitas, dan kualitas hidup generasi saat ini dan masa depan (Peginusa et al. Sedangkan, bangunan hijau adalah sebuah konsep pembangunan yang mempertimbangkan dampak terhadap iklim dan lingkungan hidup sejak tahap perencanaan, konstruksi, operasional, hingga pembongkaran bangunan. Diharapkan konsep ini mampu mengurangi dampak krisis iklim dan menjadi salah satu solusi yang efektif (Peginusa, 2. Bangunan hijau harus mampu menekan emisi karbon melalui penggunaan energi, air, dan material secara efisien. Salah satu faktor penting yang diperhatikan adalah pemilihan material, karena bahan bangunan memiliki peran besar dalam mendukung efisiensi energi dan kelestarian lingkungan. Penggunaan material yang tepat, khususnya bahan bangunan yang ramah lingkungan atau bersifat ekologis, dapat menghasilkan bangunan yang berkualitas sekaligus mendukung prinsip keberlanjutan. Material ramah lingkungan adalah bahan yang tidak merusak lingkungan atau membahayakan kesehatan saat digunakan maupun saat dibuang. Sementara itu. Green Material memiliki peran yang lebih luas, tidak hanya dari sisi keamanannya terhadap lingkungan, tetapi juga mencakup keberlanjutan sumber bahan, proses produksi, distribusi, hingga penerapannya. Penggunaan material ini juga dapat mengurangi konsumsi energi . istrik dan ai. , meningkatkan kesehatan dan kenyamanan penghuni, serta mempermudah perawatan bangunan secara efisien (Ramadhan et al. , 2. Penelitian terdahulu terhadap beberapa material bangunan yang ramah lingkungan telah banyak Ayuningtyas . , melakukan pembahasan mengenai penggunaan material yang memenuhi standar Greenship yang merupakan salah satu bentuk kontribusi dalam pelestarian ekosistem serta pemanfaatan sumber daya alam secara efisien. Ditemukan bahwa material ramah lingkungan yang memenuhi standar Greenship adalah material yang memenuhi kriteria penilaian Material Resource and Cycle secara jelas dan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Green Building Council Indonesia. Ramadhan et al. , . mendapati bahwa penggunaan material ramah lingkungan memberikan berbagai manfaat, mulai dari proses pembangunan yang menghasilkan emisi karbon rendah, kemudahan dalam perawatan bangunan, hingga dampak positif bagi lingkungan sekitar. Terdapat banyak faktor yang menentukan apakah suatu bangunan tergolong ramah lingkungan atau tidak, termasuk jumlah emisi yang dihasilkan sejak pra-produksi hingga pasca-produksi material. Dilakukan analisis untuk melihat keterkaitan antara penerapan aspek material ramah lingkungan . reen materia. dalam kriteria green building dengan siklus hidup pengadaan material bangunan . uilding material life cycl. Hasilnya menunjukkan bahwa pemilihan material berdasarkan kriteria green material dari kedua perspektif tersebut sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan guna mendukung kelestarian lingkungan melalui penggunaan material (Syahriyah, 2. Pemilihan material bangunan yang ramah lingkungan memainkan peran krusial dalam meningkatkan efisiensi energi pada bangunan hijau. Material dengan isolasi termal yang baik dapat mengurangi energi yang hilang, sementara penggunaan bahan daur ulang atau material alami dapat membantu menurunkan emisi karbon bangunan selama masa penggunaannya (Andrian, 2. Material bangunan yang digunakan sebaiknya memiliki sertifikasi lingkungan . reen certifie. Idealnya, material tersebut berasal dari sumber daya alam lokal untuk menekan biaya dan dampak lingkungan akibat transportasi, atau diproduksi dari energi terbarukan yang dikelola secara berkelanjutan. Selain itu, kemampuan material untuk didaur ulang juga menjadi faktor penting dalam pemilihannya, agar limbah bangunan dapat Olivia Moningka, dkk. Kinerja Material Green Building dan Material Konvensional Dalam Konstruksi Bangunan Gedung PROSIDING SEMINAR NASIONAL PRODUK TERAPAN UNGGULAN VOKASI (PTUV) Ke-5 Politeknik Negeri Manado, 26 Juni 2025 Vol 4. No 1 . | E-ISSN: 2961-7790 diminimalkan dan tidak mengganggu keseimbangan ekosistem (Simanjuntak et al. , 2. Contoh lainnya yang diterapkan di bangunan gedung seperti sekolah dan kampus (Hapsari, 2. (Ratnaningsih et al. , 2. Berdasarkan latar belakang diatas maka dirumuskan permasalahan yaitu bagaimana karakteristik material green building dibandingkan dengan material konvensional, serta apa saja kelebihan dan kekurangan masing-masing material dalam aspek teknis, ekonomi, dan lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah tinjauan implementasi untuk menganalisis dan membandingkan kinerja pemanfaatan material ramah lingkungan dengan material konvensional dalam konstruksi bangunan hijau. Manfaatnya diharapkan dapat memberikan informasi bagi praktisi konstruksi, akademisi, dan pembuat kebijakan mengenai alternatif material yang berkelanjutan. Pada penelitian ini digunakan tinjauan bangunan hijau yang ada di Ibu Kota Nusantara sebagai bahan penelitian penerapan material green building. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengadopsi metode pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan melakukan studi kasus, analisis pustaka dan perbandingan biaya. Studi kasus difokuskan pada penerapan material ramah lingkungan dalam pembangunan bangunan hijau. Data yang digunakan adalah data yang dikumpulkan berdasarkan hasil observasi lapangan dan data sekunder lainnya dari pelaksana Data dari studi kasus ini dimanfaatkan untuk menilai efektivitas penggunaan material ramah lingkungan, kaitannya dengan proses sertifikasi, serta dampaknya terhadap lingkungan. Objek data berupa evaluasi penggunaan material ramah lingkungan pada proyek bangunan hijau di Ibu Kota Nusantara. Lingkup pekerjaan yang ditinjau adalah pekerjaan dinding, pekerjaan langit-langit, pekerjaan finishing lantai, dan pekerjaan finishing dan aksesoris. Selain itu, kajian literatur mengenai bangunan hijau, material ramah lingkungan, serta sumber-sumber relevan lainnya juga dianalisis sebagai data pelengkap dalam penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Penggunaan material ramah lingkungan . reen materia. dapat diklasifikasikan ke dalam tiga tahap utama, yaitu tahap pengadaan bangunan, tahap operasional bangunan, dan tahap pengelolaan limbah. Klasifikasi ini berperan penting dalam menilai kualitas bahan bangunan berdasarkan kriteria green material (Kim, 2. (Pratiwi, 2. Pada tahap pengadaan . eperti ekstraksi, pengolahan, pengemasan, dan pengirima. , penilaian dilakukan berdasarkan kemampuan material dalam mengurangi limbah, mencegah polusi, menggunakan bahan daur ulang, menghemat energi, serta memanfaatkan material lokal. Sementara itu, pada tahap operasional dan pelaksanaan . ang mencakup konstruksi, instalasi, operasional, dan pemeliharaa. , evaluasi didasarkan pada efisiensi energi, pengelolaan air, keamanan bahan . ebas zat berbahay. , penggunaan energi terbarukan, serta daya tahan material dalam jangka panjang. Selanjutnya, pada tahap pasca-konstruksi, yaitu pengelolaan limbah, aspek green material yang dinilai meliputi kemampuan material untuk terurai secara alami . , dapat didaur ulang . , digunakan kembali . , dan karakteristik ramah lingkungan lainnya (Ramadhan et al. , 2. (Makalew et al. , 2. Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mengusung konsep pembangunan berkelanjutan dan berbasis teknologi, dengan menekankan pada tiga pilar utama yaitu Forest City. Smart City, dan Sponge City (Krisnadi, 2. Konsep ini sangat erat kaitannya dengan penggunaan green material karena keduanya berorientasi pada prinsip keberlanjutan lingkungan dan efisiensi Olivia Moningka, dkk. Kinerja Material Green Building dan Material Konvensional Dalam Konstruksi Bangunan Gedung PROSIDING SEMINAR NASIONAL PRODUK TERAPAN UNGGULAN VOKASI (PTUV) Ke-5 Politeknik Negeri Manado, 26 Juni 2025 Vol 4. No 1 . | E-ISSN: 2961-7790 sumber daya. Karena itu, dilakukan analisis material . eknis, lingkungan dan ekonom. yang digunakan pada pembangunan bangunan di IKN untuk memastikan kinerja material apakah sudah sesuai atau tidak dengan tujuan dari pembangunan IKN (Soehartono et al. , 2. Tabel 1 di bawah ini menunjukan penggunaan material di salah satu bangunan di IKN. Tabel 1. Jenis Material Bekisting Multipleks Kaca Insulasi Kusen Aluminium Powder Coating Penggunaan Material Aspek Teknis (Daya Tahan. Kekuatan. Isolasi Terma. Aspek Lingkungan (Jejak Karbon. Emisi. Siklus Hidu. Ringan mudah dipasang. Kekuatan dan stabilitas. Permukaan yang halus Fleksibilitas Desain Tahan lama dengan tambahan penggunaan pelapis Fleksibilitas desain yang tinggi Diaplikasikan dengan lapisan yang dapat meningkatkan udara dalam ruangan . is: lapisan low emissitivy yang meminimalkan transfer pana. Stabil dan tahan terhadap cuaca, tidak memudar atau berubah bentuk dalam jangka panjang Tahan terhadap korosi Estetika yang menarik Kekuatan dan ketahanan fisik dari lapisan powder coating Penggunaan berulang Kemudahan penanganan dan karena ringan sehingga mudah diangkut Jejak karbon lebih rendah jika proses produksinya efisien dan perekat yang digunakan ramah lingkungan Dapat didaur ulang Mereduksi emisi karbon dan energi yang digunakan selama proses Setelah masa pakai, bahan ini dapat didaur ulang Kembali Powder coating menghasilkan sedikit limbah dan tidak mengandung pelarut organik bahaya Tidak memerlukan pemeliharaan Pintu Baja Single Steel Door Bahan kuat, tahan terhadap deformasi. Pemeliharaan mudah dan tidak atau kerusakan fisik . oresan/bentura. memerlukan perawatan khusus Tahan terhadap api dan panas Tahan terhadap cuaca dan korosi Estetika yang fleksibel Pintu Kaca Frameless Estetika modern dan minimalis Perawatan yang mudah Tempered Keamanan yang tinggi jika pecah Meningkatkan efisiensi energi Kuat dan tahan terhadap benturan fisik, dengan memungkinkan cahaya alami tekanan, dan perubahan suhu masuk ke dalam ruangan. Sifat akustik yang baik, dengan mengurangi ketergantungan pada meredam suara pencahayaan buatan. Plafon Gypsum Estetika yang baik, halus dan rapi Ramah lingkungan dapat didaur Fleksibilitas Desain ulang dan memiliki jejak karbon Pilihan finishing yang beragam yang rendah dalam produksinya Sifat akustik yang baik dan Insulasi termal yang baik, menjaga suhu ruangan tetap baik Ringan dan mudah dipasang Daya tahan yang baik Plafon Aluminium Linier Tampilan Estetika yang baik Perawatan yang mudah Ceiling Wood Texture Ketahanan terhadap korosi, kelembapan Bahan alumunium dapat didaur dan perubahan suhu Material ringan, tidak mudah terbakar Desain Fleksibel Instalasi cepat Plafon Gypsum Concrete Keberagaman Estetika Dapat didaur ulang: Gypsum bisa Cement Expose Isolasi suara dari material gypsum didaur ulang menjadi produk baru. Ketahanan dari material beton Ramah terhadap kualitas udara Fleksibilitas desain dalam ruangan: Umumnya tidak Olivia Moningka, dkk. Kinerja Material Green Building dan Material Konvensional Dalam Konstruksi Bangunan Gedung PROSIDING SEMINAR NASIONAL PRODUK TERAPAN UNGGULAN VOKASI (PTUV) Ke-5 Politeknik Negeri Manado, 26 Juni 2025 Vol 4. No 1 . | E-ISSN: 2961-7790 Jenis Material Aspek Teknis (Daya Tahan. Kekuatan. Isolasi Terma. Lantai Floor Hardener Ketahanan terhadap abrasi Minimalisasi Perbaikan Daya tahan yang tinggi Stabilisasi . encegah keretakan dan Tahan terhadap bahan kimia Isolasi Termal Perbaikan Estetika Lantai Epoxy Tahan lama dan kuat Tahan terhadap bahan kimia Estetika yang menarik Biaya Efektif dalam jangka Panjang Cepat dan mudah di pasang Lantai Wood Panel Estetika dan keindahan alami Tahan lama Kemudahan perawatan Instalasi mudah Kenyamanan dan kehangatan Isolasi suara Lantai Parket Estetika yang elegan Tahan lama Perawatan yang mudah Nyaman dan hangat Peredam suara Fleksibilitas desain Lantai Homogeneus Tile Konsisten warna dan tekstur Tahan lama Tahan air dan noda Perawatan mudah Daya tahan yang tinggi Tahan air dan kelembaban Perawatan yang mudah Keamanan Harga yang terjangkau Lantai Vinyl Aspek Lingkungan (Jejak Karbon. Emisi. Siklus Hidu. mengeluarkan emisi berbahaya . ika tidak dicampur bahan kimia Ringan dan hemat energi dalam Mengurangi jumlah debu yang dihasilkan dari abrasi lantai, menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Membuat lantai lebih tahan terhadap abrasi, sehingga mengurangi kebutuhan penggantian lantai lebih sering, yang berdampak positif pada pengurangan limbah konstruksi. Daya tahan yang kuat, sehingga tidak perlu sering diganti, sehingga mengurangi limbah. Banyak pilihan epoxy yang mengandung kadar Senyawa Organik Volatil (VOC) rendah, sehingga mengurangi dampak pencemaran udara. Pilihan epoxy yang ramah lingkungan juga dapat dibuat dari bahan-bahan alami dan tidak mengandung bahan kimia Lantai wood panel ramah lingkungan karena menggunakan bahan-bahan daur ulang, seperti serat kayu dan plastik. Proses pembuatannya tidak memerlukan banyak bahan kimia berbahaya dan Pengurangan penebangan pohon Kayu yang digunakan untuk lantai parket dapat didaur ulang setelah masa pakainya berakhir Proses produksi dan penggunaan kayu memiliki jejak karbon yang relatif rendah dibandingkan dengan bahan lainnya. Homogenous tile tidak melepaskan bahan kimia atau gas berbahaya ke udara, sehingga aman bagi kesehatan dan lingkungan. Terbuat dari bahan daur ulang, mengurangi limbah, dan dapat didaur ulang beberapa kali tanpa kehilangan kinerja. Lantai vinil yang bebas ftalat, formaldehida, dan logam berat, yang mengurangi emisi senyawa organik volatil (VOC) dan meningkatkan kualitas udara dalam ruangan. Olivia Moningka, dkk. Kinerja Material Green Building dan Material Konvensional Dalam Konstruksi Bangunan Gedung PROSIDING SEMINAR NASIONAL PRODUK TERAPAN UNGGULAN VOKASI (PTUV) Ke-5 Politeknik Negeri Manado, 26 Juni 2025 Vol 4. No 1 . | E-ISSN: 2961-7790 Aspek Teknis (Daya Tahan. Kekuatan. Isolasi Terma. Jenis Material Lantai Stone Plastic Composite Daya tahan yang tinggi Stabilitas dimensi Fleksibilitas desain Kemudahan instalasi Kenyamanan dan isolasi udara Aspek Lingkungan (Jejak Karbon. Emisi. Siklus Hidu. Terbuat dari bahan-bahan seperti serbuk batu kapur dan PVC yang tidak mengandung bahan kimia berbahaya seperti formaldehida, dan dapat didaur ulang Material konvensional dalam konstruksi adalah bahan-bahan yang telah lama digunakan dalam pembangunan dan sudah terbukti efisiensinya selama bertahuntahun. Material konvensional meliputi kayu, bata merah, beton, dan batu. Material ini umumnya mudah diakses dan tersedia di pasaran, serta telah Diuji dalam berbagai aplikasi konstruksi. Tabel 2 berikut ini menunjukan kinerja penggunaan material konvensional dalam pelaksanaan konstruksi. Tabel 2. Jenis Material Kaca Float Bekisting Alumunium Pintu Flush Kusen Baja Plafond Tripleks Dinding Batako Lantai Terazo Plafon Kayu Kinerja Penggunaan Material Konvensional Aspek Teknis Permukaan yang halus Transpartasi Tinggi Kemudahan Pengerjaannya Kualitas Optik Superior Stabilitas Dimensi Ringan Kuat dan tahan lama Presisi tinggi Pemasangan dan pembongkaran cepat Dapat digunakan berulang Konstruksi Tahan Lama Fleksibilitas desain mudah Ringan Kedap Suara Tahan terhadap rayap Tahan terhadap kelembapan dan korosi Stabilitas dimensi Kekuatan dan ketahanan Mudah dipasang Ekonomis Ringan dan fleksibel Meredam suara Lebih ringan Insulasi Termal yang baik Mudah didapat Kedap suara Daya tahan tinggi Mudah dirawat Tahan terhadap noda dan air Estetika alami dan hangat Isolasi termal yang baik Isolasi suara Fleksibilitas Desain Perbaikan yang mudah Setelah dilakukan perbandingan kinerja antara green material dan material konvensional maka dilakukan perhitungan rencana Anggaran biaya untuk green material dan material pengganti yang diambil dari material Konvensional sehingga dapat dilakukan perbandingan dari segi biayanya. Olivia Moningka, dkk. Kinerja Material Green Building dan Material Konvensional Dalam Konstruksi Bangunan Gedung PROSIDING SEMINAR NASIONAL PRODUK TERAPAN UNGGULAN VOKASI (PTUV) Ke-5 Politeknik Negeri Manado, 26 Juni 2025 Vol 4. No 1 . | E-ISSN: 2961-7790 Tabel 3 berikut adalah Perbandingan Rencana Anggaran Biaya untuk green material dengan Konvensional. Tabel 3. Perbandingan RAB Green Material dengan Konvensional Material 1 Bekisting multiplek 2 Kaca Glass Tempered 3 Kusen aluminium powder 4 Pintu baja single steel door 5 Pintu kaca Frameless Tempered 6 Plafon Gypsum 7 Plafon aluminium Linier ceiling wood texture 8 Plafon Gypsum concrete cement expose 9 Lantai floor hardener 10 Epoxy 11 Lantai wood panel 12 Lantai Parket 13 Lantai homogeneus tile 14 Lantai Vinyl 15 Lantai stone plastic Konvensional Bekisting Aluminium Kaca Float Kusen Baja Pintu Flush Pintu toilet aluminium Plafon tripleks Plafon Asbes Plafon Kayu Lantai beton Lantai beton Lantai Terazzo Lantai Terazzo Lantai Terazzo Lantai beton Lantai beton Total Sat Vol Unit 710,92 695,29 Unit Unit 184,62 267,06 472,90 511,57 560,86 840,62 135,53 386,27 315,23 199,39 Jumlah Harga (R. Konvensional 863,44 880,00 303,66 585,00 316,00 800,00 896,00 624,00 200,00 000,00 035,52 480,82 394,00 020,00 517,20 000,00 429,79 488,42 206,14 325,20 463,73 421,77 718,91 090,60 461,14 845,72 858,92 251,98 606,82 312,46 024,78 240,82 Berdasarkan kinerja biaya yang didapatkan menurut perhitungan pada Tabel 3, biaya pekerjaan untuk green material meningkat 59,26% dari biaya material konvensional. Hal ini mengakibatkan owner atau pelaksana proyek harus menginvestasikan biaya awal yang tinggi untuk penggunaan green material pada suatu pekerjaan. Hal ini dapat membuat anggaran awal proyek tampak tidak ekonomis, terutama jika pemilik proyek hanya mempertimbangkan biaya pembangunan, bukan siklus hidup bangunan. Akan tetapi bangunan dengan material hijau cenderung lebih hemat energi dan air, sehingga mengurangi tagihan listrik dan biaya pemeliharaan. Green material memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia karena negara ini sedang mengalami pertumbuhan urbanisasi dan konstruksi yang pesat serta memiliki iklim tropis yang panas dan lembap, sehingga efisiensi energi untuk pendinginan menjadi penting. Dengan pendekatan yang tepat dan dukungan kebijakan pemerintah . isalnya insentif pajak, subsidi, atau regulasi tekni. , green material sangat potensial diterapkan secara luas, terutama pada bangunan berskala besar, dengan siklus hidup panjang, dan dengan kebutuhan operasional tinggi. Seperti bangunan komersial, bangunan pemerintah dan perkantoran, bangunan pendidikan, bangunan rumah sakit, hunian subsidi kelas menengah sampai pada bangunan mewah dan real estate. KESIMPULAN Konsep pembangunan IKN yang berkelanjutan dan berbasis teknologi menekankan pentingnya keberlanjutan lingkungan dan efisiensi sumber daya, yang implisit mendukung penggunaan material green building. Analisis material . eknis, lingkungan, dan ekonom. yang digunakan pada pembangunan bangunan di IKN menunjukkan bahwa beberapa green material seperti Bekisting Multipleks. Kaca Insulasi, dan Kusen Aluminium Powder Coating memiliki keunggulan dalam aspek teknis dan lingkungan. Green material menawarkan keunggulan dalam Olivia Moningka, dkk. Kinerja Material Green Building dan Material Konvensional Dalam Konstruksi Bangunan Gedung PROSIDING SEMINAR NASIONAL PRODUK TERAPAN UNGGULAN VOKASI (PTUV) Ke-5 Politeknik Negeri Manado, 26 Juni 2025 Vol 4. No 1 . | E-ISSN: 2961-7790 aspek lingkungan dan potensi penghematan biaya jangka panjang, serta fleksibilitas dan estetika dalam aspek teknis. Namun, mungkin memiliki biaya awal yang lebih tinggi dibandingkan dengan material konvensional. Pemilihan material harus disesuaikan dengan tujuan proyek, anggaran, dan prioritas lingkungan. DAFTAR PUSTAKA